Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini perekonomian di Indonesia di hadapkan pada perekonomian global dan liberalisasi
yang terwujud pada perdagangan bebas Krisis finansial global ini menjadi sebuah momentum tersendiri
bagi perkembangan ekonomi Islam. Karena sistem ekonomi islam ini sudah lama memberikan sebuah
usulan alternatif mengenai tatanan perekonomian dunia yang lebih baik. Sehingga gelombang krisis bisa
di tahan dan diredam, yang sebagian ekonom mengganggap bersifat endogen pada sistem ekonomi
kapitalisme itu sendiri (A. Prasetyantoko, 2008). Dimana sistem ekonomi kapitalis tengah berlangsung
disebagian Negara-negara di dunia.Krisis ini memperkuat kembali eksistensi dan urgensi penerapan
ekonomi Islam bagi perekonomian dunia.
Ekonomi Islam bukanlah hal baru yang ada di perekonomian domestic maupun
internasional.Sistem ekonomi islam akan tenggelam dan tidak terjadi perkembangan pemikiran
dikarenakan konstelasi peradaban dunia yang akhir-akhir ini di kuasai oleh pemikiran barat. Bahkan ada
beberapa ahli yang menyebutkan bahwa ekonomi Islam datang dari kevakuman sehingga bersifat
ahistoris (Hoetoro, 2008). Namun M. Akram Khan, Menegaskan bahwa ilmu ekonomi Islam memiliki visi
mempelajari kesejahteraan manusia (falah) yang dicapai dengan mengorganisir sumber-sumber daya
bumi atas dasar kerjasama dan partisipasi antar sesame manusia.Dari penjelasan di atas dapat di
ketahui bahewa ekonomi islam sudah selayaknya diterapkan di Indonesia yang mayoritas penduduknya
beragama islam. Ekonomi islam selain bisa bertahan saat krisis ekonomi yang melanda negeri juga
mensejahterakan seluruh umat manusia.
Bersasarkan uraian di atas ,semua pelaku ekonomi dapat melihat bahwa UMKM memiliki potensi
ekonomi yang lebih bisa di andalkan dalam menghadapi krisis ekonomi yang terjadi saat ini dan
ancaman globalisasi dan liberalisasi di masa y ang akan datang.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Lembaga Keuangan Mikro Syariah?
2. Bagaimanakah Pengertian Usaha Mikro,Kecil dan Menengah (UMKM)?
3. Bagaimanakah langkah implementatif dalam hal pendanaan UMKM melalui LKMS?
4. Bagaimanakah Optimalisai Peran BMT dalam Pengentasan Kemiskinan?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui bagaimanakah Lembaga Keuangan Mikro Syariah.
2. Untuk mengetahui bagaimanakah Pengertian Usaha Mikro,Kecil dan Menengah (UMKM).
3. Untuk mengetahui Peranan Pemerintah dan LKMS Terhadap UMKM.
4. Untuk mengetahui Optimalisai Peran BMT dalam Pengentasan Kemiskinan.
.

BAB III
PEMBAHASAN
A. Lembaga Keuangan Mikro Syariah
Lembaga Keuangan Mikro syariah (LKMS) terdiri dari berbagai lembaga diantaranya BPRS (Bank
Perkreditan Mikro Syariah), BMT (Baitul Mal Wat Tanmil), serta Koperasi Syariah. Ketiga lembaga
tersebut mempunyai hubungan yang erat dan saling mempengaruhi satu sama lain dan berhubungan
erat dengan lembaga syariah lainnya yang lebih besar.
B.

Pengertian Usaha Mikro,Kecil dan Menengah (UMKM)


Menurut Keputusan Presiden RI no.99 tahun 1998, UMKM didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi
rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan
perlu di lindungi untuk mencegah dari persaingan saha yang tidak sehat. Sedangkan definisi yang
digunakan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) lebih mengarah pada skala usaha dan jumlah tenaga kerja
yang diserap. Usaha kecil menggunakan kurang dari lima orang karyawan,sedangkan usaha skala
menengah menyerap antara 5-19 tenaga kerja.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar
dalam perekonomian Indonesia dan terbukti menjadi katup pengaman perekonomian nasional dalam
masa krisis, serta menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi pasca krisis ekonomi. Selain menjadi
sektor usaha yang paling besar kontribusinya terhadap pembangunan nasional, UMKM juga menciptakan
peluang kerja yang cukup besar bagi tenaga kerja dalam negeri, sehingga sangat membantu upaya
mengurangi pengangguran.UMKM bergerak di berbagai sektor ekonomi namun yang paling dominan
bergerak di bidang pertanian.
Undang-Undang Nomor 9 tahun 1995, Usaha Kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang
memiliki hasil penjualan tahunan maksimal Rp 1 miliar dan memiliki kekayaan bersih, tidak termasuk
tanah dan bangunan tempat usaha.[1] Sedangkan menurut BPS, usaha kecil identik dengan industri
kecil dan industri rumah tangga (IKRT). BPS mengklasifikasikan industri berdasarkan jumlah pekerjanya,
yaitu:

a.

industri rumah tangga dengan pekerja 1-4 orang,

b.

industri kecil dengan pekerja 5-19 orang,

c.

industri menengah dengan pekerja 20-99 orang,

d.

industri besar dengan pekerja 100 orang atau lebih. [2]

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh
orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan
yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil
atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang ini.

C. Peranan Pemerintah dan LKMS Terhadap UMKM


Pemerintah mempunyai peran yang besar dakam mengembangkan UMKM yang ada
di Indonesia,karena pembuat kebijakan-kebijakan penting hanya dapat di lakukan oleh
pemerintah. Seperti yang kita ketahui bersama UMKM di Indonesia dewasa ini mengalami
persaingan hebat dengan produk import yang beredar di Indonesia.Hal ini tentu akan
semakin mempersulit UMKM untuk mengembangkan usahanya, karena produk yang di
hasilkan kalah saing dengan produk dari luar negeri. Keadaan ini tidak bisa di biarkan
terus berlarut,karena dapat mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia.Hal ini bisa
terjadi karena UMKM menyumbangkan PDB terbesar di Indonesia.
Langkah yang bisa di ambil pemerintah terkait dengan kemajuan UMKM di
Indonesia adalah denhan menerapkan beberapa kebijakan guna melindungi UMKM
,diantaranya:
a.

Menetapkan kebijakan kuota terhadap produk yang akan masuk ke Indonesia, Hal ini di
maksudkan agar produk yang dihasilkan UMKM di Indonesia bisa meraih pasar,di karenakan
barang import menjadi sedikit akibat adanya pembatasan,

b.

Menetapkan kebijakn tariff yang tinggi. Supaya produk yang di import harga jual di
pasaran Indonesia menjadi lebih tinggi di bandingkan dengan produk luar negeri.Dengan
demikian UMKM tetap bisa mengembangkan usahanya,

c.

Mempermudah UMKM dalam mengurusi perizinan tempat maupun usaha, dengan


birokrasi yang baik UMKM bisa dengan mudah mendapat pelayanan yang terkait dengan
hal perizinan.

d.

Memberi fasilitas yang layak seperti pengusaha-pengusaha besar,terutama dalam hal


fasilitas,contohnya penempatan lokasi yang strategis dan fasilitas lain(air,jalan, dan lainlain)
UMKM dalam mengembangkan usahanya,tentu membutuhkan modal.Hal ini yang
menjadi masalah UMKM,karena dalam menambah uangnya bila harus meminjam uang ke
bank umum tentu prosesnya lama dan berbelit-belit. Maka peran Lembaga Keuangan
Mikro Syariah(LKMS) sangat penting dalam hal peminjaman modal kepada UMKM dengan
syarat yang mudah dan prases yang cepat dan tidak memberatkan UMKM selain itu
system transaksinya menggunakan sistem syariah.

Dengan pengembangan UMKM ini ,di harapkan perekonomian bisa membaik secara
berangsur-angsur. UMKM memberikan pengaruh yang besar terhadap perekonomian di
Indonesia karena UMKM bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi angkatan kerja
sehingga angka pengangguran di Indonesi bisa berkurang,UMKM juga membayar pajak
kepada pemerintah sehingga uang dari pembayarannya itu bisa digunakan untuk
pembanguna sarana umum dan perbaikan perekonomian di Indonesia. UMKM mengambil
peran penting dalam kemajuan perekonomian di Indonesia ,oleh sebab itu pemerintah
harus memberikan dukungan dan bantuan kepada UMKM agar bisa berkembang dengan
baik dan tidak kalah saing dengan produk luar.
UMKM perlu di kembangkan dan di beri kelayakan fasilitas maupun perizinan agar bisa
mengembangkan usahanya.UMKM sangat relevan untuk dilakukan di Indonesia. Di tengah krisis
keuangan global yang sedang mengancam perekonomian tiap negara, mengembangkan UMKM (sektor
riil) dapat menjadi salah satu pilihan mengantisipasi krisis keuangan global. Rachmat Gobel, Wakil
Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Teknologi dan Kelautan, mengatakan bahwa krisis
keuangan global yang tengah berlangsung hingga saat ini dapat dijadikan kesempatan untuk
memperkokoh dan mempercepat implementasi kebijakan dengan berbagai insentif untuk sektor mikro
untuk mewujudkan terciptanya masyarakat yang sejahtera utamanya UMKM.
D. Optimalisai Peran BMT dalam Pengentasan Kemiskinan
BMT sebagai lembaga yang menisbatkan dirinya menjadi gerakan ekonomi kerakyatan secara
legalitas berbentuk koperasi meskipun secara operasional sistem operasionalnya mengacu pada
microbanking. Cirikhas dalam ekonomi kerakyatan adalah kepemilikan dari BMT adalah berbasis
anggota sebagaimana dalam struktur organisasi BMT pemegang kekuasaan tertinggi adalah Rapat
Anggota Tahunan atau RAT. Forum ini yang menentukan kebijakan-kebijakan umum, Anggaran
Dasar/Anggaran Rumah Tangga dan keberlanjutan BMT. Prinsip yang digunakan adalah kesamaan hak
suara seluruh anggota tanpa membedakan besaran kapitalisasi yang ditanam oleh setiap anggota di
BMT.[3]
Desain BMT sebagai Lembaga Keuangan Mikro berprinsip Syariah mengutamkan prinsip keadilan
dan transparansi dalam hal transaksi dengan mendekatkan diri dalam layanannya kepada masyarakat
secara langsung. Layanan semacam ini dipermudah dengan fleksibilitas dalam persyaratan administrasi
pembiayaan/kredit terutama dalam hal legalitas usaha dan agunan yang menjadi kendala utama usaha
mikro.
Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di Indonesia dalam hal ini salah satunya adalah BMT menurut
Bank Pembangunan Asia dan Bank Dunia memiliki ciri: Menyediakan beragam jenis pelayanan keuangan
yang relevan atau sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat, Melayani kelompok masyarakat
berpenghasilan rendah, Menggunakan prosedur dan mekanisme yang kontektual dan fleksibel agar lebih
mudah dijangkau oleh masyarakat miskin yang membutuhkan. [4]
Selama ini BMT/LKM merupakan lembaga yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan modal
UMKM karena BMT senantiasa melakukan pelayanan dengan karakter UMKM yang cenderung dianggap
tidak bankable oleh sektor perbankan komersial. Selain itu LKM mampu memberikan kredit dalam skala

mikro tanpa jaminan, tanpa aturan yang ketat. LKM juga dapat menjadi perpanjangan tangan dari
lembaga keuangan formal. Dalam implementasinya LKM dianggap lebih efisien dari lembaga keuangan
lain karena kedekatannya kepada masyarakat yang dilayani. Kedekatan ini akan mengurangi biaya-biaya
transaksi. LKM dalam operasional memberikan fasilitas bantuan non keuangan. Persoalan utama dalam
BMT selama ini adalah kesulitan dalam penggalangan dana masyarakat karena persoalan kepercayaan
masyarakat yang penyediaan dana untuk pembiayaan
Misalnya bantuan untuk membuat rencana usaha, pencatatan dan pembukuan keuangan
kelompok. Kelemahan LKM yang beroperasi di Indonesia adalah beroperasi tanpa dasar hukum yang
jelas. Hubungan kerjasama antara bank, koperasi dan LKM. Dilihat dari pelaksanaannya, lembaga ini
bekerja sendiri untuk memberdayakan UMKM. Pola kerja sama yang biasa dilakukan adalah sumber
permodalan LKM berasal dari bank, bantuan luar negeri dan perorangan bergabung dalam suatu yayasan
atau Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Penyaluran dana (yang berasal dari bank atau bantuan luar
negeri dan gabungan individu) tetap disalurkan melalui bank kepada usaha mikro. Bank dapat berperan
sebagai channeling atau executing tergantung dengan kesepakatan LKM dengan bank yang
bersangkutan.[5]

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas maka dapat dapat disimpulkan bahwa :
1.

UMKM merupakan salah satu unit usaha yang sangat vital bagi perekonomian di Indonesia.UMKM
berperan penting dalam pemulihan kondisi perekonomian di Indonesia pasca krisis yang melanda
seluruh wilayah Indonesia. UMKM juga berkontribusi di berbagai unit usaha, tenaga kerja hingga output
usaha yang dihasilkan oleh UMKM.

2.

Sistem syariah yang diterapkan oleh LKMS cukup efektif dalam mengatasi masalah permodalan yang
sering dikeluhkan oleh UMKM . Pendekatan feasible dan bukan bankable dapat diterapkan melalui
lembaga ini karena memiliki kesesuaian dengan bentuk UMKM..

3.

Kerjasama antara LKMS,Pemerintah,dan UMKM merupakann alternatif pemecahan masalah yang sering
dihadapi oleh UMKM baik itu factor internal maupun eksternal.

B.

Saran

1.

Pemerintah seharusnya lebih giat lagi dalam mendorong perkembangan UMKM serta memberikan
fasilitas dan kebijakan yang bisa memperbaiki kondisi UMKM di Indonesia.

2.

LKMS harus di dukung keberadaanya ,karena LKMS sangat diperlukan dalam permodalan UMKM yang
memulai usaha maupun mengembangkan usaha.Selain itu perlu juga adanya penyuluhan serta motivasi
kepada pelaku UMKM untuk memanfaatkan keberadaan LKMS dalam memperolah sumber danan akan
sangat membantu dan meningkatkan kepercayaan pelaku UMKM lain dalam mencari sumber dana di
LKMS.

3.

Perlu adanya kerjasama antara LKMS,Pemerintah dan UMKM, karena

ketiga aspek tersebut

mempunyaiperan yang saling keterkaitan.Dengan adanya koordinasi yang baik dan transparan oleh
ketiga aspek terseebut diharapkan UMKM di Indonesia bisa lebih mandiri dan bisa bersaing di pasar
regional maupun internasional.

LEMBAGA KEUANGAN MIKRO SYARIAH


Published September 14, 2008 Ekonomi Leave a Comment

Pengantar :
Di Kanagarian Bukikbatabuah, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, sudah dicanangkan pembentukan
Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) berupa BMT dan Koperasi Sayariah. Koperasi Syariah (KSU) Daarul
Marhamah didirikan oleh beberapa anggota masyarakat yang umumya mengalami atau terkena musibah gempa 6
Maret 2006. Mereka berasal dari Desa Ladang Tujuh, Lubuak Nunang, Sumaraan/Anak Aru, Rubai/Cumantiang,
Padang Laweh, Gurun, dan Koto Baru/Kubu Apa /Kubu Tanjuang. KSU Syariah ini berkantor di Kubu
Apa. Sedangkan BMT diinisiasi langsung oleh Tim Peduli Nagari diantaranya Bapak Prof.DR.Ir Abdul Aziz, DR.
Romeo. Lounching BMT dilaksanakan di Masjid Muhsinin Tarok . BMT ini nantinya akan berkantor di Islamic
Centre At Tauhid Mantuang yang peletakan batu pertamanya telah dilakukan oleh Bapak Syahril Sabirin (Mantan
Gubernur BI) . Disaksikan oleh Masyarakat Bukik Batabuah, Camat Candung, Walinagari Bukik Batabuah dan Sdr
Romeo.
Untuk menambah pengetahuan kita tentang kelembagaan keuangan mikro syariah ini dihadirkan cuplikan buku :
AMANAH BAGI BANGSA, Konsep Sistem Ekonomi Syariah karya Aries Mufti dan Muhammad Syakir Sula,
Penerbit Masyarakat Ekonomi Syariah-Jakarta.

LEMBAGA KEUANGAN MIKRO SYARIAH (LKMS)


Syariah, sebagai sebuah positioning baru yang mengasosiasikan kita kepada sesuatu sistem
pengelolaan ekonomi dan bisnis.
LKMS yang kita maksudkan disini, meliputi BPRS (Bank Perkreditan Mikro Syariah), BMT
(Baitul Mal Wat Tanmil), serta Koperasi Syariah, TAKMIN (Takaful Mcro Insurence). Gambaran
tentang masing-masing instansi tersebut dan keterkaitannya satu sama lain serta keterkaitan
dengan lembaga syariah lainnya yang lebih besar, dapat dilihat berikut ini.
1. BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syariah)
Sekilas tentang BPRS
BPR adalah bank yang melakukan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan
prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Bentuk hukum bank umum dan BPR dapat berupa Peseroan Terbatas, Perusahaan Daerah,
dan Koperasi.

Sesuai definisi tersebut, BPR dapat melakukan kegiatan usaha seperti menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan,berupa deposito berjangka, tabungan dan atau bentuk
lainnya yang dipersamakan dengan itu. BPR juga dapat memberikan kredit, menyediakan
dan menempatkandana berdasarkan prinsip syariah sesuai ketetapan BI. Selain itu BPR dapat
menempatkan dananya dalam bentuk SBI (Sertifikat Bank Indonesia), deposito berjangka,
sertifikat deposito dan tabungan pada bank lain.
Sementara beberapa aktivitas terlarang untuk dijalankan BPR. Diantara aktivitas dilarang
tersebut adalah menerima simpanan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas pembayaran,
melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing, penyertaan modal, melakukan kegiatan
perasuransian dan melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha yang dapat dilakukan oleh
BPR
Berbeda dengan bank umm yang lebih familiar di telinga karena jaringannya yang lebih
banyak, BPR senama biasanya memiliki lebih sedikit kantor cabang. Wilayah Kantor
Operasional BPR pun dibatasi dalam 1 (satu) propinsi. Pada akhir bulan Juli 2006 BI
mencatat BPR mencapai 1.935 buah.
Mekanisme Operasional Bank Syariah.
Mekanisme operasional BPR Syariah tunduk pada peratuan BI Nomor 6/17/PBI/2004. Dalam
aturan ini usaha BPR Syariah adalah :

1. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk antara


lain :
(1) Tabungan berdasarkan prinsip wadiah atau mudharabah; (2) Deposito berjangka
berdasarkan prinsip mudharabah; (3) Bentuk lain yang mengunakan prinsip wadiah atau
mudharabah;

1. Menyalurkan dana dalam bentuk antara lain :


(1) Transaksi jual beli berdasarkan prinsip murabahah ; isthisna dan salam; (2) Transaksi
sewa menyewa dengan prinsip ijarah; (3) Pembiayaan bagi hasil berdasarkan
prinsip :mudharabah; dan musyarakah; dan (4) Pembiayaan berdasarkan prinsp qadrh

1. Melakukan kegiatan lain yang tidak bertentangan dengan


Undang-undang Perbankan dan prinsip syariah.
2. BMT (Baitul Mal Wat Tanmil)

BMT merupakan gabungan dua kalimat yaitu baitul maal dan baitul tanwil. Baitul maal
adalah lembaga keuangan Islam yang memiliki kegiatan utama menghimpun dan
mendistribusikan dana ZISWAHIB ( zakat, infak,shadaqah, waqaf dan hibah) tanpa adanya
keuntungan (non profit oriented). Sedangkan baitul tamwil adalah lembaga keuangan Islam
informal dengan orientasi keuntungan (profit oriented). Kegiatan utama lembaga in adalah
menghimpun dana dan mendistribusikan kembali kepada anggota dengan imbalan bagi hasil
atau mark-up/margin yang sesuai syariah.
Adapun latarbelakang dan ciri BMT dapat diuraikan sebagai berikut:
(1) Sebagian masyarakat dianggap tidak bankable (sehingga susah memperoleh
pendanaan, kalaupun ada sumber dananya mahal;
(2) Untuk pemberdayaan dan pembinaan usaha masyarakat muslim melalui masjid
dan masyarakat sekitarnya;
(3) Berbadan Hukum Koperasi;
(4) Bertujuan untuk menyediakan dana murah dan cepat guna pengembangan usaha
bagi anggotanya;
(5) Prinsip dan mekanismenya hampir sama dengan perbankan syariah, hanya skala
produk dan jumlah pembiayaannya terbatas.
3. Koperasi Syariah
Perkembangan koperasi syariah di tanah air dalam empat tahun terakhir cukup pesat. Ini
terlihat misalnya dengan pertumbuhan Koperasi Jasa Keuangan Syariah/Unit Jasa Keuangan
Syariah (KJKS/UJKS) sebagai instrumen pemberdayaan usaha mikro. Pelaksanaan kegiatan
usaha berbasis pola syariah ini dimulai pada tahun 2003, sebanyak 26 KSP/USP-Koperasi
Syariah. Lalu meningkat menjadi 100 KSP/USP koperasi syariah pada tahun 2004. Tahun
2007 diperkrakan jumlah koperasi syariah mencapai 3000 buah.
Ruang lingkup.
Dalam perspektif islam, koperasi yang menjunjung asas kebersamaan dan kekeluargaan dapat
dipandang sebagai bentuk syirkah taawunniyah yang bermakna bekerjasama dan tolong
menolong dalam kebaikan. Ketika koperasi bekerja dalam bingkai syariah Islam, seperti
tidak berhubungan dengan aktivitas riba, maysir (judi), dan gharar (spekulan), maka
lengkaplah keselarasan koperasi dengan nilai-nilai Islam.

Koperasi syariah dapat diterapkan dalam beberapa aspek, yang intinya di dalamnya ada azas
keseimbangan, ada azas keadilan, pada konsep syariah itu. Salah satu misalnya dalam
produksi. Dalam produksi itu ukurannya, kalau koperasi itu menghasilkan sesuatu, maka
ukurannya yang dipakai oleh perbankan pada umumnya. Contoh konkrit misalnya orang
meminjam untuk melakukan proses produksi, atau menghasilkan suatu barang. Dalam
transaksi itu pasti rujukan hasil pinjaman, bukan kepada konsep-konsep yang lebih adil
misalnya konsep tanggung resiko. Dalam berproduksi petani ada resiko gagal, ada juga
resiko hasilnya sedikit. Semua resiko itu kalau dalam prinsip syariah harus ditanggung secara
bersama-sama. Dengan akad seorang petani melakukan proses produksi itu, sudah ada unsur
keadilan.
Aturan Operasional.
Keputusan Menteri tentang petunjuk pelaksanaan kegiatan usaha koperasi ditetapkan pada
September 2004. Menurut petunjuk tersebut, bagi koperasi yang akan membuka unit jasa
keuangan syariah, diharuskan meyetor modal awal minimal Rp 15 juta untuk primer dan Rp
50 juta untuk koperasi sekunder. Layaknya bank, koperasi jasa keuangan syariah dan unit
jasa keuangan syariah diperkenankan menghimpun dana anggota baik berupa tabungan,
simpanan berjangka dalam pembiayaan mudharabah, musyarakah, murabahah, salam,
istisna, ijarah dan alqadrh
Selain kegiatan tersebut, koperasi jasa keuangan juga diperkenankan menjalankan kegiatan
pengumpulan dan penyaluran dana zakat, infak, dan sedekah termasuk waqaf dengan
pengelolaan terpisah. Sementara, audit eksternal diharuskan untuk koperasi yang memiliki
volume pembiayaan minimal Rp 1 milyar.
Pada pedoman ini juga dibuatkan rincian tentang produk dan akad yang bisa dilakukan dalam
transaksi koperasi syariah. Selain definisi, petunjuk ini juga mencantumkan rukun, syarat,
obyek serta ijab dan kabul setiap akad , baik itu mudharabah, musyarakah, murabahah
maupun bentuk lainnya. Lebih rinci lagi, pedoman tersebut juga membuatkan skema model
pembiayaan supaya lebih mudah dimengerti.
Petunjuk ini juga mencantumkan model bagi hasil kepada anggota yang menyimpan dana
yang disebut perhitungan distribusi bagi hasil. Sementara, sisa hasil usaha diserahkan kepada
rapat pemegang umum anggota. Petunjuk jasa keuangan koperasi syariah ini juga

mencantumkan model laporan keuangan yang sesuai syariah berikut contoh baik secara
neraca, perhitungan rugi laba, serta laporan arus kas yang menyesuaikan dengan laporan
bank Islam.
Keputusan Meneg Koperasi dan UKM ini mengikat bagi koperasi syariah dan BMT yang
memiliki Badan Hukum Koperasi. Untuk badan hukum di luar itu tidak mengikat. Kegiatan
koperasi juga diawasi perkembangannya. Untuk akuntasinya juga menyesuaikan PSAK No.
59 yang mengikat perbankan.
Dewan Pengawas Koperasi Syariah (DPS)
Struktur Dewan Pengawas Syariah merupakan salah satu syarat pendirian koperasi jasa
keuangan syariah. Koperasi yang menggunakan prinsip syariah perlu memiliki Dewan
Pengawas Syariah. Kehadiran DPS itu untuk menjaga kepatuhan koperasi terhadap prinsip
Islam, di samping menerjemahkan fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) sebelum bisa
diterapkan.
DPS berangotakan alim ulama yang ahli dalam bidangnya. Struktur DPS merupakan salah
satu syarat pendirian koperasi jasa keuangan syariah yang diajukan ke Kantor Mennegkop
dan UKM setelah disetujui anggota koperasi. DPS juga berkewajiban membina personel
Koperasi Syariah.