Anda di halaman 1dari 18

BAB XVIII

GANGGUAN TIDUR PADA LANJUT USIA


Tujuan Belajar
Tujuan Kognitif
Setelah membaca bab ini dengan seksama, maka anda sudah akan dapat :
1. Mengatahui fisiologi tidur normal pada dewasa muda dan lanjut usia.
2. Mengetahui jenis jenis gangguan tidur pada lanjut usia.
2.1. Mengetahui penyebab penyebab dari masing masing jenis gangguan tidur pada
lanjut usia.
3. Mengatahui bagaimana mendiagnosa gangguan tidur pada lanjut usia.
4. Mencegah terjadinya gangguan tidur pada lanjut usia.
4.1 Mengidentifikasikan depresi yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan tidur.
4.2 Menilai keseimbangan pola hidup dan aktivitas untuk menghindari terjadinya gangguan
tidur.
5. Mengetahui pendekatan diagnostik dan penatalaksanaan gangguan tidur.
Tujuan Afektif
Setelah membaca ini dengan penuh perhatian, maka penulis mengharapkan anda sudah akan
dapat :
1. Mencegah terjadinya gangguan tidur pada lanjut usia.
2. Mencoba hal hal lain selain obat obatan yang dapat digunakan sebagai
penanggulangan gangguan tidur yang terjadi pada lanjut usia.
3. Memberi obat obat yang sesuai dan tidak berlebihan.

42

I.

II.

Pendahuluan
Tidur bagi manusia adalah hal yang sangat penting, karena tidur
mengendalikan irama kehidupan kita sehari-hari. Jika kita kurang tidur atau
mengalami gangguan dalam tidur, maka hari-hari kita akan menjadi lambat dan
kurang bergairah. Sebaliknya tidur yang cukup dan berkualitas akan membantu kita
memiliki energi dan gairah dalam menjalani aktifitas sehari-hari. Setiap manusia
menghabiskan seperempat sampai sepertiga dari kehidupannya untuk tidur. Menurut
penelitian, hampir setiap manusia pernah mengalami masalah tidur. Satu dari tiga
orang dilaporkan mengalami gangguan tidur dan satu dari sembilan orang memiliki
masalah tidur yang cukup serius. Karena beberapa masalah tidur dapat diatasi oleh
individu yang bersangkutan dan yang lain memerlukan bantuan dokter, maka self
diagnosis (diagnosis diri) menjadi sangat penting.
Tidur merupakan fenomena alamiah manusia yang mendasar dan merupakan
suatu kebutuhan tubuh untuk sementara waktu mengistirahatkan kerja organ dan
memperbaiki sel-sel jaringan yang rusak. Tidur juga bermanfaat bagi otak untuk
memperbaiki keseimbangan metabolisme kalori, mengatur keseimbangan tubuh,
memperbaiki imunitas tubuh dan mengkonsolidasikan kembali fungsi kognitif dan
emosi.
Definisi tidur yaitu suatu ketidaksadaran dimana orang dapat dibangunkan
dengan rangsang sensoris atau rangsang lain yang tepat. Ketidaksadaran pada waktu
tidur berbeda dengan ketidaksadaran pada waktu anestesi yang dalam, ketidakaktifan
total dari sistem aktivasi retikularis dalam keadaan sakit (koma), dan kegiatan aktivasi
retikularis yang berlebihan pada epilepsi umum.
Tidur pada manusia juga dipengaruhi oleh faktor hormonal misalnya kortisol.
Hormon ini akan menurun pada sore hari menjelang malam, dimana dibutuhkan tidur
untuk mengembalikan ke kadar semula, yang akan dibutuhkan pada pagi harinya agar
seseorang dapat melakukan aktivitas selanjutnya.
Tidur yang baik membutuhkan total waktu tidur yang cukup seperti halnya
tidur yang sesuai dengan irama sirkadian (irama yang seirama dengan rotasi bola
dunia). Masalah pengaturan pola tidur pada usia lanjut biasanya meliputi; sulit untuk
tidur, tidur dalam yang sebentar, bangun terlalu pagi dan total waktu tidur yang
sedikit. Kebiasaan tidur yang buruk seperti waktu bangun yang tidak teratur dan
seringnya tertidur pada siang hari pada lanjut usia bisa menjadi faktor predisposisi
untuk terjadinya insomnia. Minuman yang mengandung caffeine dan alkohol bisa
mempengaruhi pola tidur.
Faktor usia merupakan faktor terpenting yang berpengaruh terhadap kualitas
tidur, dimana keluhan terhadap kualitas tidur berjalan seiring dengan penambahan
usia. Sebagian besar lanjut usia memiliki resiko gangguan tidur yang disebut
dyssomnia yang dapat terbagi menjadi bermacam gangguan dengan penyebabnya dan
juga parasomnia.
Epidemiologi
Wanita memiliki prevalensi yang tinggi terhadap gangguan tidur:
Kesulitan tidur (> 65 tahun) .Pria 10 %, Wanita 18 %.
Gangguan tidur sering terjadi pada pasien-pasien yang berada di rumah sakit dan
penghuni rumah perawatan.
Pola tidur berubah seiring dengan usia, tetapi perubahan dapat ditandai dengan
perubahan fisik atau psikologi.
Lanjut usia yang menerima obat-obatan hipnotik yang tidak proporsional.

43

Comparison of Sleep Cycles in Young Adults and the Elderly

Gambar 1. Hypnograms memerlihatkan perbedaan karakter tidur pada orang muda dan orang tua.
Dibandingkan dengan orang muda, Orang tua cenderung memiliki onset tidur yang lama, tidur yang
terfragmentasi, bangun terlalu dini di pagi hari dan menurunnya tidur tahap 3 dan 4.
III.

Fisiologi Tidur
Tidur merupakan fenomena kehidupan yang berlangsung dalam suatu siklus
tidur bangun berupa irama sirkardian yang berlangsung dan diatur oleh pusat
sirkardian di Nucleus Supra Kiasmatikus yaitu daerah hipotalamus region
anteroventral, yang mempengaruhi siklus endokrin dan pola sikap secara langsung
dan tidak langsung. Pusat pengaturan irama tubuh ini akan menterjemahkan rangsang
cahaya yang diterima mata, sehingga timbul irama terang dan gelap dalam tubuh
manusia ( irama sirkardian ). Nucleus Supra Kiasmatikus akan mengirimkan sinyal
ke badan pineal yang kemudian memproduksi hormon Melatonin. Hormon ini hanya
dikeluarkan pada saat gelap, dan dikenal sebagai hormon pengatur waktu tubuh yang
mengatur waktu tidur dan bangun manusia.
Aktivitas otak selama tidur dapat direkam melalui gelombang otak pada
Elektroensephalogram (EEG), gerakan bola mata Elektrookulogram (EOG), dan tonus
otot pada Elektromiogram (EMG).
Tidur adalah proses yang amat diperlukan oleh manusia untuk terjadinya
pembentukan sel-sel tubuh yang baru, perbaikan sel-sel tubuh yang rusak (natural
healing mechanism), memberi waktu organ tubuh untuk beristirahat maupun untuk

44

IV.

menjaga keseimbangan metabolisme dan biokimiawi tubuh. Hal penting yang terjadi
pada saat kita tidur adalah menurunnya frekuensi gelombang otak.
Jadi dengan memahami proses penurunan frekuensi gelombang otak, kita
dapat melihat bahwa tidur memiliki beberapa tahapan, mulai dari kondisi relaksasi
(gelombang alpha), tidur dengan mimpi (adanya REM Rapid Eye Movement) atau
dalam kondisi kreatif yaitu gelombang theta, dan tidur lelap tanpa mimpi pada
frekuensi gelombang delta. Jika kita dapat mengatur frekuensi gelombang otak kita
sampai pada taraf gelombang delta, kita tidak memerlukan waktu tidur yang panjang,
tetapi tidur yang berkualitas yaitu lelap tanpa mimpi. Jika kita sering berada dalam
kondisi relaksasi, maka kita tidak memerlukan banyak tidur. Ketegangan dan stress
membuat kita membutuhkan banyak tidur, namun justru dalam kondisi tersebut kita
menjadi susah tidur
Sadar : EEG rekaman nenunjukan rekaman dengan gelombang yang
berfrekuensi 8-13 siklus per detik (spd), disebut juga sebagai gelombang alfa.
Adapun fase tidur normal dibagi 2 fase:
1. REM (Rapid Eye Movement) :
Tidur REM ditandai dengan pergerakan bola mata yang cepat, refleks tendon yang
melemah atau menghilang, tekanan darah dan pernapasan meningkat, dan mimpi
biasanya terjadi pada stadium ini.
2. NREM (Non Rapid Eye Movement) dibagi kedalam 4 tahap :
Tidur tahap 1
: EEG memperlihatkan gelombang bervoltase rendah, berkurang
gelombang alfa dan munculnya gelombang yang berfrekuensi
lebih lambat tanpa adanya gelombang tidur ( sleep
spindle ).Pada tahap ini tonus otot berkurang, kelopak mata
menutup dan tampak gerakan bola mata ke kanan dan ke
kiri.Tahap ini berlangsung 3-5 menit dan stimulus ringan sudah
dapat membangunkannya.
Tidur tahap 2
: Tidur memasuki tahap ke dua bilamana tampak gelombang tidur
(sleep spindle )pada EEG. Gelombang ini berupa gelombang
cepat bervoltase tinggi, frekuensi 14-18 spd dengan latar
belakang gelombang lambat(3-6 spd) bervoltase rendah. Otot
bola mata berhenti bergerak, tetapi tonus otot tetap terpelihara.
Tidur tahap 3 dan 4 : EEG memperlihatkan gelombang delta yang berfrekuensi 1-2
spd dengan voltase tinggi. Gelombang delta pada tahap 4 lebih
banyak dari pada tahap 3
Keempat tahap tidur dilalui dalam 70 - 100 menit pertama setelah seseorang mulai
tidur. Pada tahap REM sebagian besar mimpi dapat diingat kembali bila orang
terbangun, sebaliknya pada tahap tidur Non-REM, hanya sebagian kecil yang dapat
diingat kembali. Selama tidur itu, tidur REM dan NREM terjadi bergantian 4-6 kali.
Jumlah tidur tahap 3, 4 dan REM makin berkurang sesuai dengan makin
meningkatnya usia. Pada usia lanjut tidur REM terbagi secara merata sepanjang
malam dan tahap 3 dan 4 yang sangat pendek, bahkan sering tidak ada sama sekali.
Perubahan Tidur pada Lanjut Usia
Dengan bertambahnya usia, tidur menjadi terfragmentasi dan efisiensi tidur menjadi
berkurang. Hal yang sering kali menjadi keluhan subjektif yang dialami oleh para
lanjut usia adalah keadaan lama di tempat tidur namun lebih singkat dalam keadaan
tertidur. Hal ini yang paling mencolok dalam hubungan antara usia dengan perubahan
fisologi tidur adalah pengurangan jumlah dan amplitudo dari tidur delta. Tidur REM
tidak dipengaruhi usia. Meskipun lamanya periode REM dapat menjadi lebih konstan
selama malam hari. Meskipun lanjut usia tidak memerlukan waktu lebih untuk
tertidur, mereka lebih sering terbangun ditengah-tengah tidurnya pada malam hari dan
tetap terjaga untuk waktu yang lama. Mereka mungkin banyak tertidur dengan waktu
yang singkat, dalam sehari dan lebih sensitive terhadap zone waktu dan perubahan
lingkungan.

45

Dari penelitian diketahui bahwa pada usia lanjut yang berperan mengatur siklus tidur
adalah menurunnya reaktifitas terhadap informasi fotik dan non fotik, demikian pula
berubah peranan dari retina, nucleus suprakiasmatikum dari hipotalamus, dan
glandula pinealis yang berperan pada sirkardian tidur.
Perubahan pada sruktur sel neuron dan sel glia yaitu kematian sel neuron,
retraksi dendrite yang berlanjut, hilangnya sinap atau hubungan informasi antar sel
saraf, reaktivitas sel glia yang didasari adanya perubahan protein-protein sitoskeletal
dan penumpukkan protein seperti amiloid ekstraseluler, juga perubahan pada sistem
vaskuler yang mengalirkan darah di otak yang rentan dengan proses aterosklerotik
dan arteriosklerosis di usia lanjut. Pada lanjut usia terjadi pengurangan jumlah tidur
gelombang lambat ( stadium 3 dan 4 tidur NREM )
TABEL
1
Faktor Yang menyebabkan Gangguan tidur Pada lanjut Usia
Gangguan tidur Primer
Circadian rhythm disorder
Sleep apnea (obstructive, central or mixed)
Restless legs syndrome
Periodic limb movement disorder (nocturnal myoclonus)
REM-behavior disorder
Rasa Sakit karena sebab tertentu
Penyakit Neurologic (e.g., Parkinson's disease, Alzheimer's disease)
Penyakit Cardiovascular
Penyakit Gastrointestinal
Penyakit paru-paru
Gangguan Psychiatric (e.g., anxiety, depression, psychosis, dementia, delirium)
Obat-obatan dan zat lain
Alcohol
Anticholinergics
Antidepressants
Antihypertensive agents
Caffeine
Corticosteroids
Diuretics
Herbal remedies
Histamine H2 blockers
Levodopa
Nicotine
Sympathomimetics
Kebiasaan tidur yang Buruk
V.

1.

Macam-Macam Gangguan Tidur Pada Lanjut usia


Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, bahwa gangguan tidur pada lanjut
usia dapat terjadi secara primer yang contohnya adalah gangguan tidur akibat sulit
bernapas (Obstruktif Apneu Sleep Disorder) dan kebanyakan berhubungan dengan
masalah medis dan kejiwaan atau karena penggunaan dan penyalahgunaan obat
tertentu. Gangguan tidur yang dapat ditemukan pada lanjut usia adalah :
Dyssomnia
A.
Insomnia

46

Adalah ketidakmampuan untuk memulai (inisiasi) tidur atau untuk


mempertahankan keadaan tidur dan biasanya sekunder akibat stress psikologis,
gangguan neurologi tertentu, penggunaan substansi atau zat tertentu dan penyakit
medis.
Insomnia adalah suatu gangguan tidur yang dialami oleh penderita
dengan gejala-gejala selalu merasa letih dan lelah sepanjang hari dan secara terus
menerus (lebih dari sepuluh hari) mengalami kesulitan untuk tidur atau selalu
terbangun di tengah malam dan tidak dapat kembali tidur. Ada tiga jenis
gangguan insomnia, yaitu: susah tidur (sleep onset insomnia), selalu terbangun di
tengah malam (sleep maintenance insomnia), dan selalu bangun jauh lebih cepat
dari yang diinginkan (early awakening insomnia). Cukup banyak orang yang
mengalami satu dari ketiga jenis gangguan tidur ini.
Dalam penelitian dilaporkan bahwa di Amerika Serikat sekitar 15 persen
dari total populasi mengalami gangguan insomnia yang cukup serius. Gangguan
tidur insomnia merupakan gangguan yang belum serius jika anda alami kurang
dari sepuluh hari. Untuk mengatasi gangguan ini kita dapat menggunakan teknikteknik relaksasi dan pemrograman bawah sadar.
Yang penting kita harus dapat menjaga keseimbangan frekuensi
gelombang otak agar sesering mungkin berada dalam kondisi relaks dan meditatif
sehingga saat kita harus tidur kita tidak mengalami kesulitan untuk menurunkan
gelombang otak ke frekuensi delta.
Insomnia berdasarkan penyebab :
- Insomnia Psikofisiologi
Merupakan insomnia yang menetap yang disebabkan oleh kondisi psikologi
atau kejiwaan. Selama periode sementara insomnia, pasien membiasakan diri
dengan kesulitan tidurnya, dan ini merupakan bentuk dari anggapan yang
memenuhi diri mereka yang merasa cemas bahwa waktu tidur merupakan
siksaan berat atau cobaan dibandingkan istirahat.
- Gangguan Neuropsikiatri
Depresi dan kecemasan biasa terjadi pada pasien lanjut usia yang mengalami
kesulitan tidur. Depresi sering berhubungan dengan pola terbangun pada tengah
malam atau bangun terlalu pagi, meskipun pasien dengan fase depresi dari
gangguan tidur bipolar (penyakit manik depresi) dapat juga mengalami tidur
yang berlebihan. Kecemasan biasanya berhubungan dengan kesulitan untuk
memulai tidur. Dari berbagai penyebab, gangguan tidur juga dapat terjadi
sekunder akibat ganngguan sistem saraf pusat. Insomnia sering disertai
demensia multi infark, Alzheimer, delirium, dan demensia lainnya. Meskipun
penurunan fungsi yang dihubungkan dengan kondisi ini ringan, perpindahan
kedalam lingkungan baru seperti Rumah Sakit atau Rumah Perawatan dapat
menimbulkan disorientasi. Pada malam hari saat sedikit yang dapat dilihat,
pasien dapat mengalami disorientasi dan agitasi (sun downing). Merupakan hal
yang terpenting lainnya adalah menyingkirkan sebab-sebab metabolic atau
toksik seperti infeksi atau uremia.
- Gangguan medis
Adanya gejala gejala yang berhubungan dengan gangguan medis yang dapat
mengganggu tidur pada lanjut usia. Penyakit kronik yang disebabkan proses
degeneratif atau rheumatoid arthritis adalah sebab yang biasa menyebabkan
pasien terbangun saat tidur. Penyakit jantung Kongestif (CHF), Asma dan
COPD dapat menyebabkan pasien sesak dan terbangun pada malam hari
(nocturnal dyspnea), Makroglosia yang berhubungan dengan Hipertiroid juga
dapat mempengaruhi nafas pada malam hari melalui obstruksi atau sumbatan
saluran nafas bagian atas, dan sakit kencing manis yang tidak terkontrol juga
dapat mempengaruhi tidur karena seringnya buang air kecil pada malam hari
- Penggunaan obat-obatan, alkohol, dan zat lain

47

Meskipun tidak terduga, alkohol, kafein dan obat-obatan sering menimbulkan


insomnia. Walaupun minuman beralkohol sering digunakan untuk merangsang
tidur, waktu paruh yang pendek dapat menyebabkan seseorang terbangun pada
malam hari. Pasien dengan alkoholik kronis sering merasakan insomnia selama
berbulan-bulan walaupun telah mencapai keadaan tidak mabuk yang
menyebabkan mengganti alkohol dengan agen sedative lain. Pasien-pasien
yang menerima pengobatan sedatif atau obat-obatan hipnotik untuk periode
waktu tertentu , merasakan bahwa mereka tidak dapat tidur tanpa obat tersebut
bahkan cenderung untuk menambah dosis obat. Hal ini merupakan masalah
toleransi yang akan lebih bermasalah pada obat yang sudah lama ditemukan
seperti barbiturate, gluthethymide (doriden), metyprylon (noludar), dan
ethchlorvinol (ploacydil) jika dibandingkan dengan benzodiazepine yang baru.
Walaupun demikian masih banyak pasien menggunakan obat-obat tersebut.
Penghentian penggunaan obat-obatan secara bertahap penting untuk
memperbaiki tidur, tetapi tetap diperlukan perawatan untuk menghindari
delirium atau serangan. Insomnia dapat juga berhubungan dengan penggunaan
obat psikostimulan , seperti amphetamine atau methylphenidate , setara dengan
penggunaan minuman yang mengandung kafein , seperti kopi. Penentuan
pengobatan dapat mempengaruhi tidur . Theophyline dan obat serupa yang
digunakan untuk mengobati penyakit pernafasan juga dapat merangsang dan
pasien dengan gangguan pernafasan dapat dengan mudah menggunkan obat
obatan inhalasi secara berlebih. Beberapa obat psikiatri seperti antidepresan
trisiklik protritypiline (Vivictyl), monoamine oksidase inhibitor seperti
phenelzine (Nardil) dan tranylcypromine (parnate) dan agen agen baru seperti
antidepresan fluoxetine (Prozac) dan bupropion (Wellbutrin) dapat disebabkan
insomnia bila diminum terlalu dekat dengan waktu tidur. Agen antipsikotik
seperti haloperidol (Haldol) dapat merangsang akathisia (kegelisahan motorik)
dan membuat sulit tidur.
Insomnia berdasarkan waktu :
Transient insomnia : episode tunggal yang berlangsung satu atau beberapa
malam (sering berhubungan dengan stress), bisa dikarenakan suatu stress
atau suatu situasi penuh stress yang berlangsung untuk waktu yang tidak
terlalu lama

Short term insomnia : Berlangsung beberapa hari sampai tiga minggu


(berhubungan dengan stress berkepanjangan), terjadi pada mereka yang
mengalami stress situasional ( kehilangan atau kematian yang dekat,
perubahan pekerjaan dan lingkungan pekerjaan, lingkungan yang berbeda
dari biasanya, adanya penyakit fisik dan lain sebagainya)

Long term atau khronik insomnia : berlangsung bulanan atau tahunan


( sering berhubungan dengan medis , gangguan kejiwaan atau gangguan tidur
primer )
B. Hipersomnia
Gangguan ini adalah kebalikan dari insomnia. Seringkali penderita
dianggap memiliki gangguan jiwa atau malas. Para penderita hypersomnia
membutuhkan waktu tidur yang sangat banyak dari ukuran normal. Meskipun
penderita tidur melebihi ukuran normal, namun mereka selalu merasa letih dan
lesu sepanjang hari. Namun gangguan ini tidaklah terlalu serius dan dapat diatasi
sendiri oleh penderita dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen diri
Penyebab Hipersomnia antara lain :
1.
Kondisi medis : Penyakit keturunan ( genetik), menstruasi, kondisi
metabolik atau toksik, encephalitis condition (peradangan atau infeksi
jaringan otak), pengobatan dengan suatu depresan ( zat yang berfungsi
menekan fungsi tubuh atau saraf), efek alkohol, keadaan putus rangsang
( kokain , ekstasi , metamfetamin ) , keadaan kurang atau tidur tidak
berkualitas .

48

2.

Kondisi kejiwaan : depresi ( sebagian ) , reaksi menghindar , gangguan


irama sirkadian .
Kondisi ini biasanya bercampur dengan gangguan tidur yang primer
tetapi dapat juga berhubungan dengan lsi disusunan saraf pusat (seperti
tumor , dan kelainan pembuluh darah) , penyakit paru paru , atau
penggunan zat tertentu . Hipersomnia primer biasanya bermula pada masa
remaja atau masa dewasa muda , dan meskipun tidur sebentar sebentar
merupakan hal yang biasa pada dewasa tua , hipersomnia biasa terjadi .
C.
Gangguan tidur yang berhubungan dengan
pernafasan
Bentuk yang paling sering adalah obstructive sleep apnea , Apnea
merupakan salah satu gangguan tidur yang cukup serius. Lebih dari 5 juta
penduduk Amerika Serikat mengalami gangguan ini. Faktor risiko terkena
gangguan ini antara lain: kelebihan berat badan (overweight), usia paruh baya
(terutama pada wanita), atau usia lanjut yang pernah mengalami ketergantungan
obat. Apnea adalah penyakit yang disebut jugato fall asleep at the wheel
karena sering dialami ketika penderita sedang mengemudikan mobil. Apnea
terjadi karena fluktuasi atau irama yang tidak teratur dari denyut jantung dan
tekanan darah. Ketika terserang, penderita seketika merasa mengantuk dan jatuh
tertidur. Penderita apnea mengalami kesulitan bernafas yang merupakan akibat
dari kolapsnya jaringan palatum lunak, obstruksi parsial jalan pernafasan dan
peningkatan tahanan jalan napas. Obesitas dan hipertensi dapat menyebabkan
kondisi seperti ini. Pasien dengan COPD dapat memperlihatkan kesulitan
bernapas saat tidur bernafas saat tidur. Apneu yang bersifat sentral relative jarang
terjadi dan dapat terjadi pada saat obstructive sleep apnea ( campuran sleep apnea
).
D.
Dyssomnia lain
Seperti pergerakan kaki yang periodik dan berulang , gerakan menyentak
dari ekstremitas bagian bawah (nocturnal myoclinus) selama tidur , lebih sering
terjadi pada usia lanjut usia dan berhubungan dengan tidur siang. Meskipun
penyebabnya biasanya tidak diketahui , antidepresan trisiklik dan perhentian
pemberian obat obatan sedatif dapat menjadi penyebab pada beberapa pasien
yaitu syndrome neurologik idiopathic yang dapat dipengaruhi oleh clonazepam .
Dan dapat juga terjadi Restless leg Syndrome pada beberapa pasien, yaitu
sindroma neurologist idiopatik yang dapat di pengaruhi oleh Klonazepam.
E.
Narkolepsi
Adalah suatu gangguan idiopatik karena aktivitas dari tingkat REM yang
berlebihan . Narcolepsy adalah gangguan tidur yang diakibatkan oleh gangguan
psikologis dan hanya bisa disembuhkan melalui bantuan pengobatan dari seorang
dokter ahli jiwa. Penyakit ini berbeda dengan insomnia yang terjadi secara terus
menerus. Justru penderita narcolepsy ini terkena serangan secara mendadak pada
saat yang tidak tepat, seperti sedang memimpin rapat biasanya terjadi serangan
pada kondisi emosi yang tegang seperti: marah, takut atau jatuh cinta. Serangan
narkolepsi dapat melumpuhkan seseorang dalam beberapa menit ketika dia masih
sadar dan secara tiba-tiba membawanya ke alam mimpi.
Meskipun onset biasanya pada dekade kedua dari kehidupan , kondisi ini
kadang kadang dapat ditemukan pada lanjut usia. Narkolepsi terdiri dari
serangan - serangan mengantuk terkadang disertai salah satu gejala dari ketiga
gejala ini :
1. Katapleksi
2. Paralisis tidur
3. Halusinasi hipnogogik
Lamanya serangan bervariasi dari beberapa detik hingga 15 30 menit.
Katapleksi terdiri dari hilangnya tonus secara episodik, mendadak dan
lengkap sehingga pasien dapat terjatuh tanpa kehilangan kesadaran. Bentuk yang

49

lebih ringan dapat menyerang bagian bagian dari tubuh misalnya, lunglai ada
lutut. Katapleksi berlangsung beberapa detik hingga menit dan dapat dicetuskan
oleh emosi yang kuat.
Paralisis Tidur adalah suatu keadaandimana terjadi kehilangan tonus otot
sementara. Keadaan ini terjadi antara waktu tidur dan terjaga, dan pasien
biasanya tidak mampu bergerak.
Halusinasi Hipnogogik adalah halusinasi visual atau auditorik antara
waktu tidur dan jaga. Halusinasi ini khusus timbul saat seseorang mulai terlelap
dan berlangsung singkat yaitu beberapa detik hingga menit.
F.
Gangguan ritme sirkadian tidur
Pasien lanjut usia memiliki lebih banyak kesulitan beradaptasi dengan
perubahan zona waktunya , seperti mereka yang baru melakukan perjalan
(jetlag) , dan mereka yang mengalami perubahan dalam giliran kerja . Pasien
lanjut usia dapat memperburuk gangguan fase tidur , yang ditandai dengan rasa
kantuk yang terlalu dini pada malam hari dan terbangun terlalu cepat pada pagi
hari. Gangguan fase tidur yang berat sering kali dapat diakali dengan memajukan
waktu tidur satu jam didepan setiap malam berturut turut sampai siklus bangun
tidur didapatkan kembali.
2. Parasomnia
Gangguan perilaku tidur REM terjadi paling sering pada pasien lanjut usia .
Aktivitas motorik seperti berlari atau menendang dapat terjadi selama mimpi ,
meskipun atonia biasanya berhubungan dengan tingkat tidur REM. Keadaan seperti
perlukaan oleh yang tajam dapat berhubungan dengan prilaku rumit yang dapat
menyerupai berjalan saat tidur (Somnambulisme) terjadi akibat aktivitas REM yang
berlebihan. Penatalaksanaan dari somnambulisme dapat termasuk memindahkan
objek yang berbahaya dari area tempat tidur atau dengan obat- obatan penekan REM
seperti MAO , antidepresan trisiklik dan sedative ( seperti clonazepam dan
benzodiazepine ) telah dianggap sebagai terapi , tapi agen ini dapat berresiko pada
lanjut usia atau pada individu yang lemah . Tidur berjalan , terror saat tidur , dan
ngompol terjadi dalam tidur selama 3 malam hari pertama tapi tidak biasa terjadi
pada lanjut usia.
VI. Diagnosis
Faktor faktor yang harus menjadi pertimbangan pada waktu mengevaluasi mengenai gangguan
tidur pada orang tua.
Apakah pasien mengeluh tidur yang berlebihan, ketiakmampuan untuk tertidur pada waktu jam
tidur, Bangun yang terlalu dini atau kombinasi dari gejala-gejala diatas?
Apakah total waktu tidur tidak cukup dan apakah percobaan tidur pada waktunya tidak sinkronise
dengan irama sirkardian ?
Apakah stressor atau factor lingkungan, Seperti suara anjing, bunyi telepon, terlalu terang atau
suhu yang tidak nyaman di kamar tidur?

Apakah terapi yang digunakan atau gangguan psikiatrik apa menyebabkan gangguan tidur?

50

Apakah efek sedative dan efek stimulasi dari kafein dan alcohol dapat menyebabkan gangguan
tidur?
Apakah pasien memiliki gangguan tidur primer, seperti sleep apnea, restless legs sindrom atau
periodik limb movements?
Apakah kebiasaan tidur yang buruk , seperti terlalu banyak aktivitas sebelum tidur, waktu bangun
yang tidak teratur dan seringnya tidur di siang hari memperburuk gangguan tidur?
Hal lain yang bisa menjadi dasar diagnosis :
1. Riwayat
a.
Riwayat tidur
Membiarkan pasien memiliki sleep diary selama 2 minggu, merupakan cara yang
berguna untuk mengetahui informasi:
- Waktu spesifik saat tidur dan saat bangun, dan apakah ada perubahan pola yang
terjadi.
- Waktu dan frekuensi dari keluhan ( seperti terbangun pada malam hari, tidur
siang, narkolepsi, paralisis tidur)
- Waktu yang dihabiskan dalam keadaan sadar dalam sehari.
- Penggunaan alcohol, tembakau, minuman mengandung kafein, dan obat-obatan,
perlu diketahui sebagai pemeriksaan.
- Mengantuk di siang hari, yang dapat mencerminkan sleep apnea pada orang
dengan riwayat insomnia (-).
- Mendengkur, nafas terngangga (diduga sleep apnea) atau gerakan fisik yang
tidak biasa selama tidur (diduga gerak myoclonic). Pasien dapat tidak menyadari
adanya riwayat ini; perlu ditanyakan pada teman tidur.
- Faktor yang mempercepat, seperti rasa, gangguan dan penggunaan obat atau
alkohol.

b.

Riwayat psikiatri
Karena banyaknya gangguan tidur yang behubungan dengan atau memiliki
komponen psikiatri, dokter harus menanyakan tentang kecemasan atau depresi,
terapi psikiatri sebelumnya, riwayat keluarga dengan gangguan tidur atau
perubahan personalitas kepribadian sekarang (dapat terjadi hipersomnia). Dalam
hal ini, respon keluarga terhadap gangguan tidur perlu diperhatikan.

c.

Riwayat pengobatan
Gejala yang berhubungan dengan kardiovaskuler, pernafasan, otot
rangka dan gangguan endokrin yang dapat mempengaruhi tidur seperti
diindikasikan di bawah ini :
1.
Kardiovaskular
Riwayat sesak di malam hari, sakit dada atau berdebar-debar menimbulkan
dugaan bahwa insomnia berhubungan dengan penyakit kardiovaskular.
2.
Paru-Paru
Batuk menetap, wheezing, dan rasa tidak nyaman yang disebabkan retensi
CO2 dan hipoksia (seperti pada COPD) dapat menimbulkan insomnia pada
pasien lanjut usia. Sleep Apnea kadang-kadang berhubungan dengan
penyakit paru kronik.
3.
Otot Rangka

51

Rasa sakit disebabkan penyakit sendi dapat mencetuskan kesulitan tidur atau
dapat membangunkan pasien di malam hari. Pasien lanjut usia dapat
mengalami kram kaki pada malam hari yang mengganggu tidur.
4.
Endokrin
Agitasi berhubungan dengan hipertiroid atau seringnya kencing malam hari
akibat control yang kurang baik dari DM (disfungsi kandung kemih yang
berhubungan dengan DM) dapat menyebabkan Insomnia.
5.
Susunan Saraf Pusat
Pasien dan keluarganya harus ditanya tentang kehilangan memori atau
perburukan penilaian untuk mengidentifikasi demensia awal sebagai sebab
insomnia.
2. Pemeriksaan Fisik
Perhatian khusus harus dilakukan pada pasien-pasien dengan gangguan
pernapasan, kardiovaskuler dan gangguan Endokrin.
a.
Pemeriksaan Psikiatri
Pasien perlu diperiksa untuk tanda-tanda depresi, kecemasan, dan gangguan
pikiran. Depresi serius yang terjadi dan menetap dalam bentuk kesedihan, diduga
disebabkan oleh 4 atau lebih hal yang disebutkan, yaitu: gangguan tidur (biasanya
insomnia, jarang hipersomnia), kehilangan minat, kondisi menyalahkan diri
sendiri yang berlebihan, penurunan energi, ketidak mampuan berkonsentrasi,
pengurangan selera makan, kemunduran psikomotor, ide-ide bunuh diri.
b.
Pemeriksaan Medis
1.
Penyakit Kardiovaskular
Tanda-tanda seperti udem perifer, pembesaran jantung, pulmonary rates dan
pulsasi yang tidak teratur dapat merupakan indikasi bahwa penyakit jantung
menyebabkan insomnia.
2.
Penyakit pernapasan
Bukti adanya obstruksi jalan napas yang kronik (sianosis pemanjangan fase
ekspirasi, wheezing, barrel chest, nail clubbing) dapat menyebabkan
insomnia atau sleep apnea.
3.
Penyakit otot rangka
Yang ditandai dengan bengkak, lunak dan sakit pada pergelangan sendi.
4.
Penyakit endokrin
Dapat ditandai dengan pulsasi yang cepat dan kulit yang kering yang
merupakan bentuk hipertiroid. Kencing manis dapat diduga dengan adanya
perubahan pada retina atau bukti adanya neuropati.
5.
Demensia atau gangguan neurologist sentral
Dapat memberi kesan dengan bukti adanya kekurangan memori,
kemunduran penilaian dan kemunduran dalam mengemukakan hal yang
abstrak. Screening test yang berguna adalah MMSE (Mini Mental State
Examination).
VII. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan insomnia :
Tujuan penatalaksanaan pada pasien insomnia :
- Menghentikan ketergantungan obat tidur.
- Meningkatkan pelaksanaan hygiene tidur.
- Memperbaiki gangguan tidur spesifik, contohnya :
# Nocturnal myoklonus
# Obstruktif sleep apnea
# Central sleep apnea
- Memperbaiki keadaan yang menganggu tidur.
- Memonitor respon terapi secara obyektif.
Populasi lanjut usia merupakan kelompok terbesar dalam menggunakan obat
hipnotik untuk mengatasi masalah-masalah mereka. Seharusnya tindakan penggunaan

52

obat tidak digunakan sebagai usaha terakhir tetapi terapi nonfarmakologis harus
didahulukan terlebih dahulu sebelum terapi farmakologis.
A.
Terapi Non Farmakologis
Prinsip yang paling penting dalam mengatasi insomnia adalah dengan
memikirkan pil tidur sebagai usaha terakhir.
Tujuan tindakan farmakologis ini adalah memperkuat hubungan antara tidur dan
waktu yang dihabiskan di tempat tidur, dan mengurangi aktifitas yang tidak
berhubungan dengan tidur, seperti rasa khawatir.
Tujuan ini dapat dicapai dengan memperlihatkan hal-hal sebagai berikut :

Pola tidur
- Mempertahankan pola tidur secara tertidur, dimana bangun dan tidur
secara teratur
- Memperhatikan waktu tidur secara teratur
- Memperpendek watu mengantuk

Lingkungan
- Dipertahankan suhu yang nyaman dan bebas dari suara-suara
mengganggu atau berisik, dengan penerangan yang cukup dan tidak
mengganggu mata, ataupun gelap, juga dalam lingkungan yang bersih.
- Tempat tidur juga merupakan salah satu bagian penting. Banyak o-rang
yang menggunakan kasur yang terlalu lunak dan tidak nyaman
sehinggga mempengaruhi tidur mereka. Kasur dipilih sesuai agar
kenyamanan tidur tidak terganggu
- Pergunakan bantal alas kepala yang sesuai dan nyaman untuk tidur.
- Pakaian tidur dipilih yang bersih dan nyaman dipakai.

Aktivitas
- Pasien harus diberitahukan bahwa saat mereka berbaring dalam keadaan
sadar selama lebih dari 30 menit, mereka harus meninggalkan kamar,
melakukan aktivitas lain diluar kamar sampai merasa lelah, lalu kembali
ke tempat tidur. Jika pasien cenderung berbaring dan bangun untuk
periode waktu yang lama, mereka harus mengatur jadwal untuk pergi
tidur lebih lambat (lebih malam).
- Jangan membaca atau menonton televisi di tempat tidur (atau melakukan
aktivitas lainnya di tempat tidur selain untuk untuk tidur).
- Olah raga setiap hari tapi jangan sebelum tidur
- Dokter perlu membantu dalam pelaksanaan suatu jadwal siang dan
malam yang teratur. Jadwal ini sebaiknya memungkinkan pasien untuk
melakukan aktivitas fisik secara teratur di siang hari dan cukup waktu
unmtuk rileks setelah beraktivitas sebelum beristirahat. Menjelang tidur
aktivitas mental perlu dihindari.

Sumber makanan penunjang , seperti Vitamin B12 , Asam folat ,


dsb.

Cairan , obat-obatan dan latihan


- Hygiene tidur yang baik juga termasuk menghindari berkemih pada
malam hari dengan membatasi pemasukan cairan pada waktu yang dekat
dengan waktu tidur.
- Latihan fisik yang teratur setiap hari memperbaiki tidur dan meningkat
pelepasan growth hormone dimalam hari.
- Hindari minuman yang merangsang seperti teh , kopi , dan minuman
cola harus dihindari dimalam hari setelah pukul 6 sore
- Segelas susu hangat sebelum tidur merupakan pengobatan tradisional,
ataupun mandi air hangat atau pijat dapat membantu relaksasi untuk
mempermudah tidur.
B.
Terapi Farmakologis
Hipnotik

53

Pada pemakaian pertama obat hipnotik , memang cenderung mengurangi


jeda- jeda pemutus tidur dan memungkinkan orang untuk lebih cepat jatuh
tertidur lebih lama . Kebanyakan obat- obatan hipnotik mengurangi tidur REM.

Alkohol
Telah lama dikenal berfungsi sebagai hipnotik tua yang selektif bila
diminum dalam jumlah yang tidak banyak , akan tetapi bila berlebih , maka
alkohol akan menginduksi tidur , namun kemudian dapat menyebabkan
gangguan pada tidur.

L- Triptofan
Merupakan asam amino alamiah yang terdapat dalam susu , daging ,
dan beberapa sayur hijau . terdapat beberapa bukti bahwa L- Triptofan dapat
menginduksi tidur bila diminum dalam dosis 1 gram dimalam hari.

Benzodiazepin
Dalam pemberian Benzodiazepin harus dapat diresepkan dalam
jumlah kecil (misalnya jumlah yang cukup untuk pemberian minggu saja
untuk setiap kali pemberian), dan pengulangan resep harus dihindari . Pasien
harus diingatkan agar supaya berhati hati dalam beraktivitas sehari hari
seperti menyetir , dan lain sebagainya agar tidak membahayakan dirinya
sendiri . Berikan dosis efektif yang sekecil mungkin . Benzodiazepin tidak
akan mempengaruhi gangguan emosional dasar yang menyertai insomnia
kronis.
Golongan ini akan mengganggu pertimbangan social , gampang agresif dan
resiko bunuh diri meningkat. Obat obatan ini di metabolisme dihati dan
beberapa diantaranya menghasilkan metabolit metabolit aktif yang
ekskresinya dari tubuh lebih lambat dibanding dengan senyawa asalnya.
Semua obat ini perlu digunakan secara hati hati apabila pasien memiliki
gangguan pada fungsi hati, khususnya obat- obatan yang mengalami
oksidasi.
Pada lanjut usia metabolisme Benzodiazepin berlangsung lebih lambat dan
perlahan dan metabolit yang terkonjugasi di ekskresi lebih lambat karena
penurunan fungsi ginjal dengan pertambahan usia . Dengan demikian , efek
obat ini akan lebih nyata pada lanjut usia . Pada pemberian hipnotik ini
sebaiknya diberikan saat perut dalam keadaan kosong , karena adanya
makanan akan memperlambat absorbsi. Keluhan utama sindrom putus obat
adalah kecemasan , depresi, perubahan persepsi , perasaan depersonalisasi
dan nausea. Insomnia sering terjadi suatau gejala akibat putus obat.

Diazepam 5 30 mg
Obat ini baik diberikan pada dosis tunggal dimalam hari sebelum
tidur. Metabolit utamanya , dismentil diazepam , mempunyai waktu paruh
yang panjang . Hal ini membuat diazepam terutama bermanfaat pada
insomnia yang disebabkan oleh neurosis cemas . Dapat pula terjadi perasaan
melayang saat bangun tidur setelah mabuk pada malam sebelumnya
(hangover)

Klorazepat dikalium
Diubah menjadi dismentil diazepam oleh pH lambung yang asam ,
dan ini dapat dihindari terjadinya hangover pada mereka yang cenderung
mengalaminya bila minum diazepam.

Triazolam
Dengan dosis 0, 125 mg menjelang tidur , atau Temazepam 5 15
mg menjelang tidur bermanfaat sebagai hipnotik kerja singkat. Dari kasuskasus yang mengeluh sulit tidur , maka triazolam merupakan obat yang
paling efektif . Cara lain pemakaian benzodiazepine kerja singkat dengan
cara memberikan pada saat pasien terbangun ditengah malam . Karena
efeknya berlansung singkat , maka memungkinkan tambahan tidur selama 24 jam.

54

Klonazepam
Dosis yang diberikan 0, 252 mg menjelang tidur , mengatasi
mioklonus malam hari.

Flurazepam
Secara eksklusif didasarkan sebagai obat untuk mengatasi
insomnia . Hasil dari uji klinis terkontrol telah menunjukan bahwa
flurazepam mengurangi secara bermakna waktu induksi tidur, jumlah dan
lama terbangun selama tidur, maupun lamanya tidur . Mula mula efek
hipnotik rata- rata 17 menit setelah pemberian obat secara oral dan
berakhirnya hingga 8 jam . Efek residu sedasi disiang hari terjadi pada
sebagian besar penderita , untuk metabolik aktifnya yang masa kerjanya
panjang , karena obat itu obat ini cocok untuk pengobatan insomnia jangka
panjang dan jangka pendek disertai gejala anxietas di siang hari.
Efek sampai pusing , vertigo , ataksia , dan gangguan keseimbangan
terutama pada lanjut usia dan penderita yang keadaannya lemas. Flurazepam
dikontraindikasikan pada wanita hamil . Penderita juga perlu diperingatkan
terhadap kemungkinan efek adiktif oleh alkohol sehari setelah pemberian
flurazepam. Dosis oral untuk induksi tidur dewasa 30 mg pada waktu tidur
( bagi beberapa penderita cukup 15 mg , pada lanjut usia dan penderita yang
keadaanya lemas 15 mg ).
Flurazepam dan Nitrazepam
Sebaiknya dihindari karena dapat menimbulkan akumulasi dalam
tubuh , metabolik aktif , dan aktivitas di siang hari
Obat-obat jenis lain :
a)
Amitriptilin, doksepin, dotiepin atau nianserin, cocok diberikan
kepada insomnia yang disertai depresi. Semua obat golongan ini tergolong
sedative. Efek samping pada jantung mungkin tidak diharapakan pada
kelompok usia pertengahan dan lanjut usia.
b)
Kloralhidrat 500-2000 mg di malam hari merupakan hipnotik yang
popular, efektif dan terjangkau harganya. Obat ini terutama bermanfaat pada
lanjut usia karena kecil potensinya untuk terjadi ketergantungan fisik atau
psikis. Kloralhidrat tidak menyebabkan perasaan kacau dan hanya sedikit
mempengaruhi siklus tidur. Bekerja dalam waktu 30 menit dan efeknya
berlangsung hingga 8 jam. Dimetabolisme oleh hati dan diekskresi oleh
ginjal, sehingga tidak boleh digunakan pada penyakit hati dan ginjal. Dapat
terjadi gastrirtis dan ruam kulit. Obat ini dikontraindikasikan pada penderita
gastritis dan tukak peptic.
c)
Klormetizol edisilat 500-1000 mg di malam hari, bermanfaat pada
lanjut usia, terutam mereka yang menderita demensia dan gangguan tidur.
Merupakan suatu derivate vitamin B12 dan memiliki efek sedative, hipnotik
dan anti konvulsan. Dapat timbul sakit kepala, bersin-bersin, iritasi mata, dan
ganguan lambung. Gangguan fungsi hati merupakan suatu factor resiko
keracunan obat ini.
Obat-obat yang mempunyai rantai samping alifatik (misalnya
Chlorpromazine, promazine, dan rifluopromazine) adalah yang paling sedative.
Golongan piperazine bersifat sedative ringan, sedangkan golongan piperidin
memiliki efektivitas sedative intermediate.
Klorpromazine dan tioridazine merupakan sedative fenotiazine
yang cocok untuk kasus insomnia yang menyertai psikosis.
Haloperidol 1-3 mg peroral sekali atau dua kali sehari atau 1-5
mg di malam hari dapat mengendalikan perasaan kacau yang dialami pada
siang hari dan ganguan yang berkaitan dengan salah persepsi pada malam
hari.

55

Klorpromazine 25-30 mg peroral di malam hari, secara tunggal


atau secara bersamaan dengan benzodiazepine dapat digunakan pada kasus
insomnia yang menyertai penyakit terminal.
Barbiturat
Barbiturat merupakan golongan anti depresan otak secara umum dan
kurang dibandingkan dengan golongan enotiazin dan benzodiazepine. Reaksi
paradoks pada lanjut usia yang disertai agresi, agitasi, atau yang serupa itu sering
terjadi. Barbiturat kini tidak lagi dipakai sebagai hipnotik karena kecenderungan
menimbulkan ketergantungan baik psikis maupun fisik, banyaknya interaksi obat
yang ditimbulkannya induksi enzim-enzim hati dan bahanya bila ditelan dalam
dosis berlebih.
Antihistamin
Antihistamin seperti klorpheniramin (benadryl) dapat merupakan hipnotik
yang efektif untuk beberapa pasien, tetapi efek anti kolinergiknya dapat
menyebabkan kebingungan pada usia lanjut.
Beberapa antihistamin yang memberikan efek sedatif (antihistamin generasi I) :
Alkylamines
: Brompheniramine, Chlorpheniramine, Pheniramine,
Deklorpheniramine, Dimethidine.
Ethanolamines
: Carbinoxamine, Clemastine, Diphenhidramine.
Phenotiazine
: Mequitazine, promethazine
Piperazine
: Homochlorcyclizine, Hidroxyzine (Iterax), Meclizine,
Oxatomide.
Piperidine
: Cyproheptadine, phenindamine, Piprinhydrinate
Azatadine
2. Sindroma Apneu Tidur
o
Pengobatan penderita sindroma apneu tidur bersifat mendesak karena ada
resiko kematian mendadak.
o
Perlu dilakukan observasi tidur selama 24 jam, wawancara dengan partner
tidurnya dan pemeriksaan polisomnografi.
o
Tindakan yang perludilakukan adalah dengan meningkatkan tekanan aliran
udara yang terus menerus (CPAP-Continuous Positive Airway Pressure)
o
Dapat pula dilakukan pembedahan
o
Jika pasien gemuk, maka perlu menurunkan berat badan yang dengan
sendirinya akan memecahkan persoalan.
o
Asupan alcohol atau obat-obatan yang berlebihan harus dihentikan.
o
Pemberian sedative, termasuk premedikasi dan anesthesia umum berbahaya
pada kasus-kasus ini dan perlu dilakukan pengawasan ketat.
o
Medroksiprogesteron asetat 20 mg peroral tioap 8 jam merupakan suatu
perangsang pernapasan dan memperbaiki gejala-gejala sindroma ini. Obat ini
bekerja dengan merangsang pernapasan sentral.
o
Protriptilin 20-30 mg peroral di malam hari, dapat mengurangi banyaknya
episode apneu. Obat ini bekerja dengan mengurangi jumlah tidur REM, yaitu saat
saat dimana terjadi periode apneu yang paling berat dan juga dapat mengubah
aktivitas otot pernapasan.
3. Narkolepsi
Tidur siang secara teratur dan tidur malam yang lebih panjang dapat membantu
mencegah serangan tidur di siang hari dan sedikitnya mengurangi frekuensinya.
Psikoterapi individual atau kelompok baik dari pasien atau keluarga yang dapat
membantu dan memahami segala sesuatu yang berhubungan dengan penyakit dan
kecacatannya.
Untuk mengatasi berbagai aspek yang berbeda dari sindroma ini diperlukan
pengobatan yang berbeda pula. Kebanyakan penderita mengeluh bahwa serangan
tidur di siang hari adalah yang paling menggangu dalam hidup mereka.

56

Kafeine, ephedrine dan antikonvulsan tidak memiliki tempat dalam pengobatan


narkolepsi.
Metilfenidat 80 mg / per hari peroral dapat digunakan untuk mengatasi rasa
mengantuk di siang hari. Dosis awal biasanya 5 mg per oral pada jam 8, 12, dan
jam 4 sore. Obat ini memiliki masa kerja yang singkat. Absorpsinya berkurang
oleh makanan, oleh karena itu harus diberikan 1 jam sebelum atau sesudah
makan.
Imipramin 10 25 mg dalam dosis terbagi selama siang hari, digunakan untuk
mengatasi gejala Narkolepsi lainnya. Dosis rendah lebih efektif untuk katapleksi
dari pada untuk pengobatan depresi.
Pemberian bersama Metilfenidat dan Imipramin dapat digunakan untuk
mengatasi serangan tidur dan gejala-gejala penyertanya.
Fenelzin dipakai untuk pengobatan narkolepsi yang resisten dan mengatasi semua
gejala pada gangguan ini.
Protriptiline diberikan sebagai dosis tunggal sebelum tidur.
Propanolol 240 480 mg / hari peroral efektif mengatasi serangan tidur pada
narkolepsi.
4. Transient Insomnia
Mungkin tidak diperlukan obat, akan tetapi apabila pasien memerlukan nya dapat
diberikan derivat benzodiazepine yang bekerja cepat seperti Triazolam dan
Lorazepam, yang juga cepat hilang dari tubuh. Pasien cukup diberi pil saja, sering
tidak perlu diobati sampai seminggu.
5. Short Term Insomnia
Sebagai pengobatan dapat diberikan derivat benzodiazepine yang bekerja cepat.
Biasanya pengobatan tidak lebih dari 3 minggu.
6. Long term Insomnia
Dalam keadaan ini obat-obatan yang lebih tepat adalah neuroleptika dengan efek
hipnotik yang kuat seperti klorpromazin, levomepromazinem dan sebagainya untuk
schizophrenia, dan amitriptilin, mianserin, atau maproptilin bila terdapat depresi.
7. Parasomnia
Aktivitas motorik termasuk gerakangerakan menendang di tempat tidur atau tidur
berjalan dapat diatasi dengan obat REM suppressant seperti antidepresan trisiklik dan
monoamin oksidase inhibitor. Akan tetapi obat ini beresiko membuat lemah pada
pasien lanjut usia. Hal yang penting adalah memindahkan benda-benda yang
berbahaya dan mebel yang ujungnya tajam dari sekitar pasien dengan kondisi ini.
VIII. Kesimpulan
Gangguan tidur pada lanjut usia seringkali berhubungan dengan gangguan
medis dan gangguan psikiatrik lainya, seringkali tidak terdiagnosis secara pasti dan
tidak di terapi dengan baik sebagai mana mestinya. Untuk itu diperlukan peningkatan
pengetahuan dan pemahaman tentang gangguan tidur (insomnia) khususnya pada lanjut
usia. Dengan mengetahui dan memahami berbagai jenis gangguan atau penyakit tidur
kita dapat mengambil langkah yang diperlukan. Sepanjang masih bisa diatasi sendiri
dengan teknik-teknik manajemen diri (relaksasi dan pemrograman bawah sadar,
meditasi, dan pola hidup yang sehat dan seimbang), maka kita sebenarnya dapat
menjadi bagian dari solusi masalah yang kita hadapi. Untuk gangguan atau penyakit
yang serius seperti narcolepsy maupun apnea, kita harus berkonsultasi dengan dokter
ahli, karena mengabaikan gangguan tersebut dapat berakibat fatal (mematikan) bagi
penderita.
Pemeriksaan yang cermat sangat penting untuk menetapakan apakah penderita
gangguan tidur mengalami sleep disorder atau sleep disturbance. Peran dokter dan
perawat untuk mengambil riwayat gangguan, riwayat medik-psikiatrik, penggunaan
obat sebelumnya, catatan observasi tidur maupun rekaman tidur sangat membantu
penegakkan diagnosa dan pemberiaan tatalaksana yang tepat
Adapun cara yang baik untuk mendapatkan tidur yang baik :

57

1. Buat jadwal coba untuk mengatur jadwal bangun dan tidur setiap harinya tepat
waktu, hari libur pun termasuk.
2. Olah raga setiap hari, tetapi jangan sebelum tidur.
3. Hindari caffeine, rokok dan alkohol .
4. Cobalah meluangkan waktu untuk relaksasi sesaat sebelum tidur, bisa dengan
berendam air panas atau membaca buku.
5. Cobalah untuk melihat matahari pagi, tidak perlu keluar ruangan tapi bisa dengan
membuka jendela. Karena matahari membantu mengaktifkan dan mereset
biological clock.
6. Pastikan ruangan yang ditempati tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas.
Untuk menjawab kasus insomnia pada umumnya ada beberapa hal yang
disarankan untuk dilakukan.
Pertama, penderita insomnia harus pergi ke dokter terlebih dahulu. Hal ini sangat
penting untuk mendeteksi apakah yang bersangkutan memiliki gangguan penyakit fisik
yang berdampak terhadap gangguan tidur. Sebab sebagaimana dikatakan di atas bahwa
terdapat penyakit fisik tertentu yang menyebabkan gangguan insomnia. Jika demikian
adanya maka pengobatan dilakukan dengan terapi fisik.
Kedua, jangan mudah menggunakan obat tidur tanpa berdasarkan anjuran dokter. Jika
hal ini dilakukan maka justru insomnia akan tetap resistan. Dalam hal ini perlu diingat
bahwa kalangan terapis justru senantiasa berusaha menghindari penggunaan obatobatan. Sebab, pemakaian obat tidur acapkali hanya sebagai pereda sementara,
sehingga jika habis waktu berlakunya maka yang bersangkutan akan kembali insomnia.
Ketiga, hindari mengkonsumsi barang-barang terlarang, semacam minuman keras,
narkotika, dsb. Sebab hal tersebut akan mengganggu fungsi organ tubuh dan persarafan
secara normal.
Keempat, lakukan makan ataupun minum secara wajar baik dari kualitas, kuantitas,
ataupun waktunya. Hindari minum kopi saat menjelang jam tidur, sebab kopi
mengandung unsur kofein sehingga merangsang saraf untuk sulit tidur. Hindari makan
terlalu kenyang atau terlalu sedikit, karena hal tersebut akan menyebabkan perut
merespons secara tidak normal.
Kelima, aturlah lingkungan kamar tidur secara efektif dan efisien, termasuk lampu
tidur yang memenuhi syarat. Sebab kondisi lingkungan tertentu, semisal suara bising,
lampu sangat terang, akan mengganggu konsentrasi tidur.
Keenam, jika penderita insomnia memang telah mengetahui bahwa penyebabnya
adalah aneka problematika kehidupan maka selesaikan terlebih dahulu secara
sempurna. Berpikirlah rasional bahwa sepanjang badan dikandung badan manusia
mesti memiliki problema. Hadapilah dan selesaikan permasalahan hidup secara
proporsional dengan penuh usaha dan sabar.
Ketujuh, jika akan tidur maka lakukan niat yang kuat dan relaksasi fisik serileksnya.

DAFTAR PUSTAKA

Lonergan Edmund T, Clinical Proffesor of Medicine, San Fransisco : University of California,


1996

58

Budiman R, Insomnia pada Usia Lanjut, Dalam Buku Kumpulan Abstrak/ Makalah, Healty
and Active Ageing Symphosium Successful aging an Emerging Paradigm of
Gerontology : Illness, Crisis and Loss, Jakarta : Kongres Nasional gerontology,
2004
Setiabudhi T, Gangguan tidur Pada Usia Lanjut, Jakarta: Dalam cermin Dunia
Kedokteran,1997
Setiabudhi T, Menuju Lnjut Usia Sejahtera, Jakarta: Perpustakaan nasional, Forum
Komunikasi Lanjut usia, 1995
Walsh

D, Insomnia dalam Kapita selekta Penyakit dan terapi, Jakarta: penerbit Buku
Kedokteran EGC, 1997

Wiwie M, Insomnia Pada Usia Senja Deteksi dan Cara Mengatasinya, Dalam Buku
Kumpulan Abstrak/ Makalah, ParadoxicalParadigm Toward Active Ageing,
Jakarta: Kongres Nasional Gerontology.
http://www.neurologychannel.com/sleepdisorders/
http://www.aafp.org/afp/99051ap/2551.html
http://www.medicastore.com/nutracare/isi_calm.php?isi_calm=gangguan_tidur
http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2002/02/1/man01.html
http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2004/0730/kes2.html

59