Anda di halaman 1dari 8

SEDIAAN CREAM STERIL

Disusun Oleh:

FRIDY SAPUTRA
14390012

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
JURUSAN FARMASI
2015
DAFTAR ISI
1

HALAMAN JUDUL...................................................................1
A. DASAR TEORI......................................................................3
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.
L.

ALAT DAN BAHAN...............................................................................4


DATA PENDUKUNG ............................................................................4
CONTOH RESEP...................................................................................5
PERHITUNGAN BAHAN.....................................................................5
PENIMBANGAN....................................................................................5
CARA PEMBUATAN.............................................................................5
TABEL STERILISASI...........................................................................6
EVALUASI SEDIAAN STERIL............................................................6
CONTOH ETIKET................................................................................8
KESIMPULAN.......................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................8

A. DASAR TEORI
Farmakope Indonesia Edisi III, krim adalah bentuk sediaan setengah padat,
berupa emulsi mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk
pemakaian luar.

Farmakope Indonesia Edisi IV, krim adalah bentuk sediaan setengah padat
mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan
dasar yang sesuai.
Formularium Nasional, krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi
kental mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk
pemakaian luar.
Secara Tradisional istilah krim digunakan untuk sediaan setengah padat yang
mempunyai konsistensi relatif cair di formulasi sebagai emulsi air dalam
minyak(a/m) atau minyak dalam air (m/a) (Budiasih, 2008)
Krim merupakan obat yang digunakan sebagai obat luar yang dioleskan ke
bagian kulit badan. Obat luar adalah obat yang pemakaiannya tidak melalui
mulut, kerongkongan, dan ke arah lambung. Menurut definisi tersebut yang
termasuk obat luar adalah obat luka, obat kulit, obat hidung, obat mata, obat
tetes telinga, obat wasir, injeksi, dan lainnya.
Kualitas dasar krim, yaitu:
1. Stabil, selama masih dipakai mengobati. Maka krim harus bebas dari
inkopatibilitas, stabil pada suhu kamar, dan kelembaban yang ada dalam
kamar.
2. Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi
lunak dan homogen.
3. Mudah dipakai, umumnya krim tipe emulsi adalah yang paling mudah
dipakai dan dihilangkan dari kulit.
4. Terdistribusi merata, obat harus terdispersi merata melalui dasar krim
padat atau cair pada penggunaan (Anief, 1994).

B. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
a. Mortir dan stemper
b. Kaca arloji
c. Pinset
d. Spatula
e. Cawan porselen
f. Neraca analitik
g. Autoklaf

2. Bahan
a. Chloramphenicol Base
b. Cetyl Alkohol
c. Asam Stearat
d. TEA
e. Simeticon
f. Nipagin
g. Nipaso
h. Gliserin
i. Aqua DM
C. DATA PENDUKUNG
NAMA ZAT
Penicilin
Benzocain
Emulgide
Ol sesami
Aquades

CARA STERILISASI
Autoklaf selama 30
Oven selama 60
Oven selama 60
Autoklaf selama 10

KASIAT
Antibiotic
Antiseptic lokal
Emulgator
Zat tambahan
Zat tambahan

D. CONTOH RESEP
R/ Penicillin

300.000 U.I

Benzocain

M.F Cream
Da.In Tube

E. PERHITUNGAN BAHAN
1. Penicilin 0,0006 mg
300.000 U.I = 0,0006 x 300.000 U.I = 180 mg
Untuk 300.000 U.I = 20 g
untuk 10 g = 150 U.I = 90 mg
10
g x 1 g = 0,5 g
20
3. Cream Emulgide = 10 g (90 mg + 500 mg)
10.000 mg 590 mg = 9410 mg/ 9,4 g
9,4
Emulgide =
g x 15 g = 1,41 g
100
9,4
Ol sesami =
g x 15 g = 1,41 g
100
Aquades ad 9,4 g
(9,4 g (1,41 g + 1,41)) = 6,58 g / 6,58 ml
2. Benzocain =

F. PENIMBANGAN
1. Penicillin
90 mg
2. Benzocain
500 mg
3. Emulgide
1,41 g
4. Ol sesami
1,41 g
5. Aquades ad 6,58 ml
G. CARA PEMBUATAN
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Disterilisasi semua alat dan bahan
3. Ditimbang emulgide 1,41 g
4. Ditimbang ol sesame 1,41 g
5. Ditimbang penicillin 90 mg
6. Ditimbang benzocain 500 mg
7. Diukur aqudes 6,58 ml dengan gelas ukur
8. Ol sesami dicampur dengan emulgide dalam keadaan panas
9. Dicampur penicillin dan benzocain dengan basis cream yang dingin, gerus
homogen
10. Ditimbang massa yang diminta, dimasukan kedalam tube
11. Diberi etiket dan brosur bahkan bersama kotak
H. TABEL STERILISASI
N

Nama alat dan bahan

Cara sterilisasi

Literature

o
1

Kaca arloji, cawan

Diflambir

Watt 1:45

porselen, pinset, spatula

masing-masing

Stemper, mortar

20
Dibakar dengan

Watt 1:45

Tutup tube, sudip

alkohol 70%
Direndam

Watt 1:45

2
3

alkohol 70%
4

Tube, emulgide, ol

selama 30
Oven suhu 150o-

sesami

160o C selama

Gelas ukur, lap, kertas

30
Autoklaf suhu

perkamen

115o-116o C

I. EVALUASI SEDIAAN STERIL

Watt 1:45

Watt 1:47

Mulai

Selesai

Agar system pengawasan mutu dapat berfungsi dengan efektif, harus


dibuatkan kebijaksanaan dan peraturan yang mendasari dan ini harus selalu
ditaati. Pertama, tujuan pemeriksaan semata-mata adalah demi mutu obat yang
baik. Kedua, setia pelaksanaan harus berpegang teguh pada standar atau
spesifikasi dan harus berupaya meningkatkan standard an spesifikasi yang telah
ada.
1.

Organoleptis
Evalusai organoleptis menggunakan panca indra, mulai dari bau, warna,

tekstur sedian, konsistensi pelaksanaan menggunakan subyek responden ( dengan


kriteria tertentu ) dengan menetapkan kriterianya pengujianya ( macam dan item ),
menghitung prosentase masing- masing kriteria yang di peroleh, pengambilan
keputusan dengan analisa statistik.
2. Evaluasi pH
Evaluasi pH menggunakan alat pH meter, dengan cara perbandingan 60 g :
200 ml air yang di gunakan untuk mengencerkan , kemudian aduk hingga
homogen, dan diamkan agar mengendap, dan airnya yang di ukur dengan pH
meter, catat hasil yang tertera pada alat pH meter.
3. Evaluasi daya sebar
Dengan cara sejumlah zat tertentu di letakkan di atas kaca yang berskala.
Kemudian bagian atasnya di beri kaca yang sama, dan di tingkatkan bebanya, dan
di beri rentang waktu 1 2 menit. kemudian diameter penyebaran diukur pada
setiap penambahan beban, saat sediaan berhenti menyebar ( dengan waktu tertentu
secara teratur ).
4. Evaluasi penentuan ukuran droplet
Untuk menentukan ukuran droplet suatu sediaan krim ataupun sediaan
emulgel, dengan cara menggunakan mikroskop sediaan diletakkan pada objek
glass, kemudian diperiksa adanya tetesan tetesan fase dalam ukuran dan
penyebarannya.
5. Uji aseptabilitas sediaan.
Dilakukan pada kulit, dengan berbagai orang yang di kasih suatu quisioner di
buat suatu kriteria , kemudahan dioleskan, kelembutan, sensasi yang di timbulkan,

kemudahan pencucian. Kemudian dari data tersebut di buat skoring untuk masingmasing kriteria. Misal untuk kelembutan agak lembut, lembut, sangat lembut

J. CONTOH ETIKET

K. KESIMPULAN
Secara Tradisional istilah krim digunakan untuk sediaan setengah padat yang
mempunyai konsistensi relatif cair di formulasi sebagai emulsi air dalam
minyak(a/m) atau minyak dalam air (m/a) (Budiasih, 2008)
Krim merupakan obat yang digunakan sebagai obat luar yang dioleskan ke
bagian kulit badan. Obat luar adalah obat yang pemakaiannya tidak melalui
mulut, kerongkongan, dan ke arah lambung. Menurut definisi tersebut yang
termasuk obat luar adalah obat luka, obat kulit, obat hidung, obat mata, obat
tetes telinga, obat wasir, injeksi, dan lainnya.
Formularium Nasional, krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi
kental mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk
pemakaian luar.
L. DAFTAR PUSTAKA
Anonim.1979. Farmakope
Kesehatan RI
Anonim.1997.Farmakope
Kesehatan RI

Indonesia
Indonesia

Edisi
Edisi

III.
IV.

Jakarta.Departemen
Jakarta.

Departemen

Anief. 2006. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta.Gadjah Mada University press.


7

Anonim.2007.Kapita Selekta Dispensing I.Yogyakarta.fakultas Framsai UGM.


http://id.wikipedia.org diakses 28 maret 2013

Anda mungkin juga menyukai