Anda di halaman 1dari 8

MANAGEMENT PATIENT SAFETY

Konsep Dan Cara Sterilisasi

OLEH :
2.2 DIII KEPERAWATAN
KELOMPOK 5
I GUSTI AYU KERTININGSIH

(P07120014042)

NI MADE DEVI ADNYANI PUTRI

(P07120014049)

NI KADEK ARTINI

(P07120014051)

NI PUTU SRI INDRIYANI LESTARI

(P07120014062)

PANDE PUTERI SEPTIANI

(P07120014064)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2015/2016

A. KONSEP STRELISASI
Sterilisasi adalah proses pengolahan suatu alat/bahan dengan tujuan
mematikan semua mikroorganisme termasuk endospora pada suatu alat/bahan.
Sterilisasi dalam pengertian medis merupakan suatu proses dengan metode
tertentu dapat memberikan hasil akhir, yaitu suatu bentuk keadaan yang tidak dapat
ditunjukkan lagi adanya mikroorganisme hidup (Darmadi, 2008)
Steralisasi adalah suatu cara untuk membebaskan sesuatu (alat,bahan,media,
dan lain-lain) dari mikroorganisme yang tidak diharapkan kehadirannya baik yang
patogen maupun yang a patogen. Atau bisa juga dikatakan sebagai proses untuk
membebaskan suatu benda dari semua mikroorganisme, baik bentuk vegetative
maupun bentuk spora.
Proses sterilisasi dipergunakan pada bidang mikrobiologi untuk mencegah
pencernaan organisme luar, pada bidang bedah untuk mempertahankan keadaan
aseptis, pada pembuatan makanan dan obat-obatan untuk menjamin keamanan
terhadap pencemaran oleh miroorganisme dan di dalam bidang-bidang lain pun
sterilisasi ini juga penting.
Sterilisasi banyak dilakukan di rumah sakit melalui proses fisik maupun
kimiawi. Steralisasi juga dikatakan sebagai tindakan untuk membunuh kuman patogen
atau kuman apatogen beserta spora yang terdapat pada alat perawatan atau kedokteran
dengan cara merebus, stoom, menggunakan panas tinggi, atau bahkan kimia. Jenis
sterilisasi antara lain sterilisasi cepat, sterilisasi panas kering, steralisasi gas (Formalin
H2 O2), dan radiasi ionnisasi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam steralisasi di antaranya:
a. Sterilisator (alat untuk mensteril) harus siap pakai, bersih, dan masih berfungsi.
b. Peralatan yang akan di steralisasi harus dibungkus dan diberi label yang jelas
dengan menyebutkan jenis pera;latan, jumlah, dan tanggal pelaksanaan
sterilisasi.
c. Penataan alat harus berprinsip bahwa semua bagian dapat steril.
d. Tidak boleh menambah peralatan dalam sterilisator sebelum waktu mensteril
selesai.
e. Memindahklan alat steril ke dalam tempatnya dengan korentang steril
f. Saat mendinginkan alat steril tidak boleh membuka pembungkusnya, bila
terbuka harus dilakukan steralisasi ulang.
B. CARA STERILISASI
Sebelum memilih cara sterilisasi yang tepat dan efisien diperlukan pemahaman
terhadap kemungkinan adanya kontaminasi dari bahan, dan alat yang akan

disterilkan . kontaminasi terjadi karena adanya perpindahan mikroorganisme yang


berasal dari berbagai macam sumber kontaminasi. Sumber kontaminasi dapat berasal
dari :
a) Udara yang lembab atau uap air
b) Perlengkapan dan peralatan di Rumah sakit
c) Personalia yang di Rumah Sakit (kulit, tangan, rambut, dan saluran nafas yang
terinfeksi)
d) Air yang tidak disuling dan tidak disterilkan
e) Ruang yang tidak dibersihkan, dan di disifektan
f) Pasien yang telah terinfeksi
Beberapa cara sterilisasi antara lain :
a) Metode uap panas bertekanan tinggi
1. Prinsip dasar
Uap panas pada suhu, tekanan, dan waktu pemaparan tertentu mampu
menmbunuh mikroba patogen dengan cara denaturasi protein dari enzim,
dan membran sel.
2. Teknis pelaksanaan
Alat yang digunakan sebuah bejana yang dilengkapi dengan manometer,
termometer, thermostat, dan pengatur tekanan. Dengan demikian suhu,
dan tekanan uap panas dapat diatur. Sterilisator metode uap panas
bertekanan tinggi ini disebut autoclave. Metode sterilisasi uap panas ini
adalah metode yang banyak digunakan, aman, cukup efektif, serta mudah
pengoperasiannya. Ada 3 jenis autoclave yang secara teknis sama.
Perbedaannya terletak pada durasi/waktu proses sterilisasi. 3 jenis
autoclave itu diantaranya :
a. autoclave kilat
b. autoclave gaya berat
c. autoclave prevacum.
3. Pengawasan terhadap mutu/kualitas sterilisasi. Hal ini sangat diperlukan
untuk mengetahui keandalan suatu metode proses sterilisasi. Pengawasan
mutu/kualitas ini dijalankan dengan melakukan evaluasi selama proses
maupun pada hasil akhirnya.
Cara Sterilisasi yang digunakan untuk menjadi indikator/parameter unutk menilai
mutu/kualitas proses sterilisasi :
a. Sterilisai secara mekanik (filtrasi)
Menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45
mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini
ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misal nya larutan enzim dan
antibiotik
b. Sterilisasi secara fisik

Dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran


a. Pemanasan
1) Pemijaran (dengan api langsung)
Membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum
inokulum, pinset, batang L, dll. 100 % efektif namun terbatas
penggunaanya.
2) Panas kering:
Sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering
cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung
reaksi dll.Waktu relatif lama sekitar 1-2 jam. Kesterilaln tergnatung
dengan waktu dan suhu yang digunakan, apabila waktu dan suhu tidak
sesuai dengan ketentuan maka sterilisasipun tidak akan bisa dicapai secara
sempurna.
3) Uap air panas
Konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air
lebih tepat menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi
Teknik disinfeksi termurah Waktu 15 menit setelah air mendidih Beberapa
bakteri tidak terbunuh dengan teknik ini: Clostridium perfingens dan Cl.
Botulinum
4) Uap air panas bertekanan
Menggunalkan autoklaf menggunakan suhu 121 C dan tekanan 15
lbs, apabila sedang bekerja maka akan terjadi koagulasi. Untuk
mengetahui

autoklaf

berfungsi

dengan

baik

digunakan

Bacillus

stearothermophilus Bila media yang telah distrerilkan.diinkubasi selama 7


hari berturut-turut apabila selama 7 hari: Media keruh maka otoklaf rusak
Media jernih maka otoklaf baik, kesterilalnnya, Keterkaitan antara suhu
dan tekanan dalam autoklaf
b. Pasteurisasi
Pertama dilakukan oleh Pasteur, Digunakan pada sterilisasi susu
Membunuh

kuman:

tbc,

brucella,

Streptokokus,

Staphilokokus,

Salmonella, Shigella dan difteri (kuman yang berasal dari sapi/pemerah)


dengan Suhu 65 C/ 30 menit
c. Penyinaran dengan sinar UV
Sinar Ultra Violet juga dapat digunakan untuk proses sterilisasi,
misalnya untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan
interior Safety Cabinet dengan disinari lampu UV Sterilisaisi secara
kimiawi biasanya menggunakan senyawa desinfektan antara lain alkohol.
Beberapa kelebihan sterilisasi dengan cara ini:

1)
2)
3)
4)
d.

Memiliki daya antimikrobial sangat kuat


absorbsi as. NukleatDaya kerja
Panjang gelombang: 220-290 nm paling efektif 253,7 nm
penetrasi lemahKelemahan
Sinar ion bersifat hiperaktif
Sering digunakan padaGamma Daya kerjanya sterilisasi bahan
makanan, terutama bila panas menyebabkan perubahan rasa, rupa atau
penampilan Bahan disposable: alat suntikan cawan petri dpt distrelkan
dengan teknik ini. Sterilisasi dengan sinar gamma disebut juga sterilisasi
dingin

c. Sterilisasi dengan Cara Kimia


a. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada disinfeksi kimia
1) Rongga (space)
2) Sebaiknya bersifat membunuh (germisid)
3) Waktu (lamanya) disinfeksi harus tepat
4) Pengenceran harus sesuai dengan anjuran
5) Solusi yang biasa dipakai untuk membunuh spora kuman biasanya
bersifat sangat mudah menguap
6) Sebaiknya menyediakan hand lation merawat tangan setelah
berkontak dengan disinfekstan
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi dengan cara kimia
1) Jenis bahan yang digunakan
2) Konsentrasi bahan kimia
3) Sifat Kuman
4) pH
5) Suhu
c. Beberapa Zat Kimia yang sering digunakan untuk sterilisasi
1) Alkohol
Paling efektif untuk sterilisasi dan desinfeksi membran sel rusak
Mendenaturasi protein dengan jalan dehidrasi & enzim tdk aktif
2) Halogen
Mengoksidasi protein kuman
3) Yodium
Konsentrasi yg tepat tidak mengganggu kulit
Efektif terhadap berbagai protozoa
4) Klorin
Memiliki warna khas dan bau tajam
Desinfeksi ruangan, permukaan serta alat non bedah
5) Fenol (as. Karbol)
Mempresipitasikan protein secara aktif, merusak membran sel
menurunkan tegangan permukaan
Standar pembanding untuk menentukan aktivitas suatu desinfektan
6) Peroksida (H2O2)
Efektif dan nontoksid

7)

Molekulnya tidak stabil


Menginaktif enzim mikroba
Gas Etilen Oksida
Mensterilkan bahan yang terbuat dari plastik

b) Metode Panas Kering


1. Prinsip Dasar
Melalui mekanisme konduksi, panas akan diabsorpsi oleh permukaan luar
dari peralatan yang di sterilkan. Lalu merambat ke bagian yang lebih dalam
dari peralatan tersebut sampai suhu untuk sterilisasi tercapai secara merata.
Mikrob terbunuh dengan cara oksidasi dimana protein mikroba akan
mengalami koagulasi.
2. Teknis Pelaksanaan
Sterilisasi ini menggunakan udara panas pada sebuah alat yang disebut oven,
sebuah bejana yang udara di dalamnya harus dipanaskan dengan cara sebagai
berikut :
a) Pemanasan udara dalam oven dengan memanfaatkan gas atau listrik,
suhunya dapat mencapai 160-1800C.
b) Durasi/waktu untuk proses sterilisasi 1-2 jam, lebih lama daripada
menggunakan autoclave karena daya penetrasi tidak sebaik uap panas.
c) Digunakan untuk sterilisasi alat-alat dari gelas seperti tabung reaksi,
labu, cawan petri dan sebagainya.
c) Metode Gas Kimia
1) Sterilisasi dengan etilen oksida
1. Prinsip Dasar
Etilen oksida membunuh mikroba melalui reaksi kimia yaitu reaksi
alkilasi, Pada reaksi ini terjadi pergantian gugus atom hidrogen pada sel
mikroba dengan gugus alkil, sehingga metabolisme, dan reproduksi sel
terganggu.
2. Teknis Pelaksanaan
Proses sterilisasi menggunakan autoclave khusus pada suhu yang lebih
rendah (36-600C) serta konsentrasi gas tidak kurang dari 400 mg ?liter,
dengan proses sebagai berikut :
o Setelah peralatan medis dimasukan gas etilen oksida dipompakan ke
dalam kamar (chamber) selama 20-30 menit pada kelembaban 5075%
o Selesai waktu pemaparan dengan gas etilen oksida, diikuti oleh
tahap aerasi / pertukaran udara yaitu proses membuang gas etilen
oksida pada sterilisator maupun peralatan medis.

2) Sterilisasi dengan formaldehid


1. Prinsip Dasar
Mikroba terbunuh dengan cara mengikat gugus asam amino dari protein
mikroba.
2. Teknis Pelaksanaan
Alat yang dianjurkan untuk sterlisasi 700 C. Setelah peralatan medis
yang akan disterilkan dimasukkan, gas formaldehid dialirkan ke dalam
kamar dengan konsentrasi 15 mm/m3. Cara ini hanya untuk sterilisasi
yang terbatas seperti kateter, sarung tangan, dan sebagainya. Gas
formaldehid baunya sangat menyengat dan menyebabkan iritasi pada
kulit, mata dan saluran pernapasan. Oleh karena itu perlu penanganan
dengan hati-hati.

DAFTAR PUSTAKA

Darmadi.2008. Infeksi Nosokomial Problematika Dan Pengendaliannya. Jakarta :Salemba


Medika
Septiari, Betty Bea. 2012. Infeksi Nosokomial. Yogyakarta : Nuha Medika
Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum.Malang : Universitas Muhamadyah Malang Press