Anda di halaman 1dari 1

http://ekky-psikologi08.blogspot.com/2010/04/pengobatan-don-syndrome.

html

Pengobatan down syndrome


Cara medik tidak ada pengobatan pada penderita ini karena cacatnya pada sel benih
yang dibawa dari dalam kandungan. Pada saat bayi baru lahir, bila diketahui adanya
kelemahan otot, bisa dilakukan latihan otot yang akan membantu mempercepat
kemajuan pertumbuhan dan perkembangan anak. Penderita ini bisa dilatih dan dididik
menjadi manusia yang mandiri untuk bisa melakukan semua keperluan pribadinya
sehari-hari seperti berpakaian dan buang air, walaupun kemajuannya lebih lambat dari
anak biasa.
Bahkan, beberapa peneliti mengatakan, dengan latihan bisa menaikkan IQ sampai 90.
Dari beberapa penelitian diketahui bahwa anak-anak penderita Sindrom Down yang
diberi latihan dini akan meningkat intelegensianya 20% lebih tinggi dibandingkan dengan
pada saat mereka mulai mengikuti sekolah formal. Latihan ini harus dilestarikan,
walaupun anak sudah dewasa. Bila bayi itu beranjak besar, maka perlu pemeriksaan IQ
untuk menentukan jenis latihan/sekolah yang dipilih. Pemeriksaan lain yang mungkin
dibutuhkan adalah pemeriksaan jantung karena pada penderita ini sering mengalami
kelainan jantung.
Di negara-negara maju pemeriksaan kromosom dapat dilakukan sebelum bayi lahir. Bila
seorang ibu dicurigai akan melahirkan bayi dengan Sindrom Down dilakukan
pengambilan cairan ketuban atau sedikit bagian dari ari-ari (plasenta) untuk diperiksa
kromosomnya. Ada juga pemeriksaan pada ibu hamil yang tidak dengan tindakan, yaitu
hanya pemeriksaan ultrasonografi (USG), serum darah tertentu, dan hormon saja telah
bisa menduga adanya bayi Sindrom Down dalam kandungan. Sayangnya, pemeriksaanpemeriksaan ini masih cukup mahal untuk ukuran Indonesia.
Tujuan pemeriksaan dalam kandungan adalah bila ternyata calon bayi tersebut akan
menderita penyakit ini, biasanya disepakati bersama untuk diakhiri kehamilannya.
Pengguguran kandungan karena penyakit genetik di Indonesia masih merupakan
perdebatan karena belum diatur pelaksanaannya oleh undang-undang kesehatan,
apalagi dianggap berlawanan dari norma-norma agama.