Anda di halaman 1dari 39

GAS-CONDENSATE RESERVOIR

Reservoir Gas condensate memiliki tekanan > 2000 psia dan temperatur dibawah 100F

dan memungkinkan untuk memiliki temperatur dan tekanan yang lebih tinggi lagi selama
proses pengembunan.

Pada umumnya gas-condensate reservoirs memiliki tekanan antara 3000 sampai 6000
psia dan memiliki temperatur antara 200 sampai 400 F. Batas ini memiliki komposisi
yang luas dan bervariasi, terjadi dalam kondisi yang bervariasi untuk kelakuan fisik dari
cadangan-cadangan condensate, penekankan study ini adalah penelitian dalam setiap
kasus yang bertujuan untuk memilih cara yang terbaik dari pengembangan dan

pengoperasian reservoir tersebut.

Table 2.1
Mole Composition and Other Properties of Typical Reservoir Fluids
Component

Crude Oil

Gas Condensate

Dry Gas

C1
C2
C3
C4
C5
C6
Cn+

53.45
6.36
4.66
3.79
2.74
3.41
25.59
100

87.01
4.39
2.29
1.08
0.83
0.60
3.80
100

95.85
2.67
0.34
0.52
0.08
0.12
0.42
100

247
1078
34.5

112
18200
60.8

157
105000
54.7

Mol, wt Cn+
GOR, scf/STB
Tank-oil gravity,oAPI

Figure 2.1 Pressure-Temperature diagram for a gascondensate fluid

Figure 2.1 adalah Pressure-Temperatur diagram untuk typical gas-condensate fluid.


Ri adalah keadaan awal reservoir dan Ra adalah keadaan saat abandon. S
menunjukan sebagai kondisi permukaan (separator).

Saat kondisi awal pada reservoir (Ri) fluidnya adalah gas. Selama fluida reservoir
diproduksi, tekanan seluruh reservoir akan menurun. Garis RiRa menunjukan

perjalanan fluida kepermukaan yang mengalami kondensasi retograde yakni fluida


berwujud gas dan cairan yang suatu saat akan mencapai maksimum kemudian
dengan penurunan tekanan lebih lanjut kondisi fluida kepermukan (Ri) adalah
berwujud gas, sehingga reservoir tersebut reservoir condensate retrograde. Reservoir

ini dikenal sebagai gas-condensate reservoir, dan fluida reservoirnya biasa disebut
dengan gas-condensate fluids. Isothermal retrograde condensation dapat terjadi pada
temperatur antara titik kiritik C dan cricondentherm T.

Produksi Gas-condensate adalah diantara oil dan gas. Liquid yang


terkondensasi dipermukaan separator terkadang disebut Distilate dan
umumnya berwarna terang atau tidak berwarna dengan gravity lebih dari
45API.

Gas-condensate memiliki beberapa aspek diantaranya :

Adanya fasa uap di dalam reservoir .

Adanya beberapa aspek yang penting termasuk kondisi Geologi, sifat-

sifat batuan, deliverabilitas sumur, jarak sumur dan biaya sumur, pola

geometri dari sumur, dan biaya-biaya peralatan.

2.2 KESETIMBANGAN VAPOR-LIQUID

Tes Laboratorium dalam sistem gas-condensate biasanya digunakan

untuk mencari kelakuan / sifat-sifat volumetric dari suatu sistem dalam


reservoir dan pada kondisi permukaan.

Untuk studi digunakan untuk mengetahui komposisi fasa dalam berbagai


tekanan selama depletion dari condensate reservoir. Komposisi setiap
phase dapat diperhitungkan secara eksperimental. Selain itu, the
komposisi fasa dan volume dapat diperhitungkan cukup akurat, pada
temperatur and tekanan berapa pun menggunakan data keseimbangan
uap-liquid.

Distribusi dari komponen dari sebuah sIstem antara uap dan liquid dapat ditunjukan
dengan kesetimbangan ratio K, ratio fraksi mole dari komponen dalam phasa uap
menjadi fraksi mole dari komponen dalam fasa liquid, dengan demikian:

yi
Ki
xi
dimana Ki = rasio kesimbangan dari komponen
yi = fraksi mol dari komponen i dalam fasa uap
xi = fraksi mol dari komponen i dalam fasa liquid

Nilai numeric dari rasio keseimbangan uap-liquid dari berbagai komponen petroleum
adalah fungsi dari tekanan, temperatur, dan semua komposisi dari sistem. Pada
tekanan yang rendah, efek dari komposisi sistem adalah kecil tetapi diatas 1000 psia
komposisi dari sistem sangat mempengaruhi rasio keseimbangan. Prinsip dalam
penerapan nilai K setiap reservoir berbeda-beda. Sangat perlu untuk menghitung nilai K
secara fisik untuk setiap fluida reservoir.

2.2.1 Perhitungan Keseimbangan


Vapor-Liquid
Kegunaan dari rasio keseimbangan memberikan perhitungan pada
tekanan buble point, tekanan dew-point, dan bagian dari uap dan liquid
dalam keseimbangan pada tekanan dan temperatur dimana kedua fasa
berada. Dalam semua perhitungan, sistem dianggap dalam
keseimbangan termodinamik pada temperatur dan tekanan yang telah
diberikan.
Beberapa tata nama / simbol dibawah yang digunakan untuk perhitungan
matematika:
n = total angka dari mole dalam campuran
L = total angka dari mole liquid
V = total angka dari mole uap
Zi = fraksi mole dari komponen / dalam campuran

Syarat syarat lain yang telah ditetapkan sebelumnya, menjadi:


Zi n = seluruh mole dari / dalam total campuran
xi L = mol dari / dalam liquid pada kesetimbangan
yi V = mol dari / dalam uap pada kesetimbangan
Mempertimbangkan bentuk pemisah (Fig. 2.2). Material balance dari sistem
memberikan:

n=L+V
Material Balance pada komponen ke i
Zi n = xi L + yi V
Mengeliminasi yi dari Persamaan 2.1 dan 2.3,
Zi n = xi L + xi Ki V

(2.2)

(2.3)

atau

n Zi
Xi
L V Ki

(2.4)

Pada kesetimbangan, fraksi mole dari komponen dua fasa harus berjumlah:
xi = 1
(2.5)
yi = 1
(2.6)
Menggunakan Persamaan 2.5 hingga Persamaan 2.4

n Zi
1
L V Ki

(2.7)

Figure 2.2 Flow Diagram

Persamaan yang sama dapat menghasilkan penyelesaian komposisi dari


fasa uap menggunakan Persamaan 2.6

yi

n Zi
L
V
Ki

(2.8)

Perhitungan dapat disederhanakan dengan memisalkan nilai n = 1;


Persamaan 2.7 dan 2.8 disederhanakan menjadi:

Dan

Zi
xi L V ki 1

yi

Zi
L
V
Ki

(2.9)

1
(2.10)

Prosedur perhitungan mengguanakan proses trial-error. Sebagai contoh, bertujuan


untuk menyelesaikan Persamaan 2.9 sebuah nilai dari L harus diasumsikan. Jika L
diasumsikan sebagai xi 1.00, kemudian prosedur harus diulangi sampai nilai L
terpilih dimana yi = 1.00. Contoh dari perhitungan cepat diberikan oleh Standing.

2.2.2 Perhitungan dari Convergence Pressure


dan Equilibrium Ratios
Untuk menentukan convergence pressure, komposisi dari aliran keluar liquid
separator harus diketahui. Nilai K dari komposisi tetap sistem akan bertemu menuju
pada sebuah nilai biasa dari unit pada beberapa tekanan tinggi (Fig. 2.3). Tekanan ini
adalah convergence pressure.

Figure 2.3 Typical equilibrium ratios at 220 oF. Dashed lines are the ideal
ratios.

1. Diasumsikan fasa liquid atau buat sebuah aproksimasi. (jika tidak ada petunjuk, gunakan total
feed composition).
2. Mengidentifikasi komponen the Hidrokarbon paling ringan yang berada pada minimal 0.1 mol
% dalam fasa liquid.
3. Menghitung berat rata rata temperatur kritik dan tekanan kritik untuk sisa komponen terberat
untuk membentuk sistem pseudo-binary. (Kegunaan utama sistem Hidrokarbon umumnya
hanya untuk memperhitungkan berat rata - rata Tc).
4. Bekas letak kritis (pada Fig. 2.4) dari binary bergantung pada komponen ringan dan
komponen pseudo-heavy. Saat rata-rata komponen pseudo-heavy berada diantara hingga
kondisi hidrokarbon yang asli, suatu interpolasi dari 2 critical loci harus dibuat.
5. Baca convergence pressure pada temperatur yang berhubungan padanya yang diinginkan
pada kondisi flash.
6. Menggunakan pk dari langkah 5, bersama dengan temperatur sistem dan tekanan sisem,
dapatkan harga K untuk komponen-komponen dari Grafik convergence-pressure K yang
tepat.
7. Buat perhitungan flash dengan komposisi Feed dan harga K dari langkah 6.
8. Ulangi langkah 2 sampai 7 sampai asumsi dan hitunglah pk periksa dalam toleransi yang
dapat diterima.

Sebuah contoh dari perhitungan convergence pressure diberikan pada


halaman 18-6 dari NGPSAEngineering data book.

2.2.3 Tekanan Bubble Point


Tekanan bubble-point dari sebuah sistem adalah suatu keadaan pada
kuantitas infinitesimal dari gas adalah dalam kesetimbangan dengan
kuantitas yang besar dari liquid. Dimulai dengan Persamaan 2.8, pada
bubble point,
V 0 dan L n, menjadi

y
Atau

lim
v 0

n Zi
1
L
V
Ki

Ki Zi = 1

(2.11)

Dengan demikian, untuk memperhitungkan tekanan bubble-point dari sebuah


sistem, diperlukan perhitungan trial and error, tekanan pada Persamaan 2.11
terpenuhi.

2.2.4 Tekanan Dew-Point


Pada dew point, the keadaan liquid adalah infinitesimal:
L 0 and V n, sehingga
Persamaan 2.7 menjadi

xi lim
L0

n Zi
1
L V Ki

atau

Zi
Ki 1

(2.12)

2.3 GAS-CONDENSATE TESTING AND SAMPLING


Pengetesan yang tepat pada sumur-sumur condensate adalah hal yang
diperlukan untuk memperhitungkan secara akurat jumlah dan kondisi pada
reserevoir HC dan juga untuk merencanakan recovery program yang terbaik.
Test ini digunakan pada sumur condensate untuk beberapa tujuan tertentu:
Untuk mengambil sample yang akan dihitung komposisi fluida
reservoirnya dan juga menghitung propertiesnya.
Untuk memperhitungkan properties dari liquid dan gas.
Untuk
mengetahui formasi dan karakter dari sumur termasuk
producibility dan injectivity.
Test ini sulit digunakan untuk black-oil reservoir.

Gravity cairan dan berat molekul kondensat.

Mo
Well Fluid Gravity

Trap Gas Gravity


28.97 g

76.4 R g g 350 0

2.64 R M 350
g
o
o

Dimana
Mo = berat molekular kondensat (tank minyak)
Yo = spesifik gravity dari kondensat (tank minyak) ( udara = 1)
Yg = spesifik gravity dari gas yang terjerat atau produksi gas dari
separator dan stock tank (udara = 1)
Rg = tekanan GOR, Mscf / kondensat bbl

2.4.1 Perhitungan Gas Awal di Tempat dan Minyak


di Tempat untuk Reservoir Gas Kondensat
Menggunakan kondisi yang standar dari psia 14.7 dan 60F,
volume molar menjadi 379.4 cuft/mol. Sebagai dasarnya 1 bbl
dari tank minyak dan standar Rg kaki kubik dari separator atau
disamping gas, hasil dari sumur adalah

Mw

Rg x g x 28.97
379.4

350 o

Dimana Rg adalah GOR awal di permukaan, SCF

Mol total fluida dalam 1 barrel minyak dan Rg gas CF


adalah
350 o
nt

379.4
Mo
Rg

Jadi, spesifik gravity fluida sumur adalah Mw / 28.97, atau

R g g 4584 o
mw

28.97 nt
R g 132800 o / M o

The tank oil specific gravity didapat dari API gravity of the
tank oil menggunakan persamaan

141.5

API 131.5

Bila berat molekul tank oil tidak diketahui, dapat digunakan


formula Craft and Hawkins:
Mo

44.29 o
6084

1.03 o API 5.9

2.5.1 Two-Phase Gas Deviation Factor


Faktor deviasi dua fasa gas untuk fluida yang tersisa
didalam reservoir selama produksi gas-condensate dapat
dihitung dari hukum gas yaitu
379,4 pV
z (two-phase) = ---------------(G - Gp)RT
Jika data produksi tidak tersedia untuk memungkinkan
perhitungan faktor deviasi dua fasa gas selama depletion
dari reservoir gas-condensate, faktor deviasi gas dapat
diasumsikan konstan pada initial value.

2.5.2 Condensate Material Balance


Ketika zona minyak tidak ada atau tidak perlu diperhatikan,
persamaan material balance untuk reservoir gas-condensate sama
seperti persamaan material balance untuk dry-gas reservoir,
bersamaan dengan volumetric dan water-drive performance.

Persamaan material balance dapat ditulis sebagai berikut :


pbGp
piVi
p (Vi We + BwWp)
------- = ------ ---------------------------Tb
ziT
zT
dan
G(Bg - Bgi) + We = GpBg + BwWp

2.5.3 Reservoir Performance


Retrogade Gas-Condensate Reservoirs
Ketika produksi awal, gas-oil ratios diantara 6000 dan 15000 scf/STB,
secara normal diharapkan kelakuan retrograde selama tekanan depletion
pada temperatur konstan.
Retrograde gas-condensate reservoir dapat dijumpai dengan GOR awal
lebih rendah dari pada 3000 scf/STB.
Perhitungan ultimate oil recovery dengan depletion dari tekanan saturasi
sampai 500 psia dikorelasikan dengan persamaan :
Np 0.061,743

143.55
0.000,121,84 T 0.001,011,4 ( o API )
Ri

dimana
Np = produksi kumulatif stock tank oil

Ri = initial separator GOR, scf/bbl stock tank oil


T
= temperatur reservoir, F
API = initial stock tank oil API gravity
Separator gas in place pada tekanan saturasi dikorelasikan dengan
persamaan :
Ri
G 2229.4 148.43

100

0.2

142.130
21.831 ( o API ) 0.263,56 Pd ,b
T

dimana
G = total primary separator gas in place awal, scf
p = tekanan saturasi (dew point atau bubble point), psia
Jika substansial compression diatas dew point telah terjadi, revised value
(harga sebenarnya) dari minyak yang telah direcovered harus dihitung
berdasarkan :

G ( nomograph) / Ri
N p ( revised ) N p ( nomograph)

Oil
in
Place
(
Fig
.
2
.
13
)

2.6 RESERVOIR PERFORMANCE PREDICTON


Prediksi performa akan datang dari reservoir gascondensate layak dibuat untuk menetapkan rencana
pekerjaan optimasi reservoir.
Secara teori, beberapa program pekerjaan yang mungkin
adalah pressure depletion tanpa bentuk sesuatu dari
pressure maintenance atau gas return, produksi fluida
dapat melewati gasoline plant dimana cairan diperoleh
dan dry gas dikembalikan ke reservoir, dan reservoir
dapat diproduksikan dengan pressure depletion sampai
economic limit pada saat pekerjaan mengembalikan gas
dapat disamakan secara objektif dengan akumulasi
perolehan cairan dari reservoir.

2.6.1 Operasi Reservoir Gas-Kondensat


dengan Penurunan Tekanan
Prediksi penurunan tekanan dengan menggunakan turunan dari
data lab dan analisis Hidrokarbon
Digunakan apabila kondensat yang terbentuk selama penurunan
tekanan tidak dapat bergerak lagi.

Volume hidrokarbon awal


Vre
= 7758 A h (1- Sw)
Vre
= 43560 A h (1- Sw)

(res BBL)
(cu ft)

Volume gas basah awal (Gwg)

G wg

5.615Vre p reTb z b

p b Tre z re

(scf)

Volume kondensat

GL

G wg
10

(C L ) re

(STB)

dimana (CL)re : kandungan kondensat pada gas basah


(STB/MMscf)

Recovery dari gas dan kondensat dapat diubah ke mole


dengan persamaan :
( n p ) wg
(n p ) L
dimana
(np)wg
(Gp)wg
379.4
(np)L
(Gp)L
L
ML

(Gp) wg

379.4
42(Gp) L L

ML

= produksi gas basah kumulatif (lb-mol)


= produksi gas basah kumulatif (scf)
= faktor peubah satuan (scf/lb-mol)
= kumulatif produksi kondensat (lb-mol)
= kumulatif produksi kondensat (BBL)
= densitas rata2 dari seluruh produksi kondensat (lbm/gal)
= berat molekul rata2 dari seluruh produksi kondensat
(lbm/lb-mol)

Gas kering atau residu yang terproduksi sampai tekanan


abandon :
(n p ) wg (n p ) L
G p 379.4

3
10

Efisiensi produksi (dalam fraksi) untuk gas basah dan


kondensat :

( E R ) wg
(ER ) L

(G p ) wg
G wg

(G p ) L
GL

2.6.2. Operasi Reservoir Gas Kondensat


dengan
Pemeliharaan Tekanan
Pressure maintenance dari reservoir gas-kondensat dapat berupa
tenaga dorong air setelah pengurangan tekanan akibat produksi awal,
injeksi air, injeksi gas, atau kombinasi dari ketiga jenis tersebut
Pendorongan dengan Gas Kering
Tujuan : untuk menjaga tekanan reservoir tetap tinggi agar jumlah
kondensat yang terbentuk dapat diminimalkan
Metode ini dapat meningkatkan recovery dengan sangat baik, selain itu
gas injeksi dapat menggunakan produksi gas yang biasanya dibuang

Efisiensi
-Efisiensi Pengurasan Areal (EA)
adalah area yang tersapu oleh batas depan injeksi gas dibagi dengan
total area reservoir yang terproduksi pada awal injeksi

-Efisiensi Pola (EP)


adalah volume pori yang tersapu oleh batas depan njeksi gas dibagi
dengan total volume pori HC yang telah terproduksi selama proses
pendorongan. EP = EA pada reservoir yang seragam ketebalan,
porositas, Swi, dan permeabilitas efektifnya

-Efisiensi Invasi (EI)


adalah volume pori HC yang terinvasi (dipengaruhi atau dikenai) oleh
gas injeksi dibagi dengan volume pori HC yang tersapu oleh front
pendesakan gas injeksi

-Efisiensi Displacement (ED)


adalah volume pori gas HC basah yang tersapu dibagi
dengan volume HC awal sebelum proses injeksi

-Efisiensi siklus reservoir (ER)


adalah volume gas HC basah yang tersapu selama proses
penyapuan dibagi volume gas HC basah awal yang dapat
diproduksi sebelum penyapuan
ER = EP EI ED

Recovery Total dari Gas dan Kondensat oleh Pendorongan


Dengan Gas

Cycling
1. Hitung efisiensi total reservoir, dimana EP didapat dari studi model
reservoir potensiometrik, EI diperkirakan dengan variasi permeabilitas,
ED dianggap 100% bila injeksi dilakukan pada atau diatas titik embun

2. Kumulatif produksi gas basah pada periode cycling

dimana
(Gp)wgm
Gwg
(ER)m

( G p ) wgm G wg ( E R ) m
= kumulatif produksi gas basah (scf)
= gas basah di reservoir (scf)
= efisiensi reservoir total (dari step 1)

3. Volume kondensat yang terproduksi selama periode cycling

dimana
(CL)rem

( G p ) Lm
=

( G p ) wgm (C L ) rem
10 6

kandungan kondensat dalam gas basah


(STB/MMscf)

Blow Down
Gas basah yang dapat diproduksi
(Gp)wgd
= (Gp)wg [1-(ER)m]
dimana
(Gp)wg = produksi gas basah kumulatif sampai tekanan abandon

Dry Gas
Jumlah total gas kering yang terproduksi selama proses kombinasi
injeksi dan penurunan tekanan dapat diprediksi dengan persamaan
(np)wg dan (np)L. Hasil persamaan tersebut dibagi dengan total
produksi gas basah menghasilkan produksi residu gas total

2.6.3 Keekonomian dari Produksi Gas


Kondensat

Dalam memilih metode untuk memproduksi reservoir gas kondensat


(antara penurunan tekanan dan pressure maintenance) harus
memilih yang paling ekonomis.
Hal-hal yang perlu diperhatikan saat memilih metode produksi
reservoir gas-kondensat :
1. Karakteristik fluida dan formasi reservoir
a) Ada/tidaknya black oil
b) Ukuran besar cadangan
c) Komposisi dan kandungan HC reservoir
d) Produktivitas dan injektivitas sumur
e) Variasi permeabilitas
f)
Derajat keberadaan tenaga dorong air

2. Pengembangan reservoir dan biaya operasi


3. Instalasi peralatan dan biaya operasi
4. Permintaan pasar untuk produk minyak dan gas
5. Nilai relatif masa depan dari produk migas
6. Keberadaan dari operator lain yang memproduksi
reservoir yang sama
7. Pajak
8. Resiko dan keadaan khusus (politik, kontrak kerja, dll)
9. Analisis ekonomi keseluruhan

Anda mungkin juga menyukai