Anda di halaman 1dari 104

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Anak Usia Dini sangat diperlukan untuk mengembangkan


potensi - potensi yang ada pada diri anak dan meningkatkan pendidikan
anak ke tahap selanjutnya. Dalam menghadapi tantangan era globalisasi,
anak anak merupakan sumber daya manusia yang potensial yang harus
dipersiapkan dengan baik.
Keluarga, sekolah, dan masyarakat

adalah tempat di mana anak

tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang memerlukan bantuan dan


bimbingan dari berbagai pihak, terutama bantuan dan bimbingan untuk
mendapatkan pendidikan yang layak. Hal ini juga dikemukakan dalam
Undang-undang RI no.23 tentang Perlindungan Anak; bahwa setiap anak
berhak

memperoleh

pendidikan

dan

pengajaran

dalam

rangka

pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat


serta bakatnya.1 Undang undang tersebut menjelaskan bahwa anak
berhak dalam mengembangkan potensinya secara menyeluruh, tanpa
ancaman, tanpa memandang status dan latar belakang keluarganya, agar
1

Psl 23(9) UU RI Perlindungan Anak No.23 Tahun 2002, (Indonesia Legal Center
Publishing,2004)

anak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh kembang secara baik sesuai


dengan minat dan bakat yang dimilikinya.
Bredekamp menyebutkan bahwa pendidikan pada masa usia dini ini
diakui sebagai periode yang sangat penting dalam membangun sumber daya
manusia, pengembangan kemampuan untuk berbuat dan belajar pada masa
berikutnya.2 Pertumbuhan dan perkembangan anak di tahun ini berlangsung
cepat. Bila anak dapat melakukan tugas-tugas perkembangan yang harus
dicapainya pada satu tahapan usia, peluang keberhasilan ditahun berikutnya
akan besar.

Namun bila anak gagal, maka ditahap usia berikutnya pun

peluang keberhasilannya menjadi kecil.


Pemerintah saat ini berusaha keras untuk membuka wacana berpikir
masyarakat tentang arti pentingnya pendidikan bagi anak usia dini. Cara-cara
ini misalnya adalah pemberdayaan masyarakat sekitar, organisasi atau
institusi yang ada dalam membuat program layanan pendidikan bagi anak
usia dini melalui partisipasi dan peran organisasi masyarakat yang telah ada.
Hasil pendataan Ditjen Pendidikan Luar sekolah Program PAUD non formal
tercatat berjumlah 56.544 lembaga, yang terdiri dari 523 lembaga Taman
Penitipan Anak (TPA), 20.143 lembaga Kelompok Bermain (KB), dan 35.827
lembaga Pos PAUD. Pendidikan non formal ini berkembang karena
dukungan lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah. Sebagian besar

Bredekamp, Sue, copie, Carol, DevelopMentally Appropriate Practice In Early Childhood


Programs,(Washington Dc:NAEYC publication,1997 ) h.97

lembaga ini dipelopori oleh ibu-ibu PKK, Posyandu, Lembaga Swadaya


Masyarakat (LSM) dan lembaga keagamaan.3
Dalam program PAUD ini kader PKK dapat berperan sebagai
pengelola dan tutor atau tenaga pendidik. Keberhasilan program ini
tergantung pada peran dan partisipasi kader PKK selain peran aktif dari
seluruh komponen masyarakat lainnya, karena peran strategis PKK sebagai
salah satu organisasi wanita yang sangat potensial untuk meningkatkan
kepedulian akan pendidikan anak usia dini, maka PKK menjadi salah satu
ujung tombak dalam mensukseskan program Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD).
Namun semua itu tidaklah terlepas dari sumber daya manusia para
pendidik yang berada di Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini tersebut.
Sumber daya manusia adalah faktor sentral dalam suatu lembaga atau
organisasi. Dari hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh Himpaudi
DKI Jakarta, dari 2000 tenaga pendidik PAUD nonformal Se-Jakarta hanya
10% yang berlatar pendidikan Sarjana PAUD, 50% lulusan D2 PGTK dan
40% adalah lulusan SMA. Kondisi ini semakin memprihatinkan tatkala
semakin banyak PAUD yang diselenggarakan oleh PKK, dan diantaranya
masih ada yang hanya merupakan lulusan SD atau SMP.4 Sebagai mana
3

Dr. Fidesrinur,M.Pd 1, Makalah Pemerataan dan perluasan akses layanan PAUD Suatu
Alternatif Solusi Komprehensif terhadap Pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di
Indonesia a:2007. H.13
4

Ibid, h.3

diketahui, pendidik merupakan faktor yang berpengaruh terhadap proses dan


hasil belajar anak. Hal tersebut dapat tersebut dapat berjalan dengan baik
apabila para ibu PKK yang dijadikan sebagai tutor PAUD dibekali oleh latar
belakang pendidikan yang relevan sehingga pemahaman tentang PAUD
dapat dimengerti dan diterapkan dengan baik dan benar.
Kader PKK dalam hal ini adalah ibu-ibu yang terlibat dalam
kepengurusan PKK kelurahan di wilayah setempat yang peduli terhadap
kesejahteraan anak Balita, ibu, keluarga dan masyarakat, yang rata-rata
merupakan lulusan SLTA yang sebenarnya masih dikatakan belum layak
menjadi pendidik atau guru. Hal tersebut dikarenakan latar belakang
pendidikan para kader yang masih belum memenuhi kualifikasi sebagai
tutor, guru atau tenaga pendidik bagi anak usia dini, dan rendahnya mutu
kader PKK yang dijadikan sebagai guru, di dalam hal pemahaman PAUD,
pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan layanan pendidikan pada
anak usia dini merupakan salah satu kendala yang dihadapi.
Di setiap Lembaga PAUD (LPAUD) dan para guru yang berada di
LPAUD tersebut tentunya menginginkan informasi serta keterampilan baru
untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan kebutuhan lembaga pendidikannya.
Keterampilan serta informasi tersebut dapat diperoleh melalui berbagai jenis
pelatihan yang ditujukan bagi para guru dan pengelola PAUD. Demi
peningkatan mutu para pendidik, maka tidaklah jarang Lembaga PAUD
mengikut sertakan para tutor-tutornya yang berlatar belakang ibu PKK

dalam pelatihan PAUD yang diadakan oleh berbagai pihak penyelenggara


atau pun instansi pemerintah, dengan harapan agar dapat meningkatkan
pengetahuan, pemahaman, perubahan sikap dan prilaku para tutor PAUD.
Berkebalikan dengan harapan di atas, kenyataan yang terjadi di
lapangan justru kita masih sering menemukan adanya tutor PKK yang telah
mengikuti program pelatihan PAUD namun masih kurang memiliki
pemahaman tentang PAUD dengan baik dan benar. Seperti dalam
pemberian materi pada anak didik yang sering kali hanya berfokus pada
kegiatan membaca, menulis dan berhitung yang dianggap lebih penting,
lebih mudah dan praktis yang akhirnya para kader PKK tanpa sadar
mengabaikan aspek perkembangan anak yang lain. Program pelatihan
biasanya diusulkan sebagai cara atau solusi untuk mencegah terjadinya
penyimpangan dan sebagai penambahan keterampilan serta pemahaman
baru sesuai kebutuhan tutor. Meskipun demikian, semua kekurangan
pemahaman tentang PAUD tidaklah disebabkan oleh pelatihan yang tidak
memadai, namun dapat karena berbagai sebab.
Pelatihan atau pembinaan yang dilaksanakan terhadap guru di
Lembaga PAUD yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah meliputi
kesepahaman persepsi, pengertian apakah PAUD itu, bagaimana metode
mengajar yang tepat, sarana apa yang sebaiknya digunakan, menambah
wawasan pengetahuan dengan berbagai informasi yang mendukung agar
tutor dapat melaksanakan tugasnya dengan benar dan tepat. Pelatihan

untuk tutor sering diadakan pembinaan yang bersifat teknis. Misalnya


penguasaan pemahaman anak usia dini dan penguasaan materi yang akan
diberikan sesuai dengan kebutuhan pada anak usia dini.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas,
terdapat harapan dari penyelenggaraan pelatihan bagi tutor PAUD, maka
perlu dikaji lebih jauh tentang pengaruh pelatihan PAUD terhadap
pemahaman tutor PKK tentang PAUD.
B. Identifikasi masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka permasalahan yang
ada dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Apakah tutor PAUD sering di ikut sertakan pada pelatihan PAUD?
2. Apakah pelatihan PAUD bagi tutor PKK yang diadakan oleh instansi
pemerintah atau penyelenggara lain kepada lembaga PAUD sudah
cukup?
3. Apakah materi pelatihan PAUD dapat dipahami oleh para tutor PAUD
yang berlatar belakang sebagai ibu PKK ?
4. Apakah hasil pelatihan tutor dapat meningkatkan pemahaman
tentang PAUD?
5. Bagaimana tingkat pemahaman tentang PAUD oleh tutor PKK setelah
mengikuti pelatihan PAUD?

C. Pembatasan masalah
Dari latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dipaparkan
sebelumnya, maka peneliti akan memberikan gambaran secara umum
lingkup masalah yang akan dibahas dibatasi pada pengaruh pelatihan PAUD
terhadap pemahaman tutor PKK tentang PAUD. Pelatihan adalah suatu
proses yang meliputi serangkaian upaya yang dilaksanakan dengan sengaja
dalam bentuk pemberian bantuan kepada seseorang yang dilakukan oleh
tenaga profesional kepelatihan dalam satuan waktu yang bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan kerja peserta dalam bidang pekerjaan terrtentu
guna meningkatkan efektifitas dan produktifitas dalam suatu organisasi.
Pelatihan yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pelatihan
PAUD yang berisikan materi meliputi tentang pengetahuan dasar PAUD,
media dan sumber belajar PAUD. Adapun pelatihan yang pernah diikuti oleh
para tutor atau pendidik PAUD non formal ini adalah minimal 3 kali.
Pemahaman yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan
untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Tutor tahu apa
apa saja yang disampaikan dan dapat menggunakan materi atau gagasan
yang diberikan.
Sasaran penelitian ini dibatasi pada lembaga PAUD Non formal yang
menggunakan tutor berlatar belakang ibu PKK sebagai tenaga pengajarnya
dan telah mendapatkan pelatihan tentang kependidikan anak usia dini.

D.

Perumusan masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah dan pembatasan

masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka perumusan masalah yang


diajukan adalah adakah pengaruh pelatihan PAUD terhadap pemahaman PAUD
pada tutor PKK ?
E.

Kegunaan hasil penelitian


Penelitian ini diharapkan bermanfaaat baik secara teoretis maupun

praktis:

1. Secara Teoretis
Secara teoretis diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah informasi pada
pengembangan khasanah keilmuan, khususnya pada peranan pelatihan PAUD
terhadap pemahaman tutor PKK tentang PAUD.

2. Secara Praktis
Secara praktis diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi:
a. Instansi atau lembaga pendidikan anak usia dini, baik stuktural, non
stuktural, maupun fungsional, yakni memberikan bahan masukan bagi
pembinaan PKK, sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya
manusia (khususnya para guru PAUD), dan menambah pengetahuan
serta informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam
mengambil kebijakan yang berhubungan dengan PAUD.

b. Bagi kader PKK


Menambah pengetahuan, wawasan dan sebagai bahan masukan dalam
pengembangan pengajaran dilembaga PAUD, dan diharapkan pula
membantu peningkatan kemampuan, keterampilan dan pengetahuan
para kader atau tutor PKK didalam pemahaman tentang PAUD dan
peningkatan kualitas tutor PKK dalam memberikan layanan pendidikan
bagi anak usia dini yang bermutu.
c. Bagi peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi
untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait dengan pemahaman PAUD
pada tutor PKK di Lembaga PAUD non formal.

BAB II
KERANGKA TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN
HIPOTESIS

A.

Deskripsi Teoretis

10

1. Hakikat Tutor PKK


a. Pengertian Tutor PKK

Istilah tutor berasal dari bahasa inggris tutor yang berarti mengajar.5
Pernyataan tersebut dapat diartikan sebagai seseorang yang memiliki tugas
mengajar atau pengajar secara individu atau kelompok. Menurut Iskandar,
tutor adalah orang yang membantu proses belajar pendidikan dasar umum
dan keterampilan pada pendidikan luar sekolah. Dimana orang tersebut
memiliki pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bahan kajian atau
pelajaran yang diajarkan.6 Pendapat tersebut menggambarkan seorang tutor
diandaikan memiliki penguasaan terhadap bidang studi, lebih dari sekedar
pengetahuan. Tutor perlu mengetahui karakteristik anak-anak sebagai orang
yang belajar beserta lingkungan mereka. Karakteristik anak-anak dan
lingkungannya perlu dijadikan pertimbangan dalam menyususn proses
kegiatan belajar mengajar.
Sedangkan yang dimaksud dengan tutor oleh usman adalah warga
masyarakat yang mampu dan mau membelajarkan warga belajarnya. Tutor
10
memiliki tiga jenis tugas, antara lain : (1) tugas profesi (2) tugas kemanusiaan,
(3) tugas kemasyarakatan.

5
6

Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa

www.allwords.com, Kamus wiktionary. H. 1


Anwas Iskandar, Panduan Bagi Tutor Kegiatan Belajar Paket B,(Jakarta:Depdiknas
Dirjen PLS Bekerjasama Dengan IPEC DAN ILO 1999/2000) H.10
Uzer Usman,Opcit, H.6

11

tutor memiliki tugas pertama: tugas profesi tutor adalah meliputi mendidik,
mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan
nilai-nilai hidup. Mengajar berarti membangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi, sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan pada
anak didik atau siswa. Kedua, tugas tutor dalam bidang kemanusiaan harus
dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua.
Tutor harus mampu menjadi idola dan motivasi para peserta didiknya
dalam kegiatan belajar. Ketiga,tugas tutor dalam bidang kemasyarakatan,
masyarakat

menempatkan

tutor

pada

tempat

yang

lebih

terhormat

dilingkungannya karena dari seseorang tenag pendidik diharapkan masyarakat


dapat memperoleh informasi pengetahuan. Ini berarti bahwa tenaga pendidik
berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju pembentukan manusia indonesia
seutuhnya yang berdasarkan Pancasila. masyarakat menempatkan tutor pada
tempat yang lebih terhormat dilingkungannya karena dari seseorang tenag
pendidik
Salah satu organisasi masyarakat di Indonesia yang berorientasi pada
ibu dan anak adalah program pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK ).
PKK adalah gerakan nasional yang tumbuh dari, oleh dan untuk masyarakat
dengan perempuan sebagai motor penggeraknya menuju terwujudnya
keluarga bahagia, sejahtera, maju dan mandiri. 8Hal tersebut menjelaskan
bahwa organisasi ini lebih memfokuskan pada upaya pemberdayaan wanita
8

TP PKK. Pedoman Gerakan PKK (Jakarta Melati Jaya, 2001) H. 6

12

yang tak hanya memfokuskan pada upaya peningkatan pengetahuan dan


keterampilan wanita sebagai isteri tetapi juga pada peningkatan peran wanita
diluar rumah, dalam rangka mewujudkan keluarga yang bahagia, sejahtera,
maju dan mandiri.
Kader PKK dalam hal ini adalah ibu-ibu yang terlibat dalam
kepengurusan PKK kelurahan

di wilayah setempat yang peduli terhadap

kesejahteraan anak Balita, ibu, keluarga dan masyarakat. Salah satu wujud
pelaksanaan program mereka adalah dengan ikut serta dalam memberikan
layanan pendidikan pada anak usia dini. Tujuan yang ingin dicapai oleh
organisasi PKK adalah untuk meningkatkan lahir dan batin menuju
terwujudnya keluarga yang berbudaya, bahagia, sejahtera, maju, mandiri,
hidup dalam suasana harmonis yang dilandasi keimanan dan ketaqwaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kriteria angggota PKK antara lain: 1) beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa. , 2) dapat membaca dan menulis latin, 4) peduli
terhadap upaya pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga dan masyarakat,
5) bersifat perorangan, tidak mewakili suatu organisasi, golongan, partai
politik, lembaga atau instansi, 6) menyediakan waktu yang cukup, 7) memiliki
kemauan, kemampuan dan etos kerja serta berdedikasi tinggi. 9 Berdasarkan
kriteria tersebut dapat dikatakan bahwa anggota PKK adalah seseorang yang
beriman dan bertaqwa kepada tuhan, memiliki kemampuan membaca dan
9

Petunjuk Teknis Bagi Tim PKK RW. Provinsi DKI Jakarta.2008. H.8

13

menulis, perorangan, mau bekerja secara suka rela, beretos kerja yang baik
serta berdedikasi tinggi dalam program pemberdayaan dan kesejahteraan
keluarga.
2. Hakikat pelatihan PAUD

a.

Pengertian Pelatihan
Pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia dapat

dilakukan

melalui

jalur

formal

dan

nonformal.

Pengembangan

dan

peningkatan melalui jalur non formal adalah seperti melalui pendidikan dan
pelatihan, seminar, workshop atau lokakarya. Pembinaan dalam bentuk
pelatihan bertujuan agar menghasilkan terjadinya perubahan pengetahuan
dan sikap sebagaimana yang diharapkan. Para pendidik PAUD dituntut dapat
memenuhi kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Oleh karena itu pada
saat ini instansi pemerintah seperti Direktorat Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Pendidikan Nonformal (Dit PTK-PNF) Ditjen Peningkatan Mutu
Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK) yang mempunyai tugas
untuk membina pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal agar
memiliki kompetensi (pedagogi, keperibadian,social dan profesional) yang
sesuai dengan peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang standar
Nasional Pendidikan,memandang perlu menyelengarakan kegiatan pelatihan
Dasar untuk pendidik PAUD melalui pelatihan-pelatihan bagi tutor PAUD. 10
10

Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Diklat Pendidik PAUD PropinsI(BP-PNFI/BPKB),


(Jakarta:2005)H.1

14

Pendidikan

dan

pelatihan

adalah

merupakan

upaya

untuk

mengembangkan sumber daya manusia, terutama untuk mengembangkan


kemampuan intelektual dan kepribadian manusia. Pendidikan pada umumnya
berkaitan dengan mempersiapkan calon tenaga yang diperlukan oleh suatu
instansi atau organisasi, sedangkan pelatihan lebih berkaitan dengan
peningkatan

kemampuan

atau

keterampilan

karyawan

yang

sudah

menduduki suatu pekerjaan atau tugas tertentu.11


Program pelatihan memang merupakan sumber yang efektif untuk
pengembangan

karyawan.

pengembangan terkaitan

Tetapi

dengan

sebelum
bidang

yang

menentukan

tindakan

harus dikembangkan.

Pelatihan merupakan pilihan yang sangat baik untuk dipertimbangkan dalam


pembelajaran. Melalui pelatihan seseorang mendapat alat bantu, wawasan
baru dan keterampilan baru. Tetapi pelatihan dirancang hanya untuk
melengkapi aktivitas-aktivitas pengembangan.
Dalam keputusan Menteri Tenaga Kerja yang terdapat dalam himpunan
peraturan dan perundang-undangan ketenagakerjaan tahun 2000, tertera
yang dimaksud dengan pelatihan :
keseluruhan
kegiatan
untuk
memberi,
memperoleh,
meningkatkan serta mengembangkan keterampilan atau keahlian,
produktifitas, disiplin dan etos kerja pada tingkat keterampilan dan
keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan
atau pekerjaan baik di sektor formal maupun sektor informal. 12
11

Soekidjo Notoatmodjo, Pengembangan Sumber Daya Manusia (Jakarta:Rineka Cipta,2003 )


H. 29
12
Himpunan Peraturan Dan Perundang-Undangan Ketenagakerjaan (Jakarta: Association Of
Labour Legislation,2008) H.299

15

Dari pendapat dan keputusan perundang-undangan tersebut


dapat dikatakan bahwa pelatihan adalah suatu proses yang meliputi
serangkaian upaya yang dilaksanakan dengan sengaja dalam bentuk
pemberian bantuan kepada seseorang yang

dilakukan oleh tenaga

profesional

yang

kepelatihan

dalam

satuan

waktu

bertujuan

untuk

meningkatkan kemampuan kerja peserta dalam bidang pekerjaan tertentu


guna meningkatkan efektifitas dan produktifitas dalam suatu organisasi.
Menurut Arif, Tanggapan atau responsi para peserta setelah
mengikuti suatu pelatihan sesungguhnya merupakan pernyataan perubahan
sikap mereka. Kita dapat melihat kecenderungan respon mereka. Respon
para peserta latihan setelah mengikuti suatu pelatihan dapat digolongkan
atas tiga golongan13: (1) respon yang bersifat kognitif. Respon ini berkaitan
dengan memahami dan tidak memahami, tahu dan tidak tahu serta
menyadari dan tidak menyadari terhadap apa yang telah dilatihkan, (2)
respon yang bersifat afektif. Respon ini berkaitan dengan suka dan tidak
suka, senang dan tidak senang terhadap apa yang telah dilatihkan, (3) respon
yang bersifat psikomotorik. Respon ini berkaitan dengan dapat melaksanakan
dan tidak dapat melaksanakan, bisa dan tidak bisa terhadap apa yang telah
dilatihkan.
pernyataan tersebut dapat digambarkan dengan suatu contoh sebagai
berikut, apabila dalam pelatihan PAUD diberikan materi tentang media bagi
13

Zainudin. Arif. Ms, Pengembangan Program Pelatihan, (Jakarta:Karunika,1996)

16

PAUD, tujuan materi tersebut adalah agar para peserta mampu memilih,
menyiapkan, membuat dan mempergunakan media yang sesuai bagi PAUD.
Tetapi setelah pelatihan tersebut berakhir dan berdasarkan beberapa hasil
observasi, para tutor PAUD tersebut belum mampu memilih, membuat,
mempersiapkan dan mempergunakan PAUD, maka kesimpulan pada
keadaan ini adalah adanya kecenderungan bahwa peserta pelatihan belum
menunjukkan adanya perubahan pada diri mereka.

Kemampuan yang

dimiliki oleh seseorang yang telah mengikuti suatu pelatihan tersebut


berkaitan erat dengan penguasaannya terhadap materi-materi yang diberikan
dalam kegiatan pelatihan. Dengan menguasai materi-materi tersebut maka
tujuan

untuk

memperoleh

kemampuan

diranah

kognitif,

afektif

dan

psikomotorik dapat dimiliki.


Pelatihan
mempergunakan

adalah
teknik

suatu
dan

proses
metode

belajar
tertentu,

mengajar
guna

dengan

meningkatkan

keterampilan dan kemampuan kerja seseorang (karyawan atau sekelompok


orang).14Pengertian diatas adalah suatu bentuk usaha meningkatkan
keterampilan dan kemampuan seseorang (pengajaran dan pelatihan ) serta
mengubah perilaku dan sikapnya (pendidikan) untuk mencapai tujuan dan
sasaran organisasi atau lembaga. Suatu proses pendidikan jangka pendek
yang menggunakan prosedur sistematis dan terorganisir dimana pegawai
mempelajari pengetahuan dan keterampilan teknis dalam tujuan terbatas.
14

Mulia Nasution. Manajemen Personalia Aplikasi Dalam Perusahaan,


(Jakarta:Djambatan,2000) H.71-72

17

Menurut Bernardin mendefinisikan pelatihan Training is defined as any


attempt to improve employee performance on a currently held job or one
related to it.15 Pelatihan menurut pendapat tersebut didefinisikan sebagai
sebuah usaha untuk meningkatkan kemampuan pekerjaan saat ini atau yang
berhubungan dengan pekerjaan tersebut. Diharapkan akan adanya perubahan
yang spesifik dalam pengetahuan, skill, sikap atau prilaku. Proses pelatihan
dapat dikatakan sebagai proses pendidikan.
Untuk mempertinggi mutu kerja para pekerja dan mencermati
ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dengan cepat, lembaga
menganggap dengan melakukan hal tersebut akan mengadakan perbaikan
dalam kemampuan bekerja. Sehubungan dengan hal tersebut Cushway
dalam bukunya Human Resource Management mengemukakan bahwa
Pelatihan

adalah

proses

mengajarkan

keahlian

dan

memberikan

pengetahuan yang perlu, serta sikap supaya mereka dapat melaksanakan


tanggung jawabnya sesuai dengan standar. 16 Hal ini menjelaskan adanya
perbedaan dengan pendidikan yang memberikan

pengetahuan tentang

subyek tertentu secara umum, karena pelatihan memusatkan diri

pada

kebutuhan khusus dalam pekerjaan.


Pendapat

tersebut

seiring

dengan

pendapat

Hamalik

yang

mendefinisikan pelatihan adalah suatu proses yang meliputi serangkaian


15

H.John Bernardin. Human Resouce Management:An Experiential Approach, (New York:


Mcgraw-Hill Companies) H. 164
16
Cushway Barry, Human Resource Management Sumber Daya Manusia (Jakarta: Elex Media
Komputindo,2000)H.114

18

tindakan (upaya) yang dilaksanakan dengan sengaja dalam bentuk


pemberian bantuan kepada tenaga kerja yang dilakukan oleh tenaga
profesional

kepelatihan

dalam

satuan

waktu

yang

bertujuan

untuk

meningkatkan kemampuan kerja peserta dalam bidang pekerjaan tertentu


guna meningkatkan efektivitas dan produktifitas dalam suatu organisasi. 17
Dalam pendapat tersebut diatas, konsep pemberian bantuan mengandung
makna yang luas. Bantuan dalam hal ini dapat berupa pengarahan,
bimbingan,

fasilitas,

penyampaian

informasi,

latihan

keterampilan,

pengorganisasian suatu lingkungan belajar; yang pada dasarnya peserta


telah memiliki potensi dan pengalaman, motivasi untuk melakukan sendiri
kegiatan latihan dan memperbaiki dirinya sendiri.
Menurut Hatfield, sebagaimana yang dikutip oleh T.Syafri
menyebutkan bahwa pelatihan terbagi dua yakni:1). Pelatihan umum,
pelatihan dimana karyawan memperoleh keterampilan dan dapat dipakai
hampir disemua jenis pekerjaan, 2) Pelatihan khusus, merupakan pelatihan
dimana para karyawan memperoleh informasi dan keterampilan yang siap
pakai,

khususnya

pada

bidang

pekerjaannya. 18

Pendapat

tersebut

menjelaskan bahwa pelatihan terbagi menjadi dua alternatif yaitu pelatihan


umum dan khusus, dimana masing-masing pelatihan tersebut dapat
disesuaikan dengan kebutuhan atau keinginan dari seseorang atau lembaga.
17

Oemar Hamalik, Pengembangan Sdm Manajemen Pelatihan Ketenagakerjaan: Pendekatan


Terpadu (Jakarta: Bumi Aksara,2005) H. 10
18
T. Syafri, Manajemen SDM (Jakarta : Galia Indonesia, 2000) H.136

19

Biasanya pelatihan merujuk kepada perkembangan keterampilan


bekerja yang dapat digunakan dengan segera. Pelatihan efektif dapat ditinjau
dari sisi individu yakni dengan adanya perubahan berupa peningkatan
pengetahuan, sikap, keterampilan dan pengembangan diri. Ditinjau dari
aspek lembaga yaitu tercapainya kinerja perusahaan yang maksimum
sebagai buah dari hasil pelatihan.
Dengan demikian dari beberapa pendapat para ahli yang telah
dikemukakan diatas secara ringkas dapat dikatakan bahwa pelatihan adalah
suatu

upaya

yang

bertujuan

untuk

meningkatkan,

memperbaiki,

mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan pekerja dalam


melaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
b. Tujuan Pelatihan PAUD
Tujuan pelatihan dapat dirumuskan berdasarkan tujuan pendidikan
nasional.19 Hal tersebut juga terkait dengan upaya meningkatkan kualitas
manusia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh,
cerdas kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung
jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani. Unsur-unsur tersebut
perlu dimiliki oleh setiap tenaga kerja sebagai manusia indonesia seutuhnya
dan perlu mendapatkan perhatian sepenuhnya.

19

Oemar Hamalik, opcit, h.14

20

Adapun menurut Departemen Pendidikan Nasional,

tujuan

pelatihan PAUD terbagi menjadi dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. 20
Tujuan umum pelatihan PAUD yakni untuk meningkatkan kompetensi dan
wawasan kepada para peserta Pelatihan Dasar Pendidik PAUD dalam rangka
menciptakan Pendidik PAUD yang professional dan bermartabat. Sedangkan
tujuan khusus pelatihan PAUD adalah setelah para peserta mengikuti
pelatihan, peserta mendapatkan hasil

untuk dapat , menjelaskan Strategi

peningkatan mutu Pendidik PAUD


menjelaskan Penyelengaraan PAUD dengan pendekatan sesuai
materi, menjelaskan bermain dengan anak, menjelaskan perkembangan
anak, menjelaskan 3 jenis main dan penerapannya, menyusun penataan
lingkungan bermain, menyusun Perencanaan dan evaluasi bermain anak.
Dengan demikian pelatihan ini mengharapkan adanya sejumlah peserta
pendidik PAUD yang telah dilatih mendapatkan kesepakatan/informasi yang
mampu menyatukan arah, persepsi dan langkah-langkah yang harus
ditempuh dalam mendidik anak usia dini pada jalur pendeidikan nonformal
serta adanya draft rencana satuan kegiatan harian, bulanan dan tahunan
pada lembaga PAUD non formal tersebut.
3. Hakikat Pemahaman PAUD
a. Pemahaman
20

Departemen Pendidikan
(jakarta:2005).h.2

Nasional,

Pedoman

Diklat

Pendidik

Paud

Propinsi

21

Kata pemahaman cukup luas dipakai dikalangan masyarakat. Dalam


taksonomi Bloom, kesanggupan memahami setingkat lebih tinggi dari pada
pengetahuan.21 Pengetahuan merupakan tipe hasil belajar yang berada
diranah kognitif tingkat rendah.Namun, tipe hasil belajar ini menjadi prasyarat
bagi tipe hasil belajar berikutnya.
Hasil belajar menurut Bloom dapat digolongkan kedalam tiga ranah,
yaitu 1) ranah kognitif, 2) ranah afektif, 3) ranah psikomotorik. Ranah kognitif
terbagi menjadi enam tingkatan yaitu:(a) pengetahuan, termasuk mengingat
hal positif dan universal, (b) pemahaman, berhubungan dengan jenis
pengertian, (c) aplikasi, penggunaan abstraksi kedalam kehidupan nyata; (d)
analisis, meliputi analisis unsur-unsur, analisis keterkaitan, analisis prinsip
organisasi, susunan sistematis dan stuktur yang menopang komunikasi; (e)
sintesis, menyatukan unsur-unsur dan bagian untuk membentuk keseluruhan;
(f) evaluasi penilaian yaitu pertimbangan-pertimbangan tentang nilai-nilai dari
sesuatu tujuan tertentu. Pemahaman termasuk dalam ranah kognitif yakni:
pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan
evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat
aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi. 22Berdasarkan penjabaran
tersebut, hasil belajar dapat dideskripsikan sebagai suatu kemampuan yang
didapat setelah melakukan kegiatan belajar. Hasil belajar juga merupakan
21

Nana Sudjana,Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung:Pt.Remaja


Rosdakarya,2005) H.24
22
Ibid,h.22

22

tingkah laku yang bersifat menetap berkat adanya pengalaman dan latihan
secara terus menerus.
Tipe hasil belajar yang lebih tinggi daripada pengetahuan adalah
pemahaman. Pemahaman dapat dibedakan kedalam tiga kategori yaitu
pemahaman

terjemahan,

pemahaman

penafsiran,

dan

pemahaman

ekstrapolasi. 1) tingkat terendah adalah pemahaman terjemahan, mulai dari


terjemahan dalam arti sebenarnya, misalnya mengartikan Bhineka Tunggal
Ika, 2) tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran, yakni menghubungkan
bagian-bagian

terdahulu

dengan

yang

diketahui

berikutnya,

atau

menghubungkan beberapa bagian dari grafik dengan kejadian, membedakan


yang pokok dan yang bukan pokok, 3) tingkat tertinggi adalah pemahaman
ekstrapolasi. Dengan pemahaman ektrapolasi diharapkan seseorang mampu
melihat dibalik yang tertulis, dapat membuat ramalan tentang konsekuensi
atau dapat memperluas presepsi dalam arti waktu, dimensi, kasus ataupun
masalahnya. 23
Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa pemahaman terdiri dari
pemahaman tingkat terendah sampai dengan tingkat tertinggi. Tingkat
terendanya

adalah

pemahaman

terjemahaman

yang

dalam

artian

menterjemahkan kedalam arti sesungguhnya, dan pemahaman tertingginya


adalah pemahaman ektrapolasi atau dampak dimana seseorang akan dapat
memperluas dalam arti waktu, dimensi, kasus ataupun masalahnya.
23

Ibid, H.24

23

Hal tersebut sejalan dengan Bloom dalam implikasi taksonomi hasil


belajar dengan perumusan tujuan pembelajarannya, pemahaman meliputi
mengubah, menjelaskan, mengikhtisarkan, menyusun kembali, menafsirkan,
membedakan,

memperkirakan,

memperluas,

menyimpulkan

dan

menganulir.24 Pernyataan tersebut mengacu kepada kemampuan memahami


makna materi. Pemahaman tidak hanya

sekedar tahu, tetapi juga

menghendaki agar subjek belajar dapat berusaha memahaminya. Aspek ini


satu tingkat atau lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan pengetahuan
dan merupakan tingkat berpikir yang rendah.
Senada dengan pendapat itu, Winkel mendefinisikan pemahaman
sebagai kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang
dipelajari. Pembelajar tahu apa apa saja yang disampaikan dan dapat
menggunakan materi atau gagasan yang diberikan. 25 hal tersebut terlihat
dengan Indikator dari pemahaman yang dapat diamati secara langsung
seperti, kemampuan memberikan contoh, kemampuan dalam membuat
definisi konsep menurut pernyataan atau simbol yang diberikan, dan
kemampuan menggunakan konsep dalam bentuk mampu mengerjakan soalsoal.
Sementara itu menurut Wittig yang dikutip oleh Syah, bahwa pada
setiap proses belajar selalu berlangsung dalam tiga tahap. Ketiga tahap
tersebut adalah: (1) tahap acquisition (tahap perolehan atau penerimaan
24
25

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung: Rosdakarya, 2001) H. 38


W.S Winkel, Psikologi Pengajaran (Jakarta: Gramedia, 1999) H.23

24

informasi), (2) tahap strorage (tahap penyimpanan informasi) dan (3) tahap
retrieval (tahap mendapatkan kembali informasi).26 Pada tahap acquisition,
seorang pembelajar mulai menerima informasi sebagai stimulus dan
melakukan respon terhadapnya, sehingga menimbulkan pemahaman dan
perilaku baru. Pada tahap ini, terjadi pula asimilasi antara pemahaman
dengan prilaku baru dalam keseluruhan perilakunya. Berikutnya pada tahap
strorage, seorang pembelajar secara otomatis akan mengalami proses
penyimpangan, pemahaman, dan perilaku baru yang ia peroleh ketika
menjalani proses acquisition. Selanjutnya tahap yang ketiga yaitu tahap
retrieval, seorang pembelajar akan mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem
memorinya, misalkan ketika seorang pembelajar menjawab persoalan atau
menyelesaikan masalah.
Proses acquisition dalam belajar merupakan tahap yang paling dasar.
Kegagalan dalam tahap ini akan mengakibatkan kegagalan pada tahap
berikutnya atau dengan kata lain keberhasilan pada tahap ini akan terjadi jika
seorang pembelajar mengalami pemahaman terhadap hal-hal yang sedang
dipelajarinya.
Dari beberapa definisi pemahaman tersebut, maka pemahaman dapat
dikatakan sebagai suatu kondisi seseorang mampu mengungkapkan kembali,
dapat memberikan contoh, mampu memberikan konsep berupa uraian, serta

26

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005) H.110

25

dapat menggunakan pengetahuan yang dimilikinya dalam menyelesaikan


masalah.
b.

Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini

Anak usia dini pada hakikatnya adalah anak yang berada pada
rentangan usia lahir sampai dengan 6 tahun. Hal ini sejalan dengan undangundang sistem pendidikan nasional yaitu:

Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang


ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan enam tahun
yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk
membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani
agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih
lanjut.27
Pada usia ini seluruh dimensi perkembangan anak baik intelektual,
bahasa, motorik, emosi, sosial, minat dan bakat mengalami perkembangan
yang luar biasa. Dimensi-dimensi perkembangan ini merupakan potensi yang
akan mempengaruhi kualitas hidup anak dimasa depan.
Masa

usia

dini

merupakan

masa

kritis

dalam

rentang

perkembangan kehidupan seseorang. Segala hal yang diajarkan dari


lingkungan akan mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhannya kelak.
Usia dini merupakan usia keemasan (golden age) yang merupakan masa
dimana anak mulai peka atau sensitif untuk menerima berbagai upaya
perkembangan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Departemen Pendidikan
27

UU no.20 tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bab I, Pasal 1 Ayat 14, Standar
Nasional Pendidikan (Jakarta: Fokusmedia ) H.96

26

Nasional yang menyatakan masa peka adalah masa terjadinya pematangan


fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan
oleh lingkungan.28
Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa masa peka di usia
dini jangan sampai terabaikan begitu saja. Masa peka ini hanya terjadi sekali
sepanjang rentang kehidupan manusia. Oleh karena itu dibutuhkan stimulasi
yang

tepat

dan

lingkungan

yang

kondusif

agar

pertumbuhan

dan

perkembangan anak dapat tercapai dengan optimal. Hal tersebut dapat


diwujudkan melalui pendidikan anak usia dini.
Pendidikan dalam arti luas dijabarkan dalam UU RI no.20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu:
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual,
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.29
Pendidikan juga dapat diartikan sebagai pengaruh orang dewasa yang
berwujud bimbingan, arahan, dorongan atau nasehat yang diberikan kepada
anak didik agar menjadi orang dewasa yang mandiri. 30 Pendidikan menurut
pendapat ini lebih ditegaskan agar anak didik dapat bertindak dan berpikir,

28

Kurikulum Dan Hasil Belajar PAUD (Jakarta: Pusat Balitbang Departemen Pendidikan
Nasional, 2002)
29

UU no.20 tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bab I, Pasal 1 Ayat 1, Standar
Nasional Pendidikan (Jakarta: Fokusmedia ) H.94
30
Soegeng santoso, PAUD (Jakarta:Citra Pendidikan,2002) H.49

27

serta memecahkan masalahnya sendiri. Apabila kemandirian tertanam dalam


diri anak maka ia akan memiliki kepribadian dan prinsip hidup yang tidak
mudah dipengaruhi orang lain.
Berdasarkan dua pengertian pendidikan di atas dapat diartikan bahwa
pendidikan adalah suatu proses untuk memberikan bimbingan, pengarahan,
dorongan atau nasehat kepada anak agar segala potensi yang ada dalam
dirinya, masyarakat dan bangsanya.
Direktorat pendidikan anak usia dini mengemukakan bahwa PAUD
adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak usia dini
yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki
kesiapan

dalam

memasuki

pendidikan

dasar

dan

kehidupan

tahap

berikutnya.31 Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa Pendidikan anak usia


dini adalah sebuah upaya yang diberikan kepada anak usia dini dalam rangka
membantu

memberikan

stimulasi

memperhatikan aspek-aspek

pendidikan

secara

perkembangan anak

holistik

dengan

untuk mempersiapkan

anak kejenjang pendidikan dasar.


Mengingat begitu besar pengaruhnya pendidikan terhadap kehidupan
seseorang maka pendidikan penting diberikan sejak usia dini. Hal tersebut
didukung oleh pernyataan sebagai berikut:
during early childhood constitutes golden age to children
development. This phase of life largely determines the children
31

Acuan menu pembelajaran pada Pendidikan Anak Dini Usia,(Departemen Pendidikan


Nasional; 2002) h.3

28

development from early age to adult. In spite of its importance,


early childhood phase society most ignored phase. As result, this
fact we must realize leads to low levels of childrens inclination to
enter school.32
Pengertian diatas menjelaskan bahwa masa usia dini
merupakan masa atau fase emas bagi perkembangan anak, karena pada
masa ini sangat menentukan bagi pengembangan anak hingga ia memasuki
masa dewasa.

Bahkan merupakan fase yang datangnya hanya satu kali

dalam hidup manusia tersebut ketika terlewat dengan sia-sia lenyaplah pula
peluang untuk berkembang pada fase berikutnya. Akibtnya berdampak
terhadap lemahnya kesiapan anak memasuku jenjang persekolahan.
Para

ahli

berpendapat

bahwa

perkembangan

kecerdasan

anak

berkembang dengan sangat cepat pada tahun-tahun awal kehidupan anak


pada usia empat tahun. Kapasitas kecerdasan sudah mencapai 50%, usia 8
tahun mencapai 80% dan titik akumulasi 100% pada usia 18 tahun. 33
Pernyataan tersebut membuktikan bahwa perkembangan kecerdasan anak
telah mencapai 50% dari kecerdasannya, sedangkan 50% lagi diperoleh
selama rentangan usia 8 sampai dengan 18 tahun.
Pendidikan Anak Usia Dini pada dasarnya merupakan pendidikan yang
berwujud pemberian stimulas, bimbingan, asuhan, dari pembelajaran yang
dapat mengembangkan potensi-potensi dalam diri anak sesuai dengan aspek
32
33

Early Childhood Care And Development, (Early Childhood Development Forum, 2004)H.13
Kurikulum Dan Hasil Belajar PAUD, opcit H. 1

29

perkembangan dan kebutuhan anak khususnya anak usia dini. Dari uraian
tersebut terkandung pengertian:(1) Pendidikan bagi anak usia dini adalah
pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh dan pemberian
kegiatan

pembelajaran

yang

akan

menghasilkan

kemampuan

dan

keterampilan pada anak.(2) Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu
bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada peletakkan
dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik (kordinasi motorik halus
dan motorik kasar), kecerdasan, daya cipta, emosi jamak dan spiritual. (3)
Sesuai

dengan

keunikan

dan

pertumbuhan

anak

usia

dini

maka

penyelenggaraan pendidikan anak usia dini disesuaikan dengan tahap-tahap


perkembangan anak usia dini.34
Berdasarkan uraian tersebut dapat diartikan bahwa pendidikan anak
usia dini adalah salah satu bentuk penyelenggaraan bagi anak lahir sampai
dengan 6 tahun. Pendidikan ini mengupayakan pemberian stimulasi,
bimbingan, asuhan dan pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan
dan keterampilan pada anak. selain itu penyelenggaraan pendidikan untuk
pendidkan anak usia dini tetap memperhatikan tahap-tahap perkembangan
anak agar ada kesesuaian antara hasil yang dicapai dengan kemampuan
anak.
Wolfang dan wolfang mengemukakan the early childhood
education will not be in the students text book, or in the teacher is
manual. It will come from real life experiencis digging in the groun,
34

Ibid,h.3-5

30

rooting through leaves, rocks, or even waste materials. In these ways


children make discoveries and ask question which would chalengge a
rosseau or an enstein. Early chilhood education must know how children
think an feel.35
Pengertian diatas menjelaskan bahwa pendidikan anak usia dini
harus berasal dari pengalaman hidup yang sebenarnya, mengajarkan anak
tentang keterampilan hidup melalui lingkungan sekitar akan membuat mereka
menemukan berbagai jawaban tentang lingkungan. Pendidikan Anak Usia Dini
juga harus memahami apa yang anak pikirkan dan rasakan. Hal tersebut akan
memudahkan anak menyerap berbagai pengetahuan.
Selanjutnya berdasarkan UU RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional bab 1, pasal 1, butir 14 dinyatakan bahwa Pendidikan
Anak Usia Dini adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak
lahir sampai dengan 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan
rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lanjut. 36
Melalui undang-undang tersebut ditegaskan bahwa pendidikan anak
usia dini salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan

yang ditujukan

kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun dengan menitik
beratkan pada peletakkan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik,

35

Charles. H. Wolfang And Mary. H . Wolfang, School For Young Children: Developmentally
Appropriate Practice (Boston: Allyn & Bacon,1992) H.5
36
UU RI No.tahun 2003,opcit h.2

31

kecerdasan, sosial emosional, sesuai dengan keunikan dan tahapan


perkembangan anak usia dini.
c. Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan dapat diartikan sebagai usaha melatih dan mengembangkan
diri.37 Kata pendidikan merupakan makna yang luas dari pengajaran. Begitu
pula dengan kata pembelajaran yang memiliki arti sama dengan instruction dan
lebih luas pula artinya dari pengajaran. Kata pembelajaran berarti menjadikan
anak mau dan senang belajar, sedangkan pembelajaran lebih mengaktifkan
anak belajar dimana pun ia berada.
Tujuan pendidikan memegang peranan penting sebab tujuan akan
memberikan arah bagi segala kegiatan pendidikan. Tujuan ini membuat apa
yang ingin dicapai setelah kegiatan pendidikan berlangsung. Tujuan kegiatan
pendidikan anak usia dini dijabarkan menjadi dua tingkatan tujuan yaitu tujuan
umum

dan

khusus.

Tujuan

umum

PAUD

yaitu

meningkatkan

dan

mengembangkan seluruh potensi anak secara optimal dan tujuan khusus


PAUD yaitu: (a) meningkatkan pertumbuhan fisik anak (tubuh anak),
(b)mengembangkan fungsi-fungsi psikis anak (kognitif, bahasa, sosial, moral,
motorik,

minat,

kreativitas,

dan

sebagainya),

(c)

membentuk

sikap. 38

Pernyataan tersebut diatas memiliki arti bahwa pendidikan yang diberikan


kepada anak usia dini adalah mengupayakan pengembangan seluruh aspek
37

Tim pengembang PAUD UNJ, Seminar Internasional Dan Pertemuan FIP/JIP Se-Indonesia
serta DiesNatalis UNP ke 51 (bukittinggi:2005) h.6
38
Ibid,h.6

32

kepribadian anak dengan meletakkan dasar kearah perkembangan sikap,


prilaku, pengetahuan, dan keterampilan yang diberikan dalam suatu kegiatan
kepada anak.
Adapun tujuan umum dan khusus Pendidikan Anak Usia Dini menurut
Departemen Pendidikan Nasional adalah: Kegiatan pendidikan bertujuan
mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk
hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sedangkan tujuan
khusus adalah kegiatan pendidikan secara khusus bertujuan agar: a) anak
mampu melakukan ibadah, mengenal dan percaya akan ciptaan tuhan dan
mencintai sesama, b) anak mampu mengelola keterampilan tubuh termasuk
gerakan-gerakan yang mengontrol gerakan tubuh, gerakan halus dan gerakan
kasar, serta menerima ransangan sensorik (panca indera), c) anak mampu
menggunakan

bahasa

untuk

pemahaman

bahasa

pasif

dan

dapat

berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berfikir dan belajar, d)


anak mampu berfikir logis, kritis, memberi alasan, memecahkan masalah dan
menemukan hubungan sebab akibat, e) anak mampu mengenal lingkungan
sosial, peranan masyarakat, dan menghargai keragaman sosial dan budaya.
Serta mampu mengembangkan konsep diri, sikap positif terhadap belajar,
kontrol diri dan rasa memiliki, f) anak memiliki kepekaan terhadap irama, nada,
birama, berbagai bunyi, bertepuk tangan, serta menghargai hasil karya yang
kreatif.39
39

Direktorat PAUD.Direktorat Jendral PLS Dan Pemuda (Departemen Pendidikan Nasional,


2002) H. 4 5

33

Dapat dideskripsikan bahwa tujuan pendidikan anak usia dini ini adalah
memberikan stimulasi pada diri anak melalui pendidikan yang diberikan secara
menyeluruh, dalam arti bahwa pendidikan itu dapat menstimulasi semua aspek
perkembangan anak yang diterima melalui rangsangan intelektual anak, dan
akan menjadi dasar bagi pendidikan-pendidikan berikutnya.
Morrison mengungkapkan tujuan yang terkandung dalam Pendidikan
Anak Usia Dini yaitu:
All programs of early childhood education should have goal to
guide activities an on which to base teaching methodologies.
Without goals, it is easy to end up teaching just about anything
without knowing why. Early childhood education set minimum
goals in at least a few of these areas: social an interpersonal
skills, building self image, academics, thinking, learning
readiness, language and nutrition. 40
Berdasarkan pernyataan tersebut diatas, Pendidikan Anak Usia Dini
haruslah memiliki tujuan disemua program dan aktivitasnya. Tanpa tujuan
maka pendidikan yang dilakukan tidak akan ada artinya.
Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini biasanya terdiri dari beberapa tujuan
yaitu: mengembangkan kemampuan interpersonal dan sosialisasi, kemampuan
menolong diri sendiri dan intrapersonal, membangun konsep diri, akademik,
pemikiran, belajar mempersiapkan diri, belajar bahasa dan pemenuhan gizi
anak.
Hilderbrand mengemukakan sepuluh tujuaan utama dalam pendidikan
anak usia dini yang senada dengan pendapat diatas diantaranya:
40

George S Morrison, Early Chilhood Education To Day: Fourth Edition (London: Merril
Publishing Company,1988) H.231

34

1) Growing in independence, 2) Learning to give, share and


receive affection, 3) Learning to get a long with others, 4)
Developing self control, 5) Learning nonsexist human roles, 6)
Beginning to understand ones own body, 7) Learning and
practicing large and small motor skills, 8) Beginning to
understand and control physical world, 9) Learning new words
and understanding others, 10) Developing a positive feeling about
ones relationship to the world.41
Tujuan-tujuan

tersebut

memfokuskan

kepada

pentingnya

mengembangkan sosialisasi anak terhadap lingkungan sekitar. Kemampuan


tersebut meliputi; bagaimana anak belajar untuk menyayangi sesama, belajar
berbagi dan menerima, mengembangkan kepercayaan diri dan kemandirian,
memahami perbedaan dirinya dan orang lain atau teman sebayanya. Selain itu
anak belajar untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya
baik intelektual, bahasa, motorik, mental, emosi dan sosial.
Tujuan tersebut mengandung makna bahwa anak dapat belajar dengan
optimal dalam lingkungan yang merdeka atau memberikan kebebasan anak
untuk berekspresi. Pendidikan yang diberikan haruslah disesuaikan dengan
tahapan perkembangan anak dan bukanlah pemaksaan. Dengan begitu
seluruh potensi anak dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang
wajar, nyaman dan menyenangkan.
d. Pemahaman PAUD
Pemahaman dapat dikatakan sebagai suatu kondisi seseorang dalam
kemampuanya mengungkapkan kembali, memberikan contoh,
41

memberikan

Verna Hilderbrand, Introduction To Early Childhood Education 4th Ed. (New york: Mcmillan
Publishing Company, 1998) H. 10

35

konsep berupa uraian, serta dapat menggunakan pengetahuan yang


dimilikinya dalam menyelesaikan masalah.
Keterkaitan antara pemahaman dan pengetahuan dikemukakan oleh
Blooms yaitu pengetahuan dan pemahaman lahir sebagai akibat proses
belajar:

(1)

Kognitif,

yang

berhubungan

dengan

pengetahuan

teori,

pemahaman fakta, prinsip dan penerapannya. Tujuan ini dibagi atas ingatan,
pemahaman, aplikasi, analisis dan evaluasi, (2) Afektif, menunjukkan pada
tujuan sehubungan dengan sikap, nilai, aspirasi dan penyesuaian, (3)
Psikomotorik, kemampuan yang menekankan kepada keterampilan motorik
atau gerakan42
Pendidikan Anak Usia Dini pada dasarnya merupakan pendidikan
yang berwujud pemberian stimulas, bimbingan, asuhan, dari pembelajaran
yang dapat mengembangkan potensi-potensi dalam diri anak sesuai dengan
aspek perkembangan dan kebutuhan anak khususnya anak usia dini. Dari
uraian tersebut terkandung pengertian:(1) Pendidikan bagi anak usia dini
adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh dan
pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan
keterampilan pada anak. (2) Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu
bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada peletakkan
dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik (kordinasi motorik halus
dan motorik kasar), kecerdasan, daya cipta, emosi jamak dan spiritual. (3)
42

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta, 1998) H.31

36

Sesuai

dengan

keunikan

dan

pertumbuhan

anak

usia

dini

maka

penyelenggaraan pendidikan anak usia dini disesuaikan dengan tahap-tahap


perkembangan anak usia dini.
Berdasarkan penjabaran tersebut, pemahaman tentang PAUD adalah
kemampuan menggunakan konsep dalam bentuk mampu mengerjakan soalsoal, serta dapat menggunakan pengetahuan yang dimilikinya dalam
menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan Pendidikan Anak
Usia Dini.
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian yang peneliti lakukan
berkaitan dengan variabel pelatihan yaitu Hubungan Antara Pelatihan Tutor
Paket B Dan Motivasi Kerja Sebagai Tutor Paket B Di Kelompok Belajar Pada
SKB Cibinong.43 Yang menyimpulkan bahwa terdapatnya hubungan positif
antara hasil pelatihan tutor paket B dan motivasi kerja sebagai tutor paket B.
Implikasi yang ditimbulkan dari hasil penelitian tersebut adalah bahwa
pencapaian hasil pelatihan yang optimal merupakan prioritas yang harus
dicapai dalam proses pembelajaran dalam pelatihan tutor paket B, agar tutor
dapat menyelenggarakan kegiatan pembelaran di kelompok belajarnya serta
dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya yang mendukung
kelancaran pelaksaan program belajar.
43

Marwati, Hubungan Antara Pelatihan Tutor Paket B Dan Motivasi Kerja Sebagai Tutor Paket B
Di Kelompok Belajar Pada SKB Cibinong (Skripsi), Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas
Negeri Jakarta,1996)

37

Selain itu, hasil penelitian yang lain adalah dari Agustina dengan judul
Pelatihan Guru Dan Pengaruhnya Terhadap Sikap Kerja Guru. 44 Hasil dari
penelitian ini menyebutkan besarnya derajat hubungan antara pelatihan
terhadap sikap kerja guru dapat dilihat dari koefisien korelasi product moment.
Penelitian

ini menyimpulkan bahwa adanya pengaruh yang positif dari

pelatihan terhadap sikap kerja guru.


C. Kerangka Berpikir
Dengan mengacu pada deskripsi teoretis yang telah dikemukakan
dapat diketahui bahwa pelatihan sangat penting diadakan karena akan
memainkan peran untuk meningkatkan standar pemahaman dan kemampuan
seseorang. Dengan diadakan pelatihan maka pemahaman, kemampuan dan
pengetahuan bertambah sehingga dapat menambah produktivitas seseorang.
Pelatihan dilaksanakan dalam suatu lembaga, hal ini diadakan
dengan harapan karyawan atau guru tersebut dapat bekerja dengan efisien
dan efektif. Ini tentunya akan menunjang produktifitas guru (lembaga
pendidikan). Pelatihan PAUD ini pun bertujuan agar para tutor dapat
memberikan pengajaran yang benar dan tepat bagi peserta didiknya sesuai
dengan materi yang mereka pelajari pada saat pelatihan.
Keadaan ini terkadang tidak sesuai dengan harapan lembaga. Dengan
adanya sebagian orang yang harus didorong untuk meningkatkan kemampuan
44

Amini. Agustina, Pelatihan Guru Dan Pengaruhnya Terhadap Sikap Kerja Guru Lembaga
Bahasa LIA(Skripsi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta,1999)

38

dan pengetahuan. Dalam hal inilah suatu lembaga perlu mengadakan suatu
pelatihan. Dalam proses pelatihan bisa saja terjadi guru atau pekerja ada yang
mengikuti dengan sungguh sungguh disamping itu ada juga peserta
pelatihan yang kurang berminat atau bermalas-malasan.
Keadaan ini nantinya akan menghasilkan kondisi yang berbeda dalam
penyerapan materi yang diberikan pada saat pelatihan. Oleh karena itu,
lembaga semestinya mengadakan evaluasi setelah berakhirnya pelatihan,
untuk mengetahui apakah ada perubahan pemahaman pada guru sebelum dan
sesudah mengikuti pelatihan.
Pemahaman yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pemahaman
awal yang berkisar hanya pada pemahaman terjemahan, mulai dari terjemahan
dalam arti sebenarnya, misalnya mengartikan PAUD.
D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan dari deskripsi teoretis dan kerangka berpikir yang telah
dikemukakan sebelumnya, maka hipotesis penelitian dirumuskan sebagai
berikut: pelatihan Pendidikan Anak Usia Dini berpengaruh positif terhadap
pemahaman tutor PKK tentang Pendidikan Anak Usia Dini.

39

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara empiris
pengaruh pelatihan PAUD terhadap pemahaman Tutor PKK tentang
PAUD
B. Tempat Dan Waktu Penelitian
a. Tempat Penelitian
Tempat penelitian dilaksanakan di PAUD nonformal yang
berlokasi di kelurahan Cawang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.
b. Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April Mei 2009
C. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode Ex Post Facto. Penelitian ini bersifat Ex Post Facto, karena

40

penelitian tidak langsung mengendalikan variabel bebas. Hal ini sesuai


dengan pendapat Sudjana yaitu:
Ex Post Facto adalah metode penelitian yang menunjukkan
kepada perlakuan atau manipulasi variabel bebas (x) yang terjadi
sebelumnya, sehingga peneliti tidak perlu memberikan perlakuan
lagi, hanya tinggal melihat efeknya pada variabel terikat. 45
Dalam penelitian ini variabel bebas pelatihan PAUD tidak dikendalikan
secara langsung, karena variabel tersebut telah terjadi pada tutor PKK
40
sebelumnya.
D.

Teknik Pengambilan Sampel

1.

Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. 46 Populasi penelitian ini

adalah tutor PKK yang mengajar pada lembaga PAUD nonformal diwilayah
Kelurahan Cawang, Jakarta Timur.
2.

Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti yang dimaksud

untuk mengeneralisasikan hasil penelitian sampel. 47

Peneliti menggunakan

teknik pengambilan sampel dengan cluster random sampling, yaitu teknik


pengambilan sampel secara acak dimana tiap anggota yang berada didalam
populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi sampel.

45

Nana Sudjana, Penelitian Dan Penilaian Pendidikan (Bandung: Sinar Baru , 1999) H.56
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rieneka
Cipta,1998), H. 108
47
Ibid, h.109
46

41

Sampel penelitian yang terjangkau adalah tutor PKK yang mengajar di


PAUD nonformal dan pernah mengikuti pelatihan PAUD minimal 3 kali. Dari
beberapa kelurahan yang ada di kecamatan Kramat Jati dilakukan random
sampling. Dari satu kecamatan dipilih satu kelurahan, yakni kelurahan
Cawang. Dari kelurahan Cawang tersebut terdapat 7 RW yang memiliki PAUD
Non formal kemudian diambil sampel penelitian sebanyak 30 orang tutor yang
diambil secara proposional random sampling, yaitu dari satu PAUD dibagi
secara proposional / seimbang kedalam 30 orang.
Selanjutnya tiap tutor PKK yang mengajar pada setiap PAUD diberi
nama. Nama anggota tersebut kemudian diundi (sistem acak sederhana),
nama anggota yang keluar dalam undian akan dijadikan sampel dengan
kategori satu PAUD hanya satu dua kali undi karena sampel penelitian yang
diinginkan hanya sebanyak 30 orang tutor dari 7 PAUD.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini pada
dasarnya berfokus pada yang dikemukakan oleh Arikunto, yaitu: Apabila
subjek penelitinya kurang dari 100, maka lebih baik diambil senua sehingga
penelitiannya

merupakan

penelitian

populasi.

Selanjutnya

jika

jumlah

sebjeknya besar, maka dapat diambil antara 10 15% atau 20 25% atau
lebih, sesuai dengan kemampuan peneliti.48
E.

Teknik Pengumpulan Data

1.

Definisi Konseptual

48

Ibid, h.112

42

Pemahaman yang dimaksud pada tutor PKK adalah aspek kognitif yaitu
sebagai kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang
dipelajari. Pembelajar tahu apa-apa saja yang disampaikan dan dapat
menggunakan materi atau gagasan yang diberikan. Hal tersebut dapat diamati
secara langsung seperti, kemampuan dalam menggunakan konsep dalam
bentuk mampu mengerjakan soal-soal, serta dapat menggunakan pengetahuan
yang dimilikinya dalam menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan
dengan Pendidikan Anak Usia Dini.
Pelatihan adalah suatu proses yang meliputi serangkaian upaya yang
dilaksanakan dengan sengaja dalam bentuk pemberian bantuan kepada
seseorang yang dilakukan oleh tenaga profesional kepelatihan dalam satuan
waktu yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kerja peserta dalam
bidang pekerjaan terrtentu guna meningkatkan efektifitas dan produktifitas
dalam suatu organisasi. Pelatihan yang dimaksudkan dalam penelitian ini
adalah pelatihan PAUD yang berisikan materi meliputi tentang pengetahuan
dasar PAUD, media dan sumber belajar PAUD.
2. Definisi Operasional
a. Pemahaman PAUD adalah skor (nilai) total tentang kemampuan
pemahaman tutor dalam mengerjakan tes soal pemahaman awal yang
meliputi indikator terjemahan. Skor ini diperoleh dari observasi hasil tes
para tutor yang mengikuti pelatihan PAUD sebanyak 3 kali dan tutor

43

yang kurang mengikuti pelatihan PAUD. Semakin tinggi skor yang


diperoleh tutor maka pemahaman tentang PAUD semakin meningkat.
b. Kegiatan pelatihan PAUD adalah tutor yang mengikuti kegiatan
pelatihan

PAUD

berdasarkan

dokumentasi. Jumlah

tutor yagng

mengikuti pelatihan PAUD adalah sebanyak 15 orang.

3. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan untuk mendapatkan data mengenai variabel
terikat, yaitu pemahaman tutor PKK tentang PAUD yang mencakup
pemahaman awal atau terjemahan menggunakan pedoman instrumen tes.
Tes pemahaman menggunakan pilihan ganda, karena merupakan tes yang
bersifat objektif, dimana nilai-nilainya

dilakukan secara pasti, tanpa

melibatkan intervensi subjektifitas dari penilai.


Instrumen ini terdiri atas 15 soal pilihan ganda dengan skor 1 (satu)
untuk jawaban yang benar dan skor 0 (nol) untuk jawaban yang salah.
Adapun kisi kisi instrumen pemahaman tutor PKK tentang PAUD yang
dibuat berdasarkan definisi konseptual adalah sebagai berikut:
Tabel. 1
Kisi kisi Pemahaman PAUD
Variabel

Aspek

Indikator

No.soal

Jumlah

44

Pemahaman Ibu Terjemahan


PKK
tentang
PAUD

1. Tutor PKK Dapat 1,2,5


memahami
tentang
pengertian PAUD
2. Tutor PKK Dapat
memahami
3, 8, 14
tujuan PAUD
3. Tutor
PKK
memberikan
11,7
bahan ajar sesuai
usia anak

4. Tutor PKK dapat


membuat rencana
kegiatan
yang 9, 10, 12 3
sesuai
dengan
usia anak
5. Tutor PKK pandai
menyampaikan
materi
kepada 4
1
anak
dengan
berbagai cara atau
metode
6. Tutor PKK dapat
menyiapkan
sarana apa saja
yang dibutuhkan 6, 13, 15 3
oleh anak usia dini
1. Uji Persyaratan Instrumen
Suatu alat pengumpulan data (alat ukur) dapat dikatakan baik
apabila alat ukur itu valid atau reliabel. Alat ukur yang digunakan sebagai
pedoman penilaian hasil tes pemahaman PAUD dalam penelitian ini perlu
diuji validitas dan reabilitasnya.
a. Uji Validitas

45

instrumen

dikatakan

valid

jika

mampu

mengukur

atau

mengungkapkan data dari variabel yang diambil secara tepat. 49 Hal ini
berarti bahwa hasil penelitian dengan menggunakan instrumen tersebut
harus dapat dipertanggung jawabkan ketepatannya. Untuk mendapatkan
validitas instrumen, maka instrumen yang akan digunakan dibuat
berdasarkan indikator dari variabel penelitian. Instrumen tersebut
kemudian dikonsultasikan kepada para ahli yang berwenang didalamnya
termasuk pembimbing skripsi untuk mendapatkan saran, koreksi dan
beberapa pertimbangan.
Pengujian

validitas

pada

penelitian

ini

dilakukan

dengan

menganalisis butir instrumen dan membandingkan r hitung dengan rtabel.


Rumus yang digunakan untuk menguji tingkat validitas adalah dengan
menggunakan rumus korelasi point biseral (r pbis).50

r pbis =

MpMt
St

p
q

KETERANGAN :
r bis
Mp
Mt
St

49
50

= koefisien korelasi Point Biseral


= nilai rata-rata (mean) dari skor (nilai) akhir subjek yang
menjawab betul untuk item yang dicari validitasnya
= nilai rata-rata (mean) dari skor (nilai) keseluruhan test
atau total skor
= standar deviasi skor total

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta:1998) H.160


J. Supranti, Statistik (Jakarta: Erlangga,2001)H.201

46

p
q

= proporsi subjek yang menjawab betul item yang


dicari/dihitung validitasnya
= 1 p atau proporsi sisa

Adapun syarat bahwa butir soal dikatakan valid adalah jika r hitung >
rtabel. Namun apabila rhitung < rtabel maka butir soal dikatakan drop atau tidak valid.
Responden sebagai peguji instrumen berjumlah 15 orang, dengan demikian
rtabel yang digunakan sebagai kriteria penerimaan kepercayaan 95% adalah
0,444. Dari perhitungan validitas sejumlah 20 terdapat 5 butir nomor yang drop
sedangkan sisanya yaitu 15 soal

yang valid digunakan untuk penelitian

selanjutnya.
Perhitungan Reliabilitas Instrumen
Uji reliabilitas berhubungan dengan keajegan hasil pengukuran.
Reliabilitas menunjuk pada suatu penelitian bahwa suatu instrumen cukup
dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengukur data, karena
instrumen tersebut sudah baik.51 Melalui pengujian tingkat reliabilitas sebuah
instrumen, maka akan didapat sebuah instrumen yang baik, dan mampu
menghasilkan data yang dapat dipercaya.
Untuk menguji tingkat reliabilitas dalam instrumen penelitian ini
digunakan rumus Kuder Richardson yaitu:

51

Arikunto, Op.Cit, H. 170

47

KR20 =

[ ] [
N
N1

pq
x
2

Keterangan:
KR 20 = kuder richardson number 20
N = banyaknya pertanyaan
P = proporsi yang memberikan tanggapan positif
Q=1p
2x = varian dari total

Sebuah instrument dapat dikatakan reliable atau tetap adalah


apabila diatas 0,70. Adapun kriteria kereabilitasan sebuah instrumen menurut
Balian adalah sebagai berikut:52
Tabel.2
Interpretasi
Besarnya nilai r

52

Interpretasi

0,90 s/d 1,00

Luar Biasa Bagus (Excellent)

0,85 s/d 0,89

Sangat Bagus (Very Good)

0,80 s/d 0,84

Bagus (Good)

0,70 s/d 0,79

Cukup (Fair)

Kurang dari 0.70

Kurang (Poor)

Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial (Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya, 1998) H.85

48

Dari kategori tersebut maka ralibitas instrument setelah soal yang drop
diabaikan, adalah 0,88 masuk kedalam kategori sangat bagus 53

F. Teknik Analisis Data


Tehnik analisa data merupakan prosedur penelitian yang digunakan
untuk proses data agar data mempunyai makna untuk menjawab masalah
masalah dalam penelitian ini dan menguji hipotesis. Data data tersebut
dianalisa secara bertahap melalui tiga tahap. Pertama, dilakukan pengolahan
data awal untuk mencari rata-rata, median modus, simpangan baku (standar
deviasi), nilai maksimum, dijekaskan dalam deskripsi data.
Kedua, dilakukan pengujian prasyaratan analisis yakni uji normalitas
dan homogenitas. Uji normalitas dilakukan untuk menguji normalitas sampel
penelitian sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasikan. Pengujian
normalitas dilakukan dengan uji Liliefors. Apabila hasil pengujian ini
menunjukkan bahwa L hitung < L tabel, maka data yang diuji berasal dari data yang
berdistribusi normal. Uji homogenitas dilakukan untuk melihat homogen
tidaknya sampel dari kelompok penelitian. Pengujian homogenitas diperoleh
dari perbandingan kuadrat simpangan baku (varian) terbesar dan terkecil
menggunkan uji fisher. Apabila pengujian menunjukkan F
populasi memiliki varian yang homogen.

53

Hasil Perhitungan Reliabilitas dapat dilihat pada lampiran . H.81

hitung

< F

tabel

maka

49

Ketiga, dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan pengujian


perbedaan dua rata-rata yakni dengan uji t. Data didapat dari hasil post test
kelompok control dan kelompok eksperimen. Pengujian dilakukan pada taraf
signifikansi = 0,05. Adapun rumus uji t tersebut adalah sebagai berikut: 54

X X
1

thitung =

n n
1

dengan

n 1 s n 1 s
n n 2
2

s=

2
2

Keterangan:
X1
= Nilai rata-rata kelompok eksperimen
X2
= Nilai rata-rata kelompok kontrol
n1
= Jumlah responden kelompok eksperimen
n2
= Jumlah responden kelompok kontrol
s1
= Simpangan baku kelompok eksperimen
s2
= Simpangan baku kelompok kontrol
jika thitung < ttabel maka hipotesis alternatif ditolak. Hal ini berarti bahwa
tidak terdapat pengaruh yang signifikan pengadaan pelatihan terhadap
pemahaman tutor PKK tentang PAUD. Namun jika t hitung (2,44)55 ttabel (2,132)
maka hipotesis alternatif diterima. Hal ini berarti bahwa terdapat pengaruh
yang signifikan pengadaan pelatihan PAUD terhadap pemahaman tutor PKK
tentang PAUD diwilayah Kelurahan Cawang, Jakarta Timur.
54

Sudjana, Metode Statistik (Bandung Tarsito,1992), H.239

55

Hasil Perhitungan Uji Normalitas dapat dilihat pada lampiran 14. H.88

50

BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data
Penelitian ini dilakukan untuk melihat tinggi rendahnya nilai hasil tes
Pemahaman PAUD pada Tutor PKK. Pada penelitian ini data hasil tes PAUD
yang dijadikan sampel adalah 30 orang yang diambil dari jumlah keseluruhan
PAUD non formal yang ada di Kelurahan Cawang Jakarta Timur. Dari
keseluruhan jumlah sampel 30 orang terbagi dalam 2 kelompok, yaitu
kelompok eksperimen berjumlah 15 orang tutor yang mengikuti pelatihan
sebanyak lebih dari 3 kali dan kelompok kontrol berjumlah 15 orang tutor yang
mengikuti pelatihan PAUD kurang dari 3 kali. Berikut ini adalah data hasil

51

penelitian pada kelompok eksperimen (tutor pelatihan) dan kelompok kontrol


(tutor kurang pelatihan) :
1. Data Tentang Nilai Hasil Tes Pemahaman PAUD Pada Kelompok
Eksperimen
2.
Deskripsi data kelompok eksperimen sebagaimana terlihat pada tabel 1,
menunjukkan bahwa nilai rerata untuk kelompok eksperimen adalah 13,33;
median 8; modus 45; skor maksimum 15; nilai minimum 10; standar deviasi
1,35; dan jumlah Nilai data mentah (sum) adalah 200. Jika data tersebut
disajikan dalam bentuk el distribusi frekuensi, maka hasilnya sebagai berikut :
51
Tabel. 3
Distribusi Frekuensi Data Kelompok Nilai Hasil Tes PAUD
Tutor PKK Yang Mengikuti Pelatihan
Nilai

10 11
12 13
14 15
16 - 17
Jumlah

2
5
8
0
15

Titik
Tengah
10,5
12,5
14,5
16,5

Kumulatif
0
7
15
15

Relatif
0,13
0,33
0,53
0

Dari data tersebut, diperoleh jumlah responden yang berada pada


kelas rata-rata adalah 5 orang atau 0.33%. Responden yang mendapat

52

hasil tes dibawah rata-rata berjumlah 2 orang atau 0.13%. Sementara


responden yang mendapat hasil tes diatas rata-rata berjumlah 8 orang atau
0.53%. Jika data tersebut dinyatakan dalam bentuk grafik histogram maka
akan terlihat sebagai berikut :

Grafik.1

53

Dari grafik tersebut dapat terlihat responden yang menjawab dalam


interval 1 berjumlah 2 orang. Interval 2 dengan jumlah responden 5 orang, dan
interval 3 dengan jumlah responden 4 orang.

54

2. Data Tentang Nilai Hasil Tes Pemahaman PAUD Pada Kelompok


Kontrol
Deskripsi data kelompok kontrol sebagaimana terlihat pada tabel 1,
menunjukkan bahwa nilai rerata untuk kelompok kontrol adalah 12; median 12;
modus 13; skor maksimum 14; skor minimum 9; standar deviasi 1,56; dan
jumlah skor data mentah (sum) adalah 180. Jika data tersebut disajikan dalam
bentuk Tabel distribusi frekuensi, maka hasilnya sebagai berikut :
Tabel. 4
Distribusi Frekuensi Data Kelompok Nilai Hasil Tes PAUD
Tutor PKK Yang kurang Mengikuti Pelatihan
Nilai
Frekuensi Titik Tengah
F
F
Kumulatif
Relatif
9 10
3
9,5
0
0.2
11 12
5
11,5
8
0.33
13 14
7
13,5
15
0.53
15 16
0
15,5
15
0
Jumlah
15
Dari data tersebut, diperoleh jumlah responden yang berada pada kelas
rata-rata adalah 5 orang atau 0.33%. Responden yang mendapat hasil tes
dibawah rata-rata berjumlah 3 orang atau 0.2 %. Sementara responden yang
mendapat hasil tes diatas rata-rata berjumlah 7 orang atau 0.53 %. Jika data
tersebut dinyatakan dalam bentuk grafik maka akan terlihat sebagai berikut :
Grafik.2

55

Nilai Batas Nyata


Histogram Nilai Hasil Tes Pemahaman PAUD Kelompok Kontrol
(Kurang Pelatihan)

Dari grafik tersebut dapat terlihat responden yang menjawab dalam


interval 1 berjumlah 3 orang. Interval 2 dengan jumlah responden 5 orang, dan
interval 3 dengan jumlah responden 7 orang.

B. Pengujian Persyaratan Pengolahan Data

56

Data yang sudah diolah sebagai data mentah yang dijabarkan dalam
deskripsi data merupakan data yang akan digunakan pada pengujian hipotesis.
Namun sebelum menguji hipotesis, perlu dilakukan pengujian normalitas dan
homogenitas sebagai persyaratan dari analisis data. Hal ini bertujuan untuk
melihat kenormalan dan kehomogenan data.

1. Uji Normalitas Nilai Hasil Tes Pemahaman PAUD Pada Kelompok


Eksperimen
Uji normalitas ini menggunakan rumus Liliefors. Adapun langkahlangkah melakukan uji tersebut ialah dengan mencari nilai rata-rata (mean),
standar deviasi, dan mengurutkan data terendah sampai data tertinggi.
Kemudian mencari nilai Zi yaitu dari pengurangan Xi (data yang sudah
diurutkan) dengan mean lalu dibagi standar deviasi. Lalu mencari nilai Zi pada
tabel F untuk mengisi kolom F(Zi). Setelah nilai Zi didapat maka langkah
selanjutnya adalah mencari nilai S(Zi) dengan membagi proporsi data Z
dengan data keseluruhan (sifat kumulatif). Kemudian menentukan nilai L hitung
yang diambil dari nilai tertinggi data [F(Zi) S(Zi)]. Dikatakan normal jika L hitung
< Ltabel.
Dari hasil penelitian pada kelompok eksperimen di dapat Lhitung
sebesar 0,1112 dan dengan = 0,05, n = 15 dari nilai kritis Liliefors di dapat
Ltabel
56

sebesar 0,2200 oleh karenanya Lhitung < Ltabel

Hasil Perhitungan Uji Normalitas dapat dilihat pada lampiran 13. H.89

atau 0,1112 56 <

57

0,2200 maka Ho diterima. Dan kesimpulannya data nilai hasil tes pemahaman
PAUD pada kelompok kelompok eksperimen, yaitu tutor PKK yang mengikuti
pelatihan PAUD berdistribusi normal.
2. Uji Normalitas Data Nilai Hasil Tes Pemahaman PAUD Kelompok
Kontrol
Sedangka dari hasil penelitian pada kelompok kontrol di dapat Lhitung
sebesar 0,1003 dan dengan = 0,05, n = 15 dari nilai kritis Liliefors di dapat
Ltabel

sebesar 0,2200, oleh karenanya Lhitung < Ltabel

atau 0,1003 57 <

0,2200 maka Ho diterima. Dan kesimpulannya data nilai hasil tes pemahaman
PAUD pada kelompok kelompok kontrol, yaitu tutor PKK yang kurang mengikuti
pelatihan PAUD berdistribusi normal.
3. Pegujian Homogenitas Data Kelompok Eksperimen dan Kelompok
Kontrol
Dikemukakan sebelumnya bahwa syarat analisi data untuk menguji
hipotesis yaitu dengan menguji normalitas dan homogenitas setiap kelompok.
Uji homogenitas adalah pengujian terhadap kesamaan sampel, dengan tujuan
untuk melihat keseragaman setiap varians sampel-sampel dari setiap
kelompok. Hal ini menjadi sangat penting dilakukan untuk mengeneralisasikan
hasil penelitian.
Adapun pengujian homogenitas yang digunakan peneliti adalah dengan
menggunakan rumus Fisher, yakni membandingkan kuadrat varian terbesar
57

Hasil Perhitungan Uji Normalitas dapat dilihat pada lampiran 13. H.89

58

dengan kuadrat varian terkecil. Kemudian membandingkannya dengan Ftabel.


Langkah pertama-tama pengujian ini yaitu merumuskan hipotesis. Kemudian
menghitung Fhitung dengan membandingkan kuadrat varian terbesar dengan
varian terkecil. Langkah selanjutnya adalah dengan menentukan taraf
signifikansi = 0,05, dan mencari Ftabel. Ftabel didapat dari data daftar I.
Adapun pembilang merupakan varian terbesar dikurang 1, dan penyebut,
varian terkecil kurang 1. Sampel yang homogen ditentukan dengan kreteria
Fhitung < Ftabel.
Setelah melakukan langkah-langkah tersebut maka didapat, Fhitung =
1,341 dan Ftabel = 3,70. Hal ini menunjukkan bahwa sampel varian homogen
karena Fhitung < Ftabel. . atau 1,341 < 3,7058.
C. Pengujian Hipotesis Penelitian
Statistik parametis yang digunakan untuk menguji hipotesis komparatif
rata-rata dua sampel bila datanya berbentuk interval atau ratio adalah dengan
menggunakan t-test model separated varians ataupun model polled varians
dengan criteria pengujian jika thitung > ttabel terima Ha (terdapat perbedaan),
sebaliknya jika thitung > ttabel, maka tolak Ha (tidak terdapat perbedaan).
Dari hasil perhitungan dengan n1 = n2 = 15, dk = n1 + n2 2 = 28 dan
taraf kesalahan = 5% diperoleh bahwa thitung = 2,44 dan ttabel = 2,132
dengan demikian di dapat thitung > ttabel, atau 2,44 > 2,132 berarti Ha
diterima dan Ho ditolak. Hal ini dapat diartikan bahwa terdapat pengaruh
58

Hasil perhitungan Uji Homogenitas Dapat dilihat pada lampiran 14.h.90

59

pelatihan PAUD terhadap Pemahaman Tutor PKK tentang PAUD di Kelurahan


Cawang Jakarta Timur.
D. Pembahasan Hasil Penelitian
Pemahaman dapat dikatakan sebagai suatu kondisi seseorang dalam
kemampuannya mengungkapkan kembali, memberi contoh, memberikan
konsep berupa uraian, serta dapat menggunakan pengetahuan yang
dimilikinya dalam menyelesaikan masalah. Pengetahuan dan pemahaman lahir
sebagai akibat proses belajar seseorang.
Pendidikan anak usia dini pada dasarnya merupakan pendidikan yang
berwujud pemberian stimulus, bimbingan, asuhan, dari pembelajaran yang
dapat mengembang, memberikan konsep berupa uraian, serta dapat
menggunakankan potensi-potensi dalam diri anak sesuai dengan aspek
perkembangan dan kebutuhan anak khususnya pada anak usia dini. Intinya
bahwa

pendidikan

anak

pada

usia

dini

adalah

salah

satu

bentuk

penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke


arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan
motorik kasar), kecerdasan, daya cipta, emosi jamak, dan spiritual.
Pengembangan dan peningkatan sumberdaya manusia dapat dilakukan
melalui jalur pendidikan formal maupun non formal. Pengembangan dan
peningkatan yang dilakukan melalui penyelenggaraan pendidikan dan
pelatihan tentang PAUD, Pembinaan dalam pelatihan bertujuan agar

60

menghasilkan suatu perubahan pengetahuan, sikap, maupun ketrampilan pada


diri seseorang menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Program pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu program
pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia yang efektif sesuai
dengan pengembangan bidang pekerjaan yang diembannya. Umumnya
pendidikan dan pelatihan yang telah diikuti oleh seseorang berkaitan erat
dengan peningkatan potensi dan kemampuannya. Oleh karenanya terkait
dengan judul penelitian yang penulis uraikan diprediksi bahwa sekelompok
tutor PKK yang diberikan atau banyak mengikuti pendidikan dan pelatihan
tentang pemahaman Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) akan lebih memiliki
pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik dibandingkan dengan dengan
rekan tutor PKK lainnya yang tidak diberikan diberikan pendidikan dan
pelatihan mengenai PAUD atau kapasitas pendidikan dan pelatihannya kurang.
Dari pengolahan data hasil nilai tes tentang pemahaman PAUD
terhadap beberapa responden pada kelompok tutor PKK yang diberikan
pelatihan PAUD lebih dari 3 kali dengan kelompok tutor PKK yang mengikuti
pelatihan PAUD kurang dari 3 kali diperoleh data hasil perhitungan t tes
dengan taraf kesalahan 5 % ( = 0,05 ) yaitu thitung > ttabel adalah 2,44 >
2,132, dengan demikian dapat dinyatakan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan antara pendidikan dan pelatihan yang diberikan pada tutor PKK
terhadap pemahaman PAUD, yang berarti hipotesis alternatif (Ha) diterima dan
hipotesis nol (Ho) ditolak. Namun demikian dari nilai hasil tes yang tidak

61

terlampau berbeda jauh menandakan bahwa masih terjadi kemungkinan


bahwa tutor PKK yang mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang
pemahaman PAUD belum tentu menjadi lebih baik, bila dalam pelaksanaan
pelatihan individu yang bersangkutan tidak mengikutinya dengan baik.
E. Keterbatasan Penelitian
Penelitian menyadari bahwa penelitian ini tidak sepenuhnya sampai
pada kebenaran yang mutlak. Peneliti menyadari masih banyak terdapat
kekurangan dan kelemahan, diantaranya adalah:
1. Bahwa penelitian ini hanya dilakukan di sebagian kecil lokasi PAUD yang
berada di satu kelurahan, yaitu kelurahan Cawang, Jakarta Timur sehingga
generalisai hanya berlaku untuk populasi yang berkarakteristik sama
dengan sampel penelitian ini.
2. Hanya melihat pada hasil tes tutor PKK tentang pengetahuan dan
pemahaman awal tentang PAUD dari segi ranah kognitif saja tanpa melihat
ranah lain.
3. Pemilihan sampel dilakukan tanpa melihat karakteristik gaya belajar
peserta dalam pelaksanaan pelatihan dan merupakan dari latar belakang
pendidikan yang berbeda.
4. Instrumen yang digunakan sebatas butir soal yang berhubungan dengan
sub pokok bahasan yaitu pada mengetahui dan memahami tentang
pengetahuan dasar PAUD, media dan sumber belajar PAUD.

62

5. Variabel terikat yaitu nilai hasil tes pemahaman awal tentang PAUD tidak
sepenuhnya dipengaruhi oleh variable bebas yaitu pengetahuan tentang
PAUD, tetapi ada variabel-variabel lain yang juga mempengaruhi nilai hasil
tes peserta, seperti kondisi kemauan dan motivasi belajar ataupun kondisi
fisik peserta / tutor PKK.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Penelitian ini mengkaji pengaruh kegiatan pelatihan PAUD
terhadap pemahaman Tutor PKK tentang pemahaman PAUD yang dilakukan
pada dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen adalah para Tutor PKK yang

63

mengikuti pelatihan tentang PAUD sebanyak lebih dari 3 kali dan kelompok
kontrol yaitu para Tutor PKK yang mengikuti pelatihan tentang PAUD kurang
dari 3 kali.
Berdasarkan

hasil

penelitian

yang

penulis

lakukan,

diketahui

bahwasannya pelaksanaan kegiatan pelatihan PAUD yang diikuti oleh para


Tutor PKK yang mengikuti pelatihan lebih dari 3 kali memiliki hasil pemahaman
tentang PAUD yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok Tutor PKK yang
kurang mengikuti kegiatan pelatihan PAUD kurang dari 3 kali. Hal ini diketahui
dari hasil perhitungan di dapat nilai hasil perhitungan untuk kelompok
eksperimen adalah 13,33 sedangkan pada Tutor PKK kelompok Kontrol
memiliki nilai rata-rata pemahaman tentang PAUD sebesar 12. Selain itu dari
hasil perhitungan uji t (t-test) diketahui bahwa t

hitung

> t

tabel

dengan taraf

kesalahan = 5 % dk n1 + n2 2 = 28 dan n = 30 yaitu diketahu bahwa harga


t

tabel

adalah 2,13 dibandingkan dengan harga t hitung sebesar 2,44, maka

dapat dinyatakan bahwa harga t

hitung

lebih besar dari harga t

tabel

, yaitu 2,44 >

2,13 sehingga dapat dikatakan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti
63
terdapat pengaruh pelatihan PAUD terhadap Pemahaman Tutor PKK tentang
PAUD di Kelurahan Cawang Jakarta Timur.
Bagaimanapun juga pelaksanaan kegiatan pelatihan PAUD yang
diberikan dan diikuti Tutor PKK tentang pemahaman PAUD yang lebih banyak
(intensif) memiliki pengaruh yang positif terhadap pemahaman tentang PAUD,
dibandingkan dengan Tutor PKK yang diberikan kegiatan pelatihan PAUD yang

64

kurang intensif, meskipun selisih hasil nilai rata-rata yang tidak begitu besar
namun demikian tetap lebih baik. Sedangkan kurangnya pemahaman tentang
PAUD yang diberikan pada Tutor PKK dengan kegiatan pelatihan yang kurang
intensif dapat dikatakan tidak sepenuhnya memberikan pengaruh yang negatif
terhadap nilai hasil tes pemahaman PAUD, oleh karena bagaimanapun juga
hasil tes tentang pemahaman PAUD yang diberikan oleh kedua kelompok
tersebut sebenarnya masih ada faktor-faktor lain yang mempengaruhinya,
antara lain kemampuan instruktur dalam menyampaikan materi-materi
pelatihan, kualitas dan kuantitas materi pelajaran, fasilitas belajar saat
pelatihan, serta kondisi peserta pelatihan.
B. Implikasi
Melihat hasil yang diperolah dari data penelitian yang telah peneliti
laksanakan, maka diperoleh beberapa gambaran (deskripsi) yang dapat
diimplikasikan, yaitu bahwa sesungguhnya terdapat pengaruh pelatihan PAUD
terhadap pemahaman Tutor PKK tentang PAUD di wilayah kelurahan Cawang,
Jakarta Timur. Peneliti berharap bahwa pelatihan PAUD tidak hanya dipandang
dari hasil yang dicapai melainkan sebagai awal dari pengembangan kearah
kompetensi dan tanggung jawab profesi tutor.
Faktor pendukung tercapainya nilai hasil tes pemahaman PAUD
yang baik dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan tidak terlepas dari beberapa
faktor, antara lain terpenuhinya kemampuan instruktur dalam pengelolaan

65

pelatihan, ketersediaan bahan ajar, penyajian pelatihan serta tak kalah penting
adalah aspek media pelatihan.
Sedangkan faktor kendala atau lemahnya hasil tes pemahaman
PAUD tutor yang tidak mengikuti kegiatan pelatihan atau kurang pelatihan
pada kelompok kontrol kaitannya dengan tidak tercapainya nilai hasil tes
pemahaman PAUD yang lebih baik dari kelompok tutor yang mengikuti
pelatihan PAUD dapat pula disebabkan oleh beberapa faktor seperti kondisi
peserta pelatihan, maupun faktor kesempatan tutor dalam mendapatkan
pelatihan secara intensif.
C. Saran
Selama pelaksanaan penelitian yang penulis lakukan, disadari
banyak sekali terdapat kekurangan kekurangan yang dilakukan secara
sengaja maupun tidak sengaja, yang bagaimana pun juga merupakan suatu
kewajaran sekaligus pembelajaran bagi diri penulis. Disamping itu juga banyak
pula terdapat hal-hal yang dirasakan oleh penulis perlu diberikannya masukan
dan saran tidak hanya bagi pihak PAUD diwilayah kelurahan Cawang, Jakarta
Timur, namun juga pada pihak lain yang terkait. Dari hasil penelitian ini dapat
disarankan beberapa hal yang antara lain adalah sebagai berikut:
a. Bagi instansi atau lembaga yang berkaitan dengan PAUD hendaknya
senantiasa memperhatikan peranan pelatihan tentang PAUD dan materi
pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan yang diperlukan para tutor
dilapangan yang berasal dari PKK dalam rangka meningkatkan kualitas

66

sumber

daya

manusia

khususnya

dalam

pemahaman

tentang

kependidikan anak usia dini untuk menjadi lebih baik dan berkualitas, yang
diimbangi dengan kesiapan merespon terhadap perubahan-perubahan
yang terjadi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
melalui pelatihan.
b. Bagi tutor PKK harus menyadari bahwa pelatihan PAUD dapat menambah
pengetahuan,

dan

wawasan,

meningkatkan

kemampuan

dan

keterampilan, serta pemahaman tentang PAUD. Sehingga kader PKK


harus memperhatikan aspek-aspek pencapaian tujuan pembelajaran
tentang PAUD melalui pelatihan dan memanfaatkan sebaik mungkin waktu
yang diberikan pada saat pelatihan berlangsung.
c. Peneliti selanjutnya, mengingat penelitian ini merupakan penelitian awal
maka dapat menjadi bahan kajian dan masukan untuk memecahkan
masalah pada penelitian selanjutnya untuk mengkaji lebih dalam yang
terkait dengan pengaruh kegiatan pelatihan PAUD terhadap pemahaman
tentang PAUD.
DAFTAR PUSTAKA

Acuan menu pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini ,Departemen Pendidikan
Nasional; 2002
Arikunto,Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek , Jakarta: Rieneka
Cipta,1998
Barry,Chusway, Human Resource Management Sumber Daya Manusia Jakarta: Elex

67

Media Komputindo,2000
Bernardin,H.John, Human Resouce Management:An Experiential Approach, New
York: Mcgraw-Hill Companies,2001
Bredekamp, Sue, Copie, Carol, DevelopMentally Appropriate Practice In Early
Childhood Programs,Washington DC:NAEYC publication,1997
Direktorat PAUD.Direktorat Jendral PLS Dan Pemuda, Departemen Pendidikan
Nasional, 2002
Early Chilhood Care And Development In Indonesia, Early Childhood Development
Forum, 2004
Hamalik,Oemar, Pengembangan SDM Manajemen Pelatihan Ketenagakerjaan:
Pendekatan Terpadu,Jakarta: Bumi Aksara,2005
Himpunan Peraturan Dan Perundang-Undangan Ketenagakerjaan, Jakarta:
Association Of Labour Legislation,2008
Mulia Nasution. Manajemen Personalia Aplikasi Dalam Perusahaan,
Jakarta:Djambatan,2000
Notoatmodjo,Soekidjo, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta:Rineka Cipta
Petunjuk Teknis Bagi Tim PKK RW. Provinsi DKI Jakarta.2008.
Pupuh Fathturohman Dan M.Sobry Sutikno, Strategi Belajar Melalui Penanaman
Konsep Umum Dan Konsep Islami, Bandung: Refika Aditama, 2007
Rumsari,Yuniarti, Pengaruh Pelatihan Empati Terhadap Perkembangan Pemahaman
Empati Mahasiswa Jurusan Bimbingan Dan Konseling, Skripsi,Fakultas Ilmu
Pendidikan,Universitas Negeri Jakarta,2001
S.Morrison,George, Early Chilhood Education To Day: Fourth Edition London: Merril
Publishing Company,1988
Soehartono, Irawan, Metode Penelitian Sosial, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1998
Sudjana, Metode Statistik, Bandung Tarsito,2000,
Sudjana,Nana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung:Remaja
Rosdakarya,2005

68

Supranto,J, Statistik, Jakarta: Erlangga,2001


Syafri,T, Manajemen SDM, Jakarta : Galia Indonesia, 2000
Syah,Muhibbin, Psikologi Belajar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005
Tim pengembang PAUD UNJ, Seminar Internasional Dan Pertemuan FIP/Jurusan
Ilmu Pendidikan Se-Indonesia serta Dies Natalis UNP ke 51, Bukit Tinggi,
2005
TP PKK. Pedoman Gerakan PKK, Jakarta Melati Jaya, 2001
Usman,Moh.Uzer, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Rosdakarya, 2001
UU Sistem Pendidikan Nasional, Standar Nasional Pendidikan, Jakarta: Fokusmedia
UU RI Perlindungan Anak No.23 Tahun 2002, Indonesia Legal Center
Publishing,2004
Verna Hilderbrand, Introduction To Early Childhood Education 4th Edition, Newyork :
Mcmillan Publishing Company,1998
Winkel, W.S, Psikologi Pengajaran, Jakarta: Pt Gramedia, 1999
Wolfang,Charles and Mary.H.Wolfang, School For Young Children: Developmentally
Appropriate Practice, Boston: Allyn & Bacon,1992
http://one1thousand100education.wordpress.com/2007/07/21
http://72.14.203.132/translet/atdmt.com/2009

69

LAMPIRAN.2

INSTRUMEN PEMAHAMAN PAUD


Nama Tutor
:
Asal lembaga PAUD :
Alamat PAUD
:
Petunjuk :
Isilah pertanyaan dibawah ini dengan memberi tanda silang (x) pada huruf a, b
atau c , atau pada jawaban yang dianggap benar.

1. PAUD merupakan kepanjangan dari....


a. pendidikan anak-anak dini usia
b. pendidikan anak usia dini
c. pendidikan anak dini usia
2. Rentangan usia yang dikategorikan dalam PAUD sesuai dengan UU
Sisdiknas adalah....
a. 2 6 tahun
b. 0 8 tahun
c. 0 6 tahun
3. Penyelenggaraan pendidikan anak usia dini didasarkan atas prinsip
prinsip Pendidikan Anak Usia Dini. Berikut ini yang bukan
merupakan salah satu prinsip PAUD adalah....
a. berorientasi pada kebutuhan anak
b. kegiatan belajar dengan paksaan
c. mengembangkan kecakapan hidup anak.
4. Berikut ini adalah salah satu metode pembelajaran yang sesuai
untuk anak usia dini kecuali....
a. demonstrasi
b. pemberian tugas
c. mengisi kolase

70

5. Usia 3 5 tahun adalah masa yang penting bagi perkembangan


anak karena di usia itu disebut dengan masa ....
a. masa sulit
b. masa keemasan
c. usia sekolah
6. Berikut ini adalah sarana yang dibutuhkan oleh anak usia dini,
kecuali....
a. puzzle gambar
b. piala bergilir
c. papan tulis
7. PAUD merupakan salah satu pendidikan yang dicanangkan oleh
pemerintah dan berada di jalur....
a. informal
b. formal
c. non formal
8. Di bawah ini adalah Tujuan dari PAUD, kecuali....
a. mengembangkan kemampuan interpersonal dan sosialisasi,
belajar mempersiapkan diri, belajar bahasa dan pemenuhan gizi
anak.
b. suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak dini
melalui
pemberian
rangsangan
pendidikan
membantu
pertumbuhan, jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan
memasuki pendidikan dasar.
c. upaya yang diberikan kepada anak dengan maksud anak didik
dapat membaca lancar, menulis dan berhitung saat masuk ke
sekolah dasar.
9. Berikut ini adalah kegiatan-kegiatan yang merangsang kemampuan
berbahasa anak, kecuali...
a. menyanyikan lagu anak-anak
b. mengucapkan syair sederhana
c. memasangkan kepingan puzzle
10. Pembuatan rencana kegiatan merupakan salah satu tugas yang
harus dilakukan oleh guru PAUD yang bertujuan agar....
a. memudahkan kepala PAUD melihat situasi sekitar tempat belajar
b. KBM berjalan efektif sesuai dengan acuan pembelajaran PAUD
c. orang tua kagum pada guru PAUD dalam memberikan materi

71

11. Dibawah ini adalah beberapa aspek perkembangan anak yang


harus diketahui oleh guru PAUD, antara lain adalah....
a. Kognitif, motorik, bahasa, sosial-emosional, dan moral agama
b. Sosial-emosional, Membaca, menulis dan berhitung
c. Kognitif, bahasa, moral agama dan sosial-emosional
12. Berikut ini adalah urutan komponen yang terdapat dalam pembuatan
satuan kegiatan harian, yaitu...
a. waktu, kegiatan (pembukaan, inti, penutup),metode, media dan
penilaian
b. waktu,media, kegiatan (pembukaan, inti, penutup), metode dan
penilaian
c. kegiatan (pembukaan, inti, penutup), penilaian, metode dan
media

13. Dibawah ini yang merupakan kegiatan untuk merangsang


kemampuan motorik halus dan dapat dilakukan oleh anak usia dini
yaitu.....
a. finger painting
b. melompat tali
c. mengucap syair
14. Anak belajar melalui interaksi sosial, baik dengan orang dewasa
maupun dengan teman sebaya. Pernyataan tersebut adalah
merupakan prinsip dari....
a. pendidikan anak usia dini
b. perkembangan anak
c. prinsip pengajaran
15. Finger painting adalah salah satu teknik menggambar yang
merupakan kegiatan untuk merangsang imajinasi dan motorik halus
anak. Perlengkapan yang harus disediakan oleh seorang guru
sebelum memulai kegiatan tersebut adalah,....
a. kertas gambar, celemek dan cat air
b. kertas gambar, pensil dan penggaris

72

c. kertas gambar, crayon dan kuas kecil

Lampiran.5
Menghitung KR20
Diketahui:
N

: 15
: 2,88

:16,9

Rumus Kuder Richardson :

N
N 1

KR20 =

15
15 1

pq
2 x

2,88
1 16,9

= (1,07) (1 0,1704)
= (107) (0,8289)
= 0,88
Kesimpulan :
Dari perhitungan diatas menunjukkan bahwa KR20 termasuk dalam kategori
(0,85 0,89). Maka instrument memiliki realibilitas yang sangat bagus.
Interval Koefisien

Kriteria

0,90 s/d 1,00

Luar biasa bagus (excellent)

0,85 s/d 0,89

Sangat bagus (very good)

0,80 s/d 0,84

Bagus (good)

0,70 s/d 0,79

Cukup (fair)

Kurang dari 0.70

Kurang (poor)

73

Lampiran. 6

74

Perhitungan Validitas Butir Soal No. 2


Diketahui :
N : 15
Mp : 26
Mt : 14,45
St : 1,986
p : 0,9
q : 0,1

Rumus Point Biseral:


rpbis =

Mp Mt
St

26 14,45
1,986

p
q

0,9
0,1

11,55

= 1,986 9
= (5,8157) (3)
= 17,44 dibulatkan menjadi 17,4
Dari data tersebut, diperoleh rhitung = 17,4 sedangkan rtabel untuk n=15
dan = 0,05 adalah 0,44 berarti rhitung > rtabel, berarti data tersebut valid.
Lampiran.7

75

Lampiran. 8

76

Lampiran. 9

77

Tabel Perhitungan Rata-Rata, Variant, Dan Simpangan Baku


Skor Hasil Pemahaman PAUD Kelompok Eksperimen
(Pelatihan)

78

79

80

No.

(x1)

X1 x1

(x1 x1)2

11

- 2,33

5,43

11

-2,33

5,43

12

-1,33

1,77

12

-1,33

1,77

12

- 0,33

0,11

13

- 0,33

0,11

13

- 0,33

0,11

13

- 0,33

0,11

14

0,66

0,45

10

14

0,66

0,45

11

14

0,66

0,45

12

14

0,66

0,45

13

15

1,67

2,79

14

15

1,67

2,79

15

15

1,67

2,79

200

X1

13,33

25,33

Rata rata x1 =

200
15

=13,33

Varians (s ) =

' x1

n 1

25,35
14

= 1,811
(SD)

= s2
= 1,811
= 1,345

81

Dibulatkan menjadi 1,35


Modus

= 14

Median

=8

Lampiran. 10

Tabel Perhitungan Rata-Rata, Variant, Dan Simpangan Baku


Skor Hasil Pemahaman PAUD Kelompok kontrol (kurang Pelatihan)

79

No.

(x1)

X1 x1

(x1 x1)2

-3

10

-2

10

-2

11

-1

11

-1

11

-1

12

12

13

10

13

11

13

12

13

13

14

14

14

15

14

180

X1

12

4
4
4
34

80

Rata rata x1 =

180
15

=12
Varians (s2)=

' x1

n 1

34
14

= 2,43
(SD)

= s2
= 2,43
= 1,558

Dibulatkan menjadi 1,56


Modus

= 13

Median

=12

Lampiran. 11

81

Perhitungan Daftar Distribusi Skor Kelompok Eksperimen

1. Rentangan
Rentangan = Data Terbesar Data Terkecil
= 15 11
= 4
2. Banyaknya Interval kelas
K = 1 + (3,3) log n
= 1 + (3,3) log 15
= 1 + (3,3) 1,17
= 1 + 3,86
= 4,86

3. Panjang Interval Kelas


P = Rentang : Kelas
=4:5
= 0,8
Nilai

Titik Tengah

10 11
12 13
14 15
16 17

10.5
12.5
14.5
16.5
Jumlah

Lampiran. 12

Frekuensi
2
5
8
0
15

F
Kumulatif
0
7
15
15

Relatif
0.13
0.33
0.53
0

82

Perhitungan Daftar Distribusi Skor Kelompok kontrol


1. Rentangan
Rentangan = Data Terbesar Data Terkecil
= 14 9
= 5
2. Banyaknya Interval kelas
K = 1 + (3,3) log n
= 1 + (3,3) log 15
= 1 + (3,3) 1,17
= 1 + 3,86
= 4,86

3. Panjang Interval Kelas


P = Rentang : Kelas
=5:5
=1
Nilai

Titik Tengah

9 - 10
11 12
13 14
15 16

9,5
11,5
13,5
15,5
Jumlah

Frekuensi
3
5
7
0
15

F
Kumulatif
0
7
15
15

Relatif
0.13
0.33
0.53
0

83

Lampiran. 13
Analisis Uji Normalitas Pemahaman PAUD Kelompok Eksperimen
N
11
12
13
14
15

F
2
2
3
5
3

Zi
-1.73
- 0.99
- 0.24
0.49
1.23

F(Zi)
0.0418
0.1611
0.4052
0.6879
0.8888

S(Zi)
0.1333
0.26667
0.4667
0.8
1

F(Zi) - S(Zi)
0.0915
0.1056
0.0615
0.1121
0.1112

Dari hasil perhitungan didapat Lhitung = 0,1112 dengan


Ltabel untuk n = 15 adalah 0,2200
Jika Lhitung > Ltabel artinya distribusi data tidak normal
Jika Lhitung < Ltabel artinya distribusi data normal
Ternyata Lhitung < Ltabel atau 0,1112 < 0,2200, maka
data berdistribusi data normal
Analisis Uji Normalitas Pemahaman PAUD Kelompok kontrol
N
9
10
11
12
13
14

F
1
2
3
2
4
3

Zi
-1.92
-1.28
-0.64
0
0.64
1.28

F(Zi)
0.0281
0.1003
0.2643
0.5
0.7357
0.8997

S(Zi)
0.6667
0.2
0.4
0.5333
0.8
1

F(Zi) - S(Zi)
0.3857
0.0997
0.1357
0.033
0.0643
0.1003

Dari hasil perhitungan didapat Lhitung = 0.1003dengan


Ltabel untuk n = 15 adalah 0,2200
Jika Lhitung > Ltabel artinya distribusi data tidak normal
Jika Lhitung < Ltabel artinya distribusi data normal
Ternyata l Lhitung < Ltabel atau 0.1003< 0,2200, maka
data berdistribusi data normal

84

Lampiran. 14

Uji Homogenitas Kedua Kelompok Dengan Uji F


1. Homogenitas :

s21 : s22 = 1
s21 : s22 > 1

Keterangan:
S21 = Variant Hasil Tes Pemahaman Kelompok Eksperimen
S22 = Variant Hasil Tes Pemahaman Kelompok Kontrol
2. Menggunakan harga f hitung dan f tabel
Mencari Fhitung
Diketahui:
s21 = 1,811
s22 = 2,43
Fhitung
= s21 : s22
dikarenakan s21 > s22, maka:
Fhitung = s22 : s21
= 2,43 : 1,811
= 1,341
Ftabel untuk = 0,05 dengan derajat kebebasan pembilang n 1 1 =
15 -1 = 14 dan derajat penyebut n2 1 = 15 -1 = 14 adalah
(Ftabel (0,05;19)) = 3,70

85

3. Kriteria pengujian
Terima ho jika Fhitung < Ftabel
Tolak ho jika Fhitung > Ftabel
4. Kesimpulan
Karena jika Fhitung (1,34) < Ftabel (3,70), maka variant data antara
kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol adalah homogen

86

Lampiran. 15
Berdasarkan Tabel Persiapan Analisis Diketahui:
n1 = 15
n2 =15
x1 = 200
x2 = 180
X1 = 13,3
X2
= 12
2
S 1 = 1,811
S22 = 2,43
Rumus t :
x1 x2

thitung =

s12

n1

s22
n2

13,33 12

=
=

1,811 2,43

15
15
1,3
0,120 0,162

1,3
0,282

1,3

= 0,531
thitung

= 2,44

Dari data tersebut diperoleh thitung sebesar 2,44 dan ttabel dengan taraf
signifikansi = 0,05 dengan n= 15 adalah 2,132 maka thitung(2,44) >
ttabel(2,132), artinya terdapat perbedaan antara pemahaman tutor
PKK yang mengikuti pelatihan PAUD sebanyak 3 kali dengan tutor
yang kurang pelatihan.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

87

Vely Aprilianti, lahir di Jakarta 8 April 1983. Anak ketiga dari empat
bersaudara

pasangan

Choedori

dan

Sri.M.Ningsih.

Pendidikan Formal yang ditempuh TK.Mekar Wangi


Jakarta Timur lulus tahun 1989. Pada tahun yang sama
masuk SDN 02 Pagi Ceger, Jakarta Timur lulus tahun
1995. Ditahun yang sama melanjutkan di SLTPN 160
Jakarta Timur, lulus tahun 1998. Pada tahun yang sama
masuk SMUN 58 Jakarta Timur lulus tahun 2001. Kemudian melanjutkan
pendidikan Program Diploma 2 di PGTKI YPKP Jakarta Timur. Lulus tahun
2003. Pada tahun yang sama pula mengikuti seleksi penerimaan mahasiwa
baru dan diterima melalui jalur Alih Program pada Fakultas Ilmu Pendidikan,
Jurusan Pendidikan Anak, Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak
Usia Dini, Universitas Negeri Jakarta.

88

89

90

91

92

93

94

95

96

97

98

99

100

101

Anda mungkin juga menyukai