Anda di halaman 1dari 5

Dijamin "Merinding" Setelah Mendengar Kesaksian Orang

Mati Suri Ini


Posted on 2015-11-04 00:04

Merinding dan menangiskah kalian setelah membaca kisah nyata kesaksian orang mati suri ini?
Semoga kisah ini dapat dijadikan pelajaran bagi Kita yang masih hidup di dunia ini.
Dia adalah Aslina. Aslina adalah warga pekan baru yang mati suri 24 Agustus 2006 lalu. Gadis
berusia sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang
disaksikan ruhnya saat mati suri.
Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan penjelasan
pembuka. Aslina berasal dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak kecil cobaan telah datang
pada dirinya. Pada usia tujuh tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani dua kali
operasi. Menjelang usia SMA ia termakan racun. Tersebab itu ia menderita selama tiga tahun.
Pada usia 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid). Gondok tersebut menyebabkan beberapa
kerusakan pada jantung dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agustus 2006

Aslina menjalani check-up atas gondoknya di Rumah Sakit di jakarta. Setelah itu, Hasil
pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa dioperasi. Kalau
dioperasi maka akan terjadi pendarahan, jelas Rustam. Oleh karena itu Aslina hanya diberi obat.
Namun kondisinya tetap lemah.
Malamnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa Aslina kembali ke jakarta
sekitar pukul 12 malam itu. ia dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak
jantungnya dan napasnya sesak. Lalu ia dibawa ke luar UGD masuk ke ruang perawatan. Aslina
seperti orang ombak (menjelang sakratulmaut). Lalu saya ajarkan kalimat thoyyibah dan
syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya Aslina menghembuskan nafas terakhir. ungkapnya.
Usai Rustam memberi pengantar, lalu Aslina memberikan kesaksiannya. Mati adalah pasti. Kita
ini calon-calon mayat, calon penghuni kubur. Begitu ia mengawali kesaksiaanya setelah
meminta seluruh hadirin yang memenuhi Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru
tersebut membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa ia juga menasehati
jamaah untuk memantapkan iman, amal dan ketakwaan sebelum mati datang.
Saya telah merasakan mati, Ujar anak yatim itu. Hadirin terpaku mendengar kesaksian itu.
Sungguh, lanjutya, terlalu sakit mati itu. Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti
sakitnya kulit hewan ditarik dari daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi. Terasa malaikat
mencabut (nyawa) dari kaki kanan saya, tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh
pamannya kalimat thoyibah. Saat di ujung napas, saya berzikir, ujarnya. Sungguh sakitnya,
Pak, Bu ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ Pekanbaru.
Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, ia menyaksikan di sekelilingnya ada
dokter, pamannya dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur. Setelah itu datang dua malaikat
serba putih mengucapkan Assalammualaikum kepada ruh Aslina. Malaikat itu besar, kalau
memanggil, jantung rasanya mau copot, gemetar, ujar Aslina mencerita pengalaman matinya.
Lalu malaikat itu bertanya: Siapa Tuhanmu, apa agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama
orangtuamu? Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar. Lalu ia dibawa ke
alam barzah.
Tak ada teman kecuali amal, tambah Aslina yang Ahad malam itu berpakaian serba hijau.
Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam itu ia tampil
memberikan kesaksian bagaikan seorang muballighah.
Di alam barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanya berkudis, badan berbulu
dan mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari orang tersebut.
Kemudian Aslina melanjutkan. Bapak, ibu, ingatlah mati, sekali lagi ia mengajak hadirin untuk
bertaubat dan beramal sebelum ajal menjemput. Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya,
ruh Aslina dipimpin oleh dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa dengan cerminan

ayahnya. Lalu ia memanggil malaikat itu dengan Ayah. Wahai ayah bisakah saya bertemu
dengan ayah saya, tanyanya.
Lalu muncullah satu sosok. Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara 17-20 tahun itu.
Sebab ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun. Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah
ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: Wahai ayah, janji saya telah
sampai.
Mendengar itu ayah saya saya menangis. Lalu ayahnya berkata kepada Aslina. Pulanglah ke
rumah, kasihan adik-adikmu. ruh Aslina pun menjawab. Saya tak bisa pulang, karena janji
telah sampai. Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepada hadirin bahwa
alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada. Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul
ada. Akhirat adalah kekal, ujarnya bak seorang pendakwah.
Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya tersebut menunduk. Lalu dua malaikat
memimpinnya kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal shaleh yang mukanya
bercahaya dan wangi. Lalu ruh Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi
tersebut, disebelahnya terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh
Aslina bertanya kepada perempuan itu. Siapa kamu? lalu perempuan itu menjawab, Akulah
(amal) kamu. Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya berjalan menelurusi
lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa.
Di sana ia melihat seorang laki-laki yang memikul besi yang sangat berat, tangannya dirantai ke
bahu, pakaiannya koyak-koyak dan baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada amalnya.
Siapa manusia ini? Amal Aslina menjawab, orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh
orang.
Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya
tentang orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat.
Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke tubuhnya. Ternyata
orang itu adalah manusia yang suka berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu ketika
hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain. Dilihatkan siraman juga pada ruh Aslina,
orang yang ditusuk dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata pisau yang tembus ke
dadanya, lalu berlusiaan darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang menolongnya. Ruh
Aslina bertanya pada amalnya.
Dan dijawab orang tersebut adalah orang juga suka membunuh. Ada pula orang yang
dihempaskan ke tanah lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka dan tidak mau
memelihara orang tuanya ketika di dunia. Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut.

Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan sangat pekat sehingga dua malaikat dan
amalnya yang ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang mengucap : Subhanallah,
Alhamdulillah dan Allahu Akbar. Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya.
Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki cerminan biji 99 butir. Perjalanan berlanjut. ia
nampak siraman tepak tembaga yang sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak itu
terdapat gambar kakbah. Di dalam tepak terdapat batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada
amalnya tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut adalah husnul khatimah. (Husnul
khatimah secara literlek berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana manusia pada akhir
hayatnya dalam keadaan berbuat baik).
Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan adzan seperti adzan di Mekkah. ia pun mengatakan
kepada amalnya. Saya mau shalat. Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan tangan
ruh Aslina. Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat, ungkap
Aslina.
Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada
ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut batangan-batang an emas di
dalam tepak husnul khatimah itu mengeluarkan cahaya terang. Berikutnya ia melihat cahaya
seperti matahari tapi agak kecil. Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina. Tolong kau
sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan Allah.
Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad berkumpul di satu
lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima meter dari siraman kumpulan
manusia itu. Kumpulan manusia itu berkata. Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya
Allah, manusia-manusia itu juga memohon, Tolong kembalikan aku ke dunia, aku mau
beramal. Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang dilihat ruhnya saat ia mati suri.
Dalam kesaksiaannya ia senantiasa mengajak hadirin yang datang pada pertemuan alumni ESQ
itu untuk bertaubat dan beramal shaleh serta tidak melanggar aturan Allah. Apa yang
disampaikan Aslina, mungkin bukti yang ditunjukkan Allah kepada kita semua, ujarnya.
Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang berteriak ingin dikembalikan ke dunia
dan ingin beramal serta penelitian Raymond yang menyebutkan aku ingin agar aku dapat
kembali dan membatalkan semuanya.
Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat Al-Mumuninun (23) ayat 99-100:
Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: Ya, Tuhanku
kembalikanlah aku (ke dunia) (99)
Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak.
Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding
sampai hari mereka dibangkitkan. (100)

Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat, dikutipkan juga Quran Surat Az-Zumar ayat 39:
Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab
kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)