Anda di halaman 1dari 19

FITOPATOLOGI

Mekanisme Pertahanan Tumbuhan


Terhadap Patogen
Kelompok 2
Sonya Loverina C.
/F1C413002
Retno Putri Andini /
F1C413013
Selvi Andriani /
F1C413039

Pendahuluan

Dalam pertumbuhannya, tumbuhan seringkali mengalami


gangguan dari berbagai patogen penyebab penyakit
-kelompok jamur,
- bakteri,
- virus,
-Nematoda
- mikoplasma

Secara umum tumbuhan dapat bertahan


dari serangan patogen tersebut dengan
kombinasi sifat pertahanan diri yang
dimilikinya, yaitu :
Sifat-sifat struktural yang berfungsi
sebagai
penghalang
fisik
dan
menghambat patogen yang akan
masuk dan berkembang di dalam
tumbuhan.
Reaksi-reaksi biokimia yang terjadi di
dalam sel dan jaringan tumbuhan yang
menghasilkan
zat
beracun
bagi
patogen atau menciptakan kondisi

Pertahanan Struktural
Struktur
Pertahanan
sebelum ada
Serangan
Patogen
Pertahanan
Struktural

Struktur Pertahanan
sebagai Tanggapan
terhadap Infeksi
Patogen
Reaksi Pertahanan
Nekrotik
(Hipersensitivitas)

Struktur
pertahanan
jaringan
Struktur
pertahanan
selular
Reaksi
Pertahanan
Sitoplasmik

Struktur Pertahanan sebelum ada Serangan


Patogen
Meliputi jumlah dan kualitas lilin dan kutikula

yang menutupi sel epidermis, ukuran, letak


dan bentuk stomata dan lentisel, dan jaringan
dinding sel yang tebal yang menghambat
gerak
maju patogen
Struktur
Pertahanan
sebagai Tanggapan

terhadap Infeksi Patogen


Apabila patogen berhasil menembus pertahanan

struktural maka jaringan pada tanaman akan


membentuk struktur pertahanan yang meliputi
Histologycal defense structure ( Jaringan), Cellular
defense structure (Sel) dan Cytoplasmic defense
reaction (Reaksi sitoplasma).

1. Histologycal defense structure (struktur Pertahanan Jaringan)

Pembentukan Lapisan Gabus

-Lapisan gabus menghambat serangan patogen dari awal


luka dan juga menghambat penyebaran zat beracun yang
mungkin disekresikan patogen.
- menghentikan hara dan air dari bagian yang sehat ke
bagian terinfeksi dan memisahkan patogen dari tempat
hidupnya
- membatasi antara jaringan yang terinfeksi sehingga

Pembentukan Lapisan Absisi

Lapisan
absisi
terbentuk pada daun
muda
yang
aktif
setelah infeksi oleh
patogen.
Terdiri dari celah
antara dua lapisan
sirkuler
sel
daun
yang
mengelilingi
lokus infeksi.
memotong areal
pusat infeksi dari
bagian sisa daun,
secara
bertingkat
bagian
tersebut

Pembentukan Tilosa
Tilosa
adalah
protoplasma yang tumbuh
melebihi normal dari sel-sel
parenkim yang menonjol
dari
pembuluh
kayu
melalui lubang-lubang.
Terbentuk
di
dalam
pembuluh
kayu
pada
tumbuhan dalam keadaan
stres
dan
selama
penyerangan oleh jenis
patogen vaskular
Mampu
terbentuk
sangat banyak dan cepat
di depan patogen sehingga
dapat
menghambat
perkembangan
patogen
selanjutnya.

Pengendapan getah atau blendok

Dengan adanya getah tersebut terbentuk


penghalang yang tidak dapat dipenetrasi
oleh patogen sehingga patogen menjadi
terisolasi dan tidak bisa memperoleh nutrisi
dan lama kelamaan akan mati.

2. Cellular defense structure (Struktur Pertahanan Seluler)

Terjadi pembengkakan pada lapisan terluar

dinding sel yang disertai dengan zat


berserat (amorphous) yang dapat
mencegah bakteri memperbanyak diri.
Dinding sel yang menebal sebagai respon
terhadap beberapa jenis virus dan jamur
patogen.
Kalosa palpila yang terdeposit pada sisi
bagian dalam dinding sel sebagai respon
terhadap serangan jamur patogen.

3. Cytoplasmic defense reaction Reaksi Pertahanan Sitoplasmik

Pada beberapa jenis sel yang terserang


oleh jamur patogen sitoplasma dan intinya
membesar. Sitoplasma menjadi granular
dan keras dan muncul berbagai partikel
atau berbagai bentuk didalamnya akhirnya
miselium patogen terurai dan infeksi
berhenti.

Infeksi patogen dimulai dengan patogen mempenetrasi

dinding sel, setelah patogen berkontak dengan


protoplasma
sel inti bergerak kearah serangan patogen dan segera
terdisintegrasi/pecah dan berbentuk bulat berwarna coklat
di dalam sitoplasma.
Pertama-tama keadaan tersebut mengelilingi patogen
patogen dan kemudian keseluruhan sitoplasma
Pada saat sitoplasma berubah warna menjadi coklat dan
akhirnya mati hifa yang menyerang mulai mengalami
degenerasi.
Hifa tidak dapat tumbuh ke luar sel yang terserang dan
serangan selanjutnya akan terhenti.
Jaringan yang mengalami nekrotik akan mengisolasi parasit
obligat dari substasnsi hidup disekitarnya sehingga dapat
menyebabkan patogen mati.

Reaksi Pertahanan Nekrotik: Pertahanan


melalui Hipersensitivitas

PERTAHANAN METABOLIK
(BIOKIMIA)
Inhibitor biokimia yang dihasilkan tumbuhan dalam
responnya terhadap kerusakan patogen :
Pertahanan melalui peningkatan kadar senyawa fenolik
Biasanya senyawa fenolik yang dikeluarkan saat
terinfeksi berupa Fitoaleksin. Fitoaleksin dihasilkan oleh
sel sehat yang berdekatan dengan sel-sel rusak dan
nekrotik untuk mencegah patogen berkembang.
Pertahanan
melalui Pembentukan Substrat yang
Menolak Enzim Patogen.
Pertahanan Melalui Inaktivasi Enzim Patogen.
Pertahanan melalui Pelepasan Sianida Fungitoksis dari
Kompleks Non-Toksis.

Review Jurnal
Aplikasi Fusarium oxysporum Non Patogenik (Fonp) untuk
menginduksi Ketahanan Bibit Lada terhadap Phytophthora
Capsici L.

Agen hayati Fusarium oxysporum non patogenik

(FoNP) telah dilaporkan dapat mengin-duksi


ketahanan tomat dan kentang terhadap
Phytophthora infestan pada penelitian ini
digunakan Isolat FoNP yang digunakan adalah
strain 10-AM yang telah digunakan pada tanaman
panili asal rizosfer panili dan patogen P. capsici .
Perlakuan dengan konidia dan gabungan formulasi
FoNP (A, B, C) dapat menghambat/menekan
serangan penyakit BPB dibandingkan fungisida
(H) dan kontrol (I). Tingkat efektifitas perlakuan A,
B, C dapat mencapai 84,99% dibanding kontrol.

Penambahan Organo-TRIBA (kompos) yang

dicampurkan pada media tanah (seperti pada


perlakuan D, E dan F) menyebabkan menurunnya
serangan penyakit dan viabilitas patogen P. capsici .
Hal ini mungkin adanya kompetisi antara P. capsici dan
Trichoderma lactae serta Bacillus yang ada di dalam
Organo-TRIBA, atau adanya interaksi antara mikroba
yang ada dalam Organo-TRIBA dengan P. capsici
sehingga viabilitas patogen menurun setek lada yang
direndam dalam konidia FoNP dan disemai pada
Organo-FoB kemudian ditanam dalam tanah yang
dicampur dengan Bio-FOB WP lebih baik
pertumbuhannya dibandingkan dengan perlakuan
lainnya.

beberapa genotipe cabai yang memiliki potensi untuk digunakan


sebagai tetua dalam perakitan varietas cabai tahan PYLCV. Mekanisme
ketahanan genotipe cabai tersebut perlu dipelajari sebagai landasan
pengembangan varietas tahan.
mekanisme
ketahanan
tanaman
terhadap
virus
melibatkan
pembentukan senyawa-senyawa metabolit sekunder seperti enzim
peroksidase dan asam salisilat.
IPB C10, IPB C12, IPB C14, IPB C15, IPB C26, dan 35C2
ketebalan daun. Berdasarkan hasil analisis korelasi diketahui bahwa
akumulasi
asam salisilat berkorelasi positif dengan panjang sel
palisade (Tabel 2).
Asam salisilat merupakan komponen jalur sinyal transduksi yang
menyebabkan ketahanan tanaman terhadap beberapa patogen
(Ryals et al. 1996). Aktivitas asam (Taufik et al. 2010). Peningkatan
akumulasi asam salisilat merupakan bentuk reaksi cepat dari tanaman
untuk melawan infeksi virus, yaitu dengan memobilisasi metabolit
sekunder.
Peningkatan akumulasi asam salisilat yang cukup
tinggi
pada
genotipe rentan 35C2 mengindikasikan bahwa tanaman cabai mulai
responsif mengaktifkan mekanisme ketahanan biokimia terhadap
infeksi PYLCV.

Peningkatan aktivitas peroksidase tersebut sangat penting


dalam melindungi dinding
sel terhadap penyebaran virus. Seperti halnya dengan akumulasi
asam salisilat, genotipe rentan memiliki aktivitas enzim
peroksidase yang lebih tinggi dibandingkan dengan genotipe
tahan. Herison et al. (2007) melaporkan gejala dan tingkat
konsentrasi virus. Aktivitas
enzim peroksidase yang tinggi pada genotipe tanaman rentan
merupakan respons sekunder terhadap
cekaman
yang
disebabkan oleh infeksi virus.
Kerapatan trikoma yang tinggi, susunan dan panjang sel
palisade merupakan penghalang
Struktural terhadap vektor B. tabaci dan Begomovirus (Faizah et
al. 2011). Respons pertahanan biokimia terjadi saat virus
mencapai jaringan floem, dan menyebabkan gen resisten
mengaktifkan jalur sinyal transduksi asam salisilat.

SEKIAN DAN TERIMAKASIH


SEMOGA BERMANFAAT