Anda di halaman 1dari 19

PENGEMBANGAN PROYEK PANASBUMI DAN RENCANA

PENGEMBANGAN LAPANGAN UAP


(Laporan Praktikum Eksplorasi Geothermal)

Oleh:
Virgian Rahmanda
1215051054

LABORATORIUM GEOFISIKA
JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ....................................................................................................... i


DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... ii
DAFTAR TABEL............................................................................................... iii
I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................... 1
B. Tujuan Percobaan ................................................................... 1

II.

TEORI DASAR
A. Tahapan Penyelidikan Dan Pengembangan Panas Bumi ....... 2
B. Rencana Pengembangan Lapangan Uap ................................ 3

III.

METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Alat Praktikum ...................................................................... 4
B. Diagram Alir .......................................................................... 4

IV.

HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN


A. Data Pengamatan .................................................................... 5
B. Pembahasan ............................................................................ 6

V.

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR

Gambar
Halaman
Gambar 3.1 Diagram Alir .................................................................................... 3

ii

DAFTAR TABEL

Tabel
Halaman
Tabel 4.1 Perhitungan jumlah sumur PLTP Tahap I ( 1x110Mwe) ..................... 5
Tabel 4.2 Perhitungan jumlah sumur PLTP Tahap II ( 1x80Mwe) ..................... 5
Tabel 4.3 Perhitungan jumlah sumur make up PLTP Tahap I ( 1x110Mwe) ...... 7
Tabel 4.4 Perhitungan jumlah sumur make up PLTP Tahap II ( 1x80Mwe) ....... 8

iii

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam pengembangan proyek panasbumi dan rencana pengembangan
lapangan uap sebelumnya telah dilakakukan perhitunga estimasi sumberdaya.
Beberapa metode yang digunakan dalam penentuan estimasi potensi panas
bumi adalah metode estimasi volumetrik dan metode perbandingan. Metode
perbandingan, yaitu menyetarakan suatu daerah panas bumi baru yang belum
diketahui potensinya dengan lapangan yang diketahui berpotensi, dimana
keduanya memiliki kemiripan kondisi geologi. Metoda ini digunakan untuk
menghitung potensi energi panas bumi dengan klasifikasi sumber daya
spekulatif.
Estimasi potensi energi panas bumi ini didasarkan pada kajian ilmu
geologi, geokimia, geofisika dan teknik reservoar. Kajian geologi lebih
ditekankan pada sistem, vulkanis, struktur geologi, umur batuan, jenis dan
tipe batuan ubahan dalam kaitannya dengan sistem panas bumi. Kajian
geokimia ditekankan pada tipe dan tingkat maturasi air, asal mula air panas,
model hidrologi dan sistem fluidanya. Kajian geofisika menghasilkan
parameter fisis batuan dan struktur bawah permukaan dari sistem panas bumi.
Adapun dalam perhitungan besarnya cadangan sumberdaya bawah
permukaan dan potensi listrik dapat dihitung dengan menggunakan metodemetode yang dalam bidang panasbumi lebih dikenal dengan istilah metode
untuk mengestimasi. Setelah dilakukan perhitungan, jika sesuai maka dapat
dilakukan pengembangan proyek panasbumi dan rencana pengembangan
lapangan uap. Dalam pengembangan setelah dilakukan estimasi volumetrik
maupun perbandingan terdapat beberapa tahapan lagi dalam mengembangkan
pltp. Oleh sebeb itu, untuk lebih memahami tahapan dalam pengembangan
lapangan uap panas bumi maka dilakukanlah praktikum ini.

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat mengetahui tahapan pengembangan proyek panasbumi
dan lapangan uap
2. Mahasiswa dapat membuat perencanaan pengambangan proyek
panasbumi dan lapangan uap
3. Mahasiswa dapat menghitung perkiraan kapasitas yang akan
dikembangkan beserta komponen pengembanganya.

II. TEORI DASAR

A. Tahapan Penyelidikan Dan Pengembangan Panas Bumi


Tahapan penyelidikan dan pengembangan panas bumi yang berkaitan dengan
klasifikasi potensi energi (lihat Alur kegiatan penyelidikan dan pengembangan
panas bumi dan lampiran) adalah sebagai berikut :
1.

Penyelidikan Pendahuluan/Rekonaisan
Kegiatan ini meliputi studi literatur dan peninjauan lapangan
(geologi, geokimia). Dari penyelidikan ini akan diperoleh peta geologi
tinjau dan sebaran manifestasi (seperti : air panas, steaming ground, tanah
panas, fumarol, solfatar), suhu fluida permukaan dan bawah permukaan
serta parameter panas bumi lainnya yang berguna untuk panduan
penyelidikan selanjutnya.
Eksplorasi pendahuluan (reconnaisance survey) dilakukan untuk
mencari daerah prospek panas bumi, yaitu daerah yang menunjukkan
tanda-tanda adanya sumberdaya panas bumi dilihat dari kenampakannya
dipermukaan, serta untuk mendapatkan gambaran mengenai geologi
regional didaerah tersebut.
Secara garis besar pekerjaan yang
dilaksanakan pada tahap ini terdiri dari:
1. Studi Literatur
2. Survei lapangan
3. Analisa data
4. Menentukan daerah prospek
5. Spekulasi besar potensi listrik
6. Menentukan jenis survei yang akan dilakukan selanjutnya
(Saptadji, 2003)

2.

Penyelidikan Pendahuluan Lanjutan


Dalam penyelidikan pendahuluan lanjutan ini dilakukan
penyelidikan geologi, geokimia, dan geofisika. Penyelidikan geologi
dilakukan
dengan
pendataan dari udara dan permukaan yang
menghasilkan peta geologi pendahuluan lanjutan, dilengkapi dengan
penyelidikan geohidrologi dan hidrologi yang menghasilkan peta
hidrogeologi.

3. Penyelidikan Rinci
penyelidikan rinci dilakukan berdasarkan rekomendasi dari
penyelidikan sebelumnya, yang lebih dititik beratkan pada penyelidikan
ilmu kebumian terpadu (geologi, geokimia, geofisika), dan dilengkapi
pemboran landaian suhu. Pada penyelidikan geologi dilakukan pemetaan

geologi rinci dengan skala yang lebih besar daripada peta pendahuluan
lanjutan, termasuk di dalamnya pemetaan batuan ubahan.
4. Pengeboran Eksplorasi (wildcat)
Pengeboran eksplorasi (wildcat) adalah kegiatan pengeboran
yang dibuat sebagai upaya untuk mengindentifikasi hasil penyelidikan
rinci sehingga diperoleh gambaran geologi, data fisis dan kimia bawah
permukaan serta kualitas dan kuantitas fluida.
5. Prastudi Kelayan
Kajian mengenai potensi panas bumi berdasarkan ilmu kebumian
dan kelistrikan yang merupakan dasar untuk pengembangan selanjutnya.
6. Pengeboran Delineasi
Kegiatan pada tahap ini adalah pengeboran eksplorasi tambahan
yang dilakukan untuk mendapatkan data geologi, fisik dan kimia reservoar
serta potensi sumur dari suatu lapangan panas bumi.
7. Studi Kelayakan
Kajian mengenai kelistrikan dan evaluasi reservoar untuk menilai
kelayakan pengembangan lapangan panas bumi dilengkapi dengan
rancangan teknis sumur produksi dan perancangan sistem pembangkit
tenaga listrik.
8. Pengeboran Pengembangan
Jenis kegiatan yang dilakukan adalah pengeboran sumur produksi
dan sumur injeksi untuk mencapai target kapasitas produksi. Pada tahap
pengeboran pengembangan ini dilakukan pengujian seluruh sumur yang
ada sehingga menghasilkan kapasitas produksi.
9. Pemanfaatan Panasbumi
Panasbumi dapat dimanfaatkan dengan dua cara yaitu dengan cara
pemanfaatan langsung dan tidak langsung (SNI 13-5012-1998).

B. Rencana Pengembangan Lapangan Uap


Perencaanaan pengembangan lapangan uap atau steam above ground sistem
(SAGS) pada sebuah PLTP lapangan panas bumi meluputi rencanna kerja dan
ruang lungkup kegiatan sebagai berikut :
1. Persiapan
2. Pengembangan Lapangan uap
3. Pemipaan
4. Rencana kontruksi Power Plant
(Suharno, 2010)

III. METODELOGI

A. Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah
sebagai berikut :
1.

Alat tulis

2.

Alat hitung

3.

Laptop

4.

Software Ms.Excel

5.

Contoh data

B. Diagram Alir Praktikum


Adapun diagram alir pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

Data kapasitas listrik total yang akan


dikembangakan
Penentuan unit
Penentuan Asusmsi perhitungan jumlah
sumur injeksi & produksi
Perhitungan jumlah sumur injeksi &
produksi per unit
Perhitungan sumur make up
Total produksi per unit pada t tahun
Analisis
Gambar 3.1 Diagram Alir

IV. DATA DAN PEMBAHASAN

A. Data Praktikum
Data praktikum merupakan data asumsi pengembangan sumur dengan
kapasitas 190 Mwe yang dilakukan selama 2 tahap. Tahap I sebesar 110 Mwe
dan tahap II sebesar 80 Mwe dengan kondisi lapangan sebagai berikut :
Jenis Reservoir
= 2 Fasa
Presentasi Uap dan brine Water = 30 : 70%
Suksesi Rasio
= 80 %
Suhu Reservoir
= 212,08 oC
Kapasitas sumur produksi
= 15 Mwe/sumur
Excess uap di kepala sumur
= 10 %
Kapasitas separator
= 1000 ton/jam

B. Pembahasan
Dari asumsi diatas diperoleh hasil perhitungan diasumsikan dengan
perbandingan uap dan brina adalah 30 berbanding 70 maka hasil produksi
uap, produksi brine dan produksi total berdasar asumsi diatas tanpa diketahui
; Uap per MW, produksi uap dan brine di pemisah adalah sebagai berikut ;
Tabel 4.1 Perhitungan jumlah sumur PLTP Tahap I ( 1x110Mwe)
Hasil
Produksi Uap
Ton/jam
150
Produksi brine
Ton/jam
350
Total produksi
Ton/jam
500
Sumur
Sumur produksi
Sumur Injeksi
Sumur pengganti
Jumlah pemisah

Jumlah
10
7
2
1

Unit
Sumur
Sumur
Sumur
Unit

Tabel 4.2 Perhitungan jumlah sumur PLTP Tahap II ( 1x80Mwe)


Hasil
Produksi Uap
Ton/jam
100
Produksi brine
Ton/jam
250
Total produksi
Ton/jam
350
Hasil
Sumur produksi

Jumlah
7

Unit
Sumur

Sumur Injeksi
Sumur pengganti
Jumlah pemisah

5
1
1

Sumur
Sumur
Unit

Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan, perhitungan


dilakukan dengan membuat asumsi perhitungan total brine dan total uap serta
total produksi dengan kuantitas ton/jam. Berdasarkan hasil total produksi
tersebut lau dilakukan perhitungan estimasi jumlah sumur yang dibutuhkan
dalam pengembangan lapangan uap.
Pengembangan lapangan uap dengan total 180 Mwe dengan 2
tahap. Tahap pertama dengan kapasitas 110 Mwe dan tahapan kedua dengan
kapasitas 80 Mwe. Dalam penentuan jumlah sumur produksi, injeksi,
pengganti dan jumlah pemisah dilakukan dengan memperhatikan asumsi
yang diberikan.
Pada pengembangan tahap pertama, jumlah sumur produksi yang
dihasilakan adalah 10 dengan kapasitas persumur adalah 15Mwe dan sukses
rasio 80%. Hal tersebut di perhitungakan dengan mengkalikan kapasitas
persumur yakni 15 Mwe dengan suksesi rasio sehingga diperoleh kapasitas
sukses rasio normal sebesar 12Mwe per sumur. Untuk mencapai 110 Mwe
diperlukan 10 sumur dengan kapasitas 12Mwe per sumur.
Untuk kalkulasi sumur pengganti diperhitungkan dari
kemungkinan kegagalan 20% dari sukses rasio 80% terhadap 10 jumlah
sumur produksi sehingga diperoleh 2 sumur pengganti. Sedangakan untuk
perhitungan jumlah sumur injeksi dengan memperhitungan perbandingan
brine dan uap yakni 70 berbanding 30. Setiap sumur produksi sebelum
menghasilkan uap yang dimasukan ke turbin untuk menggerakan generator
akan melalui separator dengan kapasitas asumsi 1000 ton/jam baru
menghasilkan hasil pemisahan uap dan air yang akan diinjeksikan kembali.
Dengan kapasitas perbandingan tersebut yakni 70 % brine terhadap 10
jumlah sumur produksi maka diperlukan minimal 7 buah sumur injeksi.
Dalam perhitungan jumlah pemisah di asumsi tidak diketahui kapasitas brine
dan uap di pemisah sehingga dengan memperhatikan kapasitas separatar yang
besar, agar lebih efisien hanya perlu menggunakan 1 buah separator.
Dalam pengembangan tahap kedua yang lebih kecil yakni 80Mwe,
asumsi produksi pun sama yakni perbandingan brine dan uap 70 berbanding
30 menghailkan total produksi brine 250 ton/jam, uap 100 ton/jam dengan
total 350 ton/jam. Dalam penentuan jumlah sumur produksi, injeksi,
pengganti dan jumlah pemisah dilakukan dengan memperhatikan asumsi
yang diberikan.
Pada pengembangan tahap kedua, jumlah sumur produksi yang
dihasilakan adalah 7 dengan kapasitas persumur adalah 15Mwe dan sukses
rasio 80%. Hal tersebut di perhitungakan dengan mengkalikan kapasitas
persumur yakni 15 Mwe dengan suksesi rasio sehingga diperoleh kapasitas
sukses rasio normal sebesar 12Mwe per sumur. Untuk mencapai 80 Mwe
diperlukan 7 sumur dengan kapasitas 12Mwe per sumur, sehingga
diperkirakan akan menghasilkan lebih dari 80Mwe yakni 84 Mwe.
Untuk kalkulasi sumur pengganti diperhitungkan dari
kemungkinan kegagalan 20% dari sukses rasio 80% terhadap 7 jumlah sumur

produksi sehingga diperoleh 1 sumur pengganti. Sedangakan untuk


perhitungan jumlah sumur injeksi dengan memperhitungan perbandingan
brine dan uap yakni 70 berbanding 30. Setiap sumur produksi sebelum
menghasilkan uap yang dimasukan ke turbin untuk menggerakan generator
akan melalui separator dengan kapasitas asumsi 1000 ton/jam baru
menghasilkan hasil pemisahan uap dan air yang akan diinjeksikan kembali.
Dengan kapasitas perbandingan tersebut yakni 70 % brine terhadap 7 jumlah
sumur produksi maka diperlukan minimal 5 buah sumur injeksi. Dalam
perhitungan jumlah pemisah di asumsi tidak diketahui kapasitas brine dan
uap di pemisah sehingga dengan memperhatikan kapasitas separatar yang
besar, agar lebih efisien hanya perlu menggunakan 1 buah separator.
Dari hasil penjelasan tersebut menghasilkan jumllah sumur pada
hasil perhitungan terhadap asumsi yang diberikan. Dalam perbandingan
antara sumur produksi dan sumur injeksi dilakukan dengan memperhatikan
perbandingan brine dan uap yang ada di separator dan total produksi yang di
hasilkan. Selain itu Jumlah sumur eksplorasi juga tergantung dari besarnya
luas daerah yang diduga mengandung energi panas bumi. Biasanya di dalam
satu prospek dibor 3-5 sumur eksplorasi. Kedalaman sumur tergantung dari
kedalaman reservoir yang diperkirakan dari data hasil survei rinci, batasan
anggaran dan teknologi yang ada, tetapi sumur eksplorasi umumnya dibor
hingga kedalaman 1000-3000meter.
Misalkan, apabila sumur injeksi yang harus dibuat dalam
pembuatan 5 sumur produksi, jika perbandingan fluida total dan brine water
3:2 adalah 3 buah sumur karena memperhatikan julah fluida yang akan di
injeksikan kembali agar memperolah kesetimbangan.
Selain itu, Dalam pengembangan sumur make up perlu
diperhatikan nilai penurunan kinerja pertahun sehingga dapat diestimasi
setiap berapa tahun sekali perlu dilakukan penambahan sumur make up agar
memenuhi kapasitas turbin. Adapun hasil perhitungan kapasitas sumur
berdasarkan asumsi sumur make up pada tahap I dan tahap II adalah sebagai
berikut
Tabel 4.3 Perhitungan jumlah sumur make up PLTP Tahap I ( 1x110Mwe)

Tabel 4.4 Perhitungan jumlah sumur make up PLTP Tahap II ( 1x80Mwe)

Dalam perhitungan sumur make up pada pengembangan tahap I


dilakukan dengan mempertimbangan depresiasi 10 % hingga tahun ke 5
mulai tuhun 2015 mengalami penurunan dibawah kapasitas minimum turbin
sehingga perlu dilakukan pembuatan sumur make up untuk efisiensi 5 tahun
kedepan, karena pembuatan sumu make up juga harus mempertimbangkan
akomodsi dan mobilisasi rig yang memakan cuku biaya, sehingga
pengeboran sumur make up dilakukan sebanyak 4-5 sumur per 5 tahun.
Begitupun tahap pengembangan ke II yang lebih kecil dengan depresiasi 7%
perlu dilakukan pembuatan sumur make up sebanyak 2 sumur per 5 tahun
dengan mempertimbangkan kapasitas turbin dan efisiensi mobiliasasi alat
pengeboran.
Dari total estimasi total produksi uap pertahun untuk tahap I, dengan
kapasitas uap per jam adalah 150 ton/jam maka setahun akan menghasilkan
produksi uap (150 ton/jam x 24 jam x 30 hari x 12 bulan) sebesar
1296000/tahun. Sedangkan untuk tahap ke II sebesar (100 ton/jam x 24 jam x
30 hari x 12 bulan) adalah 864000 ton/tahun serta kapasitas total produksi
uap pada lapangan uap dengan kapasitas 180 Mwe adalah sebesar 2160000
ton/tahun.
Dalam pengembangan proyek lapangan uap selain memperhitungkan hal-hal
tersebut di atas, juka perlu memperhatikan tahapan proses pengembangan
lapangan panas bumi dan lapangan uap, yakni sebagai berikut;
1. Studi Lingkungan
Aspek lingkungan pada dasarnya merupakan kegiatan yang sangat
penting dan tidak dapat dipisahkan dari proyek pengembangan lapangan
panas bumi. Studi Lingkungan sumur eksplorasi, selama proses pegeboran
sumur eksplorasi dan melakukan penilaian terhadap dampak yang terjadi
setelah pengeboran sumur eksplorasi. Penilaian ini dilakukan untuk
menilai kelayakan lingkungan bagi pengembangan WKP panas bumi di
suatu daerah

2. Evaluasi Terpadu dan Desain Pengeboran Eksplorasi


Evaluasi terpadu geoscience penyelidikan yang dilakukan dengan berbagai
metoda sehingga dapat menyajikan informasi secara terpadu. Evaluasi
terpadu geoscience meliputi geologi, geokimia, geofisika yang berperan
sebagai berperan untuk:
Menghasilkan model tentatif panas bumi.
Mendapatkan informasi yang lebih baik mengenai kondisi geologi
permukaan dan bawah permukaan.
Mengidentifikasi daerah yang didugamengandung sumberdaya
panas bumi.
3. Eksplorasi Bawah Permukaan
Pada kegiatan eksplorasi bawah permukaan ini perlu dilakukan beberapa
tahapan seperti pembebasan lahan, pemboran sumur eksplorasi, dan
geologi lubang sumur.
a. Pembebasan lahan, diperlukan untuk lokasi pada sumur eksplorasi
dan jalur pemipaan air pemboran serta lokasi gudang dan tempat
peralatan-peralatan.
b. Pemboran sumur eksplorasi, untuk membuktikan adanya sistem
panasbumi, dimensi serta
karakteristik
reservoar dilakukan
pemboran eksplorasi.
c. Survey geologi lubang sumur, dalam tahapan ini dilakukan dengan
2 tahapan yaitu :
Analisa cutting yang bertujuan untuk memperbaiki model
struktur panas bumi yang pernah dibuat selama studi tingkat
awal, mempelajari tektonik secara detail berdasarkan
kolom
geologi
sumur, merekonstruksikan
sejarah volkanik
berdasarka pada
hasil
interpretasi kolom litologi sumur,
penentuan umur batuan
volkanik
dan umur alterasi,
danmenentukan sejarah aktifitas panas bumi.
Survey lubang bor yang bertujuan untuk mencatat temperatur dan
tekanan lubang bor secara periodik dan
memberikan
gambaran kualitas panas bumi pada saat terjadi hilang
sirkulasi
selama pemboran.
d. Uji produksi dilakukan untuk mendapatkan informasi/data yang lebih
persis mengenai jenis dan sifat fluida produksi, kedalaman reservoir,
jenis reservoir , temperatur reservoir, sifat batuan reservoir, laju alir
massa fluida, entalpi dan fraksi uap pada berbagai tekanan kepala
sumur dan kapasitas produksi sumur (dalam MW).

10

4. Studi Kelayakan
Studi kelayakan perlu dilakukan apabila ada beberapa sumur-sumur
eksplorasi menghasilkan fluida panas bumi. Tujuan dari studi ini adalah
untuk menilai apakah sumberdaya panas bumi yang terdapat di
daerah tersebut secara teknis dan ekonomis untuk diproduksikan.
Prosedur penilaian kelayakan ini adalah sebagai berikut :
Aspek kelayakan teknis, dinilai dari besarnya cadangan
yang
ada
yang ditentukan oleh besarnya suhu reservoar yang dapat
dilihat pada kajian geokimia, isotop dan sumur-sumur pemboran
eksplorasi yang ada.
Aspek kelayakan ekonomi, Aspek ini harus bernilai ekonomis
dengan
cara menganalisa dan mensimulasikan perhitungan
keuangan mulai tahap eksplorasi sampai dengan eksploitasi.
Aspek Kelayakan Sosial dan Lingkungan, keberadaan proyek
pengembangan panas bumi seyogianya bermanfaat atau
dapat
dirasakan
oleh masyarakat dan ramah lingkungan, tidak
mengganggu aktivitas warga akibat dari mobilitas kendaraan dan
pengeboran, dan perlu adanya pengelolaan limbah hasil dari
pengeboran.
5. Rekomendasi dan Desain Pengembangan PLTP
Didalam penentuan lokasi sumber PLTP bumi sangat mutlak
dilaksanakan, sebagai persyaratan perlu mempelajari :
Posisi Steam Reservoir, syarat reservoir geothermal yang dapat
dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, adalah jarak peresapan batuan
tidak terlalu jauh, jarak terbentuknya uap alam tidak terlalu dalam,
perlu adanya suatu zone kedap air, curah hujan yang cukup untuk
mensuplai air ke reservoir, dan daerahnya pernah mengalami gejala
geologi diman terbentuk sruktur yang memungkinkan sumber panas
mencapai permukaan.
Faktor kegempaan (seismisitas), sangat mempengaruhi suatu PLTP
dalam hal ekstraksi dan reinjeksi uap alam melahirkan gejala lokal
seismiticity,
gempa
bumi mengakibatkan fasilitas dan operasi
PLTP terpengaruh.
Pemilihan lokasi PLTP, dalam pemilihan lokasi perlu diperhatikan
jarak ke sumur produksi, morfologi lokasi, pondasi PLTP, acces
road, tersedianya tanah (tidak ada konflik dalam penggunaan),
pemilihan material / bahan bangunan untuk peralatan pada PLTP
bumi, dan umur (life time) cadangan uap.

11

6. Rencana Konstruksi dan Pengembangan


Pada tahap konstruksi proyek perlu melakukan kegiatan pengeboran sumur
pengembangan meliputi sumur eksploitasi/produksi untuk menjamin
tersedia uap sebanyak yang dibutuhkan oleh pembangkit listrik, sumur
injeksi untuk menginjeksikan kembali air limbah dan sumur subsitusi
(sumur pengganti apabila sumur yang dibor gagal memproduksi
fluida/uap).
7. Rencana Eksploitasi, Operasional dan Pemanfaatan PLTP
Dalam kegiatan ini meliputi beberapa tahapan, yaitu:
a. Produksi listrik, pada tahapan ini PLTP telah beroperasi sehingga
kegiatan utama adalah menjaga kelangsungan produksi uap dari sumur
sumur produksi dan produksi listrik dari PLTP.
b. Monitor lapangan, kegiatan monitor lapangan di WKP panas bumi
mencakup pokokpokok kegiatan sebagai berikut :
Infrastruktur: pengawasan terhadap kondisi jalan akses, well
pad, bendung sumber air pemboran, bak air di water pump
station (WPS).
Sumur: Mmnitoring WHP masing- masing sumur (Produksi dan
injeksi).
Power Plant: Power output (MW); Turbine rate {kph); Jet
ejector (kph}; scrubber steam wash (kph); vent valves (%).
Pencatatan data klimatologi pada waktu tertentu.
c. Manajemen reservoir, kegiatan manajemen reservoar di WKP panas
bumi mencakup pokok-pokok kegiatan sebagai berikut:
Pengoperasian
wellhead
pressure
(WHP): Untuk mengurangi potensi pengerakan (scaling) di
dalam sumur, suhu fluida reservoar dijaga dengan mengatur
wellhead pressure (WHP) minimum 15 bar abs.
Pengaturan laju alir injeksi brine dan
kondensat untuk kesetimbangan suhu.
Penempatan sumur injeksi yang tepat sesuai dengan model
geologi bawah permukaan.
Monitoring pressure dan suhu (P&T) dalam sumur secara
periodik setiap bulan.
Monitoring kestabilan laju alir fluida produksi.
Melakukan interferent test.
Monitor pergerakan fluida di reservoar dengan memasang
microgravity.
d. Workover Sumur, Kerja ulang (workover) yang dilakukan terhadap
sumur, pada dasarnya adalah kegiatan memperbaiki sumur sehingga

12

kembali pada kondisi semula dan diharapkan dapat memproduksi uap


seperti yang diinginkan. Jika selama waktu tertentu tidak dipakai
untuk memproduksi, sumur tersebut disumbat menggunakan semen dan
lumpur pemboran.
e. Pengeboran sumur make-up, pengeboran sumur make-up dilakukan
untuk menambah pasokan uap pada sumur-sumur produksi yang telah
mengalami depresiasi.
f. Community development/ CSR, Secara umumcommunity development
atau pembangunan masyarakat adalah proses dimana masyarakat
berinisiatif mulai kegiatan sosial untuk memperbaiki kondisi dirisendiri.

V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :


1. Untuk menjamin tersedia uap sebanyak yang dibutuhkan oleh pembangkit
listrik diperlukan sejumlah sumur produksi. Selain itu juga diperlukan
sumur untuk menginjeksikan kembali air limbah. Pemboran sumur dapat
dilakukan secara bersamaan dengan tahap perencanaan pembangunan
PLTP.
2. Penentuan sumur produksi dan injeksi dilakukan dengan memperhatikan
perbandingan brine dan uap pada total produksi uap, brine dan total dari
semua sumur yang digunakan.
3. Jumlah sumur eksplorasi juga tergantung dari besarnya luas daerah yang
diduga mengandung energi panas bumi. Biasanya di dalam satu prospek
dibor 3-5 sumur eksplorasi.
4. Kedalaman sumur tergantung dari kedalaman reservoir yang diperkirakan
dari data hasil survei rinci, batasan anggaran dan teknologi yang ada,
tetapi sumur eksplorasi umumnya dibor hingga kedalaman 10003000meter.
5. Jenis fluida panas bumi dapat menjadi pertimbangan julah sumur produksi,
injeksi, alternatif pengembangan dan pengusulan kapaitas listrik yang akan
dipasang

DAFRTAR PUSTAKA

Farduwin, A. dan Z. Yuliansyah. 2011. Pengembangan Proyek Panasbumi.


PROCEEDINGS The 11 TH ANNUAL INDONESIAN GEOTHERMAL
ASSOCIATION MEETING & CONFERENCE Bandar Lampung on 1314 September, 2011
Saptadji, N. 2001. Teknik Panasbumi. Bandung: ITB
SNI. 13-6171-1999. Metode Estimasi Potensi Energi Panasbumi.
Suharno. 2010. Pengembangan Prospek Panasbumi. Bandar Lampung:
Universitas Lampung

LAMPIRAN