Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS KARAKTERISTIK

PANASBUMI DAERAH
OUTFLOW
GUNUNG ARJUNO-WELIRANG
BERDASARKAN DATA
GEOLOGI,
GEOKIMIA, DAN GEOFISIKA
(3G)

bawah permukaan dengan


menggunakan
geotermometer air dan geotermometer
gas.
Dari hasil dan analisis geokimia
menggunakan geoindikator dan
geotermometer maka :

Ferra Nidya1, Prof. Dr. Suharno, MS.,


M.Sc., Ph.D 1, Ahmad Zarkasyi, S.Si,
M.T2, Asep
Sugianto, S.Si2
1Jurusan Teknik Geofisika Universitas
Lampung dan 2Pusat Sumber Daya
Geologi Bandung

Gunung Arjuno-Welirang yang terletak di


provinsi Jawa Timur dan berjenis
stratovolcano dengan ketinggian yaitu
3,339 m (10,955 ft) untuk Arjuno dan
3,156 m untuk Welirang.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui kondisi sistem
panasbumi
daerah outflow yang terdiri dari
komposisi fluida, temperatur reservoir
dan pendugaan batuan reservoir
berdasarkan pengolahan data
geokimia.
Data yang diolah pada penelitian ini
adalah data geokimia dan geofisika.
Data
geokimia terdiri dari data hasil analisis
contoh air dan hasil analisis gas.
Data hasil analisis contoh air dan hasil
analisis gas diolah kemudian di plot
pada
diagram tennary setelah itu dilakukan
proses perhitungan pendugaan
temperatur

Gambar 2. Diagram tennary


geoindikator
Cl-SO4-HCO3
Berdasarkan diagram tennary Cl-SO4HCO3 pada Gambar 2 untuk tipe fluida
air
panas yang terdapat pada daerah
penelitian
yaitu tipe fluida air panas bikarbonat.
Hal
ini dikarenakan dari hasil analisis kimia
diketahui bahwa unsur HCO3
(bikarbonat)
merupakan unsur yang paling dominan
(anion utama) dan mengandung gas
CO2.
Pada sistem yang di dominasi oleh
batuan
vulkanik, air HCO3 umumnya terbentuk
di

daerah marginal dan dekat permukaan,


dimana gas CO2 bersama dengan uap
air
terkondensasi ke dalam air tanah,
kondensasi uap tersebut dapat
memanaskan air tanah atau
terpanaskan
oleh uap (steam heated) sehingga
membentuk larutan HCO3. Air HCO3
terbentuk di bawah muka air tanah dan
umumnya bersifat asam lemah, tetapi
dengan hilangnya CO2 terlarut, derajat
keasaman air ini dapat meningkat
menjadi
netral atau sedikit basa.

Hal ini menandakan bahwa air panas di


daerah penelitian umumnya merupakan
aliran ke samping atau outflow (Niniek
dan
Tri, 2007)
Berdasarkan diagram tennary
geoindikator
NaKMg pada Gambar 4 maka semua
mata air panas terletak pada immature
water. Kondisi immature water ini
menunjukkan bahwa adanya pengaruh
air
permukaan (metoric water) yang
tercampur dengan fluida panas pada
pembentukan mata air panas. Selain itu
air
panas dipengaruhi interaksi antara fluida
dengan batuan dalam keadaan panas.

Gambar 3. Diagram tennary


geoindikator
Cl/100Li-B/4
Berdasarkan Gambar 3 diagram tennary
geoindikator Cl/100Li-B/4 untuk pola
aliran air panas dan proses bawah
permukaan berdasarkan hasil
pengeplotan
pada Gambar 3 menunjukkan bahwa air
panas pada lokasi penelitian dan
sekiitarnya mempunyai nilai
perbandingan
B/Cl, Li/Cl dan Li/B yang sangat rendah.

Gambar 4. Diagram tennary


geoindikator
Na-KMg
Berdasarkan diagram tennary pada
Gambar 5 dapat dilihat bahwa
manifestasi
WF-02 dan WF-08 termasuk kedalam
zona
basalt, hal ini dikarenakan konsentrasi

unsur CO2 relatif lebih tinggi. Tipe


batuan reservoir berdasarkan hasil
ploting pada
diagram tennary adalah batuan basalt.

Gambar 5. Diagram tennary


geoindikator
CO2/N2, N2/Ar dan CO2/Ar
Dari perhitungan dengan menggunakan
beberapa jenis geotermometer maka
untuk
pendugaan suhu reservoir di daerah
outflow ini kemungkinan berkisar antara
145C s.d 175C.
Berdasarkan hasil analisis geokimia
untuk daerah outflow maka jenis
fluida adalah air bikarbonat (HCO3)
dengan suhu reservoir kemungkinan
berkisar antara 145C s.d 175C dan
diduga batuan penyusun reservoir
yaitu batuan basal.

STUDI GEOKIMIA FLUIDA


PANASBUMI
DAERAH PROSPEK PANASBUMI
NGLIMUT, G. UNGARAN
KECAMATAN LIMBANGAN,
KABUPATEN KENDAL JAWA TENGAH
Yohanes Brahmo Emianto *), Yoga
Aribowo **)
Gunung Ungaran merupakan daerah
prospek panasbumi
yang ditunjukkan oleh manifestasi
panasbumi
yang muncul di permukaan berupa
fumarol, kolam air
panas dan batuan alterasi. Salah satu
manifestasi
panasbumi pada Gunung Ungaran
terdapat di Nglimut
berupa mataair panas.

mg/kg, dan pada air asin kandungan atau


konsentrasi
Cl dapat mencapai 100.000 mg/k
unsur utama lain dalam air klorida ini
adalah
sodium dan potassium dengan rasio perbandingan
10:1.
-

kationnya adalah unsur silika (dimana


konsentrasinya bertambah seiring meningkatnya
kedalaman)
dan boron
karbondioksida adalah kandungan
gas utamanya.

Air Sulfat (Sulphate Water)


kedalaman dangkal dan
terbentuk sebagai akibat dari proses kondensasi
gas
panasbumi yang menuju dekat permukaan.
ditemukan pada batas daerah dan
berjarak tidak jauh dari area upflow utama.

Maksud dan Tujuan


1. Mengetahui tipe fluida manifestasi
2. Memprediksi suhu reservoir
3. Mendapatkan gambaran seting geologi dan
hidrogeokimiawi
dari sistem panasbumi setempat
Tipe Fluida Panasbumi dan Karakteristiknya
Air Klorida (Chloride Water)
tinggi.

sistem temperatur

reservoir dalam, dan


- merupakan indikasi dari zona permeable
tinggi (patahan, erupsi breksi atau
konduit).
area ini dapat saja tidak
terletak di atas zona upflow utama, karena ada
beberapa
kemungkinan lain seperti pengaruh topografi
yang juga dapat memberikan dampak besar dalam
mengontrol hidrologi
-

anion yang dominan adalah Cl dan


biasanya memiliki konsentrasi ribuan sampai
10.000

lokasi pastinya terletak


jauh di atas water table dan di sekeliling boiling
zone,
dapat mengalir melewati patahan (fault)
menuju sistem
panasbumi. Pada lokasi inilah, air sulfat
dipanaskan,
kemudian ambil bagian dalam alterasi batuan
dan bercampur dengan air klorida.
-

Fluida jenis ini dapat terbentuk oleh dua proses,


yaitu:
1. Steam Heated Acid Sulphate Water
terbentuk ketika uap berkondensasi
pada air permukaan.
terbentuk akibat oksidasi
H2S pada zona vados (zona bawah permukaan
di atas muka airtanah).
H2S + 2O2 H2SO4
-

berkaitan dengan proses pendidihan/boiling


chloride
water di reservoir pada temperatur < 300C

mengandung sangat sedikit Cl-.

terbentuk pada tempat yang paling dangkal


dari
sistem panasbumi sehingga tidak dapat digunakan
sebagai indikator keadaan reservoir.
2. Magmatic Acid Sulphate Water
berasal dari air magmatik yang mengandung
gas volatil yang mudah menguap,
sehingga H2O, CO2, SO2 dan HCl berkondensasi
menjadi fasa cair pada suhu > 800C dan terbentuk
di sekitar magma (kurang lebih kedalaman 1 hingga 1,5
km).
SO4 berperan sebagai anion
utama dan terbentuk akibat proses oksidasi dari
kondensasi hidrogen sulfida.
H2S (g) + 2O2 (aq) == 2H+
(aq) + SO4
2(aq)

Reaksi berikut dan kondensasi dari karbondiokasida,


CO2(g) + H2O(l) = H2CO3(aq)
= H+
(aq) + HCO3(aq)

= 2H+
(aq) + CO3
2(aq)

Menghasilkan proton dan membentuk air yang


sifatnyaasam.
AirBikarbonat (Bicarbonate Water)
banyak mengandung CO2.
Jenis tipe fluida
ini disebut juga dengan netral bicarbonatesulphate
waters,
merupakan produk dari proses kondensasi gas
dan uap menjadi mataair bawah tanah yang miskin
oksigen.
banyak ditemukan pada area
non-volcanogenic dengan temperatur yang tinggi.
pH yang mendekati netral sebagai akibat
reaksi dengan batuan lokal (baik pada reservoir dangkal
atau selama proses mengalir ke permukaan).
cendeung mudah bereaksi dan sangat korosif
(Hedenquist dan Stewart, 1985 dalam
Nicholson, 1993).
Dari hasil analisis kimia fluida air panas yang ter
dapat pada daerah penelitian diketahui bahwa
fluida panasbumi yang ada pada daerah Nglimut dan
sekitarnya merupakan fluida air bikarbonat (zona steam
heated water/steam condensate).