Anda di halaman 1dari 7

CHEMICALLY CURING ADHESIVE

Oleh :
Herminus Taoet (TBKKP.TPL.190)
Hermina Tima (TBKKP.TPL.191)
Moh. Alif Rizal (TBKKP.TPL.195)
Ratna Sari Dewi (TBKKP.TPL.202)

Kementrian Perindustrian RI
Akademi Teknologi Kulit
Yogyakarta

Perekat dapat tersusun dari satu atau berbagai campuran bahan yang kompleks.
Perekat terdiri atas, perekat dasar dapat berupa resin organic atau senyawa anorganik dan
beberapa bahan tambahan lain. Bahan lain yang biyasanya ditambahkan ke dalam perekat utama
adalah pengener, katalis, akselarator, retarder, inhibitor, filler, ekstender, pemlastik, stabilizer.
Katalis dan pengeras biyasanya berupa monomer, polimer atau senyawa campuran. Pengeras
dalam reaksinya bergabung secara kimia dengan bahan rekatannya (adheren), sedangkan katalis
digunakan sebagai zat curing bagi resin yang berguna untuk mempersingkat waktu curing dan
meningkatkan ikatan silangnya (dapat berupa asam, basa, garam, senyawa belerang, dan
peroksida).
Proses curing dapat diartikan pembentukan cairan perekat menjadi film yang
padat, keras dan kuat melalui salah satu atau kombinasi curing yaitu hilangnya pelarut,
pengerasan cairan, dan curing secara kimia (dalam tugas ini hanya di titik beratkan pada curing
secara kimia).
a. Curing Secara Kimia (Cemically curing)
Dalam sistem ini perekat yang digunakan dalam bentuk monomer atau dalam
keadaan polimer-kecil dan struktur yang berikatan silang yang terbentuk pada saat proses curing.
Proses ini , sperti pada perekat epoksi dan fenolat, mengakibatkan molokul-molekul yang
digunakan bereaksi satu sama lain. Curing agent (katalis) mengakibatkan komponen perekat
lebih reakif dan tidak menjadi bangian dari strkutur ikatan silang yang terbentuk.
b. Perekat dengan Curing Secara Kimia (Chemically Curing Adhesive)
Perekat dengan Curing Secara Kimia adalah bahan reaktif yang memerlukan
reaksi kimia untuk mengubah mereka dari cair menjadi padat. Setelah sembuh, perekat ini
umumnya menyediakan kekuatan yang tinggi, fleksibel, tahan terhadap perubahan suhu,
kelembaban, dan banyak bahan kimia. Mereka dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok:
satu komponen, dua komponen.
1. Sistem Satu komponen.
Dengan perekat komponen tunggal, komponen perekat dicampur dalam proporsi akhir.
Namun reaksinya diblokir secara kimiawi. Selama tidak terjadi kondisi tertentu yang
mengaktifkan pengeras tidak akan terjadi obligasi (reaksi ikatan silang). Reaksinya
membutuhkan suhu tinggi, cahaya, kelembaban dari sekitarnya untuk memulai

mekanisme curingnya. Wadah penyimpanan perekat harus dipilih dengan cermat untuk
mencegah reaksi yang tidak diinginkan.
2. Sistem Dua komponen.
Dua perekat komponen 100% padatan sistem yang memperoleh stabilitas
penyimpanan dengan memisahkan komponen reaktif. tersedia sebagai "resin" dan
"pengeras" dalam wadah terpisah. Hal ini penting untuk mempertahankan rasio yang
ditentukan dari resin dan hardener untuk mendapatkan curing yang diinginkan dan sifat
fisik dari perekat. Dua komponen hanya dicampur bersama untuk membentuk perekat
waktu singkat sebelum aplikasi dengan curing yang terjadi pada suhu kamar. Karena
reaksi biasanya dimulai segera setelah pencampuran dua komponen, viskositas meningkat
perekat dicampur dengan perekat waktu sampai tidak bisa lagi diterapkan untuk substrat
atau kekuatan ikatan menurun karena berkurangnya kemampuan membasahi substrat.
Formulasi yang tersedia dengan berbagai kecepatan curing dengan waktu yang berbeda
setelah pencampuran dan tingkat kekuatan membentuk ikatan. Kekuatan akhir tercapai
dalam hitungan menit, kekuatan ikatan tergantung pada formulasi. Perekat harus
dibersihkan dari peralatan pencampuran dan aplikasi sebelum penyembuhan telah
berkembang ke titik di mana perekat tidak lagi larut. Tergantung pada kehidupan kerja,
dua perekat komponen dapat diterapkan oleh sekop, manik-manik atau pita, semprot, atau
roller. Sidang biasanya fixtured sampai kekuatan yang cukup untuk memungkinkan
diperoleh diproses lebih lanjut. Jika tingkat kesembuhan lebih cepat (kekuatan
membangun-up) yang diinginkan, panas dapat digunakan untuk mempercepat
penyembuhan. Hal ini sangat berguna ketika bagian harus diproses lebih cepat setelah
ikatan atau kehidupan kerja tambahan yang diperlukan tetapi tingkat kekuatan lebih
lambat membangun-up tidak dapat diakomodasi. Ketika sembuh, dua perekat komponen
biasanya sulit dan kaku dengan suhu yang baik dan ketahanan kimia.

Terdapat dua perekat yang mekanisme curing-nya secara kimiawi. Keduanya adalah perekat
epoksi dan fenolat.
b.1. Perekat Epoksi

Terdapat dua sistem mekanisme curing untuk perekat epoksi, yaitu sistem satu
dan dua komponen. Pada dasarnya perekat ini ,merupakan produk sintetik termoset dari reaksi
resin poliepoksi dengan zat curing/ pengeras ( dalam fase basa atau asam). Sistem satu
komponen meliputi resin cair bebas pelarut, pasta resin, bubuk, pellet dan pasta. Sistem dua
komponen terdiri atas resin zat curing yang dicampur saat akan digunakan. Pada kedua sistem
juga mengandung pemlastis, pengencer reaktif, filler, pigmen dan zat resin lain.
Pada kedua sistem tersebut, suhu proses curing-nya bergantung pada jenis zat
curing yang dipakai. Pemakaian hardener reaktif atau katalis untuk mendukung curing
menyebabkan keluarnya panas (eksoterm). Jenis-jenis zat curing bagi epoksi ialah amina lifatik
(TETA, TEPA, DETA, DMP 30), amina aromatic (MPDA, DDM, DDA), poliamida,
anhidridaasam (ftalat, PMDA, HET), pemakiannya tergantug pada sistem, formulasi dan kondisi
curing yan diinginkan.
Sebagai contah, bila diinginkan tanpaa pemanasan tambahan dari luar dapat
digunakan DMP 30. Pemakaian amina aromatic, menyebabkan daya rekat tinggi dan lebih stabil
panas. Sedangkan amina alifatik atau poliamida pengerutan bahan lebih kecil dan sifat
mekanokimia-nya baik. Pemakaian anhidrida asam menyebabkan daya tahan perekat lebih tinggi
(lebih stabil panas) dari pada amina, akan tetapi pengerjaannya lebih sukar. Terkadang untuk
pemakaian tertentu diperlukan zat curing boron trifluorida-MEA bagi sistem satu komponen,
sebagai katalis laten yang aktif bila dipanaskan, tetapi kekuatan gesernya (shear) kurang baik dan
relative peka tehadap air. Jenis perekat epoksi antara lain, epoksi-nilon, yang merupakan perekat
satu komponen yang memiliki ketahanan suhu dan kelupasan yang baik, sehingga dipakai
sebagai perekat logam. Epoksi-poliamida merupakan termoset sintetik yang tersedia dalam dua
komponen, yaitu resin epoksi dan poliamida yang bereaksi membentuk struktur bercabang
denagan gugus-gugus amino alifatik.
Epoksi-polisulfida diperoleh dengan mereaksikan resin epoksi dengan
polimersulfida cair (dengan katalis).bentuk fisiknya dua bagian,berupa cairan,sebelum
dicampur,tahan disimpan sampai setahu.Modifikasi resin epoksi dengan polisulfida (sampai 50%
berat)efektif meningkatkan kekuatan geser,kelupas dan tekuk,memperbaiki sifat luwes dan
pemanjangan pada berbagai lingkungan.

Epoksi-poliuretan merupakan blend resin epoksi dengan polimer uretan


(karbamat).bentuk fisiknya pasta Satu-komponen dengan katalis laten dan filler aluminium.

b.2. Perekat Fenolat


Perekat fenolat termasuk ke dalam golongan perekat sintetis termoplastik,
polihidroksi eter. Tersedia dalam bentuk sistem satu komponen berupa bubuk, pellet, atau film.
Bersifat dapat larut dalam selulosa asetat atau campuran toluene-aseton. Memiliki keungglan
tahan terhadap cuaca, asam anorganik, alkali, alcohol, garam, air dingin dan hidrokarbon alifatik.
Macam-macam perekat fenolik diantaranya:
1. Perekat fenol-formaldehid.
Merupakan resin kental dan katalis-asam cairnya.
Termoset ini tahan cuaca air panas atau mikrobia,awet pada suhu tinggi maupun rendah.
Fenolik formaldehit setting panas bentuknya bubuk dicampur air,larutan alcohol,asetan
atau air,film,lem.
2. Perekat fenolik- neoprene.
Merupakan resin fenolik termoset yang di-blend dengn karet polikhloropren
(neoprene).perekat ini cocok untuk logam aluminium dan baja stainless,laminat plastic.
3. Perekat fenolik nitril.
Merupakan resin fenolik termoset dengan karet akrilonitril butadin.bentuk fisiknya
cairan (pelarut toluene,keton)atau film.
Resin ini jga merupakan perekat structural untuk logam,karet,plastik,kayu,gelas,dan
keramik.
4. Perekat fenolik-poliamida.
Merupakan perekat dua komponen,resin fenolik dan poliamida.
penggunaan perekat ini pada industri pesawat terbang.
5. Perekat fenolik-vinil butiral.
Yang dominan pada termoset ini adalah bentuk fisiknya cairan,film atau tape.
Untuk logam yang hendak direkatkan ke kayu,perekat ini baik sebagai primer sebelum
dipakai fenoliknya.
6. Perekat fenolik-vinil formal

Jenis ini bentuk fisik cair larutan atau bubuk biasanya dua bagian merupakan termosetfenolik.
Pemakainnya untuk perekat struktural logam ke logam,panel sarang lebah
(logam),konstruksi lapis (sandwich) kayu kelogam,dapat pula sebagai primer rekatan
logam- kayu.

Daftar Pustaka
Hartomo, A. J., Rusdiharsono, A., Hardjanto, D..1992. Memahami Polimer dan Perekat.
Yogyakarta : ANDI OFFSET.
http://en.wikipedia.org/wiki/Adhesive (diakses 1 Oktober 2011)
http://www.twi.co.uk/content/ksgcm001.html (diakses 1 Oktober 2011)
http://www.adhesive.org/adhesive&sealants/Adhesive_Technology/Chemically_Curing_
Adhesive. (diakses tanggal 1 Oktober)
Sinaga, Jawaris. Pemanfaatan Amilum Batang Kelapa Sawit Sebagai Ekstender Perekat
Kayu.Sumatra Utara : USU e-Repository.