Anda di halaman 1dari 2

Nama

: Marsha Maharani

NPM

: 1106059732

No. Tugas

:3

Tanggal

: 02 Oktober 2014

Underinvestment in College Education


Investasi terhadap manusia mulai menjadi fokus perhatian Amerika Serikat
ketika mereka melihat perkembangan Uni Soviet, dalam hal pertumbuhan ekonomi
dan pengembangan teknologi misil serta penjelajahan luar angkasa, lebih maju
daripada Amerika Serikat. Ketika mereka mengevaluasi kebijakan dan prosedur
terkait pertumbuhan ekonomi dan teknologi militer, mereka percaya bahwa mereka
terlalu sedikit mengeluarkan anggaran untuk pendidikan, terutama di tingkat sarjana
dan pascasarjana, tidak cukup menantangnya kurikulum pendidikan, serta
kurangnya pelajar yang mengambil konsentrasi teknik dan ilmu pengetahuan alam.
Gary Becker, dalam bukunya yang berjudul Human Capital, menjelaskan
tentang apakah terjadi underinvestment dalam pendidikan Amerika Serikat, terutama
di tingkat perguruan tinggi, serta bagaimana kontribusi dari lulusan universitas
terhadap pertumbuhan ekonomi dan teknologi militer. Konsep pertumbuhan ekonomi
dilihat dari besarnya pendapatan nasional dan perbandingan antara performa
ekonomi Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Untuk memberikan batasan dalam
konsep pertumbuhan ekonomi, Gary Becker tidak memasukkan pendapatan
nonmoneter, seperti sistem pemerintahan, budaya, dan sebagainya, ke dalam
perhitungan konsep pertumbuhan ekonomi.
Efek pendidikan terhadap perekonomian dapat dibagi menjadi dua, yaitu efek
terhadap pendapatan orang yang menerima pendidikan (private/direct effects) dan
efek terhadap pendapatan orang lain (social/indirect effects). Direct return dari
pendidikan dapat diestimasi dari tingkat pendapatan individu yang dikelompokkan
menurut tingkat pendidikan dan usianya sedangkan private costs dapat diestimasi
dari opportunity cost yang hilang karena memilih melanjutkan pendidikan ke tingkat
yang lebih tinggi. Jika pendidikan memberikan tingkat pengembalian yang lebih
tinggi daripada pengembalian di tangible capital, maka terbukti terjadi
underinvestment di tingkat perguruan tinggi.
Tingkat pengembalian yang relevan terhadap individu yang melanjutkan
pendidikannya ke perguruan tinggi disebut private rate, dihitung dari private returns
net of income taxes dan private costs. Pada tahun 1940, pendidikan memberikan
private rate sebesar 12,5 persen. Kemudian terjadi penurunan menjadi sebesar 10
persen pada tahun 1950. Perbedaan dari kedua rates ini disebabkan karena adanya
kenaikan pajak penghasilan perseorangan selama tahun 40-an. Tingkat
pengembalian pada periode 1940-1950 ternyata lebih besar daripada tingkat
pengembalian rata-rata pada tangible capital.

Walaupun tingkat pengembalian pendidikan lebih tinggi daripada tingkat


pengembalian tangible capital, Becker tidak memberikan keputusan akhir bahwa
apakah terjadi underinvestment di tingkat perguruan tinggi. Hal ini menurutnya
disebabkan oleh dua faktor. Faktor pertama, tingkat pengembalian seharusnya
dihitung berdasarkan total biaya kuliah, bukan hanya yang dibayarkan oleh
mahasiswa. Pada periode 1940-1950, mahasiswa hanya membayar 2/3 dari seluruh
biaya kuliah sehingga terjadi perbedaan antara tingkat pengembalian pada private
dan total costs. Faktor kedua, walaupun terjadi kenaikan pajak pada periode 19401950, private dan public subsidies untuk tingkat perguruan tinggi, mengalami
penurunan sebesar 3 persen. Tingkat pengembalian pada periode tersebut terlihat
tidak terlalu tinggi seperti sebelumnya dan masih memberikan pertanyaan apakah
tingkat pengembalian tersebut masih lebih tinggi dibandingkan tingkat pengembalian
di tangible capital.
Karena analisis mengenai direct returns tidak terlalu mengindikasikan adanya
underinvestment di pendidikan, maka Becker mengalihkan analisisnya pada indirect
returns. Saat terjadinya perang dingin, peran perguruan tinggi lebih difokuskan
terhadap spesialisasi di bidang ilmu alam atau ilmiah dibandingkan dengan bidang
lainnya. Hal ini mungkin akan menentukan apakah external returns dari spesialisasi
ilmiah terhadap perekonomian dan militer akan menyebabkan terjadinya
underinvestment pada perguruan tinggi. Jika direct returns untuk para ilmuwan tidak
lebih rendah dari direct returns untuk lulusan lain serta indirect returns terhadap
militer dan perekonomian dari ilmuwan bersifat penting, maka total pengembalian
kepada para ilmuwan akan lebih besar daripada pengembalian modal usaha. Hal ini
mengindikasikan adanya underinvestment terhadap ilmuwan dan bantuan
pemerintah.
Namun, terjadinya underinvestment terhadap para ilmuwan memperlihatkan
bahwa secara keseluruhan di tingkat perguruan tinggi hanya terjadi underinvestment
dalam ukuran yang kecil. Contohnya,pemerintah ingin menambah 50 persen jumlah
ilmuwan yang memiliki prospek untuk meningkatkan external returns. Tetapi 50
persen ilmuwan tersebut hanya merupakan 7 persen dari total lulusan perguruan
tinggi. Karena hal inilah dan juga kurangnya data yang ada, Becker tidak
memberikan kesimpulan yang jelas apakah terjadi underinvestment di tingkat
perguruan tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Becker, G. (1960, May). Underinvestment in College Education? The American
Economic Review, 50(2), 346-354.
Grafstein, R. (1984, May). Human Capital by Gary S. Becker. Journal of Business
Ethics, 3(2), 111-112.