Anda di halaman 1dari 32

1.

Memahami dan menjelaskan perdarahan pervaginam


1.1. Definisi
Adalah perdarahan yang terjadi dalam masa antara 2 haid.
Ada dua macam perdarahan di luar haid yaitu metroragia dan menometroragia
1. Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang tidak berhubungan dengan
siklus haid. Perdarahan ovulatoir terjadi pada pertengahan siklus sebagai
suatu spotting dan dapat lebih diyakinkan dengan pengukuran suhu basal
tubuh. Penyebabnya adalah kelainan organik (polip endometrium,
karsinoma endometrium, karsinoma serviks), kelainan fungsional dan
penggunaan estrogen eksogen
2. Menoragia adalah Perdarahan siklik yang berlangsung lebih dari 7 hari
dengan jumlah darah kadang-kadang cukup banyak. Penyebab dan
pengobatan kasus ini sama dengan hipermenorea.
1.2. Etiologi
Sebab sebab organic
Perdarahan dari uterus, tuba dan ovarium disebabkan olah kelainan pada:

serviks uteri; seperti polip servisis uteri, erosio porsionis uteri, ulkus pada
portio uteri, karsinoma servisis uteri.

Korpus uteri; polip endometrium, abortus imminens, abortus insipiens,


abortus incompletus, mola hidatidosa, koriokarsinoma, subinvolusio uteri,
karsinoma korpus uteri, sarkoma uteri, mioma uteri.

Tuba fallopii; kehamilan ekstopik terganggu, radang tuba, tumor tuba.

Ovarium; radang overium, tumor ovarium.

Sebab fungsional:

Perdarahan dari uterus yang tidak ada hubungannya dengan sebab organik,
dinamakan perdarahan disfungsional. Perdarahan disfungsional dapat terjadi pada
setiap umur antara menarche dan menopause. Tetapi kelainan inui lebih sering
dijumpai sewaktu masa permulaan dan masa akhir fung ovarium.

Dua pertiga wanita dari wanita-wanita yang dirawat di rumah sakit untuk
perdarahan disfungsional berumur diatas 40tahun, dan 3 % dibawah 20 tahun.
Sebetulnya dalam praktek dijumpai pula perdarahan disfungsional dalam masa
pubertas, akan tetapi karena keadaan ini biasanya dapat sembuh sendiri, jarana
diperlukan perawatn di rumah sakit.
1.3. Patologi
Menurut schroder pada tahun 1915, setelah penelitian histopatologik pada
uterus dan ovario pada waktu yang sama, menarik kesimpulan bahwa gangguan
perdarahan yang dinamakan metropatia hemorrgica terjadi karena persistensi folikel
yang tidak pecah sehingga tidak terjadi ovulasidan pembentukan corpus luteum.
Akibatnya terjadilah hiperplasia endometrium karena stimulasi estrogen yang
berlebihan dan terus menerus. Penelitian menunjukan pula bahwa perdarahan
disfungsional dapat ditemukan bersamaan dengan berbagai jenis endometrium yaitu
endometrium atropik, hiperplastik, ploriferatif, dan sekretoris, dengan endometrium
jenis non sekresi merupakan bagian terbesar. Endometrium jenis nonsekresi dan jenis
sekresi penting artinya karena dengan demikian dapat dibedakan perdarahan
anovulatori dari perdarahan ovuloatoir.
Klasifikasi ini mempunyai nilai klinik karena kedua jenis perdarahan disfungsional ini
mempunyai dasar etiologi yang berlainan dan memerlukan penanganan yang berbeda.
Pada perdarahan disfungsional yang ovulatoir gangguan dianggap berasal dari factorfaktor neuromuskular, vasomotorik, atau hematologik, yang mekanismenya Belem
seberapa dimengerti, sedang perdarahan anovulatoir biasanya dianggap bersumber
pada gangguan endokrin.
1.4. Manifestasi klinik
a. Perdarahan ovulatory
2

Perdarahan ini merupakan kurang lebih 10 % dari perdarahan disfungsional dengan


siklus pendek (polimenore) atau panjang (oligomenore). Untuk menegakan diagnosis
perdarahan ovulatori perlu dilakukan kerokan pada masa mendekati haid. Jira karena
perdarhan yang lama dan tidak teratur siklus haid tidak dikenali lagi, maka Madangkadang bentuk survei suhu badan basal dapat menolong.
Jika sudah dipastikan bahwa perdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi tanpa
adanya sebab organik, maka harus dipikirkan sebagai etiologinya:
1) korpus luteum persistens
Dalam hal ini dijumpai perdarahan Madang-kadang bersamaan dengan ovarium yang
membesar. Sindrom ini harus dibedakan dari kelainan ektopik karena riwayat
penyakit dan hasil pemeriksaan panggul sering menunjukan banyak persamaan antara
keduanya. Korpus luteum persistens dapat menimbulkan pelepasan endometrium
yagn tidak teratur (irregular shedding).
Diagnosis ini di buat dengan melakukan kerokan yang tepat pada waktunya, yaitu
menurut Mc. Lennon pada hari ke 4 mulainya perdarahan. Pada waktu ini dijumpai
endometrium dalam tipe sekresi disamping nonsekresi.

2) insufisiensi korpus luteum


Hal ini dapat menyebabkan premenstrual spotting, menoragia atau polimenore.
Dasarnya ahla kurangntya produksi progesteron disebabkan oleh gangguan LH
realizing factor. Diagnosis dibuat, apabila hasil biopsi endometrial dalam fase luteal
tidak cocok dengan gambaran endometrium yang seharusnya didapat pada hari siklus
yang bersangkutan.
3) apopleksia uteri
Pada wanita dengan hipertensi dapat terjado pecahnya pembuluh darah dalam uterus.
4) kelainan darah
Seperti anemia, purpura trombositopenik, dan gangguan dalam mekasnisme
pembekuan darah.

b. Perdarahan anovulatoir
Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya endometrium. Dengan
menurunya Kadar estrogen dibawah tingkat tertentutimbul perdarahan yang Madangkadang bersifat siklik, Kadang-kadang tidak teratur sama sekali.
Fluktuasi kadar estrogen ada sangkutpautnya dengan jumlah folikel yang pada statu
waktu fungsional aktif. Folikel folikel ini mengeluarkan estrogen sebelum
mengalami atresia, dan kemudian diganti oleh folikel folikel baru. Endometrium
dibawah pengaruh estrogen tumbuh terus dan dari endometrium yang mula-mula
ploriferasidapat terjadi endometrium bersifat hiperplasia kistik.Jika gambaran ini
diperoleh pada kerokan maka dapat disimpulkan adanya perdarahan anovulatoir.
Perdarahan fungsional dapat terjadi pada setiap waktu akan tetapi paling sering pada
masa permulaan yaitu pubertas dan masa pramenopause.
Pada masa pubertas perdarahan tidak normal disebabkan oleh karena gangguan atau
keterlambatan proses maturasi pada hipotalamus, dengan akibat bahwa pembuatan
realizing faktor tidak sempurna. Pada masa pramenopause proses terhentinya fungsi
ovarium tidak selalu berjalan lancar.
Bila pada masa pubertas kemungkinan keganasan kecil sekali dan ada harapan lambat
laun keadaan menjadi normal dan siklus haid menjadi ovulatoir, pada seorang dewasa
dan terutama dalam masa pramenopause dengan perdarahan tidak teratur mutlak
diperlukan kerokan untuk menentukan ada tidaknya tumor ganas.
Perdarahan disfungsional dapat dijumpai pada penderita-penderita dengan penyakit
metabolik, penyakit endokrin, penyakit darah, penyakit umum yang menahun, tumortumor ovarium dan sebagainya. Akan tetapi disamping itu terdapat banyak wanita
dengan perdarahan disfungsional tanpa adanya penyakit-penyakit tersebut. Selain itu
faktor psikologik juga berpengaruh antara lain stress kecelakaan, kematian, pemberian
obat penenang terlalu lama dan lain-lain dapat menyebabkan perdarahan anovulatoir.

1.5. Diagnosis

Perlu ditanyakan bagaimana mulainya perdarahan, apakah didahului oleh


siklus yang pendek atau oleh oligomenore/amenorhe, sifat perdarahan
4

( banyak atau sedikit-sedikit, sakit atau tidak), lama perdarahan, dan


sebagainnya.

Pada pemeriksaan umum perlu diperhatikan tanda-tanda yang menunjuk ke


arah kemungkinaan penyakit metabolik, endokrin, penyakit menahun.
Kecurigaan terhadap salah satu penyait tersebut hendaknya menjadi dorongan
untuk melakukan pemeriksaan dengan teliti ke arah penyakit yang
bersangkutan.

Pada pemeriksaan gynecologik perlu dilihat apakah tidak ada kelainankelainan organik yang menyebabkan perdarahan abnormal (polip, ulkus,
tumor, kehamilan terganggu).

Pada pubertas tidak perlu dilakukan kerokan untuk menegakan diagnosis. Pada
wanita umur 20-40 tahun kemungkinan besar adalah kehamilan terganggu,
polip, mioma submukosum,

Dilakukan kerokan apabila sudah dipastikan tidak mengganggu kehamlan


yang masih bisa diharapkan. Pada wanita pramenopause dorongan untuk
melakukan kerokan adalah untuk memastikan ada tidaknya tumor ganas.

1.6. Penatalaksanaan
1. Istirahat baring dan transfusi darah
2. Bila pemeriksaan gynecologik menunjukan perdarahan berasal dari uterus dan
tidak ada abortus inkompletus, perdarahan untuk sementara waktu dapat
dipengaruhi dengan hormon steroid. Dapat diberikan :
Estrogen dalam dosis tinggi
Supaya kadarnya dalam darah meningkat dan perdarahan berhenti. Dapat
diberikan secar IM dipropionasestradiol 2,5 mg, atau benzoas estradiol 1,5 mg,
atau valeras estradiol 20 mg. Tetapi apabila suntikan dihentikan perdarahan
dapat terjadi lagi
progesteron
Pemberian progesteron mengimbangi pengaruh estrogen terhadap
endometrium, dapat diberikan kaproas hidroksi progesteron 125 mg, secara
5

IM, atau dapat diberikan per os sehari nirethindrone 15 mg atau asetas


medroksi progesteron (provera) 10 mg, yang dapat diulangi berguna dalam
masa pubertas.
2. Memahami dan menjelaskan Ca serviks
2.1. Definisi
Kanker serviks adalah keganasan yang terjadi pada leher rahim. Kanker
serviks disebut juga kanker leher rahim atau kanker mulut rahim yang dimulai
pada lapisan serviks.

2.2. Epidemiologi
Kanker leher rahim (serviks) atau karsinoma serviks uterus merupakan kanker
pembunuh wanita nomor dua di dunia setelah kanker payudara. Setiap tahunnya,
terdapat kurang lebih 500 ribu kasus baru kanker leher rahim (cervical cancer),
sebanyak 80 persen terjadi pada wanita yang hidup di negara berkembang.
Sedikitnya 231.000 wanita di seluruh dunia meninggal akibat kanker leher rahim.
Dari jumlah itu, 50% kematian terjadi di negara-negara berkembang. Hal itu terjadi
karena pasien datang dalam stadium lanjut.
Menurut data Departemen Kesehatan RI, penyakit kanker leher rahim saat ini
menempati urutan pertama daftar kanker yang diderita kaum wanita Indonesia. saat
ini ada sekitar 100 kasus per 100 ribu penduduk atau 200 ribu kasus setiap
tahunnya Kanker serviks yang sudah masuk ke stadium lanjut sering menyebabkan
kematian dalam jangka waktu relatif cepat. Selain itu, lebih dari 70 persen kasus
yang datang ke rumah sakit ditemukan dalam keadaan stadium lanjut
2.3. Etiologi dan faktor resiko

Penyakit karsinoma serviks merupakan salah satu model karsinogenesis yang


melalui tahapan atau multistep, dimulai dari karsinogenesis awal sampai terjadinya
perubahan morfologi hingga menjadi kanker invasif. Studi-studi epidemiologi
menunjukkan lebih dari 90% kanker serviks dihubungkan dengan jenis human
papiloma virus (HPV). Beberapa bukti menunjukkan kanker dengan HPV negatif
ditemukan pada wanita yang lebih tua dan dikaitkan dengan prognosis yang buruk.
HPV merupakan faktor inisiator kanker serviks. Onkoprotein E6 dan E7 yang
berasal dari HPV merupakan penyebab terjadinya degenerasi keganasan.
Onkoprotein E6 akan mengikat p53 sehingga TSG (Tumor Supressor Gene) p53
akan kehilangan fungsinya. Sedangkan onkoprotein E7 akan mengikat TSG Rb,
ikatan ini menyebabkan terlepasnya E2F yang merupakan faktor transkripsi
sehingga siklus sel berjalan tanpa kontrol.
Faktor Risiko
Usia > 35 tahun mempunyai risiko tinggi terhadap kanker leher rahim.
Semakin tua usia seseorang, maka semakin meningkat risiko terjadinya
kanker laher rahim. Meningkatnya risiko kanker leher rahim pada usia
lanjut merupakan gabungan dari meningkatnya dan bertambah lamanya
waktu pemaparan terhadap karsinogen serta makin melemahnya sistem

kekebalan tubuh akibat usia.


Usia pertama kali menikah. Menikah pada usia kurang 20 tahun dianggap
terlalu muda untuk melakukan hubungan seksual dan berisiko terkena
kanker leher rahim 10-12 kali lebih besar daripada mereka yang menikah
pada usia > 20 tahun. Pada usia muda, sel-sel mukosa pada serviks belum
matang. Artinya, masih rentan terhadap rangsangan sehingga tidak siap
menerima rangsangan dari luar termasuk zat-zat kimia yang dibawa
sperma. Dengan adanya rangsangan, sel bisa tumbuh lebih banyak dari sel
yang mati, sehingga perubahannya tidak seimbang lagi. Kelebihan sel ini

akhirnya bisa berubah sifat menjadi sel kanker.


Wanita dengan aktivitas seksual yang tinggi, dan sering berganti-ganti
pasangan. Berganti-ganti pasangan akan memungkinkan tertularnya
penyakit kelamin, salah satunya Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini
akan mengubah sel-sel di permukaan mukosa hingga membelah menjadi
lebih banyak sehingga tidak terkendali sehingga menjadi kanker.

Penggunaan antiseptik. Kebiasaan pencucian vagina dengan menggunakan


obat-obatan antiseptik maupun deodoran akan mengakibatkan iritasi di

serviks yang merangsang terjadinya kanker.


Wanita yang merokok. Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar
terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok.
Penelitian menunjukkan, lendir serviks pada wanita perokok mengandung
nikotin dan zat-zat lainnya yang ada di dalam rokok. Zat-zat tersebut akan
menurunkan daya tahan serviks di samping meropakan ko-karsinogen

infeksi virus.
Paritas (jumlah kelahiran). Semakin tinggi risiko pada wanita dengan
banyak anak, apalagi dengan jarak persalinan yang terlalu pendek. Dari
berbagai literatur yang ada, seorang perempuan yang sering melahirkan
(banyak anak) termasuk golongan risiko tinggi untuk terkena penyakit
kanker leher rahim. Dengan seringnya seorang ibu melahirkan, maka akan
berdampak pada seringnya terjadi perlukaan di organ reproduksinya yang
akhirnya dampak dari luka tersebut akan memudahkan timbulnya Human
Papilloma Virus (HPV) sebagai penyebab terjadinya penyakit kanker leher

rahim.
Riwayat kanker serviks pada keluarga. Bila seorang wanita mempunyai
saudara kandung atau ibu yang mempunyai kanker serviks, maka ia
mempunyai kemungkinan 2-3 kali lebih besar untuk juga mempunyai

kanker serviks dibandingkan dengan orang normal.


Penggunaan jangka panjang (lebih dari 5 tahun) kontrasepsi oral.

2.4. Klasifikasi dan stadium


Stadium
Tingkat Keganasan Klinik Menurut FIGO
Tingkat

Kriteria

KIS (Karsinoma in Situ) atau karsinoma intra epitel, membrana


basalis masih utuh.

I
Ia

Proses terbatas pada serviks walaupun ada perluasan ke korpus uteri


Karsinoma mikro invasif: bila membrana basalis sudah rusak dan
tumor sudah memasuki stroma tdk> 3mm dan sel tumor tidak
terdapat dalam pembuluh limfe/pembuluh darah. Kedalaman invasi
3mm sebaiknya diganti dengan tdk> 1mm.

Ib occ
Ib
II
IIa
IIb
III
IIIa
IIIb

IV

Ib occult = Ib yang tersembunyi, secara klinis tumor belum tampak


sebagai Ca, tetapi pada pemeriksaan histologik, ternyata sel tumor
telah mengadakan invasi stroma melebihi Ia.
Secara klinis sudah diduga adanya tumor yang histologik
menunjukkan invasi ke dalam stroma serviks uteri.
Proses keganasan sudah keluar dari serviks dan menjalar ke2/3
bagian atas vagina dan ke parametrium, tetapi tidak sampai dinding
panggul.
Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari infiltrat
tumor.
Penyebaran ke parametrium uni/bilateral tetapi belum sampai ke
dinding panggul
Penyebaran telah sampai ke 1/3 bagian distal vagina / ke
parametrium sampai dinding panggul.
Penyebaran telah sampai ke 1/3 bagian distal vagina, sedang ke
parametrium tidak dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul.
Penyebaran sudah sampai ke dinding panggul, tidak ditemukan
daerah bebas infiltrasi antara tumor dengan dinding panggul (frozen
pelvic)/ proses pada tk klinik I/II, tetapi sudah ada gangguan faal
ginjal.
Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan
mukosa rektum dan atau kandung kemih.
Proses sudah keluar dari panggul kecil, atau sudah menginfiltrasi
mukosa rektum dan atau kandung kemih.

IVa

Telah terjadi penyebaran jauh.

IVb

Berdasarkan tipe Histopatologi:

10

2.5 Patofisiologi
Karsinoma serviks adalah penyakit yang progresif, mulai dengan intraepitel,
perubahan neoplastik, berkembang menjadi kanker serviks setelah 10 tahun.
Karsinoma serviks timbul dibatasi antara epitel yang melapisi ektoserviks
(portio) dan endoserviks kanalis serviks yang disebut skuamo kolumnar junction
(SCJ). Pada wanita muda SCJ terletak diluar OUE, sedang pada wanita diatas 35
tahun, didalam kanalis serviks.
Serviks yang normal, secara alami mengalami proses metaplasia (erosi) akibat
saling mendesaknya kedua jenis epitel yang melapisi. Hal ini terjadi akibat
trauma mekanik, atau kimiawi, infeksi virus atau bakteri dan gangguan
keseimbangan hormon. Apabila saat proses metaplasia terjadi paparan mutagen
atau zat karsinogenik, maka porsio yang erosif (metaplasia skuamosa) yang
semula fisiologik dapat merubah menjadi patologik yang disebut displasia.
Contoh mutagen :
HPV menginvasi inti sel hospes dan menduplikasi DNA virus. Proses
ini akan berlanjutan (fase laten) sehingga kanker yang bersifat in situ bisa
menjadi invasif. Protein dari HPV tipe onkogenik, E6 dan E7 akan
menghambat dan menginaktivasi p53 yang dan protein RB hospes yang
berperan menekan sifata onkogenik setiap sel tubuh. Protein E6 mengikat p53
membentuk kompleks yang menetralisir respon normal sel epitel serviks
terhadap kerusakan DNA( apoptosis dimediasi oleh P53). Sedangkan, protein
E7 mengikat produk gen retinoblastoma (protein Rb1) mempengaruhi
supressor gene.
Secara histopatologi lesi pre invasif biasanya berkembang melalui
beberapa stadium displasia (ringan,sedang,berat) menjadi karsinoma insitu
dalam jangka waktu 7-10 tahun akhirnya invasif. Perkembangan bentuk
preinvasif berkembang menjadi invasif pada stroma serviks dengan adanya
proses keganasan. Perluasan lesi di serviks dapat menimbulkan luka,
pertumbuhan yang eksofitik atau dapat berinfiltrasi ke kanalis serviks. Lesi
dapat meluas ke forniks, jaringan pada serviks, parametria dan akhirnya dapat

11

menginvasi ke rektum dan atau vesika urinaria. Karsinoma serviks dapat


meluas ke arah segmen bawah uterus dan kavum uterus.
Penyebaran Kanker Serviks
Pada umumnya secara limfogen melalui pembuluh getah bening
menuju 3 arah : a) ke arah fornices dan dinding vagina, b) ke arah korpus
uterus, dan c) ke arah parametrium dan dalam tingkatan yang lanjut
menginfiltrasi septum rektovaginal dan kandung kemih.
2.6. Manifestasi klinik
Pada fase prakanker, sering tidak ada gejala atau tanda-tanda yang khas.
Namun, kadang bisa ditemukan gejala-gejala sebagai berikut :
1. Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina. Getah yang keluar dari vagina ini
makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan
2. Perdarahan setelah sanggama (post coital bleeding) yang kemudian berlanjut
menjadi perdarahan yang abnormal.
3. Timbulnya perdarahan setelah masa menopause.
4. Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan
dapat bercampur dengan darah.
5. Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi perdarahan kronis.
6. Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang panggul.
Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah, kemungkinan terjadi hidronefrosis.
Selain itu, bisa juga timbul nyeri di tempat-tempat lainnya.
7. Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, edema kaki,
timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rektum),
terbentuknya fistel vesikovaginal atau rektovaginal, atau timbul gejala-gejala akibat
metastasis jauh.
2.7. Diagnosis dan diagnosis banding

12

a. Anamnesis
Pada anamnesis perlu diidentifikasi data mengenai riwayat perkawinan

dan

pesalinan, perilaku seks yang sering berganti ganti pasangan (promiskusitas), waktu
coitus pertama kali, penyakit yang pernah dialami misalnya herpes genitalis, infeksi
HPV, servisis kronis, gaya hidup seperti meroko, hygienis, jenis makanan san social
ekonomi rendah, juga keluhan perdarahan spontan ataupun pasca senggama. Gejala
Klinis kurang menunjang sebagai penunjuk diagnostic karena lesi prakanker
umumnya asimptomatik kecuali pada keganasan yang sudah lanjut.
b.Pemeriksaan Fisik
Diagnosis kanker serviks tidaklah sulit apalagi tingkatannya sudah lanjut.Yang
menjadi masalah adalah bagaimana melakukan skrining untuk mencegah kanker
serviks, dilakukan dengan deteksi, eradikasi, dan pengamatan terhadaplesi prakanker
serviks. Kemampuan untuk mendeteksi dini kanker serviks disertaidengan
kemampuan dalam penatalaksanaan yang tepat akan dapat menurunkanangka
kematian akibat kanker serviks.
1) Keputihan. Keputihan merupakan gejala yang paling sering ditemukan,
berbaubusuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan.
2) Pendarahan kontak merupakan 75-80% gejala karsinoma serviks.
Perdarahantimbul akibat terbukanya pembuluh darah, yang makin lama
3)
4)
5)
6)

makin seringterjadi diluar senggama.


Rasa nyeri, terjadi akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf.
Gejala lainnya adalah gejala-gejala yang timbul akibat metastase jauh.
Pemeriksaan tanda vital seperti tensi, nadi, respirasi, suhu badan.
Status pasien :
Ada atau tidaknya anemia.
Tanda-tanda metastase di paru seperti: sesak napas, batuk darah.
Status lokalis abdomen: umumnya tak khas, jarang menimbulkan
kelainan berupa benjolan, kecuali bila sudah ada penyebaran ke

rektum menimbulkan obstipasi ileusobstruktif.


Palpasi hepar, supraklavikula, dan diantara kedua paha untuk
melihat ada tidaknya benjolan untuk meyakinkan ada tidaknya
metastase.

c. Pemeriksaan Ginekologi

13

Pada pemeriksaan makroskopis/inspekulo mungkin tidak ditemukan kelainan


porsio pada lesi tingkat prakan-ker dan kadang hanya menunjukkan gambaran khas
seperti leukoplakia, erosi, ektropion atau servisitis. Tetapi tidak demikian halnya pada
tingkat lanjut dimana porsio terlihat benjol-benjol menyerupai bunga kol
(pertumbuhan eksofitik) atau mungkin juga ditemukan fistula rektovaginal ataupun
vesikovagina. Pada keadaan ini porsio mudah sekali berdarah karena kerapuhan sel
sehingga pada pemeriksaan ginekologi dianjurkan mulai dengan pemeriksaan
inspekulo yang dilanjutkan dengan pemeriksaan vagina bimanual untuk eksplorasi
vagina.
D. Pemeriksaan penunjang
Stadium klinik seharusnya tidak berubah setelah beberapa kali pemeriksaan.
Apabila ada keraguan pada stadiumnya maka stadium yang lebih dini dianjurkan.
Pemeriksaan berikut dianjurkan untuk membantu penegakkan diagnosis seperti
palpasi, inspeksi, kolposkopi, kuretase endoserviks, histeroskopi, sistoskopi,
proktoskopi, intravenous urography, dan pemeriksaan X-ray untuk paru-paru dan
tulang. Kecurigaan infiltrasi pada kandung kemih dan saluran pencernaan sebaiknya
dipastikan dengan biopsi. Konisasi dan amputasi serviks dapat dilakukan untuk
pemeriksaan

klinis.

Interpretasi

dari

limfangografi,

arteriografi,

venografi,

laparoskopi, ultrasonografi, CT scan dan MRI sampai saat ini belum dapat digunakan
secara baik untuk staging karsinoma atau deteksi penyebaran karsinoma karena
hasilnya yang sangat subyektif. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil
pemeriksaan sebagai berikut (Suharto, 2007):
1) Pemeriksaan pap smear
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi sel kanker lebih awal pada pasien
yang tidak memberikan keluhan. Sel kanker dapat diketahui pada sekret yang diambil
dari porsi serviks. Pemeriksaan ini harus mulai dilakukan pada wanita usia 18 tahun
atau ketika telah melakukan aktivitas seksual sebelum itu. Setelah tiga kali hasil
pemeriksaan pap smear setiap tiga tahun sekali sampai usia 65 tahun. Pap smear dapat
mendeteksi sampai 90% kasus kanker leher rahim secara akurat dan dengan biaya
yang tidak mahal, akibatnya angka kematian akibat kanker leher rahim pun menurun
sampai lebih dari 50%. Setiap wanita yang telah aktif secara seksual sebaiknya
menjalani pap smear secara teratur yaitu 1 kali setiap tahun. Apabila selama 3 kali

14

berturut-turut menunjukkan hasil pemeriksaan yang normal, maka pemeriksaan pap


smear bisa dilakukan setiap 2 atau 3 tahun sekali.
Hasil pemeriksaan pap smear adalah sebagai berikut (Prayetni,1999):
a. Normal
b. Displasia ringan (perubahan dini yang belum bersifat ganas)
c. Displasia berat (perubahan lanjut yang belum bersifat ganas)
d. Karsinoma in situ (kanker terbatas pada lapisan serviks paling luar).
e. Kanker invasif (kanker telah menyebar ke lapisan serviks yang lebih
dalam atau ke organ tubuh lainnya)
Tujuan Pap Smear:
1. Menemukan sel abnormal atau sel yang dapat berkembang menjadi kanker
termasuk infeksi HPV).
2. Untuk mendeteksi adanya pra-kanker, ini sangat penting ditemukan sebelum
seseorang menderita kanker.
3. Mendeteksi kelainan kelainan yang terjadi pada sel-sel leher rahim.
4. Mendeteksi adanya kelainan praganas atau keganasan servik uteri

15

Cara pengambilan sampel Pap Smear


Pemeriksaan ini dilakukan di atas kursi pemeriksaan khusus ginekologis.
Sampel sel-sel diambil dari luar serviks dan dari liang serviks dengan melakukan
usapan dengan spatula yang terbuat dari bahan kayu atau plastik. Setelah usapan
dilakukan, sebuah cytobrush (sikat kecil berbulu halus, untuk mengambil sel-sel
serviks) dimasukkan untuk melakukan usapan dalam kanal serviks. Setelah itu, sel-sel
diletakkan dalam object glass (kaca objek) dan disemprot dengan zat untuk
memfiksasi, atau diletakkan dalam botol yang mengandung zat pengawet, kemudian
dikirim ke laboratorium untuk diperiksa.
Waktu pemeriksaan
Waktu yang digunakan dalam pemeriksaan pap smear dapat dilakukan pada 2
minggu setelah menstruasi dan sebelum menstruasi berikutnya.
2) Pemeriksaan DNA HPV
Pemeriksaan ini dimasukkan pada skrining bersama-sama dengan Paps smear
untuk wanita dengan usia di atas 30 tahun. Tes ini dapat dilakukan pada sediaan
apusan atau cairan vagina dan sel sisa bahan pada sediaan sitologi Pap smear ataupun
dengan biopsis. Deteksi dengan tes DNA HPV adalah salah satu jenis tes pelengkap
tes sitologi seperti pap smear. Deteksi DNA HPV bisa dengan menggunakan PCR dan
Hybrid Capture II. PCR pertama kali dikembangkan oleh Kary Mullis pada tahun
1985 (Nuswantara, 2002). Pada tahun 1990 Ting dan Manos telah mengembangkan
suatu metode deteksi human papilloma virus dengan PCR. Metode tersebut
dikembangkan dengan mengidentifikasi suatu daerah homologi di dalam genom tipe-

16

tipe HPV yang kemudian digunakan sebagai dasar untuk mendesain primer untuk
amplifikasi.
Sedangkan teknik pemeriksaan dengan hibridisasi dikenal dengan istilah
teknik Hybrid Capture II System (HC-II). HC-II pada intinya adalah melakukan
teknik hibridisasi yang dapat mendeteksi semua tipe HPV high risk pada seseorang
yang diduga memiliki virus HPV dalam tubuhnya (Lrincz, 1998). Penggunaan teknik
komputerisasi dilakukan untuk pemeriksaan di tingkat DNA dan RNA, apakah
terdapat kemungkinan pasien tersebut sudah terinfeksi HPV. Jika teknik Pap smear
memeriksa adanya perubahan pada sel (sitologi), teknik HC-II memeriksa pada
kondisi yang lebih awal yaitu terdapatnya kemungkinan seseorang terinfeksi HPV di
dalam tubuhnya sebelum virus tersebut membuat perubahan pada serviks yang
akhirnya dapat mengakibakan terjadinya kanker serviks.
Pengembangan teknik deteksi DNA HPV akhir-akhir ini berupa HC-II
merupakan teknik sederhana dan cara alternatif yang menarik; seperti produk HC-II.
Teknik HC-II adalah sebuah antibody capture/solution hybridization/signal
amplication assay yang memakai deteksi kualitatif chemiluminescence terhadap DNA
HPV (Suwiyoga, 2006) namun secara umum HC-II ialah suatu teknik berbasis DNARNA yang dapat mendeteksi secara akurat dan cepat (Nainggolan, 2006).
3) Biopsi
Biopsi serviks dilakukan dengan cara mengambil sejumlah contoh jaringan
serviks untuk kemudian diperiksa di bawah mikroskop. Dibutuhkan hanya beberapa
detik

untuk

melakukan

biopsi

contoh

jaringan

dan

hanya

menimbulkan

ketidaknyamanan dalam waktu yang tidak lama. Jika diperlukan maka akan dilakukan
biospi disekitar area serviks, tergantung pada temuan saat melakukan colposcopy.
Bersamaan dengan biopsi serviks, kuretase endoserviks juga bisa dilakukan. Selama
kuretase, dokter akan menggunakan sikat kecil untuk menghilangkan jaringan pada
saluran endoserviks, area antara uterus dan serviks. Kuretase akan menimbulkan
sedikit nyeri, tapi nyeri akan hilang setelah kuretase dilakukan. Hasil biopsi dan
kuretase biasanya baru bisa dilihat paling tidak 2 minggu.
Biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak suatu pertumbuhan
atau luka pada serviks, atau jika hasil pemeriksaan pap smear menunjukkan suatu
abnormalitas atau kanker. Biopsi ini dilakukan untuk melengkapi hasil pap smear.
Teknik yang biasa dilakukan adalah punch biopsy yang tidak memerlukan anestesi
dan teknik cone biopsy yang menggunakan anestesi. Biopsi dilakukan untuk
mengetahui kelainan yang ada pada serviks. Jaringan yang diambil dari daerah bawah
17

kanal servikal. Hasil biopsi akan memperjelas apakah yang terjadi itu kanker invasif
atau hanya tumor saja (Prayetni, 1997).
Biopsi Kerucut dan LEEP

Adakalanya biopsi yang lebih besar dibutuhkan untuk mendiagnosis kanker


serviks. Pada kasus ini, maka dapat dipilih biopsi kerucut. Selama biopsi kerucut,
sebuah kerucut yang tajam akan digunakan untuk mengambil jaringan dan pada
prosedur ini dibutuhkan anestesi umum. Biopsi kerucut juga digunakan untuk
membuang jaringan pra-kanker dari serviks. Loop Electro Surgical Excision
Procedure (LEEP) atau Prosedur Pembedahan Eksisi dengan Loop Elektro adalah
prosedur yang dilakukan dengan anestesi local untuk mengangkat jaringan dari
serviks. LEEP menggunakan listrik untuk membuang contoh jaringan. Metode ini
umumnya digunakan untuk mengobati kanker stadium tinggi dari pada hanya untuk
mendiagnosis kanker serviks.
4) Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar)
Kolposkopi dilakukan untuk melihat daerah yang terkena proses metaplasia.
Pemeriksaan ini kurang efisien dibandingkan dengan pap smear, karena kolposkopi
memerlukan keterampilan dan kemampuan kolposkopis dalam mengetes darah yang
abnormal (Prayetni, 1997). Colposcopy adalah suatu pengujian yang memungkinkan
dokter untuk melihat serviks (leher rahim) lebih dekat dengan menggunakan sebuah
alat bernama colposcope. Colposcope akan dimasukkan ke dalam vagina dan
kemudian gambar yang ditangkap oleh alat tersebut akan ditampilkan pada layar
computer atau televisi. Dengan cara seperti ini, kondisi yang terjadi dalam leher rahim
akan sangat jelas terlihat. Sebelumnya diberi cairan ke dalam vagina, apabila pada sel-

18

sel yang abnormal akan terwarnai suatu warna putih atau lainnya, lalu sample yg
abnormal (sudah terwarnai) itu diambil dengan biopsi, dan dibawa ke laboratorium.

5) Tes Schiller
Pada pemeriksaan ini serviks diolesi dengan
larutan yodium. Pada serviks normal akan membentuk
bayangan yang terjadi pada sel epitel serviks karena
adanya glikogen. Sedangkan pada sel epitel serviks yang
mengandung kanker akan menunjukkan warna yang tidak
berubah karena tidak ada glikogen ( Prayetni, 1997).
6) Radiologi
a) Pelvik limphangiografi, yang dapat menunjukkan adanya gangguan
pada saluran pelvik atau peroartik limfe.
b) Pemeriksaan intravena urografi, yang dilakukan pada kanker serviks tahap
lanjut, yang dapat menunjukkan adanya obstruksi pada ureter terminal.
Pemeriksaan radiologi direkomendasikan untuk mengevaluasi kandung kemih
dan rektum yang meliputi sitoskopi, pielogram intravena (IVP), enema
barium, dan sigmoidoskopi. Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau scan
CT abdomen / pelvis digunakan untuk menilai penyebaran lokal dari tumor
dan / atau terkenanya nodus limpa regional (Gale & charette, 1999).
7) Petanda Tumor
Antigen terkait karsinoma skuamosa (SCCag/ squamous cell Ca associated
antigen). Merupakan glikoprotein dengan bobot molekul 42-48 kDa. Batas
atas dalam serum orang sehat adalah 1.5ug/L. Makna klinis terutama untuk
mendeteksi kadar serum pasien karsinoma sel skuamosa.

19

8) Thin Prep
Metode Thin prep lebih akurat dibanding Pap smear. Jika Pap smear hanya
mengambil sebagian dari sel-sel di serviks atau leher rahim, maka Thin prep
akan memeriksa seluruh bagian serviks atau leher rahim. Tentu hasilnya akan
jauh lebih akurat dan tepat.
Kelebihan Thin Prep
ThinPrep Test, sel-sel yang telah diambil tidak diletakkan dan diratakan di
preparat kaca, tetapi dimasukkan ke dalam tabung yang berisi cairan yang
berfungsi menstabilkan dan menjaga kondisi sel-sel tersebut agar pada saat
diperiksa akan tetap sama dengan kondisi saat diambil. Prosedur ini
memastikan agar sebanyak mungkin sel dapat disimpan untuk dibawa
laboratorium pemeriksaan dan dalam kondisi sangat baik.
9) IVA
IVA yaitu singkatan dari Inspeksi Visual dengan Asam asetat. Metode
pemeriksaan dengan mengoles serviks atau leher rahim dengan asam asetat.
Kemudian diamati apakah ada kelainan seperti area berwarna putih. Jika tidak
ada perubahan warna, maka dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks.
Anda dapat melakukan di Puskesmas dengan harga relatif murah. Ini dapat
dilakukan hanya untuk deteksi dini. Jika terlihat tanda yang mencurigakan,
maka metode deteksi lainnya yang lebih lanjut harus dilakukan.

20

Diagnosis banding
Kondisi
Infeksi
HPV

Membedakan tanda /
gejala

Membedakan tes

Tidak ada
massa, tidak
ada perdarahan
abnormal,
biasanya tidak
ada gejala.

Tes HPV DNA diindikasikan dengan Pap


smear atipikal (ASCUS atypical squamous
cells of undetermined significance).
Para koilosit merujuk pada karakteristik dari
penampakan sel HPV yang terinfeksi dan
patognomonik pada keadaan
HPV. Koilositosis sering berulang, tapi
displasia memerlukan penelitian lebih lanjut
dan tindakan lanjut.

Infeksi
panggul

Klamidia dan
gonore yang
berhubungan
dengan demam,
nyeri, dan
keputihan, ta
pi mungkin
tanpa gejala.

Pap smear mungkin belum tentu akurat


karena perubahan inflamasi. Tes klamidia
dan gonore, sediaan basah, kultur, tes kalium
hidroksida (KOH) dapat mengidentifikasi
infeksi.

Kista
nabothian

Dispareunia
dan massa
kistik pada
pemeriksaan.

Dibedakan pada pemeriksaan klinis.

Hiperplasia
kelenjar

Mungkin
ditemukan pada
Pap smear pada
pasien yang
tanpa gejala.
Beberapa
pasien mungkin
mengalami
gejala
perdarahan
uterus berat,
berkepanjangan
, sering, dan

Sel glandular atipikal pada Pap smear; biopsi


diagnostik akan membedakannya dari kanker
serviks.

21

pendek atau
tidak teratur.
Mesonefrik
remnants

Dispareunia
dan massa
kistik pada
pemeriksaan.

Biopsi diagnostik akan membedakannya dari


kanker serviks.

Endometrio
sis

Nyeri panggul,
dismenorea,
infertilitas,
dispareunia,
perdarahan
abnormal,
kelelahan.

Biopsi diagnostik akan membedakannya dari


kanker serviks.

Polip
serviks

Perdarahan
abnormal,
massa pada
pemeriksaan.

Biopsi diagnostik akan membedakannya dari


kanker serviks.

Servikal
fibroid

Menorrhagia,
massa yang
nyeri sekali,
keluar cairan
yang abnormal,
prolaps dari
fibroid.

Biopsi diagnostik akan membedakannya dari


kanker serviks.

2.8. Penatalaksanaan
Tiga jenis utama dari pengobatan untuk kanker serviks adalah operasi, radioterapi,
dan kemoterapi.
a. Stadium pra kanker hingga 1A biasanya diobati dengan histerektomi. Bila
pasien masih ingin memiliki anak, metode LEEP atau cone biopsy dapat
menjadi pilihan.
b. Biopsi Cone. Selama operasi ini, dokter menggunakan scalpel untuk
mengambil selembar jaringan serviks berbentuk cone dimana abnormalitas
ditemukan
c. Loop electrosurgical

excision

procedure

(LEEP).

Teknik

ini

menggunakan lintasan kabel untuk memberikan arus listrik, yang memotong


seperti pisau bedah , dan mengambil sel dari mulut serviks
d. Untuk stadium IB dan IIA kanker serviks: Bila ukuran tumor < 4cm: radikal
histerektomi ataupun radioterapi dengan/tanpa kemoterapi. Bila ukuran

22

tumor >4cm: radioterapi dan kemoterapi berbasis cisplatin, histerektomi,


ataupun kemo berbasis cisplatin dilanjutkan dengan histerektomi

Kanker serviks stadium lanjut (IIB-IVA) dapat diobati dengan radioterapi dan

kemo berbasis cisplatin.


Pada stadium sangat lanjut (IVB), dokter dapat mempertimbangkan kemo
dengan kombinasi obat, misalnya hycamtin dan cisplatin.

Pembedahan untuk Kanker Serviks


Ada beberapa jenis operasi untuk kanker serviks. Beberapa melibatkan pengangkatan
rahim (histerektomi), yang lainnya tidak. Daftar ini mencakup jenis operasi yang
paling umum untuk kanker serviks.
Cryosurgery
Sebuah probe metal yang didinginkan dengan nitrogen cair dimasukkan ke dalam
vagina dan pada leher rahim. Ini membunuh sel-sel abnormal dengan cara
membekukan mereka. Cryosurgery digunakan untuk mengobati kanker serviks yang
hanya ad adi dalam leher rahim (stadium 0), tapi bukan kanker invasif yang telah
menyebar ke luar leher rahim.
Bedah Laser
Sebuah sinar laser digunakan untuk membakar sel-sel atau menghapus sebagian kecil
dari jaringan sel rahim untuk dipelajari. Pembedahan laser hanya digunakan sebagai
pengobatan untuk kanker serviks pra-invasif (stadium 0).
Konisasi
Sepotong jaringan berbentuk kerucut akan diangkat dari leher rahim. Hal ini
dilakukan dengan menggunakan pisau bedah atau laser tau menggunakan kawat tipis
yang dipanaskan oleh listrik (prosedur ini disebut LEEP atau LEETZ). Pendekatan ini
dapat digunakan untuk menemukan atau mengobati kanker serviks tahap awal (0 atau
I). Hal ini jarang digunakan sebagai satu-satunya pengobatan kecuali untuk wanita
dengan kanker serviks stadium dini yang mungkin ingin memiliki anak. Setelah
biopsi, jaringan (berbentuk kerucut) diangkat untuk diperiksa di bawah mikroskop.
Jika batas tepi dari kerucut itu mengandung kanker atau pra-sel kanker, pengobatan

23

lebih lanjut akan diperlukan untuk memastikan bahwa seluruh sel-sel kankernya telah
diangkat.
Histerektomi
Histerektomi sederhana: Rahim diangkat, tetapi tidak mencakup jaringan
yang berada di dekatnya. Baik vagina maupun kelenjar getah bening panggul
tidak diangkat. Rahim dapat diangkat dengan cara operasi di bagian depan
perut (perut) atau melalui vagina. Setelah operasi ini, seorang wanita tidak
bisa menjadi hamil. Histerektomi digunakan untuk mengobati beberapa kanker
serviks stadium awal (I). Hal ini juga digunakan untuk stadium pra-kanker
serviks (o), jika sel-sel kanker ditemukan pada batas tepi konisasi.
Histerektomi radikal dan diseksi kelenjar getah bening panggul: pada
operasi ini, dokter bedah akan mengangkat seluruh rahim, jaringan di
dekatnya, bagian atas vagina yang berbatasan dengan leher rahim, dan
beberapa kelenjar getah bening yang berada di daerah panggul. Operasi ini
paling sering dilakukan melalui pemotongan melalui bagian depan perut dan
kurang sering melalui vagina. Setelah operasi ini, seorang wanita tidak bisa
menjadi hamil. Sebuah histerektomi radikal dan diseksi kelenjar getah bening
panggul adalah pengobatan yang umum digunakan untuk kanker serviks
stadium I, dan lebih jarang juga digunakan pada beberapa kasus stadium II,
terutama pada wanita muda.
Trachelektomi
Sebuah prosedur yang disebut trachelectomy radikal memungkinkan wanita muda
tertentu dengan kanker stadium awal untuk dapat diobati dan masih dapat mempunyai
anak. Metode ini melibatkan pengangkatan serviks dan bagian atas vagina dan
meletakkannya pada jahitan berbentuk seperti kantong yang bertindak sebagai
pembukaan leher rahim di dalam rahim. Kelenjar getah bening di dekatnya juga
diangkat. Operasi ini dilakukan baik melalui vagina ataupun perut.
Ekstenterasi Panggul
Selain mengambil semua organ dan jaringan yang disebutkan di atas, pada jenis
operasi ini: kandung kemih, vagina, dubur, dan sebagian usus besar juga diangkat.

24

Operasi ini digunakan ketika kanker serviks kambuh kembali setelah pengobatan
sebelumnya.
Jika kandung kemih telah diangkat, sebuah cara baru untuk menyimpan dan
membuang air kecil diperlukan. Sepotong usus pendek dapat digunakan untuk
membuat kandung kemih baru. Urine dapat dikosongkan dengan menempatkan
sebuah tabung kecil (disebut kateter) ke dalam lubang kecil di perut tersebut (disebut:
urostomi). Atau urin bisa mengalir ke kantong plastik kecil yang ditempatkan di
bagian depan perut.
Radioterapi untuk Kanker Serviks
Radioterapi adalah pengobatan dengan sinar berenergi tinggi (seperti sinar-X) untuk
membunuh sel-sel kanker ataupun menyusutkan tumornya. Sebelum radioterapi
dilakukan, biasanya Anda akan menjalani pemeriksaan darah untuk mengetahui
apakah Anda menderita Anemia. Penderita kanker serviks yang mengalami
perdarahan pada umumnya menderita Anemia. Untuk itu, transfusi darah mungkin
diperlukan sebelum radioterapi dijalankan.
Pada kanker serviks stadium awal, biasanya dokter akan memberikan radioterapi
(external maupun internal). Kadang radioterapi juga diberikan sesudah pembedahan.
Akhir-akhir ini, dokter seringkali melakukan kombinasi terapi (radioterapi dan
kemoterapi) untuk mengobati kanker serviks yang berada antara stadium IB hingga
IVA. Yaitu, antara lain bila ukuran tumornya lebih besar dari 4 cm atau bila kanker
ditemukan telah menyebar ke jaringan lainnya (di luar serviks), misalnya ke kandung
kemih atau usus besar.
Radioterapi eksternal : berarti sinar X diarahkan ke tubuh Anda (area
panggul) melalui sebuah mesin besar.
Radioterapi internal : berarti suatu bahan radioaktif ditanam ke dalam
rahim/leher rahim Anda selama beberapa waktu untuk membunuh sel-sel
kankernya. Salah satu metode radioterapi internal yang sering digunakan
adalah brachytherapy.
Brachytherapy untuk Kanker Serviks

25

Brachytherapy telah digunakan untuk mengobati kanker serviks sejak awal abad ini.
Pengobatan yang ini cukup sukses untuk mengatasi keganasan di organ kewanitaan.
Baik radium dan cesium telah digunakan sebagai sumber radioaktif untuk
memberikan radiasi internal
Efek Samping Radioterapi Ada beberapa efek samping dari radioterapi, yaitu:
-

Kelelahan
Sakit maag
Sering ke belakang (diare)
Mual
Muntah
Perubahan warna kulit (seperti terbakar)
Kekeringan atau bekas luka pada vagina yang
menyebabkan senggama menyakitkan

Kemoterapi untuk Kanker Serviks


Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker.
Biasanya obat-obatan diberikan melalui infuse ke pembuluh darah atau melalui mulut.
Setelah obat masuk ke aliran darah, mereka menyebar ke seluruh tubuh. Kadangkadang beberapa obat diberikan dalam satu waktu.
Kemoterapi dapat menyebabkan efek samping. Efek samping ini akan tergantung
pada jenis obat yang diberikan, jumlah/dosis yang diberikan, dan berapa lama
pengobatan berlangsung. Efek samping bisa termasuki:
-

Sakit maag dan muntah (dokter bisa memberikan obat

mual/muntah)
Kehilangan nafsu makan
Kerontokan rambut jangka pendek
Sariawan
Meningkatkan
kemungkinan
terjadinya

(kekurangan sel darah putih)


Menopause dini

infeksi

2.9. Komplikasi
1

Pasca operatif
- Gangguan berkemih
- Fistula (lorong atau saluran) ureter atau kandung kemih
26

- Emboli paru
- Obstruksi saluran cerna
- Trauma syaraf
Pasca kemoteraphy
- Sakit maag dan muntah (dokter bisa memberikan obat mual/muntah)
- Kehilangan nafsu makan
- Kerontokan rambut jangka pendek
- Sariawan
- Meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi (kekurangan sel darah
putih)
- Pendarahan atau memar bila terjadi luka (akibat kurang darah)
- Sesak napas (dari rendahnya jumlah sel darah merah)
- Kelelahan
- Menopause dini
- Hilangnya kemampuan menjadi hamil (infertilitas)
Pasca radiotheraphy
- Kelelahan
- Sakit maag
- Sering ke belakang (diare)
- Mual
- Muntah
- Perubahan warna kulit (seperti terbakar)

2.10. Pencegahan

Tidak melakukan kegiatan seksual di usia dini ( < 20 tahun), karena secara
fisik seluruh organ intim dan yang terkait pada wanita baru matang pada usia

21 tahun.
Tidak berganti-ganti pasangan seksual lebih dari satu
Melakukan vaksinasi HPV
Vaksin HPV dapat mencegah infeksi HPV tipe 16 dan 18.

Dan dapat

diberikan mulaidari usia 10-35 tahun, dalam bentuk suntikan sebanyak 3 kali

(1-2-7 bulan).
Bagi wanita yang aktif secara seksual, atau sudah pernah berhubungan
seksual, dianjurkan untuk melakukan tes HPV, Pap Smear, atau tes IVA, untuk
mendeteksi keberadaanHuman Papilloma Virus (HPV), yang merupakan biang

keladi dari tercetusnya penyakit kanker serviks.


Menjaga pola makan seimbang dan bergizi, serta menjalani gaya hidup sehat

(berolahraga).
Sebisa mungkin untuk menghindari fakto resiko yang memudahkan terinfeksi
HPV

2.11. Prognosis

27

Prognosis kanker serviks sangat bergantung pada seberapa dini kasus ini
terdiagnosis dan dilakukan terapi yang adekuat. Terapi yang tidak adekuat baik
berupa tindakan pembedahan maupun radiasi yang oleh alasan tertentu tidak

a.
b.
c.
d.
e.
f.

sesuai dengan jadual akan mengurangi tingkat keberhasilan terapi.


Faktor-faktor yang menentukan prognosis, ialah :
umur penderita,
keadaan umum penderita
tingkat klinis keganasan
ciri-ciri histologik sel tumor
kemampuan ahli atau tim ahli yang menangani
sarana pengobatan yang ada.
Di antara faktor resiko ini yang paling penting ialah invasi KGB. Kelangsungan
hidup penderita dengan invasi KGB walau telah mendapat terapi ajuvan tetap
lebih buruk daripada penderita tanpa invasi KGB.

3. Memahami dan menjelaskan etika pemeriksaan dalam ajaran islam


PANDANGAN ISLAM TERHADAP IKHTILAT
Pembahasan tentang ikhtilat sangat penting untuk menjawab persoalan di atas.Yakni
untuk menjaga kehormatan dan menghindarkan dari perbuatan yang mengarah dosa
dan kekejian.
Yang dimaksud ikhtilat, yaitu berduanya seorang lelaki dengan seorang perempuan di
tempat sepi.Dalam hal ini menyangkut pergaulan antara sesama manusia, yang
rambu-rambunya sangat mendapat perhatian dalam Islam.Yaitu berkait dengan ajaran
Islam yang sangat menjunjung tinggi keselamatan bagi manusia dari segala gangguan.
Terlebih lagi dalam masalah mu'amalah (pergaulan) dengan lain jenis. Dalam Islam,
hubungan antara pria dan wanita telah diatur dengan batasan-batasan, untuk
membentengi gejolak fitnah yang membahayakan dan mengacaukan kehidupan.
Karenanya, Islam telah melarang pergaulan yang dipenuhi dengan ikhtilat (campur
baur antara pria dan wanita).
Dalam hadits di bawah ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah
memperingatkan kaum lelaki untuk lebih berhati-hati dalam masalah wanita.
"Berhati-hatilah kalian dari menjumpai para wanita, maka seorang sahabat dari
Anshar bertanya,"Bagaimana pendapat engkau tentang saudara ipar, wahai

28

Rasulullah? Rasulullah menjawab,"Saudara ipar adalah maut (petaka). [HR Bukhari


dan Muslim].
PERINTAH MENJAGA AURAT DAN MENAHAN PANDANGAN
Di antara keindahan syariat Islam, yaitu ditetapkannya larangan mengumbar aurat dan
perintah untuk menjaga pandangan mata kepada obyek yang tidak diperbolehkan,
lantaran perbuatan itu hanya akan mencelakakan diri dan agamanya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman (yang artinya):
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci
bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangan
mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan
perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka
menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan
mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka,
atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara
mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara
perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki
atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)
atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita . . ." [an-Nr/24: 30-31].
Larangan melihat aurat, tidak hanya untuk yang berlawan jenis, akan tetapi Islam pun
menetapkan larangan melihat aurat sesama jenis, baik antara lelaki dengan lelaki
lainnya, maupun antara sesama wanita.
Disebutkan dalam sebuah hadits:
"Dari Abdir-Rahman bin Abi Sa`id al-Khudri, dari ayahnya, bahwasanya Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Janganlah seorang lelaki melihat kepada aurat
lelaki (yang lain), dan janganlah seorang wanita melihat kepada aurat wanita (yang
lain)". [HR Muslim]
IDEALNYA MUSLIMAH BEROBAT KE DOKTER WANITA

29

Hukum asalnya, apabila ada dokter umum dan dokter spesialis dari kaum Muslimah,
maka

menjadi

kewajiban

kaum

Muslimah

untuk

menjatuhkan

pilihan

kepadanya.Meski hanya sekedar keluhan yang paling ringan, flu batuk pilek sampai
pada keadaan genting, semisal persalinan ataupun jika harus melakukan pembedahan.
Berkaitan dengan masalah itu, Syaikh Bin Bz rahimahullah mengatakan:
Seharusnya para dokter wanita menangani kaum wanita secara khusus, dan dokter
lelaki melayani kaum lelaki secara khusus kecuali dalam keadaan yang sangat
terpaksa. Bagian pelayanan lelaki dan bagian pelayanan wanita masing-masing
disendirikan, agar masyarakat terjauhkan dari fitnah dan ikhtilat yang bisa
mencelakakan.Inilah kewajiban semua orang.
Lajnah D-imah juga menfatwakan, bila seorang wanita mudah menemukan dokter
wanita yang cakap menangani penyakitnya, ia tidak boleh membuka aurat atau
berobat ke seorang dokter lelaki. Kalau tidak memungkinkan maka ia boleh
melakukannya.
Bila memang dalam keadaan darurat dan terpaksa, Islam memang membolehkan
untuk menggunakan cara yang mulanya tidak diperbolehkan.Selama mendatangkan
maslahat, seperti untuk pemeliharaan dan penyelamatan jiwa dan raganya. Seorang
muslimah yang keadaannya benar-benar dalam kondisi terhimpit dan tidak ada
pilihan, (maka) ia boleh pergi ke dokter lelaki, baik karena tidak ada ada seorang
dokter muslimah yang mengetahui penyakitnya maupun memang belum ada yang
ahli.Allah Ta`ala menyebutkan dalam firman-Nya surat al-An'm/6 ayat 119:
"(padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkanNya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya)"
Meskipun dibolehkan dalam kondisi yang betul-betul darurat, tetapi harus mengikuti
rambu-rambu yang wajib untuk ditaati.Tidak berlaku secara mutlak.Keberadaan
mahram adalah keharusan, tidak bisa ditawar-tawar. Sehingga tatkala seorang
muslimah terpaksa harus bertemu dan berobat kepada dokter lelaki, ia harus
didampingi mahram atau suaminya saat pemeriksaan. Tidak berduaan dengan sang
dokter di kamar praktek atau ruang periksa.

30

DAFTAR PUSTAKA

rawiroharjo, S. Hanifa, W. Abdul, B, S. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina

Pustaka Sarwono Prawiro. Jakarta


Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. 2003.Robbins Basic Pathology, 7 th ED.
Saunders Wolfgang A Schulz. 2005. Molecular Biology of Human Cancer.

Springer.
http://almanhaj.or.id/content/2883/slash/0
Andriyono. Kanker serviks. Sinopsis Kanker Ginekologi. Jakarta, 2003:14-28
Campion M. Preinvasive disease. In: Berek Js, Hacker NF. Practical
gynecologic oncology. 3rd Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2000;

271-315
Mardjikoen P. Tumor ganas alat genital. Dalam : Wiknjosastro H, Saifuddin
AB, Rachimhadhi T. Editor. Ilmu Kandungan. Edisi Kedua. Jakarta: Yayasan

Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 1999;380-9


Kusuma F, Moegni EM. Penatalaksanaan Tes Pap Abnormal. Cermin Dunia

Kedokteran 2001; 133:19-22


Sjamsuddin S. Pencegahan dan deteksi dini kanker serviks. Cermin Dunia

Kedokteran 2001;133:9-14
Harahap RE. Neoplasia intraepithelial serviks (NIS). Jakarta: UI Press,

1984:1-77
Wright TC, Kurman RJ, Ferenzy A. Precancerous lesions of the cervix. In:
Kurman RJ. Ed. Blausteins pathology of the female genital tract. 4 th ed. New

York: Springer-Verlag, 1994;229-277


Jong WD, Syamsuhidayat R. 2002. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 2. EGC.

Jakarta
Zuhroni. 2010. Pandangan Islam terhadap Masalah Kedokteran dan
Kesehatan. Universitas YARSI. Jakarta
31

Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kandungan. PT. Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo. Jakarta

32