Anda di halaman 1dari 26
POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK) PENANGKAPAN IKAN LAUT BANK INDONESIA Direktorat Kredit, BPR dan UMKM

POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK)

PENANGKAPAN IKAN LAUT

POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK) PENANGKAPAN IKAN LAUT BANK INDONESIA Direktorat Kredit, BPR dan UMKM Telepon

BANK INDONESIA

Direktorat Kredit, BPR dan UMKM

Telepon : (021) 3818043 Fax : (021) 3518951, Email : tbtlkm@bi.go.id

DAFTAR ISI

1. Pendahuluan

2

a. Prospek Menciptakan PKT

2

b. Permasalahan

3

c. Model Kelayakan

3

d. Tujuan

4

2. Kemitraan Terpadu

6

a. Organisasi

6

b. Pola Kerjasama

8

c. Penyiapan Proyek

9

d. Mekanisme Proyek

10

e. Perjanjian Kerjasama

11

3. Aspek Pemasaran

13

a. Pasar Ikan Laut secara Makro

13

b. Faktor yang mempengaruhi Harga Ikan Laut

13

c. Potensi Pasar Ekspor Ikan Laut

14

4. Aspek Produksi

16

a. Sumberdaya Ikan Pelagis

16

b. Alat Tangkap Ikan

18

c. Alat Bantu Penangkapan Ikan

20

d. Kapal Penangkap Ikan

21

5. Aspek Keuangan

23

a. Penjelasan Umum

23

b. Analisa Aspek Keuangan

23

1. Pendahuluan

a. Prospek Menciptakan PKT

Sektor perikanan laut adalah salah satu subsektor ekonomi yang sangat potensial untuk dikembangkan. Potensi lestari sumberdaya perikanan laut Indonesia berjumlah 6,6 juta ton per tahun dengan hasil penangkapan sekitar 3,7 juta per tahun.

Jumlah rumah tangga usaha nelayan laut sebesar 660.000 rumah tangga. Jumlah nelayan tahun 1993 sebanayj 1.889.524 orang terdiri dari 937.261 nelayan fulltime dan 952.263 nelayan parttime.

Nilai ekspor produk ikan mencapai sekitar US $ 2 milyar pada tahun 1997. Pada masa depan peluang ekspor cukup besar, terutama karena penurunan nilai tukar rupiah yang memberikan dampak positif terhadap daya saing produk ikan dari Indonesia di pasar luat negeri. Disamping itu, permintaaan beberapa jenis ikan dari Indonesia seperti kakap merah, cakalang, tuna dan lain-lain, diluar negeri cukup tinggi dengan harga FOB yang mantap.

Jumlah rumah tangga usaha nelayan laut sebesar 660.000 rumah tangga. Jumlah nelayan tahun 1993 sebanayj 1.889.524 orang terdiri dari 937.261 nelayan fulltime dan 952.263 nelayan parttime.

Sebagai akibat dari krisis ekonomi yang melanda Indonesia baru-baru ini, Pemerintah maupun dunia usaha di sektor perikanan mempunyai program dan rencana untuk moderenisasi usaha nelayan. Peraturan baru dari Pmerintah memberikan peluang untuk impor kalap penangkapan ikan yang cocok di perairan ZEE. Perusahaan domestik dapat juga mendirikan joint venture dengan investor di luat negeri untuk mengembangkan pabrik pengolahan ikan yang modern.

Sebagai akibat dari krisis ekonomi yang melanda Indonesia baru-baru ini, Pemerintah maupun dunia usaha di sektor perikanan mempunyai program dan rencana untuk moderenisasi usaha nelayan. Peraturan baru dari Pmerintah memberikan peluang untuk impor kalap penangkapan ikan yang cocok di perairan ZEE. Perusahaan domestik dapat juga mendirikan joint venture dengan investor di luat negeri untuk mengembangkan pabrik pengolahan ikan yang modern.

Beberapa produsen ikan laut, yaitu perusahaan BUMS dan satu BUMN telah menciptakan proyek kemitraan dengan nelayan dengan tujuan memperbaharui armada kapal penangkapan di mana pabrik pengolahan ikan berada.

Sebagai akibat dari krisis ekonomi yang melanda Indonesia baru-baru ini, Pemerintah maupun dunia usaha di sektor perikanan mempunyai program

dan rencana untuk moderenisasi usaha nelayan. Peraturan baru dari Pmerintah memberikan peluang untuk impor kalap penangkapan ikan yang cocok di perairan ZEE. Perusahaan domestik dapat juga mendirikan joint venture dengan investor di luat negeri untuk mengembangkan pabrik pengolahan ikan yang modern.

Dengan PKT yang sedang berjalan dan PKT baru yang direncanakan antra kelompok nelayan dengan BUMS/BUMN, khususnya di KTI, hasil penangkapan per kapal meningkat dengan pendapatan para nelayan yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan keadaan sebelum didirikan PKT.

b. Permasalahan

Sekalipun peluang pengembangan sektor perikanan laut cukup besar, tetapi masih terdapat kendala atau masalah yang merupakan hambatan atas pengembangan sektor tersebut.

Dengan terbatasnya modal sendiri, perusahaan BUMS dan BUMN tidak mampu memberikan jaminan tambahan sebagai avalis kepada bank pemberi kredit untuk membiayai armada kapal laut yang dibutuhkan oleh nelayan peserta PKT.

Oleh karena krisis ekonomi juga melanda perbankan, maka perbankan saat ini juga tidak mampu memberikan kredit baru, meskipun oleh perbankan sendiri proyek PKT ini dinilai layak dari segala aspek.

Di beberapa wilayah perairan laut, sektor perikanannya masih sangat

tradisional dengan kapasitas penangkapan ikan yang terlalu rendah untuk memasok kebutuhan pabrik/coldstorage yang dibangun oleh UB. Oleh karena itu beberapa UB memproduksi di bawah titik pulang pokok.

UB yang terletak di daeraj tertentu juga terkena dampak dari deplesi stok

ikan tertentu karena over fishing dan dampak fluktuasi harga di pasar dalam maupun luar negeri.

c. Model Kelayakan

Bank Indonesia pada tahun 1997 meluncurkan Program Kemitraan Terpadu, yaitu program kemitraan antara usaha kecil (UK) dan usaha besar (UB) dengan melibatkan bank sebagai pemberi kredit usaha kecil (KUK) dalam suatu ikatan kerjasama yang dituangkan dalam Nota Kesepakatan (NK).

Model KPKT diharapkan dapat membantu staf perkreditan bank dalam rangka penilaian kemungkinan pemberian kredit kepada kelompok perusahaan yang relatif homogen dan bermitra dengan usaha besar maupun koperasi primer dalam program kemitraan terpadu.

Model KPKT membahas beberapa fakor pokok berkenaan dengan aspek- aspek kelayakan kelompok usaha kecil yang bergerak di subsektor bersangkutan, antara lain aspek pemasaran, aspek teknis produksi, pola kemitraan terpadu, serta aspek keuangan termasuk kebutuhan biaya proyek untuk para usaha kecil dan menengah.

Gerakan Kemitraan antara UB dan UK dan Koperasi serta berbagai program pembinaan usaha kecil yang diselenggarakan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan UK dan Koperasi, berupaya mendorong dan mempercepat pengembangan dunia usaha kecil di Indonesia.

Program kredit yang telah membiayai UK dan Koperasi dengan jumlah yang cukup besat antara lalin Kredit Usaha Kecil (KUK), Kredit kepada Koperasi Primer untuk Anggotanya (KKPA) serta two-step-loan dari Bank Pembangunan di luar negeri. Program kredit tersebut semuanya menyalurkan kredit investasi maupun kredit modal kerja permanen untuk usaha kecil yang dinilai layak oleh bank.

d. Tujuan

Laporan ini merupakan upaya memacu dan membangkitkan minat bank untuk mengembangkan hubungan dengan para nelayan melalui KUD Mina atau KUD lainnya dengan para nelayan yang bermitra dengan BUMS atau BUMN melalui pemberian kredit berjangka untuk para nelayan.

Tujuan dari kredit yang diberikan kepada mitra nelayan adalah untuk memperbaharui armada kapal penangkapan serta alat penangkapan ikan, supaya hasil penangkapan dan pendapatan para nelayan lebih meningkat, dimana pada gililrannya akan lebih meningkatkan kesejahteraan nelayan serta mengurangi angka kemiskinan di pedesaan.

Usaha besar yang bermitra dengan para nelayan harus menjamin pasar, yaitu mampu membeli seluruh hasil penangkapan ikan dari mitra nelayan, yang telah membli kapal baru dengan kapasitas penangkapan relatif tinggi. UTB yang bemitra dengan pata nelayan, mempunyai pabrik pengelolaan ikan, cold storage pabrik es, dan prasarana lainnya untuk memproduksi hasil penangkapan ikan dengan nilai tambah yang tinggi.

UB selalu memberikan pembinaan teknis kepada para nelayan, khususnya tentang cara pengawetan hasil penangkapan ikan di dalam palka dari saat penangkapan sampai ikan diserahkan kepada UB, penyuluhan teknologi penangkapan, dan manajemen operasional kapal penangkapan supaya kualitas ikan sesuai dengan persyaratan dari UB.

Usaha Besar harus menyediakan pasokan perbekalan, misalnya air, es, BBM (solar) serta prasarana reparasi dan pemeliharaan kapal maupun alat penangkapan ikan kepada para mitra nelayan.

Kredit usaha kecil yang diberikan oleh perbankan kepada para nelayan sampai sekarang relatif sedikit dibandingkan dengan jumlah KUK kepada pengusaha kecil lainnya, yaitu para petani, perkebunan maupun para peternak. Para nelayan (dinilai oleh perbankan sebagai nasabah yang kurang bankable karena kapal penangkapan ikan tidak bisa diasuransikan, dan kapal tersebut jika diagunkan nilainya relatif rendah.

Oleh karena para nelayan memindahkan kegiatan penangkapan dari suatu wilayah ke wilayah lainnya sesuai dengan musim penangkapan ikan, bank mengalami kesulitan dalam rangka melaksanakan penagihan angsuran. Program kemitraan antra para nelayan dengan UB akan memperkecil resiko serta masalah yang berhubungan dengan pengembalian kredit.

Potensi pemberian kredit kepada kelompok nelayan yang bermitra dengan UB/Koperasi Mina cukup besar, karena beberapa UB mengekspor hasil produksi ikan dengan harga jual tinggi. Hasil produksi ikan oleh para nelayan dalam negeri masih lebih rendah daripafa potensi penangkapan. Dengan Pola kemitraan antara UB dengan para nelayan, investasi yang diperlukan oleh nelayan dapat dibiayai sebagian dengan kredit bank.

Tim peneliti Model KPKT-PIL, telah menerima informasi dari beberapa bank, UB maupun pemilik kapal, bahwa portfolio kredit kepada pemilik kapal pada umumnya lancar dan menguntungkan bagi bank maupun para nasabah, serta masalah-masalah yang dikhawatirkan seperti kesulitan penagihan angsuran kredit ternyata dapat diatasi melalui pola kemitraan, dimana UB berfungsi sebagai administrator pemgembalian kredit yang diberikan oleh bank kepada para nelayan calon, pemilik dan pemilik kapal. Demikian juga haknya dengan resiko kecelakaan kapal di laut, ternyata dengan menerapkan pola kemitraan yang khusus mengoperasikan kalap-kapal 7 GT ke atas resiko tersebut dapat diperkecil, oleh karena pada kenyataannya resiko kecelakaan kapal yang terjadi tidak lebih dari 10% selama 5 tahun terakhir.

Selain itu investasi pada kapal penangkapan ikan relatif lebih menguntungkan, karena setelah kapal selesai dibangun yang membutuhkan waktu 1-3 bulan, dapat langsung dioperasikan sekaligus memperoleh pemasukan dengan cepat, yaitu usaha pengakpan ikan adalah proyek quick- yielding yang mendorong ekspor.

2. Kemitraan Terpadu

a. Organisasi

Proyek Kemitraan Terpadu (PKT) adalah suatu program kemitraan terpadu yang melibatkan usaha besar (inti), usaha kecil (plasma) dengan melibatkan bank sebagai pemberi kredit dalam suatu ikatan kerja sama yang dituangkan dalam nota kesepakatan. Tujuan PKT antara lain adalah untuk meningkatkan kelayakan plasma, meningkatkan keterkaitan dan kerjasama yang saling menguntungkan antara inti dan plasma, serta membantu bank dalam meningkatkan kredit usaha kecil secara lebih aman dan efisien.

Dalam melakukan kemitraan hubunga kemitraan, perusahaan inti (Industri Pengolahan atau Eksportir) dan petani plasma/usaha kecil mempunyai kedudukan hukum yang setara. Kemitraan dilaksanakan dengan disertai pembinaan oleh perusahaan inti, dimulai dari penyediaan sarana produksi, bimbingan teknis dan pemasaran hasil produksi.

Proyek Kemitraan Terpadu ini merupakan kerjasama kemitraan dalam bidang usaha melibatkan tiga unsur, yaitu (1) Petani/Kelompok Tani atau usaha kecil, (2) Pengusaha Besar atau eksportir, dan (3) Bank pemberi KKPA.

Masing-masing pihak memiliki peranan di dalam PKT yang sesuai dengan bidang usahanya. Hubungan kerjasama antara kelompok petani/usaha kecil dengan Pengusaha Pengolahan atau eksportir dalam PKT, dibuat seperti halnya hubungan antara Plasma dengan Inti di dalam Pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR). Petani/usaha kecil merupakan plasma dan Perusahaan Pengelolaan/Eksportir sebagai Inti. Kerjasama kemitraan ini kemudian menjadi terpadu dengan keikut sertaan pihak bank yang memberi bantuan pinjaman bagi pembiayaan usaha petani plasma. Proyek ini kemudian dikenal sebagai PKT yang disiapkan dengan mendasarkan pada adanya saling berkepentingan diantara semua pihak yang bermitra.

1. Petani Plasma

Sesuai keperluan, petani yang dapat ikut dalam proyek ini bisa terdiri atas (a) Petani yang akan menggunakan lahan usaha pertaniannya untuk penanaman dan perkebunan atau usaha kecil lain, (b) Petani /usaha kecil yang telah memiliki usaha tetapi dalam keadaan yang perlu ditingkatkan dalam untuk itu memerlukan bantuan modal.

Untuk kelompok (a), kegiatan proyek dimulai dari penyiapan lahan dan penanaman atau penyiapan usaha, sedangkan untuk kelompok (b), kegiatan dimulai dari telah adanya kebun atau usaha yang berjalan, dalam batas masih bisa ditingkatkan produktivitasnya dengan perbaikan pada aspek usaha.

Luas lahan atau skala usaha bisa bervariasi sesuai luasan atau skala yang dimiliki oleh masing-masing petani/usaha kecil. Pada setiap kelompok tani/kelompok usaha, ditunjuk seorang Ketua dan Sekretaris merangkap Bendahara. Tugas Ketua dan Sekretaris Kelompok adalah mengadakan koordinasi untuk pelaksanaan kegiatan yang harus dilakukan oleh para petani anggotanya, didalam mengadakan hubungan dengan pihak Koperasi dan instansi lainnya yang perlu, sesuai hasil kesepakatan anggota. Ketua kelompok wajib menyelenggarakan pertemuan kelompok secara rutin yang waktunya ditentukan berdasarkan kesepakatan kelompok.

2. Koperasi

Parapetani/usaha kecil plasma sebagai peserta suatu PKT, sebaiknya menjadi anggota suata koperasi primer di tempatnya. Koperasi bisa melakukan kegiatan-kegiatan untuk membantu plasma di dalam pembangunan kebun/usaha sesuai keperluannya. Fasilitas KKPA hanya bisa diperoleh melalui keanggotaan koperasi. Koperasi yang mengusahakan KKPA harus sudah berbadan hukum dan memiliki kemampuan serta fasilitas yang cukup baik untuk keperluan pengelolaan administrasi pinjaman KKPA para anggotanya. Jika menggunakan skim Kredit Usaha Kecil (KUK), kehadiran koperasi primer tidak merupakan keharusan

3. Perusahaan Besar dan Pengelola/Eksportir

Suatu Perusahaan dan Pengelola/Eksportir yang bersedia menjalin kerjasama sebagai inti dalam Proyek Kemitraan terpadu ini, harus memiliki kemampuan dan fasilitas pengolahan untuk bisa menlakukan ekspor, serta bersedia membeli seluruh produksi dari plasma untuk selanjutnya diolah di pabrik dan atau diekspor. Disamping ini, perusahaan inti perlu memberikan bimbingan teknis usaha dan membantu dalam pengadaan sarana produksi untuk keperluan petani plasma/usaha kecil.

Apabila Perusahaan Mitra tidak memiliki kemampuan cukup untuk mengadakan pembinaan teknis usaha, PKT tetap akan bisa dikembangkan dengan sekurang-kurangnya pihak Inti memiliki fasilitas pengolahan untuk diekspor, hal ini penting untuk memastikan adanya pemasaran bagi produksi petani atau plasma. Meskipun demikian petani plasma/usaha kecil dimungkinkan untuk mengolah hasil panennya, yang kemudian harus dijual kepada Perusahaan Inti.

Dalam hal perusahaan inti tidak bisa melakukan pembinaan teknis, kegiatan pembibingan harus dapat diadakan oleh Koperasi dengan memanfaatkan bantuan tenaga pihak Dinas Perkebunan atau lainnya yang dikoordinasikan oleh Koperasi. Apabila koperasi menggunakan tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), perlu mendapatkan persetujuan Dinas Perkebunan setempat dan koperasi memberikan bantuan biaya yang diperlukan.

Koperasi juga bisa memperkerjakan langsung tenaga-tenaga teknis yang memiliki keterampilan dibidang perkebunan/usaha untuk membimbing petani/usaha kecil dengan dibiayai sendiri oleh Koperasi. Tenaga-tenaga ini bisa diberi honorarium oleh Koperasi yang bisa kemudian dibebankan kepada petani, dari hasil penjualan secara proposional menurut besarnya produksi. Sehingga makin tinggi produksi kebun petani/usaha kecil, akan semakin besar pula honor yang diterimanya.

4. Bank

Bank berdasarkan adanya kelayakan usaha dalam kemitraan antara pihak Petani Plasma dengan Perusahaan Perkebunan dan Pengolahan/Eksportir sebagai inti, dapat kemudian melibatkan diri untuk biaya investasi dan modal kerja pembangunan atau perbaikan kebun.

Disamping mengadakan pengamatan terhadap kelayakan aspek-aspek budidaya/produksi yang diperlukan, termasuk kelayakan keuangan. Pihak bank di dalam mengadakan evaluasi, juga harus memastikan bagaimana pengelolaan kredit dan persyaratan lainnya yang diperlukan sehingga dapat menunjang keberhasilan proyek. Skim kredit yang akan digunakan untuk pembiayaan ini, bisa dipilih berdasarkan besarnya tingkat bunga yang sesuai dengan bentuk usaha tani ini, sehingga mengarah pada perolehannya pendapatan bersih petani yang paling besar.

Dalam pelaksanaanya, Bank harus dapat mengatur cara petani plasma akan mencairkan kredit dan mempergunakannya untuk keperluan operasional lapangan, dan bagaimana petani akan membayar angsuran pengembalian pokok pinjaman beserta bunganya. Untuk ini, bank agar membuat perjanjian kerjasama dengan pihak perusahaan inti, berdasarkan kesepakatan pihak petani/kelompok tani/koperasi. Perusahaan inti akan memotong uang hasil penjualan petani plasma/usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama untuk dibayarkan langsung kepada bank. Besarnya potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak petani/Kelompok tani/koperasi. Perusahaan inti akan memotong uang hasil penjualan petani plasma/usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama untuk dibayarkan langsung kepada Bank. Besarnya potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak petani plasma dengan bank.

b. Pola Kerjasama

Kemitraan antara petani/kelompok tani/koperasi dengan perusahaan mitra, dapat dibuat menurut dua pola yaitu :

a. Petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani mengadakan perjanjian kerjasama langsung kepada Perusahaan Perkebunan/ Pengolahan Eksportir.

Dengan bentuk kerja sama seperti ini, pemberian kredit yang berupa KKPA kepada petani plasma dilakukan

Dengan bentuk kerja sama seperti ini, pemberian kredit yang berupa KKPA kepada petani plasma dilakukan dengan kedudukan Koperasi sebagai Channeling Agent, dan pengelolaannya langsung ditangani oleh Kelompok tani. Sedangkan masalah pembinaan harus bisa diberikan oleh Perusahaan Mitra.

b. Petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani, melalui koperasinya mengadakan perjanjian yang dibuat antara Koperasi (mewakili anggotanya) dengan perusahaan perkebunan/ pengolahan/eksportir.

dengan perusahaan perkebunan/ pengolahan/eksportir. Dalam bentuk kerjasama seperti ini, pemberian KKPA kepada

Dalam bentuk kerjasama seperti ini, pemberian KKPA kepada petani plasma dilakukan dengan kedudukan koperasi sebagai Executing Agent. Masalah pembinaan teknis budidaya tanaman/pengelolaan usaha, apabila tidak dapat dilaksanakan oleh pihak Perusahaan Mitra, akan menjadi tanggung jawab koperasi.

c. Penyiapan Proyek

Untuk melihat bahwa PKT ini dikembangkan dengan sebaiknya dan dalam proses kegiatannya nanti memperoleh kelancaran dan keberhasilan, minimal dapat dilihat dari bagaimana PKT ini disiapkan. Kalau PKT ini akan mempergunakan KKPA untuk modal usaha plasma, perintisannya dimulai dari :

a. Adanya petani/pengusaha kecil yang telah menjadi anggota koperasi dan lahan pemilikannya akan dijadikan kebun/tempat usaha atau lahan kebun/usahanya sudah ada tetapi akan ditingkatkan produktivitasnya. Petani/usaha kecil tersebut harus menghimpun diri dalam kelompok dengan anggota sekitar 25 petani/kelompok usaha. Berdasarkan persetujuan bersama, yang didapatkan melalui

pertemuan anggota kelompok, mereka bersedia atau berkeinginan untuk bekerja sama dengan perusahaan perkebunan/ pengolahan/eksportir dan bersedia mengajukan permohonan kredit (KKPA) untuk keperluan peningkatan usaha;

b. Adanya perusahaan perkebunan/pengolahan dan eksportir, yang bersedia menjadi mitra petani/usaha kecil, dan dapat membantu memberikan pembinaan teknik budidaya/produksi serta proses pemasarannya;

c. Dipertemukannya kelompok tani/usaha kecil dan pengusaha perkebunan/pengolahan dan eksportir tersebut, untuk memperoleh kesepakatan di antara keduanya untuk bermitra. Prakarsa bisa dimulai dari salah satu pihak untuk mengadakan pendekatan, atau ada pihak yang akan membantu sebagai mediator, peran konsultan bisa dimanfaatkan untuk mengadakan identifikasi dan menghubungkan pihak kelompok tani/usaha kecil yang potensial dengan perusahaan yang dipilih memiliki kemampuan tinggi memberikan fasilitas yang diperlukan oleh pihak petani/usaha kecil;

d. Diperoleh dukungan untuk kemitraan yang melibatkan para anggotanya oleh pihak koperasi. Koperasi harus memiliki kemampuan di dalam mengorganisasikan dan mengelola administrasi yang berkaitan dengan PKT ini. Apabila keterampilan koperasi kurang, untuk peningkatannya dapat diharapkan nantinya mendapat pembinaan dari perusahaan mitra. Koperasi kemudian mengadakan langkah-langkah yang berkaitan dengan formalitas PKT sesuai fungsinya. Dalam kaitannya dengan penggunaan KKPA, Koperasi harus mendapatkan persetujuan dari para anggotanya, apakah akan beritndak sebagai badan pelaksana (executing agent) atau badan penyalur (channeling agent);

e. Diperolehnya rekomendasi tentang pengembangan PKT ini oleh pihak instansi pemerintah setempat yang berkaitan (Dinas Perkebunan, Dinas Koperasi, Kantor Badan Pertanahan, dan Pemda);

f. Lahan yang akan digunakan untuk perkebunan/usaha dalam PKT ini, harus jelas statusnya kepemilikannya bahwa sudah/atau akan bisa diberikan sertifikat dan buka merupakan lahan yang masih belum jelas statusnya yang benar ditanami/tempat usaha. Untuk itu perlu adanya kejelasan dari pihak Kantor Badan Pertanahan dan pihak Departemen Kehutanan dan Perkebunan.

d. Mekanisme Proyek

Mekanisme Proyek Kemitraan Terpadu dapat dilihat pada skema berikut ini :

Bank pelaksana akan menilai kelayakan usaha sesuai dengan prinsip-prinsip bank teknis. Jika proyek layak untuk

Bank pelaksana akan menilai kelayakan usaha sesuai dengan prinsip-prinsip bank teknis. Jika proyek layak untuk dikembangkan, perlu dibuat suatu nota kesepakatan (Memorandum of Understanding = MoU) yang mengikat hak dan kewajiban masing-masing pihak yang bermitra (inti, Plasma/Koperasi dan Bank). Sesuai dengan nota kesepakatan, atas kuasa koperasi atau plasma, kredit perbankan dapat dialihkan dari rekening koperasi/plasma ke rekening inti untuk selanjutnya disalurkan ke plasma dalam bentuk sarana produksi, dana pekerjaan fisik, dan lain-lain. Dengan demikian plasma tidak akan menerima uang tunai dari perbankan, tetapi yang diterima adalah sarana produksi pertanian yang penyalurannya dapat melalui inti atau koperasi. Petani plasma melaksanakan proses produksi. Hasil tanaman plasma dijual ke inti dengan harga yang telah disepakati dalam MoU. Perusahaan inti akan memotong sebagian hasil penjualan plasma untuk diserahkan kepada bank sebagai angsuran pinjaman dan sisanya dikembalikan ke petani sebagai pendapatan bersih.

e. Perjanjian Kerjasama

Untuk meresmikan kerja sama kemitraan ini, perlu dikukuhkan dalam suatu surat perjanjian kerjasama yang dibuat dan ditandatangani oleh pihak-pihak yang bekerjasama berdasarkan kesepakatan mereka. Dalam perjanjian kerjasama itu dicantumkan kesepakatan apa yang akan menjadi kewajiban dan hak dari masing-masing pihak yang menjalin kerja sama kemitraan itu.

Perjanjian tersebut memuat ketentuan yang menyangkut kewajiban pihak Mitra Perusahaan (Inti) dan petani/usaha kecil (plasma) antara lain sebagai berikut :

1. Kewajiban Perusahaan Perkebunan/Pengolahan/Eksportir sebagai mitra (inti)

a. Memberikan bantuan pembinaan budidaya/produksi dan penaganan hasil;

b. Membantu petani di dalam menyiapkan kebun, pengadaan sarana produksi (bibit, pupuk dan obat-obatan), penanaman serta pemeliharaan kebun/usaha;

c. Melakukan pengawasan terhadap cara panen dan pengelolaan pasca panen untuk mencapai mutu yang tinggi;

d. Melakukan pembelian produksi petani plasma; dan

e. Membantu petani plasma dan bank di dalam masalah pelunasan kredit bank (KKPA) dan bunganya, serta bertindak sebagai avalis dalam rangka pemberian kredit bank untuk petani plasma.

2. Kewajiban petani peserta sebagai plasma

a. Menyediakan lahan pemilikannya untuk budidaya;;

b. Menghimpun diri secara berkelompok dengan petani tetangganya yang lahan usahanya berdekatan dan sama-sama ditanami;

c. Melakukan pengawasan terhadap cara panen dan pengelolaan pasca- panen untuk mencapai mutu hasil yang diharapkan;

d. Menggunakan sarana produksi dengan sepenuhnya seperti yang disediakan dalam rencana pada waktu mengajukan permintaan kredit;

e. Menyediakan sarana produksi lainnya, sesuai rekomendasi budidaya oleh pihak Dinas Perkebunan/instansi terkait setempat yang tidak termasuk di dalam rencana waktu mengajukan permintaan kredit;

f. Melaksanakan pemungutan hasil (panen) dan mengadakan perawatan sesuai petunjuk Perusahaan Mitra untuk kemudian seluruh hasil panen dijual kepada Perusahaan Mitra ; dan

g. Pada saat pernjualan hasil petani akan menerima pembayaran harga produk sesuai kesepakatan dalam perjanjian dengan terlebih dahulu dipotong sejumlah kewajiban petani melunasi angsuran kredit bank dan pembayaran bunganya.

3. Aspek Pemasaran

a. Pasar Ikan Laut secara Makro

Dari data statistik terlihat jumlah produksi perikanan di Indonesia saat ini sekitar 4,8 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut sekitar 78% atau lebih kurang 3,7 juta ton adalah hasil produksi dari sektor perikanan laut.

Dari total produksi ikan laut maupun ikan tawar sekitar 4,8 juta ton, hanya 0,6 juta ton yang diekspor ke luar negeri. Pada tahun 1997 sektor perikanan mampu mengumpulkan devisa senilai US$ 2,05 miliar, atau meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai US$ 1,9 miliar.

Dalam pelaksanaan ekspor komoditi perikanan, Indonesia mendapat beberapa tantangan antara lain persaingan dari banyak negara lain yang mengeskpor udang dan ikan laut. Produk ikan untuk pasar ekspor harus memenuhi standar kualitas ekspor, dan para eksportir ikan harus mampu memenuhi pesanan dari pembeli di luar negeri, yaitu mampu mengekspor dengan kuantitas dan kualitas produk ikan yang diminta olelh para pembeli luar negeri.

Sisa produksi ikan dikonsumsi di dalam negeri maupun dipakai sebagai ikan umpan atau diolah lagi menjadi tepung ikan, kerupuk, serta produk makanan lainnya, Meskipun jumlah produksi ikan per kapita sekitar 24 kg per tahun berdasarkan data Dirjen Perikanan, jumlah konsumsi ikan per kapita di Indonesia menurut data dari BPS, hanya sekitar 14 kg per tahun.

b. Faktor yang mempengaruhi Harga Ikan Laut

Peluang untuk memasarkan ikan di Indonesia maupun di luar negeri sangat baik. Faktor elastisitas harga ikan relatif rendah, yaitu 1,06, berarti permintaan ikan dari para konsumen akan menurun sedikit, yaitu 0,6% bilamana harga jual ikan naik 1%.

Harga ikan dihitung oleh Dinas Perikanan di masing-masing pelabuhan perikanan. Harga ditetapkan melalui sistem lelang di setiap Temlpat Pelelangan Ikan (TPI) yang diolah oleh Dinas Perikanan maupun KUD Mina bekerjasama dengan Dinas Perikanan. Perkembangan harga pembelian ikan oleh para pedagang di TPI, menunjukkan trend yang meningkat pada periode beberapa tahun sampai sekarang.

Harga belli di TPI berfluktuasi berdasarkan hasil penagkalpan dari bulan-ke bulan maupun musim penangkapan ikan.

Para Usaha Besar yang menciptakan proyek kemitraan terpadu dengan kelompok nelayan dan KUD Minaya, menentukan harga beli dari para mitra CPK/PK atas dasar perundingan antra para pihak proyek kemitraan. Harga

beli ditentukan berdasarkan faktor-faktor seperti harga beli di TPI (harga dalam negeri) , serta harga beli sesuai daftar harga perusahaan BUMS sejenis (harga saingan), serta harga ekspor yang diterima UB dari langganannya di luar negeri. Harga beli dalam proyek kemitraan biasanya tetap selama 3 bulan dan ditinjau kembali setiap triwulan.

Ikan laut masih relatif murah dibandingkan dengan sumber protein hewan, misalnya daging ayam, daging domba, dan daging sapi. Oleh karena itu, meskipun produksi ikan naik, masalah pemasaran ikan laut mungkin tidak akan timbul di pasar ikan dalam negeri maupun luar negeri.

Sebagian besar dari produksi ikan dipasarkan sebagai ikan segar. Hanya sebagiankecil diolah menjadi "fillet" beku, ikan asin, ikan kering, ikan kaleng, ikan asap, ataupun tepung ikan. Kurangnya pengolahan ikan juga merupakan indikasi bahwa permintaan ikan dari masyarakat mantap dan cenderung naik.

Perusahaan besar peserta PKT hampir semua mengekspor ikan olahan. Olah karena itu, kemampuan menahan dan mengembangkan harga belil yang menguntungkan untuk para CPK/Pk lebih besar dibandingkan dengan harga ikan di TPI yang merupakan harga beli untuk nelayan yang bermitra dengan KUD Mina dari para pedagang pengumpul dan BUMS skala menengah.

c. Potensi Pasar Ekspor Ikan Laut

Jenis-jenis ikan laut yang diolah dan diekspor oleh para usaha besar yang bermitra dengan nelayan di perairan IBT terdilril dari ikan tuna dan ikan cakalang (skipjack tuna) dan beberapa jenis ikan yang disebut ikan dasar, misalnya ikan tongkol, ikan kakap, ikan kerapu, ikan merah, dll. Jenis ikan tersebut adalah ikan besar yang dieskpor segar atau secara beku ke luat negeri. Pabrik pengolahan ikan yang memproduksi macam-macam produk ikan olahan, seperti 'sashimi", "loins", dan "fillet" mendapat nilai tambah tinggi, karena produk-produk ikan olahan dijual dengan harga valas yang tinggi dengan jumlah yang cukup besar.

Perusahaan pengolahan dari pengekspor ikan beku, misalnya perusahaan yang mengekspor "sashimi", "fillet", "loins" dan produk sejenis mampu menciptakan dan mengembangkan proyek kemitraan dengan para nelayan. Perusahaan besar tersebut membeli ikan dari kelompok nelayan tradisional yang menagkap ikan dengan perahu du samping hasil penangkapan ikan dari nelayan yang bermitra dengan UB tersebut. Perusahaan besar tersebut setiap tahun memilij kelompok nelayan baru, yaitu para nelayan yang telah berhasil dan mampu memenuhi sasaran penangkapan ikan yang ditentukan oleh usaha besar. Para calon nelayan yang akan menjadi CPK dipilih dari anggota KUD Mina maupun dari ABK penangkap ikan milik perusahaan besar.

Beberapa jenis ikan pelagis kecil, misalnya ikan teri, ikan lemuru, ikan parang. Ikan kembung, ikan tembang ditangkap oleh para nelayan dengan

jumlah besar. Sebagian besar dari hasil penangkapan jenis ikan tersebut diolah oleh para nelayan bersama keluarga, menjadi ikan kering maupun ikan asam. Beberapa perusahaan ekspor di Jawa Timur dan Bali mengekspor ikan olahan tersebut, akan tetapi hubungan kemitraan antara para nelayan dengan perusahaan ekspor masing kurang dikembangkan.

Angka nilai ekspor ikan di dalam tabel berikut ini memberikan suatu gambaran tentang nilai ekspor ikan olahan dari perusahaan besar yang telah berhasil mengembangkan proyek kemitraan dengan para nelayan. Potensi untuk meningkatkan nilai maupun kuantitas ikan tersebut ke pasar-pasar luar negeri masih cukup tinggi. Sektor penangkapan maupun pengelolaan ikan melalui pola kemitraan sangat potensial untuk dikembangkan. Penerimaan untuk semua pihak yang bemitra dalam proyek kemitraan tersebut dapat memperkecil dampak dari krisis ekonomi yang melanda Indonesia khususnya di bagian timur Indonesia.

Nilai Ekspor Beberapa Jenis Ikan tahun 1996 (angka US$)

 

Nilai US $ Ekspor Segar

Nilai US $ Ekspor Round Beku

Nilai US $ Ekspor Fillet Beku

Jumlah

Jenis

Ikan

Nilai

Ekspor

Tuna

47.960.891

7.704.920

 

55.665.811

Cakalang

300.600

14.890373

 

15.665.811

Ikan

       

Tuna

27.887.252

13.987.259

41.874.511

Lain

Ikan

       

dasar

105.798.077

130.341.468

236.139.545

lain

Fillet,

       

asrnini,

ikan

45.328.055

45.328.055

olahan

lain

Jumlah

181.946.820

166.924.020

45.328.055

394.198.895

4. Aspek Produksi

a. Sumberdaya Ikan Pelagis

Luas perairan laut Indonesia termasuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) diperkirakan meliputi sekitar 5,8 km2, yang tediri dari :

1. Perairan laut teritorial 0,3 km2

2. Perairan Nusantara 2,8 km2

3. Perairan ZEE 2,7 km2

Berdasarkan perkiraan secara keseluruhan potensi lestari sumberdaya perikanan laut Indonesia berjumlah 6,6 juta ton/tahun, terdiri dari 4,5 juta ton di perairan Indonesia dan 2,1 juta ton di perairan ZEE. Perkiraan potensi tersebut berasal dari beberapa jenis ikan laut, yaitu ikan pelagis kecil 3,5 ton, ika perairan karang 0,048 juta ton per tahun. Perairan laut Indonesia memiliki banyak sekali jenis ikan (sekitar 3.000 jenis). Banyaknya jenis ikan tersebut tidak berarti diikuti kelimpahan populasi untuk setiap jenisnya, walaupun diakui beberapa jenis di antaranya seperti ikan lemuru, ikan layang, ikan cakalang, serta berbagai jenis ikan lainnya mempunyai populasi cukup besar.

Tabel 1. Perkembangan Produksi Perikanan, 1994-1997 (Angka dalam Ton)

Keterangan

Tahun

Tahun

Tahun

Tahun

1994

1995

1996

1997

1.

Perikanan

3.080.170

3.292.930

3.503.100

3.727.800

Laut

2.

Perikanan

933.600

970.660

1.062.800

1.062.100

Darat

a.

Perairan

336.140

329.710

335.800

341.000

Umum

b. Budidaya

597.520

640.950

681.800

720.100

- Tambak

346.210

361.240

382.400

402.100

- Kolam

140.100

162.240

173.000

183.500

- Karamba

33.010

39.860

45.700

53.200

- Sawah

78.200

77.660

79.900

81.700

Jumlah

4.013.830

4.263.590

4.519.900

4.789.900

Kenaikan per

 

6,22%

6,01%

5,97%

Tahun

Sumber : Dirjen Perikanan

Tabel 2. Jumlah Rumah Tangga Usaha Perikanan

Jenis

Rumah

Tahun 1983

Tahun 1993

Kenaikan

Tangga

Perikanan laut

491.000

660.000

34,4%

Perairan

Umum

230.000

388.000

68,7%

Darat

Kolam

702.000

796.000

13,4%

Tambak

54.000

114.000

111,1%

Petani

rumput

-

36.000

-

laut/mutiara

Jumlah

Rumah

1.477.000

1.994.000

35,0%

Tangga

Pada dasarnya, sumberdaya ikan laut dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu :

1. Ikan pelagis kecil terdiri dari jenis ikan antara lain ikan layang, ikan kembung, ikan selar, sardin dll.

2. Ikan pelagis besar terdiri dari jenis ikan antara lain ikan tongkol, ikan tuna, cakalang dll.

3. Ikan demersal terdiri dari jenis ikan antara lain ikan kakap merah, bawal, kerapu, manyung, peperek, dll.

Kegiatan usaha penangkapan terhadap jenis-jenis sumberdaua perikanan tersebut dapat dikemukakan lebih lanjut sbb:

1. Udang laut yang termasuk sumberdaya demersal ditangkap dengan alat penangkap pukat udang, jatilap (jaring trammel) jaring insang dasar serta dogo/cantang

2. Ikan tuna cakalang dan cucut ditangkap dengan alat tangkap dengan alat penangkap seperti rawai tuna, rawai tegak lurus, pancing tonda, huhate, pukat cincin ukuran besar, jaring insang, serta rawai cucut.

3. Ikan pelagis kecil misalnya lemuru, tembang, japuh, kembung dll. Diusahakan alat penangkap seperti pukat cincin, payang, bagan, pukat tepi, jaring insang, jaring lingkar dan pakaya.

4. Untuk Ikan demersal lainnya yaitu Petek, kakap, kerapu, ikan sebelah dll. Dapat ditangkap dengan dogol, jogol, cantrang, jaring insang dasar, rawai dasar bubu dasar, pukat tepi, serta pancing tangan (hand line)

Ikan laut mampu memperhabarui dirinya namun kemampuan ini bukan tidak terbatas, bahkan dapat luruh bila dilakukan eksploitasi yang berlebihan. Sebagian sumberdaya yang pemanfaatannya bersifat terbuka dan pemiliknya

umum, diperlukan adanya usaha pengelolaan yang mengatur pemanfaatan, pelestarian dan bila diperlukan juga rehabilitasi. Sebab kelangkaan pengololaan akan mengarah terjadinya "biological overfishing", yaitu bila hasil penangkapan terhadap satu jenis ikan laut lebih besar dan "maximum yang sustainable" untuk populasi ikan tersebut.

Walaupun sebagian bear komoditi perikanan laut dimanfaatkan untuk peningkatan kebutuhan hidup masyarakat dalam negeri terutama dalam peningkatan gizi yan gberasal dari protein hewan dalam pengelolaan sumberdaya laut perlu diprioritaskan juga sebagai komoditas ekspor untuk meningkatkan devisa negara. Penangkapan jenis-jenis ikan laut dibagi sesuai dengan kebutuhan di luar negeri dan dalam negeri sebagai berikut :

1. Udang panaeid yang ditangkap di perairan Irian Jaya, Maluku, Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Sumatera adalah komoditi utama.

2. Ikan tuna dan cakalang merupakan komoditi ekspor kedua setelah udang dengan daerah penangkapan di perairan Indonesia bagian timur, terutama perairan Maluku dan Irian Jaya, Samudera Hindia, maupun perairan ZEE.

3. Jenis Ikan selain Udang, tuna, dan cakalang yang diekspor dengan jumah dan nilai besar adalah ikan kakap, kerapu, baronag, tenggiri, serta beberpa ikan hias

b. Alat Tangkap Ikan

Banyaknya jenis ikan dengan segala sifatnya yang hidup di perairan yang lingkungannya berbeda-beda, menimbulkan cara penangkapan termasuk penggunaan alat penangkap yang berbeda-beda pula. Adalah juga sifat dari ikan pelagis selalau berpindah-pindah tempat, baik terbatas hanya pada suatu daerah maupun berupa jarak jauh seperti ikan tuna dan cakalang yang melintsi perairan beberapa negara tetangga Indonesia.

Setiap usaha penangkapan ikan di laut pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan daerah penangkapan, gerombolan ikan, dan keadaan potensinya untuk kemudian dilakukan operasi penangkapannya. Beberapa cara untuk mendapatkan kawasan ikan sebelum penangkapan dilakukan menggunakan alat bantu penangkap yang biasa disebut rumpin dan sinar lampu. Kedudukan rumpon dan sinar lampu untuk usaha penangkapan ikan di perairan Indonesia sangat penting ditinjau dari segala aspek baik ekologi, biologi, maupun ekonomi. Rumpon digunakan pada siang hari sedangkan lampu digunakan pada malam hari untuk mengumpulkan ikan pada titik/tempat laut tertentu sebelum operasi penangkapan dilakukan dengan alat penangkap ikan seperti jaring, huhate dsb.

Dilihat dari segi kemampuan usaha nelayan, jangkauan daerah laut serta jenis alat penangkapan yang digunakan oleh para nelayan Indonesia dapat dibedakan antara usaha nelayan kecil, menengah, dan besar. Dalam

melakukan usaha penangkap ikan dari tiga kelompok nelayan tersebut digunakan sekitar 15 s/d 25 jenis alat penangkap yang dapat dibagi dalam empat kelompok sebagai berikut.

Tabel 3. Kelompok Alat Tangkap Ikan Nelayan

No

Kelompok

Nama Alat Tangkap

1

Pukat

Payang termasuk lampara, Pukat pantai, Pukat cincin

2

Jaring

Jaring insang hanyut, Jaring insang lilngkar, Jaring klitik, Jaring trammel

3

Jaring Angkat

Bagan Perahu, Bangan Tancap, Bagan Rakit, Serok, Bondong dan banrong

4

Pancing

Rawi tuna, Rawai hanyut selain, Rawai tetap, Huhate, Pancing tonda, Pancing tangan-hand lin

Penjelasan Singkat tentang Alat Penangkap Ikan Laut

Pukat cincin harus berbentuk selembar jaring yang terdiri dari sayap dan pembentuk kantong. Keberhasilan pengoperasian pukat cincin dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu ketepatan melingkari gerombolan ikan, kecepatan tenggelam pemberat dan kecepatn penatikan tali kolor. Pengaturan jaring harus tepat dan cepat sehingga gerombolan atau kawanan ikan tidak punya kesempatan untuk keluar dari lingkaran jaring.

Payang mempunyai bentuk terdiri dari sayap, badan dan kantong, dua buah sayap yang terletak di sebelah kanan dan kiri badan payang, setiap sayap berukuran panjang 100-200 meter, bagian badan jaring sepanjang 36-65 meter dan bagian kantong terletak di belakang bagian badan payang yang merupakan tempat terkumpulnya hasil tangkapan ikan adalah sepanjang 10- 20 meter

Jaring insang hanyut yang digunakan harus mempunyai spesifikasi yang terdiri dari lima faktor utama, yaitu daya apung jaring harus lebih besar dari pada daya tenggelamnya, warna jaring yang baik adalah hijau sampai biru muda, benang yang digunakan adalah nylon benang ganda atau tunggal. Besar mata jaring adalah 2,5-3,0 inci yang dipasang pada tali ris atas dengan koefisien pengikatan 30-40%

Jaring lampara mirip jaring payang yaitu terdiri dari sayap kiri dan kanan di samping kantong. Jaring tersebut dilengkapi dengan sebuah cincin dari besi berdiameter sekitar 2 meter. Kantong lampara lebih cenderung menggelumbung agar ikan pelagis kecil yang ditangkap tidak mudah mati (ikan umpan hidup)

Jaring angkat adalah jaring yang diturunkan di laut dan diangkat secara vertikal ke atas pada saat gerombolan ikan ada di atas jaring tersebut. Jaring angkat ditempatkan di beberapa jenis bagan di laut atau dioperasikan dari perahu kecil maapun langsung oleh para nekayan dekat pantai. Berdasarkan bentuk dan cara pengoperasian ada beberapa macam jaring angkat maupun jaring dorong, misalnya bagan tancap (stationary), bagan rakit, bagan perahu, kelong Betawi, serok, jaring rajungan dan kepiting, Bondong dan banrong. Pecak dan Anco, jaring dorong, sodo biasa, sodo perahu, sodo sangir, siru, siu, songko dan seser.

Dogol, cantrang, dapang, potol, payang alit bentuk alat penangkap tersebut mirip payang tetapi ukuran lebih kecil. Dilihat dari fungsi dan hasil tangkapannya ia menyerupai cicncin pukat (trawl), yaitu untuk menangkap ikan demersal dan udang.

Jaring Penggiring adalah jaring yang dioperasikan sedemikian rupa, yaitu dengan melakukan penggiringan atau menghalau ikan-ikan agar masuk jaring atau menggerakkan jaring itu sendiri dari tempat yang agak dalam ke tempat yang lebih dangkal untuk kemudian dilakukan penangkapan ikan. Jaring penggiring atau drive-innet dapat terdiri dari jaring sayap dan jaring kantong, dapat juga berbentuk segi tiga atau segi empat lengkap dengan jaringan kantong. Jenis-jenis drive in-net yang terkenal di Indonesia adalah :muroami, soma malalugis, jaring kalase, jaring klotok, jaring saden, pukat rarape, ambai, pukat rosa, dan talido.

Alat pancing terdiri dari dua komponen utama, yaitu tali dan mata kail. Jumlah mata yang terdapat pada tiap perangkat pancing bisa tunggal maupun ganda, bahkan banyak sekalli (beberapa ratus mata kail) tergantung dari jenis pancingnya. Selain dua komponen utama tali dan mata pancing, alat pancing dapat dilengkapi dengan komponen lainnya, misalnya tangkai (pole), pemberat, pelampung dan kili-kili (swivel). Pada umumnya mata pancing diberikan umpan baik dalam bentuk mati maupun hidup atau umpan tiruan. Banyak mavam alat pancing digunakan oleh para nelayan, mulai dari bentuk yang sederhana sampai dalam bentuk ukuran skala besar yang digunakan untuk perikanan industri.

c. Alat Bantu Penangkapan Ikan

Untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, penangkapan dapat mempergunakan alat bantu penangkapan, antara lain rumpon, lampu, echo sounder dan sonar.

Rumpon digunakan untuk membantu mengumpulkan ikan sebelum dilakukan penangkapan.

Lampu digunakan untuk mengumpulkan ikan. Kekuatan lampu yang cukup baik untuk mengumpulkan ikan pelagis kecil adalah 500 watt untuk lampu di

bawah air, dan 1.000 watt untuk lampu di atas laut. Para nelayan dapat lampu pompa (petromax) sebanyak 6 buah.

Echo sounder digunakan untuk mendeteksi gerombolan ikan di bawah kapal ataupun untuk mengetahui kedalaman laut. Alat ini mempunyai prinsip kerja yaitu memancarkan suara ke dalam air dan merekan pantulan secara vertikal.

Sonar digunakan untuk mencari gerombolan ika. Instrumen ini dapat mendeteksi kehadiran ikan secara horizontal dari kapal penangkap, sehingga ada gambaran dapat menangkap ikan dalam jumlah yang besar.

d. Kapal Penangkap Ikan

Kapal penangkap ikan pelagid yang digunakan oleh para nelayan harus laik laut dan mampu dioperasikan pada perairan yang digendaki. Desain dan konstruksi kapal harus diperhatikan sesuai dengan kegunaan kapal penangkap ikan agar stabilitas cukup baik supaya mampu bertahan terhadap serangan ombak dan angin.

Bahan untuk kapal harus terbuat dari bahan yang cukup baik dan kapal harus memiliki ruangan untuk kerja dan penyimpanan alat tangkap yang cukup luas. Ruang kerja yang cukup akan memudahkan dalam pengoperasian alat tangkap sehingga keterlambatan penarikan jaring yang dapat mengakibatkan lolosnya ikan dapat dihindari. Kapal harus memiliki ruangan pneyimpanan ikan (palka) yang cukupbesar dan dapat mempertahankan kesegaran ikan.

Di dalam pengopersian jenis alat penangkapan ikan ada yang membutuhkan kecepatan kapal yang cukup tinggi dan ada yang tidak memerlukan kecepatan tinggi. Kapal yang digunakan untuk alat pancing dan jaring insang hanyut hanya digunakan pergi pulang dari daerah penangkapan, umumnya berukuran 5 s.d 10 Gt dengan kecepatan 6 s.d knot. Untuk alat tangkap pukat cincin dan jaring lingkar, kecepatan kapal yang digunakan cukup tinggi karena di samping pergi dan pulang dari daerah penangkapan juga untuk mengejar dan melingkari gerombolan ikan. Kapalyang dapat digunakan untuk jenis alat tangkap tersebut adalah ukuran 10 s.d. 80 GT dan kecepatan 6 s.d. 12 knot.

Ukuran kapal yang digunakan oleh CPK?PK peserta proyek kemitraan antara lain kapal 3 GT (Gross Tonase ), 5 GT, 7 GT, 10 GT, 30 GT dan kapal besar ukuran 50 GT s.d. 150 GT.

Dari sekian jenis ukuran kapal yang digunakan, yang terbanayk adalah kapal kecil ukuran 3 GT s.d. 7 GT kendati badan kapal relatif murah dan terjangkau dibiayai oleh bank dengan bantuan jaminan dari UB. Hambatan kapal tersebut yang relatif kecil antara lain daya tampung umpan maupun hasil penangkapan ikan sangat kecil dan hasil penangkapan juga kecil. Kapal ini

dipakai untuk menangkap satu jenis ikan saja, misalnya tuna saja atau cakalang saja. Jarak jelajahnya terbatas sehingga tidak mampu menjangkau "fishing ground" yang posisinya cukup jauh, tetapi sangat potensial. Dan terakhir, kelemahan kapal ini lambat sebab menggunakan mesin kecil, biasanya 2 silinder yang agak boros bahan bakar.

Jenis kapal yang banyak diminati nelayan kapal dengan ukutan 10 Gt. Secara teknis kpal ini memiliki kelebihan, antara lain dapat menampung umpan dan hasil penangkapan ikan cukup besar, dapat menampung perbekalan (logistik) dalam jumlah yang banayk sehingga bisa beroperasi selama satu sampai dua minggu di tengah lautan. Kecepatan kapal 10 GT antara 9-12 knot dan termasuk dalam kategori kapal cepat yang dapat digunakan untuk menangkap segala jenis ikan laut. Kapal 10 Gt cukup kuat di lautan dan dapat beroperaso pada musim gelombang, sehingga operasional kapal dapat sepanjang tahun dan tidak tergantung pada cuaca.

Sedangkan kapal lebih besar antara 20 s.d. 150 Gt adalah kapl yang mahal dan dapat digunakan untuk perikanan di perairan nusantara dan perairan ZEE, dan hanya beberapa nelayan dapat menjadi pemilik kapal besar.

Dari jumlah kapal penangkapan ikan sebesar 404.653 kapal, sekitar 1000 kapal berukuran 50 Gt atau lebih besar. Sebagian besar kapal tersebut adalah kapal dengan ukuran 5 GT ke bawah, yaitu sekitar 250.000 unit kapal.

Tabel 4. Jumlah Perahu/Kapal Penangkap Ikan menurut Jenisnya

Rincian

Tahun 1994

Tahun 1995

Perahu tanpa Motor

245.846

245.162

Perahu/Kapal Motor Tempel

87.749

94.024

Kapal Motor

62.950

65.467

5. Aspek Keuangan

a. Penjelasan Umum

UB yang bermitra dengan para nelayan calon pemilik kapal membantu para CPK untuk menjadi pemilik penuh atas kapal dan alat tangkap ikan, yang sebagian dibiayai dengan pinjaman bank.

Biasanya, UB memberikan pesanan kepada salah satu usaha galangan kapal yang membangun kasko kapal dari kayu atau dari fiberglas. Galangan kapal memasang mesin diesel dan seluruh perlengkapan lainnya, yang dibutuhkan di kapal tersenut. Spesifikasi teknis tentang pembuatan maupun pembayaran kapal tersebut, dituangkan dalam perjanjian tertulis antra galangan kapal dengan para pihak PKT yang diwakili oleh petugas dari UB, KUD serta seorang CPK.

Alat penangkapan ikan untuk satu kapal dapat terdiri dari beberapa jenis, tergantung pada jenis ikan yang ditangkap pada suatu musim di wilayah operasinya. Dalam Laporan KPKT ini, tiga jenis kapal diusulkan untuk para CPK yang bermitra dengan usaha pengolahan ikan. Tiga jenis kapal tersebut dapat masing-masing jenisnya beroperasi secara serba guna :

1. Kapal kayu penangkapan ukuran 7 GT, dipakai terutama di perairan selat teluk, dekat pantai

2. Kapal kayu penangkapan ukuran 10 GT, dipakai di seluruh perairan nusantara

3. Kapal kayu penangkapan ukuran 30 GT, dipakai di seluruh perairan Indonesia termasuk zone ekonomi eksklusif

Untuk membuat analilsa keuangan, tim peneliti Model KPKT-PIL mengambil beberpa asumsi berdasarkan informasi dari beberapa usaha pengelolaan ikan di Jakarta dan Ambon yang sudah lama melaksanakan proyek kemitraan dengan para nelayan pemilik kapal.

Analisa aspek keuangan untuk ketiga jenis kapal, usaha CPK tersebut, dihitung dan dapat dilihat dalam tujuh tabel untuk masing-masing ukuran kapal penangkapan. Perhitungan tersebut berdasarkan penangkapan ikan cakalang dan tuna dengan alat tangkap pancing (huhate) di perairan Indonesia Bagian Timur.

b. Analisa Aspek Keuangan

Kesimpulan dari analisa aspek keuangan untuk ketiga jenis kapal penangkapan ikan yang dinilai oleh tim adalah sebagai berikut :

No

Uraian

Kapal 7 GT

Kapal 10 GT

Kapal 30 GT

1

Biaya Investasi

Rp 96.568.000

Rp 37.484.000

Rp 258.342.000

2

Biaya Modal Kerja

Rp 4.548.667

Rp 8.708.832

Rp 26.126.500

 

Total Biaya Proyek

Rp 101.116.667

Rp 146.192.832

Rp 284.468.500

3

Kredit Investasi

Rp 90.000.000

Rp 120.000.000

Rp 200.000.000

 

Jangka Waktu

5

Tahun

5

Tahun

5Tahun

4

Kredit Modal Kerja

Rp 4.000.000

Rp 6.000.000

Rp 20.000.000

 

Berturun

4

Tahun

4

Tahun

4 Tahun

menurun

menurun

menurun

5

Modal Sendiri

Rp 7.116.667

Rp 20.192.833

Rp 64.468.500

6

Hasil Penangkapan

132.480 Ton

276.000 Ton

414.000 Ton

 

Hasil Penjualan Ikan

Rp 198.720.000

Rp 414.000.000

Rp 621.000.000

7

Penghasilan ABK

Rp 74.639.700

Rp 157.558.050

Rp 186.820.950

8

Laba Sebelum Biaya Tetap

Rp 74.639.700

Rp 157.558.050

Rp 186.820.950

9

IRR

46,66%

35,47%

34%

10

NPV faktor diskonto

Rp 48.188.200

Rp 50.843.330

Rp 56.230.782

24%

Dari kesimpulan di atas, masing-masing tipe kapal cukup layak untuk dibiayai dengan pinjaman bank. Oleh karena itu kebutuhan kredit masing- masing model kapal penangkapan lebeih besar daripada plafond pinjaman KKPA, kredit bank untuk proyek ini, adalah kredit usaha kecil dibiayai dengan dana bank sendiri maupun pinjaman "two step loan" seperti pinjaman JEXIM VI maupun pinjaman AFP

Biaya bunga dalam perhitungan aspek keuangan dihitung dengan tingkat bunga 24% p.a. untuk kredit investasi maupun kredit modal kerja. Tingkat bunga tersebut sama dengan tingkat bungan kredit umum yang berlaku sebelum krisis moneter. Selama krisis moneter berjalan, seperti pada tahun 1998, bunga kredit umum berada pada tingkat 50 s.d. 70 persen per tahun. Segala proyek di semua sektor ekonomi tidak layak untuk dibiayai dengan kredit bank dengan biaya bunga setinggi ini. Selama krisis moneter, bank umum mapun bank persero tidak membiayai proyek UKM dan koperasi, misalnya proyek kemitraan di sektor penangkapan ikan laut, adalah proyek yang layak untuk dibiayai dengan KLBI maupun dengan dana "two step loan". Tingkat bunga kredit terssbut dari bank umum dan bank persero kepada para nasabah bank bervariasi antara 16% sampai dengan 38% pro anno pada tahun 1998.

Selama krisis berjalan, proyek kemitraan penangkapan ikan antara usaha eksportir ikan dengan kelompok nelayan dapat dibiayai dengan KKPA dan

"two step loan" karena tingkat bungan pinjaman tersebut masih berada pada tingkat yang layak. Bilamana tingkat bungan pinjaman adalah pada tingkat 38 p.a. % semua tipe kapal masih layak untuk dibiayai dengan pinjaman tersebut, oleh karena aliran kas dari masing-masing tipe kapal masih cukup besar. Perhitungan IRR dan NPV tidak berubah dengan perubahan biaya bunga.