Anda di halaman 1dari 17

Anamnesi Penyakit Sistemik

Jantung
Sesak Nafas (Dispnea) saat istirahat, berbaring atau aktifitas
Nyeri dada berdasarkan S(Site-lokasi), Onset, Character (tajam, diremas, ditekan)
Radiation(menjalar ke leher, rahang), Assosiation (terkait dengan rasa mual, pusing atau
palpitasi), Timing (apakah bervariasi), Exacerbating dan relieving factor (faktor pencetus dan
pereda), Severity (Keparahan)
DM
Pada awalnya, pasien sering kali tidak menyadari bahwa dirinya mengidap diabetes melitus,
bahkan sampai bertahun-tahun kemudian. Namun, harus dicurigai adanya DM jika seseorang
mengalami keluhan klasik DM berupa:

poliuria (banyak berkemih, sering buang air kecil dengan frekuensi berlebih)

polidipsia (rasa haus sehingga jadi banyak minum)

polifagia (banyak makan karena perasaan lapar terus-menerus)

penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya

Jika keluhan di atas dialami oleh seseorang, untuk memperkuat diagnosis dapat diperiksa
keluhan tambahan DM berupa:

lemas, mudah lelah, kesemutan, gatal

penglihatan kabur

penyembuhan luka yang buruk

disfungsi ereksi pada pasien pria

gatal pada kelamin pasien wanita

Diagnosis DM tidak boleh didasarkan atas ditemukannya glukosa


pada urin saja. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan kadar glukosa darah dari
pembuluh darah vena. Sedangkan untuk melihat dan mengontrol hasil terapi dapat
dilakukan dengan memeriksa kadar glukosa darah kapiler dengan glukometer.

Seseorang didiagnosis menderita DM jika ia mengalami satu atau lebih kriteria di bawah ini:

Mengalami gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma sewaktu 200 mg/dL

Mengalami gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma puasa 126 mg/dL

Kadar gula plasma 2 jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) 200 mg/dL

Pemeriksaan HbA1C 6.5%

Keterangan:

Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa
memperhatikan waktu makan terakhir pasien.

Puasa artinya pasien tidak mendapat kalori tambahan minimal selama 8 jam.

TTGO adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan memberikan larutan glukosa


khusus untuk diminum. Sebelum meminum larutan tersebut akan dilakukan
pemeriksaan kadar glukosa darah, lalu akan diperiksa kembali 1 jam dan 2 jam setelah
meminum larutan tersebut. Pemeriksaan ini sudah jarang dipraktekkan.

Jika kadar glukosa darah seseorang lebih tinggi dari nilai normal tetapi tidak masuk ke dalam
kriteria DM, maka dia termasuk dalam kategori prediabetes. Yang termasuk ke dalamnya
adalah

Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT), yang ditegakkan bila hasil pemeriksaan
glukosa plasma puasa didapatkan antara 100 125 mg/dL dan kadar glukosa plasma
2 jam setelah meminum larutan glukosa TTGO < 140 mg/dL

Toleransi Glukosa Terganggu (TGT), yang ditegakkan bila kadar glukosa plasma 2
jam setelah meminum larutan glukosa TTGO antara 140 199 mg/dL

Tabel kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM:

Kadar glukosa darah


sewaktu (mg/dL)
Kadar glukosa darah
puasa (mg/dL)

Bukan DM
Plasma vena <100
Darah kapiler <90
Plasma vena <100
Darah kapiler <90

Belum Pasti DM
100-199
90-199
100-125
90-99

DM
200
200
126
100

Sumber: Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia PERKENI tahun 2011

HIPERTENSI

KATEGORI

SISTOLIK (mmHg)

Normal
Perbatasan
Hipertensi tingkat 1
Hipertensi tingkat 2
Hipertensi tingkat 3

< 130
130-139
140-159
160-179
180

DIASTOLIK
(mmHg)
< 85
85-89
90-99
100-109
110

Gejala Klinis
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala
dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai
kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.
a) Biasanya pasien mengeluh nyeri dada, dan sesak nafas (dipsnea)
b) Adanya tekanan darah melampaui 160/90 mmHg
c) Adanya retinopathy
d) Mata kabur pada edema papil mata
e) Sakit kepala hebat dan nyeri tengkuk
f) Peningkatan TIK
g) Mual dan muntah
h) Perubahan level kesadaran
i) Nistagmus
j) Abdominal bruit
k) Oliguri, Hematuri dan proteinuri
l) Peningkatan MAP (tekanan arteri rata-rata)
(sumber: Alspach, Joann Griff, 2006)
Menurut Rokhaeni (2001), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi
yaitu : Mengeluh sakit kepala, pusing, Lemas, kelelahan, Sesak nafas, Gelisah, Mual,
Muntah, Epistaksis, Kesadaran menurun

CATAFLAM
Cataflam 25 mg memiliki kandungan natrium diklofenak 25 mg, merupakan obat analgesik
dan mengurangi peradangan yang termasuk ke dalam golongan nonsteroidal antiinfammatory drug (NSAID). Cataflam dapat mengurangi radang, nyeri dan menurunkan
demam melalui mekanisme inhibisi biosintesis dari prostaglandin, kerja Cataflam yang cepat
menjadikan Cataflam obat pilihan pada kondisi akut peradangan dan serangan nyeri.
Cataflam diindikasikan untuk mengurangi nyeri ringan hingga sedang yang dapat disebabkan
oleh rematik artritis, osteoarthritis, keram otot, peradangan otot, tendonitis, sendi yang
terkilir, dan nyeri perut yang berkaitan dengan menstruasi. Cataflam dapat digunakan setelah
pasien mengalami trauma seperti kecelakaan ringan, operasi kecil seperti cabut gigi, serangan
migren, serangan akut asam urat, Penggunaan Cataflam pada anak jarang diberikan, salah
satu indikasi penggunaan Cataflam pada anak adalah Juvenile Rhematoid Arthritis (JRA)
Cataflam tidak boleh digunakan pada pasien yang memiliki hipersensitivitas terhadap aspirin,
natrium diclofenak, atau NSAID lainnya. Ibu hamil pada trisemester terakhir dan ibu
menyusui. Pasien dengan sakit maag kronis atau ulkus saluran cerna, pasien dengan riwayat
perdarahan lambung dan usus, pasien dengan gagal ginjal dan gangguan hati berat.

EFEK SAMPING
Ketika menggunakan Cataflam dapat muncul efek samping seperti mual disertai muntah,
nyeri perut, diare atau konstipasi. Pusing dan nyeri kepala, serta ruam kulit ringan. Cataflam
dapat menyebabkan perdarahan lambung atau usus. Cataflam dapat meningkatkan risiko
serangan jantung atau stroke jika digunakan dalam jangka panjang, pasien dengan riwayat
penyakit jantung atau operasi jantung tidak disarankan menggunakan obat ini. Pasien juga
dapat mengalami vertigo, mata berkunang-kunag atau pusing berputar serta mengantuk,
orang yang mengkonsumsi Cataflam disarankan untuk tidak mengendarai kendaraan
bermotor dan alat berat.

DOSIS
Dosis Cataflam untuk orang dewasa adalah 2 hingga 3 kali sehari sebanyak 25 mg untuk
nyeri ringan, untuk nyeri sedang dapat menggunakan dosis 2 hingga 3 kali sebanyak 50 mg.
Dosis pada anak adalah 2-3 mg/kg BB setiap harinya. Cataflam dapat digunakan seperlunya
ketika serangan nyeri muncul, penggunaan lebih dari 2 minggu harus dibawah pengawasan
dokter.

AMOXSAN
Amoxsan adalah produk antibiotik golongan beta laktam aminobenzyl penicillin dari Sanbe
Farma dengan kandungan amoxicillin trihydrate. Amoxicillin stabil dalam keadaan asam,
diserap cepat melalui saluran pencernaan tanpa terpengaruh adanya makanan di lambung, dan
mencapai dosis efektif dalam 1jam. Kemampuan bakterisida amoxicillin efektif terhadap
bakteri Gram-positif dan Gram-negatif. Amoxsan tersedia dalam sediaan tablet,kapsul, sirup,
tetes, dan injeksi.
Indikasi:

Infeksi saluran pernapasan atas, misalnya tonsilitis, sinusitis, laringitis, dan faringitis;

Infeksi saluran pernapasan bawah, misalnya bronkitis, bronkiolitis, dan pneumonia;

Infeksi telinga tengah (otitis media);

Infeksi saluran kemih, seperti pielonefritis, sistitis, dan uretritis;

Infeksi kulit, seperti luka terbuka, selulitis, bisul, dan pioderma;

Infeksi lambung oleh bakteri Helicobater pylori (sebagai kombinasi dengan antibiotik
lainnya).

Kontraindikasi:

Pasien alergi terhadap obat golongan penisilin yang telah diketahui, termasuk bayi
yang lahir dari ibu yang alergi terhadap penisilin;

Penggunaan obat bersama-sama dengan vaksin bakteri hidup membuat vaksin tidak
efektif karena kandungan bakteri hidup yang ada dalam vaksin akan dimusnahkan
oleh obat sehingga kekebalan tubuh yang diinginkan tidak terbentuk.

EFEK SAMPING

Reaksi alergi yang ditandai dengan gejala nyeri kepala, kulit kemerahan, bengkak,
dan gatal. Reaksi alergi yang berat dapat menimbulkan syok (penurunan tekanan
darah cepat dalam waktu singkat);

Gangguan saluran pencernaan, yaitu mual, muntah, dan diare;

Penggunaan amoxicillin jangka panjang, seperti antibiotik pada umumnya, dapat


mengakibatkan superinfeksi oleh jamur dan bakteri yang resisten terhadap
amoxicillin.

DOSIS
Dosis obat dapat bervariasi tergantung dari penyakit yang diderita. Pada infeksi ringan
sampai sedang, untuk orang dewasa dapat digunakan sediaan kapsul 250mg sampai 500mg
tiga kali sehari. Untuk infeksi yang lebih berat seperti pneumonia atau otitis media dapat
diberikan dosis yang lebih tinggi sesuai anjuran dokter. Untuk anak-anak dengan berat badan
diatas 8kg, direkomendasikan sediaan sirup karena tersedia dengan dosis yang lebih kecil.
Untuk bayi yang berusia dibawah 6 bulan atau berat badan dibawah 8kg digunakan sediaan
tetes. Perlu diperhatikan bahwa dosis obat anak diberikan berdasarkan berat badan anak dan
diperlukan konsultasi dengan dokter atau dokter anak.

CAPTOPRIL
Captopril adalah obat tekanan darah tinggi atau hipertensi. Obat ini merupakan obat pilihan
pertama untuk penderita hipertensi tanpa komplikasi. Terdapat bayak golongan obat
antihipertensi. Captopril termasuk dalam golongan obat inhibitor enzim angiotensin
konverter (angiotensin-converting enzyme inhibitor, ACEI).
Captopril cepat bekerja dalam tubuh sehingga sering diberikan untuk hipertensi gawatdarurat. Selain untuk hipertensi, captopril juga berkhasiat untuk penyakit berikut:
1. Gagal jantung kronik;
2. Kelainan jantung kiri pascaserangan jantung;
3. Penyakit ginjal terkait penyakit gula (diabetes).
Captopril tidak boleh diberikan pada kondisi berikut:
1. Alergi (hipersensitif) terhadap obat golongan ACEI;
2. Pasien tidak dapat berkemih (anuria);
3. Penyempitan pembuluh darah ginjal (stenosis bilateral arteri renal);
4. Kehamilan trimester 2 dan 3 karena berisiko menyebabkan kecacatan atau kematian
janin.

EFEK SAMPING

Secara umum, captopril merupakan obat yang aman untuk hipertensi. Beberapa efek samping
dan persentase kemunculan efek samping yang pernah dilaporkan adalah:
1. Hiperkalemia (1-11%);
2. Reaksi alergi (4-7%);
3. Kemerahan pada kulit (4-7%);
4. Tekanan darah rendah (hipotensi) (1-2,5%);
5. Gatal (2%);
6. Batuk kering (0,5-2%);
7. Detak jantung cepat (takikardi) (1%);
8. Nyeri dada (1%).
Bila muncul efek samping, captopril biasanya akan diganti dengan obat hipertensi dari
golongan lain.

DOSIS
Captopril tersedia dalam kemasan tablet 12,5 mg, 25 mg, dan 50 mg. Captopril tersedia
sebagai obat generik maupun paten. Untuk pengobatan hipertensi, captopril diberikan dalam
dosis 25 mg sebanyak 2-3 kali per hari. Dosis dapat ditingkatkan sesuai dengan respon
pengobatan. Dosis untuk hipertensi grade I biasanya 2-3 kali 25-50 mg, sendangkan untuk
hipertensi grade II ialah 2-3 kali 50-100 mg. Captopril juga biasa dikombinasikan dengna
obat hipertensi lainnya untuk mencapai goal terapi. Dosis maksimum yang masih
diperbolehkan ialah 450 mg per hari. Banyak pasien yang membeli bebas captopril, namun
sebaiknya diiringi dengan kontrol teratur ke tenaga medis untuk mengetahui respon
pengobatan dan kontrol tekanan darah.
Untuk mendapatkan khasiat pada pasien gagal jantung kronik, dosis awal yang diberikan
ialah 6,25-12,5 mg sebanyak tiga kali sehari. Dosis kemudian ditingkatkan hingga 2-3 kali 50
mg. Untuk kelainan ginjal akibat sakit gula (diabetes), captopril digunakan untuk mengurangi
pengeluaran protein berlebihan dari ginjal. Dosis yang diberikan ialah tiga kali 25 mg.

Cara Kerja Obat:


Kaptopril merupakan obat antihipertensi dan efekif dalam penanganan gagal jantung dengan cara
supresi sistem renin angiotensin aldosteron. Renin adalah enzim yang dihasilkan ginjal dan bekerja
pada globulin plasma untuk memproduksi
angiotensin I yang besifat inaktif. "Angiotensin Converting Enzyme" (ACE), akan merubah
angiotensin I menjadi angiotensin Il yang besifat aktif dan merupakan vasokonstriktor endogen serta
dapat menstimulasi sintesa dan sekresi aldosteron dalam korteks adrenal.
Peningkatan sekresi aldosteron akan mengakibatkan ginjal meretensi natrium dan cairan, serta
meretensi kalium. Dalam kerjanya, kaptopril akan menghambat kerja ACE, akibatnya pembentukan
angiotensin ll terhambat, timbul vasodilatasi, penurunan sekresi aldosteron sehingga ginjal

mensekresi natrium dan cairan serta mensekresi kalium. Keadaan ini akan menyebabkan penurunan
tekanan darah dan mengurangi beban jantung, baik 'afterload' maupun 'pre-load', sehingga terjadi
peningkatan kerja jantung. Vasodilatasi yang timbul tidak menimbulkan reflek takikardia.

ASPILET
Indikasi:
Untuk menurunkan demam, meringankan sakit kepala, sakit gigi dan nyeri otot.
Kontra Indikasi:
Penderita hipersensitif (termasuk asma). Penderita tukak lambung (maag), pernah atau sering
mengalami perdarahan di bawah kulit (konsultasikan dengan dokter). Penderita hemofilia dan
trombositopenia, karena dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan. Penderita yang
sedang terapi dengan antikoagulan (konsultasikan dengan dokter).
Komposisi:
Setiap tablet mengandung:
Asam Asetilsalisilat ................................. 80 mg
Cara Kerja Obat:
ASPILETS Chewable mengandung asam asetilsalisilat dengan bufer, bekerja dengan

mempengaruhi pusat pengatur suhu di hipotalamus sehingga dapat menurunkan demam, dan
menghambat pembentukan prostaglandin sehingga dapat menurunkan rasa sakit.
Dosis:
Diberikan 3 kali sehari.
Anak 2 - 6 tahun ................................. 1/2 - 1 tablet.
Anak 6 - 12 tahun ................................ 1 - 2 tablet.
Atau menurut petunjuk dokter.
Tablet boleh dihancurkan dahulu sebelum dilepaskan dari foilnya, lalu dilarutkan dalam
sejumlah air atau dicampur dengan susu, dan diminum sesudah makan.
Perhatian:
Jauhkan dari jangkauan anak-anak guna mencegah salah penggunaan tablet ini. Bila setelah 2
hari demam tidak menurun atau setelah 5 hari nyeri tidak menghilang, segera hubungi dokter
atau unit pelayanan kesehatan. Hati-hati untuk penderita gangguan fungsi ginjal atau hati dan
dehidrasi.Hati-hati penggunaan pada anak-anak dengan gejala demam terutama flu, varisela
(cacar air), sebelumnya konsultasikan ke dokter karena dapat terjadi bahaya Reye SYndrome.
Sebaiknya obat ini diminum setelah makan atau bersama dengan makan. Alkohol dapat
meningkatkan perdarahan gastrointestinal bila diminum bersamaan dengan obat ini.
Pemakaian jangka panjang dapat menyebabkan perdarahan pada lambung.
Efek Samping:
Kadang-kadang dapat terjadi: iritasi lambung, mual, muntah. Pemakaian jangka panjang
dapat terjadi: perdarahan lambung, tukak lambung.
Kemasan:
Dus berisi 100 tablet (10 strip @ 10 tablet).
Penyimpanan:
Simpan di tempat sejuk dan kering (15 - 25 derajat C).

ALLOPURINOL
Indikasi:
Gout dan hiperurisemia
Kontra Indikasi:
Alergi terhadap Alopurinol. Penderita dengan penyakit hati dan "bone marrow suppression".
Komposisi:
Tiap tablet mengandung Alopurinol 100 mg

Cara Kerja Obat:


Alopurinol adalah obat penyakit priai (gout) yang dapat menurunkan kadar asam urat dalam
darah. Alopurinol bekerja dengan menghambat xantin oksidase yaitu enzim yang dapat
mengubah hipoxantin menjadi xantin, selanjutnya mengubah xantin menjadi asam urat.
Dalam tubuh Alopurinol mengalami metabolisme menjadi oksipurinol (alozantin) yang juga
bekerja sebagai penghambat enzim xantin oksidase. Mekanisme kerja senyawa ini
berdasarkan katabolisme purin dan mengurangi prosuksi asam urat, tanpa mengganggu
biosintesa purin.
Posologi:
Dewasa:
Dosis awal 100 mg sehari dan ditingkatkan setiap minggu sebesar 100 mg sampai dicapai
dosis optimal.
Dosis maksimal yang dianjurkan 800 mg sehari.
Pasien dengan gangguan ginjal 100 - 200 mg sehari.
Anak 6 - 10 tahun:
Bila disertai penyakit kanker, dosis maksimal 300 mg sehari.
Anak di bawah 6 tahun:
Dosis maksimal 150 mg sehari.
Dosis tergantung individu, sebaiknya diminum sesudah makan. Pemeriksaan kadar asam urat
serum dan fungsi ginjal membantu penetapan dosis efektif minimum, untuk memelihara
kadar asam urat serum <= 7 mg/dl pada pria dan <= 6 mg/dl pada wanita.
Peringatan dan Perhatian:
Hati-hati pemberian pada penderita yang hipersensitif dan wanita hamil.
Hindari penggunaan oada penderita dengan gagal ginjal atau penderita dengan hiperurisemia
asimptometik.
Hentikan pengobatan dengan Alopurinol bila timbul kemerahan kulit atau demam.
Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan katarak.
Selama pengobatan dianjurkan melakukan pemeriksaan mata secara berkala, hentikan
pengobatan jika terjadi kerusakan lensa mata.
Penggunaan pada wanita hamil, hanya bila ada pertimbangan manfaat dibandingkan
risikonya.
Alopurinol dapat meningkatkan frekuensi serangan artritis gout akut sehingga sebaiknya obat
antiinflamasi atau kolkisin diberikan bersama pada awal terapi.
Hati-hati bila diberikan bersama dengan vidarabin.

Efek Samping:
Reaksi hipersensitifitas: ruam mokulopapular didahului pruritus, urtikaria, eksfoliatif dan lesi
pupura, dermatitis, nefritis, faskulitis dan sindrome poliartrtis. Demam, eosinofilia, kegagalan

hati dan ginjal, mual, muntah, diare, rasa mengantuk, sakit kepala dan rasa logam.
Interaksi Obat:
Pemberian Alopurinol dengan azatioprin, merkaptopurin atau siklofosfamid, dapat
meningkatkan efek toksik dari obat tersebut.
Jangan diberikan bersama-sama dengan garam besi dan obat diuretik golongan tiazida.
Dengan warfarin dapat menghambat metabolisme obat di hati.
Cara Penyimpanan:
Simpan di tempat sejuk dan kering.

Cara penulisan data dengan format problem oriented dikenal dengan konsep SOAP.
Konsep SOAP terdiri dari 4 bagian:
1. Subjective (Data Subjektif)
Berisikan bagaimana perasaan pasien terhadap keluhannya sekarang. Seringkali perkataan
pasien ditulis dalam tanda kutip supaya dapat menggambarkan keadaan pasien.
2.Objective(Data Objektif)
Berisikan hasil pemeriksaan jasmani dan pemeriksaan
penunjang.
3.Assessment (Pengkajian)
Berisikan bagaimana pendapat pemeriksa mengenai data tersebut di atas dan hubungannya
dengan kasus. Pengkajian merupakan tulisan yang berisi hasil integrasi pemikiran dokter
(berdasarkan pengetahuannya mengenai patofisiologi, epidemiologi, presentasi klinis
penyakit, dan lain sebagainya) terhadap data subjektif dan objektif yang ada.
4.Plan(Rencana)
Berisikan rencana selanjutnya, baik diagnostik, pengobatan maupun penyuluhan.

Macam tingkat kesadaran seseorang pasien


1. Compos Mentis adalah ketika seseorang masih tersadar penuh.
2. Apatis adalah yaitu kurangnya respon terhadap keadaan sekeliling ditandai dengan
tidak adanya kontak mata atau mata terlihat menerawang dan tidak fokus.
3. Samnolen ( letargie ) adalah keadaan dimana seseorang sangat mudah mengantuk dan
tidur terus menerus tapi masih mudah di bangunkan.
4. Sopor adalah kondisi tidak sadar atau tidur berkepanjangan tetapi masih memberikan
reaksi terhadap rangsangan.
5. Koma adalah kondisi tidak sadar dan tidak ada reaksi terhadap rangsangan tertentu.
6. Delirium adalah penurunan kesadaran disertai kekacauan motorik dan siklus tidur
bangun. pasien tampak gaduh, gelisah, kacau, disorientasi, dan meronta-meronta.
7. Semi Koma adalah penurunan kesadaran yang tidak memberikan respon rangsangan
verbal dan tidak dapat di bangunkan sama sekali ( kornea, pupil ) masih baik. respon
nyeri tidak adekuat.
8. GCS ( glasgow coma scale ) adalh skala yang dipakai untuk menentukan atau menilai
tingkat kesadaran pasien atau klien, mulai dari sadar sepenuhnya hingga koma. teknik
ini terdiri dari 3 bagian yang di tunjukan oleh pasien setelah di beri stimulasi tertentu,
yakmi respon buka mata, respon motorik terbaik dan respon verbal. setiap penilain
mencakup poin dimana total poin tertinggi 15.

Pemantauan tingkat kesadaran dengan mengunakan pemeriksaan Glasgow Coma


Skala (GCS ),
1. BUKA MATA.

Nilai total : 4

- Buka mata tidak ada meskipun dirangsang nilai 1


- Buka mata jika ada nyeri

nilai 2

- Buka mata jika diajak bicara/ disuruh

nilai

- Buka mata spontan

nilai 4

2. RESPON MOTORIK.

Nilai total : 6

- Respon motor tidak ada

nilai

- Respon motor ektensi

nilai

- Respon motor fleksi abnormal

nilai

- Respon motor reaksi abnormal

nilai

- Respon motor tunjuk nyeri

nilai 5

- Respon motor menurut perintah

nilai 6

3. RESPON VERBAL.

Nilaitotal : 5

- Respon verbal tidak ada

nilai

- Respon verbal tanpa arti

nilai 2

- Respon verbal tak benar

nilai 3

- Respon verbal bicara ngacau

nilai 4

- Respon verbal orientasi baik

nilai 5

GCS nilai 15

: kesadaran normal.

GCS nilai 03

: kesadaran coma.

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SOP Pengukuran Tanda Vital ( Pernafasan, Nadi,


Tekanan Darah Dan Suhu )
SOP
Pengukuran Tanda Vital ( Pernafasan, Nadi, Tekanan Darah Dan Suhu )
Pengertian :
1. Pernafasan
menghitung jumlah pernafasan ( inspirasi yang diikuti ekspresi selaman 1 menit.
2. Nadi
menghitung frekuensi denyut nadi ( loncatan aliran darah yang dapt teraba yang terdapat di
berbagai titik anggota tubuh melalui perabaan pada nadi, yang lazim diperiksa atau diraba
pada radialis.
3. Tekanan darah
melakukan pengukuran tekanan darah ( hasil dari curah jantung dan tekanan darah perifer )
mdengan menggunakan spygnomanometer dan sttoskop.
4. Suhu
mengukur suhu tubuh dengan mengguanakan termometer yang di pasangkan di mulut, aksila
dan rektal.
Suhu
Suhu tubuh menunjukkan kehangatan tubuh manusia. Timbulnya panas tubuh karena adanya
latihan dan metabolism makanan. Panas tubuh akan hilang melalui kulit, paru, dan produk
sisa melalui proses radiasi, konduksi, konveksi, dan eaporasi.Suhu tubuh mencerminkan
keseimbangan antar produksi panas dan kehilangan panas, dan diukur dalam unit panas
derajat.
Mekanisme kehilangan panas:
1. Radiasi
Adalah pemindahan panas dari permukaan obek tertentu ke permukaan obyek yang lain tanpa
adanya kontak antara kedua obyek. Yang paling sering adalah dengan sinar infra merah (atau
penyebaran panas dengan gelombang elektromagnetik)
2. Konduksi
Adalah perpindahan panas ke obyek lain melalui ontak langsung
3. Evaporasi (penguapan)
Adalah perubahan dari cairan menjadi uap. Seperti cairan tubuh dalam bentuk keringat
menguap dari kulit.
4. Konveksi
Adalah penyebaran panas oleh karena pergerakan udara dengan kepadatan yang tidak
Suhu tubuh normal:

1. Suhu permukaan: 36,8 37,4 C (96,6 -99,3 F)


2. Suhu inti : 36,4 38 C (97,5 100,4 F)

Pengukuran suhu
1. Oral
Termometer diletakkan di bawah lidah dimana terdapat arteri sublingual dan biasanya
menunjukkan hasil pengukuran 0,5 0,8C di bawah suhu inti.
2. Rektal Berbeda 0,1C dengan suhu inti.
Kontraindikasi :
1) Diare
2) Pembedahan rectal
3) Clotting disorders
4) Hemorrhoids
3. Aksila
Hasil pengukuran 0,6C lebih rendah dibandingkan suhu oral.Paling sedikit dilakukan,
mudah dan nyaman.
Kontraindikasi :
1)
Pasien kurus
2)
Inflamasi local daerah aksila
3)
Tidak sadar, shock
4)
Konstriksi pembuluh darah perifer.

Nadi
Nadi adalah sensasi denyutan seperti gelombang yang dapat dirasakan / dipalpasi di arteri perifer, terjadi
karena gerakan atau aliran darah ketika konstraksi jantung.
Nadi adalah gelombang darah yang

dibuat oleh kontraksi ventrikel kiri jantung. Pada orang dewasa kontriksi jantung 60-100
x/mnt saat istrahat. Cardiac output adalah volume darah yang dipompakan ke dalam arteri
oleh jantung = SVxHR. Nadi perifer adalah nadi yang berada jauh dari jantung, contoh: kaki,
radialis, leher, nadi apical. Nadi sentral: lokasinya di apex jantung.
2. Pemeriksaan denyut nadi
Nilai denyut nadi merupakkan indicator untuk menilai system kardiovaskuler, denyut nadi dapat diperiksa
dengan mudah menggunakan palpasi di atas arteri radialis ataupun nadi perifer yang lain.
Nilai normal nadi adalah : 60-80 x/menit

Respirasi
Nilai pemeriksaan pernafasan merupakan salah satu indicator untuk mengetahui fungsi system pernafasan
yang didalamnya ada siklus pertukaran O2 dan CO2.

Bunyi tambahan.
1. Krekels/rales adalah bunyi yang berlainan atau non kontinyu yang terjadi akibat
penundaan pembukaan kembali jalan napas yang menutup:
1. Krekels halus dapat terdengar pada akhir inspirasi.
2. Krekels kasar mempunyai bunyi parau dan basah.
3. Mengi (ronki) adalah bunyi berirama kontinyu yang durasinya lebih lama
dibanding krekels. Dapat terdengar pada saat inspirasi, ekspirasi atau pada
keduanya.
Tekanan Darah
Nilai tekanan darah merupakan indicator untuk menilai system kardiovaskuler bersamaan dengan
pemeriksaan nadi. Dalam pemeriksaan tekanan darah ada 2 metode yaitu: metode langsung dan tak
langsung.
Metode langsung yaitu:
memasukkan kanula atau jarum langsung ke dalam pembuluh darah yang dihubungkan ke manometer.
Metode ini adalah metode paling tepat dan akurat tetapi pasien tidak nyaman dan memerlukan metode
khusus.
Metode tidak langsung:
Adalah metode yang menggunakan manset yang disambungkan ke sfigmanometer.
Mekanisme metode ini adalah dengan mendengarkan bunyi koroktoff pada dinding arteri brakhialis
dengan menggunakan stetoskop. Bunyi koroktoff sendiri adalah bunyi gelombang sel-sel darah yang
dikontrasikan (saat sistolik) oleh jantung dan mengenai dinding arteri maka timbul bunyi dug..dug

Macam-macam suhu tubuh menurut (Tamsuri Anas 2007) :

Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dari 36C

Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36 37,5C

Febris / pireksia, bila suhu tubuh antara 37,5 40C

Hipertermi, bila suhu tubuh lebih dari 40C

Berdasarkan distribusi suhu di dalam tubuh, dikenal suhu inti (core temperatur), yaitu
suhu yang terdapat pada jaringan dalam, seperti kranial, toraks, rongga abdomen, dan rongga
pelvis. Suhu ini biasanya dipertahankan relatif konstan (sekitar 37C). selain itu, ada suhu
permukaan (surface temperatur), yaitu suhu yang terdapat pada kulit, jaringan sub kutan, dan
lemak. Suhu ini biasanya dapat berfluktuasi sebesar 20C sampai 40C.

Kita dapat mengukur suhu tubuh pada tempat-tempat berikut:


1. ketiak/ axilae: termometer didiamkan selama 10-15 menit
2. anus/ dubur/ rectal: termometer didiamkan selama 3-5 menit
3. mulut/ oral: termometer didiamkan selama 2-3 menit

Adapun suhu tubuh normal menurut usia dapat dilihat pada tabel berikut:
USIA
3 Bulan
6 Bulan
1 Tahun
3 Tahun
5 Tahun
7 Tahun
9 Tahun
11 Tahun
13 Tahun
Dewasa
>70 Tahun

SUHU(DERAJAT CELCIUS)
37,5C
37,5C
37,7C
37,2C
37,0C
36,8C
36,7C
36,7C
36,6C
36,4C
36,0C