Anda di halaman 1dari 12

C.

1 Umum
Pembangunan ekonomi daerah adalah proses dimana pemerintah daerah
dan

masyarakat

mengelola

sumberdaya-sumberdaya

yang

ada

dan

membentuk suatu pola kemitraan antara pemeritah daerah dengan sektor


swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang
perkembangan kegiatan ekonomi dalam wilayah tersebut.
Masalah

pokok

dalam

pembangunan

daerah

adalah

terletak

pada

penekanan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan


pada kekhasan daerah yang bersangkutan (endogenous development)
dengan menggunakan potensi sumberdaya manusia, kelembagaan dan
sumberdaya fisik secara lokal (daerah).

Orientasi ini mengarahkan kita

kepada pengambilan inisiatif-inisiatif yang berasal dari daerah. Orientasi


ini mengarahkan kita kepada pengambilan inisiatif-inisiatif yang berasal
dari daerah tersebut dalam proses pembangunan untuk menciptakan
kesempatan kerja baru dan merangsang peningkatan kegiatan ekonomi.
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses yaitu suatu proses
yang

mencakup

pembentukan

industri-industri alternatif,

institusi-institusi

baru,

pembangunan

perbaikan kapasitas tenaga kerja yang ada

untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasarpasar baru, alih ilmu pengetahuan, dan pengembangan industri-industri
baru.
Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama
untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat
daerah.

Dalam upaya untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah

daerah dan masyarakatnya harus secara bersama-sama mengambil


1

inisiatif pembangunan daerah.

Oleh karena itu, pemerintah daerah

beserta partisipasi masyarakatnya dengan menggunakan sumberdaya


yang ada harus mampu menaksir potensi sumberdaya-sumberdaya yang
diperlukan untuk merancang dan membangun perekonomian daerah.
Pada prinsipnya Otonomi Daerah (UU No. 32 tahun 2004), pembangunan
daerah harus memperhatikan adanya keanekaragaman masyarakat dan
daerah, dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat di daerah
untuk mengatur diri sendiri dan melaksanakan pembangunan yang sesuai
dengan

kekhasan

masing-masing

daerah

baik

dilihat

dari

kondisi

geografis, sumberdaya alam, historis, sosial dan budaya.


Seperti juga unit ekonomi lainnya, kontribusi industri pariwisata pada
kegiatan ekonomi daerah atau PDRB muncul dari sisi output dan input.
Dari sisi output peran industri pariwisata akan tinggi bila ia mampu
menghasilkan nilai tambah dengan biaya produksi yang optimal. Dari sisi
input, perannya pada kegiatan ekonomi juga cukup tinggi karena
kemampuannya dalam memperluas kesempatan kerja dan penggunaan
input antara, baik yang dihasilkan dari dalam negeri maupun impor.
Peningkatan kuantitas dan kualitas industri pariwisata akan berpengaruh
secara langsung dalam pembentukan PDRB suatu daerah.

Dengan

perkataan lain, semakin baik kuantitas dan kualitas industri pariwisata di


suatu daerah, maka semakin tinggi pula tingkat perkembangan PDRB
daerah tersebut.
Pengembangan usaha kepariwisataan merupakan satu komponen yang
penting dari pembangunan ekonomi daerah. Sehubungan dengan upaya
pengembangan usaha industri kepariwisataan, hendaknya pemerintah
daerah dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi pembangunan dan
pengembangan industri pariwisata.
Sering terjadi para pembuat kebijakan menilai rendah pariwisata karena
mereka tidak memiliki informasi yang cukup mengenai kepariwisataan.
Hal ini terutama dikarenakan pariwisata itu adalah suatu industri jasa

yang berbeda dengan pertanian atau industri manufaktur atau konstruksi,


karena itu diperlukan rumusan-rumusan yang khusus dalam memahami
pariwisata sebagai suatu kumpulan aktifitas ekonomi.
Pembangunan pariwisata merupakan bagian dari pembangunan wilayah,
sebab pariwisata sangat tergantung pada banyak sektor lain yang
menunjang pariwisata.

Dengan kata lain keberhasilan sektor pariwisata

akan mempengaruhi pembangunan sektor terkait.


Pembangunan pariwisata akan dapat berkembang dengan pesat, tidak
lepas dari faktor internal dan eksternal. Bahkan faktor global juga sangat
mempengaruhinya.

Kedatangan

wisatawan

mancanegara

destinasi wisata tidak terlepas dari faktor global ini.

ke

suatu

Adapun faktor

internal kepariwisataan setempat ditentukan oleh sistem manajemen


pengembangan pariwisata yang dilaksanakan di suatu daerah. Sementara
faktor eksternal banyak ditentukan oleh perubahan paradigma yang terjadi
dalam pembangunan pada skala nasional, wilayah dan Kota..
Pariwisata dikembangkan di suatu daerah dengan alasan, namun biasanya
yang menjadi alasan utama adalah untuk menghasilkan manfaat ekonomi,
masuknya devisa bagi suatu daerah atau kota, peningkatan pendapatan
masyarakat dan pemerintah.

Pariwisata juga dapat mendorong proses

perlindungan terhadap suatu lingkungan fisik maupun sosial budaya dari


masyarakat setempat, karena hal tersebut merupakan aset yang dapat
dijual

kepada

wisatawan

dan

jika

ingin

berlanjut

maka

harus

dipertahankan.
Pariwisata selain dapat menghasilkan manfaat bagi daerah, juga dapat
menimbulkan permasalahan, seperti : distorsi terhadap masyarakat lokal,
degradasi

lingkungan,

hilangnya

identitas

dan

integritas

bangsa,

kesalahpahaman dan lain sebagainya.


Kota Makassar sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Selatan merupaka pintu
gerbang pariwisata khususnya sulawesi dan indonesia bagiaan timur,
bertekad mengembangkan sektor pariwisata sebagai sektor unggulan

daerah,

mengingat

karakteristik

geografis

wilayah

dan

budaya

masyarakatnya merupakan Daerah Tujuan Wisata (DTW) nasional. Hal ini


cukup beralasan mengingat obyek-obyek wisata alam dan budaya di
wilayah Kota Makassar memiliki keunikan tersendiri, sehingga menarik
untuk dikunjungi wisatawan lokal, domestik, dan mancanegara.
Agar komitmen mengembangkan sektor pariwsata di Kota Makassar tetap
konsisten

di

berkelanjutan

laksanakan
setiap

melalui

tahunnya

program-program

melalui

variasi

nyata

sumber

secara

pembiayaan

pembangunan, baik APBN, APBD Provinsi dan APBD Daerah, maka


diperlukan sebuah produk kebijaksanaan pengembangan pariwisata yang
menjadi induk pengembangan detail sektor pariwisata di Kota Makassar
dalam bentuk Masterplan Pariwisata Kota Makassar.
C.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dan

tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menyiapkan suatu

pedoman teknis yang kemudian dapat dipergunakan sebagai bahan


pelaksanaan

dan pengembangan di bidang

kepariwisataan, dengan

tujuan pokok adalah untuk menyediakan rancangan


tentang

rencana

pengemabnagan

pariwisata

peraturan daerah

unutuk

selanjutnya

dimatangkan oleh pemerintah daerah setempat menjadi peraturan yang


disyahkan dan diberlakukan pada kawasan tersebut.
Kegiatan

penyusunan

Master

Plan

Pariwisata

Kota

Makassar

ini

dimaksudkan untuk dapat menemukan dan mewujudkan suatu kawasan


wisata yang menarik

dan mempunyai ciri tersendiri sehingga para

pengunjung yang datang khususnya para wisatawan mancanegara akan


lebih mempopulerkan kawasan ini setelah mereka tiba kembali ke daerah
asalnya.
Studi awal ini adalah tonggak mengacu studi-studi selanjutnya untuk
menggali, mengolah dan mengembangkan obyek-obyek pariwisata Kota
Makassar secara menyeluruh.
C.3 Manfaat dan Sasaran
a. Manfaat
4

Manfaat dari Kegiatan Penyusunan Rencana Induk Pengembangan


Pariwisata Kota Makassar ini adalah untuk dapat menciptakan suatu
kawasan yang terencana dan teratur untuk dapat dijadikan sebagai
bahan acuan atau standar dalam pengendallian dan pengembangan
khususnya pengembangan dibidang kepariwisataan.
b. Sasaran
Adapun sasaran dari pada studi kegiatan

penyusunan RencanaInduk

Pengembangan Pariwisata Kota Makassar adalah sebagai berikut :


o

Meningkatkan daya guna intensitas lingkungan kawasan dari


potensi yang dimiliki.

Mendorong

vitalisasi

fungsi

kawasan

yang

efisien

dalam

menampung semua aktivitas masyarakat.


o

Meningkatkan intensitas pengunjung yang secara langsung dapat


meningkatkan penghasilan dan menambah lapangan kerja.

Mengoptimalkan danmemanfaatkan setiap ruang yang ada.

C.4 Ruang Lingkup Pekerjaan


A.

Melakukan Kajian pada Lingkup Internasional


Kajian ini terarah pada sisi permintaan (demand side) Pariwisata
berupa perwatakan pasar pariwisata Internaqsional dan pada 2
unsur produk pariwisata (tourism product) sisi sedian ( supplay
side) pariwisata, yakni sistem perhubungan dan koridor wisata.
Kajian atas pasar pariwisata bertujuan untuk menelaah keadaan
wisatawan

dunia

peregerakan

baik

antara

dari

segi

negara,

pola

besarnya
kedatangan

bangkitan
ke

pola

Indonesia,

perwatakan wisatawan dan sebagainya.


Kajian atas sistem perhubungan
bertujuan

untuk

mengetahui

pada lingkup internasional

kota-kota

dunia

yang

berfungsi

sebagai hubungan yang terkait dengan Internasional gateaway di


Indonesia yang terdekat dengan kota Makassar. Kajian atas koridor
wisata skala Internasional bertujuan untuk melihat posisi Indonesia
dan kota Makassar dalam pola koridor wisata yang

berskala

internasional, dengan demikian kajian lingkup Internasional ini

bertujuan untuk melihat peluang Kota Makassar dalam menggapai


wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara.
B.

Melakukan Kajian pada Lingkup Nasional


Dalam

kajian

Lingkup

Nasional

ini

baik

faktor

pengaruhnya

maupun faktor kepariwisatawan akan ditelaah melalui 2 (dua )


komponen sebagai berikut :
1. Kajian terhadap faktor yang berpengaruh hanya ditujukan pada
kebijakan pembangunan pemerintah yang ditentukan pada
tingkat pusat, namun dapat berpengaruh pada kota Makassar.
2. Kajian Faktor Kepariwisataan yang diarahkan baik pada sisi
permintaan pariwisata maupun sisi sediaan pariwisata.
Sisi sediaan pariwisata diarahkan hanya pada produk pariwisata
yang diarahkan pada :
-

Sistem perhubungan Nasional dengan melihat pola jaringan


perhubungan laut dan udara

Koridor wisata pada lingkup nasional, yaitu berupa :

Koridor wisata antar Propinsi

Koridor wisata antar kota-kota yang berfungsi sebagai


Internasional gateaway untuk wisatawan mancanegara.

C.

Kedudukan Kota Makassar dalam koridor tersebut.

Melakukan Kajian Pada Lingkup DTW Sulawesi Selatan.


Hal-hal yang dikaji pada komponen Kajian atas faktor berpengaruh
hanya ditujukan pada kbijaksanaan pembangunan pemerintah yang
ditentukan pada tingkat propinsi, namun mempengaruhi Kota
Makassar. Hal yang akan dikaji antara lain adalah :
a. Kebijaksanaan

pembangunan

Nasional

yang

ditentukan

pemerintah propinsi yang mempengaruhi pengembangan kota


Makassar secara keseluruhan.
b. Kebijaksanaan
pemerintah

Pembangunan

propinsi

yang

sektoral

yang

mempengaruhi

ditentukan

pengembangan

berbagai sektor di Kota Makassar khususnya sektor Pariwisata.

c. Studi-studi yang dilakukan pemerintah propinsi untuk Kota


Makassar.
D. Melakukan Kajian pada Lingkup Kota Makassar
Kajian pengembangan pariwisata Kota Makassar diarahkan pada
faktor berpengaruh dan faktor kepariwisataan, hal ini yang dikaji
pada kedua komponen tersebut antara lain sebagai berikut :
1. Kajian ini berpengaruh pada tingkat kota, diarahkan pada
berbagai hal diluar kepariwisataan, namun mempengaruhi
pengembangan pariwisata. Kajian ini dirinci sebagai berikut :

Wilayah Asdministrasi dan Instansi Pemerintah

Letak Geografis

Fisik dasar

Sejarah Wilayah

Kependudukan, sosial dan budaya

Perekonomian

Pola penggunaan Lahan

Kualitas Lingkungan hidup

2. Unsur Faktor Kepariwisataan, kajian dirinci sebagai berikut :


a.

kajian unsur sisi permintaan pariwisata, diarahkan pada


pasar pariwisata kabupaten, yakni wisatawan mancanegara
dan nusantara.

b.

Untuk

segi

sediaan

pariwisata,

kajian

cakupan

diarahkan pada produk pariwisata. Komponen ini dirinci


sebagai berikut :

ODTW

Sarana pariwisata

Jasa pariwisata

Prasarana Lingkungan

Sistem perhubungan

Koridor wisata antar Kecamatan

E.

Merumuskan Kebijaksanaan Pengembangan Pariwisata Kota


Makassar.
Komponen Kebijaksanaan pengembangan Kota Pariwisata adalah
sebagai berikut :
o

Tujuan jangka panjang pengembangan pariwisata

Kebijaksanaan terhadap faktor yang berpengaruh

Kebijaksanaan faktor kepariwiwataan

Masing-masing komponen diatas lebih lanjut harus dieinci sebagai


berikut :
A. Tujuan yang ingin dicapai :
Peranan

kepariwisataan

dalam

peningkatan

kualitas budaya
Peranan kepariwisataan dalam pelestarian seni

budaya

Peranan Kepariwisataan dalam pelestarian nialainilai luhur budaya Kota makassar

Peranan pariwisata dalam memperkenalkan budaya


kota Makassar

Peranan

pariwisata

dalam

menjembatani

persahabatan antara suku, bangsa dan negara.

Peranan kepariwisataan dalam menumbuhkan dan


meningkatkan persatuan dan kesatuan

Peranan kepariwisataan sebagai peningkatan mutu


tenaga kerja

B. Kedudukan Sektor Paqriwisatameliputi :

Kedudukan sebagai penghasil devisa

Kedudukan sebagai pewncipta lapangan kerja

Peranan sebagai peningkat pendapatan daerah

Peranan sebagai pemerata pendapatan

Peranan sebagai pemerata kesempatan usaha

C. Peranan yang diharapkan dapat dicapai dari pengembangan


pariwisata dalam lingkup pelestarian dan kelestarian lingkungan
hidup.
8

F. Merumuskan Rencana Pengembangan Pariwisata


Rencana

pengembangan

pendalaman

dari

pengembangan
pengembanagan

pada

strategi
hanya

hakekatnya

merupakan

pengembangan,
dituangkan

Dalam

suatu
strategi

langkah-langkah

secara garis besar, maka pada rencana besaran

pada langkah-langkah tersebut sudah lebih jelas selaras dengan


rumusan Kebijaksanaan. Adapun struktur rumusan rencana adalah
sebagai berikut :
a. Rencana sisi permintaan pariwisata
b. Rencana pengembangan sisi sediaan pariwisata meliputi :
-

Rencana pengembangan produk pariwisata

Rencana Pengembangan dan Pengelolaan serta kelembagaan


pariwisata

Rencana Pengembangan SDM Pariwisata

Rencana Pengembangan pemasaran Pariwisata.

C.5 Pendekatan Perencanaan


Penyusunan Masterplan Pariwisata Kota Makassar dilakukan dengan
pendekatan

terhadap

potensi

dan

kendala pengembangan, sebagai

berikut:
a. Lingkungan fisik dan sosial budaya untuk memaksimalkan dampak
yang mungkin ditimbulkan dan untuk adaptasi terhadap alam dan
lingkungan masyarakat setempat.
b. Hubungan berkesinambungan dengan berbagai produk perencanaan
lain yang bersifat makro maupun mikro yang disesuaikan dengan
perencanaan kepariwisataan.
c. Posisi Kota Makassar yang merupakan ibukota Provinsi Sulawesi
Selatan, maka peluang pengembangan sektor pariwisata terbuka lebar
di Kota Makassar.
d. Kota Makassar mempunyai berbagai atraksi wisata yang menarik dan
unik, sebut saja berbagai panorama alam yang indah dan kekayaan
khasanah budaya.

e. Faktor

aksesibilitas

untuk

menjangkau

DTW

sangat

memegang

peranan dalam mengembangkan suatu DTW, sehingga faktor-faktor


yang mempengaruhi aksesibilitas harus diperbaiki dan ditingkatkan.
C.6 Komponen Dasar Perencanaan DTW
Kota Makassar sebagai daerah tujuan wisata (DTW) dan merupakan
koridor utama bagi suatu perjalanan wisata, pada hakekatnya mempunyai
potensi untuk berkembang. Dalam pengembangan suatu daerah tujuan
wisata

(DTW),

terdapat

(lima)

komponen

dasar

yang

harus

diperhatikan, yakni sebagai berikut :


1.

Gateway, atau pintu gerbang, jumlahnya satu atau lebih, yang


dapat menciptakan akses dari dan ke DTW.

2.

Tourist Center, atau pusat pengembangan pariwisata (PPP), yang


dapat

merupakan

satu

atau

beberapa

kawasan

Kabupaten. PPP merupakan pusat pelayanan

dalam

suatu

dan informasi terhadap

obyek-obyek wisata yang ada dalam DTW.


3.

Attraction (atraksi), yang berkelompok satu atau lebih, yang


merupakan obyek-obyek wisata yang tersebar dalam suatu DTW.

4.

Tourist Corridor, jalan yang menghubungkan antara pintu gerbang


dengan PPP, dan obyek-obyek wisata yang ada.

5.

Hinterland, atau daerah yang terdapat diluar obyek wisata, yang


dapat berfungsi sebagai obyek pendukung terhadap obyek utama.

Kelima komponen DTW yang telah disebutkan, harus saling terkait antara
satu dengan yang lainnya dalam suatu daerah tujuan wisata (DTW) yang
akan direncanakan.
C.7 Pengertian dan Istilah
Bagian

ini

dimaksudkan

untuk

memberikan

kejelasan

makna

dari

penulisan ini, sehingga mudah dimengerti. Adapun pengertian dan istilah


yang biasa disebut dalam pariwisata, sebagai berikut :
a. Wisatawan adalah seseorang yang memiliki banyak waktu luang yang
bersifat sementara, yang sengaja mengunjungi suatu tempat yang
jauh dari rumahnya, dengan tujuan untuk mencari pengalaman (Host
and Guest, 1989).

10

b. Wisatawan

domestik

tempat/destinasi

di

adalah

mereka

negara

tempat

yang

mengunjungi

tinggalnya

untuk

suatu

sekurang-

kurangnya 24 jam dan tidak lebih dari 1 tahun untuk tujuan rekreasi,
olah raga, bisnis, pertemuan, konversi, keluarga, belajar, berobat atau
misi keagamaan dan sosial lainnya (defenisi WTO)
c. Pengunjung obyek adalah seseorang atau kelompok yang berkunjung ke
suatu obyek wisata dengan tujuan rekreasi dan atau mempelajari
segala sesuatu tentang obyek yang dikunjungi (UU nomor 9 tahun
1990 tentang Pariwisata)
d. Pariwisata adalah keseluruhan rangkaian kegiatan yang berhubungan
dengan

gerakan

persinggahan

manusia

sementara

yang

dari

melakukan

tempat

perjalanan

tinggalnya

ke

suatu

atau
atau

beberapa tempat tujuan di luar lingkungan tempat tinggalnya yang


didorong oleh beberapa keperluan atau motif tanpa bermaksud
mencari nafkah.
e. Obyek wisata dan daya tarik wisata adalah perwujudan daripada ciptaan
manusia, tata hidup, seni budaya serta sejarah bangsa dan tempat
atau keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk dikunjungi
wisatawan (UU No. 9 tahun 1990 tentang Pariwisata)
f. Atraksi wisata adalah segala perwujudan dan sajian alam dan atau
kebudayaan, yang secara nyata dapat dikunjungi, disaksikan dan
dinikmati wisatawan di suatu kawasan wisata atau di daerah tujuan
wisata
g. Daerah Tujuan Wisata (DTW) adalah daerah yang ditetapkan sebagai
DTW dengan memenuhi kriteria: (i) tersedianya obyek wisata yang
telah siap dikembankan, (ii) tersedianya prasarana transportasi yang
mendukung

aksesibilitas,

(iii)

tersedianya

sarana

pariwisata

(akomodasi, restoran, dll), (iv) kesiapan masyarakat untuk menerima


kunjungan wisatawan, dan (v) memiliki perangkat peraturan (Perda)
untuk mengatur usaha pariwisata dan obyek
h. Paket wisata adalah sebuah perjalanan lengkap yang termasuk berbagai
elemen seperti transportasi, akomodasi, makanan, bertamasya, yang
dijual/ditawarkan dalam kesatuan paket harga (Ditjen Pariwisata).

11

i. Kawasan wisata adalah kawasan dengan luas tertentu yang dibangun


atau disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata menjadi
sasaran pariwisata.
j. Ekowisata adalah perjalanan ke suatu tempat yang relatif masih
asli/belum tercemar, dengan tujuan untuk mempelajari, mengagumi,
menikmati

pemandangan,

tumbuhan,

dan

binatang

liar,

serta

perwujudan budaya yang ada/pernah ada di tempat tersebut.


k. Agrowisata adalah merupakan perjalanan untuk meresapi kegiatan
pertanian, perkebunan, peternakan, dan kehutanan. Jenis wisata ini
bertujuan

untuk

mengajak

wisatawan

untuk

ikut

memikirkan

sumberdaya alam dan kelestariannya.

12