Anda di halaman 1dari 1

Buku ini menceritakan tentang tragedi seorang pria yang kerja kerasnya diawal karir sebagai

tentara bekesan bagi kemiliteran. Dalam perang dunia II, ia bekerja di Australia untuk
Netherlands Forces Intelligence Service, mengumpulkan informasi mengenai pendudukan
Hindia. Hasil kerjanya dihargai pada tahun 1946 dengan pengangkatannya sebagai komandan.
Simon Hendrik Spoor yang belatar belakang keluarga seni menerima pelatihan militer setelah
perang dunia I. Ia belajar bagaimana seharusnya peperangan militer itu, Cepat, mengejutkan
dan yakin dalam menentukan poin serangan yakni meliputi ekonomi, politik dan kepentingan
militer yang akan memberi musuh pukulan besar. Kemudian tinggal beralih ke perlawanan yang
masih tersisa.
Namun strategi Spoor tidak berhasil. Ia tahu Jawa dan Sumatra sudah dikuasai, tetapi tentara
Indonesia belum dikalahkan. Mereka, tentara Indonesia, sukses melakukan taktik gerilya dengan
muncul saat tentara Spoor, yang telah melakukan pendudukan selama tiga tahun, berada pada
kekuatan terakhirnya. Banyak tentara yang sakit dan sebagian besar tentara terbunuh.
Sementara itu Spoor terus menekankan tentang pentingnya tindakan yang benar. Ia berpikir
bahwa tentara tidak harus mempersulit penduduk yang sudah kesulitan, tidak boleh kasar, tidak
menjarah, dan tidak membunuh karena itu adalah cara untuk mempertahankan posisi mereka.
Spoor adalah seorang tentara sejati, ia berkata bahwa tentara harus menjadi contoh bagi
masyarakat.
Pandangan tersebut berdiri diatas kontras tentang citra perilaku Belanda selama perang
kemerdekaan, yang seringkali direduksi menjadi satu konsep yaitu kejahatan perang, ujar De
Moor. Namun tidak semua kejadian adalah kejahatan perang, kadang hal-hal tersebut hanyalah
insiden yang muncul dari situasi perang. Seperti sebuah brigade mendangar banyak suara pada
malam hari di desa dan menimbulkan kecurigaan, Letnan memerintahkan untuk tidak menembak
penduduk namun satu orang penduduk sipil tertembak. Kemudian muncul perlawanan penduduk
lain yang menimbulkan puluhan kematian dan ternyata kegiatan tersebut hanyalah pertemuan
pernikahan pada awalnya. Sebuah peristiwa yang dramatis namun bukan kejahatan perang,
konteks perjuangan benar-benar penting disini, ujar De Moor.
Seperti pada peristiwa di Sulawesi Selatan dimana ribuan orang Indonesia yang tidak bersalah
dibunuh pada tahun 1946-1947 dibawah pimpinan Raymond Westerling, meski menurut hukum
hal seperti ini sudah dilarang, namun seperti kebanyakan orang Belanda, Spoor percaya bahwa
tindakan drastis diperlukan, agar menumbuhkan keyakinan bahwa Indonesia dan Belanda saling
membutuhkan.
Oleh karena itu perundingan Roem-Roijen merupakan pukulan besar untuk Spoor. Ini adalah
awal pengakuan Republik Indonesia oleh Den Haag, sementara Spoor sudah berusaha keras
meredam gerakan perlawanan. Dua minggu setelah kesepakatan ini, Spoor meninggal karena
serangan jantung pada usia 47 tahun. Ia memaksa dirinya sendiri bekerja di barisan belakang
hingga akhir hayatnya.