Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH KIMIA DASAR

STOIKIOMETRI

1.
2.
3.
4.
5.

OLEH:
IRMA NURCAHYANI GUNTUR
ANRY LAO
ACHMAD NUR FAHRY MACHMUD
NURUL MARFUAH AS
HARUN ALFA PANGLOLI

(D111 14 311)
(D111 14 312)
(D111 14 313)
(D111 14 314)
(D111 14 315)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
TAHUN AJARAN 2015/2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini sebagai salah satu
tugas dari mata kuliah Kimia Dasar. Makalah ini secara garis besar membahas
mengenai stoikiometri.
Dalam penulisan makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada
Bapak sebagai dosen mata kuliah Kimia Dasar yang senantiasa memberikan
petunjuk, arahan, dan motivasi selama mengikuti proses belajar mengajar. Dengan
segala kerendahan hati, penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna.
Oleh sebab itu saran dan kritik yang berguna bagi kesempurnaan makalah ini
sangat diharapkan.
Makassar, 27 Mei 2015
Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
I.2Rumusan Masalah .................................................................................. 2
I.3Tujuan Penulisan .................................................................................... 2
BAB II ISI DAN PEMBAHASAN
II.1 Hukum-Hukum Dasar Kimia ............................................................... 3
II.2 Tatanama Senyawa.................................................................................6
II.2.1
Tatanama Senyawa Anorganik..................................7
II.2.2
Tatanama Senyawa Organik.....................................12
II.3 Persamaan Reaksi..................................................................................12
II.3.1
Menulis Persamaan Reaksi.......................................12
II.3.2
Penyetaraan Persamaan Reaksi.................................14
II.4 Perhitungan Kimia..................................................................................15
II.4.1
Penentuan Volume Gas Pereaksi dan Hasil Reaksi...15
II.4.2
Massa Atom Relatif dan Massa Molekul Realtif.......16
II.4.3
Konsep Mol dan Tetapan Avogadro ......................18
II.4.4
Rumus Molekul dan Kadar Unsur Dalam Senyawa..22
BAB III PENUTUP
III.1 Kesimpulan ........................................................................................... 26
III.2 Saran .................................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 27

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita pernah melihat sesorang yang sedang
membuat kue. Perlu diketahui bahwa kue dibuat menurut resep atau formula
tertentu, yaitu perbandingan antara bahan-bahan yang diperlukan. Hal yang kirakira sama juga berlaku dalam reaksi kimia. Setiap senyawa kimia memiliki
komposisi tertentu. Sehingga, untuk membuat suatu senyawa melalui reaksi
kimia, harus diperhitungkan campuran bahan-bahan dalam perbandingan tertentu.
Contoh lain, pernahkah Anda membakar kayu? berubah menjadi apakah kayu
yang telah anda bakar? Pembakaran kayu merupakan salah satu contoh reaksi
kimia. Kayu yang terbakar akan mengalami perubahan wujud. Hasil pembakaran
yang berupa abu, gas CO2, dan uap air tidak dapat berubah menjadi kayu kembali.
Hal inilah yang menjadi pembahasan dalam makalah ini. Hal-hal yang akan
dibahas yaitu tentang perbandingan unsur-unsur dalam senyawa, serta
perbandingan zat-zat dalam reaksi kimia.
Setiap tahun para ahli kimia di seluruh dunia mensintesis ribuan jenis
senyawa baru. Dahulu zat kimia diberi nama sesuai dengan nama penemunya,
nama tempat, nama zat asal, sifat zat, dan lain-lain. Dengan semakin
bertambahnya jumlah zat yang ditemukan baik alami ataupun buatan, maka perlu
adanya tata nama yang dapat memudahkan penyebutan nama suatu zat. IUPAC
(International Union Pure and Applied Chemistry) merupakan badan internasional
yang membuat tata nama zat kimia yang ada di dunia ini. Akan tetapi, untuk
kepentingan tertentu nama zat yang sudah lazim (nama trivial) sering digunakan
karena telah diketahui khalayak. Contohnya nama asam cuka lebih dikenal
dibanding asam asetat atau asam etanoat. Tatanama senyawa kimia ini berkaitan
dengan adanya stoikiometri.
Stoikiometri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata stoicheion yang
berarti unsur dan metron yang berarti mengukur. Stoikiometri membahas tentang
hubungan massa antarunsur dalam suatu senyawa (stoikiometri senyawa) dan
antarzat dalam suatu reaksi (stoikiometri reaksi).
Pengukuran massa dalam reaksi kimia dimulai oleh Antoine Laurent
Lavoisier (1743 1794) yang menemukan bahwa pada reaksi kimia tidak terjadi
perubahan massa (hukum kekekalan massa). Selanjutnya Joseph Louis Proust
(1754 1826) menemukan bahwa unsur-unsur membentuk senyawa dalam
perbandingan tertentu (hukum perbandingan tetap). Selanjutnya dalam rangka
menyusun teori atomnya, John Dalton menemukan hukum dasar kimia yang
ketiga, yang disebut hukum kelipatan perbandingan. Ketiga hukum tersebut
merupakan dasar dari teori kimia yang pertama, yaitu teori atom yang
dikemukakan oleh John Dalton sekitar tahun 1803. Menurut Dalton, setiap materi
terdiri atas atom, unsur terdiri atas atom sejenis, sedangkan senyawa terdiri dari
atom-atom yang berbeda dalam perbandingan tertentu. Namun demikian, Dalton
belum dapat menentukan perbandingan atom-atom dalam senyawa (rumus kimia

zat). Penetapan rumus kimia zat dapat dilakukan berkat penemuan Gay Lussac
dan Avogadro. Setelah rumus kimia senyawa dapat ditentukan, maka
perbandingan massa antaratom (Ar) maupun antarmolekul (Mr) dapat ditentukan.
pengetahuan tentang massa atom relatif dan rumus kimia senyawa merupakan
dasar dari perhitungan kimia.
Jadi, stoikiometri berarti perhitungan kimia. Konsep-konsep yang
mendasari perhitungan kimia adalah massa atom relatif, rumus kimia, persamaan
reaksi, dan konsep mol. Oleh karena itu, sebelum masuk ke dalam perhitungan
kimia, akan dibahas berbagai konsep tersebut.
I.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja hukumhukum dasar kimia?
2. Apa dan bagaimana yang di maksud tatanama senyawa?
3. Bagaimana menulis persamaan reaksi?
4. Bagaimana perhitungan kimia?
5. Bagaimana cara menentukan rumus molekul dan empiris suatu
senyawa?
I.3 Tujuan Penulisan
1. Mengetahui hukum-hukum dasar dalam perhitungan kimia.
2. Mengetahui tatanama senyawa.
3. Mengetahui persamaan reaksi.
4. Mengetahui perhitungan dengan menggunakan konsep mol.
5. Mengetahui cara menentukan rumus molekul dan empiris suatu senyawa.

BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN
II.1 HukumHukum Dasar Kimia
1.Hukum Kekekalan Massa (Hukum Lavoisier)
Apabila kita membakar kayu, maka hasil pembakaran hanya tersisa abu
yang massanya lebih ringan dari kayu. Hal ini bukan berarti ada massa yang
hilang. Akan tetapi, pada proses ini kayu bereaksi dengan gas oksigen
menghasilkan abu, gas karbon dioksida, dan uap air. Jika massa gas karbon
dioksida dan uap air yang menguap diperhitungkan, maka hasilnya akan sama.
Kayu + gas oksigen abu + gas karbondioksida + uap air
Massa (kayu + gas oksigen) = massa (abu + gas karbondioksida + uap air)
Antoine Lavoisier (17431794) seorang pelopor yang percaya pentingnya
membuat pengamatan kuantitatif dalam eksperimen, mencoba memanaskan 530
gram logam merkuri dalam wadah terhubung udara dalam silinder ukur pada
sistem tertutup. Ternyata volume udara dalam silinder berkurang 1/5 bagian.
Logam merkuri berubah menjadi merkuri oksida sebanyak 572,4 gram. Besarnya
kenaikkan massa merkuri sebesar 42,4 gram adalah sama dengan 1/5 bagian udara
yang hilang yaitu oksigen.
Logam merkuri + gas oksigen merkuri oksida
530 gram
42,4 gram
572,4 gram
Berdasarkan percobaan di atas Lavoisier merumuskan Hukum Kekekalan
Massa yang berbunyi: Dalam reaksi kimia, massa zat-zat sebelum dan sesudah
reaksi adalah sama.
Contoh soal:
2Mg + O2 2MgO (4g) (32g) (36g)
2.Hukum Perbandingan Tetap (Hukum Proust)
Tahun 1799 Joseph Proust melakukan percobaan dengan mereaksikan
hidrogen dan oksigen. Ternyata hidrogen dan oksigen selalu bereaksi membentuk
air dengan perbandingan massa yang tetap yaitu 1 : 8.
Massa H (gram)

Massa O (gram)

Massa H2O
(gram)

Sisa H atau O
(gram)

1
2
1
2

8
8
9
16

9
9
9
18

0
1 gram hidrogen
1 gram oksigen
0

Berdasarkan hasil percobaan yang diperolehnya, dia menyimpulkan bahwa:


Perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu senyawa adalah tetap.
Contoh soal:
a.Pada senyawa NH3 = massa N : massa H
= 1 Ar . N : 3 Ar . H

= 1 (14) : 3 (1)
= 14 : 3
b.Pada senyawa SO3 = massa S : massa O
= 1 Ar . S : 3 Ar . O
= 1 (32) : 3 (16)
= 32 : 48
=2:3
Keuntungan dari hukum Proust:
Bila diketahui massa suatu senyawa atau massa salah satu unsur yang membentuk
senyawa tersebut maka massa unsur lainnya dapat diketahui.
Contoh soal:
Berapa kadar C dalam 50 gram CaCO3? (Ar: C = 12; O = 16; Ca = 40)
Massa C =

massa CaCO3

= 12/100 50 gram
= 6 gram
Kadar C =
100%

= 6/50 100%
= 12%
3.Hukum Perbandingan Bergand (Hukum Dalton)
Dua unsur dapat membentuk lebih dari satu macam senyawa. Misalnya
unsur karbon dengan oksigen dapat membentuk karbon monoksida dan karbon
dioksida. John Dalton (17661844) mengamati adanya suatu keteraturan
perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu senyawa. Berdasarkan percobaan
yang dilakukan Dalton diperoleh data sebagai berikut:
Jenis Senyawa
Nitrogen monoksida
Nitrogen dioksida

Massa hasil
Massa hasil
Massa senyawa
Nitrogen (gram) Oksigen (gram) terbentuk (gram)
0,875
1,75

1,00
1,00

1,875
2,75

Perbandingan nitrogen dalam senyawa nitrogen dioksida dan nitrogen monoksida:


1,75 / 0,875 = 2 / 1
Berdasarkan hasil percobaan tersebut, Dalton menyimpulkan bahwa:
Jika dua jenis unsur bergabung membentuk lebih dari satu macam senyawa maka
perbandingan massa unsur dalam senyawa-senyawa tersebut merupakan
bilangan bulat sederhana.

Contoh soal:
Bila unsur nitrogen dan oksigen disenyawakan dapat terbentuk,
NO dimana massa N : O = 14 : 16 = 7 : 8
NO2 dimana massa N : O = 14 : 32 = 7 : 16
Untuk massa nitrogen yang sama banyaknya maka perbandingan massa Oksigen
pada senyawa NO : NO2 = 8 :16 = 1 : 2
4.Hukum-Hukum Gas
Untuk gas ideal berlaku persamaan : PV = nRT
dimana:
P = tekanan gas (atm)
V = volume gas (liter)
n = mol gas
R = tetapan gas universal = 0.082 liter.atm/mol Kelvin
T = suhu mutlak (Kelvin)
Perubahan-perubahan dari P, V, dan T dari keadaan 1 ke keadaan 2 dengan
kondisi-kondisi tertentu dicerminkan dengan hukum-hukum berikut:
a. Hukum Boyle
Hukum ini diturunkan dari persamaan keadaan gas ideal dengan n1= n2
dan T1 = T2 ; sehingga diperoleh:
P1 .V1= P2 .V2
b.Hukum Gay-Lussac
"Volume gas-gas yang bereaksi dan volume gas-gas hasil reaksi bila diukur
pada suhu dan tekanan yang sama, akan berbanding sebagai bilangan bulat dan
sederhana".
Jadi untuk: P1= P2 dan T1= T2 berlaku:

Di awal tahun 1781 Joseph Priestley (17331804) menemukan hidrogen


dapat bereaksi dengan oksigen membentuk air, kemudian Henry Cavendish
(17311810) menemukan volume hidrogen dan oksigen yang bereaksi
membentuk uap air mempunyai perbandingan 2 : 1. Dilanjutkan William
Nicholson dan Anthony Carlise berhasil menguraikan air menjadi gas hidrogen
dan oksigen melalui proses elektrolisis. Ternyata perbandingan volume hidrogen
dan oksigen yang terbentuk 2 : 1. Pada tahun 1808 Joseph Louis Gay-Lussac
(17781850) berhasil mengukur volume uap air yang terbentuk, sehingga
diperoleh perbandingan volume hidrogen : oksigen : uap air = 2 : 1 : 2.
Gas Hidrogen + Gas Oksigen Uap Air
2 H2 (g)
+ O2 (g)
2 H2O (g)
Perbandingan tersebut berupa bilangan bulat sederhana. Berdasarkan hasil
percobaan ini, Gay-Lussac menyimpulkan bahwa:
Pada suhu dan tekanan yang sama, volume gas-gas yang bereaksi dan volume
gas-gas hasil reaksi berbanding sebagai bilangan bulat sederhana.

c.Hukum Boyle-Gay Lussac


Hukum ini merupakan perluasan hukum terdahulu dan diturukan dengan
keadaan harga n1= n2 sehingga diperoleh persamaan:

d.Hukum Avogadro
Pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas yang volumenya sama mengandung
jumlah mol yang sama".
Dari pernyataan ini ditentukan bahwa pada keadaan STP (0 C 1 atm) 1 mol setiap
gas, volumenya 22,4 liter. Volume ini disebut sebagai volume molar gas.
Contoh soal:
Berapa volume 8,5 gram amoniak (NH3) pada suhu 27 C dan tekanan 1
atm ? (Ar: H = 1 ; N = 14)
Jawab:
8,5 g amoniak = 8,5/17
= 0,5 mol
Volume amoniak (STP) = 0,5 22,4
= 11,2 liter
Berdasarkan persamaan Boyle-Gay Lussac:

V2 = 12,31 liter

II.2 Tatanama Senyawa


Di dalam semesta ini terdapat berjuta-juta senyawa, sehinga Komisi Tata
Nama IUPAC (International Union for Pure and Applied Chemistry), suatu badan
di bawah UNESCO menyusun suatu aturan. Tata nama senyawa yang digunakan
secara seragam di seluruh dunia.
Nama ilmiah suatu unsur mempunyai asal-usul yang bermacam-macam.
Ada yang didasarkan pada warna unsur seperti klorin (chloros = hijau), atau pada
salah satu sifat dari unsur yang bersangkutan seperti fosfor (phosphorus
=bercahaya) atau nama seorang ilmuwan yang sangat berjasa seperti einsteinium
(untuk albert einstein). Untuk mencegah timbulnya perdebatan mengenai nama
dan lambang unsur-unsur baru, Persatuan Kimia Murni dan Kimia Terapan
(International Union Of Pure and Applied Chemistry = IUPAC) menetapkan
aturan penamaan dan pemberian lambang untuk unsur-unsur temuan baru sebagai
berikut :
1) Nama berakhir dengan ium, baik untuk unsur logam maupun nonlogam.

2) Nama itu didasarkan pada nomor atom unsur, yaitu rangkaian akar kata yang
menyatakan nomor atomnya.
0 = nil 4 = quad 7 = sept
1 = un 5 = pent 8 = okt
2 = bi 6 = hex 9 = enn
3 = tri
3) Lambang unsur (tanda atom) terdiri atas tiga huruf yakni rangkaian huruf awal
dari akar yang menyatakan nomor atom unsur tersebut.
Contoh:
a. Unsur nomor atom 107
107
un nil sept + ium
Nama : Unnilseptium Lambang : Uns
b. Unsur nomor atom 105
105
un nil pent + ium
Nama : Unnilpentium Lambang : Unp
Namun, aturan penamaan IUPAC jarang digunakan. Setiap senyawa perlu
mempunyai nama spesifik. Seperti halnya penamaan unsur, pada mulanya
penamaan senyawa didasarkan pada berbagai hal, seperti nama tempat, nama
orang, atau sifat tertentu dari senyawa yang bersangkutan.
Sebagai contoh:
a.Garam glauber, yaitu natrium sulfat (Na2SO4) yang ditemukan oleh J. R.
Glauber.
b.Salmiak atau amonium klorida (NH4Cl), yaitu suatu garam yang awal mulanya
diperoleh dari kotoran sapi di dekat kuil untuk dewa Jupiter Amon di Mesir.
c.Soda pencuci, yaitu natrium karbonat (Na2CO3) yang digunakan untuk
melunakkan air (membersihkan air dari ion Ca2+ dan ion Mg2+).
d.Garam NaHCO3 (natrium bikarbonat) digunakan untuk pengembang dalam
pembuatan kue.
Untuk memudahkan penamaan, senyawa dikelompokkan menjadi 2 yaitu
senyawa organik dan senyawa anorganik. Senyawa anorganik dibagi dua yaitu
senyawa biner dan senyawa poliatomik. Senyawa biner adalah senyawa yang
mengandung dua jenis unsur, sedangkan senyawa poliatomik terdiri atas lebih dari
2 jenis unsur.

II.2.1 Tatanama Senyawa Anorganik


Senyawa anorganik terdiri dari senyawa biner dari logam dan non logam,
senyawa biner dari non logam dan non logam, senyawa yang mengandung
poliatom senyawa asam, basa dan garam.
a. Senyawa Biner Dari Logam dan Nonlogam (Senyawa Ion)

Senyawa biner dari logam dan non-logam umumnya merupakan senyawa


ion. Logam membentuk ion positif (kation) dan non-logam membentuk ion
negatif (anion). Di bawah ini nama beberapa kation logam dan anion non-logam
(monoatom) yang perlu dikuasai agar tidak mengalami kesukaran dalam penulisan
rumus kimia dan nama senyawa.
Kation dari logam

Anion dari logam

Kation

Nama

Anion

Nama

Li+

Litium

Hidrida

Na+
K+
Mg2+
Ca2+

Natrium
Kalium

N3

Nitrida
Oksida

Magnesium

O2

Fosfida

Kalsium

P3

Sulfida

Barium
Aluminium

S2

Selenida
Fluorida

Ba2+

Timah (II)

Se2

Klorida

Al3+

Timah (IV)

Bromida

Sn2+

Timbal (II)
Timbal (IV)

Cl-

Sn4+

Tembaga (I)

Br

Pb2+

Tembaga (II)

I-

Perak (I)

Si4

Pb4+

Emas (I)

Cu+

Emas (II)

As3

Cu2+

Zink (seng)

Te2

Ag+

Kromium
Besi (II)

Au+

Besi (III)

Au3+

Nikel

Zn2+
Cr3+
Fe2+

Platina (II)
Platina (IV)

Iodida
Silisida
Arsenida
Telurida

Fe3+
Ni2+
Pt2+
Pt4+
Berikut ini nama senyawa biner logam dan non-logam:
1) Penamaan dimulai dari nama kation logam diikuti nama anion dari logam
Contoh:
Rumus Kimia

Kation logam

Anion logam

Nama Senyawa

NaCl
MgF2

Na+
Mg2+

Cl
F

Natrium klorida
Magnesium fluorida

2) Senyawa yang terbentuk haruslah bermuatan netral.


3) Untuk logam yang dapat membentuk beberapa kation dengan muatan berbeda,
maka muatan kationnya dinyatakan dengan angka Romawi.
Contoh:
Cu2O dan CuO. Atom Cu dapat membentuk kation Cu+ dan Cu2+. Karena oksida
(O2-) mempunyai muatan -2, maka:
kation tembaga pada Cu2O haruslah Cu+ agar menetralkan muatan O2-. Jadi,
nama Cu2O adalah tembaga (I) oksida.
kation tembaga pada CuO karena kation tembaga hanya ada satu buah maka
untuk menetralkan muatan O2- haruslah Cu2+.
b. Senyawa Biner dari NonLogam dan NonLogam (Senyawa Kovalen)
Senyawa biner dari dua non-logam umumnya adalah senyawa molekul.
Tata nama senyawanya yaitu sebagai berikut:
1) Penamaan senyawa mengikuti urutan berikut
Bi Si As C P N H S I Br Cl O F
Contoh:
HCl (Nama H lalu nama Cl)
NH3 (Nama N lalu nama H)
2) Penamaan dimulai dari nama non-logam pertama diikuti nama non-logam
kedua yang diberi akhiran ida
Contoh:
HCl dinamakan hidrogen klorida
3) Jika dua jenis non-logam dapat membentuk lebih dari satu jenis senyawa, maka
digunakan awalan Yunani sesuai angka indeks dalam rumus kimianya

1 = mono 6 = heksa
2 = di
7 = hepta
3 = tri
8 = okta
4 = tetra 9 = nona
5 = penta 10 = deka
Contoh:
CO karbon monoksida
CO2 karbon dioksida
PCl3 fosforus triklorida
P4O10 tetrafosforus dekaoksida
c. Senyawa yang mengandung poliatom
Ion-ion yang telah dibahas di atas merupakan ion-ion monoatom. Masingmasing ion terdiri atas atom tunggal. Ada pula ion-ion poliatom, yaitu dua atau
lebih atom-atom terikat bersama-sama dalam satu ion yang dapat berupa kation
poliatom dan anion poliatom. Di bawah ini beberapa ion poliatom dan namanya.
Rumus

Nama Ion

Anion dari logam

NH4+
OH

amonium
hidroksida
sianida
nitrit
nitrat
klorit
hipoklorit
klorat
perklorat
bromat
iodat
permanganat
manganat
karbonat
sulfit
sulfat
tiosulfat
kromat
dikromat
fosfit
fosfat

NH4Cl
NaOH
NaCN
NaNO2
NaNO3
KClO
KClO2
KClO3
KClO4
KBrO3
KIO3
KMnO4
K2MnO4
Na2CO3
Na2SO3
Na2SO4
Na2S2O3
K2CrO4
K2Cr2O7
Na3PO3
Na3PO4

CN
NO2
NO3ClO
ClO2
ClO3
ClO4
BrO3
IO3
MnO4
MnO42
CO32
SO32
SO42
S2O32

CrO42
Cr2O72
PO3
PO43
Tata nama senyawa ion yang mengandung poliatom yaitu sebagai berikut:
1) Untuk senyawa yang terdiri atas kation logam dan anion poliatom, maka
penamaan dimulai dari nama kation logam diikuti nama anion poliatom.
Contoh:
NaOH dari Na+ dan OH_ nama senyawanya Natrium hidroksida;
KMnO4 dari K+ dan MnO4- nama senyawanya Kalium permanganat;
PbSO4 dari Pb2+ dan SO42- nama senyawanya Timbal (II) sulfat.
2) Untuk senyawa yang terdiri atas kation poliatom dan anion monoatom atau
poliatom, penamaan dimulai dari nama kation poliatom diikuti nama anion
monoatom atau poliatom.
Contoh:
NH4Cl : ammonium klorida
NH4CN : ammonium sianida
(NH4)2SO4 : ammonium sulfat
d. Senyawa asam, basa, dan garam
1) Senyawa asam
Asam adalah zat kimia yang di dalam air dapat melepaskan ion H+. Misalnya
adalah HCl; jika dilarutkan ke dalam air, maka akan terurai menjadi ion H+ dan
ion Cl. Tata nama senyawa asam adalah sebagai berikut:
a) Untuk senyawa asam biner (terdiri atas dua jenis unsur), penamaan dimulai dari
kata asam diikuti nama sisa asamnya, yaitu anion non-logam.
Contoh:
HF : asam fluorida
H2S : asam sulfida
b) Untuk senyawa asam yang terdiri dari 3 jenis unsur, penamaan dimulai dari
kata asam diikuti nama sisa asamnya, yaitu anion poliatom.
Contoh:
HCN : asam sianida
H2SO4 : asam sulfat
HCH3COO : asam asetat
2) Basa
Basa adalah zat yang di dalam air dapat menghasilkan ion OH-. Pada umumnya,
basa adalah senyawa ion yang terdiri dari kation logam dan anion OH-. Tata nama

basa adalah nama kationnya diikuti kata hidroksida.


Contoh:
NaOH : natrium hidroksida
Ca(OH)2 : kalsium hidroksida
Al (OH)3 : alumunium hidroksida
3) Garam
Garam adalah senyawa ion yang terdiri atas kation basa dan anion sisa asam.
Rumus garam diperoleh dengan memberi angka indeks pada kation dan anionnya,
sehingga jumlah muatan positif sama dengan jumlah muatan negatif. Nama garam
adalah rangkaian nama kation yang diikuti oleh nama anion.
Kation
Na+
Ca2+
Al3+

Anion

Rumus Garam

Nama Garam

NO3
NO3
SO42

NaNO3
Ca(NO3)2
Al2(SO4)3

natrium nitrat
kalsium nitrat
alumunium sulfat

II.2.2 Tatanama Senyawa Organik


Tata nama senyawa organik lebih kompleks daripada tata nama senyawa
anorganik. Hal ini disebabkan sebagian besar senyawa organik tidak dapat
ditentukan dari rumus kimianya saja, akan tetapi harus dari rumus strukturnya.
Jumlah senyawa organik lebih banyak dibandingkan senyawa anorganik. Di sini
akan dibahas tata nama untuk senyawa organik sederhana.
a. Senyawa organik paling sederhana hanya mengandung atom C dan H. Nama
senyawa dimulai dengan awalan sesuai jumlah atom C dan diberi akhiran ana.
Contoh :
Rumus Kimia

Jumlah Atom C

Awalan

Nama Senyawa

CH4
C2H6
C3H8

1
2
3

MetEtProp-

Metana
Etana
Propana

b. Senyawa organik penting lainnya ialah benzen (C6H6). Penamaan senyawa jika
atom H diganti dengan atom/gugus lainnya yaitu sebagai berikut:
Rumus Kimia

Jumlah Atom C

Nama Lazim

C6H6
C6H5OH
C6H5Cl
C6H5NH2
C6H5NO3

Benzena
Hidroksibenzena
Klorobenzena
Aminobenzena
Nitrobenzena
Asam karboksilat benzena

Fenol
Anilin
Asam Benzoat

C6H5COO
II.3 Persamaan Reaksi
Persamaan reaksi menggambarkan reaksi kimia, yang terdiri atas rumus
kimia zat-zat pereaksi dan zat-zat hasil reaksi disertai koefisien dan fasa masingmasing.
II.3.1 Menulis Persamaan Reaksi
Reaksi kimia mengubah zat-zat asal (pereaksi) menjadi zat baru (produk).
Sebagaimana telah dikemukakan oleh John Dalton, jenis dan jumlah atom yang
terlibat dalam reaksi tidak berubah, tetapi ikatan kimia di antaranya berubah.
Ikatan kimia dalam pereaksi diputuskan dan terbentuk ikatan baru dalam
produknya. Atom-atom ditata ulang membentuk produk reaksi. Perubahan yang
terjadi dapat dipaparkan dengan menggunakan rumus kimia zat-zat yang terlibat
dalam reaksi. Cara pemaparan ini kita sebut dengan persamaan reaksi.
Hal-hal yang digambarkan dalam persamaan reaksi adalah rumus kimia
zat-zat pereaksi (reaktan) di sebelah kiri anak panah dan zat-zat hasil reaksi
(produk) di sebelah kanan anak panah. Anak panah dibaca yang artinya
membentuk atau bereaksi menjadi. Wujud atau keadaan zat-zat pereaksi dan
hasil reaksi ada empat macam, yaitu gas (g), cairan (liquid atau l), zat padat (solid
atau s) dan larutan (aqueous atau aq). Bilangan yang mendahului rumus kimia
zat-zat dalam persamaan reaksi disebut koefisien reaksi. Koefisien reaksi
diberikan untuk menyetarakan atom-atom sebelum dan sesudah reaksi. Selain
untuk menyetarakan persamaan reaksi, koefisien reaksi menyatakan perbandingan
paling sederhana dari partikel zat yang terlibat dalam reaksi. Misalnya, reaksi
antara gas hidrogen dengan gas oksigen membentuk air sebagai berikut.
Pereaksi / Reaktan
Produksi
2 H2 (g)
+
O2 (g)

2 H2O (l)
Koefisien H2 = 2
Koefisien O2 = 1
Koefisien H2O = 2
Berdasarkan persamaan reaksi di atas, berarti 2 molekul hidrogen bereaksi
dengan 1 molekul oksigen membentuk 2 molekul H2O. Oleh karena itu sebaiknya
dihindari koefisien pecahan karena dapat memberi pengertian seolaholah partikel
materi (atom atau molekul) dapat dipecah.
Penulisan persamaan reaksi dapat dilakukan dalam dua langkah sebagai
berikut.
1) Menuliskan rumus kimia zat-zat pereaksi dan produk, lengkap dengan
keterangan tentang wujudnya.
2) Penyetaraan, yaitu memberi koefisien yang sesuai, sehingga jumlah atom ruas
kiri sama dengan jumlah atom ruas kanan.
Contoh :
Tuliskan dan setarakan persamaan reaksi antara logam aluminium yang bereaksi
dengan larutan asam sulfat membentuk larutan aluminium sulfat dan gas
hidrogen!

Jawab :
Langkah 1 : Menuliskan persamaan reaksi.
Al(s) + H2SO4(aq) Al2(SO4)3(aq) + H2(g) (belum setara)
Jumlah atom di kiri
Jumlah atom di kanan
Al = 1
Al = 2
H=2
H=2
S=1
S=3
O=4
O = 12
Langkah 2 : Meletakkan koefisien 2 di depan Al, sehingga jumlah atom Al di ruas
kiri menjadi 1 2 = 2 buah Al (setara dengan jumlah Al di ruas
kanan).
Langkah 3 : Meletakkan koefisien 3 di depan H2SO4 , sehingga di ruas kiri
jumlah atom
H menjadi 6, atom S menjadi 3, dan jumlah atom O menjadi
12.
Langkah 4 : Jumlah atom S dan O ruas kiri sudah sama dengan ruas kanan,
sedangkan
atom H ruas kanan belum setara dengan ruas kiri.
Langkah 5 : Meletakkan koefisien 3 di depan H2, sehingga jumlah atom H ruas
kanan
menjadi 6, setara dengan ruas kiri.
Persamaan reaksi menjadi setara:
2 Al(s) + 3 H2SO4(aq) Al2(SO4)3(aq) + 3 H2(g)
II.3.2 Penyetaraan Persamaan Reaksi
Banyak reaksi dapat disetarakan dengan jalan mencoba/menebak, akan
tetapi sebagai permulaan dapat mengikuti langkah berikut.
1) Pilihlah satu rumus kimia yang paling rumit, tetapkan koefisiennya sama
dengan 1.
2) Zat-zat yang lain tetapkan koefisien sementara dengan huruf.
3) Setarakan dahulu unsur yang terkait langsung dengan zat yang tadi diberi
koefisien 1.
4 Setarakan unsur lainnya. Biasanya akan membantu jika atom O disetarakan
paling akhir.
Contoh :
Tuliskan dan setarakan persamaan reaksi antara gas metana (CH4) dengan gas
oksigen membentuk gas karbon dioksida dan uap air.
Jawab :
Langkah 1 : Menuliskan rumus kimia dan persamaan reaksi.
CH4(g) + O2(g) CO2(g) + H2O (l)
Langkah 2 : Penyetaraan.
a. Tetapkan koefisien CH4 = 1, sedangkan koefisien lain dimisalkan dengan huruf.
1 CH4(g) + a O2(g) b CO2(g) + c H2O (l)
b. Setarakan jumlah atom C dan H.
Jumlah Atom di Ruas
Kiri

Jumlah Atom di
Ruas Kanan

C=1

C=b

b=1

H=4

H= 2c

2c = 4, maka c = 2

c. Kita substitusikan persamaan b dan c sehingga menjadi


1 CH4(g) + a O2(g) 1 CO2(g) + 2 H2O (l)
d. Kita setarakan jumlah atom O
Jumlah Atom di Ruas
Kiri

Jumlah Atom di
Ruas Kanan

O = 2a

O=2+2=4

2a = 4 , maka a = 2

e. Persamaan reaksi setara berikutnya adalah


1 CH4(g) + 2 O2(g) 1 CO2(g) + 2 H2O (l)
Untuk selanjutnya koefisien 1 tidak pernah ditulis sehingga menjadi :
CH4(g) + 2 O2(g) CO2(g) + 2 H2O (l)
II.4 Perhitungan Kimia
Pada awal abad ke-19, banyak penelitian dilakukan terhadap sifat gas.
Salah seorang peneliti sifat gas yaitu ahli kimia berkebangsaan Prancis yang
bernama Joseph Louis Gay Lussac (1778 1850). Pada tahun 1808, ia melakukan
serangkaian percobaan untuk mengukur volume gas-gas yang bereaksi.
Disimpulkannya bahwa pada temperatur dan tekanan sama, perbandingan volume
gas-gas yang bereaksi dan volume gas hasil reaksi merupakan perbandingan
bilangan bulat dan sederhana. Temuan Gay Lussac ini dikenal sebagai hukum
perbandingan volume. Tetapi kemudian timbul pertanyaan. Mengapa pada tekanan
dan temperatur yang sama perbandingan volume gas yang bereaksi dan hasil
reaksi merupakan perbandingan bilangan bulat dan sederhana?
II.4.1 Penentuan Volume Gas Pereaksi dan Hasil Reaksi
Pertanyaan yang timbul setelah Gay Lussac mengemukakan hukum
perbandingan volume dapat dipecahkan oleh seorang ahli fisika Italia yang
bernama Amadeo Avogadro pada tahun 1811.
Menurut Avogadro:
Gas-gas yang volumenya sama, jika diukur pada suhu dan tekanan yang sama,
akan memiliki jumlah molekul yang sama pula.
Oleh karena perbandingan volume gas hidrogen, gas oksigen, dan uap air
pada reaksi pembentukan uap air = 2 : 1 : 2 maka perbandingan jumlah molekul
hidrogen, oksigen, dan uap air juga 2 : 1 : 2. Jumlah atom tiap unsur tidak
berkurang atau bertambah dalam reaksi kimia. Oleh karena itu, molekul gas
hidrogen dan molekul gas oksigen harus merupakan molekul dwiatom, sedangkan
molekul uap air harus merupakan molekul triatom.
Perbandingan volume gas dalam suatu reaksi sesuai dengan koefisien
reaksi gas-gas tersebut. Hal ini berarti bahwa, jika volume salah satu gas
diketahui, volume gas yang lain dapat ditentukan dengan cara membandingkan
koefisien reaksinya.
Contoh :
Pada reaksi pembentukan air

2 H2 (g) + O2 (g) 2 H2O (g)


Jika volume gas H2 yang diukur pada suhu 25C dan tekanan 1 atm sebanyak 10
L volume gas O2 dan H2O pada tekanan dan suhu yang sama dapat ditentukan
dengan cara sebagai berikut.
Volume H2 : Volume O2 = Koefisien H2 : Koefisien O2
Volume O2 = x Volume H2
Volume O2 = x 10 L = 5 L
Volume H2O = x 10 L = 10 L
II.4.2 Massa Atom Relatif dan Massa Molekul Realtif
Setelah ditemukan peralatan yang sangat peka di awal abad XX, para ahli
kimia melakukan percobaan tentang massa satu atom. Sebagai contoh, dilakukan
percobaan untuk mengukur.
1. massa satu atom H = 1,66 x 1024 g
2. massa satu atom O = 2,70 x 1023 g
3. massa satu atom C = 1,99 x 1023 g
Dari data di atas dapat dilihat bahwa massa satu atom sangat kecil. Para
ahli sepakat menggunakan besaran Satuan Massa Atom (sma) atau Atomic Massa
Unit (amu) atau biasa disebut juga satuan Dalton. Pada materi struktur atom, Anda
telah mempelajari juga bahwa atom sangatlah kecil, oleh karena itu tidak mungkin
menimbang atom dengan menggunakan neraca.
a. Massa Atom Relatif (Ar)
Para ahli menggunakan isotop karbon C12 sebagai standar dengan massa
atom relatif sebesar 12. Massa atom relatif menyatakan perbandingan massa ratarata satu atom suatu unsur terhadap 1/12 massa atom C12. Atau dapat dituliskan:
1 satuan massa atom (amu) = 1/12 massa 1 atom C12
Contoh:
Massa atom rata-rata oksigen 1,33 kali lebih besar dari pada massa atom C 12.
Maka: Ar O = 1,33 x Ar C12
= 1,33 x 12
= 15,96
Para ahli membandingkan massa atom yang berbeda-beda, menggunakan
skala massa atom relatif dengan lambang Ar.
Para ahli memutuskan untuk menggunakan C12 atau isotop 12C karena
mempunyai kestabilan inti yang inert dibanding atom lainnya. Isotop atom C12
mempunyai massa atom 12 sma. Satu sma sama dengan 1,6605655 x 1024 g.
Dengan digunakannya isotop 12C sebagai standar maka dapat ditentukan massa
atom unsur yang lain. Massa atom relatif suatu unsur (Ar) adalah bilangan yang
menyatakan perbandingan massa satu atom unsur tersebut dengan 1/12 massa satu
atom C12.

Ar X =
Contoh Soal :
Jika diketahui massa 1 atom oksigen 2,70 x 1023 g, berapakah Ar atom O jika
massa atom C 1,99 x 1023 g?
Jawab :
Ar O =
Ar O =
Ar O = 16,283
Besarnya harga Ar juga ditentukan oleh harga rata-rata isotop tersebut.
Sebagai contoh, di alam terdapat 35Cl dan 37Cl dengan perbandingan 75% dan
25% maka Ar Cl dapat dihitung dengan cara:
Ar Cl = (75% x 35) + (25% x 37) = 35,5
Ar merupakan angka perbandingan sehingga tidak memiliki satuan. Ar dapat
dilihat pada Tabel Periodik Unsur (TPU) dan selalu dicantumkan dalam satuan
soal apabila diperlukan.
Massa atom unsur sebenarnya belum dapat diukur dengan alat penimbang
massa atom, karena atom berukuran sangat kecil. Massa atom unsur ditentukan
dengan cara membandingkan massa atom rata-rata unsur tersebut terhadap massa
rata-rata satu atom karbon-12 sehingga massa atom yang diperoleh adalah massa
atom relatif (Ar).
b. Massa Molekul Relatif (Mr)
Molekul merupakan gabungan dari beberapa unsur dengan perbandingan
tertentu. Unsur-unsur yang sama bergabung membentuk molekul unsur,
sedangkan unsur-unsur yang berbeda membentuk molekul senyawa. Massa
molekul unsur atau senyawa dinyatakan oleh massa molekul (Mr). Massa molekul
relatif adalah perbandingan massa molekul unsur atau senyawa terhadap 1/12
dikali massa atom C12. Secara matematis dapat dinyatakan:
Mr (unsur) =
Mr (senyawa) =
Massa molekul dapat dihitung dengan menjumlahkan Ar dari atom-atom
pembentuk molekul tersebut.
Mr = r atom penyusun
Unsur dan senyawa yang partikelnya berupa molekul, massanya dinyatakan dalam
massa molekul relatif (Mr). Pada dasarnya massa molekul relatif (Mr) adalah
perbandingan massa rata-rata satu molekul unsur atau senyawa dengan 1/12 massa
rata-rata satu atom karbon-12.
Jenis molekul sangat banyak, sehingga tidak ada tabel massa molekul
relatif. Akan tetapi, massa molekul relatif dapat dihitung dengan menjumlahkan
massa atom relatif atom-atom pembentuk molekulnya.
Mr = Ar
Untuk senyawa yang partikelnya bukan berbentuk molekul, melainkan
pasangan ion-ion, misalnya NaCl maka Mr senyawa tersebut disebut massa rumus
relatif. Massa rumus relatif dihitung dengan cara yang sama dengan seperti
perhitungan massa molekul relatif, yaitu dengan menjumlahkan massa atom relatif

unsur-unsur dalam rumus senyawa itu.


Contoh Soal :
Diketahui massa atom relatif (Ar) beberapa unsur sebagai berikut.
Ca = 40
O = 16
H=1
Tentukan massa molekul relatif (Mr) senyawa Ca(OH)2!
Jawab:
Satu molekul Ca(OH)2 mengandung 1 atom Ca, 2 atom O, dan 2 atom H.
Mr Ca(OH)2 = Ar Ca + (2 Ar O) + (2 Ar H)
= 40 + (2 x 16) + (2 x 1)
= 40 + 32 + 2 = 74
II.4.3 Konsep Mol dan Tetapan Avogadro
Apabila Anda mereaksikan satu atom karbon (C) dengan satu molekul
oksigen (O2) maka akan terbentuk satu molekul CO2. Tetapi sebenarnya yang
Anda reaksikan bukan satu atom karbon dengan satu molekul oksigen, melainkan
sejumlah besar atom karbon dan sejumlah besar molekul oksigen. Oleh karena
jumlah atom atau jumlah molekul yang bereaksi begitu besarnya maka untuk
menyatakannya, para ahli kimia menggunakan mol sebagai satuan jumlah
partikel (molekul, atom, atau ion).
Satu mol didefinisikan sebagai jumlah zat yang mengandung partikel zat
itu sebanyak atom yang terdapat dalam 12,000 g atom karbon 12. Jadi, dalam
satu mol suatu zat terdapat 6,022 x 1023 partikel. Nilai 6,022 x 1023 partikel per
mol disebut sebagai tetapan Avogadro, dengan lambang L atau N.
Dalam kehidupan sehari-hari, mol dapat dianalogikan sebagai lusin. Jika
lusin menyatakan jumlah 12 buah, mol menyatakan jumlah 6,022 x 1023 partikel
zat.
Kata partikel pada NaCl, H2O, dan N2 dapat dinyatakan dengan ion dan
molekul, sedangkan pada unsur seperti Zn, C, dan Al dapat dinyatakan dengan
atom.
Nama Senyawa Rumus Jumlah Jenis Partikel
Seng
Aluminium
Natrium Klorida
Air

Zn
Al
NaCl
H2O

1 mol
1 mol
1 mol
1 mol

Atom
Atom
Ion
Molekul

Jumlah Partikel
1 x (6,022 x 1023) atom
1 x (6,022 x 1023) atom
1 x (6,022 x 1023) molekul
1 x (6,022 x 1023) molekul

Rumus kimia suatu senyawa menunjukkan perbandingan jumlah atom


yang ada dalam senyawa tersebut.
Jumlah H2SO4
1

Jumlah Atom H
2

Jumlah Atom S
1

Jumlah Atom O
4

1 mol

2 mol

1 mol

4 mol

1 x (6,022x1023) 2 x (6,022 x 1023) 1 x (6,022 x 1023) 4 x (6,022 x 1023)


1 mol zat mengandung 6,022 x 1023 partikel
Contoh Soal :
1. Pada satu molekul air (H2O) terdapat 6,022 x 1023 molekul H2O.
Ada berapa atom dalam 1 mol air tersebut?
Jawab:
Satu molekul air (H2O) tersusun oleh 2 atom H dan 1 atom O.
Jadi 1 molekul air tersusun oleh 3 atom.
1. mol H2O mengandung 6,022 x 1023 molekul atau
3 x 6,022 x 1023 atom = 1,806 x 1024 atom
2. Tentukan jumlah atom yang terdapat dalam 0,5 mol belerang!
Jawab:
0,5 mol belerang = 0,5 mol x N
= 0,5 mol x 6,02 x 1023 atom belerang
= 3,01 x 1023 atom belerang
3. Dalam 5 mol asam sulfat (H2SO4), tentukan jumlah atom H, S, dan O!
Jawab:
Jumlah molekul = 5 mol x N
= 5 mol x 6,02 x 1023
= 3,01 x 1024 molekul
Jumlah atom H = 2 x 6,02 x 1023 atom = 12,04 x 1023 atom
Jumlah atom S = 1 x 6,02 x 1023 atom = 6,02 x 1023 atom
Jumlah atom O = 4 x 6,02 x 1023 atom = 24,08 x 1023 atom
Dari contoh di atas, dapat disimpulkan mengenai hubungan jumlah mol (n)
dengan jumlah partikel, yang secara matematik dapat dinyatakan sebagai berikut.
Jumlah partikel = n x N
Di mana:
n = jumlah mol
N= bilangan Avogadro
a. Massa Molar (Mr)
Massa satu mol zat dinamakan massa molar (lambang Mr). Besarnya massa molar
zat adalah massa atom relatif atau massa molekul relatif zat yang dinyatakan
dalam satuan gram per mol.
Massa molar = Mr atau Ar zat (g/mol)
Perhatikan contoh pada tabel berikut !

Nama Zat

Rumus

Ar dan Mr

Massa Molar

Besi
Air
Garam Dapur
Karbon

Fe
H2O
NaCl
C

Ar = 56
Mr = 18
Mr = 53,5
Ar = 12

56 g/mol
18 g/mol
53,5 g/mol
12 g/mol

Massa suatu zat merupakan perkalian massa molarnya (g/mol) dengan mol zat
tersebut (n). Jadi hubungan mol suatu zat dengan massanya dapat dinyatakan
sebagai berikut.
Dikali massa molar
Mol

Massa
Dibagi massa molar

Secara matematis, dapat dinyatakan sebagai berikut.


Massa molar = massa : mol
Massa = mol x Mr/Ar (massa molar)
Telah diketahui bahwa satu mol adalah jumlah zat yang mengandung
partikel (atom, molekul, ion) sebanyak atom yang terdapat dalam 12 gram karbon
dengan nomor massa 12 (karbon-12, C-12). Sehingga terlihat bahwa massa 1 mol
C-12 adalah 12 gram. Massa 1 mol zat disebut massa molar. Massa molar sama
dengan massa molekul relatif (Mr) atau massa atom relatif (Ar) suatu zat yang
dinyatakan dalam gram.
Massa molar = Mr atau Ar suatu zat (gram)
Hubungan mol dan massa dengan massa molekul relatif (Mr) atau massa
atom relatif (Ar) suatu zat dapat dicari dengan: gram = mol Mr atau Ar
Contoh soal 1:
Berapa gram propana C3H8 dalam 0,21 mol jika diketahui Ar C = 12 dan H = 1?
Jawab:
Mr Propana = (3 12) + (8 1)
= 33 g/mol
sehingga, gram propana = mol Mr = 0,21 mol 33 g/mol = 9,23 gram
Contoh Soal 2 :
Diketahui 6 g urea (CO(NH2)2) jika Ar : H = 1, C = 12, N = 14, O = 16, tentukan:
a. mol urea
b. jumlah partikel
Jawab:
Mr urea = 12 + 16 + (16 2) = 60
a. mol urea = 0,1 mol
b. jumlah partikel = n x N

= 0,1 x 6,02 x 1023 molekul


= 0,602 x 1023 molekul
= 6,02 x 1024 molekul
b. Volume Molar (Vm)
Volume satu mol zat dalam wujud gas dinamakan volume molar, yang
dilambangkan dengan Vm.
Berapakah volume molar gas? Bagaimana menghitung volume sejumlah tertentu
gas pada suhu dan tekanan tertentu? Avogadro dalam percobaannya mendapat
kesimpulan bahwa 1 L gas oksigen pada suhu 0 C dan tekanan 1 atm mempunyai
massa 1,4286 g, atau dapat dinyatakan bahwa pada tekanan 1 atm:
1 L gas O2 = mol
1 L gas O2 = mol
1 mol gas O2 = liter
Maka, berdasarkan hukum Avogadro dapat disimpulkan:
1 mol gas O2 = 22,4 L
Avogadro mendapatkan hasil dari percobaannya bahwa pada suhu 0 C
(273 K) dan tekanan 1 atmosfir (76 cmHg) didapatkan tepat 1 liter oksigen
dengan massa 1,3286 gram. Pengukuran dengan kondisi 0 C (273 K) dan tekanan
1 atmosfir (76 cmHg) disebut juga keadaan STP (Standard Temperature and
Pressure). Pada keadaan STP, 1 mol gas oksigen sama dengan 22,4 liter.
Avogadro yang menyatakan bahwa pada suhu dan tekanan yang sama, gasgas yang bervolume sama mengandung jumlah molekul yang sama. Apabila
jumlah molekul sama maka jumlah molnya akan sama. Sehingga, pada suhu dan
tekanan yang sama, apabila jumlah mol gas sama maka volumenya pun akan
sama. Keadaan standar pada suhu dan tekanan yang sama (STP) maka volume 1
mol gas apasaja/sembarang berharga sama yaitu 22,4 liter. Volume 1 mol gas
disebut sebagai volume molar gas (STP) yaitu 22,4 liter/mol.
Volume gas tidak standar pada persamaan gas ideal dinyatakan dengan: PV
= nRT keterangan: P : tekanan gas (atm)
V : volume gas (liter)
n : jumlah mol gas
R : tetapan gas ideal (0,082 liter atm/mol K)
T : temperatur mutlak (Kelvin)
Sesuai dengan hukum Avogadro yang menyatakan bahwa pada suhu dan
tekanan yang sama, volume gas yang sama mengandung jumlah molekul yang
sama atau banyaknya mol dari tiap-tiap gas volumenya sama. Berdasarkan hukum
tersebut berlaku volume 1 mol setiap gas dalam keadaan standar (suhu 0 C dan
tekanan 1 atm) sebagai berikut.
Volume gas dalam keadaan standar = 22,4 L
c. Volume gas pada keadaan tidak standar
Perhitungan volume gas tidak dalam keadaan standar (non-STP)
digunakan dua pendekatan sebagai berikut.

1) Persamaan Gas Ideal


Dengan mengandaikan gas yang akan diukur bersifat ideal, persamaan
yang menghubungkan jumlah mol (n) gas, tekanan, suhu, dan volume yaitu:
Hukum gas ideal : P . V = n . R . T
P = tekanan (satuan atmosfir, atm)
V = volume (satuan liter, L)
n = jumlah mol gas (satuan mol)
R = tetapan gas (0,08205 L atm/mol K)
T = suhu mutlak (C + 273,15 K)
P.V = n.R.T V=
Jika, n = 1 mol
R = 0,08205 L atm/mol K
P = 1 atm
T = 273 K
V = 22,4 L
Contoh Soal :
Tentukan volume dari 4,4 g gas CO2 yang diukur pada tekanan 2 atm dan suhu
27 C! (Ar : C = 12, O = 16)
Jawab :
Mol CO2= 0,1 mol
Volume CO2 = 1,21 L
2) Dengan konversi gas pada suhu dan tekanan yang sama
Menurut hukum Avogadro, perbandingan gas-gas yang jumlah molnya
sama memiliki volume sama. Secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut.
Di mana:
n1 = mol gas 1
V1 = volume gas 1
n2 = mol gas 2
V2 = volume gas 2
d. Molaritas (M)
Banyaknya zat yang terdapat dalam suatu larutan dapat diketahui dengan
menggunakan konsentrasi larutan yang dinyatakan dalam molaritas (M).
Molaritas menyatakan banyaknya mol zat dalam 1 L larutan. Secara matematis
dinyatakan sebagai berikut.
M=x
Di mana:
M = molaritas (satuan M)
massa = dalam satuan g
Mr = massa molar (satuan g/mol)
V = volume (satuan mL)
II.4.4 Rumus Molekul dan Kadar Unsur Dalam Senyawa
Perbandingan massa dan kadar unsur dalam suatu senyawa dapat
ditentukan dari rumus molekulnya.
Kadar unsur = x 100%
a. Penentuan Rumus Empiris dan Rumus Molekul

Rumus kimia menunjukkan jenis atom unsur dan jumlah relatif masingmasing unsur yang terdapat dalam zat. Banyaknya unsur yang terdapat dalam zat
ditunjukkan dengan angka indeks.
Rumus kimia dapat berupa rumus empiris dan rumus molekul. Rumus
empiris, rumus yang menyatakan perbandingan terkecil atom-atom dari unsurunsur yang menyusun senyawa. Rumus molekul, rumus yamg menyatakan
jumlah atom-atom dari unsur-unsur yang menyusun satu molekul senyawa.
Perhatikan contoh rumus molekul dan rumus empiris beberapa senyawa dalam
tabel berikut.
Nama Zat

Rumus Molekul

Rumus Empiris

Air
Glukosa
Benzena
Etilena
Asetilena

H2O
C6H12O6
C6H6
C2H4
C2H2

H2O
CH2O
CH
CH2
CH

Rumus Molekul = (Rumus Empiris)n


Mr Rumus Molekul = n x (Mr Rumus Empiris)
n = bilangan bulat
Penentuan rumus empiris dan rumus molekul suatu senyawa dapat ditempuh
dengan langkah berikut.
1. Cari massa (persentase) tiap unsur penyusun senyawa,
2. Ubah ke satuan mol,
3. Perbandingan mol tiap unsur merupakan rumus empiris,
4. Cari rumus molekul dengan cara:
(Mr rumus empiris)n = Mr rumus molekul, n dapat dihitung,
5. Kalikan n yang diperoleh dari hitungan dengan rumus empiris.
b. Menentukan Rumus Kimia Hidrat (Air Kristal)
Hidrat adalah senyawa kristal padat yang mengandung air kristal (H2O). Rumus
kimia senyawa kristal padat sudah diketahui. Jadi pada dasarnya penentuan rumus
hidrat merupakan penentuan jumlah molekul air kristal (H2O) atau nilai x. Secara
umum, rumus hidrat dapat ditulis sebagai berikut.
Rumus kimia senyawa kristal padat : x . H2O
Sebagai contoh garam kalsium sulfat, memiliki rumus kimia CaSO4 . 2H2O,
artinya dalam setiap satu mol CaSO4 terdapat 2 mol H2O.
Langkah-langkah penentuan rumus hidrat:
-Misalkan rumus hidrat adalah CuSO4. xH2O
-Tulis persamaan reaksinya.
-Tentukan mol zat sebelum dan sesudah reaksi.
-Hitung nilai x, dengan menggunakan perbandingan mol CuSO4: mol H2O
c. Hitungan Kimia

Penentuan jumlah pereaksi dan hasil reaksi yang terlibat dalam reaksi harus
diperhitungkan dalam satuan mol. Artinya, satuan-satuan yang diketahui harus
diubah ke dalam bentuk mol. Metode ini disebut metode pendekatan mol.
Adapun langkah-langkah metode pendekatan mol tersebut dapat Anda simak
dalam bagan berikut.
1. Tuliskan persamaan reaksi dari soal yang ditanyakan dan setarakan.
2. Ubahlah semua satuan yang diketahui dari tiap-tiap zat ke dalam mol.
3. Gunakanlah koefisien reaksi untuk menyeimbangkan banyaknya mol zat
reaktan dan produk.
4. Ubahlah satuan mol dari zat yang ditanyakan ke dalam satuan yang ditanya (L
atau g atau partikel, dll.).
d. Pereaksi Pembatas
Di dalam suatu reaksi kimia, perbandingan mol zat-zat pereaksi yang
dicampurkan tidak selalu sama dengan perbandingan koefisien reaksinya. Hal ini
berarti bahwa ada zat pereaksi yang akan habis bereaksi lebih dahulu. Pereaksi
demikian disebut pereaksi pembatas.
X + 2Y XY2
Pereaksi pembatas merupakan reaktan yang habis bereaksi dan tidak
bersisa di akhir reaksi. Dalam hitungan kimia, pereaksi pembatas dapat ditentukan
dengan cara membagi semua mol reaktan dengan koefisiennya, lalu pereaksi yang
mempunyai nilai hasil bagi terkecil merupakan pereaksi pembatas.
Reaksi di atas memperlihatkan bahwa menurut koefisien reaksi, 1 mol zat
X membutuhkan 2 mol zat Y. Dalam hitungan kimia, pereaksi pembatas dapat
ditentukan dengan cara membagi semua mol reaktan dengan koefisiennya, lalu
pereaksi yang mempunyai nilai hasil bagi terkecil, merupakan pereaksi pembatas.
Contoh soal:
Diketahui reaksi sebagai berikut:
S(s)+ 3F2(g)SF6(g)
Jika direaksikan 2 mol S dengan 10 mol F2
a.Berapa mol kah SF6 yang terbentuk?
b.Zat mana dan berapa mol zat yang tersisa? Penyelesaian : S + 3F2 SF6
Dari koefisien reaksi menunjukkan bahwa: 1 mol S membutuhkan 3 mol F2
Kemungkinan yang terjadi:
Jika semua S bereaksi maka F2 yang dibutuhkan:
mol F2
= 3/1 2 mol S
= 3 2 mol
= 6 mol
Hal ini memungkinkan karena F2 tersedia 10 mol. Jika semua F2 habis bereaksi,
maka S yang dibutuhkan:
mol S
= 1/3 10 mol F2
= 0,333 10 mol
= 3,33 mol
Hal ini tidak mungkin terjadi, karena S yang tersedia hanya 2 mol.

Jadi yang bertindak sebagai pereaksi pembatas adalah S. Banyaknya mol SF6
yang terbentuk = x mol S
a.mol SF6= 1 x 2 mol = 2 mol
b.zat yang tersisa adalah F2
, sebanyak = 10 mol 6 mol = 4 mol F2
Soal di atas dapat juga diselesaikan dengan:
Setarakan reaksinya.
Semua pereaksi diubah menjadi mol.
Bagikan masing-masing mol zat dengan masing-masing koefisiennya.
Nilai hasil bagi terkecil disebut pereaksi pembatas (diberi tanda atau
lingkari).
Cari mol zat yang ditanya.
Ubah mol tersebut menjadi gram/liter/partikel sesuai pertanyaan.
Penyelesaian: S + 3F2 SF6
2 mol : 10 mol
2/1 : 10/3
2 : 3,33 (Nilai 2 < 3,33)
Berarti zat pereaksi pembatas : S Sehingga ditulis:
a.mol SF6
=1/1 2 mol S
= 1 2 mol
= 2 mol
b.mol F2 yang bereaksi = 3/1 2 mol S
= 3 2 mol
= 6 mol mol F2 sisa
= mol tersedia - mol yang bereaksi
= 10 mol - 6 mol = 4 mol

BAB III
PENUTUP
III.1.Kesimpulan
Dari seluruh isi dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:
1. Hukum kekekalan massa, hokum perbandingan tetap, dan hokum kelipatan
berganda adalah hukum-hukum dasar kimia.
2. Penyetaraan persamaan reaksi dilakukan dengan memberi koefisien yang
tepat dengan tidak mengubah indeks senyawa.
3. Satu mol setiap zat mengandung partikel sejumlah tetapan Avogadro (L),
yaitu 6,023 x 10^23 Massa zat bergantung pada jumlah molnya, dimana
massa = mol Ar/Mr . Volume molar gas tidak bergantung pada jenisnya,
tetapi pada jumlah mol, suhu, dan tekanan pengukuran, dimana V = mol
Vm. Pada STP Vm= 22,4 liter/mol.
4. Rumus molekul dapat ditentukan dari rumus empiris, jika massa molekul
relatif (Mr) senyawa diketahui. Rumus empiris senyawa dapat ditentukan,
jika kadar unsur-unsurnya diketahui.
5. Konsentrasi suatu senyawa dalam larutan atau kemolaran larutan
dinyatakan dengan jumlah mol zat terlarut dalam tiap liter larutan.
M = n/V
III.2.Saran
Sesuai dengan kesimpulan, maka dapat diberikan beberapa saran yaitu dalam
mengerjakan setiap soal stoikiometri diharapkan memahami dan menguasai
konsep hukum-hukum dasar kimia. Selain itu soal-soal stoikiometri harus
dikerjakan secara teliti. Sebab perhitungan yang diberikan biasanya berbentuk
hitungan bilangan pecahan desimal dan bilangan berpangkat sehingga apabila

tidak teliti dapat menyebabkan kesalahan dalam perhitungan.

DAFTAR PUSTAKA
https://www.academia.edu/6820186/MAKALAH_STOIKIOMETRI_Oleh
http://andellaforester.blogspot.com/2014/04/makalah-stoikiometri.html
http://nopergoflinton.blogspot.com/2013/02/makalah-stoikiometri.html