Anda di halaman 1dari 18

TUGAS

TEKNIK EKSISI BOLA MATA

OLEH
GITA DEWITA
1118011051

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSIITAS LAMPUNG


RUMAH SAKIT UMUM ABDUL MULUK
BANDAR LAMPUNG
2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapakan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan segala nikmat

dan karunia-Nya

sehingga

penulis dapat

menyelesaikan Tugas berjudul Teknik Eksisi Bola Mata. Adapun penulisan


tugas

ini

dibuat dengan tujuan

untuk

memenuhi

salah satu tugas

kepaniteraan klinik bagian Ilmu Penyakit Mata di Rumah Sakit Abdoel


Moeloek.

Penulis

mengucapkan

terima

kasih

yang

sebesarnya

kepada

dokter

pembimbing yang telah bersedia memberikan bimbingan dalam penyusunan


tugas ini, juga kepada semua pihak yang telah turut serta dalam membantu
penyusunan tugas ini sehingga dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunannya laporan kasus ini masih


memiliki banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, dengan segala
kerendahan

hati

penulis

mengharapkan

kritik

dan

saran

demi

penyempurnaan laporan kasus ini. Akhirnya semoga laporan kasus ini dapat
menambah wawasan dan bermanfaat bagi kita semua

Bandar Lampung,

Januari 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

Teknik eksisi bola mata dapat dilakukan dengan menggunakan tiga teknik
pembedahan. Pembedahan eksisi bola mata ini diindikasikan pada keadaan
mata yang tidak berfungsi, menimbulkan keadaan sakit berlebih pada pasien
akibat reaksi inflamasi yang terjadi pada mata, atau pada keganasan mata
yang dapat menyerang bagian tubuh lain.
Teknik

eviserasi

adalah

tenik

Pengangkatan

isi

bola

mata

dengan

meninggalkan bagian dinding bola mata, sclera, otot-otot ekstra okuli dan
saraf optik. Teknik enukleasi adalah Pengankatan keseluruhan isi bola mata
termasuk nervus optikus, sedangkan teknik eksenterasi adalah tindakan
pengangkatan seluruh orbita, termasuk bola mata, jaringan lunak orbita,
serta kelopak mata dan adnexa mata. Pada tugas ini akan dibahas lebih
lanjut mengenai ketiga teknik tersebut.

BAB II
ISI

1. Eviserasi
Eviserasi

adalah

teknik

pengangkatan

isi

bola

mata

dengan

meninggalkan bagian dinding bola mata, sclera, otot-otot ekstra okuli


dan saraf optik.1
Indikasi
Indikasi dari pembedahan eviserasi adalah keadaan kebutaan pada
mata dengan infeksi berat atau kondisi mata yang sangat nyeri. Tumor
intraocular dan phitisis merupakan kontraindikasi dalam melaksanakan
pembedahan eviserasi. Eviserasi memiliki keuntungan dibandingkan
enukleasi yaitu pembedahan dapat dilaksanakan dengan komplikasi
yang lebih sedikit, aeastesi dapat dilakukan dengan anestesi local
berupa blok retrobulbar dan proses pembedahan dilakukan dalam
waktu yang lebih singkat.2

Prosedur Pembedahan3
Secara umum, pembedahan eviserasi dilakukan dengan urutan sebagi
berikut,
1. Pembedahan dilakukan menggunakan anastesi local dengan blok
retrobulbi.

Jika

jaringan

mengalami

imflamasi

maka

anastesi

ditambahkan atau diberikan anastesi sistemik seperti Pethidine 100


mg i.m. Pada kasus endophtalmitis anastesi sistemik lebih baik
digunakan.

2. Spekulum dimasukkan pada lipatan kelopak mata.


3. Dengan menggunakan skapel, insisi dimulai pada bagian limbus,
kemudian kornea dieksisi menggunakan gunting.

4. Isi bola mata dilepaskan menggunakan sharp currete atau spoon.


Pendarahan

sering

terjadi

sehingga

sangat

penting

untuk

memastikan semua bagian hitam koroid dilepaskan menggunakan


bare white sclera. Jika terdapat jaringan koroid, maka terdapat
factor

resiko

ophtalmologis

yang

memungkinkan

dikemudian

hari.

terjadinya

Bersihkan

sympatetik

cavum

sklera

menggunakan swab basah phenol 5% untuk membantu mengurangi


rasa nyeri pasca operasi.
5. Sklera dibuka melalui drainase, cara ini digunakan untuk eviserasi
pada endhoptalmitis, namun pada eviserasi yang diindikasikan
penyakit lain penggunaan catgut untuk menutup sklera dan
jaringan konjungtiva disekitarnya.

6. Salep antibiotik digunakan sebelum dilakukan bebat tekan pada


mata

yang

dilakukan

pembedahan.

Teknik eviserasi dapat pula dilakukan dengan atau tanpa implan, dengan
runtutan sebagai berikut
Eviserasi tanpa implan :
1. Buat incisi pada limbus 3600

2. Potong

kornea

dengan

gunting

wescott,

dengan

membiarkan

perlekatan antara konjungtiva dengan sklera di daerah limbus untuk


meminimalisasi penyebaran infeksi
3. Buang seluruh isi bola mata dengan menggunakan suction dan sendok
eviserasi hingga bersih dari uvea dan perdarahan
4. Sklera dapat dibiarkan terbuka dan dijahit
5. Konjungtiva dipisahkan dari tenon
6. Tenon dijahit dengan vicryl 6.0
7. Konjungtiva dijahit dengan vicryl 6.0
Eviserasi dengan implan :
1. Buat incisi limbal 3600, konjungtiva dan tenon dipisahkan dari sklera
2. Incisi kornea 360, buang seluruh isi bola mata dengan menggunakan
suction dan sendok eviserasi hingga bersih dari uvea dan perdarahan.
3. Masukkan implant dengan ukuran yang sesuai, jahit sklera dengan
benang yang tidak dapat diserap.
4. Pisahkan tenon dari konjungtiva, jahit secara terpisah dengan benang
6.0 yang dapat diserap.

Teknik eviserasi memiliki beberapa keuntungan, diantara lain adalah


-

Nervus optikus dan meningen tidak terganggu


Lebih cepat dan mudah untuk drainase abses okuler
Menghindari perdarahan yang berlebihan dari jaringan lunak yang

inflamasi
Sklera tetap intak, sebagai barier terhadap proses supuratif
Struktur jaringan lunak orbita tidak terganggu
Fisiologi normal dan gerakan orbita dapat dipertahankan
Bola mata tetap terfiksasi oleh kapsula tenon, otot-otot

ekstraokular dan septum intermuskular


Secara kosmetik hasilnya lebih baik, dan kelainan soket lebih
lambat

Ada berbagai pertimbangan kenapa operator lebih memilih tindakan


eviscerasi dibandingkan dengan enukleasi Pada teknik eviscerasi
hilangnya volume orbita serta perubahan anatomi dan fisiologi dapat
juga terjadi, namun dengan dipertahankannya lapisan sclera dan
jaringan periorbita dapat menambah volume orbita 0,5 cc. Struktur
anatomi periorbita pada eviscerasi tidak dirusak dan hubungan antar
jaringan kelopak mata dan otot ekstra okuler ke dinding sclera dan
forniks tidak diganggu, sehingga perubahan anatomi dan fisiologi yang
terjadi tidak seberat pasca enukleasi. Secara kosmetik tentu hasilnya
lebih baik dan kelainan soket lebih lambat terjadinya.
2. Enukleasi
Enukleasi adalah teknik pengangkatan keseluruhan isi bola mata
termasuk nervus optikus.4
Indikasi5:
- Visus yang sngat turun dengan nyeri pada rongga orbita.
- Tumor intraokular
- Trauma hebat dengan resiko sympathetic ophthalmia
- Phthisis bulbi
- Microphthalmia
- Endophthalmitis/panophthalmitis

Proses Pembedahan
1. Pembedahan dilakukan dengan anastesi local yaitu blok retrobulbar
namun pada anak- anak dianjurkan untuk menggunakan anastesi
sistemik.
2. Sebuah speculum dimasukkan.
3. Menggunakan forceps dan gunting dibuat insisi pada konjungtiva,
memutaari limbus untuk memisahkan konjungtiva dan kornea.
4. Menggunakan gunting, konjungtiva dipisahkan dari bola mata
menjadi empat kuadran yang dibuat diantara otot-otot ekstraokular.
5. Menggunakan pengait otot (strabismus hook) untuk menjepit
masing-masing kuadran. Tandai dengan strabismus hook dibelakang
konjungtiva diantara otot-otot rectus kemudian buat simpul dibawah
otot-otot. Masing-masing otot dibagi sekitar 1-2 mm dari orbita.

6. Gunting melingkar sekitar mata dari temporal atau nasal sampai ke


saraf optik yang terasa sempit pada gunting. Ujung gunting membuka
dan kemudian mengguntik saraf optik. Ketika pembedahan enukleasi
dilakukan

karena

menggungting

suspek

saraf

retinoblastoma,

sejauh

mungkin

sangat
yang

penting

dapat

Pendarahan yang terjadi diatasi menggunakan artery forceps

untuk

silakukan.

7. Prolaps bola mata dapat terjadi selama pembedahan. The dinding bola
mata ditahan dengan swab gauze dan ditekan selama 5 menit untuk
menghentikan pendarahan. Semestinya luka dinutup dalam dua
lapisan. Satu lapis kapsul tenon dan lapis kedua adalah konjungtiva
yang dijahit menggunakan absorsable sutures
8. Salep antibiotik digunakan sebelum dilakukan bebat tekan pada mata.

Pada teknik enukleasi, terdapat penggunaan implan mata ataupun tanpa


implan.
Teknik enukleasi tanpa implan dilakukan dengan urutan cara berikut :
1. Buat incisi limbal 360 menembus konjungtiva dan tenon
2. Cari otot-otot rektus dan ikat dengan benang yang dapat diserap
(vicryl 6.0)
3. Potong otot-otot rektus yg sdh diikat
4. Potong otot-otot oblik
5. Potong nervus optikus
6. Rawat perdarahan
7. Hubungkan ikatan jahitan otot-otot rektus
8. Tutup konjungtiva dengan vicryl 6.0

Teknik enukleasi dengan implan dilakukan dengan urutan cara sebagai


berikut :
1. Buat incisi limbal 360 menembus konjungtiva dan tenon
2. Cari otot-otot rektus dan ikat dengan benang yang dapat diserap
(vicryl 6.0)
3. Potong otot-otot rektus yg sdh diikat

4. Potong otot-otot oblik


5. Potong nervus optikus
6. Buka bagian posterior dari tenon
7. Pilih ukuran implan yg sesuai, dengan cara mengukur implan yg sesuai
yg bs masuk diantara otot rektus
8. Jahitkan otot rektus pada implan
9. Jahit tenon
10.

Jahit konjungtiva

C. Eksesnterasi
Eksenterasi

merupakan

tindakan

pengangkatan

seluruh

orbita,

termasuk bola mata, jaringan lunak orbita, serta kelopak mata dan
adnexa mata.6,7

Indikasi
Indikasi pembedahan eksenterasi adalah adanya penyakit keganasan
di rongga orbita atau menyebaran dari tumor lain yang mengenai
orbita.

8,9

Prosedur Pembedahan
1. Pembedahan harus dilakukan dengan anastesi umum dan dilakukan
endotrakeal intubasi.
2. Sebuah sayatan dibuat sampai ke tulang orbita, sepanjang garis
tepi orbital akan ada perdarahan yang cukup besar. Pendarahan
dapat diperkecil dengan Menyuntikan adrenalin kedalam jaringan
sebelum

operasi.

Tekanan

pada

tepi

luka

akan

mengontrol

perdarahan ini kemudian diikat dengan menggunakan artery


forceps.
3. Insisi dilakukan di periostium sepanjang tepi orbita sampai ke apex.
Kemudian periosteum dipisahkan dari tulang melewati apeks
orbital. Periosteum sangat erat melekat pada tulang di tepi orbita,
dan sulit untuk memisahkannya dari tulang, tetapi lebih jauh ke
belakang orbita lebih mudah untuk dipisahkan dari periosteum Yang
perlu diperhatikan selama insisi adalah dinding orbital medial yang
tipis. Diseksi dilakukan sejauh mungkin sampai ke apeks dari
jaringan orbita. Pada apeks orbital kemudian dibagi dengan
menggunakan gunting melengkung atau scalpel blade. Pada tahap
ini akan banyak terjadi pendarahan, untuk menanggulanginya
dilakukan bebat tekan selama lebih kurang 5 menit. Jika perdarahan
masih berlanjut tekanan dengan kompres panas mungkin dapat
mengendalikannya. Namun kompres panas juga harus dihindari
karena menyebabkan thrombosis, vasokontriksi di dalam tulang dan
akan menunda penyembuhan.

4. Setelah

dilakukan

eksenterasi,

Orbita

dapat

dibiarkan

tanpa

diberikan skin graft sehingga akan terjadi granulasi dan kulit


berangsur akan menutupinya. Namun dapat juga ditempelkan skin
graft pada bekas pembedahan. Graft biasanya kan mempercepat
terjadinya re-epitelisasi.
5. Modifikasi

dari

eksentereasi

dapat

dilakukan

untuk

mempertahankan bentuk mata. Kelopak mata dapat ditinggalkan


untuk menutupi tulang-tulang orbita yang terbuka

(hasil eksenterasi bola mata)

DAFTAR PUSTAKA

1. American Academy of Ophthalmology: Orbit, eyelid and Lacrimal


System, Section7 , 2011-2012. page 119-120
2. Ocuplastic and Reconstructive Surgery. 2008. Mosby Elsevier.
3. Community

Eye

Health

Journal.

Eviceration,

Enucleation

and

Exenteration. Chapter 10 page


4. American Academy of Ophthalmology: Orbit, eyelid and Lacrimal
System, Section7 , 2011-2012. page 117-118
5. Perry AC. Advances in enucleation. Ophthalmol Clin North Am.
1991;4:1737

6. American Academy of Ophthalmology: Orbit, eyelid and Lacrimal


System, Section7 , 2011-2012. page 116-117
7. Wadih zein MD. Evisceration, Enucleation, and Exenteration. 2008.
Eyeblog.0rg
8. Ocuplastic and Reconstructive Surgery. 2008. Mosby Elsevier.
9. Wadih zein MD. Evisceration, Enucleation, and Exenteration. 2008.
Eyeblog.0rg