Anda di halaman 1dari 15

AlASAN HAPUSNYA KEWENANGAN MENUNTUT DAN

MENJALANKAN PIDANA
Dosen : Hj. Tien S. Hulukati,S.H.,M.Hum

A. Alasan hapusnya Kewenangan Menuntut


Pidana
1. Tidak adanya pengaduan pada delik aduan.
2. Ne bis idem ( Pasal 76 KUHP )
3. Matinya terdakwa ( Pasal 77 KUHP )
4. Kadaluwarsa ( Pasal 78 KUHP )
5. Telah adanya pembayaran denda maksimum
kepada pejabat
tertentu untuk pelanggaran yang hanya
diancam dengan denda
saja ( Pasal 82 KUHP)
6. Ada abolisi ( diatur KUHP).

1. Tidak ada Pengaduan pada delik aduan ( pasal 72


s/d 75 KUHP )
A. jika yg bersangkutan belum usia 16 Th / belum cukup umur/ dibawah
pengampuan (Pasal 72 KUHP), oleh Wali yang syah dalam perkara Perdata
atau oleh :
1) Wali pengawas/pengampu
2) Istri
3) Keluarga sedarah garis lurius
4) Keluarga sedarah garis menyimpang sampai derajad ke 3

Tenggang waktu pengaduan , pengajuan ( Pasal 74 )/ Kadaluwarsa


1) Bertempat tinggal di Indonesia, 6 bulan sejak mengetahui adanya
kejahatan.
2) Bertempat tinggal di luar Indonesia, 9 bulan sejak mengetahui adanya
kejahatan

Penarikan kembali Pengaduan Pasal 75 tiga bulan setelah diajukan


1)
2)
3)
4)

Jika bersangkutan meninggal (Pasal 73)


Orang tuanya
Anaknya atau
Suami/Istri ( kecuali Ybs : tidak menghendaki )

Contoh :
Misalkan dalam kasus Perzinahan ( Pasal 284 )
Pasal 284 (2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan suami
atau istri dan
dalam hal bagi suami istri berlaku Pasal 27 KUH
Perdata
(3) Bagi pengaduan itu tidak berlaku Pasal 72,73 dan
75
(4) Pengaduan itu dapat ditarik kembali selama
pemeriksaan dalam
pengadilan belum dimulai.

Untuk melarikan wanita ( Pasal 332) yang berhak


mengadu
Kejahatan ini dalah Delik aduan , Pengadu dapat dilakukan oleh
:
a. Bila wanita ini dibawah umur , Yang berhak mengadu adalah
Wanita itu sendiri,
bapak atau wali bapak.
b. Bila wanita itu sudah sampai umur ( Cukup umur ), yang

2. Ne Bis In Idem
Artinya

sama

Tidak atau
jangan dua kali yang
Rnah

Dasar pemikiran atau rasio dari azas ini ialah :


a. Menjaga martabat pengadilan ( unytuk ytidak memerosotkan
kewibawaan
Negara.
b. Untuk rasa kepastian bagi terdakwa yang telah mendapat
keputusan
Ne Bis In Idem diatur dalam Pasal 76 KUHP
Berlakunya azas Ne Bis In Idem bila dipenuhi syarat-syarat
sebagai berikut :
a. Apa keputusan hakim yg berkekuatan tetap
b. Orang terdapat siapa putusan itu dijatuhkan adalah
sama
c. Perbuatan ( yang dituntut kedua kali ) adalah sama
dengan yang pernah diputuskan terlebih dahulu.
Maka dengan syarat tersebut berlakunya Nre Bis In

Keputusan Hakim yang dimaksud all :


a) Penetapan hukuman :dalam hal demikian hakim memutuskan
bahwa terdakwa terang bersalah telah melakukan peristiwa
pidana yang dituduhkan kepadanya.
b) Pembebasan dari tuntutan hukuman : apabila peristiwa yang
di
tuduhkan kepada terdakwa iotu dapat dengan cukup terang,
bahwa peristiwa pidana itu ternyata bukan peristiwa pidana,
atau terdakwanya tidak dapat dihukum karena tidak dapat diper
tanggung jawabkan aytas perbuatan itu.
c) Putusan Bebas : Apa bila kesalahan terdakwa atas peristiwa
yang
dituduhkan kepadanya itu tidak cukup bukti.

Nan tiasa

Sehingga bila mana sudah adanya putusan hakim tersebut maka Ne Bis In
Idem
dapat diberlakukan, akan tetapi tidak berarti keputusan itu tidak dapat diperbi
iki lagi , Peratiuran Banding oleh hakim yang lebih tinggi, atau perampunan oleh
Kepala Negara dan Kasasi oleh Hakim tertnggi senantiasa masih dapat
diberlaku
kan.

Ne Bis In Idem

tidak berlaku untuk keputusan hakim

Hakim yg belum
berhubungan dengan pokok perkara disebut Penetapanpenetapan ( beschikking)
Misalnya :
a). Tentang tidak berwenangnya hakim untuk memeriksa perkara
yang bersangku
tan. ( Perkaranya bukan tindak pidana ).
b). Tentang tidak diterimanya tuntiutan jaksa karena terdakwa
tidak melakukan
kejahatan.
c). Tentang tidak diterimanya perkara karena penuntutan sudah
kadaluwarsa.

Ne Bis In Idem :bukan hanya keputusan untuk hakim

Indonesia saja tetapi Hakim


untiuk keputusan hakim negara lain , meskipun hakim negara lain
hanya terbatas
tentang keputusan :

Segi Subjektif dari Ne Bis In Idem

: adalah orang yang

otr

dituntut harus sama


Misal : A dan B sama-sama melakukan tindak pidana , akan tetapi
yg tertangkap
baru A , sedangkan B baru tertangkan masih dapat
dituntut walaupun misal
A dibebaskan.
.

Segi Objektif dari Ne Bis In Idem : masalah yang sukar


dan dijumpai pada
Concursus. Ini banyak sekali contoh-contoh kasus
Misal : Seorang sedang melakukan penjambretan dengan
menggunakan sepeda
motor kemudian Dia diketahui oleh masa sehingga
melarikan sepeda
motornya dengan kecepatan tinggi sehingga menambrak
seorang yang se
dang menyebrang jalan hingga m3eninggal dunia, maka
perbutaannya
dituntut dua kali dalam perbuatan yang sama .

Kesimpulan :
1) Apa bila dipandang sebagai Concursus Realis, Maka tidak ada
Ne Bis In Idem
2) Apa bila dipandang sebagai Concursus Idealis , maka ada Ne
Bis In Idem.

3. Matinya terdakwa ( Pasal 77 KUHP )


Hak menuntut hilang oleh karena meninggalnya si
tersangka ( terdakwa)
Apa bila orang yang dituduh melakukan peristiwa pidana
ini telah meninggal
dunia maka tuntutan atas peristiwa itu habis sampai
disitu, tegasnya tidak boleh
diarahkan kepada ahli warisnya.

4. KADALUWARSA
Hak tuntutan hilang karena kadaluwarsa Pasal 78 (1) KUHP
A) Tenggang waktu kadaluwarsa
1). Untuk semua pelanggaran dan kejahatan Percetakan :
sesudah 1 tahun
2). Untuk kejahatan diancam denda , kurungan dan penjara
maksimum 3 tahun
kadaluwarsanya sesudah 6 tahun.
3). Untuk kejahatan yang diancam pidana penjara lebih 3
tahun : kadaluwarsa
nya 12 Tahun.
4). Untuk kejahatan yang diancam pidana mati atau seumur
hidup kadaluwarsa
nya sesiudah 18 tahun.
a). Menurut Pasal 79 tenggang kadaluwarsa mulai berlaku
pada hari
sesudah perbuatan dilakukan , kecuali dalam hal-hal
tertentu yang di
sebut dalam pasal tersebut.

Pasal 81 :

Tenggang kadaluwarsa penuntutan tertunda/ tertangguhkan


( Geschorst) apa bila ada perselisihan Praeyudisil, yaitu perselisiahan
menurut hukum perdata yang terlebih dahulu harus diselesaikan sebelum
acara pidana dapat diteriuskan.
Jadi singkatnya penjelasan ini ialah : apabila penuntutan
pidana ditunda sementara karena masih adanya suatu
perselisihan hukum yang harus diputuskan telbih dulu oleh
kekuasaan lain, me3ka selama waktu penundaan itu masa
kadaluwarsa tidak berjalan terus, setelah perselisihan itu selesai
diputuskan, maka masa kadaluwarsa tadi berjalan lagi.

5. Pembayaran denda :
ketentuan pembayaran denda maksimum untuk pelanggaran ( Pasal 82 )
ini juga dikenal sebagai lembaga hukum Afkoop ( penebusan ) atau
disebut Schikking ( perdamean )
Misalnya :
Bila ada orang yg melakukan pelanggaran hanya dijatuhi hukuman
denda maka orangitu dapat membebaskan diri dengan cukup membayar
denja yg diancamkannya, dibayarkan ke Kas Negara ( bila sdh dimulai
penuntutan + Ongkos Perkara )

6. Amnesti dan Abolisi


Amnesdti fdan Abolisi diatur dalam Undang-undang No :
11/drt/1954 LN.1954 No: 146. Denbgan pemberian Amnesti ,
semua akibat hukum pidana terhadap orang yang telah melakukan
suatu tindak pidamna dihapuskan , sedangkan dengan pemberian
Abolisi hanya dihapus kan penuntutan terhadap mereka.
Jadi Abolisi hanya dapat sebelium ada p[iutusamn, sedangkan
Amnesti kapan saja dapat.

B.

Alasan hapusnya
Menjalankan Pidana
1. Alasan yang terdapat dalam KUHP :
a). Matinya terdakwa ( Pasal 83 )
b). Kadaluwarsa ( Pasal 84, Ps 85 )
2. Alasa yang terdapat diluar KUHP
a). Pemberian Amnesti oleh Presisen
c). Pemberian Grasi oleh Presiden

Kewenangan

1. Daluwarsa kewenangan menjalankan


pidana
a. Tenggang waktu Kadaluwarsa Pasal 84 (2) yaitu :
1) Untuk pelanggaran , kadaluwarsa 2 Th
2) Untuk kejahatan percetakan , kadaluwarsa 5 Th
3) Untuk kejahatan lain nya , Kadaluwarsa sama dengan
tenggang daluwarsa
penuntiutan pidana ( pasal 78 ) ditambah sepertiga.
b. Pada Pasal 84 ayat 4 ditetapkan bahwa
Tidak ada kadaluwarsa untuk kewenangan menjalankan
hukuman mati
c. Pasal 85 (1) kadaluwarsa dihitung keesokan harinya setelah
putusan hakim di
jalankan. ( yang mendapat putusdamn tetap )
d. Pencegahan ( stuiting ) terdapat kadaluwarsa hak untuk
menjalankan /
eksekusi dapat menjadi dua hal ( Pasal 85 ayat 2 ) :
1) Jika terpidana melarikan diri dalam menjalani pidana,
dihitung keesokan

3) Penundaan ( Schorsing ) terhadap kadaluwarsa


hak untuk
mengeksekusi pidana dapat terjadi dalam 2 hal (
Pasal 85 ayat 3)
a). Selama menjalankan pidana ditunda karena Undangundang ( misal Grasi
atau herziening )
b). Selama terpidana dirampas kemerdekaannya ( ada
dalam tahanan )
walaupun perampasan kemerdekaan ioytu berhubung
dengan pemidana
an lain .

2. Grasi
Grasi tidak menghilangkan putusan hakim ,
keputusan hakim tetap ada, tetapi pelaksanaannya
dihapuskan atau dikurangi / diringankan.

Sekian terima kasih