Anda di halaman 1dari 25

PEDOMAN PELAYANAN TRANSFUSI

DARAH RUMAH SAKIT SITI RAHMAH

KATA PENGATAR
Assalamualaikum w.w
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan yang menciptakan manusia dan menambah ilmu pengetahuan
bagi mereka yang berusaha mendapatkannya. Salawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada
Rasulullah, penghulu dan mahaguru bagi kita semua. Alhamdulillah Pedoman Pelayanan
Tranfusi Darah RSI. Siti Rahmah Padang telah kita miliki. Pedoman ini diharapkan menjadi
acuan dalam peningkatan mutu pelayanan di lingkungan RSI. Siti Rahmah Padang yang kita
cintai ini.
Ucapan terimakasih kepada unit Laboratorium yang telah menyelesaikan Pedoman Pelayanan
Tranfusi Darah di RSI. Siti Rahmah Padang ini. Kami percaya bahwa tidak ada yang sempurna
kecuali Allah SWT, saran dan masukan sangat diharapkan untuk kesempurnaan pedoman ini
untuk masa yang akan datang.
Wassalamualaikum w.w

Padang, Desember 2014

PEDOMAN PELAYANAN TRANSFUSI DARAH


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Salah satu indikator kesehatan suatu negara adalah MMR (Maternal Mortaality Rate).
MMR di Indonesia saat ini mencapai 307, berarti terjadi307 kematian ibu per 100.000
kelahiran hidup (SDKI, 2002/2003). Bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN
lainnya maka angka kematian ibu di Indonesia masih sangat tinggi. Berbagai kondisi
diketahui sebagai penyebab tingginya angka kematian ibu tersebut dan beberapa penelitian
menunjukkan bahwa penyebab utama kematian ibu melahirkan adalah perdarahan (28%,
SKRT 2001), sehingga dapat dikatakan bahwa tingginya angka kematian ibu di Indonesia
tidak dapat dipisahkan dengan kualitas pelayanan darah.
Pentingnya penyelenggaraan pelayanan darah disuatu negara serta teridentifikasinya
masalah pelayanan darah di Indonesia telah mendorong World Health Organization (WHO)
untuk mengisyaratkan kepada pemerintah Indonesia perlunya dibentuk National Blood
Policy sebagai regulator dalam pelaksanaan pelayanan transfuse darah di Indonesia.
Sejarah perkembangan pelayanan transfusi darah dimulai pada tahun 1950 yang
dilaksanakan oleh Palang Merah Indonesia (PMI), dan pada tahun 1980 terbit Peraturan
Pemerintah Indonesia (PP) Nomor 18 tahun 1980 tentang Transfusi Darah. Sejak saat itu
pelayanan transfuse darah di Indonesia dilaksanakan berdasarkan PP 18/1980 tersebut.
Oleh karena itu pelayanan darah yang aman merupakan tanggung jawab pemerintah dan
bukan hanya PMI melalui Unit Transfusi Darah (UTD)-PMI yang dapat melaksanakan
pelayanan darah, tetapi juga instansi lain dapat melaksanakan pelayanan darah yang sesuai
dengan peraturan standar. Pelaksanaan pelayanan darah harus mendapatkan izin dari
Kementerian Kesehatan.
Darah yang aman dan dalam jumlah yang cukup serta tersedia tepat waktu sangat
dibutuhkan di rumah sakit untuk mengatasi kekurangan darah pasien akibat berbagai kondisi.
Untuk itu dibutuhkan dibutuhkan suatu system manajemen pelayanan darah yang baik yang
menjamin akses, kualitas serta ketersediaan darah yang aman sekaligus mencegah penularan
penyakit hepatitis B, C, dan penyakit menular seksual sifilis dan HIV/AIDS.
Sesuai dengan Kepmenkes RI Nomor 423/Menkes/SK/IV/2007, tentang Kebijakan
1
Peningkatan Kualitas dan Akses Pelayanan Darah.
Salah satu poin yang tercantum pada SK

tersebut adalah bahwa setiap Rumah Sakit harus memiliki Bank Darah Rumah Sakit (BDRS)
hal ini dimaksudkan agar pelayanan darah dilakukan dengan distribusi tertutup oleh petugas
dan menggunakan prinsip rantai dingin sehingga setiap rumah sakit harus memiliki minimal
Unit Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) sebagai unit yang bertanggung jawab terhadap

pelayanan transfusi darah di Rumah Sakit dan melakukan pemeriksaan golongan darah dan
crossmatching sebelum darah diberikan kepada pasien. Unit BDRS ini harus memiliki stok
darah yang telah aman (non reaktif pada ujj saring IMLTD) yang berasal dari UTD setempat.
Ketersediaan darah yang aman di rumah sakit merupakan salah satu Standar Pelayanan
Minimal Rumah Sakit yang berarti setiap rumah sakit harus memiliki stok darah aman 24
jam di BDRS atau UTDRS serta manajemen pelayanan transfuse darah agar Unit BDRS
dapat berjalan dengan baik dan terstandar maka dibutuhkan pedoman pelaksanaan yang
dipakai sebagai acuan bagi rumah sakit dalam melaksanakan pelayanan darah yang
berkualitas.
B. RUANG LINGKUP PELAYANAN
1. ADMINISTRASI
a. Formulir permintaan yang telah diisi lengkap oleh petugas ruangan dan ditandatangani
oleh dokter, dimasukkan dalam pencatatan, komputer dan buku pasien masuk.
b. Mengisi formulir pengiriman donor keluarga ke UTDC PMI, dan diberikan kepada
keluarga pasien.
c. Memberikan bukti pesanan darah pasien yang berisi identitas, jenis darah dan jam
peyediaan darah.
d. Membuat laporan hasil pemeriksaan lengkap dan terdokumentasi.
e. Mencatat identitas darah keluar di buku pasien keluar, dan meneliti identitas darah
yaitu : nomor kantung darah, jenis darah, golongan darah, tanggal pengambilan darah,
umur darah, tanggal kadaluarsa, hasil pemeriksaan.
f. Membuat laporan stok darah.
g. Membuat pencatatan laporan harian jumlah darah yang masuk dan keluar.
h. Rekapitulasi laporan dan evaluasi secara berkala
2

2. MELAYANI PERMINTAAN DARAH


a. Permintaan Darah Rutin
1. Permintaan darah ke UTD sesuai kesepakatan dengan UTD dan tertuang dalam
Ikatan Kerjasama (IKS)
2. Tersedia SPO
3. Transfortasi distribusi darah dengan menggunakan coolbox transportasi darah.
b. Permintaan Darah dalam Keadaan Khusus.

Permintaan darah dalam keadaan khusus adalah dalam keadaan darurat, jika persediaan
darah di BDRS sudah habis sesuai kesepakatan dengan UTD dan tertuang dalam IKS
1. Permintaan darah diluar perencanaaan rutin, misalnya permintaaan dalam
komponen darah seperti trombosit, FFP, AHF, WRC, Cryoprecipitat, LP, Rhesus
negative, darah langka dan pada kejadian luar biasa (KLB).
2. Formulir pendaftaran diisi lengkap dan ditandatangani oleh kepala BDRS atau
petugas yang diberi wewenang oleh kepala BDRS.
3. Tersedia SPO permintaan darah dalam keadaan khusus.
3. MENYIMPAN PERSEDIAAN DARAH
1. Darah disimpan dalam blood bank refgenerator pada suhu 2-60C. Batas 20C
sangat penting karena sel darah merah sangat sensitive terhadap pembekuan.
Dinding sel darah merah yang beku akan pecah, hemoglobin akan keluar
(hemolysis), dan ini dapat berakibat fatal pada penerima transfusi.
2. Suhu refgenerator dijaga agar tidak melebihi 60C karena akan menyebabkan
pertumbuhan bakteri yang sangat cepat dan membahayakan penerima transfusi.
3. Blood bank refgenerator disertai termoneter dan kipas untuk mempertahankan
suhu, juga dilengkapi system alarm yang akan berbunyi bila suhu diluar batas
yang ditentukan.
4. Suhu blood bank refgenerator dicatat pada blanko pencatatan suhu.
5. Blood bank refgenerator diberi tanda yang menunjukkan tempat untuk
meletakkan darah sesuai dengan golongan darah yang sudah dan belum
3

crossmatch.
6. Darah WB dan PRC dengan antikoagulan dapat disimpan 35 hari.
4. UJI COCOK SERASI (CROSS MATCH)
Uji cocok serasi adalah uji untuk mengetahui apakah sel darah merah donor bisa hidup
di dalam tubuh pasien, dan untuk mengetahui ada / tidaknya antibodi komplet (tiga
IgM) maupun antibody inkomplet (tipe IgG) dalam serum pasien maupun dalam serum
donor yang melawan sel pasien.
Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa tidak ada antibodi-antibodi pada darah
pasien yang akan bereaksi dengan darah donor bila ditransfusikan.
Persiapan alat dan reagen
1. Alat : centrifuge, ID centrifuge, ID incubator, micropipet 5I, dan 50I, tabung
reaksi, rak tabung, pipet Pasteur, tempat limbah, spidol.
2. Sampel darah dengan anti koagulan EDTA, heparin atau Na.sitras.

3. Reagen : ID Lisscroomb, ID Diluent-2


Prosedur Kerja
1. Pemisahan plasma dari sel darah merah
- Darah dimasukkan dalam tabung sentrifus
- Putar 3000-3300 rpm selama 1,5-2 menit
- Supernatan diambil dengan pipet Pasteur plastic dan dipindahkan ke dalam tabung
lain.
- Sel darah merah terdapat dibagian bawah tabung.
2. Buat suspensi sel pasien dan sel donor dengan konsetrasi 1 %
- ID Diluent 2 dimasukkan ke dalam tabung sebanyak 0,5 ml
- Sel darah merah pekat dimbil dengan micropipet 5 I, dicampurkan ke dalam
tabung berisi ID diluent tadi.
- Campuran dihomogenkan, terbentuk suspense 1 %
3. Uji silang serasi
a.Lisscoomb card ditandai dengan identitas pasien dan tempat tes mayor,
minor dan auto control.
4
b.Buka penutup lisscoomb card
c. Dengan bantuan micropipet masukkan :
Mayor : 50 I suspense sel donor + 25 I serum pasien
Minor : 50 I suspense sel donor + 25 I serum donor
Auto control : 50 I suspense sel pasien + 25 I serum pasien
d. Masukkan lisscroomb card kedalam ID incubator, tekan tombol timer
(15menit, suhu 370C.
e. Lisscroomb card dipindahkan ke ID centrifuge setelah alarm waktu di
incubator berbunyi. Tekan tombol star pada ID centrifuge (10 menit).
f. Baca reaksi secara makroskopis.
Interprestasi hasil :
1. Bila reaksi pada mayor, minor, dan autocontrol (-) darah dapat
diberikan (compatible).
2. Bila reaksi pada mayor (+), monor (-), autocontrol (-), berarti darah
donor tidak cocok untuk pasien. Ganti darah donor dan lakukan
kembali crossmatch dengan donor yang baru.
3. Bila hasil pada mayor (-), minor (+), autocontrol (-), berarti ada
irregular antibody pada serum donor. Ganti darah donor dan lakukan
rossmacth lagi.

4. Bila reaksi mayor (-), minor (+), autocontrol (+), lakukan DCT (direct
comb tes) dengan cara memasukkan : 50 I suspense sel pada pasien
kedalam lisscoomb card, kemudian diputar dengan ID centrifuge.
Bandingkan derajat (+) pada minor dengan (+) autocntrol / DCT, maka
darah dapat diberikan. Tapi bila derajat (+) pada minor lebih besar,
darah tidak boleh dikeluarkan, dan donor harus diganti. Misalnya hasil
pada minor+1, autocontrol +1, maka hasil DCT harus lebih tinggi dari
pada autocontrol yaitu +2 atau +3 maka darah boleh dikeluarkan.
5. Bila reaksi pada mayor (+), minor (+) dan autocontrol (+) : pastikan
tidak ada kesalahan pemeriksaan golongan darah. Bila sudah benar,
berarti darah donor dan pasien tidak cocok. Ganti donor dan lakukan
crossmatch lagi sampai
5 ditemukan hasil mayor (-). Crossmacthing
maksimal dilakukan 3 kali, kalau tidak juga ditemukan hasil yang
compatible maka pasien boleh dirujuk ke UTD PMI.
5. PEMERIKSAAN SEROLOGI GOLONGAN DARAH (BLOOD TYPING)
Pemeriksaan golongan darah dengan cara menetapkan ada/tidaknya atigen pada sel
darah merah (sel grouping) dan untuk menetapkan ada / tidaknya antibodi dalam
serum/plasma (serum typing).
Persiapan alat dan reagen
1. Alat : centrifuge, tabung reaksi, rak tabung, bioplate, pipet Pasteur, labu semprot,
tempat limbah, gelas plastic, spidol.
2. Sampel darah anti koagulan EDTA, heparin atau Na.sitras.
3. Reagen : Anti A, Anti B, Tes Sel A 10 %, Tes Sel B 10 %, Tes Sel O 10 %, Nacl 0,9
%.
Prosedur kerja
1. Pemisahan plasma dari sel darah merah
- Darah dimasukkan dalam tabung sentrifus
- Putar 3000-3300 rpm
- Supernatan diambil dengan pipet Pasteur plastic dan dipindahkan ke dalam
-

tabung lain.
Sel darah merah terdapat dibagian bawah tabung.

2. Pencucian Sel Darah Merah


- Sel darah yang telah dipisahkan ditambah larutan salin sebanyak plasma yang
dibuang.
- Putar 3000-3300 rpm selama 1,5-2 menit
- Supernatant dibuang
- Endapan sel darah merah yang telah di cuci merupakan suspense sel 100 %
3. Pembuatan suspense sel darah merah 10 %
- 1 tetes suspensi sel darah merah 100 % ditambah 9 tetes larutan Nacl 0,9 %
6

4. Pemeriksaan Golongan Darah A, B, AB, O


Cell grouping :
- Darah diteteskan pada blood grouping plate masing-masing satu tetes pada dua
-

tempat.
Pada tetes darah pertama tambah 2 tetes anti A, pada tetes darah kedua tambah 2

tetes anti B.
Goyangkan blood grouping plate keatas dan kebawah sehingga tercampur

dengan baik.
Baca ada tidaknya aglutinasi.
Hasil : Golongan A bila terjadi aglutinasi pada darah diberi anti A, golongan B
bila terjadi aglutinasi pada darah yang diberi anti B. Golongan AB bila terjadi
aglutinasi pada kedua plate. Golongan O bila tidak terjadi aglutinasi pada kedua
sumur plate.

Serum typing
-

Serum diteteskan pada blood grouping plate masing-masing 2 tetes pada 4

sumur plate.
Pada tetes serum pertama ditambah 1 tetes sel A 10 %, pada tetes kedua
ditambah 1 tetes sel B 10 %, pada tetes serum ketiga ditambah 1 tetes sel O 10

% dan pada tetes ke empat ditambah 1 tetes sel contoh darah yang diperiksa.
Goyangkan plate ke atas dan kebawah sehingga tercampur dengan baik.
Baca ada tidaknya aglutinasi.
Hasil : Golongan darah A bila ada aglutinasi pada sumur plate pertama,
golongan darah AB bila tidak terjadi aglutinasi pada sumur plate pertama dan
kedua, Golongan darah O bila terjadi aglutinasi pada sumur plate pertama dan
kedua. Sumur plate ketiga dan keempat harus selalu (-) . tidak ada aglutinasi.

6. UJI SARING (BLOOD SCREENING)


Uji saring penyakit Infeksi Menular 7Lewat Transfusi Darah (IMLTD) yaitu Sifilis,
Hepatitis B, Hepatitis C, HIV. Kantong darah yang telah dinyatakan non reaktif
terhadap penyakit IMLTD tersebut baik dalam bentuk komponen ataupun masih dalam
bentuk Whole Blood siap didistribusikan atau dilakukan penyimpanan sementara di
UTD sebelum didistibusikan ke BDRS. Penyampaian darah ke rumah sakit harus
dilakukan oleh petugas UTD atau BDRS dengan membawa coolbox. Semua kegiatan
diatas harus sesuai dengan SPO. Peyerahan darah yang telah aman dari UTD ke BDRS
harus sesuai SPO dan dilengkapi dengan berita acara penyerahan.
A. BATASAN OPERASIONAL
a. menerima darah yang sudah diuji saring dari UTD;
b. menyimpan darah dan memantau persediaan darah;
c. melakukan uji silang serasi donor darah pendonor dan darah pasien;
d. melakukan rujukan bila ada kesulitan hasil uji silang serasi pendonor darah ABO/rhesus
ke UTD secara berjenjang;
e. menyerahkan darah yang cocok bagi pasien dirumah sakit;
f. melacak penyebab reaksi transfuse atau kejadian ikutan akibat transfuse darah yang
dilaporkan dokter rumah sakit, dan mengembalikan darah yang tidak layak ke UTD untuk
dimusnahkan.
B. LANDASAN HUKUM
a. Undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
b. Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1980 tentang Transfusi Darah.
c. Peraturan Menteri Kesehatahan Nomor 478/Menkes/Peraturan/X/1990 tentang Upaya
Kesehatan di Bidang Transfusi Darah.
d. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1178/Menkes/Peraturan/X/1990 tentang Upaya
Kesehatan Swasta di bidang Pelayanan Medik.
e. Kepmenkes No. 423/Menkes/SK/IV/2007 tentang Kebijakan Peningkatan Kualitas dan
Akses Pelayanan Darah.
f. Keputusan Dirjen Pelayanan Medik No. 1147/Yanmed/RSKS/1991 tentang Petunjuk
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Pelaksanaan Upaya Kesehatan dibidang Transfusi Darah.


8
UU. No. 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTEK
KEDOKTERAN.
UU. No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.
UU. No. 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit.
PP Nomor 7 tahun 2011 tentang Pelayanan Darah.
Permenkes no 478/1990 tentang Upaya Kesehatan di Bidang Transfusi Darah.
Kepmenkes no 622/1992 tentang Kewajiban Pemeriksaan HIV pada Donor Darah.

BAB II
9

STANDAR KETENAGAAN
A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA
STANDAR JENIS TENAGA:
1. Dokter : Kepala BDRS adalah seorang dokter spesialis patologi klinik atau dokter yang
mempunyai sertifikat pelatihan Bank Darah Rumah Sakit.
2. Tenaga Laboratorium : Minimal memiliki 5 orang pelaksana teknis Laboratorium yaitu
Teknisi Trasnsfusi Darah (TTD) atau analis yang telah mendapat pelatihan Bank Darah
Rumah Sakit.
3. Tenaga administrasi : Minimal 1 orang tenaga administrasi.
4. Tenaga pekarya : Minimal 1 orang tenaga pekarya.
STANDAR KOMPETENSI:

1. Kompetensi kepala BDRS : mempunyai pengetahuan tentang menejerial pengelolaan


transfuse darah dan BDRS.
2. Kompetensi petugas teknis BDRS mempunyai sertifikat pengetahuan dan keterampilan
tentang:
a. Transportasi darah.
b. Penerimaan darah dan mengetahui tanda-tanda darah rusak.
c. Penyimpanan darah.
d. Pemeriksaan golongasn darah.
e. Pemeriksaan uji silang serasi.
f. Pemantapan mutu internal.
g. Penyerahan darah kepada dokter yang meminta atau perawat yang telah diberi
wewenang.
h. Pencatatan, pelaporan, pelacakan dan dokumentasi.
i. Kewaspadaan universal ( Universal Precaution ).
B. DISTRIBUSI KETENAGAAN
Setiap Shift pelayanan dilakukan oleh 1 orang tenaga analis terlatih, 1 orang tenaga
10

administrasi, dan 1 orang tenaga pekarya.


C. PENGATURAN JAGA

Pelayanan di BDRS dilakukan 24 jam. Penjagaan diatur dalam 3 shift yaitu :


Pagi

jam 07.30 WIB 14.00 WIB

Sore

jam 14.00 WIB 21.00 WIB

Malam

jam 21.00 WIB 07.30 WIB

11
BAB III

STANDAR FASILITAS
A. DENAH RUANG
.
B. STANDAR FASILITAS
1. STANDAR RUANGAN
a. Lokasi mudah dijangkau dari berbagai unit pelayanan dirumah sakit.
b. Luas minimal 20 m2 dengan cahaya dan ventilasi yang cukup serba ber AC,
termasuk ruang administrasi secara terpisah.
c. Fasilitas air mengalir dan listrik yang memadai, generator atau UPS yang
mampu mem back up refgenerator agar stabilitas suhu tetap terjaga.
d. Tersedia 2 bak cuci yang terdiri dari bak cuci tangan dan bak cuci alat.
e. Lantai ruangan ada tanpa sambungan (vinyl), sudut lantai melengkung.
2. STANDAR PERALATAN KERJA DAN KANTOR
a. Meja laboratorium dilapisi dengan tacon (pinggiran melengkung)
b. Kursi laboratorium.
c. Meja statis dengan beton untuk centrifuge.
d. Meja tulis dan kursi.
e. Mesin ketik / konputer + printer.
f. Lemari arsip.
g. Telepon.
h. Komputer dengan software + printer untuk RS tipe A/B pendidikan.
i. Modem untuk RS tipe A/B pendidikan.

3. STANDAR ALAT DAN BAHAN HABIS PAKAI


12

13

No
I

Jenis Peralatan
Paket A peralatan utama
1. Blood Bank Refgenerator 100-280 liter
(tergantung kebutuhan)
2. Seforuge (dengan 2 macam rotor tabung kecil
ukuran 12 x 75 mm dan besar ukuran 5 ml
3. Dry incubator

II

III

Jumlah minimal

1 unit
1 unit
1 unit

4. Microscope binokuler

1 unit

5. Medical refgenerator

1 unit

6. Plasma extractor

1 unit

7. Set alat uji silang serasi metode gel/microplate

1 unit

8. Tube sealer

1 unit

9. Cool box dengan fasilitas 2- 5 kantong


10. Cool box untuk transportasi dengan fasilitas
minimal 20 kantong (tidak mutlak, tergantung
kesepakatan dengan UTD)
11. Agitator

5 10 unit
1 unit
1 unit

Paket B peralatan penunjang


1. Tabung reaksi ukuran 12 x 75 mm

300 buah

2. Rak tabung

7 buah

3. Gunting stainless steel

4 buah

4. Artline spidol

2 buah

5. Blood grouping plate

5 box

6. Pasteur pipette plastic

1 box

7. Objek glass

3 box

8. Timer

4 buah

9. Labu semprot

4 buah

10. Baskom stainless steel

4 buah

11. Jas laboratorium

2 x jumlah petugas

12. Kacamata pelindung

3 buah

13. Wadah infeksius

1 buah

Bahan habis pakai

Untuk kebutuhan
sebulan dengan 5
pasien /hari

1. Reagen untuk pemeriksaan golongan darah ABO


dan rhesus:
a. Anti-A, Anti-B
b. Anti-D(IgM)
c. Test cell (sel A, B, O)

7set (@ 10 cc)
7 vial (@ 10 cc)
Sekucupnya

2. Pembuatan coombs control cells Anti D (IgG)

1vial (@ 10 cc)

3. Bovin Albumin 22 %

10 vial (@ 10 cc)

4. Coombs serum

7 vial (@10 cc)

5. NaCl 0,9 %

10 kolf @ 1 L

6. Cairan desinfectan
a. Cairan Hypoclirite 5 % ( diencerkan 1:9)
b. Cairan anti septik dan pelarut lemak

4 botol
3 botol
5 botol

BAB IV
14

TATA LAKSANA PELAYANAN


A. WAKTU PELAYANAN
Pelayanan di BDRS dilakukan 24 jam. Penjagaaan diatur dalam 3 shift yaitu :
Pagi

jam 07.30 WIB 14.00 WIB

Sore

jam 14.00 WIB 21.00 WIB

Malam

jam 21.00 WIB 07.30 WIB

B. PENDAFTARAN DAN PENCATATAN


Pencatatan dilakukan pada setiap tahap kegiata secara lengkap, yaitu:
1. Permintaan darah rutin dan khusus ke UTD.
2. Penerimaan darah rutin dan khusus dari UTD.
3. Berita acara penerimaan darah dari UTD.
4. Dokumentasi permintaan darah dari para klinisi lengkap dengan indikasi, jenis,
dan jumlah darah beserta identitas pasien.
5. Pemeriksaan golongaan darah pasien/darah donor, uji cocok serasi dalam lembar
kerja.
6. Dokumentasi darah titipan dan pemakaian darah.
7. Darah yang harus di kembalikan ke UTD.
8. Tentang kebutuhan darah yang tidak terpenuhi.
9. Hasil monitoring dan evaluasi.
10. Validasi reagen, kalibrasi alat, pencatatan, suhu alat simpan darah.
11. Reaksi transfusi.

C. PENYIMPANAN DARAH DAN KOMPONEN DARAH


15

1. Penyimpanan darah dan komponen dilakukan dalam tempat dan suhu optimal yaitu :
NO
1
2
3
4
5
6

JENIS DARAH
Whole Blood
PRC
Washed Red Cells
Trombosit
Cryoprecipitat
FFP

TEMPAT
Blood Refgenerator
Blood Refgenerator
Segera dipakai
Platelet refgenerator
Freezer
Freezer

Khusus untuk RS tipe A/B pendidikan


2. Penyimpanan denga system First In First Out (FIFO)
3. Tersedia SPO penyimpanan darah
D. PENYERAHAN DARAH YANG DIMINTA PASIEN

SUHU
20 C 60 C
20 C 60 C
200 C 240 C
- 180 C
- 180 C

1. Penyerahan darah dilakukan berdasarkan permintaan dokter disertai dengan formulir


permintaan.
2. Petugas BDRS meneliti formulir permintaan darah / pengeluaran darah dan table
kantung darah.
Pencocokan Data sebelum darah dikeluarkan:
a. Identitas contoh darah pasien dan Donor
Nomor-nomor kantung darah donor dan nomor-nomor contoh darah pada selang
yang sudah terpotong dicocokkan dengan sudah tertulis pada formulir permintaan,
label uji silang serasi dan lembar kerja.
b. Hasil pencocokan semua data diatas harus sesuai dan dilakukan oleh setiap
petugas yang mengerjakan uji silang serasi.

16

E. KUALITAS DAN KEAMANAN DARAH


a. Darah yang diterima dari PMI harus sudah diskrining.
b. Darah dilengkapi label identitas yang jelas, meliputi ;
- Nomor kantong darah
- Jenis darah
- Golongan darah
- Tanggal pengambilan darah
- Tanggal kadaluarsa
- Jenis antikoagulan
- Suhu penyimpanan
- Hasil pemeriksaan HbsAg, HIV, HCV, VDRL negative
c. Memeriksa keadaan darah secara makroskopis.
d. Warna darah tidak berubah, tidak hemolisa.
e. Darah berada pada suhu oprimal tidak lebih dari 30 menit.
f. Kantong darah masih utuh, tidak bocor, selang masih panjang.
Sebelum darah dikeluarkan petugas harus memeriksa darah dalam kantong apakah:
Darah disimpan dalam refgenerator suhu 2-60C
a. Melakukan proses penerimaan, pemeriksaan, dan penyerahan darah menurut prosedur
yang ditetapkan. Penampilan abnormal, warna yang berbeda dan kemungkinan lisis.
b. Kantong ada yang bocor dan tanggal kadaluarsa serta kecocokan data-data.
c. Kemungkinan adanya kontaminasi bakteri.
F. CROSMATCHING DAN TES KECOCOKAN
Tujuan dilakukannya crossmacthing:

a.
b.
c.
d.

Mencegah reaksi transfuse


Mengetahui reasksi darah donor dengan darah pasien dilaboratorium
Double checks untuk pemeriksaan ABO
Metoda lain untuk pemeriksaan antibody

G. IDENTIFIKASI DONOR DAN PENERIMA ( JIKA ADA )


Adalah tahap:
a. Pemberian label kecocokan 17
b. Pengamatan/pemeriksaan kualitas darah donor
c. Distribusi darah
Pada tabel kecocokan harus tercantum:
-

Nama pasien lengkap


No MR
Gol ABO/Rh pasien dan darah donor
Hasil x-match
Jenis darah/komponen dan penyimpanannya
Hasil skrining Anti bodi

H. PENGEMBALIAN DARAH YANG TIDAK TERPAKAI


Darah dapat dikembalikan ke Bank darah bila ternyata tidak digunakan untuk transfuse
dengan persyaratan:
- Belum dibuka/ditusuk dengan selang transfuse
- Disimpan pada suhu (10 100C untuk PRC)
- Bila tidak sesuai suhu penyimpanannya maka darah tidak bisa lagi digunakan bila
sudah berada lebih dari 30 menit dari pengeluaran di Bank darah.
I. SCREENING DARAH TERHADAP BEBERAPA PENYAKIT TERTENTU
Uji saring penyakit Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD) yaitu Sifilis,
Hepatitis B, Hepatitis C, HIV. Kantong darah yang telah dinyatakan non reaktif terhadap
penyakit IMLTD tersebut baik dalam bentuk komponen ataupun masih dalam bentuk
Whole Blood siap didistribusikan atau dilakukan penyimpanan sementara di UTD
sebelum didistribusikan ke BDRS.

J. PENCATATAN DAN PELAPORAN DARI REAKSI YANG TIMBUL DARI TRANSFUSI


DARAH
Perawat ruangan harus melakukan pemantauan reaksi transfuse, minimal 15 menit
18

pertama pada setiap pemberian kantong darah yang ditransfusikan. Bila terjadi reaksi

transfusi darah maka harus segera dilakukan penanganannya sesuai dengan SPO dan
pelaporan kepada BDRS sebagai feedback. Selanjutnya secara berkala Unit Bank Darah
RS melaporkan kejadian reaksi transfusi ke UTD pengirim sebagai feedback.
K. PENGADAAN DARAH RUTIN DAN DARURAT
Permintaan Emergency
1. Pada permintaan emergency/cito dimana tidak cukup waktu melakukan pemeriksaan
sampel darah pasien.
2. Dapat diberikan PRC O Neg dengan persetujuan dokter yang merawatnya.
3. Pada label kecocokan dituliskan belum dilakukannya crossmatch.
4. Namun demikian selang kantong tetap ditinggal untuk melakukan pemeriksaan
crossmacthing setelah darah diserahkan.
5. Setiap detail yang dilakukan harus didokumentasikan. Oleh karena itu di UDD/BDRS
harus ada mekanisme.
Untuk menindaklanjuti apa yang harus dilakukan bila ditemukan kasus permintaan
cito/emergensi, misalnya sudah siap dengan formulir persetujuan dari dokter bahwa darah
yang dikeluarkan belum selesai crossmacth. Selain crossmacth terhadap darah yang
sudah keluar, lakukan pula crossmacth pada kantong darah lain yang sesuai golongan
darah pasien, untuk persiapan siapa tahu pasiennya membutuhkan darah lagi. Apabila
pasiennya meninggall, maka pemeriksaan yang lengkap sangat dibutuhkan, untuk
mencegah kemungkinan penyebab kematian pasien karena transfuse darah yang
incompatible.
L. PENGELOLAAN LIMBAH
Laboratorium kesehatan termasuk laboratorium BDRS dapat menjadi salah satu sumber
penghasil limbah cair, padat dan gas yang berbahaya bila tidak ditangani secara benar.
Penanganan dan pengampungan limbah terdiri dari:
1. Menyediakan sarana penampungan untuk limbah yang memadai, diletakkan
pada tempat yang tepat, aman dan hygienis.
19
2. Pemisahan limbah untuk memudahkan mengenal berbagai jensi limbah yang
akan dibuang dengan cara menggunakan kantong berkode ( kode warna ).
3. Pengelolaan limbah infektif dengan cara desinfeksi, dekontaminasi, sterilisasi
atau insinerasi.
M. LAPORAN

UTD dan BDRS wajib melakukan pencatatan dan pelaporan penyelenggaraan


pengelolaan dan pelayanan transfusi darah. Ketentuan tentang cara pencatatan dan
pelaporan yang dimaksud ditetapkan lebih lanjut dengan peraturan menteri.
1. Permintaan rutin dan darurat.
Laporan permintaan rutin dan darurat dibuat berdasarkan:
- Golongan darah.
- Jenis darah (komponen darah).
- Jumlah (kantong/unit/cc).
2. Stok darah per bulan/minggu.
Laporan stok darah dibuat perbulan dan didokumentasikan dengan baik. Laporan bisa
dibuat tertulis atau dientrikan ke komputer dan tersimpan pada SIM RS.
3. Pengembalian darah yang tidak terpakai.
Laporan pengembalian darah yang tidak terpakai dibuat berdasarkan:
- Golongan darah.
- Jenis darah (komponen darah).
- Jumlah.
- Nomor kantong/unit.
4. Jumlah darah rusak/expired.
Laporan jumlah darah rusak dibuat tertulis atau dientrikan kekomputer dan tersimpan
pada SIM RS. Jumlah darah rusak meliputi darah yang sudah expired, darah yang
tidak jadi dipakai oleh pasien sedangkan darah sudah berada pada suhu ruang lebih
5.

6.

7.

8.

dari 1 jam atau selang pada kantong darah habis.


Jumlah pemakaian darah.
Laporan jumlah pemakaian darah dibuat berdasarkan:
- Golongan darah.
- Jenis darah (komponen darah).
20
- Jumlah (kantong/unit/cc).
Jumlah pemeriksaan.
Laporan jumlah pemeriksaan dibuat berdasarkan:
- Golongan darah.
- Crossmacthing.
- Uji saring (screening).
Kejadian reaksi transfusi darah.
Laporan kejadian reaksi transfusi darah dibuat berdasarkan:
- Jumlah.
- Nomor kantong/unit darah.
- Tanggal.
Response time (penyerahan) permintaan.
Response time (penyerahan) permintaan darah dicatat mulai dari jam sampel
diantarkan, kemudian sampel diproses, sampai darah siap untuk diberikan ke pasien.

BAB
V
21
18

KESELAMATAN KERJA
Keselamatan kerja terhadap ancaman bahaya yang mengakibatkan resiko gangguan
kesehatan dan keselamatan bagi petugas BDRS perlu diidentifikasi dan dilakukan pencegahan
yaitu:
1. Ruangan.
a. Kebersihan ruangan selalu terjaga.
b. Permukaan meja kerja selalu dibersihkan setelah selesai bekerja dan ketika terjadi
c.
d.
e.
f.

tumpahan bahan.
Lantai bersih, kering, tidak licin dan ada saluran pembuangan.
Suhu ruangan antara 220C 270C dengan kelembapan nisbi 50 70 %.
Udara dalam ruang dibuat mengalir searah (dari ruang bersih ke ruang kotor).
Dinding dicat dengan bahan epoksi, permukaan rata, mudah dibersihkan, tidak

tembus cairan dan tahan terhadap desinfektan.


g. Pintu ruangan harus selalu tertutup jika petugas sedang bekerja, mereka yang
tidak berkepentingan dilarang masuk.
2. Peralatan.
a. Sarung tangan dilepas bila menerima telpon.
b. Penyimpanan jas laboratorium tidak dalam satu lemari dengan pakaian lain yang
dipakai diluar ruang BDRS.
c. Diwajibkan memakai sarung tangan plastik karet tipis selama bekerja.
d. Penyimpanan peralatan sesuai dengan standar prosedur operasional.
3. Sistem/Prosedur
a. Penggunaan bahan-bahan sesuai dengan ukuran.
b. Semua SPO yang tersedia harus dilaksanakan dan diperhatikan untuk mencegah
atau meminimalisasi bahaya atau kecelakaan akibat kerja.
c. Limbah infeksius dimasukkan kedalam kantung plastic sesuai dengan kode dan
warnanya untuk dikelola.

22

d. Seluruh petugas laboratorium harus selalu mencuci tangan setelah menangani


bahan infeksius, dan sebelum meninggalkan ruangan laboratorium.
e. Jas laboratorium hanya boleh dipakai di ruang laboratorium.
4. Petugas.
a. Makan, minum, merokok, menyimpan makanan serta menggunakan kosmetik di
dalam ruang BDRS tidak diperkenankan.
b. Pakailah kaca mata pelindung, kaca pelindung wajah (visors) atau alat pelindung
diri lainnya jika menangani objek yang mudah menyemprot atau memantul ke
tubuh kita.
c. Seluruh petugas yang menangani bahan infeksius harus memakai sarung tangan
untuk menghindari penularan melalui kontak langsung dengan specimen darah.
Penerapan kesehatan dan keselamatan kerja jika terjadi bahaya di laboratorium BDRS:
Jika terjadi kecelakaan atau kedaruratan, harus dilakukan tindakan segera (emergency respon)
dan melakukan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) agar tidak terjadi akibat yang fatal
baik bagi petugas, tempat dan lingkungan kerja.

BAB VI
23

PENGENDALIAN MUTU
Pengendalian mutu terhadap kualitas dan keamanan darah ditentukan oleh proses mulai dari
seleksi donor, pengambilan darah, skrining infeksi, preparasi komponen, penyimpanan,
transportasi dan identifikasi pasien.
1. Seleksi donor dan pengambilan darah.
Darah diambil dari donor dengan berat badan minimal 45/50 kg.
Volume pengambilan darah 450ml 10 %.
Donasi pertama 4 kali untuk pria dan 3 kali untuk wanita dengan interval
per 3 bulan.
Batas minimal kadar Hb 12, 5 mg/dl.
Faktor yang mempengaruhi pengambilan darah:
a.
Antikoagulan : citrate.
b.
Kecepatan aliran darah : 40 80 ml/mnt.
c.
Mixing : setiap 30 60 detik.
d.
Lama waktu pengambilan maksimal 12 menit.
e.
Suhu 18 250C.
2. Skrining infeksi.
Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan kit dan metoda pemeriksaan yang
-

direkomendasikan. Pemeriksaan dilakukan terhadap 4 jenis penyakit menular yaitu:


- HIV 1/2 .
- HBsAg.
- HCV.
- Sifilis.
3. Preparasi komponen.
Penyiapan komponen darah dapat dilakukan post donasi atau selama pengambilan
(apheresis). Jenis komponen darah yang dibuat adalah Whool Blood Cell, Packed Red
Cell, Trombosit, Fresh Frozen Plasma, Anti Hemofili Faktor, Cryoprecipitat, Liquid
Plasma, Granulosit.
Pada penyiapan komponen post donasi harus diperhatikan:
- Kantong satelit sesuai dengan kebutuhan.
- Antikoagulan.
24
- Proses sentrifugasi (suhu dan kecepatan).
4. Penyimpanan darah.
- Prinsip penyimpanan:
Produk integral / closed system dapat disimpan sampai batas waktu
expired ( 35 hari). Apabila dimanipulasi / opened batas waktu
-

penyimpanan menjadi 24 jam (suhu 20C 60C) atau 4 jam (200C 240C).
Penyimpanan suhu refgenerator (suhu 20C 60C):
a. Monitor suhu setiap hari.

b. Inferior terang, bersih dan teratur.


c. Labeling hos jelas.
Frozen/simpan beku.
a. PRC, jika ditambah glycerol (40 %) dapat disimpan sampai dengan >

10 tahun pada suhu < -650C.


b. Plasma: < -180C
- Penyimpanan suhu kamar (200C 240C).
a. Trombosit harus dalam agiator, tahan selama 5 hari.
b. Cryoprecipitat.
5. Transportasi.
Transportasi darah harus menggunakan coolbox.
6. Identifikasi pasien.
Penyerahan darah kepasien harus dengan identifikasi pasien yang tepat.
Evaluasi terhadap:
1. Penyimpanan darah dan komponen darah.
2. Penyerahan darah yang diminta pasien.
3. Kualitas dan keamanan darah.
4. Crossmacthing dan tes kecocokan.
5. Identifikasi donor dan penerima (jika ada).
6. Pengembalian darah yang tidak terpakai.
7. Screening darah terdapat beberapa penyakit tertentu.
8. Pencatatan, pelaporan dari reaksi yang timbul
dari transfusi darah.
25
9. Pengadaan darah rutin dan darurat.
10. Penanganan limbah.

BAB VII
PENUTUP
26

Penyusunan system pelayanan darah yang terorganisasi dan terkoorganisasi secara nasional

dengan baik harus diinisiasi oleh Kementrian Kesehatan


Dengan PP Pelayanan Darah diharapkan ada kejelasan tanggung jawab antara PMI dan

Pemerintah dalam pelayanan darah


Pembiayaan darah oleh pemerintah perlu ditindak lanjuti dengan petunjuk pelaksanaannya.
Perlu dibuat Sistem Pelayanan Darah Nasional dan Penetapan UDD Nasional
Diharapkan ada aturan perlindungan hokum bagi pelaksana penyediaan darah

27