Anda di halaman 1dari 39

RIZA RIZKY ADITIA | X MIA 2 |

POHON
PEURLEUAK
THE FIRST ISLAMIC KINGDOM

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas nikmat


kesehatan dan keselamatan yang masih diberikan kepada
saya sehingga buku ini dapat diselesaikan dengan baik yang
hasilnya tersusun menjadi kumpulan naskah yang hadir
sebagai sebuah buku di tangan anda ini adalah suatu
kegembiraan yang sangat luar biasa bagi saya

Buku Pohon Peureulak ini merupakan buku yang disajikan


dalam bentuk yang sangat sederhana. Untuk mengatasi
kurang pahamnya warga indonesia yang Alhamdulillah
mayoritas masyarakatnya beragama islam tentu wajib untuk
tahu bagaimana proses masuknya islam ke Indonesia.
Karena itulah, saya membuat buku Peureulak yang diambil
dari nama kerajaan islam pertama di indonesia yang
sekaligus menceritakan bagaimana islam dapat masuk dan
menyebarluaskan agamanya sampai ke seluruh penjuru
nusantara. Selain itu saya ingin meminta maaf jika di dalam
buku ini terdapat banyak kekurangan dan kekhilafan. Untuk
itu, saran, kritik dan masukan yang membangun tetntu saja
akan diterima dengan lapang dada.
Buku ini saya persembahkan dari perpustakaan MAN IC
untuk islam dan indonesia tercinta. Terimakasih.

PAGE 1

Awal Perjalanan Islam di Indonesia

Masuknya pengaruh islam ke Indonesia masih menimbulkan


banyak kontroversi yang belum terpecahkan. Salah satu yang paling
terkenal adalah tentang mana yang lebih dulu berdiri antara kerajaan
Perlak dan kerajaan Samudera Pasai. Dalam buku ini, saya akan
mengungkapkan beberapa argumen dari berbagai referensi yang
menelaah tentang kedua kerajaan tersebut.
.....
Hampir semua ahli sejarah menyatakan bahwa dearah Indonesia
yang mula-mula di masuki Islam ialah daerah Aceh. Dalam naskah tua
Izhar al-Haqq yang dirujuk oleh Ali Hasjmy, di informasikan bahwa
pada 173 H (789 M), terdapat sebuah kapal asing yang datang dari
Teluk Kambay di Gujarat singgah berlabuh di Bandar Perlak. Tahuntahun ini, dunia Islam berada dalam kekuasaan Khalifah Harun arRasyid (785-809) yang berpusat di Baghdad. Kehadiran rombongan
khalifah ini mennyebabkan terjalinya hubungan dan kontak budaya
antar kedua bangsa. Dalam satu sumber menyebutkan, penyebaran
Islam di bagian utara Sumatera dilakukan oleh seorang ulama Arab
yang bernama Syaikh Abdullah Arif. Disamping menjalankan misi
dagang, rombongan ini juga membawa misi dakwah syiar Islam.

PAGE 2

Mereka mengajarkan persaudaraa, persamaaan, kasih sayang, tolong


menolong dan bagaimana cara beribadah dalam koteks Islam.

PAGE 3

Keramah-tamahan para pendatang ini menyebabkan banyak


penduduk setempat yang tertarik untuk masuk Islam. Karena setelah
sekian lama, Islam terus berkembang ke pelosok negeri Aceh.
Dan yang menjadi masalah hingga saat ini adalah kerajaan Islam apa
yang pertama sekali berdiri di Aceh?

Pertama, saya akan membahas kerajaan perlak. Perlak


merupakan sebuah daerah di pesisir timur daerah Aceh. Sebagaimana
yang disebutkan dalam banyak sumber, bahwa Raja dan rakyat daerah
negeri Perlak adalah keturunan dari Meurah Perlak Syahir Nuwi dan
keturunan pasukan-pasukan pengikutnya. Naskah-naskah tua yang
dijadikan sebagai rujukan tentag keberadaan Kerajaan Perlak ada tiga
yaitu, Mamlakatil Ferlah wal Fasi karangan Abu Ishaq Makarani Al Fasy,
Sayab Tazkirah Thabakat Jummu Sulthan as Shalatin karangan Syekh
Syamsul, dan Silsilah Raja-Raja Perlak dan Pasai karanga Bahri
Abdullah as Asyi. Selain itu, ditemukan juga dalam catatan Marcopolo.
Buku Zhufan Zhi yang ditulis Zhao Rugua tahun 1225 mengutip
catatan seorang ahli geografi Chou Ku-fei bahwa ada negeri orang
Islam yag jaraknya hanya lima hari pelayaran dari Jawa. Dan ada
kepastian bahwa negeri yang dimaksud oleh Chou Ku-fei itu adalah
Perlak. Ini karena dia menyatakan pelayaran dari Jawa ke Brunei
memakan waktu 15 hari. Menurut buku Gerak Kebangsayan Aceh
karangan M. Junus Jamil, agama Islam yang mula-mula masuk ke Aceh

PAGE 4

adalah Islam yang beraliran Syiah. Setelah Islam berkembang,


berdirilah sebuah kerajaan Islam di daerah ini sesayar tahun 840 M.
Kerajaan yang telah didirikan itu hidup
subur da menjalar luas melalui dinasti rajarajanya. Pada hari peresmian berdirinya Kerajaan
Islam itu, Bandar Perlak ditukar namanya menjadi
Bandar Khalifah. Raja pertama Perlak bernama
Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah
menganut aliran Syiah. Pada masa Sultan ketiga
Sultan Sayyid Maulana Abbas Syah aliran Ahlus
Sunnah masuk ke Perlak. Hal ini menyebabkan
terjadinya perang saudara antara Syiah dan
Sunni, sehingga dalam jangka waktu dua tahun,
Kerajaan Perlak tidak memiliki Sultan. Karena
golongan Syiah mengalami kekalahan, maka yang
menjadi sultan selanjutnya berasal dari golongan
Sunni.
Adapun
kemudian,
pada
masa
pemerintahan Sultan yang ketujuh, Sultan
Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah Johan
Berdaulat, kerajaan Perlak terbagi dua, bagia pesisir didomisili oleh
golongan Syiah dan bagian pedalaman didomisili oleh golongan Sunni.
Hal ini tidak bertahan lama, karena pada sultan yang selanjutnya
kerajaan Perlak kembali di bawah satu pemerintahan yaitu dari
golongan Sunni. Penyebab utamannya karena pada saat ini Sriwijaya
menyerang kerajaan Perlak sehingga sultan mangkat. Selanjutnya,
pemerintahan kerajaan Perlak berjalan damai sampai akhirya pada
masa Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Aziz Syah Johan Berdaulat
kerajaan Perlak berakhir dan bersatu dengan kerajaan Samudera Pasai
sesayar tahun 1295.

Yang Ke-2,Kerajaan Samudera Pasai.


Secara geografis, letak Samudera Pasai berada di daerah timur
Pulau Sumatera bagian utara yang berdekatan dengan jalur
perdagangan perdagangan internasional, Selat Malaka. Berdasarkan
hikayat Raja-Raja Pasai, diceritkan tentang pendirian Pasai oleh Meurah
Silu, setelah sebelumnya ia menyingkirkan seorang Raja yang bernama
Sultan Malik al Nasser. Meurah Silu ini sebelumnya berada pada satu
kawasan yang disebut dega Samerlanga kemudian setelah naik tahta,
beliau bergelar Sultan Malikul Saleh. Dia mangkat pada tahun 1297
M. Dalam hikayat Raja-Raja Pasai maupun Sulalatus Salatin, nama
PAGE 5

Pasai da Samudera dipisahkan merujuk pada dua kawasan berbeda,


namun dalam catatan Tiongkok, nama-nama itu tidak dipisahkan sama
sekali. Sementara Marcopolo dalam lawatannya mencatat beberapa
daftar kerajaan yang ada di pantai timur pulau Sumatera waktu itu,
dari selatan ke utara terdapat nama Ferlec (Perlak), Basma dan
Samara (Samudera).
Pemerintahan
Sultan
Malikul
Saleh
kemudian
dilajutkan
oleh
putraya
Sultan Muhammad Malik azZahir dari perkawinannya
dengan putri Raja Perlak.
Pada masa pemerintahan
Sultan Malik az-Zahir, koin
emas sebagai mata uag telah
diperkenalkan
di
pasai.
Setelah dia mangkat, dia
digantikan
oleh
anaknya
Sultan Malik az-Zahirndan
memerintah sampai tahun
1345.
Pada masa pemerintahannya inilah Pasai dikunjungi oleh seorang
pengembara dari Timur Tengah Ibnu Batuttah yang kemudia
menceritkan sultan dari negeri Samatrah (Samudera) menyambutya
dengan ramah dan mayoritas penduduk disana menganut mazhab
Syafii. Selanjutnya pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malik
az-Zahir, datang serangan dari Majapahit sesayar tahun 1345 dan
1350 sehingga sultan terpaksa melarikan diri. Pasai bangkit kembali
dibawah pemerintahan Sultan Zainal Abidin tahun 1383. Dalam
catatan China, namanya dikenal dengan sebutan Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki,
dan disebutkan ia tewas oleh Raja Nakur. Armada Cheng Ho yang
memimpin sesayar 208 kapal mengunjungi Pasai berturut-turut dalam
tahun 1405, 1408 dan 1412. Berdasarkan laporan perjalanan Cheng
Ho, yang dicatat oleh para pembantunya seperti Ma Huan dan Fei Xin.
Dalam kunjungannya ke Pasai, Cheng Ho menyampaikan hadiah dari
Kaisar China berupa sebuah lonceng yang dikenal dengan nama
Lonceng Cakra Donya. Sesayar tahun 1434, Sultan Pasai mengirim
saudaranya yang dikenal dengan Ha-li-zhi-han namun wafat di Bejing.
Kaisar Xuade dari Dinasti Ming mengutus Wang Jinhong ke Pasai untuk
menyampaikan berita tersebut. Pasai merupakan kota dagang,

PAGE 6

mengandalkan lada sebagai komoditi utamanya. Dalam catata Ma


Huan disebutkan 100 kati lada dijual degan harga perak 1 tahil.
Dalam perdagangan kesultanan Pasai mengeluarkan koin emas
sebagai alat transaksi pada masyarakatnya, mata uang ini disebut
deureuham yang dibuat dari 70% emas murni dengan berat 0.60 gram,
diameter 10 mm, mutu 17 karat. Saya kutip dari essay pendek
berjudul Walisongo, Para Muballigh Asal Kerajaan Samudera Pasai.
Dulu Mantap Kini Digugat karangan Pak T.A Sakti, dinyatakan bahwa
empat dari sembilan Wali Songo yang terkenal itu berasal dari
Samudera Pasai, yaitu Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan Drajat,
dan Sunan Bonang. Hal ini menunjukkan betapa berpengaruhnya
Kerajaan Samudera saat itu dalam bidang menyebar luaskan agama
Islam. Sementara itu, masyarakat Pasai umumnnya telah menanam
padi di ladang yang dipanen 2 kali dalam setahun, serta memiliki sapi
perah untuk menghasilkan keju. Sedangkan rumah penduduknya
memiliki tinggi rata-rata 2.5 meter yang disekat menjadi beberapa
bilik, dengan lantai terbuat dari bilah-bilah kayu kelapa atau kayu
pinang yang disusun dengan rotan, dan di atasnya dihamparkan tikar
rotan atau pandan. Dengan diskripsi ini, tidak dipungkiri saya dapat
mengatakan betapa sejahteranya kehidupan masyarakat pada masa
itu.
Meskipun Islam adalah agama yang dianut oleh masyarakat
Pasai, akan tetapi pengaruh Hindu dan Budha juga turut mewarnai
masyarakat ini. dari catatan Ma Huan dan Tom Pires, telah
membandingkan dan menyebutkan bahwa sosial masyarakat Pasai
mirip dengan Malaka, seperti tradisi pada upacara kelahiran,
perkawinan dan kematian. Dalam ritual ini, masyarakat masih sangat
dipengaruhi oleh budaya Hindu dan Buddha.
Dalam karangan lain Pak T.A Sakti disebutkan bahwa bahasa
Melayu yang ada di Pasai adalah akar tunggang dari bahasa Nasional
Indonesia yang saya pakai pada saat ini. Hal ini juga menunjukan
betapa berpengaruhnya Kerajaan Samudera Pasai bukan hanya pada
zamannya, akan tetapi beberapa abad setelah keruntuhannya.
Menjelang masa-masa akhir pemerintahan Kesultanan Pasai, terjadi
beberapa pertikaian di Pasai yang mengakibatkan perang saudara.
Sulalatus Salatin menceritakan Sultan Pasai meminta bantuan kepada
Sultan Melaka untuk meredam pemberontakan tersebut.
Namun Kerajaan Pasai sendiri akhirnya runtuh setelah ditaklukan oleh
portugal tahun 1524 yang sebelumnya telah menaklukan Melaka tahun

PAGE 7

1511, dan kemudian tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian
dari kedaulatan Kerajaan Aceh Darussalam.

Manakah Kerajaan Islam yang Pertama?

Perlak di Aceh Timur disebut sebagai kerajaan Islam pertama di


Nusantara, bahkan di Asia Tenggara. Kesimpulan dari penjelasan
tentang Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan
Nusantara tahun 1980, keputusan itu didasarkan pada satu dokumen
tertua bernama sayab Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak, karangan
Abu Ishak Al-Makarani Sulaiman Al-Pasy. Itu yang menyisahkan
pertanyaan bagi sebagian sejarawan mengenai kebenaran sejarah itu.
Sayab Idharul Haq yang dijadikan sumber satu-satunya. Sebagian
sejarawan meragukannya. Apalagi sayab Idharul Haq yang
diperlihatkan dalam seminar itu katanya bukan dalam bentuk asli,
tidak utuh lagi melainkan hanya lembaran lepas. Sayab itu sendiri
masih misteri, karena sampai sekarang belum ditemukan dalam
bentuk aslinya.
Sehingga ada yang mengatakan saya Idharul Haq ini hanya satu
rekayasa sejarah untuk menguatkan pendapat bahwa berdasarkan
sayab itu benar kerajaan Islam pertama di Aceh dan Nusantara adalah
kerajaan Islam Perlak. Banyak peneliti sejarah kritis, meragukan Perlak
itu sebagai tempat pertama berdirinya kerajaan Islam besar di Aceh.
Diperkuat dengan belum adanya ditemukan artevak-artevak atau
situs-situs tertua peninggalan sejarah. Sehingga para peneliti lebih
cenderung menyimpulkan kerajaan Islam pertama di Aceh dan

PAGE 8

Nusantara adalah kerajaan Islam Samudra Pasai yang terdapat di Aceh


Utara.
Banyak
bukti
yang
meyakinkan, baik dalam
bentuk
teks
maupun
benda-benda
arkeologis
lainnya.
Seperti
mata
uang dirham pasai dan
batu-batu
nisan
yang
bertuliskan
tahun
wafatnya
para
Sultan
kerajaan Islam Samudra
Pasai. Samudera Pasai
sebagai kerajaan pertama
di nusantara kerena diukung oleh beberapa bukti-bukti peninggalan
sejarah yang dapat dijadikan alasan yang kuat. Misalnya makam
Sultan Malikul Saleh. Akan tetapi karena sumber terkini juga banyak
menyebutkan bahwa kerajaaan Perlak adalah yang pertama di
nusantara, misalnya buku Gerak Kebangsayan Aceh karya M. Junus
Jamil, maka hal ini telah menjadi semacam doktrin yang sulit untuk
dilepaskan dari pemahaman bannyak orang tentang kerajaan mana
yang lebih dahulu berdiri.

PAGE 9

Dari sekian banyak referensi yang berhasil saya kumpulkan,


belumlah cukup untuk saya menyatakan kerajaan manakah yag lebih
dahulu muncul. Akan tetapi jika memang harus tetap memutuskan
kerajaan mana yang lebih dahulu berdiri, saya akan mengatakan
Samudera Pasai. Ini dikarenakan banyaknya sumber yang dapat
dipertanggung jawabkan. Selain itu saya tidak bisa lepas dari
pernyataan No Document, No History.
......

RAJA TERAKHIR KERAJAAN PERLAK :


SULTAN MAHMUD MALIK AZ-ZAHIR
Sultan Mahmud Malik Az-Zahir
(1326-1345) merupakan keturunan
dari Sultan Malik as-Saleh. Setelah
pemerintahan Sultan Malik as-Saleh,
selanjutnya kepemimpinan kerajaan
diperintah oleh putranya yaitu Sultan
Muhammad
Malik
az-Zahir
dari
perkawinannya dengan putri Raja
Peurlak. Pada masa pemerintahan
Sultan Muhammad Malik az-Zahir,
koin emas sebagai mata uang telah
diperkenalkan
di
Pasai,
seiring
dengan berkembangnya kerajaan
Samudera Pasai, menjadi salah satu
kawasan
perdagangan
sekaligus
tempat
pengembangan
dakwah
agama Islam. Sesayar tahun 1326
Sultan Muhammad Malik az-Zahir
meninggal
dunia
dan
ia
meninggalkan dua orang putra yaitu Mahmud Malik az-Zahir dan
Malikul Mansur atau yang merupakan cucu dari Sultan Malik as-Saleh.
Ketika Sultan Muhammad Malik az-Zahir pada akhirnya
meninggal dunia karena sakit, tampuk kepemimpinan kerajaan Pasai
untuk sementara diserahkan kepada Sultan Malik as-Saleh yang juga
memimpin kerajaan Samudera, karena kedua putranya masih berusia
sangat belia. Sultan Malik as-Saleh menyerahkan kedua cucunya
kepada tokoh-tokoh yang piawai supaya mereka dapat dengan baik

PAGE 10

memimpin kerajaan pada suatu saat nanti. Mahmud Malik az-Zahir


diserahkan kepada Sayid Ali Ghiatuddin, sementara Malikul Mansur
dididik oleh Sayid Semayamuddin. Ketika kedua pangeran ini beranjak
dewasa dan dirasa sudah siap untuk memimpin pemerintahan, maka
Sultan Malik as-Saleh pun mengundurkan diri dari singgasananya yang
meliputi dua kerajaan, yakni kerajaan Samudera dan kerajaan Pasai.
Sebagai gantinya sesuai dengan kesepakatan orang-orang besar,
diangkatlah Mahmud Malik az-Zahir menjadi Sultan Kerajaan Pasai,
sementara Malikul Mansur sebagai Sultan Kerajaan Samudera.
Namun, keharmonisan kedua Sultan kakak-beradik ini tidak
berlangsung lama karena terjadi perseteruan di antara mereka.
Penyebabnya adalah ulah Sultan Mansur yang ternyata menggilai
salah seorang istri Sultan Mahmud yang tidak lain adalah abang
kandungnya sendiri.
Sehingga pada akhirnya, Sultan Mansur
ditangkap dan diusir dari kerajaannya hingga kemudian meninggal
dunia dalam perjalanan. Maka, jadilah Sultan Mahmud Malik az-Zahir
menguasai singgasana Kerajaan Samudera dan Kerajaan Pasai hingga
digabungkan kedua kerajaan itu menjadi Kesultanan Samudera Pasai.
Sultan Mahmud Malik az-Zahir memerintah tahun 1326 sampai tahun
1345. Pada masa pemerintahannya, ia dikunjungi oleh Ibnu Batuthah,
kemudian menceritakan bahwa sultan di negeri Samatrah (Samudera)
menyambutnya dengan penuh keramah-tamahan dan penduduknya
menganut Mazhab Syafii
Sultan Mahmud Malik az-Zahir adalah seorang pemimpin yang
sangat mengedepankan hukum Islam. Pribadi yang dimilikinya sangat
rendah hati. Ia berangkat ke masjid untuk shalat Jumat dengan
berjalan kaki. Dan selesai shalat, sultan dan rombongan biasa
berkeliling kota untuk melihat keadaan rakyatnya, begitu Ibnu
Batuthah menggambarkan sosok Sultan Mahmud Malik az-Zahir. Pada
masa ini pemerintahan Samudra Pasai berkembang pesat dan terus
menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan Islam di India maupun
Arab. Bahkan melalui catatan kunjungan Ibnu Batutah seorang utusan
dari Sultan Delhi tahun 1345 dapat diketahui Samudra Pasai
merupakan istana yang disusun dan diatur secara India dan patihnya
bergelar Amir, dan juga terdapat pelabuhan penting. Dengan letaknya
yang strategis, Samudera Pasai berkembang sebagai kerajaan Maritim,
dan bandar transito. Kerajaan Samudra Pasai memiliki hegemoni
(pengaruh) atas pelabuhan-pelabuhan penting di Pidie, Perlak, dan
lain-lain. Hal ini juga sesuai dengan keterangan Ibnu Batuthah, yaitu
komoditi perdagangan dari Samudera yang penting adalah lada, kapur

PAGE 11

barus dan emas. Dan untuk kepentingan perdagangan sudah dikenal


uang sebagai alat tukar yaitu uang emas yang dinamakan Deureuham
(dirham).
Dibawah kekuasaannya, Samudera Pasai mencapai kejayaannya.
Menurut catatan Ibnu Batuthah (seorang musafir yang ahli hukum
Islam), az-Zahir merupakan penguasa yang memiliki ghirah belajar
yang tinggi untuk menuntut ilmu-ilmu Islam kepada ulama. Dia juga
mencatat, pusat studi Islam yang dibangun di lingkungan kerajaan
menjadi tempat diskusi antara ulama dan elite kerajaan. Ibnu Batuthah
yang
merupakan
seorang
pengembara
Islam
dalam
catatannya mengatakan bahwa ia sempat mengunjungi Pasai tahun
1345 M. Ibnu Batuthah yang singgah di Pasai selama 15 hari,
menggambarkan kesultanan Samudera Pasai sebagai sebuah negeri
yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah. Ibnu
Batuthah menceritakan ketika sampai di negeri Cina, ia melihat kapal
Sultan Pasai di negeri itu.
Memang sumber-sumber Cina ada yang menyebutkan bahwa
utusan Pasai secara rutin datang ke Cina untuk menyerahkan upeti.
Bagi Ibnu Batuthah, Al-zahir adalah salah satu dari tujuh raja yang
memiliki kelebihan luar biasa. Ketujuh raja yang luar biasa itu antara
lain: raja Iraq yang dinilainya berbudi bahasa, raja Hindustani yang
disebutnya sangat ramah, raja Yaman yang dianggapnya berakhlak
mulia, raja Turki dikaguminya karena gagah perkasa, raja Romawi yang
sangat pemaaf, raja Melayu Sultan Mahmud Malik az-Zahir yang
dinilainya berilmu pengetahuan luas dan mendalam, serta raja
Turkistan. Sebagai raja, Al-zahir juga merupakan sosok yang sangat
shaleh, pemurah, rendah hati, dan mempunyai perhatian kepada fakir
miskin. Meskipun ia telah menaklukkan banyak kerajaan, Mahmud
Malik az-Zahir tidak pernah bersikap jumawa. Kerendahan hatinya itu
ditunjukkan sang raja saat menyambut rombongan Ibnu Batuthah. Para
tamunya dipersilakan duduk di atas hamparan kain, sedangkan ia
langsung duduk di tanah tanpa beralas apa-apa. Struktur
pemerintahan pada masa Mahmud Malik az-Zahir sama seperti
struktur pemerintahan masa sultan sebelumnya yaitu pimpinan
tertinggi kerajaan berada di tangan sultan yang biasanya memerintah
secara turun temurun.
Disamping terdapat seorang sultan sebagai pimpinan kerajaan,
terdapat pula beberapa jabatan lain, seperti Menteri Besar (Perdana
Menteri atau Orang Kaya Besar), seorang Bendahara, seorang
Komandan Militer atau Panglima Angkatan laut yang lebih dikenal
PAGE 12

dengan gelar Laksamana, seorang Sekretaris Kerajaan, seorang Kepala


Mahkamah Agama yang dinamakan Qadi, dan beberapa orang
Syahbandar yang mengepalai dan mengawasi pedagang-pedagang
asing di kota-kota pelabuhan yang berada di bawah pengaruh kerajaan
itu. Biasanya para Syahbandar ini juga menjabat sebagai penghubung
antara sultan dan pedagang-pedagang asing. Selain itu menurut
catatan M.Yunus Jamil, bahwa pejabat-pejabat Kerajaan Islam
Samudera Pasai terdiri dari orang-orang alim dan bijaksana. Adapun
nama-nama dan jabatan-jabatan mereka adalah sebagai berikut:
1.

Seri Kaya Saiyid Ghiyasyuddin, sebagai Perdana Menteri.

2.

Saiyid Ali bin Ali Al Makaarani, sebagai Syaikhul Islam.

3.
Bawa Kayu Ali Hisamuddin Al Malabari, sebagai Menteri Luar
Negeri
Sementara anak-anak sultan baik lelaki maupun perempuan
digelari dengan Tun, begitu juga beberapa petinggi kerajaan.
Kesultanan Pasai memiliki beberapa kerajaan bawahan, &
penguasanya juga bergelar sultan. Pusat pemerintahan kesultanan
Pasai terletak antara Krueng Jambo Aye (Sungai Jambu Air) dengan
Krueng Pase (Sungai Pasai), Aceh Utara. Menurut Ibn Batuthah yg
menghabiskan waktunya sesayar dua minggu di Pasai saat
pemerintahan diperintah oleh Sultan Mahmud Malik az-Zahir,
menyebutkan bahwa kerajaan ini tak memiliki benteng pertahanan dari
batu, namun telah memagari kotanya dengan kayu, yang berjarak
beberapa kilometer dari pelabuhannya. Pada kawasan inti kerajaan ini
terdapat masjid, dan pasar serta dilalui oleh sungai tawar yg bermuara
ke laut. Ma Huan menambahkan, walau muaranya besar namun
ombaknya menggelora dan mudah mengakibatkan kapal terbalik.
Menurut hikayat Raja-Raja Pasai Sultan Mahmud ini diserang oleh
kerajan Siam, karena tidak mau memenuhi permintaan Siam untuk
memberikan upeti. Serangan tersebut dapat digagalkannya, dan
baginda membuang adiknya Sultan Malik al-Mansur ke Tamiang,
karena al-Mansur mengambil wanita dari istananya ketika Mahmud ke
luar Pasai. Sultan Mahmud digantikan oleh adiknya sendiri. Sejak tahun
1346, kepemimpinan Kesultanan Samudera Pasai di bawah rezim
Sultan Mahmud Malik az-Zahir digantikan oleh anaknya yang bernama
Ahmad Permadala Permala. Setelah dinobatkan sebagai raja, ia
dianugerahi gelar kehormatan dengan nama Sultan Ahmad Malik azZahir yang memerintah tahun 1345-1383.

PAGE 13

PERLAK DARI SEGI SYIAH


Kerajaan Perlak didirikan oleh Sultan Alaidin
Sayid Maulana yang bermazhab Syiah pada
tanggal 1 Muharram 225 H atau 840 Masehi,
saat kerajaan Mataram Kuno atau Mataram
Hindu di Jawa masih berjaya. Sebagai
gebrakan
mula-mula,
sultan
Alaiddin
mengubah nama ibu kota kerajaan dari
bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah.
Sementara itu, pengaruh Iran terhadap
Indonesia
kebanyakan
dalam
bidang
kebudayaan, kesusastraan, pemikiran, dan
tasawuf.

PAGE 14

Pada kenyataannya, kebudayaan bangsa Iran cukup berpengaruh


terhadap seluruh dunia. Masyarakat Iran, setelah menerima agama
Islam, banyak menemukan keahlian dalam semua bidang ilmu
keislaman, yang tidak satu pun dari bangsa lainnya yang sampai
kepada derajat tersebut. Secara khusus, kecintaan bangsa Iran kepada
Ahlulbait tidak ada bandingannya. Melalui tasawuf dan kebudayaan
Islam, kecintaan tersebut menyebar ke negeri-negeri Islam lainnya,
dan karena itulah kebudayaan Iran pun dikenal. Mengenai Ahlubait,
orang-orang Iran memiliki cara
khusus
untuk
mengenang
peristiwa pembantaian Imam
Husain as pada bulan Muharram.
Peristiwa ini, atau yang dikenal
sebagai tragedi Karbala, adalah
sebuah pentas kepahlawanan
dunia, yang telah mempengaruhi
kebudayaan bangsa-bangsa nonMuslim. Kisah kepahlawanan ini
sudah
berabad-abad
selalu
menjadi inspirasi dan tema
penting bagi para penyair dan pemikir Iran. Ia juga merupakan episode
sejarah yang penting dalam khazanah ajaran Syiah dan Sunni, dan
bahkan kesusastraan dunia.
Dalam Syiah, kecintaan kepada Ahlulbait merupakan kecenderungan
yang abadi. Tanpa kecintaan ini, agama akan kosong dari ruh cinta.
Bahkan, sebagian orang berkeyakinan bahwa apabila tidak memiliki
rasa cinta kepada Ahlulbait, maka seseorang telah keluar dari Islam.
Budaya cinta kepada Ahlulbait, yang merupakan bagian dari pemikiran
dan tradisi bangsa Iran, telah membekas di seluruh negeri Islam. Hal
ini terkadang juga disebut sebagai pengaruh mazhab Syiah yang
tampak pada kebudayaan Indonesia dan kaum Muslim dunia.
Kebudayaan Iran memiliki pengaruh yang cukup penting terhadap
kebudayaan Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa sejak dahulu telah
terjalin hubungan antara Iran dan Indonesia sehingga berpengaruh
sangat kuat terhadap kebudayaan, tasawuf, dan kesusastraan.
Meskipun mayoritas Muslim di Indonesia bermazhab Syafii, penelitian
menunjukan bahwa kecintaan Muslim Indonesia kepada Ahlulbait
karena pengaruh orang-orang Iran. Pengaruh Iran terhadap Indonesia
kebanyakannya tampak dalam bentuk kebudayaan dan kesusastraan.
Sejarah mencatat bahwa, di samping orang-orang Arab dan orangPAGE 15

orang Islam dari India, orng-orang Iran memiliki peran yang penting
dalam perkembangan Islam di Indonesia dan negeri-negeri Timur Jauh
lainnya.
Ada dugaan bahwa sebagian besar raja di Aceh bermazhab Syiah.
Dimungkinkan pada masa awal perkembangan Islam disini, fikih
Syiah-lah yang berlaku.

Catatan sejarah tertua adalah berdirinya kerajaan Perlak I (Aceh


Timur) pada tanggal 1 Muharram 225 H (840 M). Hanya 2 abad setelah
wafat Rasulullah, salah seorang keturunannya yaitu Sayyid Ali bin
Muhammad Dibaj bin Jafar Shadiq hijrah ke kerajaan Perlak. Ia
kemudian menikah dengan adik kandung Raja Perlak Syahir Nuwi. Dari
pernikahan ini lahirlah Abdul Aziz Syah sebagai Sultan (Raja Islam)
Perlak I. Catatan sejarah ini resmi dimiliki Majelis Ulama Kabupaten
Aceh Timur dan dikuatkan dalam seminar sebagai makalah Sejarah
Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh 10 Juli 1978 oleh (Alm)
Professor Ali Hasymi. Dinasti Umayyah dan Abbasiyah sangat
menentang aliran Syiah yang dipimpin oleh keturunan Ali bin Abu
Thalib yang juga menantu Rasulullah SAW. Oleh karena itu, tidak
mengherankan aliran Syiah pada era dua dinasti ini tidak
mendapatkan tempat yang aman. Karena jumlahnya minoritas, banyak
penganut Syiah terpaksa harus menyingkir dan wilayah yang
dikuasai oleh dua dinasti tersebut.

PAGE 16

Kesultanan Perlak merupakan kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara


yang berdiri pada tanggal 1 Muharam 225 H atau 804 M. Kesultanan ini
terletak di wilayah Perlak, Aceh Timur, Nangroe Aceh Darussalam,
Indonesia. Kesultanan Peureulak adalah kerajaan Islam di Asia
Tenggara yang berkuasa di sesayar wilayah Peureulak, Aceh Timur,
Aceh sekarang antara tahun 840 sampai dengan tahun 1292.
Perlak atau Peureulak terkenal sebagai suatu daerah penghasil kayu
perlak, jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal, dan
karenanya daerah ini dikenal dengan nama Negeri Perlak.

Hasil alam dan posisinya yang


strategis membuat Perlak berkembang
sebagai pelabuhan niaga yang maju
pada abad ke-8, disinggahi oleh kapalkapal yang antara lain berasal dari
Arab danPersia. Hal ini membuat
berkembangnya masyarakat Islam di
daerah ini, terutama sebagai akibat
perkawinan campur antara saudagar
muslim dengan perempuan setempat.
Ada
banyak
kerajaan
Islam
di
Indonesia. Tentu ini adalah salah satu
faktor yang menjadikan Islam sebagai
agama mayoritas di Indonesia. Dari
sekian banyak kerajaan, kerajaan Islam yang pertama di Indonesia
adalah Kerajaan Perlak yang berlokasi di Aceh Timur, daerah Perlak di
Aceh sekarang. Ada sedikit yang ganjil di sini. Dalam buku-buku teks
pelajaran di sekolah, disebutkan kerajaan Islam pertama di Indonesia
adalah Kerajaan Samudera Pasai. Kesultanan Perlak adalah kerajaan
Islam pertama di Nusantara, kerajaan ini berkuasa pada tahun 840
hingga 1292 Masehi di sesayar wilayah Peureulak atau Perlak. Kini
wilayah tersebut masuk dalam wilayah Aceh Timur, Provinsi Nangroe
Aceh Darussalam.
Perlak Merupakan suatu daerah penghasil kayu perlak, adalah
kayu yang digunakan sebagai bahan dasar kapal. Posisi strategis dan
hasil alam yang melimpah membuat perlak berkembang sebagai
pelabuhan niaga yang maju pada abad VIII hingga XII. Sehingga, Perlak
sering disinggahi oleh jutaan kapal dari Arab, Persia, Gujarat, Malaka,
Cina, serta dari seluruh kepulauan Nusantara. Karena singgahannya
kapal-kapal asing itulah masyarakat Islam berkembang, melalui

PAGE 17

perkawinan campur antara saudagar muslim dengan perempuan


setempat. Kerajaan Perlak merupakan negeri yang terkenal sebagai
penghasil kayu Perlak, yaitu kayu yang berkualitas bagus untuk kapal.
Tak heran kalau para pedagang dari Gujarat, Arab dan India
tertarik untuk datang ke sini. Pada awal abad ke-8, Kerajaan Perlak
berkembang sebagai bandar niaga yang amat maju. Kondisi ini
membuat maraknya perkawinan campuran antara para saudagar
muslim dengan penduduk setempat. Efeknya adalah perkembangan
Islam yang pesat dan pada akhirnya munculnya Kerajaan Islam Perlak
sebagai kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara. Fakta menyebutkan
Perlak lebih dulu ada daripada Samudera Pasai. Kerajaan Perlak
muncul mulai tahu 840 M sampai tahun 1292 M. Bandingkan dengan
kerajaan Samudera Pasai yang sama-sama mengambil lokasi di Aceh.
Berdiri tahun 1267, Kerajaan ini akhirnya lenyap tahun 1521.
Entah mengapa dalam buku-buku pelajaran, tertulis secara jelas
kerajaan Samudera Pasai-lah kerajaan Islam yang pertama di
Indonesia. Sebuah kesengajaan?

PAGE 18

Telah menjadi catatan


para ahli sejarah dan ilmuan
terutama
Abu
Ishak
AlMakarany Pasy bahwa kerajaan
Islam pertama Asia Tenggara
adalah di Peureulak dengan
ibukotanya Bandar Khalifah.
Menurut penelitian para ahli
sejarah,
diketahui
bahwa
sebelum datangnya Islam pada
awal abad ke 7 M, Dunia Arab
dengan Dunia Melayu-Sumatra
sudah
menjalin
hubungan
dagang yang erat sejak 2000
tahun SM atau 4000 tahun lalu.
Hal
ini
sebagai
dampak
hubungan dagang Arab-Cina
melalui jalur laut yang telah
menumbuhkan perkampungan,
Persia, Hindia dan lainnya di
sepanjang
pesisir
pulau
Sumatera. Letak geografis daerah Aceh sangat strategis di ujung barat
pulau Sumatra, menjadikan wilayah Aceh sebagai kota pelabuhan
persinggahan
yang
berkembang
pesat,
terutama
untuk
mempersiapkan logistik pelayaran berikutnya dari Cina menuju Persia
ataupun Arab dengan menempuh samudra luas.
Salah satu kota perdagangan pada jalur tersebut adalah Jeumpa
dengan komuditas unggulan seperti Kafur, yang memiliki banyak
manfaat dan kegunaan. Jeumpa Aceh adalah sebuah wilayah yang
keberadaannya pada sesayar abad ke 7 Masehi yang terletak di
sesayar daerah perbusayan mulai dari pinggir sungai Peudada di
sebelah barat sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur. Istana
penguasa Jeumpa terletak di desa Blang Seupeueng yang dipagari di
sebelah utara, sekarang disebut Cot Cibrek Pintoe Ubeuet. Masa itu
desa Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat
penduduknya dan juga merupakan kota bandar pelabuhan besar, yang
terletak di Kuala Jeumpa. Dari Kuala Jeumpa sampai Blang Seupeueng
ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh kapal-kapal dan
perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah Desa
Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong atau ke Pintou Rayeuk
(pintu besar). Menurut legenda yang berkembang di sesayar Jeumpa,

PAGE 19

sebelum kedatangan Islam di daerah ini sudah berdiri salah satu


Kerajaan Hindu Purba Aceh yang dipimpin turun temurun oleh seorang
Meurah dan negeri ini sudah dikenal di seluruh penjuru dan
mempunyai hubungan perdagangan dengan Cina, India, Arab dan
lainnya.

SEBELUM ISLAM, ACEH BERADA DALAM KEKUASAAN ORANG ORANG


HINDU DARI GUJARAT, BEGITU JUGA MEURAH PERLAK (YANG TIDAK
PUNYA KETURUNAN) JUGA BERAGAMA HINDU.

Adapun catatan-catatan berkaitan menyebut Maharaja Salman


datang ke Aceh atau lebih tepat ke wilayah Jeumpa dianggarkan pada
tahun 777 Masehi. Kedatangan rombongan 100 orang pendakwah ke
Perlak yang diketuai Nakhoda Khalifah pula dikatakan berlaku sesayar
804 Masehi. Catatan turut menyebut Maharaja Salman telah berkahwin
dengan Puteri Mayang Seludang daripada Jeumpa.
Datanglah rombongan dakwah dari Persia yang salah satu
anggotanya adalah pemuda tampan yang dikenal dengan Maharaj
Syahriar Salman al Farisi atau Sasaniah Salman al Farisi sebagaimana
disebut dalam Silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang
dikeluarkan oleh Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu
Mindanao. Seorang Putra dari Dinasti Sasanit Pangeran Salman
meninggalkan Tanah Airnya menuju Timur Jauh dan Asia Tenggara
untuk berniaga dan berdakwah dengan kapal dagangnya. Maharaja
Salman dikatakan mendapat 4 orang putera Syahir Nuwi, Syahir
Tanwi, Syahir Pauli, Syahir Dauli dan seorang puteri, Tansyir Dewi
PAGE 20

yang juga dikenal sebagai Makhdum Tansyuri. Puteri inilah yang


kemudian berkahwin dengan Ali bin Muhammad daripada rombongan
Nakhhoda Khalifah. Anak dari hasil perkahwinan ini diangkat menjadi
Sultan Sayyid Maulana Abdul Aziz yang diisytiharkan sebagai Sultan
pertama kerajaan Islam Perlak pada tahun sesayar 840 Masihi. Ada
pihak membuat telahan bahwa Maharaja Salman adalah seorang Ahlul
Bait dari keturunan Saidina Hussein AS, cucu lelaki kedua Nabi
Muhammad SAW.

Alasan yang digunakan adalah kerana anak-anak Salman


memakai gelaran Syahir atau Syahri di pangkal nama dan ini
bersamaan dengan gelaran Syahri yang ada pada Puteri Syahribanun,
isteri Saidina Hussein, puteri raja terakhir Parsi (dimasukkan ke dalam
wilayah jajahan Islam selepas dikalahkan oleh angkatan tentera yang
dikirim oleh Umar). Ini tidak mustahil memandangkan pada tahun 777
Masihi, sudah ada 4 generasi keturunan Saidina Hussein. Ketika itu
sudah hidup seorang Ahlul Bait terkenal, Imam Musa al-Khazim bin
Jaafar as Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin
Saidina Hussein sebagai bandingan. Namun menyatakan seseorang itu
sebagai Ahlul Bait hanya berdasarkan pangkal nama Syahir atau Syahri

terasa begitu dangkal. Lagipun ia memang satu gelaran kebesaran


yang digunakan bangsawan berketurunan Parsi sejak turun-temurun.

PAGE 21

Sebagian ahli sejarah menghubungkan silsilah Pangeran Salman


dengan keturunan dari Sayyidina Hussein ra cucunda Nabi Muhammad
Rasulullah saw yang telah menikah dengan Puteri Maharaja Parsia
bernama Syahribanun. Dari perkawinan inilah kemudian berkembang
keturunan Rasulullah yang telah menjadi Ulama, Pemimpin Spiritual
dan Sultan di dunia Islam, termasuk Nusantara, baik di Aceh, Pattani,
Sumatera, Malaya, Brunei sampai ke Filipina dan Kepulauan Maluku.
Kisah kedatangan satu delegasi dagang dari Persia di Blang
Seupeung, pusat Kerajaan Jeumpa yang ketika itu masih menganut
Hindu Purba. Salah seorang anggota rombongan bernama Maharaj
Syahriar Salman. Salman adalah turunan dari Dinasti Sassanid Persia
yang pernah berjaya antara 224 651 Masehi. Saat pertama adalah
tiba dan berlabuh di Bandar Jeumpa (Aceh Jeumpa) sekarang. Setelah
kapal kembali pulang, Pangeran tidak ikut pulang dan terakhir terpikat
dan kawin dengan Putri Jeumpa bernama Putri Mayang Seuleudang,
Puteri dari penguasa Jeumpa. Jeumpa, ketika itu dikuasai Meurah
Jeumpa. Maharaj Syahriar Salman kemudian menikah dengan putri
istana Jeumpa bernama Mayang Seludang. Menurut Silsilah Sultan
Melayu dan Silsilah Raja Aceh, Putro Manyang Seulodong atau ada
yang menyebutnya dengan Dewi Ratna Keumala adalah istri dari
pangeran Salman, anak Meurah Jeumpa yang cantik rupawan serta
cerdas dan berwibawa. Putro Jeumpa inilah yang telah mendukung
karir dan perjuangan suaminya.
Dikisahkan Pangeran Salman memasuki pusat kerajaan di
kawasan Blang Seupeueng dengan kapal niaga dengan segala awak,
perangkat dan pengawal serta muatannya yang datang dari Parsi
untuk berdagang dan utamanya berdakwah mengembangkan ajaran
Islam. Dia memasuki negeri Blang Seupeueng melalui laut lewat Kuala
Jeumpa. Sang Pangeran sangat tertarik dengan kemakmuran,
keindahan alam dan keramahan penduduknya. Selanjutnya beliau
tinggal bersama penduduk dan menyiarkan agama Islam yang telah
menjadi anutan nenek moyangnya di Persia. Rakyat di negeri tersebut
dengan mudah menerima ajaran Islam karena tingkah laku, sifat dan
karakternya yang sopan dan sangat ramah. Apalagi beliau adalah
seorang Pangeran dari negara maju Persia yang terkenal kebesaran
dan kemajuannya masa itu.
Keutamaan dan kecerdasan yang dimiliki Pangeran Salman yang
tentunya telah mendapat pendidikan terbaik di Persia negeri asalnya,
sangat menarik perhatian Meurah Jeumpa dan mengangkatnya

PAGE 22

menjadi orang kepercayaan kerajaan. Karena keberhasilannya dalam


menjalankan tugas-tugasnya, akhirnya Pangeran Salman dinikahkan
dengan puteri penguasa jeumpa. Salman beserta rombongan
melakukan perjalanan ke Asia Tenggara untuk menuju ke Selat Malaka,
namun sebelum sampai ke sana, Pangeran Salman singgah di negeri
Jeumpa dan akhirnya menikah dengan puteri Istana Jeumpa yang
bernama Mayang Seludang.
Pangeran Salman pun tidak meneruskan perjalanan dengan
rombongannya ke Selat Malaka, malah sebaliknya ia hijrah ke Perlak
setelah mendapat izin dari mertuanya Meurah Jeumpa. Akibat dari
perkawinan itu, Maharaj Syahriar Salman tidak lagi ikut rombongan
niaga Persia melanjutkan pelayaran ke Selat Malaka. Pasangan ini
memilih hijrah ke Perlak (sekarang Peureulak), sebuah kawasan
kerajaan yang dipimpin Meurah Perlak. Tiada berapa lama, atas restu
Meurah Jeumpa, Pangeran Salman dan Puteri Mayang Seuleudang
berangkat ke Negeri Peureulak, kedatangannya adalah diterima oleh
Meurah Peureulak.
Setelah baginda Meurah Peureulak berpulang ke rahmatullah, Baginda
tidak mempunyai anak laki-laki. Meurah Perlak tak punya keturunan
dan memperlakukan pengantin baru itu sebagai anak. Ketika
Meurah Perlak meninggal, wilayah Perlak diserahkan kepada Maharaj
Syahriar Salman, sebagai penguasa Perlak yang baru.

PAGE 23

Perkawinan Maharaj Syahriar Salman dan Putri Mayang


Seludang dianugerahi empat putra dan seorang putri; Syahir Nuwi,
Syahir Dauli, Syahir Pauli, Syahir Tanwi, dan Putri Tansyir Dewi.
Atas mufakat Pembesar-pembesar Negeri Peureulak serta rakyat,
diangkatlah Pangeran Salman menjadi penguasa Peureulak yang baru.
Dalam masa Baginda menjadi penguasa Peureulak, negeri menjadi
makmur-rakyat sejahtera, ekonomi maju pesat karena hubungan
perdagangan dan kapal-kapal asing ramai berdagang ke negeri
Peureulak, terutama membeli hasil bumi dan rempah-rempah.
Rombongan dakwah yang terdiri dari pedagang dan keturunan rajaraja Sasanid yang berdakwah datang dari Persia meneruskan
perjalanan mereka ke Selat Malaka, akan tetapi seorang anggota
rombongan bernama MAHARAJA SYAHRIAR SALMAN yang menikahi
puteri PENGUASA JEUMPA yaitu Mayang Seludang memilih menetap di
Perlak.
Pangeran Salman dan Puteri Mayang Seuleudang mempunyai 4
orang putra dan 1 putri, masing-masing adalah: Syahir Nuwi, kemudian
menggantikan ayahnya jadi penguasa Peureulak. Syahir Tanwi (Puri),
kemudian pulang ke negeri Ibunya Jeumpa dan diangkat menjadi
penguasa Jeumpa, menggantikan kakeknya yang telah meninggal
dunia. Syahir Puli, merantau ke Barat (Pidie, sekarang) kemudian di
negeri itu diangkat menjadi penguasa Negeri Sama Indra (Pidie).
Syahir Duli, setelah dewasa merantau ke daerah negeri barat paling
ujung (Banda Aceh, sekarang), karena kecakapannya diangkat menjadi
penguasa Negeri Indra Pura (Aceh Besar, sekarang). Putri Maghdum
Tansyuri Mayang Seuludong bukan hanya berhasil menjadi
pendamping suaminya tetapi juga berhasil menjadi seorang pendidik
yang baik bagi anak-anaknya yang melanjutkan perjuangannya
menyebarkan dakwah ajaran Islam.
Ratu dikaruniai beberapa putra putri yang dikemudian hari menjadi
tokoh yang sangat berpengaruh dalam perjalanan sejarah
pengembangan Islam di Asia Tenggara. Menurut Silsilah Sultan Melayu
dan Silsilah Raja Aceh, beliau tidak lain adalah Putro Mayang
Seulodong atau ada yang menyebutnya dengan Dewi Ratna Keumala,
anak penguasa Jeumpa yang cantik rupawan serta cerdas dan
berwibawa.

PAGE 24

PAGE 25

Putro Jeumpa inilah yang telah mendukung karir dan perjuangan


suaminya sehingga keturunan nya berhasil mengembangkan sebuah
Kerajaan Islam yang berwibawa, yang selanjutnya telah melahirkan
Kerajaan Islam di Perlak,Pasai, Pedir dan Aceh Darussalam.
Kerajaan Perlak didirikan oleh Sultan Alaidin Sayid Maulana yang
bermazhab Syiah pada tanggal 1 Muharram 225 H atau 840 Masehi,
saat kerajaan Mataram Kuno atau Mataram Hindu di Jawa masih
berjaya.
Sebagai gebrakan mula-mula, sultan Alaiddin mengubah nama ibu kota
kerajaan dari bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah. Tidak semua
Puteri Raja menjadi pendukung keberhasilan suaminya, bahkan ada
yang menjadi penyebab kehancurannya. Ingatlah sosok Cleopatra,
Sang Maha Ratu Mesir yang penuh intrik dan telah menghancurkan
karir Penakluk Agung Yulius Caesar. Karena Yulius menikahi Cleopatra,
maka karirnya sebagai Penguasa Agung atau Kaisar Agung Romawi
hancur, dia dikhianati oleh pendukung dan pemujanya, bahkan
rakyatnya sendiri melecehkannya karena membawa Cleopatra ke
Romawi. Akhirnya Yulius yang diagungkan dipecat senat Romawi
bahkan dibantai oleh anggota Senat di hadapan dewan terhormat
tersebut tanpa pembelaaan.
Demikian pula yang telah menimpa Anthony, pengganti Yulius
karena nekad menikahi Cleopatra, karirnya hancur dan bunuh diri di
Mesir akibat intrik Cleopatra yang penuh tipu daya. Putro Manyang
Seuludong bukanlah Cleopatra yang penuh intrik dan tipudaya. Anak
beliau bernama Syahri Poli adalah pendiri dari wilayah Poli yang
selanjutnya berkembang menjadi wilayah Pidier di wilayah Pidie
sekarang yang wilayah kekuasaannya sampai ujung barat Sumatera.
Syahri Tanti mengembangkan kerajaan yang selanjutnya menjadi cikal
bakal berdirinya Kerajaan Samudra-Pasai. Syahri Dito, yang
melanjutkan mengembangkan Jeumpa. Syahri Nuwi menjadi penguasa
dan pendiri dari wilayah Perlak. Sementara putrinya Makhdum Tansyuri
adalah ibu dari Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak, Maulana Abdul
Aziz Syah yang diangkat pada tahun 840 Masehi.
Kecerdasan dan kecantikan Putro Jeumpa yang diwariskan
kepada keturunannya menjadi lambang keagungan putri-putri Islam
yang berjiwa penakluk dalam memperjuangkan tegaknya Islam di bumi
Nusantara. Tidak diragukan bahwa Putro Manyang Seuludong telah
menjadi inspirasi bagi perjuangan para gadis dan putro-putro Jeumpa

PAGE 26

sesudahnya. Puteri-puteri Jeumpa telah menjadi lambang kewibawaan


para wanita Islam di istana-istana Perlak, Pasai, Malaka bahkan sampai
Majapahit sekalipun. Pangeran Salman dan puteri Mayang Selundang
dianugerahi empat orang putera dan seorang puteri. Mereka adalah
Syahir Nuwi (Meurah Fu) yang menggantikan ayahnya menjadi
penguasa Perlak dengan gelar Meurah Syahir Nuwi, kemudian Syahir
Dauli pergi merantau ke negeri Indra Purba (Aceh Besar), sedangkan
Syahir Pauli menrantau ke negeri Samaindera (Pidie) dan Syahir Tanwi
kembali ke negeri ibunya di Jeumpa dan kemudian di angkat menjadi
Meurah Negeri Jeumpa menggantikan kakeknya. Keempat putera
Maharaj Syahrian Salman sering dikenal dengan kaum imam empat
(kawom imum peuet) atau penguasa empat.
Sementara puteri mereka Tansyir Dewi menikah dengan seorang
sayid keturunan Arab yang bernama Sayid Maulana Ali al-Muktabar.
Sayid Ali Muktabar sendiri kemudian menikah dengan adik Syahir Nuwi
yang bernama puteri Tansyir Dewi yang kemudian mereka dianugerahi
seorang putra bernama Sayid Maulana Abdul Aziz Syah.
Saat Sayid Maulana Abdul Aziz Syah dewasa, akhirnya
dinobatkan menjadi Sultan Pertama Kerajaan Islam Perlak dengan
gelarnya Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah yang
silsilahnya sebagai berikut seperti yang ditulis oleh T. Syahbuddin Razi:
Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah bin Sayid Ali alMuktabar bin Sayid Muhammad Dibai bin Imam Jafar Asshadiq bin
Imam Muhammad al-Baqir bin Sayidina Ali Muhammad Zain al-Abidin
bin Sayidina Husain al-Syahid bin Sayidina Ali bin Abu Thalib. Sayid Ali
Muktabar bin Muhammad Dibai bin Imam Jakfar al-Shadiq merupakan
salah satu keturunan dari Ali bin Abi Thalib, Muhammad bin Jakfar alShadiq adalah imam Syiah ke-6 yang
juga masih keturunan Rasulullah SAW
melalui anaknya Nabi bernama Siti
Fatimah
yang
memegang
pemerintahan pusat di Baghdad.
Adapun
silsilahnya
sampai
ke
Rasulullah yaitu: Muhammad bin
Jafar al-Shadiq bin Muhammad alBaqir bin Ali Muhammad Zain al-Abidin bin Sayidina Husain al-Syahid
bin Fatimah binti Muhammad Rasulullah SAW.
Itulah sebabnya dalam perjalanan sejarah Aceh, senantiasa
dipenuhi dengan wanita-wanita agung yang berjiwa patriotik dan

PAGE 27

penakluk serta membuat sejarah kegemilangannya masing-masing


yang tidak pernah dicapai oleh wanita-wanita lainnya di Nusantara,
bahkan di negeri Arab sekalipun. Dalam sejarah Aceh selanjutnya,
tidak diragukan Putro Jeumpa Mayang Seuludong telah memberikan
inspirasi kepada anak keturunannya, dan telah melahirkan wanitawanita agung yang sangat berpengaruh dan memiliki kharisma serta
kecantikan. Di antaranya adalah ratu Perlak bernama Makhdum
Tansyuri (ibunda Maulana Abdul Aziz Syah, Sultan Perlak pertama),
Maha Ratu Kerajaan Pasai bernama Nahrishah, Maha Ratu Darwati
(Dhawarawati) yang menjadi Maha Ratu Majapahit (ibunda Raden
Fatah, Sultan Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa bernama Demak),
Maha Ratu Tajul Alam Safiatuddin yang menjadi Maha Ratu Kerajaan
Aceh Darussalam.
Di samping itu ada yang menjadi panglima agung yang ditakuti
musuh, seperti Laksamana Malahayati, Tjut Nyak Dhien, Tjut Meutia
dan lain-lainnya. Sepatutnya wanita-wanita agung inilah yang menjadi
teladan bagi mereka yang memperjuangkan emansipasi wanita di
Serambi Mekah ini. Bahwa kenyataannya, sebelum Barat melaungkan
emansipasi, wanita-wanita Aceh telah menikmati kesetaraannya
secara maksimal. Sebelumnya, dinasti Umayah dan Abasiyah sangat
menentang aliran Syiah yang dipimpin oleh Ali bin Ali Abu Thalib, tidak
heran pada masa dua dinasti tersebut tidak mendapatkan tempat yang
aman dan selalu di ditindas karena jumlah minoritas, sehingga banyak
dari penganut Syiah menyingkir dari wilayah yang dikuasai oleh dua
dinasti tersebut.
Pada masa pemerintahan Khalifah Makmun bin Harun al-Rasyid (167219 H/813-833 M)
Dicatat dalam sejarah, pada awal abad ke-9 Masehi telah datang
rombongan 100 orang pendakwah dari Timur Tengah berlabuh di
Perlak, diketuai seseorang yang dikenali sebagai Nakhoda Khalifah.
Mereka ini dikatakan telah melarikan diri daripada buruan kerajaan
selepas gagal dalam percobaan menggulingkan pemerintahan Bani
Abbasiyah. Ahli rombongan ini dikatakan terdiri daripada keturunan
Rasulullah SAW melalui puteri baginda Fatimah az Zahrah dan
suaminya, Saidina Ali bin Abi Talib Karamallahu Wajhah, juga para
penyokong yang ingin berada di bawah kepimpinan anak cucu Nabi.
Termasuk di kalangan mereka adalah seseorang bernama Ali bin
Muhammad bin Jaafar Al-Sadiq. Ada catatan lama menyebut Merah
Syahir Nuwi berasal dari keturunan seorang bangsawan Persia
bernama Salman yang telah berhijrah ke bumi Serambi Mekah

PAGE 28

beberapa kurun terdahulu. Pelabuhan Perlak pula dikenali sebagai


Bandar Khalifah sejak kedatangan rombongan 100 orang pendakwah
itu, sempena nama ketua mereka Nakhoda Khalifah.
Ketika itu, Perlak sedang diperintah raja berketurunan Persia,
Merah Syahir Nuwi. Raja dan rakyat Perlak tertarik dengan akhlak ahli
rombongan lalu menganut Islam, rombongan itu dimuliakan dan Sayid
Ali dikahwinkan dengan adik perempuan penguasa Perlak yang
bernama Makhdum Tansyuri. Atas dasar itulah, sebuah Armada
Angkatan Dakwah beranggotakan 100 orang dibawah pimpinan
Nahkoda Khalifah (turunan Qatar) memasuki Bandar Peureulak. Maka
berangkatlah satu kapal yang memuat rombongan angkatan dakwah
yang di kemudian hari dikenal di Aceh dengan Nahkoda Khalifah
dengan misi menyebarkan Islam. Salah satu anggota dan Nahkoda
Khalifah itu adalah Sayid Ali al Muktabar bin Muhammad Dibai bin
Imam Jakfar al-Shadiq. Dari hijrah tersebut, berangkatlah satu kapal
yang memuat rombongan angkatan dakwah termasuk di dalamnya
Sayid Ali Muktabar. Bandar Perlak disinggahi oleh satu kapal yang
membawa kurang lebih 100 orang dai yang terdiri dari orang-orang
Arab suku Qurasy, Palestina, Persia dan India dibawah Nakhoda
Khalifah dengan menyamar menjadi pedagang. Rombongan Nakhoda

PAGE 29

Khalifah ini disambut oleh penduduk dan penguasa negeri Perlak


yakni pada masa Meurah Syahir Nuwi. Mereka merapat di pelabuhan
Perlak sebagai akibat dan kekalahan golongan Syiah oleh dinasti
Abbasiyah. Dinasi Abbasiyah yang pada saat itu dipimpin Khalifah AlMakmun (813-833) sehingga rombongan kaum Syiah yang berhijrah
itu adalah rombongan Nahkoda Khalifah. Pemerintahan Perlak sendiri
pada saat itu masih berupa pelabuhan yang dikelilingi pemukiman dan
dibawah kontrol penguasa Syahir Nuwi. Syahir Nuwi penguasa Perlak

yang baru menggantikan ayahandanya. Dia bergelar Meurah Syahir


Nuwi. Syahir Dauli diangkat menjadi Meurah di Negeri Indra Purba
(sekarang Aceh Besar).
Syahir Pauli menjadi Meurah di Negeri Samaindera (sekarang Pidie),
dan si bungsu Syahir Tanwi kembali ke Jeumpa dan menjadi Meurah
Jeumpa menggantikan kakeknya. Merekalah yang kelak dikenal
sebagai Kaom Imeum Tuha Peut (penguasa yang empat). Dengan
demikian, kawasan-kawasan sepanjang Selat Malaka dikuasai oleh
darah keturunan Maharaj Syahriar Salman dari Dinasti Sassanid Persia
dan bercampur dengan darah pribumi Jeumpa (sekarang Bireuen).
Kemudian datanglah rombongan berjumlah 100 orang yang dipimpin
oleh Nakhoda Khalifah. Tujuan mereka adalah berdagang sekaligus
berdakwah menyebarkan agama Islam di Perlak. Pemimpin dan para
penduduk Negeri Perlak pun akhirnya meninggalkan agama lama
mereka untuk berpindah ke agama Islam. Bandar Perlak disinggahi
oleh satu kapal yang membawa kurang lebih 100 orang dai yang

PAGE 30

terdiri dan orang-orang Arab dan suku Quraish. Palestina. Persia, dan
India di bawah pimpinan Nahkoda Khalifah sambil berdagang sekaligus
berdakwah. Setiap orang mempunyai keterampilan khusus terutama di
bidang pertanian, kesehatan.

PAGE 31

Pemerintahan, strategi, dan taktik perang serta keahlian-keahlian


lainnya. Ketika sampai di Perlak, rombongan Nahkoda Khalifah
disambut dengan damai oleh penduduk dan penguasa Perlak yang
berkuasa saat itu yakni Meurah Syahir Nuwi. Pemerintahan Perlak
sendiri pada saat itu masih berupa pelabuhan yang dikelilingi
pemukiman dan dibawah kontrol penguasa Syahr Nuwi. Sayid Maulana
Ali al Muktabar dalam rombongan pendakwah yang menyebarkan
Islam di Hindi, Asia Tenggara dan kawasan-kawasan lainnya setelah
Khalifah Makmun sebelumnya berhasil meredam pemberontakan
kaun Syiah di Mekkah yang dipimpin oleh Muhammad bin Jafar
Ashhadiq. Berikut Silsilah Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz
Syah yang dikutip dan Silsilah Raja-raja Islam di Aceh dan
Hubungannya dengan Raja-raja Islam di Nusantara yang ditulis oleh T.
Syahbuddin Razi. Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah bin
Sayid Ali Al Muktabar bin Sayid Muhammad Dibai bin Imam Ja far
Asshadiq bin Imam Muhammad Al Baqir bin Saiyidina Ali Muhammad
Zainal Abidin bin Saidina Hussin Assysyahid bin Saidina Ali bin Abi
Thalib. Sebagian dan anggota rombongan itu menikah dengan
penduduk lokal termasuk Sayid Ali al Muktabar kemudian menikah
dengan adik Syahir Nuwi yang bernama Puteri Tansyir Dewi.
Pernikahan Sayid Ali Al-Muktabar ini dianugerahi seorang putra
bernama Sayid Maulana Abdul Aziz Syah. Sayid Maulana Abdul Aziz
Syah ini setelah dewasa dinobatkan menjadi Sultan Pertama Kerajaan
Islam Perlak.
Adik bungsu Syahir Nuwi yaitu Putri Tansyir Dewi, menikah
dengan Sayid Maulana Ali al Muktabar, anggota rombongan
pendakwah yang tiba di Bandar Perlak dengan sebuah kapal di bawah
Nakhoda Khalifah. Kapal itu memuat sesayar 100 pendakwah yang
menyamar sebagai pedagang. Rombongan ini terdiri dari orang-orang
Quraish, Palestina, Persia dan India.. Perkawinan Putri Tansyir Dewi
dengan Sayid Maulana Ali al-Muktabar membuahkan seorang putra
bernama Sayid Maulana Abdul Aziz Syah, yang kelak setelah dewasa
dinobatkan sebagai Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah,
sultan pertama Kerajaan Islam Perlak Sayid Maulana Ali al Muktabar
berfaham Syiah, merupakan putra dari Sayid Muhammad Dibai anak
Imam Jakfar Asshadiq (Imam Syiah ke-6) anak dari Imam Muhammad
Al Baqir (Imam Syiah ke-5), anak dari Syaidina Ali Muhammad Zainal
Abidin, yakni satu-satunya putra Syaidina Husen, putra Syaidina Ali bin
Abu Thalib dari perkawinan dengan Siti Fatimah, putri dari Muhammad
Rasulullah saw. Lengkapnya silsilah itu adalah: Sultan Alaidin Sayid
PAGE 32

Maulana Abdul Aziz Syah bin Sayid Maulana Ali-al Muktabar bin Sayid
Muhammad Dibai bin Imam Jafar Asshadiq bin Imam Muhammad Al
Baqir bin Syaidina Ali Muhammad Zainal Abidin Sayidina Husin
Assyahid bin Sayidina Alin bin Abu Thalib (menikah dengan Siti
Fatimah, putri Muhammad Rasulullah saw).

Selanjutnya, salah satu anak buah Nakhoda Khalifah, Ali bin


Muhammad bin Ja`far Shadiq dinikahkan dengan Makhdum Tansyuri,
adik dari Syahir Nuwi. Dari perkawinan mereka inilah lahir kemudian
Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah, Sultan pertama Kerjaan Perlak.
Sultan kemudian mengubah ibukota Kerajaan, yang semula bernama
Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah, sebagai penghargaan atas
Nakhoda Khalifah. Sultan dan istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi,
dimakamkan di Paya Meuligo, Perlak, Aceh Timur. Sultan Alaidin Syed
Maulana Abdul Aziz Syah merupakan sultan yang beralirah paham
Syiah. Aliran Syiah datang ke Indonesia melalui para pedagang dari
Persia. Mereka masuk pertama kali melalui Kesultanan Perlak. Kerajaan
Perlak berdiri tahun 840 M dengan rajanya yang pertama, Sultan
Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah. Sebelumnya, memang sudah
ada Negeri Perlak yang pemimpinnya merupakan keturunan dari
Meurah Perlak Syahir Nuwi atau Maharaja Pho He La. Pendiri
kesultanan Perlak adalah Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azis
Shah yang menganut aliran atau Mahzab Syiah.
Ia merupakan keturunan pendakwah Arab dengan perempuan
setempat. Kerajaan Perlak didirikan olehSultan Alaidin Sayid Maulana
yang bermazhab Syiah pada tanggal 1 Muharram 225 H atau 840
Masehi, saat kerajaan Mataram Kuno atau Mataram Hindu di Jawa
masih berjaya. Sebagai gebrakan mula-mula, sultan Alaiddin
mengubah nama ibu kota kerajaan dari bandar Perlak menjadi Bandar
Khalifah. Sultan pertama Perlak adalah Sultan Alaiddin Syed Maulana
Abdul Aziz Shah, yang beraliran Syiah dan merupakan keturunan Arab
dengan perempuan setempat, yang mendirikan Kesultanan Perlak
pada 1 Muharram 225 H (840 M).
Sultan pertama Perlak adalah Sultan Alaiddin Syed Maulana
Abdul Aziz Shah, yang beraliran Syiah dan merupakan keturunan Arab
dengan perempuan setempat, yang mendirikan Kesultanan Perlak
pada 1 Muharram 225 H (840 M). Ia mengubah nama ibukota kerajaan
dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah. Sultan ini bersama
istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi, kemudian dimakamkan di

PAGE 33

Paya Meuligo, Peureulak, Aceh Timur. Kini jelaslah kepada saya bahwa
Kerajaan Islam Pertama Asia Tenggara (Peureulak) dimulai pada 840
M sampai dengan Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Shah
Johan berdaulat adalah terakhir tahun 1292 M. Artinya, Dinasti
Islamiyah di Peureulak telah Berjaya selama 452 tahun lamanya.

PAGE 34

KESIMPULAN
Dari awal perjalanan masuknya islam di Indonesia, memiliki 3 teori.
Teori yang pertama adalah Teori gujarat, memandang bahwa asal
muasal datangnya Islam di Indonesia adalah melalui jalur perdagangan
Gujarat India pada abad 13-14. Teori persia, lebih menitikberatkan
pada realitas kesamaan kebudayaan antara masyarakat indonesia
pada saat itu dengan budaya Persia. Teori arab berpandangan bahwa
pedagang Arab yang mendominasi perdagangan Barat-Timur sejak
abad ke-7 atau 8 juga sekaligus melakukan penyebaran Islam di
nusantara pada saat itu.
Ada dua faktor penting yang menyebabkan masyarakat Islam mudah
berkembang

di

Aceh,

yaitu:

Letaknya

sangat

strategis

dalam

hubungannya dengan jalur Timur Tengah dan Tiongkok. Dan pengaruh


Hindu Budha dari Kerajaan Sriwijaya di Palembang tidak begitu
berakar kuat dikalangan rakyat Aceh, karena jarak antara Palembang
dan Aceh cukup jauh.
Dan dari aceh sendiri terdapat tokoh penyebaran islam melalui aceh,
yaitu :
1. Maharaj Syahriar Salman: seorang pangeran keturunan Dinasti
Sasanid Persia,
2. Sayid Maulana Ali al-Muktabar keturunan Rasulullah SAW.
Walaupun awalnya kerajaan islam pertama di Indonesia adalah syiah,
tetapi setelah kerajaan perlak diganti menjadi kerajaan Samudra Pasai
seluruh penduduk kerajaan, mulai menganut mazhab syafii setelah
menerima usluan dari Ibnu Batutah.

PAGE 35

BIOGRAFI PENULIS

Riza Rizky Aditia. Lahir di pontianak, Kalimantan Barat


pada tanggal 19 oktober 2000. Cita-cita saya yaitu menjadi
Arsitek di Paris. Memiliki hobi menghafal Al-quran,
walaupun baru hafal 2 atau 3 juz tetapi memiliki keinginan
menjadi hafizh yang hafal 30 juz. Mata pelajaran yang paling
saya sukai adalah matematika, walaupun masih banyang
yang harus dipelajari tapi saya yakin bahwa memang belajar
itu pasti membutuhkan proses yang panjang dan kerja keras.

PAGE 36

Sumber:
http://ms.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Perlak
http://adisuseno.wordpress.com/2010/07/30/kerajaan-perlak-kerajaan-islamindonesia-yang-pertama/
http://panglima-ali.com/index.php/sejarah-islam/item/260-perlak-kerajaan-islamawal-di-aceh

Alfian, Teuku Ibrahim. 1973. Kronika Pasai: Sebuah Tinjauan


Sejarah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Badrika,

Wayan.

2006. Sejarah

untuk

SMA

Jilid

II. Jakarta:

Erlangga.

Djamil, Muhammad Junus. 2005. Gerak Kebangkitan Aceh. Bandung:


C.V Jaya Mukti.
Hardi.

1993. Aceh:

Latar

Belakang

Politik

dan

Masa

Depannya. Jakarta: Rosenda.

Kawilarang,

Harry.

2010. Aceh

dari

Iskandar

Muda

ke

Helsinki. Banda Aceh: Bandar Publishing.

Kong,

Yuanzhi.

Perjalanan

2000. Muslim

Muhibah

di

Tionghoa

Cheng

Nusantara. Jakarta:

Ho:

Misteri

Yayasan

Obor

Indonesia.

Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada


University Press

PAGE 37

Said, Muhammad. 1979. Aceh Sepanjang Abad Jilid I. Medan:


Waspada.

Suryandari.

2008. Bahan

Ajar

Sejarah. Jakarta:

Pratama

Mitra

Aksara.
http://www.tambeh.wordpress.com.

PAGE 38