Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
Ginekomastia merupakan istilah yang berasal dari bahasa Yunani yaitu gyvec yang
berarti perempuan dan mastos

yang berarti payudara, yang dapat diartikan sebagai

payudara seperti perempuan. Ginekomastia berhubungan dengan beberapa kondisi yang


menyebabkan pembesaran abnormal dari jaringan payudara pada pria. Ginekomastia
merupakan pembesaran jinak payudara laki-laki yang diakibatkan proliferasi komponen
kelenjar. Ginekomastia biasanya ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan
kesehatan rutin atau dapat dalam bentuk benjolan yang terletak dibawah regio areola baik
unilateral maupun bilateral yang nyeri saat ditekan, atau pembesaran payudara yang progresif
yang tidak menimbulkan rasa sakit.2,7
Jaringan payudara pada kedua jenis kelamin pria dan wanita secara histologi sama
saat lahir dan cenderung untuk pasif selama masa anak-anak sampai pada saat pubertas. Pada
kebanyakan pria, proliferasi sementara duktus dan jaringan mesenkim sekitar terjadi saat
masa pematangan seksual, yang kemudian diikuti involusi dan atrofi duktus. Sebaliknya,
duktus payudara dan jaringan periduktal pada wanita terus membesar dan membentuk
terminal acini, yang memerlukan estrogen dan progesteron karena stimulasi estrogen
terhadap jaringan payudara dilawan dengan efek androgen, ginekomastia dipertimbangkan
sejak dulu akibat ketidakseimbangan antara hormon tersebut.
Ginekomastia merupakan kelainan bentuk jinak yang terjadi sekitar 60% dari seluruh
kelainan payudara pada laki-laki dan sekitar 85% dari kelainan benjolan pada payudara lakilaki. Berbagai studi populasi banyak menemukan ginekomastia. Ada tiga distribusi periode
usia tersering terjadinya ginekomastia atau perubahan payudara yang pada umumnya
dipengaruhi hormon. Periode pertama ditemukan saat neonatus yang terjadi sekitar 60-90%
dari seluruh kelahiran akibat penyaluran estrogen melalui plasenta. Periode kedua terjadi saat
pubertas, yaitu dimulai saat umur 10 tahun dan puncaknya antara usia 13-14 tahun. Periode
ketiga ditemukan pada orang dewasa yang terjadi antara usia 50-80 tahun. Faktor ras tidak
berpengaruh terhadap kejadian ginekomastia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Payudara


Pada pria dan wanita payudara adalah sama sampai masa pubertas, sampai estrogen
dan hormon-hormon lainnya mempengaruhi perkembangan payudara pada wanita dan pria.
Payudara terdiri dari jaringan kelenjar fibrosa dan lemak. Jaringan-jaringan ini
terpisah dari otot-otot dinding dada, otot pektoralis dan seratus anterior oleh jaringan ikat.
Sedikit di bawah pusat payudara dewasa terdapat puting (papila mamaria), tonjolan yang
berpigmen dikelilingi oleh areola, puting mempunyai perforasi pada ujungnya dengan
beberapa lubang kecil-kecil, apertura duktus laktiferosa. Tuberkel-tuberkel montgomery
adalah kelenjar lemak pada permukaan areola.

Gambar 1. Anatomi Payudara Wanita (kiri) dan Anatomi Payudara Pria (kanan)
Jaringan kelenjar membentuk 15-25 lobus yang tersusun radier di sekitar puting dan
dipisahkan oleh jaringan lemak yang bervariasi jumlahnya, yang mengelilingi jaringan ikat
(stroma) di antara lobus-lobus. Setiap lobus berbeda, sehingga penyakit yang menyerang satu
lobus tidak menyerang lobus lainnya. Drainase atau lobus menuju ke dalam sinus laktiferosa,
yang kemudian bermuara ke puting. Di banyak tempat jaringan ikat akan memadat
membentuk pita fibrosa yang tegak lurus terhadap substansi lemak, mengikat lapisan dalam

dari fasia subkutan payudara pada kulit. Pita ini yaitu ligamentum cooper, merupakan
ligamentum suspensorium dari payudara.

Vaskularisasi :
A. Mammaria interna, A. Thoracalis Internus, A. Thoracalis Lateralis, A.
Acromiothoracic. Selain itu terdapat pasokan darah juga dari cabang A. Intercostalis
dan A. Subscapilaris.
Drainase vena melalui pembuluh darah sesuai pasokan arteri.

Aliran Limfe :
Pembuluh getah bening aksila :
KGB interpektoral (Rotters) dan KGB sepanjang vena aksilaris dan cabangcabangnya di bagi kedalam beberapa level :
Level I (Low axilla) : KGB terletak di bawah otot pektoralis minor.
Level II (Mid axilla) : KGB terletak dibelakang otot pektoralis minor
Level III (Apical axilla) : KGB terletak di atas otot pektoralis minor, di puncak axilla.
Pembuluh getah bening mammaria interna
Pembuluh getah bening di daerah tepi medial bawah payudara.

2.2. Ginekomastia
2.2.1. Definisi
Ginekomastia merupakan istilah yang
berasal dari bahasa Yunani yaitu gyvec yang
berarti perempuan dan mastos yang berarti
payudara, yang dapat diartikan sebagai
payudara seperti perempuan. Ginekomastia
berhubungan dengan beberapa kondisi yang
menyebabkan pembesaran abnormal dari
jaringan payudara pada pria. Ginekomastia
merupakan pembesaran jinak payudara lakilaki yang diakibatkan proliferasi komponen
kelenjar. Ginekomastia biasanya ditemukan
secara kebetulan saat pemeriksaan kesehatan
rutin atau dapat dalam bentuk benjolan yang
terletak dibawah regio areola baik unilateral
maupun bilateral yang nyeri saat ditekan atau
pembesaran payudara yang progresif yang
tidak menimbulkan rasa sakit.

Gambar 2. Ginekomastia

Ginekomastia adalah pembesaran jinak dari payudara laki-laki yang


dapat terjadi akibat perubahan hormal pada laki-laki, bayi, remaja,
ataupun tua. Pertumbuhan payudara juga bisa disebabkan oleh obatobatan,

perubahan

fisiologis

dan

kondisi

medis

yang

mengubah

keseimbangan dari androgen dan estrogen.Kelainaninijuga dapat dikaitkan


dengan kelainan kromosom Klinefelter syndrome.Pada pasien HIV tertentu
yang

menerima

terapi

anti-retroviral

juga

mungkin

hadir

dengan

condition.

KlasifikasiberdasarkanAmerican Society of Plastic Surgeon :


Grade I: pembesaran payudara kecil
(sebesarkancing) jaringan sekitar areola

dengan

pembesarankecil

Grade II: pembesaran payudara sedang, melebihi batas areola dengan


tepi yang tidak jelas pada dada
Grade III: pembesaran payudara sedang melebihi batas areola dengan
tepi yang berbeda dari dada dengan redundansi kulit
Grade IV :pembesaran payudara besar
(kelebihan) dan adanya feminisasi payudara

dengan

kulit

redundansi

2.2.2 PREVALENSI
Ginekomastia merupakan kelainan bentuk jinak yang terjadi sekitar 60% dari seluruh
kelainan payudara pada laki-laki dan sekitar 85% dari kelainan benjolan pada payudara lakilaki.2 Berbagai studi populasi banyak menemukan ginekomastia. Ada tiga distribusi periode
usia tersering terjadinya ginekomastia atau perubahan payudara yang pada umumnya
dipengaruhi hormon. Periode pertama ditemukan saat neonatus yang terjadi sekitar 6090% dari seluruh kelahiran akibat penyaluran estrogen melalui plasenta. Periode kedua terjadi
saat puberitas, yaitu dimulai saat umur 10 tahun dan puncaknya antara usia 13-14 tahun.
Periode ketiga ditemukan pada orang dewasa yang terjadi antara usia 50-80 tahun. Faktor ras
tidak berpengaruh terhadap kejadian ginekomastia.1,2,10
Tabel 1. Prevalensi terjadinya ginekomastia berdasarkan penelitian 2

2.2.3 ETIOLOGI
Ginekomastia dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologinya. Ginekomastia idiopatik
terjadi sekitar 75% dari kasus. Keadaan fisiologis terjadi pada bayi baru lahir dan usia
dewasa saat memasuki pubertas. Pada bayi baru lahir, jaringan payudara yang membesar
berasal dari interaksi estrogen ibu melalui transplasenta. Ginekomastia pada orang dewasa sering
ditemukan saat puberitas dan sering bersifat bilateral. Ginekomastia pada masa remaja terjadi
pada 2/3 remaja. Dan bertahan sampai beberapa bulan. Jika ginekomastia selama masa puber
ini menetap maka disebut ginekomastia esensial. 2, 11,4,
Kondisi patologik diakibatkan oleh defisiensi testosteron, peningkatan produksi
estrogen atau peningkatan konversi androgen ke estrogen. Kondisi patologik juga didapatkan
pada anorchia kengenital, klinefelter sindrom, karsinoma adrenal, kelainan hati dan malnutrisi.2
Penggunaan obat-obatan juga dapat menyebabkan ginekomastia. Obat-obat penyebab
ginekomastia dapat dikategorikan berdasarkan mekanisme kerjanya. Tipe pertama adalah yang
bekerja seperti estrogen, seperti diethylstilbestrol, digitalis, dan juga kosmetik yang
mengandung estrogen. Tipe kedua adalah obat-obat yang meningkatkan pembentukan
estrogen endogen, seperti gonadotropin.Tipe ketiga adalah obat yang menghambat
sintesis dan kerja testosteron, seperti ketokonazole,metronidazole, dan cimetidine. Tipe
terakhir adalah obat yang tidak diketahui mekanismenya seperti captopril, antidepresan
trisiklik, diazepam dan heroin.2,4
Tabel 2. Etiologi Ginekomastia

Tabel 3 . Obat-obat yang bisa mengakibatkan ginekomastia 2

2.2.4. Patogenesis
9

Jaringan payudara pada kedua jenis kelamin pria dan wanita secara histologi sama
saat lahir dan cenderung untuk pasif selama masa anak-anak sampai pada saat pubertas. Pada
kebanyakan pria, proliferasi sementara duktus dan jaringan mesenkim sekitar terjadi saat
masa pematangan seksual, yang kemudian diikuti involusi dan atrofi duktus. Sebaliknya,
duktus payudara dan jaringan periduktal pada wanita terus membesar dan membentuk
terminal acini, yang memerlukan estrogen dan progesteron karena stimulasi estrogen
terhadap jaringan payudara dilawan dengan efek androgen, ginekomastia dipertimbangkan
sejak dulu akibat ketidakseimbangan antara hormon tersebut.
Masa transisi dari prepuber ke post puber diikuti oleh peningkatan 30 kali lipat
hormon testosteron dan 3 kali lipat hormon estrogen. Ketidakseimbangan relatif antara level
estrogen dan androgen menghasilkan ginekomastia. Perubahan rasio estrogen dan androgen
ditemukan pada pasien ginekomastia yang berhubungan dengan obat-obatan, neoplasma
adrenal dan testis, sindrom Klinefelter, tirotoksikosis, sirosis, hipogonadisme, malnutrisi dan
penuaan.
Estradiol adalah hormon pertumbuhan pada payudara yang dapat meningkatkan
proliferasi jaringan payudara. Sebagian estradiol pada pria didapat dari konversi testosteron
dan adrenal estron. Mekanisme dasar ginekomastia adalah penurunan produksi androgen,
peningkatan produksi estrogen dan peningkatan availabilitas prekursor estrogen untuk
konversi estradiol.
a. Peningkatan konsentrasi estrogen serum
Normalnya testis pria dewasa menghasilkan 15 persen estradiol dan kurang dari 5
persen estron dalam sirkulasi. Dan 85 persen estradiol dan lebih dari 95 persen estron
diproduksi di jaringan ekstragonad melalui aromatisasi prekusor. Prekusor utama dari
estradiol adalah testosterone, 95% dihasilkan oleh testis. Androstenedion, androgen yang
disekresikan oleh kelenjar adrenal, menjadi prekursor pada pembentukan estron. Tempat
ekstragrandular yang penting terhadap aromatisasi adalah jaringan adipose, hati dan otot.
Derajat intervensi substansial antara estron dan estradiol terjadi melalui reduktase enzim 17kortikosteroid yang juga mengkatalis konversi androstenedion ke testosteron.

Peningkatan

patologis

dari

konsentrasi

estrogen

dalam

serum

ditemukan

pada beberapa keadaan. Tumor sel Leydig dan neoplasma adrenokortikal feminis mensintesis
10

dan menghasilkan jumlah estrogen yang meningkat. Aromatisasi prekusor estrogen yang
meningkat terjadi pada sel sertoli atau tumor seksual testis, tumor sel-germ testis terdiri dari
jaringan tropoblastik, beberapa kanker nontropoblastik dan pada pasien obesitas, penyakit
hati, hipertiroidisme, feminisasi testicular atau pada sindrom Klinefelter, pria yang
mengkonsumsi spironolakton. Peningkatan aromatisasi juga ditemukan pada penuaan, yang
menggambarkan peningkatan lemak tubuh. Peningkatan idiopatik pada aromatisasi
ekstraglandular, biasanya berhubungan dengan aromatase janin yang mengakibatkan produksi
estrogen perifer yang masif.
Meskipun globulin pengikat hormon seksual sama-sama mengikat estrogen dan
androgen, namun afinitas pengikatan terhadap androgen lebih besar daripada estrogen.
Kemudian, obat-obatan seperti spironolakton dan ketokonazol yang dapat memecah ikatan
steroid dengan globulin, memecah estrogen lebih mudah daripada endrogen pada konsentrasi
yang rendah. Situasi lain dimana level sirkulasi estrogen bebas dapat meningkat antara lain
metabolisme estrogen yang menurun, sebuah mekanisme yang menyebabkan ginekomastia
pada pasien dengan sirosis. Hal ini tidak sepenuhnya benar karena laju klearens metabolic
dari estrogen normal pada pasien sirosis. Konsumsi estrogen baik sengaja maupun sebagai
obat, juga dapat memicu peningkatan dari konsentrasi estrogen total dan bebas dan
menimbulkan ginekomastia pada beberapa pasien. Aktivasi dari reseptor estrogen pada
jaringan payudara dapat terjadi pada konsumsi obat yang memiliki struktur yang sama
dengan esterogen seperti digoksin.
b. Penurunan konsentrasi androgen serum
Peningkatan rasio estrogen-androgen akan ditemukan pada pasien dengan level
estrogen yang normal atau meningkat tapi mengalami penurunan konsentrasi androgen.
Penurunan sekresi androgen biasanya ditemukan pada pria tua sebagai akibat dari
proses penuaan, pasien dengan hipogonadisme primer atau sekunder, pasien dengan
kekurangan enzim testikuler atau pada konsumsi obat seperti spironolakton dan ketokonazol
yang menginhibisi biosintesis testosterone. Penurunan sekresi juga ditemukan pada keadaan
hiperesterogenik, baik pada supresi hormone LH hipofisis yang diinduksi estrogen, yang
menghasilkan supresi sekresi hormone testosterone, maupun pada inhibisi aktivitas enzim
sitokrom P-450c 17 di testis yang di induksi estrogen yang dibutuhkan pada biosintesis
testosterone. Efek yang sama terlihat pada stimulasi LH pada sel interstisial testis yang terjadi
pada hipogonadisme primer, gonadotropinkorionik yang dihasilkan oleh tumor germ-sel
11

testikuler dan ekstragonad dan pada beberapa neoplasma nontropoblastik, seperti tumor paruparu, abdomen, hati atau ginjal. Level gonadotropin serum yang tinggi menstimulasi aktivitas
aromatase sel interstisial dan peningkatan sekresi estradiol yang kemudian menginhibisi
aktivitas enzim sitokrom P-450c 17. Level testosterone serum juga dapat turun sebagai
akibat peningkatan aromatase testosterone ke estradiol pada beberapa kondisi berhubungan
dengan ginekomastia atau peningkatan klirens dari sirkulasi melalui aktivitas reduktase cincin
reduktase-A testosterone hepatic sebagai akibat konsumsi alcohol. Karena androgen terikat
erat dengan globulin pengikatan hormon seks, maka kondisi-kondisi yang meningkatkan
level dari protein ini dapat mengakibatkan konsentrasi androgen bebas rendah, terutama jika
kondisi tersebut juga menurunkan produksi androgen.
c. Masalah reseptor androgen
Defek pada struktur dan fungsi dari reseptor androgen yang ada pada pasien dengan
sindrom insensitivitas androgen komplit atau parsial atau pelepasan androgen dari reseptor
androgen payudara oleh obat seperti spironolakton, cyproterone asetat, flutamide cimetidine
atau cimetidine mengakibatkan efek yang tidak diinginkan pada jaringan payudara.
d. Hipersensitivitas pada jaringan payudara
Ginekomastia terjadi jika jaringan payudara pada pria memiliki sensitivitas yang
meningkat pada estrogen. Meskipun peningkatan aktivitas aromatase ditemukan pada pasien
ginekomastia. Aromatase androgen ke estrogen dalam jaringan payudara merupakan
penyebab dari ginekomastia idiopatik. Ginekomastia yang terjadi pada neonatus biasanya
diikuti pada masa pubertas yang mendukung bahwa jaringan glanduler payudara lebih sensitif
terhadap stimulasi estrogen pada beberapa pria dibandingkan pria lainnya.
Hormon utama pada laki-laki adalah testosteron, yang dihasilkan testis . Pada wanita
hormon utama adalah estrogen, yang dikeluarkan oleh ovarium. Kedua hormon tersebut
masing-masing diproduksi oleh kedua kelenjar. Estrogen juga diproduksi di testis dan
sejumlah

testosteron

juga

diproduksi

di

ovarium.

Ginekomastia

terjadi

karena

ketidakseimbangan antara estrogen (yang menstimuli jaringan payudara) dan androgen (yang
menghambat stimulus).

12

Gambar 3. Proses terbentuknya estrogen yang menyebabkan ginekomastia


2.2.5. Diagnosis
Langkah pertama dalam evaluasi klinik adalah menetapkan bahwa benjolan ini adalah
ginekomastia. Keadaan yang paling sulit dibedakan dengan ginekomastia adalah pembesaran
jaringan lemak subareolar payudara tanpa proliferasi kelenjar (psuedoginekomastia).
Pasien dengan pseudoginekomastia memiliki badan obesitas menyeluruh dan tidak
mengeluhkan nyeri. Dan sebagai tambahan dapat dilakukan pemeriksaan payudara.
Pemeriksaan yang baik dengan meletakkan tangan pasien dibelakang kepala sambil pasien
baring. Pemeriksa meletakkan ibu jari pada sisi yang satu dan jari kedua diletakkan pada sisi
lain lalu memeriksa dengan seksama. Pada pasien ginekomastia akan didapatkan benjolan
yang kenyal dan berbatas tegas dan berada ditengah dan puting susu serta mudah dipalpasi.
Sedangkan pada pseudoginekomastia tidak ada hambatan saat kedua jari dipertemukan.

13

Gambar 4. Cara pemeriksaan fisik dalam mendiagnosis ginekomastia


Biasanya

ginekomastia

terjadi

asimetrik.

Ginekomastia

unilateral

biasanya

menandakan adanya pertumbuhan ginekomastia bilateral. Meskipun kelainan seperti


neurofibroma, limpangioma, hematoma, lipoma dan kista dermoid dapat mengakibatkan
pembesaran unilateral, namun yang paling harus dibedakan ialah dengan karsinoma payudara
yang terjadi pada pria kurang dari 1%. Kanker payudara pada pria biasanya massanya
unilateral, keras, terfiksasi pada jaringan dibawahnya, adanya dimpling, retraksi atau crusting
puting susu, keluarnya cairan dari puting susu atau adanya limfadenopati aksilla.

Gambar 5. Ginekomastia asimetris


14

Setelah diagnosis ginekomastia dapat dibuat, beberapa etiologi lain dapat diketahui
melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis didapatkan rasa sakit pada
payudara. Riwayat penggunaan obat-obatan dan juga riwayat kelainan hati dan ginjal menjadi
hal penting dalam menetapkan etiologi. Riwayat penurunan berat badan, takikardi, gemetar,
diaporesis dan hiperdefekasi dapat membantu ke arah hipertiroid. Pada pemeriksaan fisik
dilakukan palpasi pada payudara untuk membedakan dengan pembesaran akibat jaringan
lemak. Pemeriksaan palpasi pada testis juga perlu dilakukan untuk menilai apakah ada rasa
sakit atau tidak. Gejala-gejala dan hipogonadisme juga perlu di periksa, seperti penurunan
libido, impotensi, penurunan kekuatan dan juga atrofi testis. Pemeriksaan yang teliti terutama
untuk massa di abdomen, dapat membantu dalam menemukan kanker adrenocortical.
Mammografi atau FNA sangat membantu dalam membedakan kanker atau
ginekomastia, meskipun biopsy bedah harus dilakukan jika kedua prosedur sebelumnya tidak
menunjukkan adanya proses keganasan. Pada pasien dengan kemungkinan neoplasma
testikular dapat dilakukan USG testis.
Pada pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan pemeriksaan kadar serum hormonhormon tertentu untuk dapat menentukan etiologi, seperti pemeriksaan gonadotropin korionik
serum (hCG), testosterone, estradiol dan LH.
2.2.6. Penatalaksanaan
Penanganan ginekomastia dilakukan berdasarkan penyebabnya. Secara umum tidak
ada pengobatan bagi ginekomastia fisiologis. Tujuan utama pengobatan adalah untuk
mengurangi kesakitan dan menghindari komplikasi. Penanganan ginekomastia meliputi tiga
hal yaitu observasi, medikamentosa dan operasi.
2.2.6.1. Observasi
Observasi dilakukan pada pasien-pasien yang mendapatkan terapi obat-obatan yang
biasa menyebabkan ginekomastia. Penggunaan obat-obatan tersebut dihentikan dan pasien
dievaluasi setelah 1 bulan. Jika ginekomastia terjadi akibat obat-obatan, maka penghentian
konsumsi obat-obatan tersebut akan menyebabkan berkurangnya rasa sakit pada payudara.
Penggantian obat yang menyebabkan ginekomastia dengan obat lainnya dapat dilakukan.

15

Sebagai contoh, ketika hendak memberikan obat calcium channel blocker pada
orangtua, penggunaan nifedipine lebih berpotensi timbulnya ginekomastia, dibandingkan
dengan verapamil dan juga diltiazem. Keadaan yang sama juga terjadi pada penggunaan
histamin reseptor atau parietal cell proton-pump. Penggunaan obat cimetidine lebih memiliki
resiko dibandingkan ranitide dan juga omeprazole.
Observasi juga dapat dilakukan pada keadaan fisiologis, termasuk pasien usia
pubertas dan memiliki pemeriksaan fisik dan testis yang normal. Pasien tersebut dievaluasi
selam 6 bulan
2.2.6.2. Medikamentosa
Identifikasi kelainan penyebab ginekomastia dapat membantu meringankan
pembesaran payudara. Obat-obat yang dapat digunakan sebagai berikut :
a) Clomiphene (anti estrogen) dapat diberikan dengan dosis 50-100 mg setiap hari selama 6
bulan. Efek samping obat ini dapat mengakibatkan gangguan penglihatan, muntah dan
bintik merah.
b) Tamoxifen (antagonis estrogen) dapat diberikan dengan dosis 10-20 mg dua kali sehari
selama 3 bulan. Efek samping obat ini dapat mengganggu epigastrium dan mual.
c) Danazol, obat testosteron sintetik, yang menghambat sekresi LH dan FSH dan
menurunkan sintesis estrogen di testis. Diberikan dengan dosis 200 mg dua kali sehari.
Efek samping obat ini adalah akne, penambahan berat badan, retensi cairan, mual dan
hasil fungsi hati yang abnormal.
d) Testolactone (inhibitor aromatisasi), diberikan 450 mg sehari selama 6 bulan. Efek
samping obat ini adalah mual, muntah dan udem.
2.2.6.3. Operatif
Pengobatan dengan bedah bertujuan mengembalikan bentuk normal payudara dan
memperbaiki kalainan payudara, puting dan areola. Pengobatan operatif dilakukan jika
respon obat-obatan tidak mencukupi. Pembedahan yang bersifat kuratif dapat dilakukan pada
tumor yang menyerang penghasil estrogen atau hCG.

16

Ada 2 jenis operasi yang dapat dilakukan yaitu Surgical resection (subcutaneous
mastectomy) dan Liposuctio-assisted mastectomy.
a. Surgical Resection (Subkutaneus Mastektomi)
Ada beberapa jenis irisan pada eksisi payudara laki-laki. Jenis irisan yang sering
dilakukan adalah dengan insisi intra-areolar atau Webster incision. Insisi Webster dibuat
sepanjang lingkaran areola bagian bawah dan dengan panjang irisan yang bervariasi
tergantung dari areola pasien. Insisi lain yang digunakan adalah insisi tranversal yang
melewati papilla mamae. Insisi ini memiliki bukaan yang terbatas. Triple-V incision memiliki
bukaan yang paling besar namun jarang digunakan saat sekarang. Sebelum operasi, dokter
bedah harus menentukan garis insisi dan memperkirakan kedalaman jaringan lemak dan
jaringan payudara yang akan dikeluarkan. Selain itu ada teknik Letterman dan juga teknik
yang digunakan jika ginekomastia bersifat masif.

Gambar 6. (a) Webster incision, (b) Webster incision yang diperlebar ke arah medial dan
lateral, (c) Transverse incision, (d) Triple-V incision, (e) Teknik yang paling
sering digunakan untuk reseksi kulit dan transposisi puting susu (Letterman
Technique), (f) Teknik yang digunakan pada ginekomastia massif.

17

b. Liposuctio-assisted mastectomy
Liposuctio-assisted mastectomy
merupakan salah satu jenis operasi
untuk pseudognikomastia. Insisi dibuat
sekitar 1 cm diatas areola, lalu jaringan
kelenjar dan parenkim disedot keluar.
Diperkenalkan pertama kali pada tahun
1980an. Sekarang digunakan ultrasonic
liposuction yang meningkatkan hasil
koreksi

payudara.

pascaoperasi

ini

dibandingkan

dengan

Komplikasi
lebih

kecil

operasi

open

mastektomi.

Gambar 7. Sebelum dan setelah operasi


Liposuction-assisted mastectomy
2.2.7. Prognosis
Prognosis dari ginekomastia baik untuk semua etiologi. Suatu studi menunjukkan
90% pasien ginekomastia fisiologis membaik dalam 2 tahun. Pasien ginekomastia akibat
keadaan patologik dapat membaik dengan terapi obat dan pembedahan.

18

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Ginekomastia merupakan kelainan bentuk jinak yang terjadi sekitar 60% dari seluruh
kelainan payudara pada laki-laki dan sekitar 85% dari kelainan benjolan pada payudara lakilaki.
Ginekomastia berhubungan dengan beberapa kondisi yang menyebabkan pembesaran
abnormal dari jaringan payudara pada pria. Ginekomastia merupakan pembesaran jinak
payudara laki-laki yang diakibatkan proliferasi komponen kelenjar. Ginekomastia biasanya
ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan kesehatan rutin atau dapat dalam bentuk
benjolan yang terletak dibawah regio areola baik unilateral maupun bilateral yang nyeri saat
ditekan atau pembesaran payudara yang progresif yang tidak menimbulkan rasa sakit.
Ginekomastia dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologinya. Ginekomastia idiopatik
terjadi sekitar 75% dari kasus. Keadaan fisiologis terjadi pada bayi baru lahir, masa pubertas
dan lanjut usia (memasuki usia 50-80 tahun). Kondisi patologik diakibatkan oleh defisiensi
testosteron, peningkatan produksi estrogen atau peningkatan konversi androgen ke estrogen
misalnya pada sindrom klinefelter, karsinoma adrenal, kelainan hati dan lain-lain juga bisa
menyebabkan ginekomastia. Selain itu, penggunaan obat-obatan juga dapat menyebabkan
terjadinya ginekomastia.
Penanganan ginekomastia dilakukan berdasarkan penyebabnya. Secara umum tidak
ada pengobatan bagi ginekomastia fisiologis. Tujuan utama pengobatan adalah untuk
mengurangi kesakitan dan menghindari komplikasi. Penanganan ginekomastia meliputi tiga
hal yaitu observasi, medikamentosa dan operasi.
3.2. Saran
Untuk mencegah dan mengontrol resiko ginekomastia, hal berikut dapat dilakukan :

Hindari penyalahgunaan narkoba dan doping, termasuk steroid, heroin dan lain-lain.
Hindari konsumsi alkohol, meskipun sedikit.
Periksa ulang obat-obat harian yang dikonsumsi dan konsultasi ke dokter.

DAFTAR PUSTAKA
19

1. Braunstein GD. Gynecomastia. NEJM [serial online] 1993 Feb [cited 2009 Des 28];
328:490-5. Available from : URL:http://www.nejm.org.
2. Ali F. Gynecomastia. [Online] 2006 June 9 [cited 2009 Des 28]; Available from:
URL:http://www.emedicine.corn
3. Mansjoer A, Suprohita, Wardhani WI, Setiowulan W. Editor. Kapita Selekta Kedokteran
ed 3 Jilid 2. Media Aesculapius FK-UI Jakarta 2000
4. Glass AR. Gynecomastia In: Becker KL (editor) Principles And Practice Of
Endocrinology And Metabolism 3 rd Ed. Lippincott William & Wilkins Publisher.
2002
5. Clarke PJ, Hands L. Abnormalities of The male breast. In: Morris PJ, Wood WC, editors.
Oxford Textbook of surgery 2nd Ed. Oxford Press : 2002 Braunstein GD.
6. Management of Gynecomastia. In Harris JR, Lippman ME, Morrow M, Osborne CK
editors. Lippmon By Lippincott Williams & Wilkins Publishers ;2000
7. Braunstein GD. Gynecomastia. NEJM [serial online] 2009 Sept 20 [cited
2007 Des 28]; 357:1229-37. Available from : URL :http://www.nejm.org.
8. Alle MR. Gynecomastia. [Online] 2006 Nov 15 [cited 2009 Des 28]; Available
from: URL:http://www.emedicine.com
9. Pensler JM. Gynecomastia. [Online] 2009 Jul 1 [cited 2009 Des 28]; Available
10. Jong WD, Syamsuhidajat R. Editor. Payudara. In. Buku Ajar Ilmu Bedah Ed 2. EGC
Jakarta : 2005. p: 387-401
11. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Ed4. Buku
2. EGC Jakarta 1995
12. Sherwood L. Fisiologi Manusia Dan Sel Ke sistem Ed 2. EGC Jakarta 2001
13. Aninim. Gynecomastia. [Online] 2009 jan 1 [cited 2009 Des 28]; Available from:
URL:http://www.webmd.com
14. Kronenberg

H,

Melmed

S,

Larsen

PR,

Polonsky

K.

Principles

Of

Endocrinology. In Larsen PR, Kronenberg H, Melmed S, Polonsky K. Editors. Williams


Textbook Of Endocrinology 10th Ed.Saunders 2003
15. Suherman SK,. Estrogen, Antiestrogen Progestin, dan Kontrasepsi Hormonal.
Dalam Ganiswama Editor Farmakologi Dan Terapi. Gaya Baru: Jakarta . 1995. hal 44656

20