Anda di halaman 1dari 2

PERTANYAAN: tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pe-

Apa hukum seseorang yang shalat di masjid na- langgaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah,
mun memakai baju bermotif kembang-kembang? sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”
Bagaimana hukum meminjam uang masjid untuk Edisi 11 Tahun I / 3 Rabi’ul Tsani 1431 / 19 Maret 2010 (Dwi Pekanan)
seseorang yang sangat membutuhkan karena Keumuman ayat ini untuk saling tolong-
anaknya sakit? Apa hukumnya orang yang berhu- menolong dalam hal kebaikan maka kesimpu-
tang uang masjid? Tolong sertakan haditsnya. lannya selama untuk hal kebaikan meminjam ْ

(Hamba Allah)
uang masjid tidak menjadi soal. Kejujuran Hati
JAWAB: PERTANYAAN:
Selama pakaian tersebut menutup aurat Apa hukumnya orang yang mendonorkan salah {'() * +}   

      
  
   !" #
 
$ 
% &' () #
 
$ 
&' *
 +
tidak menjadi soal, yang bermasalah adalah jika satu organ tubuhnya kepada orang lain? Dan bila
itu menolong orang apakah mendapatkan pa- “Tinggalkanlah apa yang kau ragukan dan kerjakanlah apa yang tidak kau ragukan.
baju yang dipakai itu mempunyai tulisan yang Sesungguhnya jujur itu menimbulkan ketenangan dan dusta itu menimbulkan kebimbangan”
memungkinkan orang yang berada dibe- hala?
(Kiki—Puslatpur) (HR. At-Turmudzy)
lakangnya membacanya, itu dianjurkan tidak di-
pakai karena pakaian semacam itu akan me- JAWAB: ingar-bingar kehidupan dunia dengan segala kemajuan dan kecanggihannya terkadang
mungkinkan menyebabkan ketidak khusu’an ja- membuat kita lupa akan tujuan hidup. Ketatnya persaingan duniawi membuat kita gelap mata
ma’ah lain yang ada dibelakangnya. Mendonorkan anggota tubuh kita kepada
orang lain merupakan kebaikan karena telah terhadap kebenaran. Silaunya harta melupakan kita akan kilauan mutiara yang teramat ma-
Hukum pasti boleh dan tidak boleh me- hal harganya yang tersimpan di dalam hati yaitu kejujuran.
menolong dan menyelamatkan jiwa orang lain.
makai pakaian kotak-kotak atau bermotif kem- Islam mengajarkan kita untuk meyakini sesuatu dengan sepenuh hati, tidak separuh-separuh,
Hal ini berdasar kepada QS. Al-Maidah : 2 diatas.
bang-kembang, saya belum pernah menemukan karena hal ini akan menimbulkan keraguan, dan keraguan akan menyebabkan seseorang tidak mak-
Namun harus memperhatikan hal-hal berikut:
dalil yang qoth’i. simal dalam melakukan suatu pekerjaan. Keyakinan yang penuh di dalam hati akan mendorong se-
1. Jika dengan ia mendonorkan salah satu
seorang bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu karena hal itu sudah ia yakini sepenuhnya
Hukum pinjam meminjam/hutang piutang anggota badannya ia menjadi sengsara, maka
di dalam hati.
dalam Islam diperbolehkan, meskipun yang dipin- ia telah berlaku dzalim terhadap dirinya
jam adalah uang masjid. Apalagi jika memang sendiri, dan kedzaliman itu dilarang oleh Allah Memang benar, neraca kebenaran itu bukan berasal dari hati tetapi dari Al-Qur’an dan As-
yang meminjam sangat membutuhkan seperti SWT meskipun terhadap diri sendiri. Sunnah, namun qolbun hay (hati yang hidup) akan mudah menerima kebenaran walau harus mene-
untuk mengobati keluarga yang sakit. Yang men- 2. Jika niat mendonorkan anggota badan karena rima konsekuensi yang berat. Karena hati yang hidup akan menjunjung nilai-nilai kebenaran dan
jadi masalah jika yang meminjam tidak mau kejujuran yang sudah nampak jelas di depan mata.
ingin mendapatkan sejumlah uang berarti
mengembalikan, atau uang masjid tersebut lagi telah memperjual-belikan anggota badannya, Hati akan selalu berkata jujur, dan tidak akan pernah bohong, karena itulah fitrah hati, sebagai
dibutuhkan untuk keperluan masjid. dan hal ini juga tidak diperbolehkan. suatu anugerah besar yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Semanis apapun kata yang keluar
Akan tetapi jika ada uang lain, maksudnya dari mulut jika itu bohong, maka hati tidak akan bisa tenang, namun sepahit apapun perkataan jika
pemberi pinjaman yang lain maka lebih baik yang disampaikan itu mengandung kebenaran, maka hati akan tenang dan lisan akan ringan dalam
meminjam uang selain uang masjid. Hal ini di- menyampaikannya. Itulah hati, ia tidak bisa dibohongi dengan perbuatan dan tutur kata yang indah,
Dijawab oleh: karena dampaknya adalah keraguan dan perasaan berdosa yang terus menghantui pelakunya.
dasarkan pada perintah Allah QS. Al-Maidah : 2; Ustadz Mualim, S.H.I.
(Staf Pengajar di Ponpes. Maryam Muraith, Kota Baru)
Seseorang yang tidak pernah mendengarkan kata hatinya dalam mengambil sikap dan bertu-
 
          
    … tur kata berarti ia telah membunuh kujujuran secara perlahan-lahan, dan apabila ini terus terjadi
maka akan membuat hatinya mati (qalbun mayyit). Mati dari nilai-nilai kebenaran dan kejujuran
karena perkataannya tidak pernah didengar, selalu diingkari dan diabaikan. Dan ketika hati menjadi

          !   "   #   $ % &  mati, maka cahaya kebenaran akan redup, akal tidak bisa berfikir secara rasional dan akan menggir-
ing tuannya menuju kesesatan.
“… Dan tolong-menolonglah kamu dalam Benarlah apa yang disabdakan Rasulullah SAW di atas, yang menyuruh kita berhati-hati dan
(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan menjauhi apa-apa yang membuat kita ragu (kebenarannya), dalam hadits yang lain Rasulullah SAW
menyuruh kita untuk meninggalkan hal-hal yang subhat (yang samar-samar antara haq dan bathil),
Buletin Jum’at Dwi Pekanan SERUAN AL-
AL-JANNAH karena Islam menghargai suara hati yang disebut nurani yang sulit menerima sesuatu yang samar-
Diterbitkan oleh: SMA Negeri 3 Unggul Martapura Penanggung Jawab: Hj. Siti Suhartini, S.Pd.,MM. (Kepala SMAN 3 Unggul Martapura)
Pemimpin Redaksi: Apri Gunawan,S.Pd.I. Staf Redaksi: Joko Purwadi,S.Pd. Drs.Nurudin Subud. Lasirin,S.Ag. Pengasuh Rubrik: Ust.M.Muslih. samar dan meragukan.
KH.Umar Habibie. Ust.Supriono. H.M.Kastawi,Lc. Ust.Dewantoro. Ust.H.Amirul Mu’minin,S.Ag. Ust.Syukur. M. Fathoni,MT. H. Syaiful Anwar,M.Hum. Semoga Allah memberikan kita hidayah iman agar hati kita bisa menerima kebenaran dan
Eriyono,S.Ag. Mualim,S.H.I. Yan Safari,S.Si. Editor: Pase Hulisan,S.Pd. Layout: Lukman,S.Pd. Sujarnoto Keuangan: Prasetiyo Widodo,S.Pd.
melaksanakan perkara-perkara yang telah disyariatkan dengan sepenuh hati, dan tidak mengingkari
Sirkulasi: Feizal Fathurrahman & Juliyus SetpanDistribusi: OSIS & ROHIS SMAN 3 Unggul Martapura. E-mail: al_jannah01@yahoo.co.id
Markaz: Masjid Al-Jannah (Komp. SMAN 3 Unggul Martapura) Jl.Lintas Sumatera Kota Baru Selatan Martapura OKU Timur Sumatera Selatan, 32181
kejujuran yang ada di dalam hati serta memberikan kekuatan kepada kita untuk menjaga kesucian
Kritik, Saran, Pertanyaan, dan Info berlangganan hubungi 085669781770 atau langsung ke Markaz hati dari hal-hal yang mengotorinya. Istafti Qolbak!

Himbauan : Mohon untuk tidak dibaca saat Khotib menyampaikan Khutbah Jum’at & tidak tercecer mengingat ada ayat-ayat Al-Qur’an di dalamnya
5. Risywah yang diperbolehkan hakim, pejabat dan pegawai penarik retribusi.” (al-
Pada prinsipnya risywah hukumnya haram Qurtubi 2/340). Hadits Rasulullah Saw, “Hadiah
namun mayoritas ulama membolehkan Risywah kepada pejabat adalah penyelewengan.” (HR
yang dilakukan untuk mendapatkan haknya atau Ahmad)
isywah menurut bahasa berarti: “pemberian Shadaqah yaitu pemberian yang diberikan untuk mencegah kezhaliman orang lain, namun b. Hakim
yang diberikan seseorang kepada hakim kepada seseorang karena mengharapkan ridha dan dosanya tetap ditanggung oleh orang yang mene- Pemberian yang diberikan kepada hakim
atau lainnya untuk memenangkan perkaranya pahala dari Allah swt. Seperti zakat ataupun infaq rima suap (al-murtasyi). (Kasyaful Qina’ 6/316, Niha- adalah haram menurut kesepakatan para ulama,
dengan cara yang tidak dibenarkan atau un- sunnah. Perbedaannya dengan risywah adalah yatul Muhtaj 8/243, al-Qurtubi 6/183, Ibnu Abidin karena termasuk SUHT (yaitu yang haram yang
tuk mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan ke- orang yang bersedekah memberikan sesuatu 4/304, al-Muhalla 8/118, Matalib Ulin Nuha 6/479). tidak boleh di konsumsi maupun digunakan seba-
hendaknya.” (al-Misbah al-Munir/al-Fayumi, al- karena mengharapkan pahala dan ridha dari Allah
6. Pembagian Risywah gai insvestasi).
Muhalla/Ibnu Hazm). Atau “pemberian yang diberi- semata, sedangkan ar-rasyi dalam pemberiannya
kan kepada seseorang agar mendapatkan kepentin- mengharapkan kepentingan duniawi. Imam Hanafi membagi risywah dalam 4 c. Mufti
gan tertentu” (Lisanul arab, dan mu’jam wasith). 3. Hukum risywah (empat) bagian : Haram bagi seorang mufti menerima suap
Sedangkan menurut istilah risywah berarti: Dari definisi di atas ada dua sisi yang saling 1. Memberikan sesuatu untuk mendapatkan pang- untuk memberikan fatwa atau putusan hukum se-
“pemberian yang bertujuan membatalkan yang terkait dalam masalah risywah; ar-rasyi (si penyo- kat dan jabatan hukumnya adalah haram, baik suai yang diinginkan mustafti (yang meminta fatwa).
benar atau untuk menguatkan dan memenangkan gok) dan al-murtasyi (si penerima sogokan), yang bagi si pemberi maupun bagi si penerima. (ar-Raudhah 11/111, Asnaa al-Mutahalib 4/284)
yang salah.” (At-Ta’rifat/al jurjani: 148). dua-duanya sama-sama diharamkan dalam Islam 2. Memberikan sesuatu kepada hakim agar bisa d. Guru/Dosen
1. Unsur-unsur risywah menurut kesepakatan para ulama, bahkan perbua- memenangkan perkara, hukumnya haram bagi
tan tersebut dikatagorikan dalam kelompok dosa Jika pemberian itu diberikan dengan pe-
Berdasarkan definisi di atas, maka bisa disim- penyuap dan yang disuap, walaupun keputusan
besar. Sebagaimana yang telah diisyaratkan bebe- nuh rasa cinta dan kasih sayang karena ilmu dan
pulkan bahwa suatu tindakan dinamakan risywah tersebut benar, karena hal itu sudah menjadi
rapa nash al-qur’an dan sunnah nabawiyah berikut keshalihannya maka boleh terima, tapi jika diberi-
jika memenuhi unsur-unsur berikut : tugas dan kewajibannya.
ini firman Allah SWT : kan agar memberikan tugas dan kewajiban yang
A. Adanya athiyyah (pemberian) 3. Memberikan sesuatu agar mendapatkan perla- sudah menjadi tanggung jawabnya maka sebai-
B. Ada niat istimalah (menarik simpati orang lain) <=> ?=@ABC ‫ا‬EF‫آ‬H=IJ ‫=?م‬LMJ‫ ا‬N=J‫=? إ‬PQ ‫ا‬EJR=S‫ و‬U=V?WJ?Q X=LYZQ XLJ‫ا‬E>‫ا أ‬EF‫آ‬HS \‫و‬
kuan yang sama dihadapan penguasa dengan knya tidak diambilnya.
‫ن‬E^F_S XI‫ وأﻥ‬Xab?Q ‫?س‬YJ‫ال ا‬E>‫أ‬
C. Bertujuan : tujuan mencegah kemudharatan dan meraih e. Saksi
”Dan janganlah sebahagian kamu memakan kemaslahatan, hukumnya haram bagi yang
• ibtholul haq (membatalkan yang haq) harta sebahagian yang lain diantara kamu dengan disuap saja. Haram bagi seorang saksi menerima pem-
• ihqaqul bathil (merealisasikan kebathilan) jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa berian (risywah) apabila ia menerimanya maka
(urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu da- 4. Memberikan sesuatu kepada seseorang yang gugurlah keadilan yang menjadi syarat sah kesak-
• al-mahsubiyah bighoiri haq (mencari keberpi- pat memakan sebahagian daripada harta benda tidak bertugas di pengadilan atau instansi terten- siannya. (al-Muhadzaab 2/330, al-Mughni 9/40 dan
hakan yang tidak dibenarkan) orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal tu agar bisa menolongnya dalam mendapatkan 160).
kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah; 188) haknya di pengadilan dan instansi tersebut, maka
• al-hushul alal manafi’ (mendapatkan kepentin- hukumnya halal bagi keduanya (pemberi dan Penutup
gan yang bukan menjadi haknya) Firman-Nya dalam surah yang lain :
penerima) sebagai upah atas tenaga dan potensi Jika menerima pemberian, maka perlu
• al-hukmu lahu (memenangkan perkaranya) eMfFJ ‫ن‬EJ?‫ب أآ‬hLFJ ‫ن‬Ei?^j yang dikeluarkannya. Tapi Ibnu Mas’ud dan Mas- melihat dari unsur-unsur berikut :
”Mereka itu adalah orang-orang yang suka ruq lebih cenderung bahwa pemberian tersebut jika pemberian itu diberikan sebagai imbalan dari
mendengar berita bohong, banyak memakan yang juga termasuk suap yang dilarang, karena orang tugas yang bukan bagian dari kewajibannya,
2. Beberapa istilah yang serupa dengan risywah atau atas kerjanya yang bersifat spesifik dari
haram”. (QS Al-Maidah: 42). tersebut memang harus membantunya agar tidak
Bila dilihat dari sisi esensi risywah yaitu pem- tugas dan kewajibannya yang bersifat
Imam al-Hasan dan Said bin Jubair men- terdzalimi.” umummaka boleh diterima sebagai jasa dari
berian (athiyyah), maka ada beberapa istilah dalam kerjanya.
ginterpretasikan ‘akkaaluna lissuhti’ dengan risy- (sumber: mausu’ah fiqhiyyah dan tafsih ayat
Islam yang memiliki keserupaan dengannya, di
wah. Jadi risywah (suap menyuap) identik dengan ahkam lil Jash-shash) Jika pemberian itu diberikan atas kerja yang
antaranya : sudah menjadi tugas kewajibannya, maka
memakan barang yang diharamkan oleh Allah.
Hadiah yaitu pemberian yang diberikan 7. Risywah masa kini termasuk risywah dan tidak boleh diterima.
Rasulullah Saw. Bersabda :
kepada seseorang ala sabilil ikram (untuk menghor- Jika pemberian itu diberikan karena posisinya,
tA‫ روا‬mC‫" و‬mnSB^J‫ وا‬mo‫ا‬BJ‫ ا‬XFj‫ و‬pZFi q‫ ا‬NFr q‫ل ا‬Ej‫_< ر‬J " saat ini ada bentuk risywah seperti pembe-
mati). Perbedaannya dengan risywah adalah : rian yang diberikan kepada seseorang dengan tidak ada kaitannya dengan tugas dan
hadiah diberikan ala sabilil ikram, sedangkan risy- "uv‫ا‬BJ‫"ا‬ kewajibannya, maka boleh diterima jika tidak
tujuan investasi jasa, baik materi atau pelayanan, berasal dari anggaran negara, seperti berasal
wah diberik an untuk mendapatkan yang di- “Laknat Allah bagi penyuap dan yang mene-
dari pihak swasta dan murni karena bentuk
dll, ada pula seperti pemberian yang diberikan ke-
inginkannya. rima suap”. (HR. Khamsah kecuali an-Nasa’i dan di penghormatan, tapi kalau ada tujuan jangka
pada seseorang dari dana yang bukan miliknya,
Hibah yaitu pemberian yang diberikan shahihkan oleh at-Tirmidzi). panjang agar mendapatkan kepentingan
seperti dana Negara, dll. tertentu, maka sebaiknya tidak diterima.
kepada seseorang tanpa mengharapkan imbalan Rasulullah SAW pula bersabda:
dan tujuan tertentu. Perbedaannya dengan risywah 8. Hukum pemberian dilihat dari sisi orang yang Seorang muslim yang shalih harus men-
“Setiap daging yang tumbuh dari barang yang
adalah al-wahib (pemberi) memberikan sesuatu diberi jauhkan diri dari harta yang haram, tidak menerima
haram (as-suht) nerakalah yang paling layak un-
tanpa tujuan dan kepentingan tertentu sedangkan tuknya. ”Mereka bertanya: “Ya Rasulullah, apa a. Penguasa dan Pejabat dan tidak memakannyanya.
ar-rasyi (penyogok) memberikan sesuatu karena barang haram (as-suht) yang dimaksud?”, “Suap
ada tujuan dan kepentingan tertentu.
Ibnu Hubaib berkata, “Para ulama sepakat 

menyuap dalam perkara hukum” (tafsir Al-Qurthubi) haramnya memberikan hadiah kepada penguasa,