Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH PENEMUAN

Kulit Pisang (Musa paradisiaca) sebagai


Baterai Kering Ramah Lingkungan
(biodegradable)

Penyusun :
Nama : Suprapto
Kelas : S1 AK 14 B
No.nim : 14080694028
Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi
Universitas negeri surabaya

DAFTAR ISI
Halaman
Lembar Pengesahan............................................................................................... iii
Kata Pengantar...................................................................................................... iv
Daftar Isi............................................................................................................... v
Daftar Gambar...................................................................................................... vi
Ringkasan Karya Tulis.......................................................................................... vii
BAB I. PENDAHULUAN.................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Identifikasi Masalah............................................................................. 3
1.3 Tujuan Penelitian.................................................................................. 3
1.4 Manfaat................................................................................................. 4
BAB II. TELAAH PUSTAKA............................................................................ 5
2.1 Tanaman Pisang..................................................................................... 5
2.1.1 Deskripsi Tanaman Pisang........................................................... 6
2.1.2 Daerah Penyebaran...................................................................... 8
2.2 Prospek Baterai Pisang.......................................................................... 9
2.3 Energi Alternatif.................................................................................... 10
2.4 Baterai Primer........................................................................................ 10
2.5 Teori Dasar Sel Listrik........................................................................... 12
BAB III. METODOLOGI................................................................................... 14
3.1 Tempat dan Waktu penelitian................................................................ 14

3.2 Bahan dan Alat...................................................................................... 14


3.2.1 Bahan........................................................................................... 14
3.2.2 Alat.............................................................................................. 14
3.3 Metode Pembuatan Baterai................................................................... 14
3.4 Pengujian............................................................................................... 15
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................... 16
4.1 Perfoma Kulit Pisang Sebagai Baterai................................................... 18
BAB V. PENUTUP.............................................................................................. 18
5.1 Kesimpulan............................................................................................ 18
5.2 Saran...................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 19
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Pohon Pisang............................................................................................. 6
2. Tanaman Pisang (Musa paradisiaca)......................................................... 8
3. Buah Pisang............................................................................................... 9
4. Kulit Pisang............................................................................................... 9
5. Baterai Bekas............................................................................................ 14
6. Pemotongan............................................................................................... 15
7. Hasil Pemotongan..................................................................................... 15
8. Pembongkaran Baterai.............................................................................. 15
9. Hasil Pembongkaran Baterai..................................................................... 15

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alam semesta menyediakan berbagai kebutuhan manusia. Kebutuhan tersebut, dibutuhkan
manusia untuk melangsungkan dan memenuhi segala tuntutan hidup. Manusia pun mulai berfikir
untuk memanfaatkan kekayaan alam guna memenuhi kebutuhan mereka. Seringnya manusia
menggunakan otaknya untuk berfikir, maka semakain cerdaslah pikiran manusia untuk mengolah
dan memanfaatkan alam semesta ini. Namun kecerdasan itu membuat manusia terlupa akan
kebutuhan yang diberikan alam terbatas, sedangkan manusia menggunakannya tanpa batas.
Kebanyakan manusia jarang yang berfikir untuk mendaur ulang ( recycle) kebutuhan-kebutuhan
yang sudah mereka konsumsi. Melainkan mereka hanya membuang limbahnya begitu saja tanpa
berfikir untuk memanfaatkannya. Ibarat sebuah pepatah habis manis sepah dibuang. Ibarat
tersebut tak jauh berbeda ketika kita mengkonsumsi buah pisang kemudian membung limbah
kulit pisangnya di sembarang tempat. Jarang sekali orang yang berfikir untuk memanfaatkan
kembali limbah kulit pisang tersebut, padahal tanpa kita tahu sebenarnya kulit pisang berpotensi
menjadi baterai kering ramah lingkungan.
Kata baterai mungkin sudah tidak asing didengar. Namun, baterai dari kulit pisang mungkin baru
sekali didengar. Baterai adalah sebuah alat yang digunakan untuk menyimpan tenaga listrik.
Baterai sebagai sumber energi alat-alat elektronik seperti jam dinding, laptop, radio, senter dan
alat alat elektronik lainnya. Begitu banyaknya peranan baterai bagi kehidupan manusia. Namun
tak dipungkiri juga, bahwa baterai yang kita gunakan sehari-hari sangat berbahaya baik untuk
kita maupun alam sekitar.
Baterai mengandung berbagai macam logam berat seperti merkuri, mangan, timbal, nikel,
lithium dan kadmium. Jika baterai ini dibuang sembarangan maka logam berat yang terkandung
di dalamnya akan mencemari air dan tanah penduduk juga membahayakan kesehatan. Jika air
yang tercemar logam berat ini digunakan oleh masyarakat, bisa menyebabkan penyakit kronis
yang nantinya menimbulkan gangguan di sistem saraf pusat, ginjal, sistem reproduksi bahkan
kanker
Limbah baterai tidak hanya berbahaya bagi manusia tetapi juga membahayakan sumber daya
alam karena mengandung logam berat dan elektrolit korosif yang dapat mencemari tanah dan air.
Apalagi Jika limbah baterai dicampur dengan limbah padat lainnya, dari waktu ke waktu
kandungan berbahaya di dalamnya dapat mengancam kehidupan ikan, tanaman, perusakan
lingkungan dan secara tidak langsung mengancam kesehatan manusia
Dalam aksi mikroorganisme di dalam baterai, merkuri anorganik yang ada di dalamnya bisa
diubah menjadi methylmercury, kemudian berkumpul dalam tubuh ikan yang kemudian
dikonsumsi manusia. Methylmercury dapat memasuki sel-sel otak dan berdampak serius seperti
merusak sistem saraf yang bisa membuat orang menjadi gila atau bahkan menyebabkan
kematian. Sedangkan kadmium baterai dapat mengkontaminasi tanah dan air, yang akhirnya

masuk ke tubuh manusia menyebabkan kerusakan hati dan ginjal, juga dapat menyebabkan
tulang lunak atau kecacatan tulang berat. Zat lainnya yang terkandung dalam baterai yaitu
timbal. Timbal juga dapat mengganggu fungsi ginjal dan fungsi reproduksi.
Peristiwa seperti ini semestinya tidak dibiarkan berlarut-larut. Jika dibiarkan bukan hanya
kesehatan kita yang dirugikan tetapi alam juga ikut merasakan kerugian tersebut. Sehingga, harus
ada pengganti bahan kimia tersebut, salah satunya yaitu pengembangan potensi potensi limbah
kulit buah sebagai baterai ramah lingkungan.
Limbah kulit pisang memiliki banyak manfaat, seperti sebagai bahan pembuatan pasta pada
baterai. Cara membuat pasta dari kulit pisang cukup mudah dan pemanfaatan limbah kulit pisang
sebagai pengganti pasta baterai sangat bermanfaat bagi masyarakat.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan data data yang penulis paparkan di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan,
antara lain :
1) Limbah pisang sering dijumpai masyarakat, apakah memiliki potensi menjadi baterai ramah
lingkungan ?
2) Apakah limbah pisang mempunyai kandungan zat zat alami yang dapat dijadikan sebagai
baterai ramah lingkungan ?
3) Apakah limbah pisang berpotensi menggantikan peranan baterai yang biasa digunakan
masyarakat ?
1.3 Tujuan Penelitian
1) Mendapatkan kandungan bahan baterai yang tersimpan dalam limbah kulit pisang.
2) Membuktikan potensi limbah kulit pisang yang digunakan untuk baterai.
3) Menemukan fakta fakta yang menunjukan bahwa kulit pisang berpotensi menjadi baterai
ramah lingkungan, sekaligus mengenalkan masyarakat pengolahan limbah limbah tersebut.
1.4 Manfaat
1) Memberikan rujukan pada instansi terkait untuk melakukan penemuan lebih lanjut mengenai
potensi yang terdapat di dalam kulit pisang sebagai baterai kering ramah lingkungan.
2) Memberikan masukan kepada pemerintah untuk menjadikan limbah kulit pisang sebagai
baterai.
3) Memberikan informasi dan masukan kapada masyarakat, untuk dapat mengelola limbah kulit
pisang menjadi baterai yang ramah lingkungan.

BAB II. TELAAH PUSTAKA


2.1 Tanaman Pisang
Pohon pisang ( Musa paradisiacal ) merupakan tanaman yang tidak mengenal musim, slalu
berkembang setiap waktu. Pohon pisang selalu melakukan regenerasi melalui tunas-tunas yang
tumbuh pada bonggolnya. Dengan cara itulah pohon pisang mempertahankan eksistensinya
untuk memberikan manfaatkan kepada manusia. Hampir seluruh bagian dari tanaman pisang
dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari bonggol, batang, daun, buah , bunga
sampai kulit pisang. Berikut ini adalah manfaat dari setiap bagian pohon pisang :
Bonggol ( umbi batang pisang )
Di beberapa daerah, bonggol batang pisang yang muda dapat dimanfaatkan untuk sayur, dan
olahan keripik pisang.
Batang
Batang pisang banyak dimanfaatkan masyarakat, terutama pada bagian yang mengandung serat.
Batang ini biasanya dikelupas hingga berbentuk lembaran. Nah,lembaran inilah yang sering
dimanfaatkan sebagai pembungkus untuk bibit tanaman sayuran. Apabila dikeringkan dan diolah
lebih lanjut dapat juga digunakan untuk tali pada pengolahan tembakau, untuk kompos, dan
dijadikan bahan baku pembuat kertas.
Daun
Masyarakat pedesaan memanfaatkan daun pisang sebagai bahan pembungkus makanan terutama
daun Pisang Batu. Daun Pisang Batu yang masih muda harganya mahal, biasanya digunakan
untuk membungkus kue tradisional. Daun yang tua, setelah dicacah dapat digunakan untuk pakan
ternak seperti kambing, kerbau atau sapi, karena banyak mengandung unsur yang diperlukan
oleh hewan. Bila daun pisang berlebihan dapat pula dimanfaatkan menjadi kompos.
Buah
Buah pisang selain dimanfaatkan sebagai sumber vitamin dan mineral juga dapat di manfaatkan
menjadi produk olahan antara lain pisang sale, tepung pisang, jam, sari buah, buah dalam sirup,
keripik, dan berbagai jenis olahan kue moderen dan tradisional. Buah ini mengandung vitamin,
yaitu C, B kompleks, B6, dan serotonin yang aktif sebagai neurotransmitter dalam kelancaran
fungsi otak. Pisang bisa menjadi pengganti makanan pokok, sehingga mengurangi
ketergantungan rakyat Indonesia terhadap beras.

Bunga
Bunga pisang disebut juga jantung pisang, karena bentuknya seperti jantung. Biasanya
dimanfaatkan untuk membuat sayur, karena kandungan protein dan vitaminnya. Selain dibuat
sayur, bunga pisang dapat pula diolah menjadi manisan, dan acar.
Kulit buah
Kulit buah ini biasanya digunakan sebagai bahan pakan ternak. Namun, seiring berjalannya
waktu limbah kulit ini tidak lagi digunakan unutuk pakan melainkan dimanfaatkan sebagai
energi listirk yang ramah lingkungan.
2.1.1 Deskripsi Tanaman Pisang

Gambar 1. Pohon pisang


Pohon Pisang mempunyai tinggi batang 2,5 - 3 m dengan warna hijau kehitaman. Daunnya
berwarna hijau tua. Panjang Tandan 60 - 100 cm dengan berat 15 - 30 kg. Setiap tandan terdiri
dari 8 - 13 sisiran dan setiap sisiran ada 12 - 22 buah. Daging buah dari pisang ini putih
kekuningan, rasanya manis agak asam, dan lunak. Kulit buah agak tebal berwarna hijau
kekuningan sampai kuning muda halus.
Pohon ini berakar rimpang dan tidak mempunyai akar tunggang. Akar ini berpangkal pada umbi
batang. Akar terbanyak berada di bagian bawah tanah. Akar ini tumbuh menuju bawah sampai
kedalaman 75-150 cm. Sedangkan akar yang berada di bagian samping umbi batang ke sampan
atau mendatar. Dalam perkembangannnya akar samping bias mencapai 4 - 5 m ( Satuhu dan
Ahmad, 2000 ).Untuk Batang sendiri sebenarnya terletak dalam tanah berupa umbi batang. Di
bagian atas umbi batang terdapat titik tumbuh yang menghasilkan daun dan pada suatu saat akan
tumbuh bunga pisang ( jantung ). Sedang yang berdiri tegak di atas tanah yang biasanya
dianggap batang itu adalah batang semu. Batang semu ini terbentuk dari pelepah daun panjang
yang saling melangkup dan menutupi dengan kuat dan kompak sehingga bisa berdiri tegak
seperti batang tanaman. Tinggi batang semu ini berkisar 3,5-7,5 m tergantung jenisnya ( Satuhu
dan Ahmad,2000 ). Daun pisang letaknya tersebar, helaian daun berbentuk lanset memanjang.
Pada bagian bawahnya berlilin. Daun ini diperkuat oleh tangkai daun yang panjangnya antara 30
- 40 cm. Daun pisang mudah sekali robek atau terkoyak oleh hembusan angin yang keras karena

tidak mempunyai tulang-tulang pinggir yang menguatkan lembaran daun ( Satuhu dan Ahmad,
2000 ).
Bunganya berkelamin satu, berumah satu dalam tandan. Daun penumpu bunga berjejal rapat dan
tersusun secara spiral. Daun pelindung berwarna merah tua, belilin, dan mudah rontok dengan
panjang 10 - 25 cm. Bunga tersusun dalam dua baris melintang. Bunga betina berada di bawah
bunga jantan ( jika ada). Lima daun tenda bunga melekat sampai tinggi, panjangnya 6 -7 cm.
benang sari 5 buah pada bunga betina tidak sempurna, bakal buah peregi, sedang pada bunga
jantan tidak ada ( Satuhu dan Ahmad, 2000 ). Sesudah bunga keluar, akan terbentuk sisir
pertama, kemudian memanjang lagi dan terbentk sisir kedua, ketiga, dan seterusnya. Jantungnya
perlu dipotong sebab sudah tidak bisa menghasilkan sisir lagi ( Satuhu dan Ahmad, 2000 ).
Pisang termasuk tanaman yang gampang tumbuh. Tanaman ini dapat tumbuh di sembarang
tempat. Namun, agar produktivitas tanaman optimal, sebaiknya pisang ditanam di dataran
rendah. Ketinggian tempat haruslah di bawah 1.000 meter di atas permukaan laut. Iklim tropis
basah, lembab dan panas mendukung pertumbuhan pisang. Namun demikian pisang masih dapat
tumbuh di daerah subtropis. Pada kondisi tanpa air, pisang masih tetap tumbuh karena air
disuplai dari batangnya yang berair tetapi produksinya tidak dapat diharapkan. Angin dengan
kecepatan tinggi seperti angin kumbang dapat merusak daun dan mempengaruhi pertumbuhan
tanaman. Curah hujan optimal adalah 1.5203.800 mm/tahun dengan 2 bulan kering. Variasi
curah hujan harus diimbangi dengan ketinggian air tanah agar tanah tidak tergenang.
Jenis tanah yang disukai tanaman pisang adalah tanah liat yang mengandung kapur atau tanah
alluvial dengan pH antara 4,5-7,5. Karenanya, tanaman pisang yang tumbuh di tanah berkapur
sangat baik, seperti di Pulau Madura yang banyak memiliki bukit- bukit kapur. Di daerah
beriklim kering antara 4-5 bulan pun pisang masih tumbuh subur asalkan air tanah tidah lebih
dari 150 cm di bawah permukaan tanah. Sementara kedalaman air tanah yang sesuai untuk
pisang yang ditanam di iklim biasa adalah 50-200 cm di bawah permukaan tanah (Satuhu dan
Ahmad, 2000).

Gambar 2. Tanaman pisang (Musa paradisiaca)


Pisang diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)


Sub Kingdom :Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi: Spermatophyta(menghasilkan biji)
Sub Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu/monokotil)
Ordo : Zingiberales
Family: Musaceae (suku pisang-pisangan)
Genus:Musa
Spesies : Musa paradisiaca
2.2 Prospek Baterai Pisang
Pisang secara tradisional tidak dibudidayakan secara intensif. Hanya sedikit yang dibudidayakan
secara intensif dan besar-besaran dalam perkebunan monokultur, seperti 'Gros Michel' dan
'Cavendish'.Jenis-jenis lain biasanya ditanam berkelompok di pekarangan, tepi-tepi lahan
tanaman lain, serta tepi sungai.

Gambar 3.Buah Pisang Gambar 4. Kulit pisang


Potensi dari tanaman ini terdapat dihampir seluruh bagian tanaman. Namun, potensi terbesarnya
ada pada bagian kulit pisang. Kulit pisang ini mempunyai potensi menjadi bahan dasar
pembuatan baterai ramah lingkungan. Setelah melalui proses panjang, kulit pisang ini akan
menghasilkan mineral yang berfungsi sebagai elektrolit ( pengganti pasta pada baterai ).
Elektrolit inilah yang nantinya akan menghasilkan arus listrik dalam batu baterai.
Umumnya, kulit pisang berukuran rata-rata 15 cm x 3 cm dengan berat sekitar 27 gram per buah.
Selain mengandung elektolit yang dapat menghasilkan listrik,kulit pisang ternyata juga
mengandung garam sodium yang mengandung klorida (Cl-) dalam jumlah sedikit. Reaksi antara
potassium atau kalium dan garam sodium dapat membentuk kalium klorida atau KCl. KCl
merupakan elektrolit kuat yang mampu terionisasi dan menghantarkan arus listrik. Pisang juga
mengandung Magnesium dan Seng. Magnesium (Mg) dapat bereaksi dengan diklorida dan
menjadi elektrolit kuat. Jumlah Magnesium hanyalah 15 % dari jumlah pisang keseluruhan.
Pisang juga mengandung Seng (Zn) yang merupakan elektroda positif. jumlah kandungan Seng

dalam pisang hanya mencapai 2 %. Sehingga mineral yang paling berperan dalam
menghantarkan listrik adalah potassium atau kalium, yang bereaksi dengan garam sodium.
Dimungkinkan garam magnesium dan seng juga turut berperan dalam menghantarkan dan
menyimpan arus listrik searah.
Sebuah data menunjukan bahwa berat bersih baterai kering dari kulit pisang yang digunakan
rata-rata sebesar 3,3 gram per baterai. Sementara kulit pisang utuh rata-rata 27 gram per satu
buah. Sehingga satu buah kulit pisang mampu dijadikan kurang lebih 8 baterai. Bayangkan
saja,jika satu buah kulit pisang dapat menghasilkan 8 baterai, maka selain kita dapat menghemat
membeli batu baterai juga akan mengurangi limbah kulit pisang itu sendiri.Bahkan dapat
mengurangi penggunaan penggunaan batu baterai yang kurang ramah lingkungan. 2.3 Energi
Alternatif Energi alternatif merupakan sumber energi yang dihasilkan dari bahan-bahan yang
belum pernah dimanfaatkan secara luas. Saat ini, penemuan mengenai energi alternatif lebih
dititik beratkan kepada energi alternatif yang menggunakan bahan-bahan alami dan bersumber
dari alam. Limbah kulit pisang merupakan salah satu bahan alami yang digunakan untuk
membuat batu baterai yang ramah lingkungan.Berbeda dengan batu baterai biasanya yang terdiri
atas suatu silinder zink yang berisi pasta dari campuran batu kawi, salmiak, karbon dan sedikit
air (jadi sel ini tidak 100% kering) zink berfungsi sebagai anode sedangkan sebagai katode
digunakan elektrode inert, yaitu grafit,yang di celupkan ditengah-tengah pasta. Pasta itu sendiri
berfungsi sebagai oksidator.Potensial suatu sel leclanche adalah 1,5 volt. Sel ini kadang disebut
sel kering asam karena adanya NH4Cl yang bersifat asam. Sel leclenche tidak dapat di isi
ulang.Batu baterai dari kulit pisang ini, mengandung zat-zat kimia alami yang dapat diuraikan
oleh alam. Keunggulan batu baterai berbahan dasar kulit pisang : 1. Mudah digunakan. 2.
Limbahnya lebih ramah laingkungan ( bio legradable ) 3. Mengurangi limbah baterai bekas 4.
Bahan dasar untuk pembuatan baterai mudah diperoleh
Baterai primer atau baterai sekali pakai biasanya tersusun dari tiga komponen penting, antara lain
batang karbon, seng dan pasta elektrolit. Batang karbon sebagai anoda (kutub positif baterai),
seng (Zn) sebagai katoda (kutub negatif baterai), pasta sebagai elektrolit (penghantar). Karena
pada prinsip baterai merubah energi kimia menjadi energi listrik, maka komponen-komponen
penting penyusun baterai tersebut, merupakan unsur kimia yang bisa membahayakan dan
mencemari lingkungan.
Meskipun baterai primer ini disebut baterai sekali pakai, namun tidak menutup kemungkinan
baterai ini dapat menyimpan energi listrik lagi setelah kita mengisi ulang baterai tersebut
menggunakan limbah kulit pisang. Hal yang menjadi keprihatinan kita bersama adalah perilaku
masyarakat dalam membuang baterai bekas secara asal-asalan. Ada yang membuang baterai di
tempat sampah sehingga campur menjadi satu dengan sampah-sampah yang lain, ada yang
membuangnya di aliran sungai, bahkan ada yang membuang sembarang tempat dipinggir jalan
atau di tanah lapang. Banyak masyarakat yang kurang mengetahui bahaya dan dampak limbah
baterai primer terhadap lingkungan sekitar.
Dari beberapa komponen penyusun baterai primer tersebut, beberapa komponen dapat
dimanfaatkan ulang sebagai barang-barang yang bisa kita pergunakan sebagai barang keperluan
sehari-hari. Misalnya batang karbon yang ada di dalam baterai dapat digunakan sebagai bahan
pewarna dan seng dan timbal dapat dipergunakan sebagai pemberat mata kail Timbel atau bisa
untuk bahan kerajinan.

Bahan dasar untuk membuat baterai kering terdiri atas 5 bahan utama, yaitu: black mix, paste,
carbon rod, Zn can, dan top seal. Berikut penjelasan dari kelima bahan tersebut :
Black mix terdiri atas mangan dioksida dengan karbon atau asetilen black dan grafit yang sesuai
sebagai katoda dan depolarizer. Mangan dioksida dihancurkan dulu hingga mencapai 80% atau
lebih butirannya dapat melewati saringan 200 mesh. Natural mangan maupun artifisial dapat
digunakan bersama-sama, namun biasanya proporsi mangan artifisial tidak lebih dari 30% karena
harganya yang mahal. Penggunaan mangan artifisial meningkatkan output listrik dari sel. Ratio
antara mangan dioksida dengan karbon dalam black mix bervariasi antara 3:1 hingga 8:1
berdasarkan beratnya. Nilai ini biasanya disebut nilai M/C. Sejumlah kecil amonia ditambahkan
ke dalam campuran karena kelarutan amonia dalam elektrolit masih kurang mencukupi. Bahanbahan ini pertama dicampurkan dalam keadaan kering, lalu dibasahi dengan sejumlah elektrolit
yang diaplikasikan dengan cara spraying. Proses mixing ini dilanjutkan hingga diperoleh
campuran yang seragam dan bebas dari kotoran serta partikel yang tidak rata. Biasanya 2-5 menit
cukup untuk dry mixing, dilanjutkan dengan wet mixing selama 10 menit.
Untuk mengetahui apakah campuran itu telah mencapai derajat kebasahan yang cukup ada
beberapa cara yang bisa dilakukan. Metode yang sederhana adalah dengan memberikan tekanan
kepada sampel sampai dikeluarkan cairan dari dalamnya. Kira-kira diperlukan tekanan sebesar
20-34 kgf/cm2. Sampel ditempatkan dalam silinder logam yang dibagian bawahnya terbuka.
Selain itu diletakkan pula kertas saring di atas pelat zinc. Listrik dihubungkan di antara silinder
dan pelat. Besarnya press humidity dan tegangan campuran kemudian dapat diketahui dari skala.
Campuran yang sudah memenuhi standar dibentuk sesuai dengan tinggi dan diameter yang telah
ditentukan dan dinamakan bobbin atau cores.
Paste atau elektrolit dari sel kering adalah campuran amonium klorida dengan zinc klorida.
Larutan ini digunakan dalam pembuatan pasta sebagai larutan pembasuh dalam pembuatan black
mix. Amonium klorida atau sal ammoniac adalah klorida yang paling cocok bagi reaksi sel.
Namun sifatnya korosif dan ketika tidak dapat diisi dan ia menyerang zinc can. Di lain pihak,
zinc klorida mempunyai peranan yang cukup penting, terutama untuk mempertahankan tegangan
kerja dari sel. Keberadaannya juga mampu menghambat serangan korosi amonium klorida
terhadap Zn. Hidrolisis zinc klorida membantu mempertahankan pH elektrolit yang diinginkan
dan meningkatkan tegangan sel.
Lapisan pasta sebagai separator antara anoda Zn dengan katoda dan juga sebagai reservoir
elektrolit. Biasanya pasta terdiri atas campuran 2 bagian tepung jagung dengan 1 bagian tepung
terigu dan dibuat pasta dengan penambahan elektrolit. Baik zinc klorida maupun amonium
klorida, keduanya memicu proses gelatinisasi.
Batang karbon yang terletak di tengah-tengah campuran dan sering disebut elektroda positif,
walaupun sebenarnya hanya merupakan kolektor dan konduktor arus listrik dari katoda ke
terminal positif eksternal sel.
Zn can yang berfungsi sebagai anoda dan kontainer sel.

Top seal yang menutupi sel dan membuatnya dapat dipakai dalam segala posisi. Seal tersebut
jelas merupakan bahan isolator yang terikat dengan cap pada batang karbon dan top rim dari
kontainer zinc.
2.5 Teori Dasar Sel Listrik
Baterai merupakan sistem elektrokimia. Tiap sel baterai terdiri atas 2 elektroda yang berbeda,
dipisahkan satu sama lain dalam cairan penghantar yang disebut elektrolit. Masing-masing
elektroda memiliki sistem sendiri dan menghasilkan potensial yang berbeda. Perbedaan potensial
di antara keduanya disebut elektromotive force.
Energi kimia yang dihasilkan dari reaksi sel merupakan sumber listrik yang disuplai baterai
ketika digunakan (discharge). Zat-zat pereaksi dalam sel sekunder secara lengkap dan efisien
dapat dikembalikan ke keadaan asalnya dengan memberikan arus listrik (charging) dengan arah
yang berlawanan, tetapi dalam sel primer hal ini tidak mungkin atau hanya sebagian saja. Hanya
jenis tertentu saja dari baterai primer yang dapat diperbaharui, yaitu dengan cara mengganti
elektroda dan elektrolitnya.
Ketika dua terminal sel dihubungkan dengan sirkuit luar dengan kabel, arus yang mengalir
proporsional dengan besarnya emf dan berbanding terbalik dengan besarnya hambatan baterai
dan sirkuit luar. Arus mengalir melewati elektrolit oleh partikel bermuatan, yang disebut ion dan
melewati bagian logam dari sirkuit oleh elektron. Reaksi kimia terjadi pada permukaan elektroda
di mana terjadi perubahan dari konduksi elektronik menjadi konduksi ionik dan sebaliknya.
Material katodik biasanya terbuat dari senyawa kimia seperti, PbO2, MnO2, NiO2, CuCl, atau
AgCl. Mereka adalah agens depolarisasi. Dicirikan dengan mudahnya menerima elektron,
akibatnya tingkat oksidasinya turun. Di lain pihak material anodik, biasanya logam seperti Pb,
Fe, Cd, Mg atau Zn. Sifatnya mudah melepaskan elektron membentuk ion positif dalam
elektrolit. Reaksinya disebut oksidasi.
Reaksi reduksi dan oksidasi disertai dengan perubahan kimia. Mungkin juga terdapat perubahan
di dalam elektrolit. Perubahan tersebut mengikuti hukum Faraday tentang elektrolisis. Ketika
baterai mensuplai arus listrik dikatakan baterai tersebut sedang di-discharge. Perubahan dari
energi kimia ke energi listrik berlangsung menurut hukum termodinamika.
Elektrolit yang menyediakan konduksi ionik antar elektroda harus disesuaikan dengan bahan
katoda dan anoda. Dalam elektrolit perlu adanya jumlah asam yang berlebih dibandingkan
jumlah yang diperlukan secara teoritis. Kalau tidak ia akan terlalu larut dan terlalu resisten
terhadap aliran arus listrik. Perubahan yang tidak diinginkan juga bisa terjadi. Laju reaksi akan
sebanding dengan pertukaran elektron antar elektroda, hal ini tergantung pada difusi, suhu,
permukaan efektif, dan kondisi dari sirkuit listrik.
BAB III. METODOLOGI
3.1 Bahan dan Alat

3.1.1 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :
a. Kulit buah pisang ( Musa paradisiaca )
Dalam penelitian ini, kulit pisang digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan baterai
ramah lingkungan.
b. Sediakan baterai primer bekas ( merk ABC, alkalin dan sejenisnya )
3.1.2 Alat
Peralatan yang dipakai dalam penelitian ini dibagi menjadi beberapa bagian :
a. Peralatan batu baterai dari kulit pisang :
1. Pisau
2. Gunting
3. Talenan (alas dari kayu)
4. Sebuah lidi
b. Peralatan untuk Uji performa
Jam dinding
3.1.3 Metode Pembuatan Batu Baterai
Metode pembuatan batu baterai yang penulis lakukan adalah dengan menggunakan metode
sederhana. Tujuannya agar cara ini dapat ditiru oleh masyarakat.

Langkah-langkah pembuatan batu baterai adalah sebagai berikut :


- siapkan baterai bekas yang sudah tidak terpakai. Baterai ini dapat dapat kita peroleh dari limbah
baterai yang banyak banyak dibuang di sekitar lingkungan masyarakat.

siapkan kulit pisang yang sudah disediakan sebelumnya

pertama potong kulit pisang tersebut menjadi kecil-kecil


Memotong kulit pisang ini dapat menggunakan beberapa cara
- buka tutup baterai yang ada diatas dengan gunting secara hati-hati agar tempatnya tidak rusak

bersihkan serbuk karbon yang ada di dalam baterai dengan hati-hati


agar batang karbon tersebut tidak rusak/patah

isikan kulit pisang yang telah dipotong kecil-kecil tadi ke dalam


baterai dengan manggunakan lidi dan sisahkan sedikit karbon sebagai kutub positif
- tutup baterai dengan tutup baterai yang telah kita buka tadi
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Performa Kulit Pisang Sebagai Baterai
Dari hasil penemuan untuk mengetahui apakah kulit pisang berpotensi sebagai baterai ternyata
benar, bahwa memang kulit pisang berpotensi menjadi baterai kering ramah lingkungan.
Adapun data hasil penemuan yang telah diukur tegangannya beserta kandungan zat kulit pisang .
Hasil penemuan menunjukkan bahwa rata-rata tegangan yang dihasilkan oleh baterai kering
dengan elektrolit kulit pisang adalah 1,24 volt. Kemudian ketahanan dalam jam dinding rata-rata
selama 5 hari 6 jam (135 jam). Kontruksi baterai kering kulit pisang sama dengan baterai biasa.
Perbedaannya adalah pada elektrolitnya. Kulit pisang mengandung beberapa mineral yang dapat

berfungsi sebagai elektrolit. Mineral dalam jumlah terbanyak adalah potassium atau kalium
(K+). Kulit pisang juga mengandung garam sodium yang mengandung klorida (Cl-) dalam
jumlah sedikit. Reaksi antara potassium atau kalium dan garam sodium dapat membentuk kalium
klorida atau KCl.

BAB V. PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil penemuan yang sederhana tentang potensi kulit pisang dijadikan sebagai baterai ramah
lingkungan, maka kesimpulan sebagai berikut :
1. Baterai yang menggunakan kulit pisang , rata-rata kulit pisang yang digunakan sebesar 3,3
gram per baterai. Sementara kulit pisang utuh rata-rata 27 gram per satu buah. Sehingga satu
buah kulit pisang mampu dijadikan kurang lebih 8 baterai. Hal ini merupakan keunggulan lain
baterai kering dari kulit pisang.

2. Dapat mengurangi limbah baterai sekaligus limbah kulit pisang. Limbah baterai yang biasanya
hanya dibuang atau tidak dimanfaatkan lagi. Hal ini tentu saja tidak hemat dari segi energi
maupun biaya.
3. Baterai bekas yang dibuang ke tanah akan menghasilkan limbah yang sulit terurai secara
alami. Ditambah lagi dari dampak yang ditimbulkan oleh pasta baterai yang telah mencemari
tanah, hal ini tentu akan mengurangi kesuburan tanah. Tetapi lain halnya dengan limbah kulit
pisang yang dapat terurai oleh alam serta ramah lingkungan.
4. Prospek kulit pisang kedepannya lebih menjanjikan dan cukup potensial untuk dijadikan
baterai primer ramah lingkungan di masa mendatang agar kelak, anak cucu kita dapat menikmati
hal yang sama. Prospek kedepannya juga ditunjang dengan banyak jumlah pohon pisang di
wilayah Indonesia.

Saran
1. Perlu diadakan penemuan lebih lanjut untuk dapat lebih meningkatkan potensi kulit pisang (
Musa paradisiaca ) sebagai baterai ramah lingkungan.
2. Perlu diterapkan penggunaan baterai dari kulit pisang sejak sekarang untuk mengurangi
pencemaran akibat bahan kimia yang berbahaya dari baterai primer yang biasa kita gunakan.
3. Pemerintah dan instansi terkait, diharapkan dapat mengembangkan baterai dari kulit pisang
mengingat potensinya yang dimilikinya cukup besar dengan memanfaatkan SDA yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
http://smpn1baturaden.wordpress.com/2009/05/15/kir-pemanfaatan-kulit-pisang-sebagai-bahanbaku-baterai-kering/
http://wacana24.blogspot.com/2008/05/baterai-dari-kulit-pisang.html
http://www.google.co.id/se
http://abycthong.blogspot.com/
http://cohesive98.wordpress.com/2011/11/23/arus-searah/
http://enokusuma.wordpress.com/ipa-3/63-2/
http://berbagisehatalami.blogspot.com/2011_03_01_archive.html

http://www.google.com
http://chaacin.wordpress.com/kandungan-manfaat-pisang/
http://adeerlin.blogspot.com/2011/06/bahaya-batu-baterai-bekas.html
http://carabudidaya.com/cara-budidaya-pisang
http://asilkrose.blogspot.com/2011/03/manfaat-kulit-pisang.html
http://kesehatan.kompasiana.com/makanan/2011/11/28/si-kulit-pisang-yang-bermanfaat
http://id.wikipedia.org/wiki/Pisang_Cavendish
Aginta Friska M, Faridatuk Affah. 2008. Pemanfaatan Apel Sebagai Bahan Baku Pembuatan
Baterai Sederhana.SMP Negeri 1 Bojonegoro
Drs. Asep Jamal Nur Arifin. 2008.Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit Modul Kimia Kelas X
(Sepuluh) http://www.dikmenum.go.id
Tim Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta,2003. Teknik Dasar Batere dan UPS. Modul
SMK Bidang Keahlian Teknik Telekomunikasi. Bagian Proyek Pengembangan Kurikulum
Direktorat Pendidikan Mengeha Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional
- See more at: http://data-smaku.blogspot.com/2012/10/karya-tulis-potensi-kulit-pisangmusa.html#sthash.Luepnj3t.dpuf