Anda di halaman 1dari 77

UANG KERTAS INDONESIA

TAHUN 1946 2005


(Serta uang kertas jaman Belanda dan Jepang)
-

Mata uang pertama yang dimiliki Republik Indonesia setelah merdeka adalah
Oeang Republik Indonesia atau ORI. Pemerintah memandang perlu untuk mengeluarkan
uang sendiri yang tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah tapi juga
sebagai lambang utama negara merdeka.
-

Resmi beredar pada 30 Oktober 1946, ORI tampil dalam bentuk uang kertas
bernominal satu sen dengan gambar muka keris terhunus dan gambar belakang teks
undang undang ORI ditandatangani Menteri Keuangan saat itu A.A. Maramis. Pada hari
itu juga dinyatakan bahwa uang Jepang dan uang Javache Bank tidak berlaku lagi. ORI
pertama dicetak oleh Percetakan Canisius dengan desain sederhana dengan dua warna
dan memakai pengaman serat halus.
-

Presiden Soekarno menjadi tokoh yang paling sering tampil dalam desain uang
kertas ORI dan uang kertas Seri ORI II yang terbit di Jogjakarata pada 1 Januari 1947,
Seri ORI III di Jogjakarta pada 26 Juli 1947, Seri ORI Baru di Jogjakarta pada 17
Agustus 1949, dan Seri 17 Agustus 1949, dan Seri Republik Indonesia Serikat (RIS) di
Jakarta pada 1 Januari 1950.
-

Meski masa peredaran ORI cukup singkat, namun ORI telah diterima di seluruh
wilayah Republik Indonesia dan ikut menggelorakan semangat perlawanan terhadap
penjajah. Pada Mei 1946, saat suasana di Jakarta genting, maka Pemerintah RI
memutuskan untuk melanjutkan pencetakan ORI di daerah pedalaman, seperti di
Jogjakarta, Surakarta dan Malang. (Sumber: Wikipedia)

Uang kertas ORI (Oeang Republik Indonesia)

Uang ORI Rp.100 dengan tandatangan Maramis

Uang ORI Rp.100 dengan tandatangan Maramis

Uang ORI Rp.600 dengan tandatangan Hatta

Uang kertas RIS (Republik Indonesia Serikat)


9

10

Republik Indonesia Serikat, disingkat RIS, adalah suatu negara federasi yang yang berdiri pada
tanggal 27 Desember 1949 sebagai hasil kesepakatan 3 pihak dalam Konferensi Meja Bundar yaitu
Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Kesepakatan ini
disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) (UNCI) sebagai perwakilan
PBB.
Pemerintahan RIS (kabinet ministerial) dipimpin oleh Perdana Menteri Mohammad Hatta,
sedangkan Presidennya adalah Soekarno. Republik Indonesia Serikat yang beribu kota di Jakarta, terdiri
beberapa negara bagian, yaitu:
1. Republik Indonesia.
2. Negara Indonesia Timur.
3. Negara Pasundan..
4. Negara Jawa Timur.
5. Negara Madura.
6. Negara Sumatra Timur.
7. Negara Sumatra Selatan.
Di samping itu, ada juga negara-negara yang berdiri sendiri dan tak tergabung dalam federasi, yaitu:
1. Jawa Tengah.
2. Kalimantan Barat.
3. Dayak Besar.
4. Daerah Banjar.
5. Kalimantan Tenggara.
6. Kalimantan Timur (tidak temasuk bekas wilayah Kesultanan Pasir).
7. Bangka.
8. Belitung.
9. Riau.
Republik Indonesia Serikatdibubarkan pada 17 Agustus 1950, dan kembali menjadi Negara Kesatuan
Republik Indonesia, dengan kendali sepenuhnya dari presiden Soekarno (kabinet presidential) beserta
wakil presiden Mohammad Hatta. (Sumber: Wikipedia).

UANG KERTAS REPUBLIK INDONESIA


1951

11

UANG KERTAS BANK INDONESIA


Sekilas Sejarah Berdirinya Bank Indonesia (BI)
Sebelum kelahiran Bank Indonesia, kebijakan moneter secara terbatas telah dilaksanakan oleh
bank sirkulasi pada saat itu, yaitu De Javasche Bank. Agar pengelolaan bank sentral dapat dilakukan
menurut kebijakan pemerintah di bidang moneter dan perekonomian, maka pada tahun 1951 De
Javasche Bank dinasionalisasikan. Setelah itu didirikan Bank Indonesia milik negara, dengan badan
hukum berdasarkan Undang-Undang (UU) No. 11 tahun 1953 tentang Penetapan Undang-Undang
Pokok Bank Indonesia.
Dalam Undang-Undang (UU) No. 11 tahun 1953 tentang Penetapan Undang-Undang Pokok
Bank Indonesia, dijelaskan bahwa Bank Indonesia (BI) didirikan untuk menggantikan De Javasche Bank
N.V. sekaligus bertindak sebagai bank sentral Indonesia. Sebagai badan hukum milik negara, BI berhak
melakukan tugas-tugas berdasarkan Undang-Undang Bank Sentral. Berkedudukan di Jakarta, BI
mengemban tugas, antara lain: menjaga stabilitas rupiah, menyelenggarakan peredaran uang di
Indonesia, memajukan perkembangan urusan kredit, dan melakukan pengawasan pada urusan kredit
tersebut.
Pada saat undang-undang tersebut dirumuskan, Presiden De Javasche Bank, Mr. Sjafruddin
Prawiranegara, dalam laporan tahunan De Javasche Bank tahun 1951/1952, mengungkapkan
kekhawatirannya bahwa hak bank sirkulasi untuk mencetak dan mengedarkan uang, dapat dimanfaatkan
oleh pemerintah sebagai sumber keuangan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka perlu dibentuk
Dewan Koordinasi sebagai jembatan antara kepentingan pemerintah sebagai pemilik dengan pihak bank
sentral yang memerlukan independensi dalam hal penetapan dan/atau pelaksanaan kebijakan moneter.
Dengan modal bank sebesar Rp 25 juta, BI memiliki usaha-usaha bank antara lain: memindahkan uang
(melalui surat atau pemberitahuan dengan telegram, wesel tunjuk, dan lain-lain), menerima dan
membayarkan kembali uang dalam rekening koran, mendiskonto surat wesel, surat order, dan surat-surat
utang, serta beberapa usaha lainnya.
12

Berkaitan dengan hubungan BI dan pemerintah, telah ditetapkan dalam UU tersebut, bahwa BI
wajib menyelenggarakan kas umum negara dan bertindak sebagai pemegang kas pemerintah Republik
Indonesia (RI). BI juga memberi uang muka dalam rekening koran kepada pemerintah RI.
Pada awal berdirinya, struktur organisasi BI meliputi 12 bagian di kantor pusat Jakarta, 15 kantor
cabang di dalam negeri, dan 2 (dua) kantor perwakilan di luar negeri. Bagian-bagian yang terdapat di
kantor pusat adalah: bagian pembukuan, bagian kas dan uang kertas bank, bagian urusan efek, bagian
pemberian kredit Jakarta, bagian sekretaris dan urusan pegawai, bagian urusan wesel, bagian pemberian
kredit pusat, dana devisa, bagian statistik ekonomi, urusan umum, bagian luar negeri, dan bagian
administrasi pusat.
15 kantor cabang yang terdapat di dalam negeri adalah Manado, Pontianak, Kediri, Yogyakarta,
Palembang, Medan, Makassar, Banjarmasin, Malang, Solo, Semarang, Surabaya, Bandung, Padang, dan
Cirebon. Sedangkan 2 kantor di luar negeri adalah bank cabang Amsterdam dan New York. Direksi bank
pada periode ini terdiri atas seorang gubernur (pimpinan), seorang gubernur pengganti I, seorang
gubernur pengganti II, dan beberapa orang direktur. Gubernur yang menjabat pada periode 1953-1959
adalah Sjafruddin Prawiranegara dan Loekman Hakim.

Gubernur pertama BI, Sjafruddin Prawiranegara


Susunan personalia di kantor pusat antara lain Ong Sian Tjong yang menjabat sebagai Kepala
Bagian Pembukuan, R.H. Djajakoesoema sebagai Kepala Bagian Pembantu Sekretarie, dan Go Wie Kie
sebagai Kepala Bagian Pembantu Wesel. Di kantor cabang antara lain adalah Tan Liang Oen, Agoes
Gelar Datoek Radjo Nan Gadang, M. Rifai, D.D Ranti, dan beberapa orang lainnya. Selama periode
1953-1959, dilakukan peresmian dan penutupan beberapa kantor cabang dan kantor perwakilan.
Pembukaan kantor cabang dilakukan di Ambon (17 Maret 1956), Ampenan (15 Agustus 1957), dan
Jember (8 Februari 1958). (Sumber: Bank Indonesia)

13

1952

14

15

16

1953

17

1956

18

1957

19

20

1958

21

22

1959

23

24

25

1960

26

27

28

1961

29

1963

1964

30

31

32

33

34

35

1968

36

37

38

1975

39

1977

40

41

1982

42

1984

1985

43

1986

1987

44

1988

1992

45

46

47

1993

1995

48

1998

49

1999

50

2000

2001

51

2004

52

2005

53

2009

2010

54

2011

Rp 20.0000 & Rp 100.000 seri/emisi tahun 2004 desain baru

55

Rp 50.000 seri/emisi tahun 2005 desain baru

TERBITAN KHUSUS

56

UANG KERTAS JAMAN PENDUDUKAN BELANDA (Netherland Indie)

Tahun 1920

Tahun 1925

Tahun 1926
57

Tahun 1926

Tahun 1928

58

Tahun 1930

Tahun 1936
59

Tahun 1938

Tahun 1939

Tahun 1943
60

Tahun 1943

Tahun 1946
61

Tahun 1946

Tahun 1947
62

UANG KERTAS JAMAN PENDUDUKAN JEPANG (Dai Nippon) , 1942 -1945

63

64

65

66

67

UANG ORIDA (Oeang Republik Indonesia Daerah Atjeh), 1947-1948

68

69

Uang Republik Indonesia Propinsi Sumatra (URIPS) 1948

70

71

72

73

Uang kertas PRRI (Pemerintah Republik Revolusioner Indonesia)

74

75

Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia(biasa disingkat dengan PRRI) merupakan


sebuah gerakan koreksi dari daerah akibat ketimpangan pembangunan antara pusat (Jakarta) dengan
daerah-daerah lain, dan semakin kuatnya cengkraman PKI terhadap kekuasaan melalui Presiden
Soekarno. Gerakan koreksi ini mencapai puncaknya tanggal 15 Februari 1958 dengan keluarnya
ultimatum dari Dewan Perjuangan di Padang, Sumatera Barat.
Semua tokoh PRRI adalah para pejuang kemerdekaan, pendiri dan pembela NKRI. Sebagaimana
ditegaskan Ahmad Husein dalam rapat Penguasa Militer di Istana Negara April 1957; Landasan
perjuangan daerah tetap Republik Proklamasi dan berkewajiban untuk menyelamatkan Negara Kesatuan
Republik Indoensia tercinta.
Namun, gerakan koreksi atau gerakan penyelamatan negara yang tumbuh di daerah-daerah itu
dipukul habis oleh Pusat (Jakarta) dengan mengerahkan pasukan darat, laut dan udara ke Sumatra Tengah
dan Sulawersi Utara, sebuah pengerahan pasukan militer terbesar yang pernah tercatat di Indonesia.Sampai sekarang, gerakan koreksi dari daerah ini masih selalu kelam. Dan di dalam buku-buku
sejarah Indonesia selalu disebutkan bahwa PRRI adalah gerakan pemberontakan, dan gerakan anti Jawa.
Namun sejarah akan selalu berhasrat untuk terus diluruskan.
Kabinet PRRI
*-Mr. Sjafruddin Prawinegara sebagai Perdana Menteri merangkap Menteri Keuangan,
*-Dahlan Djambek sebagai Menteri Dalam Negeri, kemudian diserahkan kepada Mr. Assaat Dt. Mudo,
*-Maluddin Simbolon sebagai Menteri Luar Negeri,
*-Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo sebagai Menteri Perhubungan dan Pelayaran,
*-Moh. Syafei sebagai Menteri PPK dan Kesehatan,
*-J.F. Warouw sebagai Menteri Pembangunan,
*-Saladin Sarumpaet sebagai Menteri Pertanian dan Perburuhan,
*-Muchtar Lintang sebagai Menteri Agama,
*-Saleh Lahade sebagai Menteri Penerangan,
*-Ayah Gani Usman sebagai Menteri Sosial,
*-Dahlan Djambek sebagai Menteri Pos dan Telekomunikasi setelah Mr. Assaat
sampai di Padang. (Sumber: Wikipedia).

76

77