Anda di halaman 1dari 5

Hubungan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) setelah 20 Januari ini memasuki

babak
paling menarik sepanjang sejarah.
Bagaimana tidak, Presiden AS Barack Obama yang dilantik pada Selasa (20/1) itu
memiliki
keterikatan sejarah dengan Indonesia karena dia pernah bersekolah dasar di Jakarta
selama
empat tahun dan memiliki ayah tiri warga Indonesia, Lolo Soetoro. Maka tampaknya
wajar jika
publik di Indonesia seakan “menuntut” terbentuknya hubungan yang lebih baik antara
Washington dan Jakarta.
Indonesia pada April mendatang akan menggelar pemilu yang sangat penting bagi masa
depan
bangsa ini. Siapa yang akan memimpin kabinet dan mendominasi parlemen akan
mempengaruhi corak hubungan antara Indonesia dan AS.Terlepas dari siapakah yang
akan
berkuasa nanti, patut digarisbawahi hubungan antara Indonesia dan AS saat ini memasuki
tahap paling penting dan paling genting. Mengapa?
Pertama, Indonesia sudah membuktikan diri sebagai sebuah negara yang paling sukses
dalam
memerangi terorisme, yang merupakan agenda utama AS selama pemerintahan Presiden
George W Bush Jr.Agenda Obama saat ini juga masih fokus untuk mengatasi terorisme,
dengan mengalihkan pasukan AS yang ada di Irak untuk ditempatkan di
Afghanistan,memerangi Taliban di wilayah perbatasan antara Afghanistan dan Pakistan.
Peran Indonesia yang telah terbukti dalam memerangi terorisme dapat lebih dikuatkan
lagi
dalam masa pemerintahan Obama.Jelas,AS masih memiliki kepentingan untuk
mengamankan
aset-aset Washington yangtersebardi Asia-Pasifik, termasuk yang ada dan tersebar di
Indonesia.
Kerja sama kampanye melawan terorisme itu dapat diperluas dengan menjalin kerja sama
di
bidang militer.Indonesiaharusmendorongupaya diplomasi agar Kongres dan Presiden AS
memberikan perhatian dan bantuan kepada Indonesia dalam berbagai bentuk.
Kedua, seperti pernah diutarakan Obama pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY)
pada kontak telepon setelah Obama menang pemilu, AS memantau langkah-langkah
Indonesia
di berbagai bidang, termasuk dalam mengatasi krisis ekonomi global dan climate change
(perubahan iklim)

Bentuk kerjasama antar perguruan tinggi/lembaga, sebagaimana diatur dalam pasal 122 ayat (2)
Peraturan Pemerintah Nomor: 30 tahun 1990, mencakup permasalahan sebagai berikut:
a. Tukar-menukar dosen dan mahasiswa;

1. Pemanfaatan bersama sumber daya manusia;


2. Pemanfaatan bersama sarana dan prasarana belajar;
3. Penerbitan karya ilmiah bersama;
4. Penyelenggaraan kegiatan ilmiah seperti seminar dan penelitian bersama;
5. Bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu.

Bentuk-bentuk kerjasama tersebut di atas dapat dijabarkan lebih lanjut dalam kegiatan
menurut Tri Dharma Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan sebagai berikut:

• Tri Dharma Perguruan Tinggi: Kuliah tamu, pemanfaatn peralatan dan fasilitas pendidikan,
penyediaan dana untuk penelitian, seminar ilmiah dan lokakarya, evaluasi program,
pengebangan staf pengajar, penyusunan silabus dan kurikulum, kuliah kerja nyata,
pembagunan wilayah tertentu, pengabdian kepada masyarakat, penerbitan majalah
ilmiah, penataran.

• Penunjang Tri Dharma Perguruan Tinggi: publikasi, penataan perpustakaan (penyusunan


bibliografi, kartu katalog), penyusunan pedoman administrasi umum, penyusunan pokok-
pokok RIP, pembelian bersama (peralatan, buku, dan lain sebagainya), jaringan
pertukaran informasi ilmiah dan pengetahuan, penggalian dana, latihan keterampilan staf
adninistrasi dan staf teknis.

• Kemahasiswaan: Poliklinik, koperasi, asuransi, karya wisata, bimbingan dan penyuluhan,


kegiatan olahraga dan seni, pembinaan minat dan bakat, seminar akademik, pembelian
bersama (keperluan kuliah dan kebutuhan pokok sehari-hari).

Untuk lebih memperlancar kegiatan kerjasama, Universitas terbagi atas tiga Unit
Kerjasama terdiri atas tiga yaitu: (a) Unit kerjasama dengan negara-negara Timur Tengah, (b)
Unit kerjasama dengan negara-negara Barat, dan (c) Unit kerjasama dalam negeri dan negara
tetangga.

Membangun Perdamaian Dunia


Jemaah Orbit Salurkan Hewan Kurban
Mengintip APBD dan Pembangunan Jakart

Anak bangsa yang terbaik Bung Karno


ditugasi untuk mengangkat derajat
seluruh anak bangsanya ke seluruh
penjuru dunia sambil mempersatukan
bangsa ini dengan tetap menghargai
kemajemukan dan perbedaan yang
merupakan kekayaan yang tidak ada
taranya. Berkat kepemimpinannya,
kita merasa bangga menjadi warga
dunia. Di mana-mana muncul penghargaan
yang tidak ada taranya seakan
membuat kita lupa bahwa beberapa
tahun sebelumnya bangsa kita dikenal
sebagai budak yang hina dan
direndahkan.
Kemudian datang pemimpin
berikutnya, Pak Harto, yang mengisi
kebanggaan itu dengan ilmu, kesehatan
dan kemampuan ekonomi yang
memadai. Kita tidak saja bangga
menjadi bangsa Indonesia, tetapi bisa
juga dengan gagah berani bicara di forum
internasional dengan percaya diri
dan bahasa yang lantang tentang keberhasilan
demi keberhasilan pembangunan.
Tidak jarang anak bangsa itu
bukan saja menjadi juara matematika
di sekolah, tetapi sanggup memberi
beras kepada saudaranya di Afrika,
sanggup mengajar cara-cara mengatur
penduduk melalui program KB dan
Kesehatan, sanggup mengentaskan
kemiskinan dan sanggup pula
membawa hasil-hasil kreasi anak
bangsa dalam budaya dan seni ke
seluruh dunia.
Secara eksplisit pak Harto sanggup
menjamin stabilitas yang dinamis,
tidak lain adalah perdamaian antar anak
bangsanya, sebagai syarat utama
pelaksanaan pembangunan yang
berkesinambungan. Proses pembangunan
yang berkesinambungan itu
dijamin pula dengan peningkatan mutu
anak bangsanya melalui sekolah di
mana-mana dan menjamin kesehatan
dengan adanya dokter dan bidan keliling
yang tidak pernah ada sebelumnya.
Jaminan KB, kesehatan dan pendidikan
itu dibarengi dengan upaya membangun
ekonomi berbasis koperasi
yang digalakkan dengan mengajak
semua pihak memberi kemudahan dan
jaminan yang menarik.
Pada waktu pak Harto lengser
dengan damai karena tidak ingin
mengorbankan anak cucu bangsanya,
dan beberapa oknum dengan cara kasar
ingin menghapus semua hasil pembangunan,
Panglima Kodam Jaya waktu
itu, Mayor Jenderal Bibit Waluyo,
dengan dukungan dan bantuan banyak
kalangan luas, termasuk Yayasan
Damandiri, yang ingin negara ini aman
dan damai, menggelar seruan damai ke
seluruh pelosok daerah di Jakarta. Di
mana-mana dipasangnya spanduk
dengan kata-kata sederhana “Damai itu
Indah”, “Kita bangun Keluarga
Sejahtera dalam suasana damai”, dan
sebagainya. Seruan damai itu
mempunyi andil bagi keberhasilan
peredaan suasana panas di Ibu Kota
Jakarta, sehingga reformasi yang kita
harapkan menambah keberhasilan
pembangunan dapat dilanjutkan tanpa
merusak tatanan yang dengan susah
payah telah kita atur sebelumnya.
Kita juga beruntung beberapa kali
kedatangan Yang Mulia Almarhum Sri
Chinmoy, seorang penganjur
perdamaian dari India dan Amerika,
yang setiap kali datang selalu disertai
tidak kurang dari 500 pengikutnya dari
seluruh dunia. Setiap datang di Indonesia
dan berkeliling di berbagai daerah,
Sri Chinmoy selalu membawa pesan
dan suasana damai melalui doa,
meditasi dan kegiatan sosial kemasyarakatan
di banyak kota.
Kedatangannya selalu menarik
minat para pemimpin nasional, biarpun
tidak banyak disiarkan melalui media
massa. Kegiatan doa dan meditasi
damai yang diiktui oleh seluruh pengikutnya
dari seluruh dunia merangsang
para pemimpin daerah dan
undangan yang biasanya membeludak
makin bersatu dan disertai dengan
tekad dan doa bersedia bekerja keras
mengatasi kebodohan dan kemiskinan.
Sayang beliau yang dikenal dalam
merangsang upaya perdamaian di
seluruh dunia itu meninggal dunia pada
usia “muda” sekitar 77 tahun.
Pada tanggal 25 nanti, Presiden
SBY akan menghadiri Peringatan Hari
Perdamaian Dunia dan sekaligus
meresmikan Gong Perdamaian Dunia.
Peristiwa ini terjadi pada masa
jabatannya yang kedua. Lebih dari 60
persen penduduk mempercayakan
nasib dan masa depan anak cucu bangsa
ini kepadanya. Kita berharap bahwa
pemukulan Gong Perdamaian Dunia di
Ambon akan membawa dampak yang
sama dengan gerakan yang dicanangkan
Bung Karno dan pak Harto sebelumnya,
damai dan bersatumya sesama
anak bangsa, sehingga bisa bekerja
secara gotong royong membangun
untuk masa depan yang lebih baik. Kita
tidak memerlukan Rambo, atau Tarzan,
atau Superman, tetapi Super Tim
yang dipimpin dengan hikmat
kebijaksanaan untuk sebesar-besar
kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh
anak bangsa. Damai untuk bersatu dan
membangun!