Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Material dalam skala nano dalam beberapa dekade terakhir ini menjadi sangat
menarik, dan telah memiliki banyak metode sintesis yang dikembangkan. Berbagai
penelitian yang dilakukan dengan sangat cermat terus menerus dilakukan. Penelitian
dilakukan berdasar pada pemikiran/ide yang sangat sederhana, yaitu menyusun sebuah
material yang terdiri atas blok-blok partikel homogen dengan ukuran nanometer.
Hasilnya sebuah material baru lahir dengan sifat-sifat fisis yang berbeda dari material
penyusunnya. Hal ini memicu perkembangan material nanopartikel di segala bidang
dengan memanfaatkan ide yang sangat sederhana tersebut (Kortshagen, 2009).
Salah satu hal besar yang masih menjadi permasalahan dalam pengembangan
teknologi nano adalah resiko potensial terhadap kesehatan, keamanan dan lingkungan
sebagai akibat penggunaan material nano serta cara terbaik untuk mengelola resiko
tersebut. Teknologi nano sendiri diturunkan dari istilah nanometer.
Satu nanometer setara dengan sepersatu miliar meter, kurang lebih seratus ribu
kali lebih kecil dari diameter rambut manusia, seribu kali lebih kecil dari sel darah
merah, dan setengah kali diameter DNA. Sementara pengertian teknologi nano adalah
suatu proses rekayasa dari fungsi sistem pada tingkat molekular. Teknologi ini mengacu
pada manipulasi atau perakitan diri dari atom , molekul atau kelompok molekul menjadi
material atau alat dengan sifat-sifat baru. Cara kerjanya melalui proses top down
ataupun bottom up . Top down berarti memperkecil ukuran sampai pada skala nano
contohnya diterapkan pada elektro nano dan rekayasa nano. Sedangkan bottom up
merupakan kebalikan proses dari top up, dimana pada proses ini atom-atom atau molekul
dimanipulasi sehingga menjadi susunan dengan skala nano. Hal ini lebih menyerupai
biokimia atom.
Teknologi nano merupakan salah satu teknologi yang relatif masih dalam taraf
pengembangan dalam penerapan, walaupun ada beberapa bidang yang telah
menerapkannya Perkembangan teknologi ini berlangsung dengan pesat terutama pada
tahun 2000-an.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari nanoteknologi?
2. Bagaimana pengaruh ukuran nano terhadap sifat suatu partikel?
3. Bagaimana aplikasi nanoteknologi dalam kehidupan sehari-hari.
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari nanotelnologi.
2. Mengetahui pengaruh ukuran nano terhadap sifat suatu partikel.
3. Mengetahui aplikasi nanoteknologi dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN NANOTEKNOLOGI
Nanosains adalah salah satu penelitian yang paling penting dalam ilmu
pengetahuan modern. Nanoteknologi merupakan ilmu yang mempelajari partikel dalam
rentang ukuran 1-100 nm. Nanoteknologi mulai memungkinkan para ilmuwan,
ahli kimia, dan dokter untuk bekerja di tingkat molekuler dan sel untuk menghasilkan
kemajuan penting di bidang ilmu pengetahuan dan kesehatan. Penggunaan bahan
nanopartikel menawarkan keuntungan besar karena ukuran mereka yang unik dan sifat
fisikokimia. Penelitian nanopartikel sedang berkembang pesat karena dapat diaplikasikan
secara luas seperti dalam bidang lingkungan, elektronik, optis dan biomedis.
Nanopartikel dapat terdiri dari bahan konstituen tunggal atau menjadi
gabungan dari beberapa bahan. Nanopartikel di alam sering ditemukan dengan
bahan aglomerasi dengan berbagai komposisi, sedangkan komposisi bahan murni tunggal
dapat dengan

mudah

disintesis dengan

berbagai

metode.

Berdasarkan sifat

kimia dan elektromagnetik, nanopartikel dapat tersebar sepertI aerosol, suspensi/koloid,


atau dalam keadaan menggumpal. Sebagai contoh, nanopartikel magnetik cenderung
mengelompok, membentuk sebuah aglomerat, kecuali permukaan mereka dilapisi
dengan
dapat

bahan non-magnetik, dan


berperilaku

sebagai

partikel

dalam
yang

keadaan menggumpal,
lebih

nanopartikel

besar, tergantung pada ukuran

aglomerat tersebut.
Sediaan nanopartikel dapat dibuat dengan berbagai metode, hingga saat ini ada
beberapa metode pembuatan nanopartikel yang sering digunakan yaitu metode
presipitasi, penggilingan (milling methods), salting out, fluida uperkritis, polimerisasi
monomer, polimer hidrofilik, dan dispersi pembentukan polimer.
B. SIFAT MATERIAL NANO
Material nano merupakan material dengan ukuran diameter antara 1 sampai 100
nanometer. Pada skala ukuran ini partikel dapat mempunyai sifat dan fungsi yang jauh
berbeda dibandingkan dengan partikel yang sama tetapi dengan ukuran yang lebih besar.
Sebagai contoh adalah emas. Logam emas mempunyai warna kuning keemasan, bersifat
inert dan mempunyai titik leleh 12000 C. Partikel nano emas berukuran 1 nm mempunyai
warna biru, sedikit reaktif dan titik leleh 2000 C. Sedangkan partikel nano emas
berukuran 3 nm mempunyai warna kemerahan, bersifat katalitik dan mempunyai titik
leleh 2000C.
Gambar: Bulk Emas dan Partikel emas berukuran 1 nm

Dari contoh diatas dapat kita lihat bahwa partikel nano mempunyai sifat-sifat
yang sulit untuk diprediksi. Dalam tahun-tahun terakhir ini, sebagai akibat dari
perkembangan penggunaan dan produksi material nano, muncullah perhatian mengenai
aspek kesehatan dan keamanan dari material ini. Meskipun berbagai jenis material ini
bukan baru, tetapi ukuran material tersebut pada skala nano menimbulkan dua perhatian
penting, yaitu :
1. Material nano mempunyai luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan
massa yang sama tetapi ukuran partikel lebih besar serta kemampuan untuk
menembus membran sel. Hal ini dapat membuat bahan secara kimia lebih reaktif
dan mempengaruhi sifat-sifat kekuatan dan kelistrikan.
2. Efek kuantum dapat mulai mempengaruhi perilaku dari sesuatu pada skala nano,
terutama sekali akan berpengaruh pada optikal, elektrikal dan sifat magnetik dari
material tersebut.
Aspek lain yang menjadi perhatian mobilitas partikel ini dalam tubuh manusia
dan lingkungan. Disamping itu material dengan ukuran nano mempunyai sifat sifat
mekanik yang berbeda dengan bahan sejenis tetapi mempunyai ukuran lebih besar (bulk
materia ).
Sifat-sifat mekanik, optikal, magnetik serta kimia dari material nano telah banyak
dipelajari, tetapi tidak dengan sifat termal dari material ini.Hal ini disebabkan oleh
kesulitan pengukuran dan pengontrolan proses transpot panas pada skala ini . Sedangkan
analisa dan simulasi secara teoritis mengenai proses tersebut masih dalam tahap
perkembangan. Pada saat ini dipergunakan alat yang disebut Atomic Force Microscope (
AFM ) yang dapat dipergunakan untuk mengukur proses transpot panas pada struktur
nano dengan spasial resolusi yang tinggi. Adapun beberapa sifat keunggulan dari
material berukuran nano, antara lain :
1) Sifat elektrik
Nanomaterial dapat mempunyai energi lebih besar dari pada material ukuran
biasa karena memiliki surface area yang besar. Energy band secara bertahap berubah

terhadap orbital molekul. Logam ukuran besar mengikuti hokum Ohm. Pada logam
ukuran nano harus memiliki masukan elektrostatik (menggambarkan jumlah energi
elektron) Eel = e2/2C. Resistivitas elektrik mengalami kenaikan dengan berkurangnya
ukuran partikel.
Contoh aplikasi : energi densitas yang tinggi dari baterai, nanokristalin
merupakan material yang bagus untuk lapisan pemisah pada baterai karena dia dapat
menyimpan energi yang lebih banyak. Baterai logam nikel-hidrida terbuat dari
nanokristalin nikel dan logam hidrida yang membutuhkan sedikit recharging dan
memiliki masa hidupa yang lama.
2) Sifat magnetik
Sifat fisis yang unik dari nanopartikel magnetik adalah sifat kemagnetan yang
dimilikinya. Magnetisasi (per atom) dan anisotropi magnetik nanopartikel berbeda
dengan sifat material bulk, serta memiliki perbedaan suhu Curie (Tc) dan suhu Neel
(Tn). Selain itu pada nanopartikel ditemukan sifat yang menarik seperti

giant

magnetoresistance (GMR), efek magnetokalorik yang besar, dan sebagainya.


Sifat lain yang istimewa pada nanopartikel magnetik yaitu bersifat
superparamagnetik. Sifat superparamagnetik merupakan sifat yang muncul pada
material berorde satu domain magnetik. Ukurannya yang kecil menyebabkan material
tersebut sangat reaktif terhadap medan magnet luar, namun jika medan magnet luar
dihilangkan pengaruhnya secara perlahan-lahan maka sifatnya akan mirip dengan
material paramagnetik. Beberapa sifat istimewa tersebut menyebabkan nanopartikel
magnetik telah luas digunakan dalam katalis, mineralogi (seperti pemilihan biji besi),
informasi (data penyimpan), bidang lingkungan (konsentrasi polutan), dan lain-lain.
Berdasarkan pada sifatnya yang dapat dipengaruhi medan magnet, biokompatibel,
biodegradabel, dan memiliki gugus fungsional, nanopartikel magnetik dapat dengan
mudah dikonjugasi dengan banyak molekul fungsional seperti enzim, antibodi, sel,
DNA, dan RNA.
Nanopartikel magnetik memiliki beberapa jenis seperti -Fe2O3, -Fe2O3,
danFe3O4. Masing-masing jenis partikel tersebut memiliki sifat yang berbeda. Seperti
-Fe2O3 memiliki struktur cubic closed-packed dengan kesetimbangan kimia yang
baik, dan biasanya digunakan untuk perekaman dengan media magnet. -Fe2O3
memiliki struktur rhombohedral, jenis ini merupakan jenis yang paling stabil akan

tetapi bersifat anti-ferromagnetik di bawah suhu Neel (< 955 K). Sedangkan magnetit
Fe3O4 mempunyai struktur spinel terbalik pada suhu kamar.
3) Sifat mekanik
Sifat-sifat mekanik itu diantaranya kekerasan, modulus elastik dan kekuatan
tarik yang menjadi lebih baik sebagai akibat dari kesempurnaan struktur dari dari
material pada skala nano. Ukuran kecil ini menyebabkan material nano bebas dari
ketidaksempurnaan struktur dalam karena adanya dislokasi ataupun impuritas dari
bahan lain yang dapat menyebabkan kesalahan mekanik

(mechanical failur ).

Peningkatan sifat-sifat mekanik bahan pada skala nano itu memberikan banyak
potensi penerapan seperti mechanical nano resonators, sensor massa dan penjepit nano
untuk objek pada proses manipulasi pada skala nano. Sedangkan aplikasi secara
makro diantaranya adalah pada stuktur reinforcement bahan polimer, pembuatan
material yang kuat tetapi ringan, pelapis yang bersifat konduktif dan fleksibel serta
peralatan pemotong yang lebih keras dan kuat.

.
Gambar 2 di atas menunjukkan sifat mekanik yang diinginkan dari suatu
material atau bahan yang bergantung pada ukuran partikel bahan atau material
tersebut. Dapat diamati dari Gambar 2 bahwa sifat-sifat mekanis yang paling besar
(maksimum) terjadi ketika ukuran paritkel adaladah sangat halus, mendekati ukaran
nanometer. Semakin besar ukuran partikel, yakni pada skala micrometer ke atas, sifatsifat mekanis yang diinginkan justru berkuang.

Contoh aplikasi : automobil dengan efisiensi greater fuel. Nanomaterial diterapkan


pada automobil sejak diketahui sifat kuat, keras dan sangat tahan terhadap erosi,
diharapkan dapat diterapkan pada busi.
4) Sifat optik
Sistem nanokristalin memiliki sifat optikal yang menarik, yang mana berbeda
dengan sifat kristal konvensional. Kunci peyumbang faktor masuknya quantum
tertutup dari pembawa elektrikal pada nanopartikel, energi yang efisien dan
memungkinkan terjadinya pertukaran karena jaraknya dalam skala nano serta
memiliki sistem dengan interface yang tinggi. Dengan perkembangan teknologi dari
material mendukung perkembangan sifat nanofotonik. Dengan sifat optik linear dan
non linear material nano dapat dibuat dengan mengontrol dimensi kristal dan surface
kimia, teknologi pembuatan menjadi faktor kunci untuk mengaplikasikan.

Contoh aplikasi : pada optoelektronik., electrochromik untuk liquid crystal display


(LCD).
5) Sifat kimia
Merupakan faktor yang penting untuk aplikasi kimia nanomaterial yaitu
penambahan surface area yang mana akan meningkatkan aktivitas kimia dari material
tersebut. Contoh aplikasi : teknologi fuel cell merupakan aplikasi yang penting dari

penggunaan logam nanopartikel. Dimana dalam fuel cell digunakan logam Pt dan PtRu.
Besi oksida nanopartikel merupakan oksida logam yang mendapat perhatian
yang besar dalam rekayasa material nanopartikel, mengingat potensi penerapan
teknologi yang dimungkinkan. Pemanfaatan oksida logam yang memiliki beberapa
spesies oksida berkarakteristik khas ini telah banyak dilaporkan yaitu sebagai :
fotokatalis pada fotooksidasi fenol sebagai katalis autooksidasi bahan bakar jet-A,
komponen aktif pada media rekam padat informasi, sebagai penghantaran obat
paramagnetik dengan mengubahnya menjadi senyawa magnetic-gels, sensor alkohol
pada temperatur ruang dan sebagai fotokatalis untuk menguraikan air menjadi
hidrogen dan oksigen dlam bentuk elektroda lapis tipis, selain itu besi oksida
nanopartikel dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan CaO sebagi sensor gas SO2.
C. APLIKASI NANOPARTIKEL
Akibat perkembangannya yang amat cepat, aplikasi nanoteknologi dapat
digolongkan menjadi tiga bagian, yakni (i) nanoteknologi bertahap, (ii) nanoteknologi
evolusioner, dan (iii) nanoteknologi radikal. Nanoteknologi bertahap adalah aplikasi
nanoteknologi yang bersifat jangka pendek. Berbagai penemuan yang cepat terjadi
dan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Nanoteknologi evolusioner adalah
aplikasi nanoteknologi yang belum terwujudkan dalam jangka pendek. Dengan
demikian, saat ini masih dalam tahap penelitian. Sedangkan nanoteknologi radikal
adalah berbagai kemungkinan aplikasi yang di masa depan juga nampak tidak
memungkinkan. Di bawah ini akan dibahas tentang berbagai aplikasi nanoteknologi
yang bertahap pada evolusioner.
Namun demikian, perlu dicatat pula bahwa sebelum perkembangan pesat
nanoteknologi seperti saat ini, masyarakat jaman dahulu secara tidak sengaja telah
menggunakan nanoteknologi dalam kehidupannya. Pada abad ke-10 sampai akhir
tahun 1750, pedang-pedang yang diproduksi di Damaskus telah mengandung silinder
nano karbon (carbon nanotubes). Para empu pedang tersebut tidak menyadari bahwa
mereka telah mengaplikasikan nanoteknologi.
1. Kesehatan
Salah satu pemanfaatan nanopartikel adalah dalam bidang biomedis, yang
harus memenuhi tuntutan dispersi stabil dalam larutan fisiologis sehingga
memudahkan sistem transport dalam darah agar partikel yang akan disisipkan
dapat mencapai target dalam jaringan tubuh yang berukuran mikron atau

nanometer. Nanopartikel magnetik memiliki ukuran yang dapat dikontrol dalam


pembentukannya dari ukuran 1 nanometer hingga mikrometer. Ukuran nanopartikel
yang sebanding dengan sel (10-100 m), virus (20-450 nm), protein (5-50 nm) atau
gen (2 nm lebar dan 10-100 nm panjang) menjadikannya dapat berinteraksi dengan
satuan biologi, sehingga dapat digunakan lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan.
Dalam aplikasi di bidang biomedis ini, nanopartikel dapat digunakan sebagai
pengontras dalam teknik diagnosa Magnetic Resonance Imaging (MRI), sistem
penghantaran obat (Drug Delivery System, DDS), serta manipulasi suhu dalam
hipertermia. Sebagai pengontras, nanopartikel magnetik yang memiliki momen
magnetik dapat mempengaruhi daerah sekitar sel sehingga menimbulkan kontras
yang lebih tinggi. Dengan adanya bahan magnetik maka sistem penghantaran obat
dapat dikendalikan dari luar dengan pemberian medan magnet eksternal.
2. Elektronika
Aplikasi nanoteknologi di bidang elektronika bertumpu pada apa yang
disebut sebagai single electron devices (divais elektron tunggal). Ini adalah
berbagai divais yang berbasis pada hanya satu atau beberapa elektron saja.
Elektron-elektron ini dapat dikendalikan dan diatur sepenuhnya.
Tujuan utama aplikasi nanoteknologi di bidang elektronika adalah
meningkatkan tenaga, kapasitas, dan kecepatan alat beberapa kali lipat dari yang
ada sekarang ini. Pada prinsipnya, aplikasi ini merupakan aplikasi yang
evolusioner, yang hampir menjadi produk untuk konsumen. Sebagai contoh, untuk
komputer, perakitan berbasis nanoteknologi akan dilakukan secara bottom up.
Dengan demikian, hasil yang diharapkan antara lain, ukuran chips yang 3 sampai 4
kali lebih kecil, daya dengan 2 sampai 3 kali lebih besar, dan tidak diperlukan start
up time

(no start up time).

Lebih khusus lagi, untuk prosesor komputer,

transistornya akan dibuat menggunakan tabung nano karbon yang memiliki arus
dengan nilai dua kali lipat arus saat ini. Dengan demikian, diharapkan kinerja dari
prosesor akan bertambah baik, sedangkan kebocoran makin kecil. Selain itu,
memori komputer akan dirancang menggunakan nanodot (titik nano) berbasis
nikel. Akibatnya, kapasitas simpanannya diharapkan dapat mencapai orde terabyte,
sedangkan pengepakannya dapat lebih berdekatan karena mereka berperilaku
sebagai bagian-bagian yang berdiri sendiri.
3. Militer
Nanoteknologi dalam bidang militer terkait dengan aplikasi ilmu-ilmu
fisika, kimia, dan biologi. Salah satu Negara yang sedang mengembangkan

nanoteknologi di bidang militer adalah Amerika Serikat. Militer Amerika Serikat


menggunakan peralatan elektronik dalam kesehariannya. Penginderaan di malam
hari dan sensor suhu digunakan oleh tentara, pilot pesawat terbang, dan pesawat
terbang tanpa awak. Nanoteknologi memberikan memberikan keuntungan bagi
militer Amerika Serikat.
Inti dari penginderaan malam hari (night vision) adalah adalah lempeng
microchannel (microchannel plate-MCP). Elektron-elektron akan melewati ribuan
microchannel yang nantinya akan melipatgandakan jumlah elektron. Selanjutnya
elektron-elektron tersebut akan melewati layar fosfor. Ilustrasi

penginderaan

malam hari dapat diamati pada Gambar di bawah ini.


Ket gambar: Teknologi penginderaan di malam hari. (a) Mekanisme berkas

elektron bergerak sepanjang alat night vision. (b) Hasil kenampakan suatu daerah
jika diteropong melalui alat night vision.
4. Industri Mobil
Aplikasi nanoteknologi dalam industri automotif terkait dengan berbagai
hal antara lain:
(i)
pelapisan (coating) pada badan (body) mobil,
(ii)
aplikasi struktural,
(iii)
produk-produk di pasaran, dan
(iv)
aplikasi-aplikasi potensial lainnya.
Pelapisan pada body mobil menggunkan nano partikel akan memberikan
berbagai keuntungan di antaranya, tiga kali lebih tahan terhadap goresan dan
kecemerlangan yang lebih lama. Tujuan dari aplikasi struktural dalam industri
atutomotif adalah untuk mengurangi massa dari mobil tetapi tetap cukup kuat
untuk menopang kerangka mobil. Hal ini akan berakibat pada makin hematnya
penggunaan bahan bakar mobil. Pelapisan pada pelindung angin (windshield)
dapat menolak hujan, serangga, kotoran burung, cat semprot, ataupun cairan

lainnya. Pemurni udara dalam mobil dapat membersihkan udara melalui reaksi
fotokalitik. Sebuah aplikasi potensial nanoteknologi adalah pada pendingin mesin.
Pendingin mesin berbasis nano partikel akan memberikan thermal kondutivitas
yang lebih besar sehingga transfer panas akan lebih baik. Bebagai aplikasi
nanoteknologi pada industri automotif dapat diamati pada gambar di bawah ini.

Gambar. Berbagai aplikasi nanoteknologi dalam industri automotif.


5. Industri Konveksi
Nanoteknologi dapat diaplikasikan pula pada industri konveksi (kain).
Berbagai aplikasi nanoteknologi dalam industri konveksi antara lain, (i) tahan
terhadap tumpahan dan kotoran, (ii) tahan air, (iii) tahan bau, dan (iv) kemampuan
untuk menghantarkan listrik.
Suatu bahan kain dapat dilapisi dengan serat polyester yang mengandung
filament-filamen nanosilikon. Lapisan filament nanosilikon memiliki sifat
hidrofobik (tidak menyukai air). Akibatnya, bahan kain ini akan mencegah air
untuk membasahi bahan.

Gambar: Aplikasi nanoteknologi pada industri kain. Bahan kain yang dilapisi filamenfilamen nanosilikon akan menahan air sehingga mencegah air untuk membasahi
bahan kain
6. Nanomaterial anti refleksi
Lapisan berskala nano juga dapat diberikan pada bahan optis seperti kaca atau
kacamata sehingga bahan tersebut kemampuan anti refleksi terhadap cahaya matahari
maupun sinar infra merah.

BAB III
SIMPULAN
1. Nanoteknologi merupakan ilmu yang mempelajari partikel dalam

rentang

ukuran

1-100 nm atau yang dapa kita sebut nanopartikel.


2. Pada skala ukuran ini partikel dapat mempunyai sifat dan fungsi yang jauh berbeda
dibandingkan dengan partikel yang sama tetapi dengan ukuran yang lebih besar.
Material nano mempunyai luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan
massa yang sama tetapi ukuran partikel lebih besar serta kemampuan untuk
menembus membran sel. Hal ini dapat membuat bahan secara kimia lebih reaktif dan
mempengaruhi sifat-sifat kekuatan dan kelistrikan. Efek kuantum dapat mulai
mempengaruhi perilaku dari sesuatu pada skala nano, terutama sekali akan
berpengaruh pada optikal, elektrikal dan sifat magnetik dari material tersebut.
3. Aplikasi nanoteknologi dalam kehidupan sehari-hari meliputi bidang: kesehatan,
elektronika, militer, industri mobil, industri konveksi dan nanomaterial anti refleksi.

DAFTAR PUSTAKA

Dwandaru, Wipsar Sunu Brams. APLIKASI NANOSAINS DALAM BERBAGAI BIDANG


KEHIDUPAN: NANOTEKNOLOGI. Yogyakarta:Laboratorium Fisika Teori dan
Komputasi, Jurusan Pendidikan Fisika, FMIPA, UNY Karangmalang
Hapsari, Brigita Widya.2009. SINTESIS NANOSFER BERBASIS FERROFLUID DAN POLY
LACTIC ACID (PLA) DENGAN METODE SONIKASI. Bogor:Departemen Fisika,
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor

Ratner, Mark and Ratner, Daniel.2002.Nanotechnology: A Gentle Introduction to the Next


Big Idea.U.S: Prentice Hall
Riwayati,I. ANALISA RESIKO PENGARUH PARTIKEL NANO TERHADAP KESEHATAN
MANUSIA.Semarang:Jurusan Teknik KimiaFakultas Teknik Universitas Wahid
Hasyim