Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

KEBUDAYAAN BADUI

NAMA
KELAS

:Chintiami Nurjanah
:X IPS 2

Jalan Raya Cikaso KM. 1 Surade Kec.Surade,Kab. Sukabumi-Jawa Barat 43179


Telp/Pax: (0266)
6492858sman1surade@gmail.com

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
ditugaskan oleh Bapak Suyanto yang berjudul Menjaga Adat Istiadat Suku Baduy
sebagai Salah Satu Warisan Leluhur Masyarakat Sunda ini.
Makalah ini berisikan tentang kebudayaan suku Baduy, perbedaan antara
Baduy Dalam dan Baduy luar, adat pernikahan dalam suku Baduy, dan seluk- beluk
tradisi serta kebiasaan masyarakat Baduy. Penulis menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang
bersifat membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir sehingga
terselesaikannya makalah ini.

Surade,06 Februari 2016

Abstrak
Adat istiadat atau tradisi adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan
menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu
wilayah, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar
dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi, baik
tertulis maupun lisan. Informasi yang diteruskan secara turun-menurun
dimaksudkan agar tradisi tersebut tidak akan punah. Di Indonesia terdapat berbagai
macam adat istiadat yang berbeda-beda, ada adat Jawa, adat Sunda, adat Batak,
dan lain sebagainya. Keanekaragaman adat istiadat ini menambah keindahan
kebudayaan bangsa Indonesia. Salah satu adat istiadat yang menarik perhatian
untuk ditelusuri adalah adat Sunda, lebih tepatnya adat istiadat suku Baduy. Suku
Baduy adalah sekumpulan masyarakat yang bertempat tinggal di Desa Kenakes,
Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Mereka masih sangat
menjunjung tinggi adat istiadat yang diturunkan oleh leluhur mereka. Masyarakat
suku Baduy hidup secara sederhana dan belum terkontaminasi dengan kebudayaan
luar. Mereka enggan menerima pengaruh atau mengikuti perkembangan zaman
yang semakin banyak menggunakan alat-alat canggih. Itu merupakan prinsip yang
masih dipegang teguh oleh masyarakat Baduy sampai sekarang. Adat istiadat suku
Baduy wajib dijaga karena merupakan aset kebudayaan bangsa yang masih asli.
Kata Kunci : suku Baduy, adat istiadat, menjaga tradisi, warisan leluhur, Sunda

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................ i
ABSTRAK....................................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................. 1
1. LATAR BELAKANG...................................................................... 1
2. RUMUSAN MASALAH................................................................ 2
3. TUJUAN...................................................................................... 2
4. METODE PENELITIAN................................................................ 2
5. TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI............................ 3
BAB II PEMBAHASAN................................................................................... 4
1. KEHIDUPAN KHAS SUKU BADUY................................................ 4
2. PERBEDAAN BADUY LUAR DAN BADUY DALAM........................ 9
3. ADAT PERNIKAHAN SUKU BADUY.............................................. 12
BAB III PENUTUP........................................................................................ 14
1. RINGKASAN ............................................................................14
2. SARAN.....................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari
13.487 pulau, karenanya Indonesia juga disebut sebagai Nusantara. Indonesia
terbentang dari Sabang sampai Meurauke yang terdiri dari berbagai adat, tradisi,
budaya, dan bahasa daerah yang berdeda-beda. Perbedaan yang beraneka
ragam membuat Indonesia berdiri sebagai negara multikultural. Namun, segala
perbedaan yang beraneka ragam tersebut tidak menjadikan masyarakat
Indonesia tercerai berai. Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia yang
menjunjung tinggi sikap pluralisme. Sikap pluralisme masyarakat Indonesia juga
ditujukan kepada suku Baduy, yaitu suku yang masih sangat tradisional dan
tidak menerima pengaruh apapun dari luar. Perkembangan zaman yang semakin
maju dengan segala macam teknologi canggih yang menyertainya, ternyata
tidak mampu mengusik eksistensi suku Baduy untuk tetap memegang teguh
adat istiadat yang telah diwariskan oleh para leluhurnya hingga sampai
sekarang ini. Sungguh hal yang sangat luar biasa apabila kita berbicara tentang
prinsip dan pedoman yang diterapkan oleh masyarakat suku Baduy, yang lebih
memilih untuk tetap terisolasi dari dunia luar dan berpegang teguh dengan pola
hidup yang sederhana dan tradisional. Betapa tidak, Banten adalah sebuah kota
modern, dan letaknya tidak jauh dari jantung ibukota negara Indonesia, Jakarta,
yang identik dengan kemewahan dan segala kecanggihannya. Dengan segala
keaslian dan keunikan tersebut, sudah tentu banyak orang atau wisatawan yang
ingin berkunjung kesana. Orang Baduy terbuka kepada siapa pun yang datang
berkunjung, asalkan mereka menaati peraturan yang ada. Namun, semakin
banyak orang yang datang kesana, ditakutkan akan merusak alam yang telah
dijaga oleh suku Baduy selama bertahun-tahun.
1.2Rumusan Masalah
1) Bagaimana kehidupan khas masyarakat suku Baduy?
2) Bagaimana membedakan suku Baduy Dalam dan Baduy Luar?
3) Bagaimana proses pernikahan dalam adat suku Baduy?
1.3 Tujuan
1) Menjelaskan kehidupan khas masyarakat suku Baduy.
2) Menjelaskan perbedaan suku Baduy Dalam dan Baduy luar.
3) Menjelaskan proses pernikahan dalam adat Baduy.
1.4 Metode Penelitian
Dikarenakan waktu yang terbatas, penulis menggunakan metode kajian
pustaka dalam menyusun makalah ini.
1.5 Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori
Dalam menyusun sebuah makalah diperlukan dasar/pondasi agar
makalah yang disusun jelas maksud dan tujuannya. Buku-buku, karya ilmiah,
artikel, serta sumber internet tentang suku Baduy merupakan dasar yang
digunakan penulis dalam penyusunan makalah ini.
Teori yang melandasinya yaitu dari berbagai sumber yang menyatakan
bahwa suku Baduy merupakan masyarakat yang masih tetap

mempertahankan dengan kuat nilai-nilai budaya warisan leluhurnya dan


tidak terpengaruh oleh kebudayaan luar

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kehidupan khas masyarakat Baduy
A. Sistem Organisasi Sosial Suku Baduy Masyarakat Baduy mengenal dua sistem
pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan Negara Kesatuan
Republik Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya
masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa
sehingga tidak terjadi perbenturan. Secara nasional penduduk Baduy dipimpin oleh
kepala desa yang disebut sebagai Jaro pamarentah, yang ada di bawah camat,
sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu
Puun.
Pelaksana sehari-hari pemerintahan adat kapuunan (kepuunan) dilaksanakan
oleh Jaro, yang dibagi ke dalam empat jabatan, yaitu jaro tangtu, jaro dangka, jaro
tanggungan, dan jaro pamarentah. Jaro tangtu bertanggung jawab pada
pelaksanaan hukum adat pada warga tangtu dan berbagai macam urusan lainnya.
Jaro tangtu adalah satu-satunya warga suku Baduy yang memiliki kewenangan
bertemu Puun*. Jaro dangka bertugas menjaga, mengurus, dan memelihara tanah
titipan leluhur yang ada di dalam dan di luar Kanekes. Jaro dangka berjumlah 9
orang, yang apabila ditambah dengan 3 orang jaro tangtu disebut sebagai jaro
duabelas. Pimpinan dari jaro duabelas ini disebut sebagai jaro tanggungan. Adapun
jaro pamarentah secara adat bertugas sebagai penghubung antara masyarakat
adat Kanekes dengan pemerintah nasional, yang dalam tugasnya dibantu oleh
pangiwa, carik, dan kokolot lembur atau tetua kampong. Masyarakat Baduy sejak
dahulu memang selalu berpegang teguh kepada seluruh ketentuan maupun aturanaturan yang telah ditetapkan oleh Puunmereka. Kepatuhan kepada ketentuanketentuan tersebut menjadi pegangan mutlak untuk menjalani kehidupan bersama.
Selain itu, didorong oleh keyakinan yang kuat, hampir keseluruhan masyarakat
Baduy Luar maupun Baduy Dalam tidak pernah ada yang menentang atau menolak
aturan yang diterapkan sang Puun. Walaupun demikian ada sedikit warga yang
kadang tidak menaati peraturan atau cecok dengan warga Baduy lain. Dr. Nasikun
mengatakan bahwa konflik pada hakikatnya merupakan suatu gejala sosial yang
melekat di dalam kehidupan setiap masyarakat*. Hukuman di dalam masyarakat
Baduy sendiri disesuaikan dengan kategori pelanggaran, yang terdiri atas
pelanggaran berat dan pelanggaran ringan. Hukuman ringan biasanya dalam
bentuk pemanggilan si pelanggar oleh Puun untuk diberikan peringatan. Yang
termasuk ke dalam jenis pelanggaran ringan antara lain cekcok atau beradu mulut
antara dua atau lebih warga Baduy. Sedangkan hukuman berat diperuntukkan bagi
mereka yang melakukan pelanggaran berat. Pelaku pelanggaran yang mendapatkan
hukuman ini dipanggil oleh Jaro setempat dan diberi peringatan. Menariknya, yang
namanya hukuman berat disini adalah jika ada seseorang warga yang sampai
mengeluarkan darah setetes pun sudah dianggap berat. Selain itu berzinah dan
berpakaian ala orang kota juga termasuk pelanggaran berat. Banyak larangan yang
diatur dalam hukum adat Baduy, di antaranya tidak boleh bersekolah, dilarang
memelihara ternak berkaki empat, tidak dibenarkan bepergian dengan naik
kendaraan, dilarang memanfaatkan alat eletronik, dilarang memiliki alat rumah
tangga mewah dan beristri lebih dari satu.

B. Sistem Religi Suku Baduy yang merupakan suku tradisional di Provinsi Banten
hampir mayoritasnya mengakui kepercayaan sunda wiwitan. Yang mana
kepercayaan ini meyakini akan adanya Allah sebagai Guriang Mangtua atau
disebut pencipta alam semesta dan melaksanakan kehidupan sesuai ajaran Nabi
Adam sebagai leluhur yang mewarisi kepercayaan turunan ini. Kepercayaan sunda
wiwitan berorientasi pada bagaimana menjalani kehidupan yang mengandung
ibadah dalam berperilaku, pola kehidupan sehari-hari, langkah dan ucapan, dengan
melalui hidup yang mengagungkan kesederhanaan (tidak bermewah-mewahan).

C. Bahasa
Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda Banten. Untuk
berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa
Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari
sekolah. Orang Baduy Dalam tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat istiadat,
kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan
lisan saja.
D. Mata Pencaharian Mata pencarian masyarakat Baduy yang paling utama
adalah bercocok tanam padi huma dan berkebun serta membuat kerajinan koja
atau tas dari kulit kayu, mengolah gula aren, tenun dan sebagian kecil telah
mengenal berdagang. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan
dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam
keranji, serta madu hutan. Kehidupan orang Baduy berpenghasilan dari pertanian,
dimulai pada bulan keempat kalender Baduy yang dimulai dengan kegiatan nyacar
yakni membersihkan semua belukar untuk menyiapkan ladang.
E. Teknologi Peralatan dan teknologi kehidupan orang Baduy berpusat pada daur
pertanian yang diolah dengan menggunakan peralatan yang masih sangat
sederhana. Dalam adapt Baduy terutama Baduy Dalam, masyarakat tidak boleh
menggunakan peralatan yang sudah modern. Mereka mengandalkan peralatan
yang masih sangat primitive seperti bedog, kampak, cangkul, dan lain-lain.
F. Pakaian Malcolm Bernard mengatakan pakaian atau fashion digunakan untuk
menunjukkan atau mendefinisikan peran sosial yang dimiliki seseorang*. Perbedaan
antara Baduy Dalam dan Baduy Luar dapat dilihat dari cara busananya berdasarkan
status sosial, tingkat umur maupun fungsinya. Perbedaan busana didasarkan pada
jenis kelamin dan tingkat kepatuhan pada adat saja, yaitu Baduy Dalam dan Baduy
Luar.Untuk Baduy Dalam, para pria memakai baju lengan panjang yang disebut
jamang sangsang, serba putih polos itu dapat mengandung makna suci bersih
karena cara memakainya hanya disangsangkan atau dilekatkan di badan. Bahan
dasarnya harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun. Bagi suku Baduy Luar,
busana yang mereka pakai adalah baju kampret berwarna hitam. Ikat kepalanya
juga berwarna biru tua dengan corak batik. Desain bajunya terbelah dua sampai ke
bawah, seperti baju yang biasa dipakai khalayak ramai. Sedangkan potongan
bajunya mengunakan kantong, kancing dan bahan dasarnya tidak diharuskan dari
benang kapas murni.
2.2 Perbedaan suku Baduy Dalam dan Baduy Luar
Sistem pelapisan sosial yang terdapat pada setiap masyarakat di dunia ini
timbul karena di dalam masyarakat itu terdapat perbedaan status atau tingkat
sosial yang dimiliki oleh setiap individu*. Pada suku Baduy dikenal dua pelapisan
sosial, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar.

A. Baduy Dalam Kanekes Tangtu ( Baduy Dalam ) adalah bagian dari


keseluruhan orang Kanekes. Tidak seperti Kanekes Luar, warga Kanekes Dalam
masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka. Sebagian peraturan
yang dianut oleh suku Kanekes Dalam antara lain:
1. Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi
2. Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki
3. Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Puun atau
ketua adat)
4. Larangan menggunakan alat elektronik (samasekali tak tersentuh teknologi)
5. Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan
dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.
B. Baduy Luar Kanekes Panamping (Baduy Luar), yang tinggal di berbagai
kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti Cikadu,
Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Kanekes
Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam. Kanekes
Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes
Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkannya warga Kanekes Dalam
ke Kanekes Luar:
1. Mereka telah melanggar adat masyarakat Kanekes Dalam
2. Berkeinginan untuk keluar dari Kanekes Dalam
3. Menikah dengan anggota Kanekes Luar
Ciri-ciri masyarakat orang Kanekes Luar:
1. Mereka telah mengenal teknologi, seperti peralatan elektronik, meskipun
penggunaannya tetap merupakan larangan untuk setiap warga Kanekes, termasuk
warga Kanekes Luar. Mereka menggunakan peralatan tersebut dengan cara
sembunyi- sembunyi agar tidak ketahuan pengawas dari Kanekes Dalam. Dalam hal
ini konsep HAM tidak tercetus sebagai suatu konsep mandiri dengan definisi yang
jelas, karena masing-masing anggota kelompok berpandangan, bersikap, dan
berperilaku sesuai dengan kedudukan dan posisinya dalam struktur adat yang
sudah mapan*.
2. Proses pembangunan rumah penduduk Kanekes Luar telah menggunakan alatalat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat
Kanekes Dalam.
3. Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk lakilaki), yang menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang menggunakan pakaian
modern seperti kaos oblong dan celana jeans.
4. Menggunakan peralatan rumah tangga modern, seperti kasur, bantal, piring
& gelas kaca & plastik.
5. Mereka tinggal di luar wilayah Kanekes Dalam.
2.3 Pernikahan adat Baduy
Di dalam proses pernikahan yang dilakukan oleh masyarakat Baduy hampir
serupa dengan masyarakat lainnya. Namun, pasangan yang akan menikah selalu
dijodohkan dan tidak ada yang namanya pacaran. Orang tua laki-laki akan
bersilaturahmi kepada orang tua perempuan dan memperkenalkan kedua anak
mereka masing-masing. Setelah mendapatkan kesepakatan, kemudian dilanjutkan
dengan proses 3 kali pelamaran. Tahap pertama, orang tua laki-laki harus melapor
ke Jaro (Kepala Kampung) dengan membawa daun sirih, buah pinang dan gambir
secukupnya. Thomas Wiyasa Bratawidjaja dalam bukunya mengatakan bahwa
perkawinan dalam suku Baduy tidak perlu melapor ke pihak berwajib, hal ini sudah

berlaku sejak zaman pemerintahan Belanda*. Tahap kedua, selain membawa sirih,
pinang, dan gambir, pelamaran kali ini dilengkapi dengan cincin yang terbuat dari
baja putih sebagai mas kawinnya. Tahap ketiga, mempersiapkan alat-alat
kebutuhan rumah tangga, baju serta seserahan pernikahan untuk pihak
perempuan. Pelaksanaan akad nikah dan resepsi dilakukan di Balai Adat yang
dipimpin langsung oleh Puun untuk mensahkan pernikahan tersebut. Uniknya,
dalam ketentuan adat, Orang Baduy tidak mengenal poligami dan perceraian.
Mereka hanya diperbolehkan untuk menikah kembali jika salah satu dari mereka
telah meninggal. Jika setiap manusia melaksanakan hal tersebut.

BAB III
PENUTUP
Ringkasan Masyarakat Baduy dibedakan menjadi dua, yaitu Baduy Dalam dan
Baduy Luar. Masyarakat Baduy Dalam terkenal dengan pakaiannya yang berwarna
putih, sedangkan Baduy Luar berwarna hitam. Orang Baduy Luar awalnya
merupakan anggota dari masyarakat Baduy Dalam. Namun karena mereka kurang
menaati peraturan dari Puun dan sudah hidup sedikit lebih modern maka mereka
berpindah ke Baduy Luar. Walaupun demikian, sebagian besar masyarakat suku
Baduy sangat patuh terhadap kebudayaan suku mereka yang telah ditetapkan oleh
Puun. Kepatuhan dan ketaatan itu dijalani secara enjoy tanpa penolakkan apa pun.
Mereka amat rukun, damai, dan sangat sejahtera untuk ukuran kecukupan
kebutuhan hidup sehari-hari. Dalam adat suku Baduy, seseorang menikah dengan
cara dijodohkan tanpa ada istilah pacaran. Selain itu, masyarakat suku Baduy juga
tidak mengenal perceraian. Saran Suku Baduy sebagai suku yang masih sangat
terjaga keaslian adat istiadat leluhurnya, sudah seharusnya kita beri apresiasi yang
luar biasa dengan cara saling menghormati dan memahami perbedaan yang ada,
serta ikut berpartisipasi menjaga kebudayaan yang unik ini.

DAFTAR PUSTAKA
Ayatrohaedi, e t.al. 1989. Tatakrama di Beberapa Daerah di Indonesia. Jakarta: Dep
Dik Bud.
Bratawidjaja, Thomas W.1994.Upacara Perkawinan Adat Sunda.Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan.
Gonggong A., Andre A. Hardjana, dan A. Agus Nugroho. 1995. Sejarah Pemikiran
Hak-Hak Asasi Manusia di Indonesia. Jakarta: Dep Dik Bud.
Malcolm, Barnard. 1996. Fashion for Communication atau Fashion sebagai
Komunikasi, terj. Idi ubandy Ibrahim. Yogyakarta: Jalasutra.
Nasikun.1984.Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: CV. Rajawali.
Octavitri, Yollanda.2012. Resepsi Masyarakt Kabupaten Lebak Provinsi Banten
terhadap UpacaraSeba Suku Baduy, Tesis S1 Program Studi Sastra Indonesia,
Fakultas Ilmu Budaya Undip, Semarang.