Anda di halaman 1dari 2

BAB III

PENUTUP

Dry eye (mata kering) merupakan hasil dari setiap penyakit yang berhubungan
dengan defisiensi dari komponen film air mata (laipsan mucus, aquos, atau lipid),
kelainan permukaan kornea, atau kelainan epitel5.

Dulu definisi mata Kering

adalah sebuah kelainan dari film air mata karena kekurangan air mata atau penguapan
yang berlebihan, yang menyebabkan kerusakan pada permukaan mata interpalpebral
dan dikaitkan dengan gejala okular discomfort. Namun pada internasional workshop
2007, definisi mata kering mengalami perkembangan yaitu penyakit multifaktorial air
mata dan permukaan okular yang menimbulkan gejala ketidaknyamanan, gangguan
visual dan instabilitas film air mata dengan potensi kerusakan pada permukaan mata.
Hal

ini

disertai

dengan

peningkatan

osmolaritas

air

mata

film

dan

peradangan pada permukaan mata6.


Gejala mulai tampak ketika pembengkakan tersebut telah menimbulkan
penonjolan2. Pada tahap yang sangat awal, riwayat pasien asimptomatis.
Ameloblastoma tumbuh secara perlahan selama bertahun-tahun dan tidak ditemui
samapi dilakukan pemeriksaan radiografi oral secara rutin. Pada tahap awal, tulang
keras dan mukosa di atasnya berwarna normal. Pada tahap berikutnya tulang menipis
dan ketika teresorbsi seluruhnya tumor yang menonjol terasa lunak pada penekanan
dan dapat memiliki gambaran berlobul pada radiografi1,7,13.
Banyak penyebab mata kering yang mempengaruhi lebih dari satu komponen
dari film air mata atau mengakibatkan perubahan permukaan mata yang
menyebabkan ketidakstabilan film air mata. Fitur histopatologi menunjukkan
munculnya bintik kering pada epitel kornea dan konjungtiva, pembentukan filamen,
hilangnya sel goblet konjungtiva, pembesaran abnormal sel-sel epitel non-goblet,
peningkatan stratifikasi selular, dan keratinisasi meningkat5.
Mekanisme inti dari mata kering didorong oleh air mata dan ketidakstabilan
hiperosmolar film air mata. Hiperosmolaritas air mata menyebabkan kerusakan pada
21

epitel permukaan dengan mengaktifkan kaskade kejadian inflamasi pada permukaan


okular dan pelepasan mediator inflamasi ke dalam air mata. Kerusakan epitel
melibatkan kematian sel oleh apoptosis, hilangnya sel goblet, dan gangguan
ekspresi musin, yang mengarah ke ketidakstabilan film air mata. Ketidakstabilan ini
memperburuk hyperosmolaritas permukaan mata dan melengkapi lingkaran setan.
Cedera epitel disebabkan oleh karena mata kering merangsang ujung saraf kornea,
menyebabkan gejala ketidaknyamanan, meningkatkan berkedip dan berpotensi
kompensasi refleks sekresi lakrimal air mata. Kehilangan dari mucin normal pada
permukaan okular berkontribusi untuk menimbulkan gejala yakni meningkat tahanan
gesek antara kelopak mata dengan bola mata5.
Pada kebanyakan pasien, tampilan dari pemeriksaan mata adalah gambaran
mata yang seperti orang normal. Tampilan yang paling khas pada pemeriksaan
slitlamp adalah meniskus air mata terganggu atau tidak ada meniscus air mata pada
bagian bawahdari kelopak. Kadang-kadang terlihat lendir kekuningan dalam forniks
konjungtiva. Konjungtiva bulbar kehilangan kilauan dan mungkin menebal, edema,
dan hiperemis5.
Air mata buatan merupakan andalan pengobatan. Salep berguna untuk
pelumas berkepanjangan pada mata, terutama ketika tidur. Bantuan tambahan dapat
dicapai dengan menggunakan humidifier, kelembaban ruang kacamata, atau kacamata
berenang. Fungsi utama dari tindakan ini adalah penggantian cairan. Pemulihan
musin adalah tugas yang lebih berat. Selain itu juga dapat dilakukan tindakan
pembedahan jika kedaaan memberat4.

22