Anda di halaman 1dari 20

ARAHAN

UMUM MKP

GERAKAN NASIONAL
PENYELAMATAN SUMBER DAYA ALAM INDONESIA
SEKTOR KELAUTAN

Medan, 24 Maret 2015

I. PENDAHULUAN
1. Hasil kajian KPK (Gerakan Nasional Penyelamatan SD
Kelautan) merupakan bahan dalam mengawal visi Presiden
menjadikan Laut sebagai masa depan Indonesia
2. Hasil kajian juga selaras dengan
Visi KKP yaitu:
Terwujudnya pengelolaan
sumberdaya kelautan dan
perikanan secara berdaulat,
mandiri, dan
berkelanjutan untuk
kemakmuran rakyat
berlandaskan gotong
royong

KEDAULATAN
(Sovereignty)

VISI

Pembangunan
Kelautan dan
Perikanan

KEMAKMURAN
(Prosperity)

KEBERLANJUTAN
(Sustainability)

3. Pengelolaan Sumber Daya Kelautan berkelanjutan


harus menerapkan prinsip, antara lain:
a. Transparan dan good governance, antara lain pelaku
usaha harus terinformasikan ke publik dan SDA milik
bangsa secara turun temurun antar generasi
b. Menghilangkan egosektoral, semua pihak diharapkan
bekerja bersama dan bahu membahu secara baik.
c. Pelibatan masyarakat secara aktif (partisipan aktif)
merupakan salah satu alat monitoring terbaik. Audit
yang paling integratif yaitu jika publik manjadi bagian
terkuat/terbesar dalam pengawasan.
d. Edukasi, sharing knowledge dan pelibatan media
menjadi penting dalam pengelolaan SDA.
e. Menjaga nilainilai sejarah dari budaya bahari, antara
lain Barang Muatan Kapal Tenggelam/Harta karun di
dalam laut

II. TINDAK LANJUT RENCANA AKSI


4 Fokus Area untuk Pemerintah Provinsi:
1.
2.

3.
4.

Penyusunan Tata
Ruang Wilayah Laut
Penataan
Perizinan Kelautan
dan Perikanan
Pemenuhan Hak
Hak masyarakat
Pelaksanaan
Kewajiban para
pihak

SUDAH MENJADI GERAKAN NASIONAL

FOKUS AREA 1:

PENYUSUNAN TATA RUANG WILAYAH LAUT

Perubahan perundang
undangan

Status penyiapan
Rencana Zonasi
Wilayah Pesisir dan
Pulaupulau Kecil
(RZWP3K) Provinsi
dan Kab./Kota

UU 23/2014:
Pemberian kewenangan
pengelolaan laut
kepada pemerintah
Pusat dan provinsi,
maka kab/kota tidak
perlu menyusun
RZWP3K.

Implikasi dan
Langkah Solusi

1. Status Penyiapan RZWP3K

Status .

RZWP3K PROVINSI :

Aceh
Sumut
Sumbar
Riau

: Proses penyusunan (Tahun 2015)


: penyempurnaan dokumen final (2015)
: peninjauan kembali rencana zonasi pesisir yang
tertuang dalam Perda RTRW Provinsi (Tahun 2016).
: Proses penyusunan (Tahun 2015)

Kab./Kota yang telah menyusun Dokumen RZWP3K :


Aceh
: Kota Sabang, Aceh Barat
Sumut
: Nias Selatan, Kota Sibolga, Batubara, Deli Serdang
Sumbar : Pasaman Barat, Padang Pariaman, Agam, Pesisir Selatan,
Kota Padang
Riau
: Bengkalis, Indragiri Hilir

2. Pembangunan 10 kawasan konservasi perairan nasional (KKPN) dan


103 kawasan konservasi perairan daerah (KKPD) dan hanya 1 KKPD Provinsi
(Prov. Sulawesi Tenggara)
Implikasi

Implikasi dan langkah Solusi


1. Perlu adanya Norma, Standard, Pedoman, Kriteria
(NSPK) sebagai pedoman bagi provinsi untuk
melaksanakan kewenangannya
2. Perlu pengaturan halhal apa saja yang masih melekat di
kab/kota sehubungan berpindahnya kewenangan laut ke
provinsi, seperti pelestarian pesisir, dll.
3. Dokumen RZWP3K yang telah disusun oleh
Kabupaten/kota agar diserahkan kepada Gubernur
untuk ditetapkan sebagai bagian dari Perda RZWP3K
Provinsi.
4. Peningkatan komptensi SDM Provinsi

FOKUS AREA 2:

PENATAAN PERIZINAN
Jenis Perizinan, antara lain:

Perikanan Tangkap
Perijinan Reklamasi di WP3K
Pemanfaatan PPK dan Perairan di Sekitarnya
Budidaya Perikanan
Pemasaran Hasil Perikanan
Pengolahan Hasil Perikanan

Upaya yang telah dilakukan, antara lain:


1. Pembentukan Satgas Illegal Fishing
2. Penerbitan peraturan terkait
pengelolaan kegiatan/usaha perikanan
3. Penyusunan peraturan perundangan
terkait pengelolaan sumberdaya
kelautan, pesisir dan pulaupulau kecil

UU 23/2014
Perizinan terkait
kelautan dan perikanan
dari kab./kota akan
beralih ke provinsi

Contoh Penerbitan Izin Usaha Perikanan Tangkap


PERMEN KP No. PER.30/
MEN/2012 tentang Usaha
Perikanan Tangkap di WPPNRI
1.

Pusat (>12 mil & Laut Lepas) :


Kapal > 30 GT
Ada modal asing / Tenaga Kerja Asing

2.

Provinsi (412 mil) :


Kapal > 10 30 GT
Pangkalan di wilayah administrasinya
Tidak ada modal asing / Tenaga Kerja
Asing

3.

Kabupaten/Kota (14 mil) :


Kapal tidak bermotor/bermotor luar
Inboard engine 5 10 GT
Pangkalan di wilayah administrasinya
Tidak ada modal asing / Tenaga Kerja
Asing

UndangUndang No. 23 Tahun 2014


tentang Pemerintahan Daerah
1. Pusat :
Penangkapan >12 mil
Estimasi stok ikan nasional & JTB
Penerbitan izin usaha Kapal > 30 GT &
dibawah 30 GT yang menggunakan
modal asing / Tenaga Kerja Asing
2. Provinsi :
Penangkapan s/d 12 mil
Penerbitan izin usaha > 5 GT s/d
30 GT

Perlu dukungan Gubernur dalam


menata perizinan kapal perikanan
ukuran 30 GT kebawah termasuk
peralihan izin kab/kota ke
Provinsi

JUMLAH IZIN KAPAL 1030 YANG DILAPORKAN KE PUSAT


PERMEN KP No. PER.30/
MEN/2012 tentang Usaha
Perikanan Tangkap di WPPNRI

Gubernur menyampaikan
laporan SIUP, SIPI & SIKPI yang
diterbitkannya kepada Menteri
KKP melalui Dirjen PT setiap 6
(enam) bulan
Manfaat laporan : sebagai bahan
pertimbangan dalam
menetapkan kebijakan
pengelolaan perikanan

Jumlah izin kapal 1030 GT


yang dilaporkan ke Pusat
No

Provinsi

Jumlah izin
kapal

1.

NAD

152

2.

Sumatera Utara

1,323

3.

Sumatera Barat

170

4.

Riau

102

Contoh Perizinan Pengelolaan WP3K


Kewajiban Pemerintah Pusat (MKP):
1.

2.

Memberikan dan mencabut izin lokasi dan izin


pengelolaan pada:
a. Wilayah perairan pesisir dan PPK lintas provinsi
b. Kawasan strategis nasional
c. Kawasan strategis nasional tertentu (PPK Terluar)
d. Kawasan konservasi nasional.
Memberikan izin pemanfaatan pulaupulau kecil dan
pemanfaatan perairan di sekitarnya dalam rangka
penanaman modal asing (PMA). Menteri memberikan
izin lokasi dan pengelolaan setelah mendapatkan
rekomendasi dari bupati/Walikota atau gubernur
sesuai dengan kewenangannya.

Kewajiban Pemerintah Provinsi (Gubernur):


1.

2.

Memberikan dan mencabut izin lokasi dan izin


pengelolaan di wilayah perairan pesisir dan pulaupulau
kecil sesuai kewenangannya.
Memberikan rekomendasi atas permohonan izin lokasi
dan izin pengelolaan di wilayah pesisir dan pulaupulau
kecil yang menjadi kewenangan Menteri Kelautan dan
Perikanan (draft PP Izin Lokasi).

UU 23/2014
Pusat:
Perbitan izin
pemanfaatan ruang laut
nasional
Provinsi:
Perbitan izin dan
pemanfaatan ruang laut
dibawah 12 mil diluar
minyak dan gas bumi
Kab./Kota:

Implikasi

Implikasi UU No.23 tahun 2014 terhadap Pelayanan Publik:


1. Harus jelas Norma, Standard, Pedoman, Kriteria (NSPK) yang
mengatur Perizinan tersebut
2. Terdapat Norma, Standard, Pedoman, Kriteria (NSPK) yang bersifat
crosscutting ketika menyangkut K/L terkait seperti pengaturan
wisata bahari dengan Kementerian Pariwisata; hutan bakau terkait
kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dll.
KKP:
1. Perlu membuat peraturan yang menjadi kewenangannya terkait
Perizinan, tata ruang, kawasan konservasi daerah, dll;
2. Perlu koordinasi dengan pemerintah kab./kota dalam rangka
pengalihan tugas dan kewenangan yang selama ini berada di
kab./kota ke provinsi;
3. Perlu penguatan kompetensi SDM di provinsi terkait Perizinan, tata
ruang, dll.
12

Pemerintah Daerah diharapkan:


1.
2.
3.
4.
5.

Menyediakan SOP/mekanisme pelayanan perizinan (mudah &


sederhana)
Meningkatkan kompetensi SDM
Menyediakan sarana/fasilitas termasuk sistem aplikasi dan blanko
izin;
Mendorong penyampaian data informasi oleh pelaku usaha yang
akurat
Menyusun Peraturan Daerah, misalnya, tentang tata laksana dan
persyaratan perizinan usaha dan kapal ukuran 30 GT kebawah,
dengan persyaratan :
Pelaku usaha wajib memiliki NPWP
Pelaku usaha yang berbadan hukum wajib terdaftar dan
disahkan di KemenKumHAM;

FOKUS AREA 3:

PEMENUHAN HAKHAK MASYARAKAT


1.

Hakhak masyarakat kelautan sesuai


peraturan perundangundangan yang
berlaku (UU Perikanan, Pesisir dan
PPK, dll.): hakhak kepemilikan, sosial,
jaminan keamanan, adat, antara lain:
Akses publik terhadap sempadan pantai

2.

Akses masyarakat terhadap perairan


pesisir dan
kearifan lokal lainnya.

Termasuk pelaksanaan resolusi


konflik yang muncul dalam
pemenuhan hakhak masyarakat,
antara lain: jika terdapat konflik antara
petambak garam yang lahannya beralih
fungsi ke resort, bangunan, dll

Kepada Pemerintah Daerah


diharapkan:
1. Membuka peluang usaha di
bidang kelautan
2. Memberikan akses kepada
sumberdaya kelautan sesuai
peraturan yang berlaku
3. Melakukan pemenuhan hak
hak masyarakat terkait
dengan kegiatan
pengelolaan/pemanfaatan di
wilayah pesisir dan pulau
pulau kecil sesuai
kewenangannya

FOKUS AREA 4:

PELAKSANAAN KEWAJIBAN PARA PIHAK

Kewajiban para pihak:


Pemerintah Pusat; Pemerintah Provinsi; Pelaku Usaha; CSO; APH; KPK

Kepada Pemerintah Daerah diharapkan:


1. Meningkatkan Sosialisasi kepada semua stkeholders terkait
pelaksanaan kewajiban setiap pelaku usaha kelautan;
2. Mendorong setiap pelaku usaha kelautan mengikuti aturan
yang ada;
3. Melakukan penguatan pembinaan dan pengawasan dari
instansi terkait sesuai kapasitas dan kewenangannya.
4. Melakukan monitoring, evaluasi, dan tindak Ianjut atas hasil
kewajiban pelaku usaha mengisi Tabel monitoring

PENUTUP
1. Forumini agardapat dimanfaatkan sebesar
besarnya untuk penyelesaian berbagai
masalah/kendala terkait:

Penyusunan tata ruang


Perijinan
Pemantauan kewajiban pelaku usaha
Pemenuhan hakhak masyarakat

2. Daerahagarlebihtransparan dalam
penyediaan datadan informasi

TERIMA KASIH

JENIS PERIZINAN

PENERBITAN PERATURAN TERKAIT PENGELOLAAN


KEGIATAN/USAHA PERIKANAN SEPERTI:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

No.56/2014 tentang Penghentian Sementara (Moratorium) Perizinan Usaha


Perikanan Tangkap di WPP NRI;
No.58/2014 tentang Disiplin Pegawai Aparatur Sipil Negara di Lingkungan KKP
dalam pelaksanaan Moratorium Usaha Perizinan, Transhipment dan Penggunaan
Nakhoda dan ABK Asing;
No.1/2015 tentang Penangkapan Penangkapan lobster (Panulirus spp.), Kepiting
(Scylla, spp.) dan rajungan (Portunus pelagicus, spp.);
No.2/2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela
(trawls) dan Pukat Tarik (seine nets) di WPPRI.
No. PER.30/MEN/2012 dan Perubahannya Nomor PER.26/MEN/2013 Tentang
Usaha Perikanan Tangkap di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik
Indonesia.
No. 8/PermenKP/2013 Tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri
Kelautan dan Perikanan Nomor Per.02/Men/2011 Tentang Jalur Penangkapan
Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan
Di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.

PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANGAN TERKAIT


PENGELOLAAN SUMBERDAYA KELAUTAN, PESISIR DAN PULAU
PULAU KECIL, ANTARA LAIN:
1. penataan ruang laut, rencana zonasi wilayah pesisir dan
pulaupulau kecil (RZWP3K), dan Rencana Zonasi Antar
Kawasan (UU No. 32 Thn 2014 dan UU No. 27 Thn 2007
sebagaimana telah diubah dengan UU No. 1 Thn 2014).
2. Perizinan reklamasi sesuai dengan PermenKP No.17 Thn
2013 tentang Izin Reklamasi di Wilayah Pesisir dan Pulau
pulau Kecil.
3. Pengelolaan Pulaupulau Kecil sesuai dengan PP 62 Thn 2010
tentang Pemanfaatan Pulaupulau Kecil Terluar, dan
PermenKP No. 20 Thn 2008 tentang Pemanfaatan Pulau
pulau Kecil dan Perairan di Sekitarnya.
4. Konservasi sesuai dengan PP No 60 Thn 2007 tentang
Konservasi Sumberdaya Ikan beserta peraturan turunannya..