Anda di halaman 1dari 36

Presentasi Kasus

Seorang Anak Perempuan dengan Diare Akut Dehidrasi


Ringan - Sedang dan Gizi Baik, Normoweight,
Normoheight

Oleh :
Clarissa Rayna

G99141128/L-7

Rizky Saraswati

G99141129/L-8

Pembimbing:
dr. Agustina W., Sp.A., M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2015

BAB I
STATUS PASIEN

A.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. MJ

Umur

: 2 tahun 6 bulan

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Alamat

: Surakarta

BB

: 11.8 Kg

PB

: 87 cm

Tanggal masuk

: 11 Desember 2015

Tanggal Pemeriksaan : 11 Desember 2015


No. CM
B.

: 01322967

ALLOANAMNESIS (Dengan Ibu Kandung Pasien)


1. Keluhan Utama
Buang air besar cair.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan BAB cair sejak 1 hari sebelum
masuk rumah sakit 10 kali sebanyak - gelas belimbing setiap
BAB, warna kuning, cair > ampas, lendir (+), warna seperti cucian beras
(-), darah (-), bau amis (-), demam (-), batuk (-), pilek (-), perut terasa
kembung (+) dan muntah (+) 8 kali sebanyak gelas belimbing berisi
air dan bercampur dengan makanan, muntah tidak menyembur. Pasien
masih mau minum, dalam sehari 1500 cc. BAK (+)7 kali sebanyak
150 cc setiap BAK, warna kuning jernih. Selama sakit, nafsu makan
pasien berkurang. Pasien hanya makan makanan yang disenangi seperti
tempe dan ayam.
Hari masuk rumah sakit, pasien BAB cair sebanyak > 10 kali
sebanyak - gelas belimbing tiap BAB, warna kuning, cari > ampas,
lendir (+), warna seperti cucian beras (-), darah (-), bau amis (-), demam
(-), batuk (-), pilek (-), kejang (-). Perut terasa kembung (+) dan muntah
sebanyak > 5 kali dalam sehari sebanyak gelas belimbing tiap muntah.

Pasien tidak mau makan sama sekali, minum sedikit-sedikit namun harus
dipaksa. Pasien sudah diberikan oralit 80 cc oleh ibunya setiap diare.
Namun keluhan dirasakan tidak berkurang sehingga orang tua pasien
membawa pasien ke Puskesmas. Pasien dibawa ke Puskesmas dan
karena keterbatasan sarana sehingga pasien dibawa orangtuanya ke
RSDM.
Saat di IGD pasien tampak lemas dan kehausan, tidak didapatkan
demam, batuk, serta pilek. BAK terakhir 9 jam SMRS, warna kuning
dengan volume sedikit. Menurut ibunya, mata pasien terlihat lebih
cekung, pasien tidak mau makan dan minum. Kaki dan tangan teraba
hangat.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat BAB cair

: disangkal

Riwayat alergi obat / makanan

: disangkal

Riwayat ganti susu forula

: disangkal

Riwayat penggunaan antibiotik yang lama : disangkal


Riwayat rawat inap

: disangkal

4. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat diare keluarga dirumah

: disangkal

Riwayat alergi obat/makanan

: disangkal

5. Riwayat Lingkungan Sekitar


Pasien tinggal dengan kedua orang tuanya, sebagai anak tunggal. Rumah
yang dihuni tidak terlalu luas, ukuran 8x10 m2. Sumber air yang
digunakan untuk kebutuhan sehari-hari berasal dari sumur yang letaknya
berdekatan dengan septic tank. Lingkungan di sekitar rumah pasien
tidak ada tetangga yang mempunyai penyakit yang sama dengan pasien.
6. Riwayat Kehamilan

Pemeriksaan kehamilan dilakukan ibu pasien di bidan praktek swasta


setempat. Frekuensi pemeriksaan pada trimester I dan II 1 kali tiap
bulan, dan pada trimester III 3 kali tiap bulan. Penyakit kehamilan (-).
Riwayat minum jamu selama hamil (-), obat-obatan yang diminum
adalah vitamin dan tablet penambah darah dari bidan.
7.

Riwayat Kelahiran
Pasien lahir caesar atas indikasi riwayat SC 3 tahun yang lalu dari
seorang ibu usia 31 tahun G3P2A0 saat usia kehamilan 37 minggu, lahir
menangis (+), gerak aktif (+), kebiruan (-).

8. Riwayat Postnatal
Ibu pasien membawa pasien ke puskesmas untuk timbang badan dan
melakukan imunisasi sesuai jadwal.
9. Status Imunisasi
Vaksin BCG saat usia

: 1 bulan

Vaksin DPT saat usia

: 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan

Vaksin polio saat usia

: 0 bulan, 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan

Vaksin hepatitis B saat usia

: 0 bulan, 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan

Kesan :Imunisasi dasar lengkap menurut Kemenkes RI.


10. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan
BB lahir 2700 gr, PB lahir 54 cm. Sejak kecil anak selalu dibawa ke
posyandu dan tidak didapatkan penurunan berat badan. Umur sekarang 2
tahun 6 bulan, BB 11,8 kg, TB 83 cm.
Perkembangan

Motorik kasar dalam batas normal

Motorik halus dalam batas normal

Bahasa dalam batas normal

Personal sosial dalam batas normal

Kesan: pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia

11. Riwayat Nutrisi


Usia 0 6 bulan : pasien hanya minum ASI, frekuensi minum ASI tiap
kali bayi menangis atau minta minum, sehari
biasanya 12 kali per hari, kadang lebih dan lama
menyusui 10 menit, bergantian kiri kanan.
Usia 6 bulan 9 bulan: Pasien sudah memulai makan makanan
pendamping ASI yaitu bubur susu dan pasien tetap
minum ASI.
Usia 9 bulan 12 bulan : Pasien mendapat MP-ASI berupa nasi
lunak 3 kali sehari serta makanan selingan.
Usia 12 bulan saat ini : Pasien masih minum ASI dan sudah makan
makanan keluarga 3 kali sehari
Kesan : kualitas dan kuantitas asupan gizi cukup

Pohon Keluarga
I

II

26 tahun

33 tahun

III

An. MJ (2 tahun 6 bulan)

Keterangan:
: Laki laki hidup
: Laki laki meninggal

: Perempuan hidup

: Pasien

C.

PEMERIKSAAN FISIK
A Keadaan Umum

: tampak lemas dan kehausan

B Kesadaran
C Status gizi secara klinis

: compos mentis
: gizi kesan baik

D Tanda vital
HR
: 104 x/menit
RR
: 29 x/menit
T
: 36,8oC
A. Status gizi secara klinis
Status gizi secara antropometris

: gizi kesan baik


:

BB/U

: 11.8/12 x100 %

= 93 %

(-2SD < Z-Score < 0 SD)

TB/U

: 83/88 x 100%

= 94%

(-2 SD < Z Score < 0 SD)

BB/TB : 11.8/11 x 100

= 101%

(-1 SD < Z-Score < 1 SD)

Kesan : Gizi baik dengan normoweight dan normoheight.


E Kulit
Warna coklat, kelembaban menurun, ruam (-).
F Kepala
Bentuk mesocephal, rambut hitam tidak mudah rontok dan sukar dicabut,
UUB sudah menutup.
G Mata :
Mata cowong, air mata berkurang, konjungtiva anemis (-/-), oedem
palpebra (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor (2mm/2mm), refleks cahaya
(+/+).
H Hidung
Bentuk normal, napas cuping hidung (-), sekret (-/-), darah (-/-),
deformitas (-)
I Mulut
Sianosis (-), mukosa basah (+) menurun, lidah kotor (-), gusi berdarah
(-), Tonsil (T1/T1), hiperemis (-)
J Telinga
Bentuk aurikula kanan dan kiri normal, kelainan MAE (-), serumen (-/-),
membrana timpani intak, prosesus mastoideus tidak nyeri tekan, tragus
pain (-), sekret (-).
K Leher
Pembesaran KGB (-).
L Thorax : bentuk normochest, retraksi (-)
Cor :

Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis teraba di SIC IV LMCS

Perkusi

: Batas jantung kesan tidak melebar

Kiri atas

: SIC II LPSS

Kiri bawah

: SIC IV LMCS

Kanan atas

: SIC II LPSD

Kanan bawah : SIC IV LPSD

Auskultasi

: Bunyi jantung

I-II intensitas normal,

reguler, bising (-)


Pulmo :

Inspeksi

: Pengembangan dada kanan = kiri

Palpasi

: Fremitus raba kanan = kiri

Perkusi

: Sonor / Sonor di semua lapang paru

Batas paru-hepar

: SIC V kanan

Batas paru-lambung : SIC VI kiri

M Abdomen :

Redup relatif di

: SIC V kanan

Redup absolut

: SIC VI kanan (hepar)

Auskultasi

: Suara dasar vesikuler (+/+),

Inspeksi

: dinding dada // dinding perut

Auskultasi

: peristaltik (+) meningkat

Perkusi

: timpani,

Palpasi

: supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak


teraba. turgor kembali lambat

N Urogenital : dalam batas normal


O Ekstremitas :
a

akral dingin
-

oedem

b CRT < 2 detik


c Arteri dorsalis pedis teraba kuat
P Status lokalis: Anus tidak berwarna kemerahan
I PEMERIKSAAN PENUNJANG
a

Laboratorium Darah Lengkap (11 Desember 2015)


11/12

Satuan

Rujukan

11.4

g/dl

11.5-13.5

Hct

33

34-40

AE

4.07

AL

12.6

AT

434

Pemeriksaan
Hemoglobin

106 / L
103 / L
103/ L

3.9-5.3
5.5-17.0
150-450

MCV

80.3

/um

80.0-96.0

MCH

28.0

Pg

28.0-33.0

MCHC

34.9

g/dl

33.0-36.0

Eosinofil

0.40

1.00-2.00

Basofil

0.20

0.00-1.00

Netrofil

74.40

29.00-72.00

Limfosit

17.70

60.00-66.00

Monosit

7.30

0.00-6.00

GDS

101

mg/dl

60-100

II DAFTAR MASALAH
a

BAB cair 1 hari SMRS frekuensi 10 kali, warna kuning, cair > ampas,
lendir (+).

b Muntah 8 kali sebanyak gelas belimbing berisi air dan bercampur


dengan makanan.
c

Keadaan umum tampak lemah dan kehausan

d BAK terakhir 9 jam SMRS, warna kuning dengan volume sedikit


e

Kelembaban kulit menurun, mata cowong (+/+), produksi air mata (+/+)
menurun, mukosa mulut basah (+) menurun.

Pemeriksaan abdomen:
Auskultasi : bising usus (+) meningkat
Palpasi

: turgor kulit kembali lambat

g Pada hasil pemeriksaan laboratorium terdapat limfositopenia


III DIAGNOSIS BANDING
Diare akut dengan dehidrasi ringan sedang et causa dd rotavirus, ETEC,
EIEC
IV DIAGNOSIS KERJA
a

Diare akut dengan dehidrasi ringan sedang et causa rotavirus dd


EIEC, ETEC

Gizi baik, normoweight, normoheight

VPENATALAKSANAAN
a

Rawat bangsal bagian anak sub gastroenterologi anak.

IVFD Asering (175ml/kgBB/24 jam)=2065cc/24 jam=86ml/jam

Diet nasi lauk 1100 kkal/ hari

Zinc 1 x 20 mg

Probiotik 2x1 sach po

Oralit 10ml/kg 120 ml jika diare. 5ml/kg 60 ml jika muntah

VI PLANNING
a

Cek laboratorium patologi klinik : elektrolit, urin rutin

b Feses rutin
VII

MONITORING

Keadaan umum vital sign dan status hidrasi per jam selama rehidasi

Balance cairan per 8 jam

Diuresis per 8 jam

VIII

PROGNOSIS

Ad vitam
Ad sanam

: bonam
: bonam

Ad fungsionam : bonam

IX

FOLLOW UP
EVALUASI I. 12 Desember 2015

10

RPS : BAB (+) 11 x, cair>ampas @ - gelas belimbing, lendir


(+), warna sepert cucian beras (-), BAB darah (-), muntah(+) 3x @1/4
gelas belimbing berisi makanan dan minuman, badan terasa lemas (+),
makan minum (+), demam (-), mual (-), nyeri kepala (-), BAK dalam batas
normal, batuk(-), pilek(-)
1.

Status Generalis
Keadaan Umum
: Sedang, compos mentis, gizi kesan cukup
Tanda Vital
:
SiO2
: 98%
Nadi
: 118 x / menit
Respiratory Rate
: 32 x/menit
Suhu
: 36.4 0 C
Kepala
: mesocephal
Mata
: conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
udem palpebra (-), mata cekung (+/+)
: Napas Cuping Hidung (-)
: discharge (-/-)
: Mukosa basah (+), sianosis (-), lidah kotor (-)

Hidung
Telinga
Mulut

faring hiperemis (+), tonsil T1 T1, hiperemis (-)


: kelenjar getah bening tidak membesar
: retraksi (-)

Leher
Thorax
Cor
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Pulmo
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: ictus cordis tidak tampak


: ictus cordis tidak kuat angkat
: batas jantung kesan tidak melebar
: BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-)
: pengembangan dinding dada kanan = kiri
: fremitus raba dinding dada kanan = kiri
: sonor // sonor
: suara dasar vesikuler (+/+), suara
tambahan

Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Perkusi
Palpasi

(-/-)

: dinding perut // dinding dada


: bising usus (+) normal
: timpani diseluruh lapang perut, pekak alih
(-), undulasi (-),
: supel, nyeri tekan (-), hepar/lien tidak
teraba,turgor kulit kembali cepat

11

Urogenital
: dalam batas normal
Ekstremitas
:
oedema
akral dingin
ADP teraba kuat, CRT <2
2.

DIAGNOSIS
1. Diare akut dehidrasi ringan sedang
2. Gizi baik

3.

TERAPI
1.
2.
3.
4.
5.

4.

IVFD Asering 86cc/jam


Diet nasi lauk 1000 kkal/hari
Oralit 60 cc jika muntah, 120 cc jika diare
Lacto B 2x1 sachet PO
Zinc 1x20 mg PO
PLAN

1. Cek laboratorium patologi klinik : elektrolit, urin rutin


2. Feses rutin
5.

6.

MONITORING

Keadaan umum vital sign dan status hidrasi per 8 jam

Balance cairan per 8 jam

Diuresis per 8 jam

PROGNOSIS
Bonam

EVALUASI II. 13 Desember 2015


RPS : BAB (+) 6 x, cair>ampas @ - gelas belimbing, lendir
(+), warna sepert cucian beras (-), BAB darah (-), mual (+), muntah(+) 1x
@1/4 gelas belimbing berisi makanan dan minuman, badan terasa lemas
(+), makan minum (+), demam (-), mual (-), nyeri kepala (-), BAK dalam
batas normal, batuk(-), pilek(-)

12

1.

Status Generalis
Keadaan Umum
Tanda Vital
SiO2
Nadi
Respiratory Rate
Suhu
Kepala
Mata

: Sedang, compos mentis, gizi kesan cukup


:
: 98%
: 105 x / menit
: 30 x/menit
: 36.6 0 C
: mesocephal
: conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),

Hidung
Telinga
Mulut

udem palpebra (-), mata cekung (-/-)


: Napas Cuping Hidung (-)
: discharge (-/-)
: Mukosa basah (+), sianosis (-), lidah kotor (-)
faring hiperemis (+), tonsil T1 T1, hiperemis (-)
: kelenjar getah bening tidak membesar
: retraksi (-)

Leher
Thorax
Cor
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Pulmo
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: ictus cordis tidak tampak


: ictus cordis tidak kuat angkat
: batas jantung kesan tidak melebar
: BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-)
: pengembangan dinding dada kanan = kiri
: fremitus raba dinding dada kanan = kiri
: sonor // sonor
: suara dasar vesikuler (+/+), suara
tambahan

Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Perkusi
Palpasi

(-/-)

: dinding perut // dinding dada


: bising usus (+) normal
: timpani diseluruh lapang perut, pekak alih
(-), undulasi (-),
: supel, nyeri tekan (-), hepar/lien tidak
teraba,turgor kulit kembali cepat

Urogenital
: dalam batas normal
Ekstremitas
:
oedema
akral dingin
ADP teraba kuat, CRT <2

13

2. DIAGNOSIS
1. Diare akut dehidrasi ringan sedang
2. Gizi baik
3.
TERAPI
1.
IVFD D 1/4 NS 46 cc/jam
2.
Diet nasi lauk 1000 kkal/hari
3.
Oralit 60 cc jika muntah, 120 cc jika diare
4.
Lacto B 2x1 sachet PO
4. Zinc 1x20 mg PO
5.

6.

PLAN
Cek laboratorium patologi klinik : elektrolit, urin rutin
Feses rutin
MONITORING

Keadaan umum vital sign dan status hidrasi per 8 jam

Balance cairan per 8 jam

Diuresis per 8 jam

7. PROGNOSIS
Bonam

EVALUASI III. 14 Desember 2015


RPS : BAB (+) 6 x, cair>ampas @ - gelas belimbing, lendir
(+), warna sepert cucian beras (-), BAB darah (-), mual (+), muntah(+) 1x
@1/4 gelas belimbing berisi makanan dan minuman, badan terasa lemas
(+), makan minum (+), demam (-), mual (-), nyeri kepala (-), BAK dalam
batas normal, batuk(-), pilek(-)
1.

Status Generalis
Keadaan Umum
Tanda Vital
SiO2
Nadi
Respiratory Rate

: Sedang, compos mentis, gizi kesan cukup


:
: 98%
: 105 x / menit
: 30 x/menit

14

Suhu
Kepala
Mata

: 36.6 0 C
: mesocephal
: conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),

Hidung
Telinga
Mulut

udem palpebra (-), mata cekung (-/-)


: Napas Cuping Hidung (-)
: discharge (-/-)
: Mukosa basah (+), sianosis (-), lidah kotor (-)
faring hiperemis (+), tonsil T1 T1, hiperemis (-)
: kelenjar getah bening tidak membesar
: retraksi (-)

Leher
Thorax
Cor
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Pulmo
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: ictus cordis tidak tampak


: ictus cordis tidak kuat angkat
: batas jantung kesan tidak melebar
: BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-)
: pengembangan dinding dada kanan = kiri
: fremitus raba dinding dada kanan = kiri
: sonor // sonor
: suara dasar vesikuler (+/+), suara
tambahan

Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Perkusi
Palpasi

(-/-)

: dinding perut // dinding dada


: bising usus (+) normal
: timpani diseluruh lapang perut, pekak alih
(-), undulasi (-),
: supel, nyeri tekan (-), hepar/lien tidak
teraba,turgor kulit kembali cepat

Urogenital
: dalam batas normal
Ekstremitas
:
oedema
akral dingin
ADP teraba kuat, CRT <2
2.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan feses rutin (14/12/2015)

15

PARAMETER
A. Makroskopis
Konsistensi
Warna
Darah
Lendir
Lemak
Pus
Makanan tidak
dicerna
Parasit
B. Mikroskopis
Sel epitel
Leukosit

HASIL

NILAI NORMAL

Lunak
Coklat
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

Lunak berbentuk
Kuning coklat
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Neg/ditemukan
sedikit
Negatif

Negatif
Positif
sedi
kit
Negatif

Neg/ditemukan
sedikit
Neg/ditemukan
sedikit
Negatif
Neg/ditemukan
sedikit
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

Eritrosit
Negatif
Makanan tidak
Negatif
dicerna
Telur cacing
Negatif
Larva cacing
Negatif
Proglotid cacing
Negatif
Protozoa
Negatif
Yeast atau
Negatif
Pseudohifa
ditemukan adanya bakteri atau parasit

Kesan:
tidak

Pemeriksaan Urin Rutin (14/12/2015)


Pemeriksaan
SEKRESI
MAKROSKOPI
S

Hasil

Satuan

Rujukan

16

Warna
Kejernihan
KIMIA RUTIN
Berat jenis
pH
Leukosit
Eritrosit
Protein
Glukosa
Keton
Urobilinogen
Bilirubin
Trombosit
MIKROSKOPIS
Eritrosit
Leukosit
EPITEL
Epitel squamous
Epitel transisional
Epitel bulat
SILINDER
Hyaline
Granulated
Lekosit
Sperma
Produktivitas
Lain-lain

yellow
st cloudy
1,016
7,0
Negatif
++
Negatif
Normal
150
Normal
Negatif
Negatif

Mg/dl
Mg/dl
Mg/dl
Mg/dl
Mg/dl
Mg/dl

1,015 1,025
4,5 8,0
Negatif
Negatif
Negatif
Normal
Negatif
Normal
Negatif
Negatif

157.7
3

/ul
/LPB

0 6,4
0 - 12

1-2
-

/LPB
/LPB
/LPB

Negatif
Negatif
Negatif

0
0.0
20.9

/LPK
/LPK
/LPK
/ul
mS/cm

0-3
Negatif
Negatif
0.0-0.0
3.0-32.0

/ul

Eritrosit 28-30/LPB, leukoit 3/LPB,


benang mukus (+), kristal amorf (+),
bakteri (++++)

3. DIAGNOSIS
1. Diare akut dehidrasi ringan sedang
2. Gizi baik
3. TERAPI
1.
2.
3.
4.
5.

IVFD D 1/4 NS 46 cc/jam


Diet nasi lauk 1000 kkal/hari
Oralit 60 cc jika muntah, 120 cc jika diare
Lacto B 2x1 sachet PO
Zinc 1x20 mg PO

4. MONITORING

17

8. Keadaan umum vital sign dan status hidrasi per 8 jam


9. Balance cairan per 8 jam
10. Diuresis per 8 jam
5. PROGNOSIS
Bonam

EVALUASI IV. 15 Desember 2015


RPS : BAB (+) 1 x, cair>ampas @ - gelas belimbing, lendir
(+), warna sepert cucian beras (-), BAB darah (-), mual (+), muntah(+) 3x
@1/4 gelas belimbing berisi makanan dan minuman, badan terasa lemas
(+), makan minum (+), demam (-), mual (-), nyeri kepala (-), BAK dalam
batas normal, batuk(-), pilek(-)
1.

Status Generalis
Keadaan Umum
Tanda Vital
SiO2
Nadi
Respiratory Rate
Suhu
Kepala
Mata

: Sedang, compos mentis, gizi kesan cukup


:
: 98%
: 114 x / menit
: 28 x/menit
: 36.5 0 C
: mesocephal
: conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),

Hidung
Telinga
Mulut

udem palpebra (-), mata cekung (-/-)


: Napas Cuping Hidung (-)
: discharge (-/-)
: Mukosa basah (+), sianosis (-), lidah kotor (-)

Leher
Thorax
Cor
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Pulmo

faring hiperemis (+), tonsil T1 T1, hiperemis (-)


: kelenjar getah bening tidak membesar
: retraksi (-)
: ictus cordis tidak tampak
: ictus cordis tidak kuat angkat
: batas jantung kesan tidak melebar
: BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-)

18

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: pengembangan dinding dada kanan = kiri


: fremitus raba dinding dada kanan = kiri
: sonor // sonor
: suara dasar vesikuler (+/+), suara
tambahan

Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Perkusi
Palpasi

(-/-)

: dinding perut // dinding dada


: bising usus (+) normal
: timpani diseluruh lapang perut, pekak alih
(-), undulasi (-),
: supel, nyeri tekan (-), hepar/lien tidak
teraba,turgor kulit kembali cepat

Urogenital
: dalam batas normal
Ekstremitas
:
oedema
akral dingin
ADP teraba kuat, CRT <2
2. DIAGNOSIS
1. Diare akut dehidrasi ringan sedang
2. Gizi baik
3.
TERAPI
1.
IVFD D 1/4 NS 46 cc/jam
2.
Diet nasi lauk 1000 kkal/hari
3.
Oralit 60 cc jika muntah, 120 cc jika diare
4.
Lacto B 2x1 sachet PO
4. Zinc 1x20 mg PO
4.

MONITORING

Keadaan umum vital sign dan status hidrasi per 8 jam

Balance cairan per 8 jam

Diuresis per 8 jam

5. PROGNOSIS
Bonam

19

EVALUASI V. 16 Desember 2015


RPS : BAB (+) 1 x, cair>ampas @ - gelas belimbing, lendir
(+), warna sepert cucian beras (-), BAB darah (-), mual (+), muntah(+) 1x
@1/4 gelas belimbing berisi makanan dan minuman, badan terasa lemas
(+), makan minum (+), demam (-), mual (-), nyeri kepala (-), BAK dalam
batas normal, batuk(-), pilek(-)
1. Status Generalis
Keadaan Umum
Tanda Vital
SiO2
Nadi
Respiratory Rate
Suhu
Kepala
Mata

: Sedang, compos mentis, gizi kesan cukup


:
: 98%
: 114 x / menit
: 28 x/menit
: 36.5 0 C
: mesocephal
: conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),

Hidung
Telinga
Mulut

udem palpebra (-), mata cekung (-/-)


: Napas Cuping Hidung (-)
: discharge (-/-)
: Mukosa basah (+), sianosis (-), lidah kotor (-)

Leher
Thorax
Cor
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Pulmo
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

faring hiperemis (+), tonsil T1 T1, hiperemis (-)


: kelenjar getah bening tidak membesar
: retraksi (-)
: ictus cordis tidak tampak
: ictus cordis tidak kuat angkat
: batas jantung kesan tidak melebar
: BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-)
: pengembangan dinding dada kanan = kiri
: fremitus raba dinding dada kanan = kiri
: sonor // sonor
: suara dasar vesikuler (+/+), suara
tambahan

Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Perkusi

(-/-)

: dinding perut // dinding dada


: bising usus (+) normal
: timpani diseluruh lapang perut, pekak alih
(-), undulasi (-),

20

Palpasi

: supel, nyeri tekan (-), hepar/lien tidak


teraba,turgor kulit kembali cepat

Urogenital
: dalam batas normal
Ekstremitas
:
oedema
akral dingin
ADP teraba kuat, CRT <2
2. DIAGNOSIS
1. Diare akut dehidrasi ringan sedang
2. Gizi baik
3. TERAPI
1. IVFD D 1/4 NS 46 cc/jam
2. Diet nasi lauk 1000 kkal/hari
3. Oralit 60 cc jika muntah, 120 cc jika diare
4. Lacto B 2x1 sachet PO
5. Zinc 1x20 mg PO
4.

MONITORING

Keadaan umum vital sign dan status hidrasi per 8 jam

Balance cairan per 8 jam

Diuresis per 8 jam

5. PROGNOSIS
Bonam
EVALUASI VI. 17 Desember 2015
RPS : BAB (+) 1 x, cair>ampas @ - gelas belimbing, lendir
(+), warna sepert cucian beras (-), BAB darah (-), mual (+), muntah(+) 1x
@1/4 gelas belimbing berisi makanan dan minuman, badan terasa lemas
(+), makan minum (+), demam (-), mual (-), nyeri kepala (-), BAK dalam
batas normal, batuk(-), pilek(-)

21

1.

Status Generalis
Keadaan Umum
Tanda Vital
SiO2
Nadi
Respiratory Rate
Suhu
Kepala
Mata

: Sedang, compos mentis, gizi kesan cukup


:
: 98%
: 114 x / menit
: 28 x/menit
: 36.5 0 C
: mesocephal
: conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),

Hidung
Telinga
Mulut

udem palpebra (-), mata cekung (-/-)


: Napas Cuping Hidung (-)
: discharge (-/-)
: Mukosa basah (+), sianosis (-), lidah kotor (-)
faring hiperemis (+), tonsil T1 T1, hiperemis (-)
: kelenjar getah bening tidak membesar
: retraksi (-)

Leher
Thorax
Cor
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Pulmo
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: ictus cordis tidak tampak


: ictus cordis tidak kuat angkat
: batas jantung kesan tidak melebar
: BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-)
: pengembangan dinding dada kanan = kiri
: fremitus raba dinding dada kanan = kiri
: sonor // sonor
: suara dasar vesikuler (+/+), suara
tambahan

Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Perkusi
Palpasi

(-/-)

: dinding perut // dinding dada


: bising usus (+) normal
: timpani diseluruh lapang perut, pekak alih
(-), undulasi (-),
: supel, nyeri tekan (-), hepar/lien tidak
teraba,turgor kulit kembali cepat

Urogenital
: dalam batas normal
Ekstremitas
:
oedema
akral dingin
ADP teraba kuat, CRT <2
2.

DIAGNOSIS

22

1. Diare akut dehidrasi ringan sedang


2. Gizi baik
3.

TERAPI
1.
2.
3.

IVFD D 1/4 NS 46 cc/jam


Diet nasi lauk 1000 kkal/hari
Oralit 60 cc jika muntah, 120
cc jika diare

4.
5.

Lacto B 2x1 sachet PO


Zinc 1x20 mg PO

4.

MONITORING

Keadaan umum vital sign dan status hidrasi per 8 jam

Balance cairan per 8 jam

Diuresis per 8 jam

5.

PROGNOSIS
Bonam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DIARE CAIR AKUT


1. Definisi
Diare cair akut merupakan diare yang terjadi secara akut dan
berlangsung kurang dari 14 hari (bahkan kebanyakan kurang dari 7 hari),
dengan pengeluaran tinja yang lunak / cair. Mungkin disertai muntah dan
panas. Diare cair akut menyebabkan dehidrasi, dan bila masukan makanan
kurang dapat mengakibatkan kurang gizi. Kematian yang terjadi disebabkan
karena dehidrasi. Penyebab terpenting diare pada anak-anak adalah Shigella,
Campylobacter jejuni dan Cryptosporidium, Vibrio cholera, Salmonella, E.
coli, rotavirus (Behrman, 2009).
2. Epidemiologi

23

Kuman penyebab diare menyebar masuk melalui mulut antara lain


makanan dan minuman yang tercemar tinja atau yang kontak langsung
dengan tinja penderita.
Terdapat beberapa perilaku khusus meningkatkan resiko terjadinya
diare yaitu tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pertama kehidupan,
menggunakan botol susu yang tercemar, menyimpan makanan masak pada
suhu kamar dalam waktu cukup lama, menggunakan air minuman yang
tercemar oleh bakteri yang berasal dari tinja, tidak mencuci tangan setelah
buang air besar, sesudah

membuang tinja atau sebelum memasak makanan,

tidak membuang tinja secara benar (Ardhani, 2008).


Faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap diare antara lain tidak
memberikan

ASI

sampai

umur

tahun,

kurang

gizi,

campak,

imunodefisiensi / imunosupressif.
Umur Kebanyakan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan,
insiden paling banyak pada umur 6 10 bulan (pada masa pemberian
makanan pendamping).
Variasi musiman pola musim diare dapat terjadi melalui letak geografi.
Pada daerah sub tropik, diare karena bakteri lebih sering terjadi pada musim
panas sedangkan diare karena virus (rotavirus) puncaknya pada musim
dingin. Pada daerah tropik diare rotavirus terjadi sepanjang tahun, frekuensi
meningkat pada musim kemarau sedangkan puncak diare karena bakteri
adalah pada musim hujan.
Kebanyakan infeksi usus bersifat asimtomatik / tanpa gejala dan
proporsi ini meningkat di atas umur 2 tahun karena pembentukan imunitas
aktif.
3. Etiologi
Terdapat beberapa macam penyebab diare antara lain sebagai berikut
a. Faktor infeksi
Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab
utama diare, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella,
Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi virus (Enterovirus,
Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit (E. hystolytica,
G.lamblia, T. hominis) dan jamur (C. albicans).

24

Infeksi parenteral yaitu infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat


menimbulkan diare seperti otitis media akut, tonsilitis, bronkopneumonia,
ensefalitis dan sebagainya. (Behrman, 2009).
b. Faktor Malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat yaitu disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan
sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa).
Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi
dan anak. Di samping itu dapat pula terjadi malabsorbsi lemak dan protein.
c. Faktor Makanan
Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan
alergi terhadap jenis makanan tertentu.
d. Faktor Psikologis

25

Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas).

Gambar 1. Bagan Penyebab penyakit diare

26

Gejala Klinis Rotavirus

Shigell
a

Salmonella

ETEC

EIEC

Kolera

Konsistensi

Cair

Lembe
k

Lembek

Cair

Lembek

Cair

Lendir darah

Sering

Kadang

Bau

Busuk

Amis khas

Warna

Kuninghijau

Merahhiaju

kehiajauan

Tak
berwana

Merahhijau

Seperti air
cucian beras

Leukosit

Lain lain

Anoreksia Kejang

Sepsis

Meteorism Inf
us
sistemik

Gambar 2. Mikroorganisme penyebab diare


4. Patofisiologi
Terdapat beberapa mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare
yaitu:
a. Gangguan osmotik

27

Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi pergeseran
air dan elektroloit ke dalam lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan
akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare
(Poorwo, 2003).
b. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan
terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan
selanjutnya timbul diare karena peningkatan isi lumen usus.
c. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus
menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya
dapat timbul diare (Poorwo, 2003).

5. Diagnosis
Pada diare cair akut dapat ditemukan gejala dan tanda-tanda sebagai berikut
a. BAB lebih cair/encer dari biasanya, frekuensi lebih dari 3 kali sehari
b. Apabila disertai darah disebut disentri (diare akut invasif)
c. Dapat disertai dengan muntah, nyeri perut dan panas
d. Pemeriksaan fisik :
Pada pemeriksaan fisik harus diperhatikan tanda utama, yaitu kesadaran, rasa
haus, turgor kulit abdomen. Perhatikan juga tanda tambahan, yaitu ubun-ubun
besar cekung atau tidak, mata cekung atau tidak, ada atau tidak adanya air
mata, kering atau tidaknya mukosa mulut, bibir dan lidah. Jangan lupa
menimbang berat badan.
Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai kriteria sebagai berikut:
a. Tanpa dehidrasi (kehilangan cairan < 5% berat badan)

Tidak ditemukan tanda utama dan tanda tambahan


Keadaan umum baik, sadar
Tanda vital dalam batas normal
Ubun-ubun besar tidak cekung, mata tidak cekung, air mata ada,

mukosa mulut dan bibir basah


Turgor abdomen baik, bising usus normal
Akral hangat

28

Pasien dapat dirawat di rumah, kecuali apabila terdapat komplikasi


lain (tidak mau minum, muntah terus-menerus, diare frekuen)
(Ardhani, 2008).

b. Dehidrasi sedang (kehilangan cairan 5-10% berat badan)


Apabila didapatkan dua tanda utama ditambah dua atau lebih tanda

tambahan
Keadaan umum gelisah atau cengeng
Ubun-ubun besar sedikit cekung, mata sedikit cekung, air mata

kurang, mucosa mulut dan bibir sedikit kering


Turgor kurang
Akral hangat

Pasien harus rawat inap(Ardhani, 2008).

c. Dehidrasi berat (kehilangan cairan > 10% berat badan)


Apabila didapatkan dua tanda utama ditambah dengan dua atau lebih

tanda tambahan
Keadaan umum lemah, letargi atau koma
Ubun-ubun sangat cekung, mata sangat cekung, air mata tidak ada,

mucosa mulut dan bibir sangat kering


Anak malas minum atau tidak bisa minum
Turgor kulit buruk
Akral dingin
Pasien harus rawat inap (Ardhani, 2008).
Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam,
tenesmus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling
fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah
kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau
gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseorang
yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang, mata
cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun
serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air
yang isotonik. (Behrman, 2009).
Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan
asam karbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang

29

merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan


lebih dalam (pernapasan Kussmaul).
Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa
renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah
menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin
dan kadang-kadang sianosis. Karena kekurangan kalium pada diare akut juga
dapat timbul aritmia jantung.
Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun
sampai timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul
penyulit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal
akut.
6. Tatalaksana
1.Tatalaksana
Apabila derajat dehidrasi yang terjadi akibat diare sudah di tentukan, baru
kemudian menentukan tatalaksana yang akan diterapkan secara konsisten..
Terdapat lima lintas tatalaksana diare, yaitu:

Rehidrasi
Dukungan nutrisi
Supplement zinc
Antibiotik selektif
Edukasi orang tua

a. Diare cair akut tanpa dehidrasi


Penanganan lini pertama pada diare cair akut tanpa dehidrasi antara lain
sebagai berikut:
1) Memberikan kepada anak lebih banyak cairan daripada biasanya
untuk mencegah dehidrasi. Dapat kita gunakan cairan rumah tangga
yang dianjurkan, seperti oralit, makanan cair (seperti sup dan air
tajin) dan bila tidak ada air matang, kita dapat menggunakan larutan
oralit untuk anak. Pemberian larutan diberikan terus semau naak
hingga diare berhenti. Volume cairan untuk usia kurang dari 1tahun :

30

50-100cc, untuk usia 1-5 tahun mendapat 100-200cc, untuk usia


lebih dari 5 tahun dapat diberikan semaunya.
2) Memberikan tablet zinc. Pemberian tablet zinc diberikan selama 1014 hari berturut-turut meskipun anak telah sembuh dari diare. Dosis
zinc untuk anak bervariasi, untuk anak usia dibawah 6 bulan sebesar
10mg (1/2 tablet) perhari, sedangkan untuk usia diatas 6 bulan
sebesar 20 mg perhari. Zinc diberikan selama 10-14 hari berturutturut, meskipun anak telah sembuh dari diare.
3) Memberikan anak makanan untuk mencegah kekurangan gizi.
4) Membawa anak kepada petugas kesehatan bila anak tidak membaik
dalam 3 hari atau menderita sebagai berikut buang air besar cair
lebih sering, muntah terus menerus, rasa haus yang nyata, makan
atau minum sedikit, demam, dan tinja berdarah.
5) Anak harus diberi oralit di rumah Formula oralit baru yang berasal
dari WHO dengan komposisi sebagai berikut:

Natrium

: 75 mmol/L

Klorida

: 65 mmol/L

Glukosa, anhydrous : 75 mmol/L

Kalium

:20 mmol/L

Sitrat

:10 mmol/L

Total osmolaritas

:245 mmol/L

Ketentuan pemberian oralit formula baru :


Larutkan 1 bungkus oralit formula baru dalam 200 ml air matang,
berikan larutan oralit pada anak setiap kali buang air besar dengan
ketentuan untuk anak usia kurang dari 1 tahun berikan 50-100 ml setiap

31

kali buang air besar, sedangkan untuk anak berumur lebih dari 1 tahun
berikan 100-200 ml tiap kali buang air besar.
b. Diare cair akut dengan dehidrasi ringan-sedang
Rehidrasi dapat menggunakan oralit 75cc/kgBB dalam 3 jam pertama
dilanjutkan pemberian kehilangan cairan yang sedang berlangsung sesuai
umur seperti diatas setiap kali buang air besar.
c. Diare Cair akut dengan Dehidrasi Berat
Anak-anak dengan tanda-tanda dehidrasi berat dapat meninggal dengan
cepat karena syok hipovolemik, sehingga mereka harus mendapatkan
penanganan dengan cepat.
Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi. Ada beberapa hal yang
penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat dan
akurat, yaitu:
1) Menentukan cara pemberian cairan
Penggantian cairan melalui intravena merupakan pengobatan pilihan
untuk dehidrasi berat, karena cara tersebut merupakan jalan tercepat
untuk memulihkan volume darah yang turun. Rehidrasi IV penting
terutama apabila ada tanda-tanda syok hipovolemik (nadi sangat cepat
dan lemah atau tidak teraba, kaki tangan dingin dan basah, keadaan
sangat lemas atau tidak sadar). Cara lain pemberian cairan pengganti
hanya boleh bila rehidrasi IV tidak memungkinkan atau tidak dapat
ditemukan disekitarnya dalam waktu 30 menit.
2) Jenis cairan yang hendak digunakan.
Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena
tersedia cukup banyak di pasaran meskipun jumlah kaliumnya rendah

32

bila dibandingkan dengan kadar kalium tinja. Bila RL tidak tersedia


dapat diberikan NaCl isotonik (0,9%) yang sebaiknya ditambahkan
dengan 1 ampul Nabik 7,5% 50 ml pada setiap satu liter NaCl
isotonik. Pada keadaan diare akut awal yang ringan dapat diberikan
cairan oralit untuk mencegah dehidrasi dengan segala akibatnya.
3) Jumlah cairan yang hendak diberikan.
Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang hendak diberikan harus
sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan. Jika
memungkinkan, penderita sebaiknya ditimbang sehingga kebutuhan
cairannya dapat diukur dengan tepat. Kehilangan cairan pada
dehidrasi berat setara dengan 10% berat badan (100 ml/kg).
Bayi harus diberi cairan 30 ml/kg BB pada 1 jam pertama,
diikuti 70ml/kg BB 5 jam berikutnya, jadi seluruhnya 100 ml/kgBB
selama 6 jam. Anak yang lebih besar dan dewasa harus diberi 30
ml/kgBB pada 30 menit pertama, diikuti 70 ml/kgBB dalam 2,5 jam
berikutnya sehingga seluruhnya 100 ml/kgBB selama 3 jam. Sangat
berguna memberi tanda pada botol, untuk menunjukan jumlah cairan
yang harus diberikan setiap jam bagi setiap penderita.
Sesudah 30 ml/kg cairan pertama diberikan , nadi radialis yang
kuat dapat teraba. Bila masih lemah dan cepat, infuse 30 ml/kg harus
diberikan lagi dalam waktu yang sama. Meskipun begitu hal ini jarang
dibutuhkan. Larutan oralit dalam jumlah kecil harus juga diberikan
melalui mulut (sekitar 5ml/kg BB per jam) segera setelah penderita
dapat minum, untuk memberi tambahan kalium dan basa. Hal ini biasa
dilakukan setelah 3-4 jam untuk bayi dan 1-2 jam untuk penderita
yang lebih besar.
4) Jalan masuk atau cara pemberian cairan

33

Rute pemberian cairan meliputi oral dan intravena. Larutan


oralit dengan komposisi berkisar 29 g glukosa, 3,5 g NaCl, 2,5 g
NaBik dan 1,5 g KCl stiap liternya diberikan per oral pada diare
ringan sebagai upaya pertama dan juga setelah rehidrasi inisial untuk
mempertahankan hidrasi.

2.Tata kerja terarah untuk mengidentifkasi penyebab infeksi.


Untuk mengetahui penyebab infeksi biasanya dihubungkan dengan dengan
keadaan klinis diare tetapi penyebab pasti dapat diketahui melalui
pemeriksaan biakan tinja disertai dengan pemeriksaan urine lengkap dan
tinja lengkap (Hasan, 2007).
Gangguan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa diperjelas
melalui pemeriksaan darah lengkap, analisa gas darah, elektrolit, ureum,
kreatinin dan BJ plasma.
Bila ada demam tinggi dan dicurigai adanya infeksi sistemik
pemeriksaan biakan empedu, Widal, preparat malaria serta serologi
Helicobacter jejuni sangat dianjurkan. Pemeriksaan khusus seperti serologi
amuba, jamur dan Rotavirus biasanya menyusul setelah melihat hasil
pemeriksaan penyaring (Hasan, 2007).
Secara klinis diare karena infeksi akut digolongkan sebagai berikut:

Koleriform, diare dengan tinja terutama terdiri atas cairan saja.

Disentriform, diare dengan tinja bercampur lendir kental dan


kadang-kadang darah.

2. Memberikan terapi simtomatik

34

Terapi simtomatik harus benar-benar dipertimbangkan kerugian dan


keuntungannya. Antimotilitas usus seperti Loperamid akan memperburuk
diare yang diakibatkan oleh bakteri entero-invasif karena memperpanjang
waktu kontak bakteri dengan epitel usus yang seyogyanya cepat
dieliminasi. (Pusponegoro, 2004).

3. Memberikan terapi definitif.


Terapi kausal dapat diberikan pada infeksi:
a. Kolera-eltor: Tetrasiklin atau Kotrimoksasol atau Kloramfenikol.
b. V. parahaemolyticus,E. coli, tidak memerluka terapi spesifik
c. A. aureus : Kloramfenikol
d. Salmonellosis: Ampisilin atau Kotrimoksasol atau golongan
Quinolon seperti Siprofloksasin
e. Shigellosis: Ampisilin atau Kloramfenikol
f. Helicobacter: Eritromisin
g. Amebiasis: Metronidazol atau Trinidazol atau Secnidazol
h. Giardiasis: Quinacrine atau Chloroquineitiform atau Metronidazol
i. Balantidiasis: Tetrasiklin
j. Candidiasis: Mycostatin
k. Virus: simtomatik dan support (Hasan, 2007)

35

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah M (2006). Perdarahan Saluran Cerna Bagian Bawah dan Perdarahan
Samar. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Jakarta: Bagian
Penyakit Dalam FKUI, pp: 295.
Ardhani punky, 2008, Art of Theraphy: Ilmu Penyakit Anak, Pustaka
Cendekia Press: Jogjakarta
Dib N, Oberti F, Cales P (2006). Current management of complications of portal
hypertension: variceal bleeding and ascites. CMA Media Inc. pp: 1433-43.
Hasan Rusepno et all, 2007, Ilmu Kesehatan Anak 1: cetakan ke 11,
Infomedika: Jakarta.
Hassan R, Alatas H (2007). Ilmu Kesehatan Anak, Buku Kuliah 2. Jakarta:
Price SA, Wilson LM (2007). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit 6th Edition. Jakarta: EGC, pp: 1332-1333.
Poorwo sumarso et all, 2003, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak: Infeksi &
Penyakit Tropis, Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Pusponegoro hardiyono et all, 2004, Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak:
edisi I, Ikatan Dokter Anak Indonesia.

36