Anda di halaman 1dari 23

Ê Ê

   


‘ Ê 

Anak sebetulnya telah nengalami kecemasan sejak bulan-bulan pertama dari


kehidupan, bahkan menurut beberapa sarjana, bayi sebelum lahir sudah mengalami
kecemasan. Akan tetapi manifestasi dari kecemasan ini sering kali tidak dimengerti oleh
orang dewasa. Kecemasan dialami oleh setiap anak dalam setiap fase perkembangannya.
Oleh sebab itu gangguan mental emosionil pada anak lebih sering terdapat daripada orang
dewasa serta variasinya juga lebih banyak. Seorang anak tidak bisa dianggap sebagai
seorang dewasa kecil. Pada umumnya dalam perkembangannya kearah kedewasaan anak
melalui beberapa fase perkembangan yang tertentu.Dalam setiap fase perkembangan
terjadi kecemasan yang tertentu dan yang bersifat spesifik untuk fase tersebut.

Kepribadian dan situasi saling berinteraksi mempengaruhi perilaku dalam sebuah


konteks sosial. Seseorang mengekspresikan kepribadiannya dengan cara yang berbeda di
dalam situasi-situasi yang berbeda. Ini merupakan sebuah teori lama. Ide baru yang
dilontarkan oleh para ahli pendekatan interaksi individu-situasi adalah bahwa pendekatan
ini secara eksplisit berusaha mempertimbangkan situasi sosial. ³Sebuah kepribadian tidak
pernah bisa diisolasikan dari kompleks relasi-relasi antarpribadi yang didalamnya dia
tinggal dan membuat keberadaannya menjadi demikian´. Sullivan menegaskan bahwa
pengetahuan tentang kepribadian manusia bias dicapai hanya melalui studi ilmiah tentang
hubungan-hubungan antarpribadi. Karena itulah, teori intrpersonal Sullivan menekankan
pentingnya beragam tahap perkembangan. Perkembangan manusia yang sehat terletak di
atas kemampuan sebuah pribadi untuk membangun keintiman dengan pribadi lain namun,
sayangnya, kecemasan bias lahir dari hubungan-hubungan antarpribasi yang tidak
memuaskan di usia berapa pun.

Menurut Sullivan, tahap perkembangan kepribadian yang paling krusial


sesungguhnya bukan pada masa kanak-kanak awal, melainkan pada masa pra remaja.

c
Sullivan percaya bahwa manusia dapat mencapai perkembangan yang sehat mereka
sanggup mengalami keintiman sekaligus hawa nafsu terhadap pribadi lain yang sama.

Ironisnya, hubungan Sullivan sendiri dengan orang lain jarang yang memuaskan
dirinya. Sebagai seorang anak, dia sering merasa kesepian dan secara fisik dikucilkan.
Ketika remaja, dia menderita minimal satu episode skizofrenik. Dan ketika dewasa, dia
mengalami hanya hubungan-hubungan antarpribadi yang dibuat-buat dan ambivalen.
Meskipun begitu, bahkan mungkin karena kesulitan-kesulitan hubungan antarpribadi ini,
Sullivan memberikan banyak kontribusi bagi kita untuk memahami kepribadian manusia.

Ý
Ê Ê

Ê   


‘ Ê      

marry Stack Sullivan lahir di kota pertanian kecil Norwich dekat New York pada
21 Februari 1892. Ia merupakan satu-satunya anak yang masih hidup dari orangtua
Katolik Irlandia yang miskin. Ibunya, Ella Stack Sullivan berusia 32 tahun ketika
menikah dengan Timothy Sullivan dan melahirkan marry pada usia 39 tahun. Ayahnya
adalah seorang laki-laki pemalu, menarik diri, dan perndiam yang tidak pernah
berhubungan akrab dengan marry sampai istrinya meninggal dan marry sudah menjadi
seorang dokter. Sewaktu kecil, Sullivan diasuh oleh nenenknya ketika ibunya pergi
secara misterius. Pada tahun 1911 ia masuk ke P  P  
    
 dan menyelesaikan studi kedokterannya pada tahun 1915 namun ia tidak
mendapatkan gelarnya dikarenakan ia belum membayar uang kuliah dan belum
menghabiskan semua mata kuliah dan masih harus menjalani kuliah praktik.

Pada tahun 1921, Sullivan bekerja di Rumah Sakit St. Elizabeth di Washington,
D.C dan berhenti pada tahun 1930. Lalu, Sullivan pindah ke New York City dan
membuka praktik pribadi, berharap dapat menambah pengertiannya tentang hubungan-
hubungan antarpribadi dengan menenliti gangguan-gangguan yang bukan skizofrenik,
khususnya mereka yang memiliki sifat obsesif. Selama tinggal di New York, Sullivan
dipercaya menjadi presiden pertama yayasan dan menjadi editor jurnal  . Pada
Januari 1949, Sullivanmenghadiri pertemuan     
    di
Amsterdam. Ketika dalam perjalanan pulangnya, 14 Januari 1949, ia meninggal karena
pembuluh otaknya pecah di sebuah kamar hotel di Paris, beberapa minggu setelah ulang
tahunnya yang ke 57.


Ý
‘     

Sullivan berkali -kali menegaskan bahwa kepribadian adalah suatu entitas atau
kesatuan hipotetis belaka ³ suatu ilusi ³ yang tidak dapat diobservasi atau diteliti terlepas
dari situasi-situasi antarpribadi, yang menjadi unit penelitian adalah antarpribadi dan
bukan orangnya. Organisasi kepribadian terdiri dari peristiwa-peristiwa antarpribadi, dan
bukan peristiwa-peristwa intrapsikis, kepribadian hanya memanifestasikan dirinya ketika
orang bertingkah laku dalam hubungan dengan salah seorang atau beberapa individu lain.
Meskipun Sullivan mengakui bahwa kepribadian hanya berstatus hipotetis, namun ia
menegaskan bahwa kepribadian merupakan pusat dinamik dari berbagai proses yang
terjadi dalam serangkaian medan antarpribadi.

Kontribusi utama Sullivan bagi teori kepribadian adalah konsepsinya tentang


tahap-tahap perkembangan. Selain itu, Sullivan juga memaparkan beberapa terminologi
yang berhubungan dengan teori interpersonalnya.


‘ Ê Ê     

Seperti Freud dan Jung, Sullivan melihat kepribadian sebagai sebuah system
energi. Energi dapat eksis sebagai tegangan ataupun sebagai aksi itu sendiri.
Transformasi-transformasi energi itu sendiri akan mengubah berbagai tegangan menjadi
perilaku tersembunyi maupun terang-terangan, dan dimaksudkan untuk memuaskan
kebutuhan-kebutuhan dan mereduksi kecemasan.  adalah sebuah potensialitas
untuk bertindak yang dapat atau tidak dialami dalam kesadaran. Karena itu, tidak semua
tegangan bias dirasakan secara sadar. Banyak tegangan seperti kecemasan, perasaan,
kelelahan, rasa lapar, dan kepuasan seksual, dirasakan namun tidak selalu di tingkatan
sadar. Malah faktanya semua tegangan yang dirasakan sekurang-kurangnya merupakan
hasil dari distorsi-distorsi parsial terhadap realitas. Sullivan menemukan dua tipe
tegangan, yaitu :



‘ Ê  

  adalah tegangan-tegangan yang dihasilkan oleh ketidakseimbangan


biologis antara seseorang dan lingkungan fisiokimianya, baik di dalam maupun di luar
organisme. Kebutuhan-kebutuhan bersifat episodik ± sekali terpuaskan, secara temporer
kehilangan kekuasaannya namun, setelah sejumlah waktu akan muncul lagi. Meskipun
kebutuhan awalnya memiliki komponen biologis namun, banyak darinya hadir dalam
situasi hubungan antarpribadi.

Kebutuhan antarpribadi yang paling mendasar adalah Y . Tidak seperti


kebutuhan lain, kelembutan mengisyaratkan tindakan-tindakan dari sekurang-kurangnya
dua orang. Contohnya, kebutuhan bayi untuk menerima kelembutan bisa diekspresikan
sebagai tangisan, senyuman, atau mendekut, sementara kebutuhan ibu untuk memberikan
kelembutan bisa diubah menjadi sentuhan, timang-timang, atau pelukan.

!" adalah kebutuhan umum karena dia berkaitan dengan seluruh


perasaan kesejahteraan seseorang. Kebutuhan-kebutuhan umum ini, yang meliputi juga
oksigen, makanan, dan air, berkebalikan dengan kebutuhan-kebutuhan zonal, yang
muncul dari zona-zona tubuh tertentu. Beberapa zona tubuh merupakan instrumen untuk
memuaskan kebutuhan umum maupun kebutuhan zonal. Di kehidupannya yang paling
dini, beragam zona tubuh mulai memainkan peran yang signifikan dan kekal dalam
hubungan antarpribadi. Ketika memuaskan kebutuhan-kebutuhan umum akan makanan,
air, dan lain-lain itu, bayi menghabiskan banyak energi lebih yang dibutuhkan, dan energi
yang berlebih-lebihan ini ditransformasikan menjadi mode-mode karakteristik perilaku
yang konsisten, yang disebut Sullivan sebagai  


‘ #"$

Tipe tegangan kedua adalah Y . Berbeda dari tegangan-tegangan


kebutuhan, yaitu bahwa yang kedua lebih berjarak dari yang pertama, lebih bercampur
aduk, dan tidak memerlukan tindakan-tindakan konsisten untuk meredakannya. Sullivan
merumuskan bahwa kecemasan ditransfer melalui orangtua kepada bayinya lewat proses
empaty. Tanda-tanda kecemasan atau rasa tidak aman apa pun kebanyakan disambut oleh

Ã
upaya orangtua untuk memuaskan kebutuhan bayi mereka. contohnya, seorang ibu
member makan bayinya yang menangis karena cemas, karena keliru mengartikan rasa
cemas itu dengan rasa lapar. Jika bayi enggan menerima susu, maka ibu mungkin akan
menjadi lebih cemas lagi pada bayinya. Akhirnya, kecemasan bayi menjadi mencapai
sebuah tingkatan yang bercampur aduk dengan aktifitas mengisap dan menelan. Dengan
kata lain, kecemasan beroperasi terbalik dengan tegangan-tegangan kebutuhan dan
mencegah agar kebutuhan-kebutuhan tidak terpuaskan.

Kecemasan juga memiliki efek pelenyapan pada orang dewasa. Ini adalah daya
pemecah belah utama yang menghalangi perkembangan hubungan-hubungan antarpribadi
yang sehat. Sullivan menggambarkan kecemasan seperti sebuah ledakan di dalam kepala,
membuat manusia tidak sanggup belajar, memperbaiki ingatan, memfokuskan persepsi,
bahkan mungkin bias terjerumus ke dalam amnesia total. Namun, di antara tegangan-
tegangan itu kecemasan mempertahankan status quo bahkan terhadap semua kerusakan
yang sudah dialami manusia. Jika tegangan lain menghasilkan tindakan-tindakan yang
secara khusus mengarah kepada pembebasan, maka kecemasan menghasilkan perilaku-
perilaku yang mencegah manusia belajar dari kesalahan-kesalahan mereka,
mempertahankan agar mereka terus mengejar harapan kanak-kanak terhadap rasa aman,
dan umumnya memastikan agar manusia tidak akan pernah bisa belajar dari pengalaman-
pengalaman mereka.

Sullivan menekankan bahwa rasa cemas dan kesepian adalah keunikan di antara
segala pengalaman, yaitu pengalaman ini benar-benar tidak diinginkan dan diharapkan.
Karena rasa cemas itu sangat menyakitkan, manusia memiliki kecenderungan secara
alamiah untuk menghindarinya, secara inheren menyukai kondisi euphoria, atau
penghilangan tegangan secara total. Sullivan juga membedakan antara rasa cemas dan
rasa takut. $#"$ biasanya berasal dari situasi-situasi hubungan antarpribadi yang
kompleks, hadir dalam kesadaran walau hanya samar-samar, dan tidak mempunyai nilai
positif. Rasa cemas juga dapat menghalangi pemuasan kebutuhan seseorang. Apabila
kecemasan ditransformsikan terhadap tegangan, barulah ia dapat menghasilkan tindakan-
tindakan yang bisa ditangani. Sedangkan $ % adalah lebih bias dibedakan, asal-

{
usulnya lebih mudah ditemukan daripada rasa cemas, dan membantu manusia dalam
memenuihi kebutuhannya.

Ê
‘ Ê Ê   

Transformasi-transformasi energi menjadi terorganisasikan sebagai pola-pola


tingkah laku tipikal yang mencirikan perilaku seseirang disepanjang hidup mereka.
Sullivan menyebut pola-pola perilaku ini dinamisme, mrupakan pola tingkah laku yang
menetap dan berulang-ulang sehingga bias dikatakan sebagai suatu kebiasaan.
Dinamisme memiliki dua kelas utama, yaitu yang pertama kelas yang terkait dengan
zona-zona spesifik tubuh, dan yang kedua kelas yang terkait dengan tegangan-tegangan.
Kelas kedua ini terdiri atas tiga kategori, yaitu :


‘ $&$'"$ (

Merupakan perilaku-perilaku merusak yang berhubungan dengan dendam


(malevolence). ))" adalah dinamisme yang ditandai dengan kejahatan dan
kebencian, dicirikan oleh persaan seperti hidup di tengah-tengah musuh. Rasa dendam
berasal dari pengalaman buruk yang dirasakan anak pada usia 2-3 tahun saat tindakan-
tindakan anak yang mengharapkan kelembutan ibu ditolak, diabaikan, atau berhadapan
dengan rasa cemas,dan rasa sakit. Dinamisme ini juga bias diakibatkan ketika orangtua
berusaha mengontrol perilaku anak dengan rasa sakit fisik atau tuntutan bagi pembuktian,
beberapa anak mulai mengadopsi perilaku dendam demi mempertahankan dan
melindungi diri mereka ekspresi kelembutan. Bentuk dinamisme kedendaman ini dapat
juga diekspresikan melalui tindakan kecemasan, pemalu, kenakalan, bentuk-bentuk
perilaku social atau antisocial.


‘ $*!

Merupakan pola-pola perilaku yang tidak berkaitan dengan interpersonal seperti


nafsu (lust). +$ adalah sebuah kecenderungan untuk mengasingkan diri, tidak

6
membutuhkan orang lain untuk pemuasannya. Dia memanifestasikan dirinya sebagai
perilaku autoerotic, walaupun melibatkan orang lain sebagai objeknya. Dinamisme ini
muncul pada saat remaja, sering disalah artikan sebagai ketertarikan seksual. Nafsu juga
seringkali mendorong remaja melakukan tindakan-tindakan yang ditentang oleh orang
lain, yang semakin meningkatkan rasa cemas dan menurunkan perasaan harga diri. Selain
itu, nafsu juga sering kali menghindari hubungan intim, khususnya selama masa remaja
awal ketika masih mudah bercampur aduk dengan ketertarikan sosial.

#
‘ *&+

Merupakan pola-pola perilaku yang member manfaat kepada individu, seperti


keintiman ( intimacy ) dan sistem diri ( self system ). Keintiman berkembang dari
hubungan penuh kelembutan mencakup hubungan interpersonal yang erat diantara dua
orang yang posisinya setara. Keintiman tidak boleh dicampuradukkan dengan
ketertarikan seksual. Bahkan pada kenyatannya, keintiman ini sudah mulai berkembang
menjelang masa puberitas diantara dua orang anak yang menilai temannya itu setara
dengan dirinya. Dinamisme ini jarang terjadi dalam hubungan anak dan orangtua, kecuali
ketika sang anak sudah dewasa dan melihat satu sama lain itu setara. "
merupakan sebuah dinamisme yang menyatukan yang cenderung menyimpulkan reaksi-
reaksi cinta dari orang lain sehinnga dapat menurunkan tingkat kecemasan dan kesepian,
hal ini menjadi sebuah pengalaman berharga yang banyak diinginkan orang yang sehat.

!+ $,$" merupakan pola perilaku yang paling kompleks dan komprehensif,
sebuah pola perilaku yang konsisten dalam memelihara rasa aman interpersonal
seseorang dan melindungi dirinya dari kecemasan. Dinamisme ini muncul lebih awal dari
keintiman yaitu sekitar usia 12-18 bulan ketika sang anak mengembangkan intelegensia
dan pempresiksian, mereka mulai belajar perilaku mana yang akan menimbulkan atau
menurunkan kecemasan. Kemampuan ini menyediakan bagi sistem diri peranti
peringatan yang sudah terbangun dalam tubuhnya yang dapat berfungsi sebagai sinyal,
memperingatkan individu bila ada pengalaman interpersonal yang mengancam keamanan
diri dan akan menimbulkan kecemasan. Ketika dinamisme ini berkembang, manusia
mulai membentuk sebuah gambaran tentang dirinya. Karena itu, seseorang akan langsung

~
menyangkal atau mengubah pengalaman interpersonalnya apabila hal itu bertentangan
dengan harga dirinya dan ia akan langsung mengartikan hal tersebut sebagai sesuatu yang
mengancam rasa aman mereka. karena tugas utama sistem diri adalah melindungi
individu dari kecemasan, sebagai konsekuensinya, individu berusaha
mempertahankannya melalui pengoperasian rasa aman yang bertujuan untuk mengurangi
perasaan-perasaan tidak aman atau kecemasan yang dihasilkan dari kepercayaan diri yang
terancam bahaya. Ada dua pengoperasian rasa aman yang terpenting, yaitu :

Ñ V   

Mecakup impuls-impuls, hasrat-hasrat, dan kebutuhan-kebutuhan yang ditolak


untuk masuk kedalam kesadaran. Pengalaman terus mempengaruhi kepribadian di tingkat
bawah sadar seperti gambaran diri dalam mimpi, mimpi di siang bolong, dan aktifitas
yang tidak direncanakan lainnya yang berada di luar kesadaran dan diarahkan untuk
mempertahankan rasa aman interpersonal.

Ñ æ    
  

Merupakan sebuah bentuk penolakan dari seorang individu untuk melihat sesuatu
yang tidak ingin dilihatnya. mal ini berbeda dari disosiasi, hal ini lebih bersumber kepada
seberapa jauh usaha dari kita sendiri untuk tidak mengingat pengalaman yang tidak
konsisten dengan sistem diri kita. Sebagai contohnya, kita melupakan bahwa kita pernah
melakukan sebuah kenakalan.


‘ Ê Ê    

Merupakan suatu gambaran yang dimiliki individu tentang dirinya sendiri atau
orang lain. Personifikasi adalah perasaan, sikap, dan konsepsi kompleks yang timbul
karena mengalami kepuasan kebutuhan atau kecemasan. Sullivan melukiskan tiga
personifikasi dasar yang berkembang selama masa bayi, yaitu :

•

‘ - .Ê%'Ê)* .**)* (

Personifikasi ibu jahat tumbuh dari pengalaman-pengalaman bayi yang berkaitan


dengan proses penerimaan makanan yang tidak memuaskan dan bias tertuju kepada ibu,
pengasuh, ayah, atau semua orang yang terlibat dalam situasi perawatan. Sedangkan bayi
akan merasakan personifikasi ibu baik ketika sang bayi mendapatkan perlakuan yang
baik seperti kelembutan, kehangatan, juga ketenangan saat proses penerimaan makanan.
Kedua personifikasi ini akan berkombinasi membentuk sebuah personifikasi yang
kompleks yang terdiri atas pengontrasan kualitas-kualitas yang diproyeksikan kepada
satu pribadi yang sama. Sullivan mengatakan, walaupun sang bayi telah mengembangkan
bahasa, kedua gambaran ibu yang bertentangan ini dapat hadir bersamaan dengan mudah.


‘ $*+%$ %'$*+#*$(

Selama periode pertengahan masa bayi, seorang anak memerlukan tiga


personifikasi aku yang membentuk blok-blok bangunan personifikasi diri. Setiap
personifikasi berkaitan untuk memunculkan konsepsi tentang ³aku´ atau ³tubuhku´.
$*+%$ %/&  tumbuh dari pengalaman-pengalaman dihukum dan tidak
disetujui yang diterima bayi dari ibu-pengasuh mereka. kecemasan yang dihasilkan cukup
kuat untuk mengajarkan bayi bahwa mereka jahat. Namun, tidak begitu jahat untuk
menyebabkan pengalaman dijarakkan atau tidak dipedulikan. Seperti porsonifikasi yang
lain, personifikasi ini juga dibentuk dari situasi interpersonal, yaitu bayi dapat belajar
bahwa mereka jahat hanya dari seseorang yang lain, biasanya dari ibu-jahat.
$*+%$ %/% dihasilkan dari pengalaman bayi dengan penghargaan dan
persetujuan. Bayi merasa baik-baik saja dengan diri mereka ketika dapat mengalami
ekspresi kelembutan ibu. Pengalaman ini dapat menghilangkan kecemasan dan
mengbangkitkan personifikasi aku-baik. Namun, kecemasan berat yang muncul tiba-tiba
dapat menyebabkan bayi membentuk 0$*+%$%/%
Personifikasi bukan-aku
ini juga dapat dialami oleh orang dewasa dan diekspresikan dalam mimpi, dan reaksi-
reaksi penjarakkan lainnya. Sullivan percaya bahwa pengalaman-pengalaman

c
menakutkan ini selalu didahului oleh sebuah peringatan. Ketika orang dewasa terpukul
oleh kecemasan berat yang mendadak, mereka pun dikuasai oleh emosi yang msiterius.
Meskipun manusia mengalami ketidakmampuan dalam hubungan interpersonal mereka,
emosi misterius masih bias berfungsi sebagai sinyal yang baeharga untuk mendekati
reaksi-reaksi skizofrenik. Emosi yang misterius bias juga dialami dalam mimpi.


‘ Ê Ê      

Kognisi atau pengetahuan dalam hubungannya dengan kepribadian dibagi


menjadi tiga tingkatan oleh Sullivan. Tingkatan-tingkatan ini mengacu kepada cara-cara
mengamati, membayangkan, dan memahami.


‘ %**%$$

Merupakan sebuah rangakaian suatu keadaan yang terpisah-pisah dari organisme


yang melakukan penginderaan. Pada bayi yang baru lahir, akan merasa lapar dan sakit,
dan pengalaman-pengalaman prototaksis ini menghasilkan tindakan yang bias diamati,
seperti mengisap atau menangis. Sebagai pengalaman yang tidak terbedakan, peristiwa-
peristiwa prototaksi melampaui kemampuan kesadaran kita untuk mengingatnya kembali.
Pada orang dewasa, pengalaman-pengalaman prototaksi mengambil bentuk sensasi-
sensasi, imajinasi, perasaan, suasana hati, dan impresi-impresi sesaat. Imaji-imaji
primitive mimpi dan kesadaran akan hidup semacam ini hanya bisa dipahami samar-
samar, bahkan mungkin tenggelam sepenuhnya di alam bawah sadarnya. Meskipun
manusia tidak sanggup mengomunikasikan gambaran-gambaran ini kepada orang lain,
namun, terkadang mereka dapat menceritakan kepada orang lain bahwa mereka baru saja
mengalami suatu sensasi yang aneh yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.


‘ %%$$

Merupakan pengalaman-pengalaman yang bersifat pralogis dan biasanya muncul


ketika seseorang mengasumsikan sebuah hubungan kausal; penyebab dan efek; antara

cc
dua peristiwa yang kebetulan muncul bersamaan. Kognisi-kognisi parataksis lebih bias
dibedakan daripada prototaksis namun, pemaknaan mereka masih pribadi. Karena itu,
kognisi-kognisi ini dapat dikomunikasikan dengan orang lain hanya dalam bentuk yang
sudah didistorsi. Contohnya seperti ketika seorang anak dikondisikan untuk berkata
³tolong´ agar dapat memperoleh permen. Jika kata-kata ³permen´ dan ³tolong´ muncul
bersamaan beberapa kali, maka anak pada akhirnya sang anak akan menyimpulkan
bahwa permintaannya itulah yang menyebabkan kemunculan permen yang merupakan
sebuah distorsi parataksis, bahwa hubungan kausal hadir di antara dua peristiwa yang
hadir hampir secara berturut-turut. Namun, kata ³tolong´ bukanlah penyebab kemunculan
permen. Sebuah pribadi yang penuh pengertian harus hadir lebih dulu untuk mendengar
kata-kata itu, dan dia juga harus sanggup dan bersedia menghargai permintaan itu.
Perilaku-perilaku yang baik dari orang dewasa bisa juga muncul dari pola pikir parataksis
semacam ini. Sullivan yakin bahwa pemikiran kita tidak pernah beranjak dari tingkat
parataksis, bahwa kita melihat hubungan kausal antara pengalaman-pengalaman dimana
pengalaman yang satu tidak ada kaitannya dengan pengalaman yang lain.

#
‘ %%$$

Merupakan pengalaman-pengalaman konsensual yang valid dan yang dapat


dikomunikasikan secara akurat kepada orang lain. Simbol yang paling umum yang
digunakan seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain adalah simbol-simbol yang
bersifat verbal. Sullivan mengatakan tingkatan sintaksis kognisi menjadi semakin
mendominasi ketika anak mulai mengembangkan bahasa formal. Namun begitu,
dominasi ini tidak pernah menghilangkan kognisi prototaksis yang muncul sebelumnya.
Pengalaman orang dewasa berlangsung di ketiga tahapan kognisi ini.


‘  /   Ê  

Menurut Sullivan, kepribadian berkembang dalam tahap-tahap perkembangan


tertentu. Ancaman bagi hubungan interpersonal berlangsung di seluruh tahapan ini, dan
kehadiran orang lain tidak bisa dilepaskan dari perkembangan seseorang sejak masa bayi


sampai dewasa. Sullivan berhipotesis bahwa, ³ ketika seseorang melewati salah satu dari
ambang-ambang yang kurang lebih tertentu dari suatu era perkembangan, segala sesuatu
yang sudah pergi sebelumnya bisa menjadi terbuka secara masuk akal kepada pengaruh-
pengaruh. Ada tujuh tahapan perkembangan yaitu :


‘ +#,'$Ê,(

Masa ini dimulai dari kelahiran sampai anak dapat mengembangkan ujaran yang
tersrtikulasikan, biasanya sekitar 18 sampai 24 bulan. Sullivan yakin bahwa bayi dapat
menjadi manusia melalui kelembutan yang diterimanya dari ibu-pengasuh. Bayi tidak
dapat bertahan tanpa ibu-pengasuh yang menyediakan makanan, perlindungan,
kehangatan, kontak fisik, dan membersihkan kotorannya. Namun, hubungan empatik
antara ibu dan bayi selalu membawa dampak bagi perkembangan rasa cemas bayi.
Kecemasan sang ibu dapat timbul dari kecemasan yang sudah dia pelajari sebelumnya,
namun kecemasan sang bayi selalu berkaitan dengan situasi pengasuhan dan zona oral.
Perilaku bayi untuk menyuarakan apa yang dialaminya tidak cukup kuat untuk mengatasi
rasa cemasnya. Jadi, kapanpun bayi merasa cemas, mereka akan mengusahakan apapun
untuk bisa mereduksi kecemasannya itu. Sullivan menyatakan, pada akhirnya, bayi
memilah-milah antara sesuatu yang berkaitan dengan euphoria relative dalam proses
pemberian makan dan kecemasan yang selalu mengancam dan tidak bisa diatasi.
Terkadang, sang ibu salah mengartikan kecemasan sang bayi yang diekspresikannya
lewat tangisan menjadi rasa lapar sehingga sang ibu member makan sang bayi. Situasi
yang berlawanan ini akan memengaruhi kemampuan antara sang ibu dan bayi untuk
bekerja sama. Tegangan yang memuncak ini akan membuat bayi kehilangan
kemampuannya untuk menerima kepuasan dan akan mengalami kesulitan bernapas
sehingga wajahnya membiru. Namun, perlindungan yang sudah terpasang dalam dirinya
yang dapat mencegah bayi dari kematian. Perlindungan ini membiarkan bayi tertidur
meskipun perutnya terasa lapar.

Saat menerima makanan bayi juga memuaskan kebutuhannya akan kelembutan.


Kelembutan yang diterimabayi pada saat itu, membantu pegasuh dalam memperkenalkan
bayi kepada beragam strategi yang diperlukan dalam situasi hubungan interpersonal. Di

c
sekitar pertengahan masa ini bayi mulai belajar bagaimana berkomunikasi lewat bahasa.
Periode masa bayi ini dicirikan oleh bahasa autistic, yaitu bahasa pribadi yang sedikit
memahami kepribadian orang lain bahkan tidak sama sekali. Permulaan bahasa sintaksis
dan akhir dari masa bayi ditandai dengan komunikasi yang dilakukan oleh bayi yang
berlangsung dalam bentuk ekspresi wajah dan suara dari beragam fenomena sampai pada
akhirnya gerak-gerik tubuh dan suara ucapan memiliki makna yang sama bagi bayi dan
orang dewasa.

Ê
‘ $ / %' !) **)(

Dimulai dengan kedatangan bahasa sintaksis dan terus berlanjut sampai


kemunculan kebutuhan akan rekan bermain yang statusnya setara, biasanya sekitar 2
sampai 6 tahun. Personifikasi ganda ibu hilang dan perspeksi anak tentag ibu lebih
kongruen dengan fakta ibu yang riil. Namun, peraonifikasi ibu-baik dan ibu-jahat tetap
ada. Pada tahap ini anak juga sudah mulai bisa membedakan beragam orang yang
sebelumnya membentuk konsep mereka tentang ibu-pengasuh, sehingga sekarang mereka
dapat membedakan ibu dan ayah dan melihat bahwa masing-masing memiliki peran yang
berbeda. Anak juga mulia membangun bahasa sintaksis dimana mereka harus melabeli
perilaku baik atau jahat dengan mengimitasi orangtua mereka lebih dulu. Perilaku baik
dan jahat pada tahap ini dioengaruhi oleh nilai sosial dan tidak lagimengacu pada hadir-
tidaknya tegangan menyakitkan atau kecemasan.

Selama masa kanak-kanak, emosi menjadi timbal-balik. mubungan antaraa ibu


dan anak menjadi lebih pribadi dan tidak terlalu satu-sisi lagi. Bukannya melihat ibu
sebagai baik atau jahat berdasarkan bagaimana dia memuaskan rasa lapar, anak mulai
mengevaluasi ibu secara sintaksis berdasarkan apakah ibu menunjukkan perasaan lembut
yang timbal-balik padanya dan mengembangkan sebuah hubungan berdasarkan pemuasan
mutualistik kebutuhan-kebutuhan mereka berdua, ataukah ibu menunjukkan perilaku
penolakan. Selain orangtua, anak-anak yang berusia prasekolah seringkali memiliki
hubungan segnifikan yang lain ± seorang teman bermain imajiner. Teman iedetik ini
memampukan anak memiliki hubungan yang aman dan nyaman yang menghasilkan
sedikit saja rasa cemas. Orang dewasa kadang-kadang mengamati anak-anak yang

c
berusia prasekolah bercakap-cakap dengan teman imajiner itu, memanggilnya dengan
nama tertentu, bahkan mungkinmendesak orangtuanya untuk menyediakan tempat
tambahan di meja makan atau mobil atau tempat tidur untuknya. Selain itu, banyak orang
dewasa dapat mengingat pengalaman-pengalaman kanak-kanak mereka sendiri dengan
teman-teman bermain imajiner.

Sullivan menekankan bahwa memiliki teman imajiner bukan tanda


ketidakstabilan atau patologis, melainkan peristiwa positif yang dapat membantu anak-
anak menjadi siap untuk menjalin keintiman dengan teman yang riil selama tahap
praremaja nanti. Teman-teman bermain ini menawarkan sebuah kesempatan untuk
berinteraksi dengan pribadi lain yang membuat mereka merasa aman dan tidak akan
meningkatkan tingkat kecemasan mereka. hubungan yang nyaman dan tidak mengancam
dengan teman bermain imajiner mengizinkan anak untuk menjadi lebih independen dari
orangtua dan menjalin hubungan akrab dengan teman-temannya di dunia nyata paad
tahun-tahun berikutnya. Sullivan juga menyebutkan masa kanak-kanak sebagai periode
akulturasi yang cepat. Selain menguasai bahasa, anak-anak juga belajar pola-pola budaya
kebersihan dan peran yang diharapkan dari setiap jenis kelamin. Mereka juga belajar dua
proses penting, yaitu  adalah upaya bertindak atau bersuara seperti figure-
figur otoritas yang signifikan, dan YY adalah strategi untuk menghindari situasi-
situasi yang memunculkan rasa cemas dan rasa takut dengan tetap sibuk dengan aktivitas-
aktivitas sebelumnya yang sudah terbukti berguna atau dihargai.

Perilaku dendam mencapai puncaknya selama usai sekolah ini, memberikan


kepada anak sebuah perasaan mendalam hidup dalam kebencian atau negeri musuh. Pada
waktu yang sama, anak-anak juga belajar bahwa masyarakat sudah menenpatkan batasan-
batasan tertentu bagi kebebasan mereka. dari batasan-batasan ini dan dari prngalaman-
pengalaman dengan persetujuan dan perlarangan, anak lalu mengembangkan dinamisme-
siri mereka, yang membantu mereka menangani rasa cemas dan menstabilkan
kepribadian mereka. namun jika terlalu banyak mengenal stabolitas, sistem-diri akan sulit
membuat perubahan-perubahan ke depan.



‘ $ %)'-1!(

Masa anak muda dimulai dengan kemunculan kebutuhan akan teman sebaya atau
teman bermain yang status dan tujuannya sama ketika seorang anak menemukan seorang
teman karib untuk memuaskan kebutuhannya akan keintiman. Tahap ini pada umumnya
ketika anak berusia 6 sampai 81/2 tahun. Selama tahap anak muda, Sullivan yakin seorang
anak belajar berkompetisi yang dapat ditemukan diantara anak-anak meskipun beragam
latar belakang budayanya. Selain itu, anak juga belajar untuk berkompromi dan juga kerja
sama yang mencakup semua proses yang dibutuhkan untuk bisa berjalan bersama orang
lain. Anak di masa anak muda harus belajar bekerja sam dengan orang lain di dunia
hubungan interpersonal yang nyata.

Selama masa anak muda, anak-anak berkumpul dengan anak-anak lain yang
posisinya setara. mubungan satu-satu masih jarang, tetapi andaipun sudah ada, hubungan
ini lebih didasarkan kepada rasa nyaman daripada keintiman sejati. Anak laki-laki dan
perempuan bermain satu sama lain tanpa memperhitungkan perbedaan gender di antara
mereka. meskipun hubungan diadik permanen baru akan terjai di depan, namun, anak-
anak di usia ini mulai membuat pemilahan di antara mereka sendiri dan dari orang
dewasa. Mereka melihat guru yang satu lebih lembut daripada yang lain, orangtua yang
satu lebih lunak daripada yang lain. Dunia nyata semakin menjadi focus perhatian,
mengizinkan mereka untuk beroperasi semakin besar di tingkatan sintaksis.

Di akhir tahap anak muda, seorang anak mestinya mengembangkan sebuah


orientasi menuju kehidupan yang membuatnya lebih mudah untuk menangani secara
konsisten rasa cemas, memuaskan kebutuhan zonal, dan kelembutan, dan menetapkan
tujuan-tujuan yang didasarkan kepada memori dan prediksi. S  Y  
ini mempersiapkan pribadi untuk menjalin hubungan antarpribadi yang lebih dalam ke
depan.

c{

‘ $"&')*!$##(

Masa praremaja dimulai pada usia 81/2 sampai 13 tahun. Karakteristik praremaja
yang utama adalah terbentuknya kemampuan untuk mengasihi. Sebelumnya, semua
hubungan antarpribadi didasarkan hanya kepada pemuasan kebutuhan personal namun,
selama masa praremaja, keintiman, dan kasih menjadi esensi persahabatan, keintiman
melibatkan sebuah hubungan yang di dalamnya dua rekanan menvalidkan secara
konsensual nilai pribadi satu sama lain. Kasih ini hadir saat kepuasan atau rasa aman
pribadi lain menjadi sama signifikannya dengan kepuasan atau rasa aman dirinya.

mubungan intim praremaja biasanya melibatkan pribadi lain dari jenis kelamin
yang sama dan kira-kira juga dengan usia atau status social yang sama. Mengidolakan
guru atau bintang film bukanlah hubungan intim karena bukan hubungan konsensual
yang valid. mubungan-hubungan signifikan usia ini tipikalnya berbentuk persahabatan
anak laki-laki dengan anak laki-laki, dan anak perempuan dengan anak perempuan.
Berusaha disukai rekan sebaya lebih penting bagi anak-anak praremaja daripada disukai
guru atau orangtua. Persahabatan sanggup mengekspresikan dengan bebas opini-opini
dan emosi-emosi satu samalain tanpa takut direndahkan atau dipermalukan. Pertukaran
bebas pikiran dan perasaan pribadi ini menginisasi praremaja ke dalam dunia keintiman.
Setiap persahabatn menjadi manusiawi sepenuhnya, mengalami perluasan kepribadian,
dan mengambangkan ketertarikan lebih luas pada kemanusiaan semua orang.

Sullivan percaya bahwa masa praremaja adalah masa hidup yang paling tidak
terganggu dan bebas. Figure orangtua masih signifikan, meskipun sekarang mereka
dilihat dalam cahaya yang lebih realistic. Anak-anak praremaja dapat mengalami kasih
yang tidak egois yang belum tercampuri nafsu. Semangat kerja sama yang mereka
dapatkan selama masa anak muda berkembang menjadi kolaborasi atau kapasitas untuk
bekerja dengan pribadi lain demi keejahteraan pribadi tersebut. Pengalaman-pengalaman
selama praremaja sangat kritis bagi perkembangan masa depan masa ini, mereka akan
mengalami kesulitan serius dalam hubungan interpersonal selanjutnya. Namun,
pengaruh-pengaruh negative yang sebelumnya dapat dikikis oleh efek-efek positif dari
hubungan intim ini. Bahkan sikap dendam dapat dibalikkan, dan banyak masalah

c6
kenakalan lain dapat dihilangkan dengan ppencapaian keintiman. Dengan kata lian,
kekeliruan yang sudah dibuat selama tahapan-tahapan sebelumnya bisa diselesaikan di
masa praremaja, sedangkan kekeliruan yang dibuat pada masa praremaja sulit diatasi.


‘ $ "& 2!'!, )*!$##(

Masa remaja awal dimulai ketika anak berusia 13 sampai 15 tahun. Masa ini
dimulai dari pubertas dan berakhir dengan kebutuhan akan cinta seksual terhadap
seseorang. Masa ini ditandai oleh meledaknya ketertarikan genital dan datangnya
hubungan yang sarat-nafsu. Kebutuhan akan keintiman yang dicapai selama tahapan-
tahapan sebelumnya terus berlanjut pada masa remaja-awal ini. Namun, sekarang
ditemani oleh sebuah kebutuhan yang parallel namun terpisah. Selain itu, rasa aman, atau
kebutuhan untuk bebas dari rasa cemas, masih tetap aktif slama periose ini. Kalau begitu,
keintiman, nafsu, dan rasa aman sering kali tumpang-tindih dan mengalibatkan stress dan
konflik bagi remaja muda, minimal dengan tiga cara, yaitu :

Ñ " nafsu mengganggu operasi-operasi rasa aman karena aktivitas


genital sreing kali berakar pada rasa cemas, rasa bersalah, dan rasa
dipermalukan.
Ñ ) keintiman juga dapat mengancam rasa aman, seperti saat para remaja
muda mencari persahabatan dengan lawan jenisnya. Upaya-upaya ini dibebani
keraguan-diri, perasaan tidak pasti dan perasaan dibodohi orang lain, yang
dapat mengarah pada kehilangan percaya diri dan meningkatnyan kecemasan.
Ñ  keintiman sering kali berkonflik dengan nafsu selama masa remaja-
awal. Meskipun teman-teman intim dengan rekan sebaya yang setara
statusnya masih penting, namun, tegangan-tegangan genital yang kuat
mendesak untuk dipuaskan tanpa didasarkan pada kebutuhan akan keintiman.

Karena itu, para remaja muda dapat tetap mempertahankan persahabatn intim
yang sudah mereka peroleh dari masa praremaja sembari merasakan nafsu terhaadp
orang-orang yang tidak mereka sukai bahkan mungkin tidak mereka kenal. Karena
dinamisme nafsu bersifat biologis, dia menguasai pubertas tak peduli hubungan

c~
antarpribadi sudah dibanguan sebelumnya atau individu sudah siap menerimanya.
Sullivan percaya bahwa masa remaja-awal adalah titik dalam perkembangan kepribadian.
Pribadi dapat keluar dari tahapan ini entah dengan dominasi keintiman dan dinamisme
nafsu, atau menghadapi kesulitan-kesulitan serius dalam hubungan antarpribadi selama
tahapan-tahapan berikutnya. Meskipun penyesuaian seksual penting bagi perkembangan
kepribadian, Sullivan merasa bahwa masalah yang riil terletak dalam jalan-bersama
dengan pribadi lain.


‘ $ "& % '  )*!$##(

Masa remaja-akhir dimulai saat anak berusia 15 tahun keatas dan ketika anak
muda sanggup merasakan nafsu dan keintiman terhadap satu orang yang sama dan akan
berakhir pada masa dewasa saat mereka sanggup membangun sebuah hubungan cinta
yang abadi. "masa remaja-akhir adalah penyatuan antara keintiman dan nafsu.
Upaya-upaya eksplorasi-diri masa remaja-awal yang penuh masalah mulai berkembang
menjadi suatu pola aktivitas seksual yang stabil, yang di dalamnya pribadi yang dicintai
sekaligus bisa diterima sebagai objek bagi ketertarikan nafsu. Dua pribadi dari jenis
kelamin yang berbeda tidak lagi diinginkan hanya semata-mata sebagai objek seks,
namun, sebagai pribadi yang sanggup dicintai tanpa rasa egois. Masa remaja-akhir yang
berhasil mencakup perkembangan mode sintaksis. Mereka belajar dari orang lain
bagaimana hidup di dunia orang dewasa, dan keberhasilan perjalanan melalui tahapan-
tahapan sebelumnya memfasilitasi merela dengan penyesuaian ini.

Jika epos-epos perkembangan sebelumnya tidak berhasil, anak muda akan


memasuki periode remaja-akhir tanpa hubunagn antarpribadi yang intim, pola-pola yang
tidak konsisten dalam aktivitas seksual, dan kebutuhan besar untuk mempertahankan
operasi-operasi rasa aman. Mereka akan sangat mengandalkan mode parataksis untuk
menghindari rasa cemas dan berjuang untuk mempertahankan rasa percaya diri lewat
ketidakpedulian selektif, disosiasi, dan simptom-simptom neurotik lainnya. Karena
percaya bahwa cinta adlah kondisi universal anak muda, mereka saling kali jatuh cinta.
Tetapi hanya pribadi dewasa yang memiliki kemampuan untuk mencintai, sementara


yang belum dewasa hanya menjalani gerakan-gerakan jatuh cinta ini dalam rangka
mempertahankan rasa aman meraka.


‘ $2$' )! **)(

Kesuksesan menyelesaikan tahap remaja-akhir memuncak pada masa dewasa,


sebuah periode dimana orang dapat membangun sebuah hubungan cinta minimal dengan
satu pribadi lain yang signifikan. Sullivan menyatakan bahwa Y    
Y Y                Y     
Y     Sketsa Sullivan tentang orang dewasa, tidak didasarkan kepada
pengalaman klinisnya, melainkan sebagai hasil dari penyempurnaan konseptual tahapan-
tahapan sebelumnya. Orang-orang dewasa begitu perseptif terhadap rasa cemas,
kebutuhan, dan rasa aman orang lain. Mereka beroperasi terutama di tingkatan
sintaksisdan menemukan hidup menarik dan menyenangkan.


‘     

Sullivan percaya bahwa semua gangguan psikologis memiliki asal usul hubungan
antarpribadi dan bisa dipahami hanya dengan mengacu kepada lingkungan social pasien.
Dia juga yakin bahwa kelemahan-kelemahan yang ditemukan pada pasien-pasien
psikiatri bisa juga ditemukan pada setiap orang, meski dengan derajat yang lebih kecil.
Tidak ada yang unik dengan kesulitan-kesulitan psikologis ini karena semuanya berasal
dri jenis masalah antarpribadi sama yang dihadapi oleh semua orang. Kebanyakan terapi-
terapi awal Sullivan berhubungan dengan pasien-pasien skizofrenik, dan kebanyakan
kuliah dan tulisannya yang sebelumnya membahas skizofrenia.

Reaksi-reaksi yang terjarakkan, yang sering kali mendahului skizofrenia, dicirikan


oleh rasa kesepian, rasa percaya diri yang rendah, emosi misterius, hubungan yang tidak
memuaskan, dan kecemasan yang semakin meningkat. Manusia dengan kepribadian yang
terjarakkan, yang umum bagi semua orang, berusaha meminimalkan kecemasan dengan

Ý
membangunnsebuah sistem-diri elaborative untuk menghalangi pengalaman-pengalaman
yang mengancam rasa aman mereka.

Jika individu-individu normal merasa relative aman dalam hubungan-hubungan


antarpribadi mereka dan tidak perlu mengandalkan secara konstan kepada penjarakan
sebagai cara melindungi kepercayaan diri, maka individu-individu yang terganggu
mentalnya ini menjarakkan banyak pengalaman mereka dari sistem-diri mereka sendiri.
Jika strategi ini terus dipertahankan, mereka akan semakin beroperasi di dunia privat
mereka sendiri, dengan semakin meningkatnya distordi0distorsi parataksis dan
menurunnya pengalaman-pengalaman konsensual yang valid.

Ýc
Ê Ê

    

1.‘ Kontribusi utama Sullivan bagi teori kepribadian adalah konsepsinya tentang tahap-tahap
perkembangan.
2.‘ Sullivan melihat kepribadian sebagai sebuah system energi. Energi dapat eksis sebagai
tegangan ataupun sebagai aksi itu sendiri.
3.‘ Ada dua tipe tegangan yaitu berbagai kebutuhan dan kecemasan.
4.‘ Berbagai tingkatan kognitif ada 3 yaitu : tingkatan prototaksis, parataksis, dan sintaksis.
5.‘ Tahap tahap perkembangan ada 7: masa bayi, masa kanak ± kanak, masa anak muda,
masa pra remaja, masa remaja awal, masa remaja akhir, masa dewasa.
6.‘ Terapi-terapi awal Sullivan berhubungan dengan pasien-pasien skizofrenik, dan
kebanyakan kuliah dan tulisannya yang sebelumnya membahas skizofrenia.

ÝÝ
DAFTAR PUSTAKA

mall Calvin S dan Gardner Lindzey.1993. Psikologi Kepribadian 1. Editor Dr. A. Supratiknya.

Yogyakarta. Kanisius.