Anda di halaman 1dari 27

I.

II.
III.
IV.

JUDUL PERCOBAAN
HARI / TANGGAL PERCOBAAN
SELESEI PERCOBAAN
TUJUAN PERCOBAAN

: Inversi Gula
: Senin, 26 Oktober 2015
: Senin, 26 Oktober 2015
: Menentukan orde reaksi dan reaksi inversi

gula menggunakan polarimeter


V. DASAR TEORI
Sukrosa
Sukrosa adalah gula yang kita kenal sehari-hari, baik yang berasal dari tebu
maupun dari bit dan dari buah-buahan lainnay. Dengan hidrolisis sukrosa akan terpecah
dan menghasilkan glukosa dan fruktosa. Sukrosa mempunyai sifat memutar cahaya
terpolarisasi ke kanan. Hasil yang diperleh dari hidrolisis ialah glukosa dan fruktosa
dalam jumlah yang ekuimolekuler. Glukosa memutar cahaya kekanan, sedangkan
fruktosa ke kiri. Dengan demikian pada proses hidrolisis ini terjadi perubahan sudut
putar, mula-mula ke kanan menjadi kekiri, dan oleh karenanya proses ini disebut inversi.
Hasil hidrolisis sukrosa yaitu campuran glukosa dan fruktosa disebut gula invert.
Sukrosa, dikenal sebagai gula meja (table sugar), merupakan disakarida yang
terbentuk dari satu molekul -D-glukosa dan satu molekul -D-fruktosa yang
dihubungkan oleh ikatan -1,2-glikosidik. Gula invert merupakan hasil hidrolisis dari
sukrosa yaitu -D-glukosa dan -D-fruktosa. Hidrolisis terjadi pada larutan dengan
suasana asam atau dengan enzim invertase.
Apabila sukrosa terhidrolisis sempurna,maka akan dihasilkan 52,63% glukosa dan
52,63% fruktosa. Jadi dari hasil reaksi ini ada tambahan padatan terlarut sekitar 5%. Hal
ini tergantung pada derajat inversinya. Mekanisme hidrolisis sukrosa menjadi glukosa
dan fruktosa dapat dilihat pada gambar 1:

Gambar 1. Mekanisme hidrolisis sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa


Glukosa dan fruktosa merupakan karbohidrat sederhana. Keduanya didapat
melalui hidrolisis sukrosa sehingga menjadi satu-satuan glukosa dan satu-satuan
fruktosa. Glukosa yang terdapat pada tumbuhan disistesis oleh karbondioksida melalui

proses fotosintesis yang disimpan sebagai pati yang kemudian diubah menjadi selulosa
yang terdapat dalam kerangka tumbuhan. Glukosa merupakan salah satu aldoheksosa
yang berisomer, merupakan suatu yang penting di alam, baik karena terdapat secara
meluas, maupun perannya yang sangat penting dalam proses biologi.
Laju inversi gula adalah laju reaksi hidrolisa sukrosa menjadi fruktosa dan
glukosa. Inversi gula ini terjadi saat sukrosa dihidrolisis dengan bantuan asam. Sukrosa
atau yang lebih dikenal dengan gula tebu dapat terhidrolisis dengan bantuan asam atau
enzim menghasilkan fruktosa dan glukosa yang sama banyaknya jumlahnya. Proses
hidrolisis ini disebut inversi. Campuran fruktosa dan glukosa yang sama banyak disebut
gula inversi
Gula invert adalah gula yang mengandung glukosa dan fruktosa dengan jumlah
sama (equimolar) yang banyak digunakan dalam industri pangan dan farmasi. Dalam
industri pangan gula invert digunakan sebagai pemanis, pemberi aroma dan pengawet
olahan pangan. Sedangkan dalam industri farmasi, gula invert digunakan sebagai
pemanis pada obat bentuk sirup. Gula invert dihasilkan dari hidrolisis sukrosa baik
secara enzimatik maupun secara kimia dengan katalis asam bebas. Hidrolisis sukrosa
secara enzimatik menghasilkan gula invert yang jernih dan bermutu tinggi, tetapi proses
produksinya memerlukan biaya yang tinggi karena harga enzim mahal.
Istilah laju atau kecepatan sering dibicarakan dalam pelajaran fisika. Pengertian
laju dalam reaksi sebenarnya sama dengan laju pada kendaraan yang bergerak.Reaksi
kimia menyangkut perubahan dari suatu pereaksi (reaktan) menjadi hasilreaksi
(produk), yang dinyatakan dalam persamaan reaksi:
Pereaksi (reaktan) Hasil reaksi (produk)
Dengan cara fisis penentuan konsentrasi dilakukan secara langsung, yaitu
berdasar sifatsifat fisis campuran yang dipengaruhi oleh konsentrasi campuran,
misalnya daya hantar listrik, tekanan, adsorbsi cahaya, dan sebagainya. Penentuan
secara kimia dilakukan dengan menghentikan reakis secara tiba tiba (reaksi
dibekukan) setelah selang waktu tertentu, kemudian konsentrasinya dihitung dengan
analisis kimia. Laju reaksi akan menurun dengan bertambahnya waktu. Hal ini
menunjukkan adanya hubungan antara konsentrasizat yang tersisa saat itu dengan laju
reaksi sehingga dapat dikatakan umumnya laju reaksi tergantung pada konsentrasi awal
dari zat-zat pereaksi, pernyataan ini dikenal sebagai Hukum Laju Reaksi atau
Persamaan Laju Reaksi
mA + nB oC + pD

Dalam persamaan laju reaksi dapat dituliskan


v = k [A]m [B]n
dimana, v = laju reaksi (m/detik)
k = konstanta tetapan laju reaksi (L/mol.detik)
[A] = konsentrasi zat A (mol/L)
[B] = konsentrasi zat B (mol/L)
m = tingkat reaksi (orde reaksi) terhadap A
n = tingkat reaksi (orde reaksi) terhadap B
Tingkat reaksi total adalah jumlah total dari tingkat reaksi semua pereaksi.
Tingkat reaksi nol (0) berarti laju reaksi tersebut tidak terpengaruh olehkonsentrasi
pereaksi, tetapi hanya bergantung pada harga tetapan laju reaksi (k).hargak tergantung
pada suhu, jika suhunya tetap harga k juga tetap. Untuk mengetahui hubungan
pereaksi dengan reaktan, digunakan orde reaksi yang diperoleh dari perhitungan
konsentrasi sehingga grafik yang diperoleh berbentuk grafik perpangkatan.Harga k
tergantung pada tingkat (orde) reaksi totalnya.
Orde reaksi
Reaksi yang memiliki kecepatan reaksi tetap dan tidak dipengaruhi konsentrasi
reaktan. Kecepatan reaksi dipengaruhi / ditentukan oleh intensitas katalis.
Apabila ditunjukkan dengan grafik antara laju reaksi terhadap konsentrasi,
maka diperoleh grafik sebagai berikut :
Grafik orde reaksi

A. Grafik orde reaksi nol, dengan persamaan garisnya v = k [x]0 = k


B. Grafik orde reaksi satu , dengan persamaan garisnya v = k [x] = k [x]
1

C. Grafik orde reaksi dua, dengan persamaan garisnya v = k [x]

Sukrosa sendiri bersifat dextrorotary yaitu memutar sudut putar jenis +66,5.
Dalam percobaan ini kita akan menentukan laju reaksi inversi gula tebu atau sukrosa
dengan adanya katalis dengan menggunakan polarimeter. Dengan demikian apabila
sukrosa semakin habis rotasi akan semakin berubah ke arah kiri. Perbedaan aljabar
antara rotasi pada waktu permulaan reaksi (ao) dengan akhir reaksi (a) adalah ukuran
dari konsentrasi mulamula sukrosa. Dengan menganggap bahwa reaksi berjalan
sempurna sehingga secara praktis tak ada sukrosa yang tertinggal pada akhir reaksi (t =
). Pada setiap saat t, konsentrasi sukrosa yang tersisa adalah c dan dapat dihitung dari
selisih antara pembacaan polarimeter akhir () dengan pembacaan polarimeter pada
saat t, tersebut (t).
Inversi Gula
Karbohidrat merupakan senyawa karbon, hidrogen dan oksigen yang terdapat
dalam alam. Karbohidrat sangat beranekaragam sifatnya. Misalnya, sukrosa (gula pasir)
dan kapas, keduanya adalah karbohidrat. Salah satu perbedaan utama antara berbagai
tipe karbohidrat ialah ukuran molekulnya. Gula merupakan zat optis aktif. Bila cahaya
terpolarisasi linier jatuh pada bahan optis aktif, maka cahaya yang keluar bahan akan
tetap terpolarisasi linier dengan arah bidang getar terputar terhadap arah bidang getar
semula. Sifat optis aktif zat dispesifikasikan dengan sudut putar jenis. Sudut
putarbidang polarisasi sebanding dengan sudut putar jenis dan konsentrasi bila
sudutputar jenis diketahui dan sudut putar bidang polarisasi dapat diukur,
makakonsentrasi (kadar) zat optis aktif dapat ditentukan (hal ini merupakan prinsip
yang digunakan untuk menentukan kadar zat optis. Gula inversi adalah campuran Dglukosa dan D- fruktosa yang diperoleh dengan hidrolisis asam atau enzimatik dari
sukrosa. Enzim yang mengkatalishidrolisis sukrosa disebut invertase,bersifat spesifik
untuk ikatan -D fruktofuranosida dan terdapat dalam ragi dan lebah (madu terutama
terdiri darigula inversi). Berdasarkan teori bahwa mayoritas gula adalah glukosa dan
fruktosa membelokkan cahaya ke kiri.Gula yang terdiri dari Sukrosa maupun Glukosa
memutar cahaya ke kanan. Sukrosa memiliki rotasi +66,5 (positif) produk yang
dihasilkan glukosa []= +52,7 dan fruktosa [] = -92,4o mempunyairotasi netto
negatif. Dengan mengetahui pembelokan cahaya yang dihasilkan olehlarutan gula,
dapat di analisa jenis/komposisi gula yang ada dalam larutan tersebut.
Sudut putar jenis dapat dihitung :

Kinetika reaksi inversi gula merupakan reaksi orde satu terhadap sukrosa.Dalam
larutan gula yang netral (pH=5) reaksi hidrolisa gula mempunyai waktu paruh10
minggu. Sedangkan didalam larutan asam, dengan adanya katalis ion H+, waktuparuh
tersebut lebih pendek. Hukum laju reaksi inversi gula tersebut dapatdiungkapkan
sebagai berikut:
R = - d (gula) / dt = k (H+)(H2O)(gula)
Reaksi hidrolisis dari percobaan:
C11H22O11 + H2O (l) C6H12O6 (aq) + C6H12O6 (aq)
Reaksi ini disebut juga orde reaksi satu pseudo.Orde reaksi dari inverse gula
merupakan orde ke satu. Pada reaksi ini laju reaksi hanya tergantung pada satu
kosentrasi saja yaitu [C12H22O11] sedangkan H2O tidak berpengaruh dalam reaksi
tersebut. Sehingga dapat di rumuskansebagai berikut Laju = k [C12H22O11]

Cara Penggunaan Polarimeter


Cara penggunaan berikut adalah cara pada Zeiss Polarimeter, tetapi secara
umum cara penggunaan polarimeter manapun adalah sama. Untuk memulai
penggunaan polarimeter pastikan tombol power pada posisi on dan biarkan selama 5-10
menit agar lampu natriumnya siap digunakan. Selalu mulai dengan menentukan
keadaan nol (zero point) dengan mengisi tabung sampel dengan pelarut saja. Keadaan
nol ini perlu untuk mengkoreksi pembacaan atau pengamatan rotasi optik. Tabung
sampel harus dibersihkan sebelum digunakan agar larutan yang diisikan tidak
terkontaminasi zat lain.
Pembacaan/pengamatan bergantung kepada tabung sampel yang berisi
larutan/pelarut dengan penuh.Perhatikan saat menutup tabung sampel, harus dilakukan
hati-hati agar di dalam tabung tidak terdapat gelembung udara. Bila sebelum tabung
diisi larutan didapat keadaan terang, maka setelah tabung diisi larutan putarlah
analisator sampai didapat keadaan terang kembali. Sebaliknya bila awalnya keadaan
gelap harus kembali kekeadaan gelap. Catat besarnya rotasi optik yang dapat terbaca
pada skala. Tetapi jangan hanya besar rotasi optiknya, arah rotasinya juga harus dicatat

searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam. Lakukan pembacaan berkali-kali
sampai diperoleh nilai yang dapat dirata-ratakan.
VI.

ALAT DAN BAHAN


1. Alat:
- Polarimeter dan komponennya
- Gelas ukur 25 mL
- Gelas kimia
- Stopwatch
2. Bahan:
- Larutan gula 10%
- Aquades
- Larutan HCl 2N

VII. ALUR PERCOBAAN


1. Persiapan alat
Aparatus polarimeter
Disiapkan
Tabung dlam bak polarimeter
dikeluarkan
Dicuci bersih/ dibilas dengan
pelarut yang akan digunakan
Alatdikeringkan
siap digunakan
2. Penentuan titik nol pelarut
Air
Dimasukkan dalam kuvet
Dimasukkan dalam bak
polarimeter
Dibaca skalanya

Titik nol pelarut

3. Pengukuran sudut putar jenis sampel


Sampel larutan gula
Dimasukkan dalam kuvet
Diukur sudut putarnya
dengan waktu
(5,10,15,20,25,30,35,40,4
5, 50,55,60 )menit
Besar sudut putaran

1 buah
1 buah
1 buah
1 buah

4. Pengukuran sudut putar jenis sampel dari waktu kewaktu

Larutan gula + 10
mL HCl 2 N
Dimasukkan dalam kuvet
Diukur sudut putarnya dalam
waktu
(5,10,15,20,25,30,35,40,4
5,50,55,60) menit
Besar sudut putar

VIII. HASIL PENGAMATAN


No.Perc
1.

Prosedur Percobaan
Persiapan alat
Aparatus polarimeter
Disiapkan
Tabung dlam bak polarimeter
dikeluarkan

Hasil Pengamatan
Sebelum
Sesudah
Aquades : larutan Aquades + gula :
tak berwarna
Gula : kristal
berwarna putih
HCl : larutan ta
berwarna

Dugaan / Reaksi
HO

Gula merupakan

HO
OH

larutan homogen
(larutan gula 5%)
Gula +
aquades+HCl 2 N:
larutan tak berwarna

senyawa yang bersifat


zat optik aktif sehingga

O
O

OH

dapat memutar bidang

HO

HO

polarisasi

OH
OH

sucrose

Dicuci bersih/ dibilas dengan


pelarut yang akan digunakan
dikeringkan
Alat siap digunakan

glucose

Inversi gula berorde 1


2.

Penentuan titik nol pelarut


Air
Dimasukkan dalam kuvet
Dimasukkan dalam bak
polarimeter
Dibaca skalanya

Titik nol pelarut

Aquades :
larutan tak
berwarna
Larutan gula :
larutan kuning
jernih

Aquades dibaca
skalanya pada
polarimeter sebesar
71,15

Kesimpulan

fructose

3.

Pengukuran sudut putar jenis sampel


Sampel larutan gula
Dimasukkan dalam kuvet
Diukur sudut putarnya
dengan waktu
(5,10,15,20,25,30,35,40,4
5, 50,55,60 )menit

Gula : kristal
berwarna putih
Aquades :
larutan tak
berwarna
Massa gula : 5

5 gram gula + 45
gram aquades :

C6H22O11 (s) + H2O (l)


C6H22O11 (aq)

larutan tak berwarna


(larutan gula 10 %
Sudut putar skala :
95,2

gram
Massa air : 45
gram

Besar sudut putaran


4.

Pengukuran sudut putar sampel dari


waktu ke waktu
Larutan gula + 10
mL HCl 2 N
Dimasukkan dalam kuvet
Diukur sudut putarnya dalam
waktu
(5,10,15,20,25,30,35,40,4
5,50,55,60) menit
Besar sudut putar

Larutan gula 10
% : larutan tak
berwarna
HCl 2N : larutan
tak berwarna

Larutan gula 10%


+ HLCl 2 N :
larutan tidak
berwarna
Skala pada waktu:
t(waktu) skala
5
73,7
10
70,55
15
68,55
20
66,1
25
64,1
30
59,4
45
55,6
50
53,075
55
50,95
60
48,925
R2 orde 1 :0,9933
R2 orde 2 :0,99

C6H22O11 (aq)

HCl

(aq) + C6H22O6 (aq)

C6H22O6

Grafik yang
diperoleh didapatkan
R2 = 0,9933 Untuk
orde 1. Sehingga
larutan sukrosa
termasuk dalam orde
1

R2 orde 3 :0,9813

IX. ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Pada percobaan ini bertujuan untuk menentukan orde reaksi dan reaksi inversi
gula dengan menggunakan polarimeter.
Langkah pertama, yaitu menyiapkan seperangkat alat apparatus polarimeter.
Tabung kuvet dalam bak polarimeter dikeluarkan dan dicuci hingga bersih atau dibilas
dengan menggunakan pelarut yang akan digunakan. Fungsi pencucian dengan pelarut
yang akan digunakan yaitu untuk menghindari adanya sisa larutan agar skala yang
diperoleh bersifat murni.
Selanjutnya membuat larutan gula 10% yaitu dengan menimbang gula pasir
(kristal berwarna putih) sebanyak 5 gram dan air aquades (cairan tidak berwarna)
sebanyak 45 gram. Gula yang ditimbang dimasukkan ke dalam gelas kimia dengan
ditambahkan aquades yang sudah ditimbang, kemudian dikocok hingga larut menjadi
larutan yang homogen (larutan tidak berwarna).
Penentuan titik nol pelarut
Dalam percobaan ini bertujuan untuk menentukan titik nol pelarut. Pelarut
yang digunakan adalah aquades. Aquades dimasukkan kedalam tabung kuvet dengan
dan diusahakan tidak ada gelembung udara yang ikut didalam tabung kuvet yang
berisi aquades tersebut, agar hasil pengamatan yang diperoleh lebih akurat. Tabung
kuvet yang berisi air dimasukkan kedalam bak polarimeter, kemudian dibaca skala
yang ditunjukkan pada polarimeter. Pada pengamatan ini diketahui putaran yang
diamati pada aquades yaitu sebesar 71,15.
Penentuan sudut putar jenis sampel
Dalam percobaan ini bertujuan untuk menentukan sudut putar jenis sampel.
Sampel yang digunakan adalah larutan gula 10%. Tabung kuvet yang berisi aquades
dikeluarkan dari bak polarimeter, dan dikosongkan. Kemudian Larutan gula 10%
yang sudah dibuat diawal, dimasukkan kedalam tabung kuvet dan dimasukkan
kedalam bak polarimeter. Saat pengisihan larutan gula 10% dalam tabung kuvet,
diusahakan tidak ada gelembung udara yang ikut didalam tabung kuvet yang berisi
larutan gula 10% tersebut, agar hasil pengamatan yang diperoleh lebih akurat,
kemudian dibaca skala yang ditunjukkan pada polarimeter. Pada pengamatan ini
diketahui putaran yang diamati pada sampel larutan gula 10% yaitu sebesar 95,2.
Penentuan sudut putar sampel dari waktu ke waktu

Dalam percobaan ini bertujuan untuk untuk menentukan sudut putar sampel dari
waktu ke waktu. Prosedur percobaan yang harus dilakukan sama dengan percobaan
sebelumnya, namun sampel yang digunakan yaitu larutan gula 10% ditambah dengan 10
mL HCl 2N. Fungsi penambahan HCl ini adalah untuk mempercepat reaksi hidrolisis
gula. Kemudian sampel dimasukkan dalam kuvet dan dan dimasukkan dalam bak
polarimeter untuk diidentifikasi sudut putarnya. Dari percobaan yang telah dilakukan
didapatkan data sudut putar gula dari waktu ke waktu. Dari data sudut putar yang
diperoleh dari percobaan kemudian dilakukan perhitungan sudut putar jenis sampel yaitu
dengan rumus :

[] =
Sehingga didapatkan data sudut putar jenis sampel :
Data ke-

Skala

[]

300

73,7

337.4542

10

600

70,55

323.0311

15

900

68,55

313.8736

20

1200

66,1

302.6557

25

1500

64,1

293.4982

30

1800

59,4

271.978

45

2700

55,6

254.5788

50

3000

53,075

243.0174

55

3300

50,95

233.2875

10

60

3600

48,925

224.0156

Waktu (menit)

Waktu (detik)

Kemudian ditentukan reaksi yang terjadi termasuk orde 1, 2 atau 3

Orde 1

Data ke-

Waktu (menit)

Waktu (detik)

a-x

ln (a-x)

300

337.4542

5.82143

10

600

323.0311

5.777749

15

900

313.8736

5.74899

20

1200

302.6557

5.712596

25

1500

293.4982

5.681872

30

1800

271.978

5.605721

45

2700

254.5788

5.53961

50

3000

243.0174

5.493133

55

3300

233.2875

5.452272

10

60

3600

224.0156

5.411716

Waktu (detik)

(a-x)

1/(a-x)

Orde 2
Data ke-

Waktu (menit)

300

337.4542

0.002963

10

600

323.0311

0.003096

15

900

313.8736

0.003186

20

1200

302.6557

0.003304

25

1500

293.4982

0.003407

30

1800

271.978

0.003677

45

2700

254.5788

0.003928

50

3000

243.0174

0.004115

55

3300

233.2875

0.004287

10

60

3600

224.0156

0.004464

Orde 3

Data ke- Waktu (menit)

Waktu (menit)

(a-x)

1/2(a-x)^2

300

337.4542

56937.6685

10

600

323.0311

52174.5458

15

900

313.8736

49258.3184

20

1200

302.6557

45800.2364

25

1500

293.4982

43070.5967

30

1800

271.978

36986.0162

45

2700

254.5788

32405.1827

50

3000

243.0174

29528.7284

55

3300

233.2875

27211.5288

10

60

3600

224.0156

25091.4945

Berdasarkan grafik yang didapatkan, diperoleh R2 (tingkat kemiringan/ slope).


Untuk orde 1, R2 = 0,9933 ; orde 2, R2 =0,99 sedangkan untuk grafik orde 3 adalah

0,9813. Sehingga orde reaksinya adalah 1 karena R2 nya paling mendekati satu yakni
R2 = 0,9933. Berdasarkan grafik tersebut (orde 1) didapatkan persamaan dalam bentuk
y, yaitu : y = -0,0001x+5,854.
Selain dengan metode grafik dapat pula menggunakan metode non grafik yakni:
orde 1 dengan rumus : k t = ln ln (a-x)
orde 2 dengan rumus :

orde 3 dengan rumus :


Berdasarkan pada perhitungan tersebut peroleh nilai k yang mendekati satu
yaitu orde satu. Pada perhitungan grafik dan non-grafik memberikan hasil yang sama
dengan nilai k yang mendekati satu yaitu orde 1.

X. KESIMPULAN
Berdasarkan pada percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan, bahwa:
1. Penentuan sudut putar sampel dari waktu ke waktu, dengan sampel larutan gula yang
ditambah denga larutan HCl 2 N, yaitu memiliki sudut putar yang relatif turun dari
waktu ke waktu.
2. Dari data percobaan, diperoleh grafik dengan kemiringan R2 = 0,9933. Sehingga
percobaan yang telah dilakukan merupakan reaksi orde 1. Hal ini dinyatakan sesuai
dengan teori yang menyatakan bahwa pada kinetika reaksi inversi gula merupakan
reaksi orde 1 terhadap sukrosa.

XI. JAWABAN PERTANYAAN


1. Apa fungsi penambahan larutan HCl?
Jawab:
Larutan HCl sebagai berfungsi sebagai katalis yang digunakan untuk
mempercepat reaksi inversi gula (perputaran kekiri) dan untuk menghidrolisis
sukrosa. Penambahan HCl berfungsi sebagai pemberi suasana asam dan katalis yang
dapat mempercepat reaksi hidrolisis atau terurainya sukrosa menjadi glukosa dan
fruktosa, dimana pada akhir reaksi akan terbentuk kembali (tidak ikut bereaksi).
2. Berikan sedikitnya 3 contoh zat optis selain gula dan berapa sudut putarnya
berdasarkan kajian pustaka dan pengamatan anda?
Jawab :
Alkaloid, komponen minyak atsiri, antibiotika.
3. Berapa sudut putar larutan sukrosa, larutan glukosa, dan larutan fruktosa
berdasarkan kajian pustaka anda?
Jawab :
Sukrosa mempunyai rotasi jenis +66,5, suatu rotasi positif. Campuran produk
antara glukosa, []= +52,7 dan fruktosa []= -92,4

XII. DAFTAR PUSTAKA


Achmad, Hiskia. 2001. Elektrokimia dan Kinetika Kimia. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Anoim.2012.Laju Inversi Gula. (Online). (http://dokumen.tips/documents/, diakses pada 30
Oktober 2015 pukul 20.15 WIB).
Anonim. 2012. Polarimeter. (Online). (http://www.wikipedia.org, diakses pada 30 Oktober
2015 pukul 19.47 WIB).
Atkins, P.W. 1990. Kimia Fisika jilid 2 edisi ke empat. Jakarta : Erlangga
Ayu, Devita.2009.Kimia Fisika III Inversi Gula. (Online). (http://www.scribd.com/doc/,.
diakses pada 30 Oktober 2015 pukul 19.00 WIB).
Fessenden, R.J. dan Fessenden, J.S.1992. Kimia Organik. Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Keenan, C.W. dkk. 1996. Kimia untuk Universitas Edisi 3 jilid 1. Jakarta: Pudjaatmaka.
Erlangga
Sastrohamidjojo, H. 2001. Kimia Dasar. Yogyakarta: UGM

Tim Dosen Kimia Fisika. 2015. Panduan Praktikum Kimia Fisika III. Surabaya: Jurusan
Kimia FMIPA UNESA

LAMPIRAN POTO
INVERSI GULA
No

Alur Kerja

Gambar
Persiapan Alat

Keterangan

Menyiapkan alat

Menyiapkan alat

dan bahan

percobaan:

percobaan.

Membilas kuvet
menggunakan

Penentuan Titik Nol Pelarut


Menambahkan
aquades
kedalam kuvet

Gelas kimia
Gelas ukur
Spatula
Polarimeter
Kuvet

Aquades diisi

Kuvet terisi penuh

kedalam kuvet

dengan aquades

Kuvet yang
berisi aquades
dimasukkan
kedalam
polarimeter

Membaca skala

Besar skala pada

air pada

polarimeter sebesar

polarimeter

71,15o

Pengukuran Sudut Putar Jenis Sampel

Menimbang

Gula berupa serbuk

gula untuk

berwarna putih

dipakai sebagai

kekuningan. Berat

larutan gula

gula yang ditimbang

10%

sebesar 2,5004gram

Mengambil

Aquades: larutan

aquades untuk

jernih tak berwarna

melarutkan gula

Memasukkan

Larutan jernih tak

kristal gula

berwarna dan

kedalam gelas

terdapat endapan

kimia yang

kristal

berisi aquades.

Larutan gula

larutan jernih

setelah diaduk

kekuningan

Larutan gula

Besar sudut putar

diukur sudut

larutan gula:

putarnya

1. Bagian tengah

menggunakan
polarimeter

terang sebesar
63,5
2. Bagian tengah
gelap sebesar

126,5
Pengukuran Sudut Putar Sampel dari Waktu ke Waktu
Larutan gula
10% + dengan
10mL HCl 2N
Larutan gula
10% + 10mL
HCl 2N
dimasukkan
kedalam kuvet

Mengukur sudut
putar larutan
gula 10% +
10mL HCl 2N
menggunakan
polarimeter
Sudut putar

Besar sudut putar

larutan gula

larutan gula 10% +

10% + 10mL

10mL HCl 2N pada

HCl 2N pada

waktu 300 detik:

waktu 300 detik

1. Bagian tengah
terang : 42,2
2. Bagian tengah

Sudut putar

gelap : 105,2
Besar sudut putar

larutan gula

larutan gula 10% +

10% + 10mL

10mL HCl 2N pada

HCl 2N pada

waktu 720 detik:

waktu 720 detik

1. Bagian tengah
terang : 39,2
2. Bagian tengah
Bagian Tengah Terang

gelap : 101,9

Sudut putar

Besar sudut putar

larutan gula

larutan gula 10% +

10% + 10mL

10mL HCl 2N pada

HCl 2N pada

waktu 1020 detik:

waktu 1020

1. Bagian tengah

detik

terang : 38,05
2. Bagian tengah
Bagian Tengah Terang

gelap : 99,05

Bagian Tengah Gelap


Sudut putar

Besar sudut putar

larutan gula

larutan gula 10% +

10% + 10mL

10mL HCl 2N pada

HCl 2N pada

waktu 1320 detik:

waktu 1320

1. Bagian tengah

detik

terang : 36,1
2. Bagian tengah
Bagian Tengah Terang

gelap : 96,1

Bagian Tengah Gelap


Sudut putar

Besar sudut putar

larutan gula

larutan gula 10% +

10% + 10mL

10mL HCl 2N pada

HCl 2N pada

waktu 1500 detik:

waktu 1500

1. Bagian tengah

detik

terang : 34,9
2. Bagian tengah
Bagian Tengah Terang

gelap : 93,3

Bagian Tengah Gelap


Sudut putar

Besar sudut putar

larutan gula

larutan gula 10% +

10% + 10mL

10mL HCl 2N pada

HCl 2N pada

waktu 1860 detik:

waktu 1860

1. Bagian tengah

detik

terang : 32,1
2. Bagian tengah
Bagian Tengah Terang

gelap : 86,7

Bagian Tengah Gelap


Sudut putar

Besar sudut putar

larutan gula

larutan gula 10% +

10% + 10mL

10mL HCl 2N pada

HCl 2N pada

waktu 2700 detik:

waktu 2700

1. Bagian tengah

detik

terang : 29,1
2. Bagian tengah
Bagian Tengah Terang

gelap : 82,1

Bagian Tengah Gelap


Sudut putar

Besar sudut putar

larutan gula

larutan gula 10% +

10% + 10mL

10mL HCl 2N pada

HCl 2N pada

waktu 3000 detik:

waktu 3000

1. Bagian tengah

detik

terang : 28,1
2. Bagian tengah
Bagian Tengah Terang

gelap : 78,05

Bagian Tengah Gelap


Sudut putar

Besar sudut putar

larutan gula

larutan gula 10% +

10% + 10mL

10mL HCl 2N pada

HCl 2N pada

waktu 3480 detik:

waktu 3480

1. Bagian tengah

detik

terang : 26,8
2. Bagian tengah
Bagian Tengah Terang

gelap : 75,1

Bagian Tengah Gelap


Sudut putar

Besar sudut putar

larutan gula

larutan gula 10% +

10% + 10mL

10mL HCl 2N pada

HCl 2N pada

waktu 3600 detik:

waktu 3600

1. Bagian tengah

detik

terang : 25,1
2. Bagian tengah
Bagian Tengah Terang

Bagian Tengah Gelap

gelap : 72,75