Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tablet Effervecent adalah tablet yang mengeluarkan buih ketika
dimasukkan ke dalam air. Buih yang keluar tersebut adalah gas
karbondioksida yang dihasilkan dari reaksi antara asam organik dengan
garam turunan karbonat. Gas korbondioksida ini membantu mempercepat
hancurnya tablet dan meningkatkan kelarutan zat aktif. Selain itu gas
korbondiokasida ini juga memberi rasa segar seperti halnya pada minuman
kaleng berkarbonasi. Di samping menghasilkan larutan yang jernih, tablet
juga menghasilkan rasa yang enak karena adanya karbonat yang membantu
memperbaiki rasa beberapa obat tertentu. Dengan rasa asam sedikit berlebih,
sehingga berasa sedikit asam ini merupakan faktor tambahan yang membuat
sediaan efervesen dapat diterima di masyarakat.
Kandungan tablet effervecent merupakan campuran asam (asam sitrat,
asam tartrat) dan Natrium bikarbonat, yang jika dilarutkan dalam lingkungan
berair akan bereaksi menghasilkan karbondioksida yang berasal dari
penguraian basa bikarbonat akibat penetralan oleh asam. Reaksinya cukup
cepat dan biasanya selesai dalam waktu 1 menit atau kurang. Tablet
effervescent harus disimpan dalam wadah tertutup rapat atau kemasan tahan
lembab, sedangkan pada etiket tertera tidak langsung ditelan.

Tablet Effervescent | 1

BAB II
PEMBAHASAN
A. Tablet Effervercent
1. Pengertian Tablet
Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak
dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau
cembung, mengandung 1 jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat
tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai Zat
pengisi, sat pengembang, zat pengikat , zat pelicin, zat pembasah atau
zat lain yang cocok.(FI III 1979, hal 6)
Formulasi tablet adalah suatu campuran serbuk yang mengandung
bahan aktif dan bermacam bahan tambahan yang dapat memberikan sifat
alir, sifat adhesive, dan sifat antisticking yang tepat. (Pharmaceutics and
Pharmacy Practise, hal 222)
2. Pengertian Effervescent
Effervescent salts adalah granul atau coarse hingga serbuk
coarse mengandung bahan obat dalam suatu campuran kering biasanya
mengandung komposisi sodium bicarbonate, asam sitrat dan asam tartrat.
(Introduction to Pharmaceutical Dosage Forms, hal 271)
3. Pengertian Tablet Effervescent
Tablet Effervescent adalah tablet tidak bersalut, umumnya
mengandung senyawa asam dan karbonat atau bikarbonat yang bereaksi
dengan cepat dengan adanya air dengan melepasakan karbon dioksida.
Tablet effervescent diharapkan bisa terlarut dalam air sebelum
digunakan.
Tablet Effervescent adalah tablet yang dibuat dengan mencetak
granul garam effervescent atau bahan lain yang memiliki kemampuan
untuk mengeluarkan gas ketika kontak dengan air (Pharmaceutical
Dosage Forms and Drug Delivery Systems, hal 185)

Tablet Effervescent | 2

Effervescent didefinisikan sebagai timbulnya gelembung gas dari


cairan sebagai hasil dari reaksi kimia. Campuran effervescent telah
diketahui dan digunakan sebagai obat sejak 100 tahun yang lalu. Tablet
effervescent merupakan metode yang

nyaman untuk

pemberian

sejumlah zat aktif atau bahan kimia yang telah diukur sebelumnya
dengan disolusi. Larutan effervescent berkilau, lezat, dan menyediakan
zat aktif dalam bentuk larutan dengan ketersediaan hayati yang
terjamin bagi orang yang sulit menelan tablet atau kapsul biasa (Siregar
dan Wikarsa, 2010). Effervescent didefenisikan sebagai bentuk sediaan
yang menghasilkan gelembung gas sebagai hasil reaksi kimia larutan.
Gas yang dihasilkan saat pelarutan effervescent adalah karbon dioksida
sehingga dapat memberikan efek sparkling (rasa seperti air soda)
(Lieberman, dkk., 1992).
Tablet effervescent merupakan salah satu bentuk sediaan tablet
dengan cara pengempaan bahan-bahan aktif campuran asam-asam
organik, seperti asam sitrat atau asam tartarat dan natrium bikarbonat.
Bila tablet ini dimasukkan ke dalam air, mulailah terjadi reaksi kimia
antara asam dan natrium bikarbonat sehingga terbentuk garam natrium
dari asam dan menghasilkan gas karbondioksida serta air. Reaksinya
cukup cepat dan biasanya berlangsung dalam waktu satu menit atau
kurang. Di samping menghasilkan larutan yang jernih, tablet juga
menghasilkan rasa yang enak karena adanya karbonat yang dapat
membantu memperbaiki rasa obat-obat tertentu (Banker dan Anderson,
1986).
4. Keuntungan
a. Memungkinkan penyiapan larutan dalam waktu seketika, yang
mengandung dosis yang tepat.
b. Rasa menyenangkan karena karbonasi membantu menutup rasa zat
aktif yang tidak enak.
c. Ukuran tablet biasanya cukup besar dan dapat dikemas secara
individual sehingga bisa menghindari masalah ketidakstabilan zat
aktif dalam penyimpanan.
d. Mudah menggunakannya karena tablet dilarutkan terlebih dahulu
dalam air, baru diminum.

Tablet Effervescent | 3

e. Bentuk sediaan dengan dosis terukur tepat.


5. Kerugian
a. Kesukaran untuk menghasilkan produk yang stabil secara kimia.
b. Kelembaban udara selama pembuatan produk mungkin sudah cukup
untuk memulai reaksi effervescent.
6. Bahan Tambahan Tablet Effervecent
Perlu diperhatikan bahwa bahan yang digunakan dalam tablet
effervecent seharusnya mempunyai kandungan lembab yang sangat
rendah dan sewaktu pembuatan sediaan ini harus dilakukan pada tempat
yang kering.
Karakteristik komponen tablet Efervesen:
1) Dalam banyak hal prinsip yang digunakan dalam memproduksi tablet
efervesen sama dengan yang digunakan untuk tablet konvensional.
Banyak dari proses dan alat proses yang sama. Demikian juga sifat
umum granul yang diperlukan untuk memdapatkan tablet yang sesuai
persyaratan seperti:
a. Ukuran partikel
b. Bentuk partikel
c. Granulometri
d. Keseragaman distribusi
e. Aliran bebas granul
f. Granul harus dapat dikompresi
2) Satu sifat bahan baku yang dipilih untuk digunakan dalam tablet
efervesen yang lebih penting dari tablet konvensional yaitu kondisi
lembabnya, artinya bahan baku yang digunakan harus kering.
Apabila bahan baku yang digunakan tidak kering (mengandung
lembab) maka terjadi reaksi asam dan karbonatnya akan menyebabkan
produk menjadi tidak stabil secara fisik dan terurai. Sekali dimulai
reaksi maka akan berlanjut lebih cepat karena produk samping reaksi
adalah pertambahan air.
Contoh:
CH2COOH
CH2COOH
CH2COOH

CH2COONa
+

3NaHCO3

CHCOONa

+ 3 CO2 + 3 H2O

CH2COONa

Oleh karena itu bahan baku yang digunakan harus dalam keaadan
anhidrat (kering) dengan sedikit kadar lembab yang diabsorpsi.

Tablet Effervescent | 4

Molekul air memang masih ada tapi sangat sedikit karena air
dibutuhkan sedikit untuk kebutuhan mengikat granul karena granul
yang terlampau kering tidak dapat dikempa.
3) Kelarutan merupakan sifat bahan baku yang penting dalam tablet
efervesen. Jika komponen tablet tidak larut, reaksi efervesen tidak
akan terjadi dan tablet tidak akan terdisintegrasi secara cepat.
Kecepatan kelaurtan lebih penting dari kelarutan karena zat yang
terlarut lambat dapat merintangi desintegrasi tablet dan larut lambat
menghasilkan residu yang tidak disukai setelah tablet terdisintegrasi.
1. Sumber Karbondioksida
Sumber karbondioksida dari tablet efervesen didapat dari garamgaram karbonat. Karena garam ini dapat menghasilkan 53 %
karbondioksida. Garam yang sering digunakan adalah natrium
bikarbonat dan natrium karbonat. Natrium bikarbonat dengan
kosentrasi dalam air 0,85% menunjukan pH 8,3. natrium karbonat
dengan konsentrasi 1 % dalam air mempunyai pH 11,5. Natrium
karbonat menunjukan pula efek stabilisasi di dalam tablet efervesen
karena kemampuannya mengabsorbsi lembab terlebih dahulu yang
dapat mencegah permulaan reaksi efervesen. Oksigen dapat pula
menjadi sumber efervesen dengan sumbarnya dapat digunakan
natrium perborat anhidrat.
2. Sumber Asam
Sumber asam yang umumnya digunakan pada tablet efervesen
dapat digolongkan menjadi:

a. Asam Makanan, antara lain:


1) Asam Sitrat, merupakan asam yang paling sering digunakan
karena harganya yang murah. Asam sitrat dapat larut dengan
mudah dan cepat, dan dalam bentuk granul dapat mengalir
dengan bebas. Terdapat juga bentuk anhidratnya sehingga
mempunyai sifat higrokopis.

Tablet Effervescent | 5

2) Asam Tartrat, asam ini mempunyai kelarutan yang lebih besr


dari asam sitrat.
b. Asam anhidrat
Jika asam anhidrat dilarutkan dalam air maka akan terjadi
hidrolisi yang membebaskan bentuk asamnya yang dapat bereaksi
dengan

sumber

karbondioksida. Contohnya

adalah

suksinat

anhidrat.
c. Garam Asam
Garam ini dapat digunakan karena dalam larutan, garam ini
dapat menghasilkan proton dan menghasilkan larutan dengan pH
dibawah 7. Contohnya adalah natrium hidrogen fosfat, natrium
dihidrogen fosfat, dan natrium bisulfit.
3. Bahan Tambahan Lainnya
Bahan tambahan lainnya pada tablet efervesen antara lain
seperti bahan pengikat, bahan pengisi, dan lubrikan. Namun bahanbahan ini penggunaannya dalam jumlah yang terbatas. Seperti halnya
pengisi, hanya digunakan sedikit saja, karena dalam formula tablet
efervesen sudah banyak mengandung karbonat dan asam.
a. Pengikat dan zat penggranul
Untuk pembuatan tablet efervesen dengan metode granulasi
penggunaan pengikat seperti gelatin, amilum dan gom tidak dapat
digunakan karena kelarutan lambat atau karena kandungan residu
air tinggi yang dapat mempercepat ketidakstabilan tablet efervesen.
Pengikat efektif untuk tablet efervesen adalah PVP. PVP
ditambahkan pada serbuk yang digranulasi dalam keadaan kering
kemudian dibasahi oleh cairan penggranulasi yaitu isopropanol,
etanol atau hidroalkohol. Alkohol tidak bersifat pengikat tapi
ditambahkan sebagai zat penggranulasi untuk pelarut PVP.
b. Pengisi
Biasanya hanya dibutuhkan sedikit pengisi karena zat yang
menghasilkan efervesen sudah cukup besar. Natrium bikarbonat
merupakan pengisi yang baik. Pengisi lain adalah Na. Klorida, Na.
Sulfat dan Na. Bikarbonat.
c. Lubrikan

Tablet Effervescent | 6

Lubrikan yang larut air atau zat yang dapat terdispersi dalam
air dapat digunakan sebagai lubrikan. Serbuk natrium benzoat dan
PEG 8000 merupakan lubrikan larut air yang efektif.
B. Teknik Formulasi
Secara sederhana, proses pembuatan tablet effervescent dapat dibagi
menjadi 2 tahap, yaitu proses pencampuran bahan dan proses pencetakan
bahan.
1. Proses pencampuran
Pada

semua

metode

pembuatan

tablet,

setelah

proses

penimbangan komponen-komponen tablet, selalu diikuti dengan proses


pencampuran berupa partikel-partiel padat. Proses ini bertujuan untuk
mendapatkanmassatablet yang homogen. Tujuan ini bisa dicapai apabila
sifat

fifis

partikel

penyusun

campuran

dan

faktor

lain

yang

mempengaruhi proses pencampurannya adalah sama. Sifat fisis partikel


yang mempengaruhi proses pencampuran adalah ukuran, bentuk, densitas
dan kelembaban partikel. Sedangkan faktor lainnya adalah kadar partikel.
Baik proses pencampuran maupun pentabletan dilakukan pada
kelembaban yang rendah (kelembaban relative atau RH dibawah 30 %)
2. Proses pencetakan tablet
Pada prinsipnya tablet dapat dibuat melalui cetak langsung atau
granulasi, baik granulasi basah maupun granulasi kering. Untuk
menentukan metode pembuatannya apakah dibuat cetak langsung atau
granulasi sangat tergantung pada dosis dan sifat zat aktifnya. Untuk
metode cetak langsung semua komponen tablet baik zat aktif, bahan
pengisi, pengikat, dan penghancur harus mmpunyai sifat alir dan
kompresibilitas yang baik. Pada proses pencetakan untuk zat aktif dengan
dosis kecil hal ini tidak menjadi masalah selama homogenitasnya
diperhatikan. Tetapi untuk zat aktif dengan dosis besar, jika sifat alir dan
kompresibilitasnya tidak baik maka diperlukan bahan tambahan yang
efektif untuk mengatasi sifat alir dan kompresibilitasnya.
3. Proses penghancuran tablet

Tablet Effervescent | 7

Agar tablet dapat hancur, maka harus ada cairan yang mampu
menembus masuk ke dalam tablet secara kapiler. Efek kapiler ini dapat
diperbesar dengan adanya bahan penghancur. Selain bahan penghancur,
efek kapiler juga dipengaruhi oleh porositas tablet. Besarnya porositas
menyebabkan cairan yang masuk ke dalam tablet semakin banyak.
Porositas tablet antara lain dipengaruhi oleh distribusi ukuran atau
partikel massa tablet dan tekanan yang diberikan saat proses pencetakan.
Cairan yang sudah masuk dalam tablet akan merusak ikatan antar partikel
dan mengakibatkan bahan penghancur mengembang yang kemudian
menyebabkan hancurnya tablet. Tetapi adanya bahan penghancur yang
mengembang ini juga dapat menghasilkan massa yang kental dan lengket
yang akan menghalangi masuknya cairan ke dalam tablet sehingga dapat
memperpanjang waktu hancur.
C. Eksipien
1. Lubrikan
Lubrikan untuk produk effervescent haruslah non toxic, tidak
berasa, dan larut air. Sangat sedikit lubrikan tradisional yang dapat
memenuhi persyaratan ini.
Lubrikan internal ditambahkan pada serbuk campur dan oleh
karena itu termasuk dalam formulasi. Saat ditambahkan ke bentuk padat
(solid), lubrikan harus dipisahkan.
Metal Stearat seperti Magnesium Stearat atau Ca Stearat yang
berguna sebagai lubrikan dalam tablet konvensional, jarang digunakan
dalam tablet effervescent. Hal ini dikarenakan ketidaklarutannya dalam
air. Stearat-stearat akan memberikan efek dalam hal ketidaklarutan,
berbusa, lapisan berasa sabun pada permukaan larutan berkabut.
Disamping itu, konsentrasi normal lubrikan dari Metal Stearat akan
membuat tablet menjadi hydrofobik yang mengakibatkan disolusi yang
lambat dari tablet effervescent dalam air. Tetapi konsentrasi metal stearat
sangat rendah dapat digunakan untuk meningkatkan jumlah larutan dari
isi produk effervescent, misalnya wetting agent dan paracetamol. Jika
metal stearat konsentrasi rendah ditambahkan, maka tablet akan

Tablet Effervescent | 8

tenggelam sebagian dalam air selama disolusi dan tidak tersebar pada
permukaan sehingga seperti tanpa metal stearat. Floating tablet
menghasilkan area permukaan lebih kecil di air dibandingkan dengan sisa
tablet dalam cairan.
Sodium stearat dan sodium oleat larut air dalam konsentrasi
rendah. Mereka memiliki karakteristik rasa sabun, yang sebenarnya
menghalangi kegunaan mereka dalam produk effervescent.
Polyethylene glycol (PEG) 6000 3% dapat digunakan sebagai
lubrikan dan juga binder. Sodium benzoate tersilikon juga ditambahkan
sebagai lubrikan.Saat PEG 4000 atau 6000 digunakan sebagai binder
kering, partikel kering yang berkualitas sangat penting. Combinasi dari
4% PEG 6000 dan 0.1% sodium stearyl fumarat merupakan lubrikan
yang bagus untuk tablet asam askorbat yang dibuat melalui cetak
langsung pada skala kecil. Sodium klorida , sodium asetat, dan D,Lleucine-lubrikan yang larut air-juga dianjurkan untuk tablet effervescent.
Modifikasi sodium benzoate, didapatkan dari pembasahan dengan
paraffin, polydimethylsiloxane, atau polyethylene glycol dalam solvent
yang mudah menguap dan mengevaporasi larutan, dianjurkan sebagai
sebagai lubrikan untuk tablet effervescent yang terlarutkan. Surfaktan
seperti sodium lauryl sulfat, dan magnesium lauryl sulfat juga dapat
berperan sebagai lubrikan. Produk-produk yang mengandung asam
asetylsalisilat biasanya tidak membutuhkan lubrikan tambahan.
Lubrikan

eksternal

disediakan

melalui

mekanisme

yang

menggunakan bahan / senyawa lubrikasi, normalnya minyak minyak


paraffin, untuk melapisi peralatan tabletasi selama proses. Suatu metode
menggunakan minyak pencuci dilapiskan pada punch dibawah ujung
(tip). Pencuci ini membersihakan ronga die dengan tablet yang
dieject. Untuk menghindari pernempelan tablet pada permukaan punch,
material seperti polytetrafluorethylen atau polyurethane digunakan pada
permukaannya. Metode lubrikan yang lain yaitu dengan menyemprotkan
lapisan tipis lubrikan ke permukaan alat setelah satu tablet dieject dan
sebelum granul untuk tablet berikutnya masuk ke rongga die.

Tablet Effervescent | 9

2. Glidants
Glidan biasanya tidak begitu penting. Granul yang jatuh bebas
(sifat alir bagus) mempunyai bentuk fisika yang tepat untuk cetak
langsung. Sehingga untuk pembuatan tablet dengan diameter besar tidak
membutuhkan glidan.
3. Antiadherents
Lengketnya granulasi atau campuran bubuk pada permukaan
punch, yang disebutpicking, dapat dihilangkan dengan menggunakan
antara lain polytetrafluorethylen atau polyurethane yang dilapiskan pada
permukaan punch.
4. Binders
Binder biasanya digunakan saat membuat tablet konvensional.
Binder ditambahkan dalam formulasi kering maupun dilarutkan dalam
pelarut yang tepat yang kemudian ditambahkan pada proses granulasi
basah. Kebanyakan binder merupakan polymer dan dapat meningkatkan
perubahan bentuk plastic dari formulasi.
Penggunaan binder umumnya akan mencegah laju disolusi dari
tablet effervescent. Sehingga banyak tablet effervescent diformulasikan
tanpa binder. Tapi granul efferfescent dapat diformulasi denagn binder,
untuk memperluas area permukaan- dibandingkan dengan cara
konvensional atau tablet efferfescent- akan memberikan hasil dalam laju
disolusi. Granulasi efferfescent yang terdiri dari asam sitrat anhidrat dan
sodium bicarbonate dibuat dengan alcohol terdehidrasi sebagai granulasi
cair. Bagian asam sitrat dilarutkan selama pencampuran dan berfungsi
sebagai binder.
Untuk mencetak asam askorbat yang dikombinasikan dengan
sodium bikarbonat, granulasi juga disyaratkan.Umumnya binder larut air,
misalnya polyvinylpyrrolidone atau polyvinylpyrrolidone-poly (vinyl
asetat)-copolymer, menyebabkan perubahan warna pada granul asam
askorbat. Maltodextrin terhidrogenasi mengandung maltitol dalam
jumlah tinggi yang dipilih dari range yang luas dari dextrins dan
maltodextrins sebagai binder yang mungkin. Maltitol merupakan binder

Tablet Effervescent | 10

yang tepat untuk tablet efferfescent vitamin C. Formasi dari jembatan


kristal dari maltitol diasumsikan sebagai mekanisme pengikatan
(binding). Polyethylen glycol 6000 3% juga digunakan baik untuk binder
maupun lubrikan.
5. Disintegrants atau Dissolution Aids
Disintegrant, yang digunakan pada tablet konvensional, umumnya
tidak digunakan dalam tablet effervescent, karena salah satu permintaan
pasar adalah bahwa larutan jernih (clear solution) harus diperoleh dalam
beberapa menit setelah tablet dimasukkan dalam gelas berisi air dingin..
Dextrose dan atau sukrosa digunakan sebagai disintegran atau penolong
disolusi dalam tablet efferfescent dari asam asetilsalisilat.
6. Diluents
Tidak dibutuhkan diluent dalam produk efferfescent. Material
efferfescent itu sendiri akan ditambahkan dalam jumlah yang besar.
7. Sweeteners
Sukrosa dan pemanis alami seperti sorbitol dapat digunakan
dalam produk efferfescent, walaupun pemanis buatan sering digunakan.
Tetapi aplikasi dari pemanis buatan terbatas pada peraturan/ undangundang kesehatan. Sehingga, penggunaan berbagai pemanis tersebut
bervariasi antara Negara satu dengan yang lain tergantung pada standard
nasionalnya.
Sakarin atau sodium-sodiumnya dan garam-garam kalsium
digunakan sebagai pemanis, dan aspartame dianjurkan sebagai pemanis
untuk tablet efferfescent. Awalnya, siklamat dan asam siklamat
merupakan pemanis buatan terpilih, tetapi sekarang penggunaannya telah
dibatasi. Sodium siklamat yang dicampur dengan sodium sakarin sering
digunakan.
8. Flavors
Penggunaan bahan pemanis tidak cukup untuk mengubah produk
yang mengandung obat dengan rasa yang tidak enak menjadi enak.
Sehingga, perasa dapat ditambahkan. Macam-macam dari dry flavors
yang digunakan dalam tablet telah tersedia oleh supplier. Perasa haruslah
larut dalam air.

Tablet Effervescent | 11

9. Colors
Pewarna larut air dapat ditrambahkan. Tetapi beberapa pewarna
dapat merubah warna berdasarkan variasi pH, sehingga harus
dipertimbangkan sebelum pemilihan pewarna.
10. Surfaktants
Bahan tambahan ini terkadang meningkatkan pembasahan dan
laju disolusi dari suatu obat. Tapi harus diperhatikan pada terbentuknya
busa.
11. Antifoaming Agents
Untuk mengurangi busa/ buih, dan oleh karena kecenderungan
obat untuk menempel pada dinding gelas diatas level air, suatu
antifoaming agent seperti polydimethylsiloxane dapat digunakan. Tapi
bagaimanapun juga, antifoaming agents tidak digunakan dalam produk
efferfescent.
D. Pembuatan
Tablet effervecent dibuat dengan beberapa metode yaitu dengan cara
granulasi basah, granulasi kering, dan dengan metode fluidisasi. Metode
fluidisasi dengan metode wurster, menggunakan suatu alat semprot khusus
yang dilangkapi dengan saluran penyemprot bahan pengikat dan saluran
udara pemanas.
Tablet effervecent memerlukan kondisi kerja dan metode khusus
dalam pembuatannya karena dalam tablet ini terdapat dua bahan yang tidak
dapat tersatukan yaitu garam natrium bikarbonat dan asam organik sebagai
penghasil karbondioksida. Reaksi kedua bahan ini akan dipercepat dengan
adanya air, maka dari itu tablet Efervescent selama perjalanannya mulai akhir
produksi sampai ke tangan pasien tidak boleh sedikitpun kontak dengan air.
Selain itu suhu tinggi juga dapat mempercepat perusakan bahan tablet,
sehingga juga harus dijaga pada suhu yang relatif rendah.
Proses pembuatan tablet efervesen membutuhkan kondisi khusus,
kelembababanharus relatif rendah dan suhu harus dingin untuk mencegah
granul atau tablet melekat pada mesin karena pengaruh kelembaban dari
udara
1. Granulasi Basah

Tablet Effervescent | 12

Umumnya sama dengan tablet konvensional, Prosesnya:


1) Cara Pemanasan.
Biasanya komponen asam yang dipanaskan. Karena proses ini sangat
tidak konstan dan sulit dikendalikan jarang digunakan.
2) Granulasi dengan Cairan Reaktif.
Bahan penggranulasi yang efektif adalah air. Proses berdasarkan
penambahan sedikit air (0,1-0,5%) yang disemprotkan pada
campuran sehingga terjadi reaksi menghasilkan granul. Granul yang
masih lembab ditransfer ke mesin tablet kemudian dikempa lalu
tablet masuk ke dalam oven terjadi proses pengeringan untuk
menghilangkan air sehingga tablet menjadi stabil.
3) Granulasi dengan Cairan Non Reaktif.
Cairan yang digunakan adalah etanol atau isopropanol. Cairan
ditambahkan perlahan-lahan ke dalam campuran pada mesin
pencampur. Dalam hal ini perlu ditambahkan pengikat kering seperti
PVP. Setelah itu masa granul dimasukkan ke dalam oven lalu
dikeringkan. Kemudian dihaluskan lagi baru dicetak.
2. Granulasi Kering
Dilakukan dengan dua cara:
1)

Cara Slugging
Dibuat bongkah-bongkah tablet ukuran besar menggunakan mesin
tablet kemudian tablet dimasukkan ke dalam mesin granulasi untuk

2)

dihaluskan menjadi ukuran yang dikehendaki


Cara Kompaktor
Menggunakan mesin khusus rol kompaktor yang mengempa serbuk
premix menjadi bentuk pita/lempeng diantara dua rol yang berputar
berlawanan. Bahan dihaluskan menjadi granul dalam mesin granul.

E. Evaluasi
Tujuan : Untuk memeriksa apakah tablet memenuhi persyaratan resmi
(Farmakope) atau non resmi (Non Farmakope) atau tidak.
Prosedur
Parameter Fisik
Pemeriksaan penampilan fisik: Kejernihan larutan.
Keseragaman ukuran

Tablet Effervescent | 13

20 tablet diambil secara acak, Setiap tablet diukur diameter dan tebalnya
dengan jangka sorong. Diameter tablet tidak boleh lebih dari tiga kali dan
tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet. (FI edIII hlm. 7).

Keragaman bobot

Persyaratan keragaman bobot diterapkan untuk tablet yang mengandung

zat aktif 50 mg atau lebih atau merupakan 50% atau lebih dari bobot total.
Pilih tidak kurang dari 30 tablet. Lalu timbang seksama 10 tablet, satu per
satu, dan hitung bobot rata-rata. Dari hasil Penetapan Kadar, yang
diperoleh seperti yang tertera dalam masing-masing monografi, hitung
jumlah zat aktif dari masing-masing dari 10 tablet dengan anggapan zat
aktif terdistribusi homogen. (FI IV, 1995 h.999)

Kekerasan tablet

20 tablet diambil secara acak, kemudian diukur kekerasannya dengan alat


Stokes Mensato. Tekanan yang diperlukan untuk memecahkan tablet

terukur pada alat dengan satuan Kg/cm2. Kekerasan yang ideal 10 kg/cm2.
Friabilitas
Bersihkan 20 tablet dari debu kemudian ditimbang (Wo). Masukkan tablet
ke dalam alat, kemudian jalankan selama 4 menit dengan kecepatan 25

rpm (100 X)
Setelah 4 menit,hentikan alat, tablet dikeluarkan, lalu dibersihkan dari

debu dan timbang (W1).


Indeks friabilitas (f) = (Wo -W1)/Wo X 100%

Friksibilitas

20 tablet diambil secara acak, bersihkan dari debu, kemudian ditimbang


(Wo), kemudian dimasukkan ke dalam friksibilator. Alat diputar 25 rpm
selama 4 menit (100 X), kemudian tablet dibersihkan dari debu dan
ditimbang (W1). Friksibilitas = (Wo - W1)/W1 x 100 %.

Uji waktu hancur

Ini adalah parameter paling penting. Biasanya tablet dapat hancur dalam
waktu 1-2 menit. Volume dan suhu air yang digunakan untuk uji waktu
hancur tablet effervescent

Parameter Kimia

pH larutan
Keseragaman kandungan zat aktif
Kadar zat aktif

Tablet Effervescent | 14

Stabilitas : zat aktif dan sistem effervescent

F. Contoh Formula (Vitamin C)


1. Formulasi
Satu tablet effervescent dibuat dengan bobot 1,5 gram.
Formula untuk 1 buah tablet effervescent :
Vitamin C

500 mg

Pyridoxine

20 mg

PVP 3%

45 mg

Sukrosa 15%

225 mg

Asam sitrat monohidrat

208 mg

Asam tartrat

222,9 mg

Natrium bikarbonat

249,5 mg

PEG 8000

30 mg

2. Perhitungan
Bobot tablet effervescent 1500 mg
Fasa dalam bobot 98% = 98/100 1500 mg = 1470 mg
Fasa luar (terdiri dari pelincir) bobot 2% = 2/100 1500 mg = 30 mg
Fasa dalam terdiri dari zat aktif, asam, basa, pengikat, dan pengisi.
Bobot asam dan basa = fasa dalam (zat aktif + pengikat + pengisi)
= 1470 mg ( 520 + 45 + 225 ) mg
= 680 mg
Asam sitrat monohidrat: BM = 210,13
Bilangan ekivalen = 3
Bobot ekivalen = 210,13/3 = 70,04
Asam tartrat:

BM = 150,09

Bilangan ekivalen = 2
Bobot ekivalen = 150,09/2 = 75,05
Natrium bikarbonat:

BM = 84,01

Bilangan ekivalen = 1
Bobot ekivalen = 84,01/1 = 84,01
70,04 mol ekivalen + 75,05 mol ekivalen + 84,01 mol ekivalen = 680 mg
229,1 mol ekivalen = 680 mg

Tablet Effervescent | 15

mol ekivalen = 2,97


Asam sitrat monohidrat = 70,04 2,97 = 208 mg
Asam tartrat = 75,05 2,97 = 222,9 mg
Natrium bikarbonat = 84,01 2,97 = 249,5 mg
Pertimbangan pemilihan bahan-bahan dalam formula dan metode
pembuatan
Bobot tablet yang dipilih 1500 mg karena bobot tersebut cukup untuk
bobot tablet effervescent
Dosis asam askorbat yang dipilih 500 mg/hari karena dosis tersebut dapat
digunakan untuk pengobatan sariawan akibat defisiensi vitamin C.
Jumlah pyridoxine yang dikonsumsi per hari sebanyak 2,2 mg harus
terpenuhi untuk laki-laki dan 2 mg untuk perempuan. Pyridoxine yang
digunakan untuk pengobatan anemia sideroblastik dan untuk merawat
kelainan metabolisme akibat defisiensi pyridoxine memiliki dosis sebesar
100-400 mg per hari. Dosis pyridoxine yang dipilih dalam formula ini
sebesar 20 mg/hari karena masih termasuk rentang dosis yang dapat
digunakan untuk profilaksis dan defisiensi pyridoxine, juga untuk
memenuhi bobot tablet effervescent sebesar 1,5 gr.
Pengikat yang digunakan dipilih PVP karena PVP merupakan pengikat
yang larut air dan konsentrasi yang dipilih 3% karena PVP yang digunakan
sebagai pengikat dalam formulasi dan teknologi Farmasi sebesar 0,5-5%
Pengisi yang digunakan adalah sukrosa karena pengisi yang digunakan
dalam tablet effervescent adalah gula. Konsentrasi yang dipilih 15%
karena sukrosa yang digunakan sebagai pengisi pada formulasi dan
teknologi Farmasi 2-20%.
Asam yang digunakan adalah kombinasi antara asam sitrat monohidrat dan
asam tartrat karena dengan kombinasi akan diperoleh tablet effervescent
yang bik. Bila digunakan asam sitrat monohidrat tunggal maka granul
yang dihasilkan lengket dan lunak sehingga tidak dapat dikempa,
sedangkan bila digunakan asam tartrat tunggal maka akan dihasilkan tablet
effervescent yang keras dan retak-retak.
Basa yang digunakan adalah natrium bikarbonat karena basa tersebut biasa
digunakan dalam kombinasi dengan asam tartrat.

Tablet Effervescent | 16

Lubrikan yang digunakan harus larut air sehingga dipilih PEG 8000
Metode pembuatan yang dipilih adalah granulasi kering karena zat aktif
merupakan vitamin yang tidak tahan panas sehingga dengan granulasi
kering maka tidak diperlukan proses pengeringan yang memerlukan panas.
Penimbangan dilakukan untuk membuat 500 buah tablet effervescent
Asam askorbat

500 mg 500 = 250 g

Pyridoxine

20 mg 500 = 10 gr

PVP 3%

45 mg 500 = 22,5 gr

Sukrosa 15%

225 mg 500 = 112,5 gr

Asam sitrat monohidrat

208 mg 500 = 104 gr

Asam tartrat

222,9 mg 500 = 111,45 gr

Natrium bikarbonat

249,5 mg 500 = 124,75 gr

PEG 8000

30 mg 500 = 15 gr

3. Prosedur Pembuatan
Metode Granulasi Kering
1. Zat aktif dan eksipien masing-masing dihaluskan dlam tempat yang
terpisah.
2. Dicampur menjadi satu kemudian dicampur hingga homogen.
3. Massa serbuk dislugging, kemudian dihancurkan hingga derajat
kehalusan tertentu.
4. Diayak dengan pengayak nomor 16 mesh.
5. Dilakukan uji aliran granul yang diperoleh. Aliran yag diperoleh
harus sebesar 10 gr/detik. Jika tidak diperoleh aliran sebesar itu,
harus dilakukan slugging kembali hingga diperoleh aliran yang
dikehendaki.
6. Setelah granul memiliki aliran 10 gr/detik, pada granul ditambahkan
lubrikan. Granul siap dikempa menjadi tablet dengan bobot 1,5 gr.
4. Evaluasi Granul
1. Tujuan
Untuk memeriksa apakah granul yang terbentuk memenuhi syarat
atau tidak untuk dikempa.
2. Prosedur
1) Kandungan Air (hanya untuk granul hasil granulasi basah)

Tablet Effervescent | 17

a. Penentuan dilakukan dengan menggunakan 5 gr granul yang


diratakan pada piring logam, kemudian dimasukkan dalam
alat penentuan kadar air (Moisture Ballance).
b. Atur panas yang digunakan (70 0C) lalu diamkan beberapa
waktu sampai diperoleh angka yang tetap (dalam bentuk
%). Piring logam dipanaskan hingga bobot tetap sebelum
digunakan.
2) Kecepatan Aliran (Menggunakan Flow Tester)
a. Sejumlah tertentu granul dimasukkan kedalam alat penentuan
(corong) penguji aliran.
b. Alat dijalankan dan dicatat waktu yang dibutuhkan oleh
massa granul untuk melewati corong.
c. Hasil dinyatakan dalam satuan gr/det. Kecepatan aliran yang
ideal adalah 10 gr/det
3) Kadar Pemampatan
a. Masukkan 100 gr granul dalam gelas ukur 250 mL , Volume
mula-mula dicatat sebagai ketukann 0 (Vo).
b. Lakukan pengetukan, dan volume pada ketukan ke 10, 50,
100, diukur.
c. Timbang bobot granul yang digunakan untuk pengujian ini.
d. Hitung kadar pemampatan dengan persamaan berikut ini:
Kp = [(Vo-Vt)/Vo] x 100 %
Kp = kadar pemampatan
Vo = volume granul sebelum pemampatan
Vt = volume granul pada t ketukan
Penafsiran hasil : Granul memenuhi syarat jika Kp < 20%.
4) Bobot jenis
a. Bobot jenis nyata
Sejumlah gram granul dimasukkan ke dalam gelas ukur.
Catat volumenya dan timbang bobot granul yang

digunakan untuk pengujian ini.


Hitung bobot jenis nyata dengan persamaan berikut ini :
P = W/V
P = bobot jenis nyata
W = bobot granul
V = volume granul tanpa pemampatan
Bobot jenis mampat

Tablet Effervescent | 18

Sejumlah gram granul dimasukkan ke dalam gelas ukur


pada alat dengan menggunakan corong panjang. Catat

volumenya (Vo).
Gelas ukur diketuk-ketukkan sebanyak 10 dan 500

kali. Catat volumenya (V10 dan V500).


Timbang bobot granul yang digunakan untuk pengujian

ini.
Hitung bobot jenis mampat dengan persamaan berikut ini :
Pn = W/Vn
Pn = bobot jenis mampat
W = bobot granul
Vn = volume granul pada n ketukan
v) Indeks kompresibilitas
Hitung dengan persamaan : [(Pn-P)/Pn] x 100 %
vi) Perbandingan Haussner
Hitung dengan persamaan berikut ini :
Angka Haussner = BJ setelah pemampatan/BJ sebelum

pemampatan.
Penafsiran hasil : Granul memenuhi syarat jika angka

Haussner > 1.
5. Evaluasi Tablet
1. Tujuan
Untuk memeriksa apakah tablet memenuhi persyaratan resmi
(Farmakope) atau non resmi (Non Farmakope) atau tidak.
2. Prosedur
1)
Pemeriksaan penampilan
Meliputi pemeriksaan visual yaitu bebas dari kerusakkan,
dari kontaminasi bahan baku atau dari pengotoran saat proses
2)

pembuatan.
Keseragaman ukuran
20 tablet diambil secara acak, Setiap tablet diukur
diameter dan tebalnya dengan jangka sorong. Diameter tablet
tidak boleh lebih dari tiga kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal

3)

tablet.
Keseragaman bobot
Tablet tidak

bersalut

harus

memenuhi

syarat

keseragaman bobot yang ditetapkan dengan menimbang 20


tablet satu persatu dan dihitung bobot rata-rata tablet. Jika
ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang

Tablet Effervescent | 19

masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya


lebih besar dari harga yang ditetapkan pada kolom A dan tidak
satu tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot rataratanya lebih dari hanya yang ditetapkan kolom B. ( FI ed III
4)

hlm. 7).
Kekerasan tablet
20 tablet diambil secara acak, kemudian diukur
kekerasannya dengan alat Stokes Mensato. Tekanan yang
diperlukan untuk memecahkan tablet terukur pada alat dengan

5)

satuan Kg/cm2. Kekerasan yang ideal 10 Kg/cm2.


Friabilitas
a. Bersihkan 20 tablet dari debu kemudian ditimbang (Wo).
Masukkan tablet ke dalam alat, kemudian jalankan selama 4
menit dengan kecepatan 25 rpm.
b. Setelah 4 menit, hentikan alat, tablet dikeluarkan, lalu

6)

dibersihkan dari debu dan timbang (W1).


c. Indeks friabilitas (f) = (Wo -W1)/Wo X 100%
Friksibilitas
20 tablet diambil secara acak, bersihkan dari debu,
kemudian ditimbang (Wo), kemudian dimasukkan ke dalam
friksibilator. Alat diputar 25 rpm selama 4 menit, kemudian

7)

tablet dibersihkan dari debu dan ditimbang (W1).


Friksibilitas = (Wo W1)/W1 X 100 %.
Uji Disolusi
Masukkan sejumlah volume media disolusi sesuai
monografi, alat dipasang dan biarkan media hingga mencapai
suhu 370 + 0,50C
Masukkan 1 tablet kedalam alat, hilangkan gelembung
udara dari permukaan sediaan, dan jalankan alat pada laju
kecepatan seperti yang tercantum pada monografi.
Dalam interval waktu yang ditetapkan, ambil cuplikan
pada daerah pertengahan antara media disolusi dan bagian atas
keranjang atau dayung, tidak kurang dari 1 cm dari dinding
wadah. Lakukan penetapan kadar sesuai monografi.

Tablet Effervescent | 20

BAB III
PENUTUP

Tablet Effervescent | 21

A. Kesimpulan
Tablet effervescent merupakan salah satu bentuk sediaan tablet
dengan cara pengempaan bahan-bahan aktif campuran asam-asam organik,
seperti asam sitrat atau asam tartarat dan natrium bikarbonat. Bila tablet ini
dimasukkan ke dalam air, mulailah terjadi reaksi kimia antara asam dan
natrium bikarbonat sehingga terbentuk garam natrium dari asam dan
menghasilkan gas karbondioksida serta air. Reaksinya cukup cepat dan
biasanya berlangsung dalam waktu satu menit atau kurang. Di samping
menghasilkan larutan yang jernih, tablet juga menghasilkan rasa yang enak
karena adanya karbonat yang dapat membantu memperbaiki rasa obat-obat
tertentu.
Tablet effervecent dibuat dengan beberapa metode yaitu dengan cara
granulasi basah, granulasi kering, dan dengan metode fluidisasi. Metode
fluidisasi dengan metode wurster, menggunakan suatu alat semprot khusus
yang dilangkapi dengan saluran penyemprot bahan pengikat dan saluran
udara pemanas.
Secara sederhana, proses pembuatan tablet effervescent dapat dibagi
menjadi 2 tahap, yaitu proses pencampuran bahan dan proses pencetakan
bahan

DAFTAR PUSTAKA
Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi keempat.
Jakarta : Universitas Indonesia.

Tablet Effervescent | 22

Lachman, Leon. Herbert A Lieberman. Joseph L. Kanig. 2008. Teori dan Praktek
Farmasi Industri Edisi ketiga. Jakarta : Universitas Indonesia.
Martindale, The Extra Pharmacopeia 29th Edition, Council Of The Royal
Pharmaceutical Society Of Great Britain, London, The Pharmaceutical
Press, 1989.
Pharmaceutical Excipient. 2nd edition. Editor : Ainley Wade and Paul J. Weller.
1994. London : The Pharmaceutical Press.
The Pharmaceutical CODEX, Principle and Practice of Pharmaceutics. 12nd
ed. 1994. London : The Pharmaceutical Press.
http://www.amerilabtech.com/docs/EffervescentTablets&KeyFacts.pdf. Robert E.
Lee. diakses tanggal 09 Februari 2016

Tablet Effervescent | 23

Anda mungkin juga menyukai