Anda di halaman 1dari 28

Manajemen Sains

MANAJEMEN SAINS (Disebut juga TRO/Teknik Riset Operasional).

Operasi: Tindakan-tindakan yang diterapkan pada beberapa masalah atau hipotesis.


Riset : Suatu proses yang terorganisir dalam mencari kebenaran akan masalah atau
hipotesis tadi.
Definisi Lengkap: Penerapan metode-metode ilmiah terhadapmasalahmasalah rumit yang muncul dalam pengarahan dan pengelolaan suatu
sistembesar manusia, mesin, bahan dan uang dalam industri, bisnis,
pemerintahan danpertahanan. RO menggunakan model ilmiah dari sustu
sistem, menggabungkanukuran-ukuran faktor-faktor seperti kesempatan dan
resiko untuk meramalkan danmembandingkan hasil-hasil dari bebrapa
keputusan, strategi atau pengawasan. (Operatinal Research Society of Great
Britain)..

Sejarah Manajemen Sains


Istilah Riset Operasi(RO) / Operational Reserach pertamakali digunakan pada tahun 1940
oleh Mc.Closky dan Trefthen di suatu kotakecil Bowdsey Inggris yaitu padamasa awal perang
1939, pemimpin militer Inggris memanggil sekelompok ahli sipildari berbagai disiplin dan
mengkoordinasikan mereka ke dalam suatu kelompok yangdiserahi tugas mencari cara yang
efisien untuk menggunakan alat yang baruditemukan (RADAR) untuk suatu sistem peringatan
dini.
Pengertian Model : Suatu abstraksi atau penyederhanaan dari suatu realitas sistem yang
kompleks dimana hanya komponen-komponen yang relevan atau faktor-faktor yang dominan dari
masalah-masalah yang dianalisis diikutsertakan.Model menunjukkan hubungan (langsung atau
tidak langsung) dari aksi dan reaksidalam pengertian sebab dan akibat. Model akan tampak
kurang kompleks dibandingkenyataannya hal ini disebabkan karena penyederhanaan tadi. Dalam
pembentukan modelperlu diperhatikan : Variabel, Hubungan, dan Teknik-teknik kuantitatif
sepertiStatistik, Simulasi, dll. Model dapat diklasifikasikandalam banyak cara, misalnya

berdasakan jenis, dimensi, fungsi, tujuan, subjek,atau derajad abstarksinya. Yang palingsederhana
adalah berdasarkan jenis: Iconic (physical), analogue(diagramatic),dan symbolic (mathematical).
Iconic : suatu penyajian fisik yang tampak seperti aslinyadari suatu sistem nyata dengan
skala berbeda bisa scale up atau scale down.Contoh: mainan anak-anak, peta, potret,
histogram,maket, struktur sel.

Analogue : lebih abstrak dibanding iconic karena tidak kelihatan sama antara
modeldengan sistem nyata. Contohnya jaringan pipa tempat air mengalir dapatdigunakan dengan
pengertian yang sama dengan pendistribusian aliran listrik.Warna-warna pada peta. Mathematic :
adalah model paling abstrak. Menggunakan seperangkat simbol matematik untukmenunjukkan
komponen-komponen (dan hubungan antar mereka dari sistem nyata). Tidak semua sistem nyata
selalu dapat diekspresikan dalam rumusanmatematik.
Model ini dibagi dua: Deterministik dan probabilistik.
Ada beberapa cara penyederhanaan dalam membuat model

Melinierkan hubungan
Mengurangi banyaknya variabel/kendala
Mengubah variable dari diskrit ke kontinu
Mengganti tujuan yang kompleks menjadi tunggal
Mengeluarkan unsur dinamik menjadi statik
Mengasumsikan variabel random menjadi tunggal

Pembentukan model adalah hal paling esensial dalam RO Philips, Ravindran, dan
Solberg (1976)memberikan sepuluh prinsip dalam membentuk model: - Jangan membuat model
yang rumit jika yang sederhana cukup - Perumusan masalah hendaknnya disesuaikan dengan
teknik penyelesaian - Dalam memecahkan model hendaknya jangan melakukan kesalahan
matematik - Pastikan kecocokan model sebelum diputuskan untuk diterapkan - Model tidak boleh
keliru dengan sistem nyata - Jangan membuat model yang tidak diharapkan - Hati-hati dengan
model yang terlalu banyak - Pembentukan model hendaknya dapat memberikan beberapa
keuntungan - GIGO Garbage In Garbage Out suatu model tidak lebih baik dari pada datanya
- Model tidak dapat menggantikan pengambil keputusan.

Manajemen sains
Management Sains adalah suatu ilmu
menggunakan aplikasi matematika dalampenyelesain masalah
dihadapi seorang
manager

yang
yang
yang

dijelaskan sebagai filosofi danlogika untuk melakukan pemecahan masal


ah tersebut.
Tujuan utama dari
management
sains adalah untuk menyelesaikan masalah-masalah
yang
dihadapi oleh seorang menager baik yang bergerak dalam sektor
publik maupun swasta dalam
proses
pengambilan keputusan dengan cara pendekatan
model-model
matimatika.
Management
sains dapat dipergunakan pada berbagai organisasi untuk memecahkan
berbagai macam masalah
yang
meliputi logika dalam pemecahan masalah. Pendekatansecara logis,
konsisten,
dan sistematis terhadap pemecahan masalah sangat berguna danberha
rga sama dengan pengetahuan tentang teknik matematika itu sendiri.
Akan
tetapi
management
sains dalam perkuliahan saat ini menggunakan perangkat lunak seperti
Microsoft
Excel
,
QM
for
windows sehingga tidak terlalu rumit untuk menyelesaikannya denganm
enggunakan metode matematika biasa.
Sebagian
orang
juga merasa kalau matematika itumenakutkan, namun matematika dala
m manajemen sains tidaklah seperti matematika padaumumnya karena
pendekatannya menggunakan perangkat lunak.
Sesuai pengertian sebelumnya,
sains
management
meliputi pendekatan sistematis dan logisdalam memecahakan masalah
atau merupakan metode ilmiah untuk memecahkan masalah.Pendekata
n ini harus mengikuti langkah-langkah teratur
yang
telah diterima secara umum:
1. Pengamatan (Observasi)
2. Defenisimasalah
3. Perumusan model
4. Pemecahan model
5. Pelaksanaan (implementasi) hasil pemecahan model.
Untuk memudahkan kita memahami maksud dari langkah-langkah diata
s kita bisa
langsung saja kepada management itu sendiri. Kali
ini saya mencoba membahas bab
transportasi,
pengapalan,
dan penugasan.
Peryataanmasalah
Suatu perusahaan beton memindahkan beton dari tiga pabrik menuju ke
tiga lokasi konstruksi.
Kapasitas penawaran dari tiga pabrik, permintaan dari tiga lokasi,
dan biaya transportasi per ton adalah sebagai berikut:
Pabrik
LokasiKonstruksi
Penawaran (ton)

1
2
3
Permintaan(ton)

A
$8
15
3
150

B
5
10
9
70

C
6
12
10
60

$120
80
80

Formulasi model program linear


Minimalkan
Z= 8X1a+5X1b+6X1c+15X2a+10X2b+12X2c+3X3a+9X3b+10X3c
Batasan
X1a+X1b+ X1c = 120
X2a+X2b+X2c = 80
X3a+X3b+ X3c= 80
X1a+X2a+X3a<= 150
X1b+X2b+X3b<= 70
X1c+X2c + X3c<=100
Xij= 0
Kita menggunakan Excel untuk pemecahan masalah:
Setelah kita solve dan melihat hasilnya (hasilnya yang
terletak didalam lingkaran merah) kitadapat menentukan berapa yang
harusdikirimdanditerimaberdasarkan table tersebut.
Demikianlah implementasi management sains agar
para menager dapat mengambil keputusandalam menyelesaiakan masa
lah.

MANAJEMEN SAINS, SUATU


PENDEKATAN ILMIAH

Suatu organisasi atau instansi perusahaan


merupakan wadah tempat berkumpulnya beberapa orang untuk bekerjasama di bawah

pimpinan manajer organisasi dalam rangka mencapai tujuan bersama (organisasi).


Organisasi mengubah masukan yang terdiri dari man, money, material,
dan machine untuk mencapai keluaran terbaik yang bisa berupa suatu produk atau jasa
untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Dibutuhkan manajemen sains
untuk membuat kolaborasi masukan tersebut agar mendapatkan keluaran yang
maksimum.
Pada pelaksanaannya seorang manajer dihadapkan pada berbagai batasan-batasan atau
kendala lapangan seperti persediaan bahan baku, tenaga terampil yang terbatas, biaya
yang seadanya, masalah dengan transportasi, tempat penyimpanan stok yang terbatas
dan banyak lagi kendala lainnya. Ini adalah permasalahan yang biasa terjadi dalam suatu
organisasi, solusi yang diharapkan adalah bagaimana permasalahan tersebut dengan
segala keterbatasannya bisa diselesaikan dengan keluaran yang seoptimal mungkin.
Disinilah manajemen sains berperan yaitu dengan menerapkan pendekatan ilmiah untuk
memecahkan masalah-masalah manajemen diatas dalam rangka membantu manajer
mengambil keputusan yang paling tepat. Secara ringkas manajemen sains
melakukan pendekatan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Melakukan pengamatan atau observasi

Mendefinisikan masalah-masalah yang ada

Membuat pemodelan pada masalah-masalah yang telah didefinisikan

Menentukan solusi model

Melaksanakan pemecahan model

Langkah-langkah Manajemen Sains:


1. Melakukan Observasi: Mengenali dan mempelajari masalah-masalah yang dialami
organisasi atau perusahaan agar masalah tersebut dapat dikenali dan bisa
diantisipasi sebelumnya.
2. Mendefinisikan Masalah: Masalah harus dapat didefinisikan dan dijabarkan
dengan singkat, tepat dan jelas. Visi dan misi perusahaan akan sangat membantu
dalam mengetahui masalah yang sedang terjadi.
3. Membuat Pemodelan: Suatu pemodelan secara manajemen sains yang tepat
harus dibuat yang merupakan penyajian ringkas untuk menggambarkan masalah
yang sedang dihadapi.

4. Menentukan Solusi: pemecahan masalah bisa dilakukan dengan program linear


(metoda grafis, simpleks, transportasi, penugasan dan lain-lain), stokastik,,
probabilitas dan teknik jaringan lainnya (simulasi, peramalan, persediaan, analisis
hierarki dan lain-lainnya.)
5. Melakukan perhitungan untuk mendapatkan solusi.
Your ads will be inserted here by

Easy Ads.

Please go to the plugin admin page to set up your ad code.

Ada kalanya satu model manajemen sains tidak memungkinkan mendapatkan solusi
optimal, maka harus digunakan pemodelan yang lainnya agar benar-benar mendapatkan
hasil yang optimal.

Manajemen Sains
Pada prinsipnya suatu organisasi/perusahaan merupakan wadah sebagai tempat untuk bekerja sama
di bawah pimpinan (manager) organisasi tersebut dalam rangka mencapai tujuan (objectives)
organisasi/perusahaan.
Organisasi mengubah input (Man, money, material, machine) untuk mencapai output terbaik (the best
output) yang bisa berupa produksi barang/jasa untuk mendapatkan profit (maximum revenue/profit).
Pada prakteknya pimpinan perusahaan dihadapkan pada kenyataan adanya pembatasanpembatasan (limitation) seperti persediaan bahan baku, tenaga yang terampil terbatas, biaya yang
terbatas, alat transport, gudang penyimpanan yang terbatas, dsb. Permasalahan yang timbul adalah
bagaimana caranya dengan keadaan input yang serba terbatas ini dicapai output yang seoptimal
mungkin.
Sains manajemen adalah penerapan ilmiah yang menggunakan pendekatan ilmiah untuk
memecahkan masalah manajemen; dalam rangka membantu manajer untuk mengambil keputusan
yang baik.
Sains manajemen meliputi pendekatan logika pada pemecahan masalah (secara ilmiah dan sesuai
logika.
Langkah-langkah sains manajemen :
- Pengamatan atau Observasi
- Definisi masalah
- Pembuatan model
- Cara Pemecahan model
- Pelaksanaan hasil pemecahan
Yang dimaksud dengan langkah-langkah Sains Manajemen tersebut diatas adalah :
1. Observasi
Mengenali dan mempelajari masalah-masalah yang terdapat dalam organisasi/sistem agar masalah

dapat diketahui pada saat terjadi atau bisa diantisipasi sebelumnya.


2. Definisi Masalah
Masalah harus dapat dijabarkan dengan singkat dan jelas. Tujuan perusahaan yang telah dirumuskan
akan membantu mengetahui masalah sebenarnya
3. Pembuatan Model
Suatu model sains manajemen merupakan penyajian yang ringkas dari situasi masalah yang sedang
berjalan.
4. Solusi
Program linear matematika (Metoda grafis, simpleks, transportasi, penugasan, dsb), Teknik
Probabilistik, Teknik Jaringan Teknik Lain (Simulasi, peramalan, persediaan,analisis hierarki, dsb)
5. Pelaksanaan
Tahapan dalam penerapan Manajemen sains:
1. Merumuskan atau menganalisis persoalan sehingga jelas tujuan yang akan dicapai (objectives)
2. Pembentukan Model matematika untuk mencerminkan persoalan yang akan dipecahkan. Model
untuk menggambarkan hubungan antara input dan output serta tujuan yang akan dicapai dalam
bentuk objective function.
3. Mencari pemecahan dari model yang telah dibuat dalam tahap sebelumnya, misalnya dengan
menggunakan simpleks.
4. Menguji model dan hasil pemecahan dari penggunaan model (validasi).

Manajemen Sains
Gung Eka 1:56 AM with 0

Pengertian

Manajemen sains adalah cabang dari teknik yang disertakan dalam pembelajaran,
bagaimana untuk melukiskan, menilai, mendesain, mengubah, mengontrol dan
termasuk pelaksanaan dari system-sistem yang tergabung dari manusia, materialmaterial, dan teknologi, dilihat dari waktu ke waktu dan dengan keadaan yang
relavan

Pekerjaan Kedepannya
Menejemen sains digunakan dalam menghasilkan dan melayani tipe-tipe pekerja:

1.

Service Industry : Client Management, Commercial Banking and Real


Estate, Financial Consulting, Health Systems, and Human Resource Consulting

2.

Manufacturing Industry : Inventory Management, Logistics, Operation


Management, Production Management, and Warehousing

3.

Research and Development : Data Analysis, Environmental Protection and


Preservation, and Human Factors Engineering

4.

Business and Management : Business Strategy, Investment Banking,


Management Analysis, Project Management, and Business Development

5.

Information

Technology

Computer

Integration,

Database

Design,

Telecommunication, and Web Development

Manajemen Sains

Gambaran umum manajemen


Devinisi Manajemen
Koordinasi semua sumber daya melalui proses perencanaan, pengorganisasian,
penetapan tenaga kerja, pengarahan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan terlebih dahulu.
Dari devinisi tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam manajemen harus ada:
tujuan, proses, suatu keahlian, pihak yg mengatur dan di atur.
MANAJEMEN DAN MANAGER
2. Manajemen dan manajer
-Tingkatan manajemen
Manajemen adalah pemanfaatan manusia dan sumber-sumber lain dengan cara
yang terbaik untuk mencapai tujuan perusahaan. Selain itu manajemen dapat
juga disebut pendayagunaan sumber daya manusia dengan cara yang paling
efektif, agar dapat mencapai rencana dan sasaran perusahaan.
Empat komponen utama bagi manajer diantaranya :

1.
2.
3.
4.

Memahami karakteristik penting untuk keefektifan


Menentukan tanggung jawab pekerjaan
Mengatur proses di mana produk akan diproduksi
Mengawasi dan memperbaiki kualitas produk yang diproduksi.

Tingkat-tingkat Manajemen
Manajemen puncak (top manajemen) tanggung jawabnya adalah menyusun
rencana baru untuk perluasan produksi dan meningkatkan penjualan.
Mengkomunikasikan rencana-rencana itu kepada semua manajer. Contoh dari
manajemen puncak adalah presiden, direktur utama, direktur keuangan dan
wakil presiden. Keputusan yang diambil dari manjemen ini adalah untuk 3
sampai 5 tahun ke depan.
Manajemen menengah (middle manajemen) tanggung jawabnya menentukan
jumlah karyawan baru yang harus direkrut, menetapkan harga yang lebih
reandah untuk meningkatkan penjualan dan menentukan peningkatan
periklanan untuk meningkatkan penjualan serta menentukan cara memperoleh
dana untuk membiayai ekspansi. Bertanggung juga pada keputusan jangka
pendek.
Manajemen pengawasan (forward line) terlibat secara langsung dengan
karyawan yang melaksanakan proses produksi sehari-hari. Tanggung jawabnya
adalah mempersiapkan tugas pekerjaan bagi para karyawan baru yang telah
direkrut, mempersiapkan jadwal waktu bagi para karyawan yang telah direkrut.
Dilihat dari tingakatan organisasi, manajemen dibagi dalam 3 tingkatan yaitu:
1. Manajemen Puncak (Top Management)
Manajer bertaggungjawab atas pengaruh yang ditmbulkan dari keputusankeputusan manajemen keseluruhan dari organisasi. Misal: Direktur, wakil
direktur, direktur utama. Keahlian yang dimiliki para manajer tinggkat puncak
adalah konseptual, artinya keahlian untuk membuat dan mmerumuskan konsep
untuk dilaksanakan oleh tingkatan manajer dibawahnya. Misal:
2. Manajemen Menengah (Middle Management)
Manajemen menengah harus memeiliki keahlian interpersonal/manusiawi,
artinya keahlian untuk berkomunikasi, bekerjasama dan memotivasi orang lain.
Manajer bertanggungjawab melaksanakan reana dan memastikan tercapainya
suatu tujuan. Misal: manajer wilayah, kepala divisi, direktur produk.
3. Manajemen Bawah/Lini (Low Management)
Manager bertanggung jawab menyelesaikan rencana-rencana yang telah
ditetapkan oleh para manajer yang lebih tinggi. Pada tngkatan ini juga memiliki
keahlian yaitu keahlian teknis, atrinya keahlian yahng mencakup prosedur,
teknik, pengetahuan dan keahlian dalam bidang khusus. Misal:
supervisor/pengawas produksi, mandor.
Berikut adalah skema manajemen berdasarkan tingkatanya:
Dilihart dari kegiatan yang dilakukan :
- Manajer Fungsional, bertanggung jawab pada suatu kegiatan unit organisasi

(produksi, pemasaran, keuangan, personalia, dll


- Manajer Umum, bertanggung jawab atas semua kegiatan unit.
Didalam melaksanakan tugas, setiap tingkatan manajer mempunyai ungsi utama
atau keahlian yang berbeda yaitu:
1. Keahlian Teknik (Technical Skill) yaitu keahlian tentang bagaimana cara
mengaerjakan dan menghasilkan sesuatu yang teriri atas pengarahan dengan
motivasi, supervisi, dan kemunikasi .
2. Keahlian Manajerial (Managerial Skill) yaitu keahlian yang terkait dengan hal
penetapan tujuan perencanaan, pengorganisasian, penyusunan personalia, dan
pengawasan.
Keterampilan Manajer
Secara umum, terdapat emat keterampilan manajer pada masing-masing tingkat
manajer:
1. Keterampilan konseptual
Ketrampilan atau kemampuan mental untuk mengkordinasikan dan
mengintegrasikan seluruh kepentingan dan kegiatan organisasi.
2. Keterampilan Kemanusiaan
Kemampuan untuk saling bekerja sana dengan memahami dan memotivasi
orang lain.
3. Keterampilan Administrasi
Kemampuan yang ada hubungannya dengan fungsi manajemen yang dilakukan.
4. Keterampilan Teknik
Kemampuan untuk menggunakan peralatan-peralatan, prosedur, dan metode
dari suatu bidang tertentu.
Robert L. Katz pada tahun 1970-an mengemukakan bahwa setiap manajer
membutuhkan minimal tiga keterampilan dasar. Ketiga keterampilan tersebut
adalah:
1. Keterampilan konseptual (conceptional skill)
Manajer tingkat atas (top manager) harus memiliki keterampilan untuk membuat
konsep, ide, dan gagasan demi kemajuan organisasi. Gagasan atau ide serta
konsep tersebut kemudian haruslah dijabarkan menjadi suatu rencana kegiatan
untuk mewujudkan gagasan atau konsepnya itu. Proses penjabaran ide menjadi
suatu rencana kerja yang kongkret itu biasanya disebut sebagai proses
perencanaan atau planning. Oleh karena itu, keterampilan konsepsional juga
meruipakan keterampilan untuk membuat rencana kerja.
2. Keterampilan berhubungan dengan orang lain (humanity skill)
Selain kemampuan konsepsional, manajer juga perlu dilengkapi dengan
keterampilan berkomunikasi atau keterampilan berhubungan dengan orang lain,
yang disebut juga keterampilan kemanusiaan. Komunikasi yang persuasif harus
selalu diciptakan oleh manajer terhadap bawahan yang dipimpinnya. Dengan
komunikasi yang persuasif, bersahabat, dan kebapakan akan membuat karyawan
merasa dihargai dan kemudian mereka akan bersikap terbuka kepada atasan.

Keterampilan berkomunikasi diperlukan, baik pada tingkatan manajemen atas,


menengah, maupun bawah.
3. Keterampilan teknis (technical skill)
Keterampilan ini pada umumnya merupakan bekal bagi manajer pada tingkat
yang lebih rendah. Keterampilan teknis ini merupakan kemampuan untuk
menjalankan suatu pekerjaan tertentu, misalnya menggunakan program
komputer, memperbaiki mesin, membuat kursi, akuntansi dan lain-lain.
Selain tiga keterampilan dasar di atas, Ricky W. Griffin menambahkan dua
keterampilan dasar yang perlu dimiliki manajer, yaitu:[5]
1. Keterampilan manajemen waktu
Merupakan keterampilan yang merujuk pada kemampuan seorang manajer
untuk menggunakan waktu yang dimilikinya secara bijaksana. Griffin
mengajukan contoh kasus Lew Frankfort dari Coach. Pada tahun 2004, sebagai
manajer, Frankfort digaji $2.000.000 per tahun. Jika diasumsikan bahwa ia
bekerja selama 50 jam per minggu dengan waktu cuti 2 minggu, maka gaji
Frankfort setiap jamnya adalah $800 per jamsekitar $13 per menit. Dari sana
dapat kita lihat bahwa setiap menit yang terbuang akan sangat merugikan
perusahaan. Kebanyakan manajer, tentu saja, memiliki gaji yang jauh lebih kecil
dari Frankfort. Namun demikian, waktu yang mereka miliki tetap merupakan aset
berharga, dan menyianyiakannya berarti membuang-buang uang dan
mengurangi produktivitas perusahaan.
2. Keterampilan membuat keputusan
Merupakan kemampuan untuk mendefinisikan masalah dan menentukan cara
terbaik dalam memecahkannya. Kemampuan membuat keputusan adalah yang
paling utama bagi seorang manajer, terutama bagi kelompok manajer atas (top
manager). Griffin mengajukan tiga langkah dalam pembuatan keputusan.
Pertama, seorang manajer harus mendefinisikan masalah dan mencari berbagai
alternatif yang dapat diambil untuk menyelesaikannya. Kedua, manajer harus
mengevaluasi setiap alternatif yang ada dan memilih sebuah alternatif yang
dianggap paling baik. Dan terakhir, manajer harus mengimplementasikan
alternatif yang telah ia pilih serta mengawasi dan mengevaluasinya agar tetap
berada di jalur yang benar.
Pada pengertian tersebut dikatakan bahwa manajemen adalah proses
pencapaian tujuan melalui kerja orang lain.
Dengan demikian berarti dalam manajemen terdapat minimal 4 (empat) ciri,
yaitu:
1. ada tujuan yang hendak dicapai,
2. ada pemimpin (atasan),
3. ada yang dipimpin (bawahan),
4. ada kerja sama.
Khusus menyangkut masalah pemimpin (atasan) harus memiliki berbagai
kemampuan ( skills). Kemampuan ( skills) yang dimaksud terdiri dari:

1. Managerial skills (entrepreneurial), yaitu kemampuan untuk mempergunakan


kesempatan secara efektif serta kecakapan untuk memimpin usaha-usaha yang
penting.
2. Techological skills, yaitu keahlian khusus yang bersifat ekonomis teknis yang
diperlukan pada pelaksanaan pekerjaan ekonomis.
3. Organisational skills, yaitu kecerdasan untuk mengatur berbagai usaha.
Dalam kenyataannya tidak setiap pemimpin harus memiliki seluruh kemampuan
dengan tingkat intensitas yang sama. Sebab pemimpin itu sendiri dapat
dikelompokkan menjadi 3 (tiga) tingkatan. Sehingga kemampuan yang harus
dimilikinya pun tentu berbeda.
Adapun tingkatan kepemimpinan atau manajemen terdiri dari:
1. Top Management (Manajemen Tingkat Atas)
2. Middle Management (Manajemen Tingkat Menengah)
3. Lower Management (Manajemen Tingkat Rendah).
Jumlah manajemen pada setiap tingkatan tergantung pada besar kecilnya suatu
organisasi atau instansi. Namun demikian, biasanya Top Management jumlahnya
akan lebih sedikit dari pada Middle Management, dan Middle Management lebih
sedikit daripada Lower Management.
Jadi semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin banyak memerlukan
keterampilan administrasi/manajemen, tetapi keterampilan operasionalnya
semakin rendah. Sebaliknya semakin rendah kedudukan seseorang, maka
keteramplian operasionalnya semakin tinggi, sedangkan keterampilan
administrasinya/manajemennya makin rendah.
Dengan bahasa yang sederhana, sebetulnya ketiga jenis tingkatan manajemen
tersebut bekerja pada waktu yang sama, tetapi jenis kegiatannya berbeda.
Manajemen Tingkat Atas lebih banyak bekerja dengan pikiran, sedikit sekali
bekerja secara fisik atau tenaga. Manajemen Tingkat Menengah, antara kerja
pikir dengan kerja fisik boleh dikatakan seimbang. Sedangkan Manajemen
Tingkat Bawah, bekerja dengan pikiran sedikit sekali, sementara dengan fisik
atau tenaga amat besar/banyak.
-Fungsi-fungsi manajemen
Ada 4 fungsi utama dalam manajemen:
1.Perencanaan (Planning),
2. Pengorganisasian (Organizing),
3. Pengarahan (Actuating/Directing),
4. Pengawasan (Controlling)
Fungsi Perencanaan
proses yang menyangkut upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi
kecenderungan di masa yang akan datang dan penentuan strategi dan taktik
yang tepat untuk mewujudkan target dan tujuan organisasi.
Kegiatan dalam Fungsi Perencanaan :
- Menetapkan tujuan dan target bisnis
- Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan dan target bisnis tersebut

- Menentukan sumber-sumber daya yang diperlukan


- Menetapkan standar/indikator keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan
target bisnis
Fungsi Pengorganisasian
proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan
dalam perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan
tangguh, sistem dan lingkungan organisasi yang kondusif, dan dapat
memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif
dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi
Kegiatan dalam Fungsi Pengorganisasian :
- Mengalokasikan sumber daya, merumuskan dan menetapkan tugas, dan
menetapkan prosedur yang diperlukan
- Menetapkan struktur organisasi yang menunjukkan adanya garis kewenangan
dan tanggungjawab
- Kegiatan perekrutan, penyeleksian, pelatihan dan pengembangan sumber daya
manusia/tenaga kerja
- Kegiatan penempatan sumber daya manusia pada posisi yang paling tepat
Fungsi Pengarahan dan Implementasi
proses implementasi program agar dapat dijalankan oleh seluruh pihak dalam
organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat
menjalankan tanggungjawabnya dengan penuh kesadaran dan produktifitas
yang tinggi.
Kegiatan dalam Fungsi Pengarahan dan Implementasi :
- Mengimplementasikan proses kepemimpinan, pembimbingan, dan pemberian
motivasi kepada tenaga kerja agar dapat bekerja secara efektif dan efisien
dalam pencapaian tujuan
- Memberikan tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan
- Menjelaskan kebijakan yang ditetapkan

Fungsi Pengawasan dan Pengendalian


proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah
direncanakan, diorganisasikan dan diimplementasikan dapat berjalan sesuai
dengan target yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam
lingkungan dunia bisnis yang dihadapi.
Kegiatan dalam Fungsi Pengawasan dan Pengendalian :
- Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai
dengan indikator yang telah ditetapkan
- Mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin
ditemukan
- Melakukan berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait
dengan pencapaian tujuan dan target bisnis

Fungsi Operasional dalam Manajemen


Pada pelaksanaannya, fungsi-fungsi manajemen yang dijalankan menurut
tahapan tertentu akan sangat berbeda jika didasarkan pada fungsi
operasionalnya. secara operasional, fungsi planning untuk sumber daya manusia
akan berbeda dengan fungsi planning untuk sumber daya fisik/alam, dan
sebagainya.
Manajemen organisasi bisnis dapat dibedakan menjadi fungsi-fungsi :
1. Manajemen Sumber Daya Manusia
2. Manajemen Pemasaran
3. Manajemen Operasi/Produksi
4. Manajemen Keuangan
5. Manajemen Informasi
Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen Sumber Daya Manusia adalah penerapan manajemen berdasarkan
fungsinya untuk memperoleh sumber daya manusia yang terbaik bagi bisnis
yang kita jalankan dan bagaimana sumber daya manusia yang terbaik tersebut
dapat dipelihara dan tetap bekerja bersama kita dengan kualitas pekerjaan yang
senantiasa konstan ataupun bertambah
Manajemen Pemasaran
Manajemen Pemasaran adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang
pada intinya berusaha untuk mengidentifikasi apa sesungguhnya yang
dibutuhkan oleh konsumen, dana bagaimana cara pemenuhannya dapat
diwujudkan
Manajemen Produksi
Manajemen Produksi adalah penerapan manajemen berdasarkan fungsinya
untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan standar yang ditetapkan
berdasarkan keinginan konsumen, dengan teknik produksi yang seefisien
mungkin, dari mulai pilihan lokasi produksi hingga produk akhir yang dihasilkan
dalam proses produksi
Manajemen Keuangan
Manajemen Keuangan adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang
pada intinya berusaha untuk memastikan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan
mampu mencapai tujuannya secara ekonomis yaitu diukur berdasarkan profit.
Tugas manajemen keuangan diantaranya merencanakan dari mana pembiayaan
bisnis diperoleh, dan dengan cara bagaimana modal
yang telah diperoleh dialokasikan secara tepat dalam kegiatan bisnis yang
dijalankan
Manajemen Informasi
Manajemen Informasi adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang
pada intinya berusaha memastikan bahwa bisnis yang dijalankan tetap mampu

untuk terus bertahan dalam jangka panjang. Untuk memastikan itu manajemen
informasi bertugas untuk menyediakan seluruh informasi yang terkait dengan
kegiatan perusahaan baik informasi internal maupun eksternal, yang dapat
mendorong kegiatan bisnis yang dijalankan tetap mampu beradaptasi dengan
perubahan yang terjadi di masyarakat
-Keterampilan-keterampilan Manajerial
Bila kita asumsikan bahwa manajer adalah seorang yang mengarahkan aktivitas
dari orang lain dan mengambil tanggung jawab terhadap pencapaian suatu
tujuan (objective) melalui usaha tersebut, maka seorang manajer yang sukses
biasanya adalah mereka yang mempunyai 3 (tiga) keterampilan dasar, yaitu:
keterampilan teknis(technical skill), keterampilan inter-personal(human skill),
dan keterampilan konseptual (conceptual skill).
Lalu sebenarnya apa yang dimaksud dengan keterampilan manajerial itu?
Menurut Bigelow (1998), sebenarnya tidak banyak teks yang mendefinisikan apa
yang dimaksud dengan keterampilan manajerial. Banyak teks yang lebih
menekankan kepada proses pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan
daripada mendefinisikan secara spesifik keterampilan manajerial. Namun
berdasarkan kompilasi beberapa teks, keterampilan manajerial berkaitan dengan
teori, teknik, dan pedoman perilaku, yang bila diaplikasikan secara tepat akan
meningkatkan performa keberhasilan seorang manager. Sekarang, mari kita
telaah lebih lanjut ranah properti keterampilan ini.
A. Keterampilan Teknis
Keterampilan ini meliputi pemahaman dan kompetensi dalam aktivitas yang
spesifik, khususnya yang berkaitan dengan suatu metode, proses, prosedur
tertentu yang bersifat teknis. Ia melibatkan pengetahuan dan kemampuan
analitis yang khusus dan mempunyai tahapan pemecahan masalah
(troubleshooting) yang relative baku/standar. Dalam terminologi pelatihan, maka
pelatihan yang berkaitan dengan pekerjaan (vocational dan on the job training)
besar manfaatnya dalam rangka mengembangkan keterampilan ini.
B. Keterampilan Inter-personal
Ini berhubungan dengan kemampuan untuk bekerja dengan, memahami dan
memotivasi orang lain, memahami sudut pandang dan perilaku atasan, rekan
sejawat, dan bawahan terhadap suatu masalah dan memposisikan dirinya secara
proporsional. Seseorang yang mempunyai kemampuan ini kiranya cukup
sensitive terhadap keinginan dan motivasi orang lain dalam kelompoknya
sehingga dia dapat memperkirakan tindakan apa yang perlu dan hasil yang yang
diharapkan.
Keterampilan ini bisa juga diklasifikasikan dalam :
(a) kepemimpinan dalam kelompok sendiri (intra-group skill), dan
(b) keterampilan dalam mengelola hubungan antar kelompok (inter-group skill).
Dalam ranah tingkat manajemen, intra-group skill mempunyai peran dominan
pada kelompok manajer dasar (first line management) dan menengah (middle
management), maka inter-group skill sangat dirasakan penting peranannya pada

manajer tingkat atas (higher level/top management).


Untuk menguasai keterampilan ini, seorang manajer harus dapat
mengembangkan sendiri persepsi pribadinya terhadap aktivitas orang lain
sehingga ia dapat:
mengenali perasaan dan sentimen dalam situasi tertentu;
mempunyai sikap terhadap pengalamannnya sendiri dan berusaha untuk
belajar dari pengalaman itu;
mengembangkan kemampuan untuk memahami apa yang ingin disampaikan
seseorang melalui tindakan dan kata-kata mereka;
mengembangkan kemampuan untuk mengkomunikasikan ide dan sikapnya
kepada orang lain secara tepat.
Pelatihan yang bersifat spontan dan dipandu oleh seorang pelatih yang
berpengalaman dapat memberikan nuansa positif bagi pengenalan dan
pengembangan keterampilan ini.
C. Keterampilan Konseptual
Keterampilan ini melibatkan kemampuan untuk melihat suatu
perusahaan/organisasi secara utuh, mengenali cara kerja dan ketergantungan
bermacam-macam fungsi yang ada, dan lebih jauh lagi untuk memahami
hubungan antara perusahaan/organisasinya dan industri, masyarakat, dan
situasi ekonomi dan sosial secara umum.
Pada dasarnya keterampilan ini lebih banyak melibatkan intuisi seorang manajer
sehingga ia dapat memahami gejala-gejala umum dan keterkaitan antar
variabel-variabel elementer, memberikan penekanan dan prioritas pola tindakan,
serta dapat memperkirakan kencenderungan dan probabilitas hasil dari tindakan
yang akan dilakukan. Di luar teknis pelatihan manajemen, prinsip learning by
doing sangat dirasakan penting untuk mengasah keterampilan konseptual ini.
Sedangkan pelatihan manajemen strategi, pola promosi kepada karyawan untuk
menduduki posisi lebih tinggi dan melibatkan kerja antar kelompok juga
merupakan beberapa upaya untuk mengembangkan keterampilan ini secara
lebih terstruktur.

EVOLUSI TEORI MANAJEMEN


Teori management klasik
Frederick W.Taylor dikenal sebagai bapak manajemen ilmiah. Dennnga
menggunakan studi waktu-dan-gerak ia mencari cara yang terbaik bagi pekerja
pabrik baja Amerika untuk melakukan kerja kasar, seperti menyekop batubara.
Dengan mempelajari besar kecilnya ukuran sekop untuk material yang berbeda
besarnya, ia dapat meningkatkan produktivitas pekerja dari 16 menjadi 59
ton/hari. Taylor percaya bahwa dengan memaksimalkan produktivitas akan
memaksimalkan keuntungan perusahaan dan pendapatan bagi karyawan.
Manajemen dengan cepat berubah menjadi manajemen ilmah. Namun, satu

persatu buruh menentangnya karena hal ini dianggap tidak


berperikemanusiaan.
Standar Penampilan. Perhatian Taylor ditujukan pada tingkat pekerja dalam
organisasi. Ia menganjurkan penggunaan standar penampilan, yaitu pencapaian
tingkat produktivitas pekerja yang diharapkan. Walaupun bukan dalam wilayah
kerja Taylor, gagasan standarnya ini dapat diterapkan juga dalam manajemen.
Jika pekerja dan manajer memenuhi standarnya, maka perusahaan akan dapat
mencapai tujuannya.
Tujuan adalah suatu yang ingin dicapai oleh perusahaan atau unit organisasi.
Standar adalah ukuran penampilan yang jika dipenuhi, akan menghasilkan tujuan
yang dicanangkan. Sebagai contoh tujuan penyejuk ruangan atau AC adalaaah
untuk kenyamanan manusia. Sedangkan standart adalah setting pengaturan
udara yang membuat ketetapan suhu yang diterima. Tujuan perusahaan dan
unitnya cenderung berupa statement yang luas dan umum. Standar dapat
ditetapkan dalam perusahaan, unit organisasinya, dan bahkan pada tiap
karyawannya. Standar harus dinyatakan dalam kalimat yang jelas dan dapat
diukur sehingga tingkat penapaiannya dapat diukur.
Teori Organisasi Klasik
1. manajer mencapai koordinasi melalui komunikasi yang terkendali dengan
para
karyawan.
2. merancang organisasi perlu diperhatikan empat kaidah dasar yaitu
koordinasi,
prinsip skallar, prinsip fungsional, prinsip staf.
Manajemen Tradisional
1. tidak sepenuhnya menghasilkan efisiensi produksi dan keharmonisan kerja.
2. manajer mengalami kesulitan-kesulitan dan frustasi karena karyawan tidak
selalu mengikuti pola-pola prilaku yang rasional.
Manajemen Modern
1. manajemen tidak dapat dipandang sebagai suatu proses tehnik secara ketat.
2. manajemen harus sistematik, dan pendekatan yang digunakan harus dengan
pertimbangan secara hati-hati.
3. organisasi sebagai suatu keseluruhan dan pendekatan manajer individual
untuk
pengawasan harus dengan situasi.
4. pendekatan motivasi yang menghasilkan komitmen pekerja terhadap tujuan
organisasi sangat di butuhkan.
Inilah perbedaan-perbedaan yang dapat diuraikan dari beberapa ilmu
manajemenmanajemen yang telah dibahas diatas.
Manajemen Klasik
1. pengembangan manajemen di lakukan oleh teoritis.
2. investasi terbesar adalah karyawan
3. tenaga kerja di beri pelatihan keterampilan sesuai operasi pabrik.

4. karyawan bertanggung jawab atas pekerjaan tertentu yang berulang.


5. adanya skema pembagian keuntungan.
TEORI PERILAKU
Pendekatan manusia mempelopori tumbuhnya pendekatan baru yang lebih
sering dikenal sebagai pendekatan/aliran perilaku.
Dengan menggunakan ilmu-ilmu sosial seperti Sosiologi, Psikologi, dan
Antropologi dan dengan metoda penelitian yang lebih sempurna, para peneliti ini
lebih terkenal sebagai behavioral scientists dari pada human relations
theorists. Diantaranya yang terkenal adalah Argyris, Maslow dan Mc. Gregor
yang lebih meng- utamakan self actualizing man dari pada hanya sekedar
social man dalam memberi dorongan kepada karyawan. Teori Mayo kemudian
ditingkatkan lagi oleh aliran yang lebih maju lagi, yaitu manusia tidak hanya
didorong oleh berbagai kebutuhan yang seringkali cukup aneh yang dikenal
dengan konsep complex-man. Karena tidak ada dua orang yang persis sama,
maka seorang manajer yang efektif akan berusaha mempelajari kebutuhankebutuhan setiap individu agar dapat mempengaruhi individu tersebut.
Selain beberapa nama diatas, tokoh-tokoh aliran perilaku organisasi ini adalahs
sebagai berikut :
1. ABRAHAM MASLOW
Maslow (1908-1970) seorang psikolog humanistis, dari USA memperkenalkan
teori aktualisasi diri dengan menandaskan bahwa tujuan utama psikoterapi
adalah membangun integritas seseorang. Dia belajar psikologi di Universitas
Wisconsin dan memperdalam Psikologi Gestait di Sekolah Penelitian Sosial, New
York tahun 1951, mengepalai Departemen Psikologi Universitas Brandeis,
Waltham, Massachusetts.
Mengemukakan adanya hierarki kebutuhan dalam penjelasan nya tentang
perilaku manusia dan dinamika proses motivasi.
Tingkatan Kebutuhan manusia menurut Maslow sebagai berikut :
(1) Kebutuhan Fisologis, hampir semua kebutuhan dasar manusia kebutuhan
akan pemelioharaan biologis, makan, minum dan kesejahteraan fisik.
(2) Kebutuhan Keamanan, kebutuhan akan perlidungan dan kepastian dalam
kehidupan sehari-hari.
(3) Kebutuhan Sosial, kebutuhan akan kasih sayang, rasa memiliki dalam
hubungan dengan orang lain.
(4) Kebutuhan Harga Diri secara Penuh, kebutuhan akan harga diri dimata orang
lain, penghormatan, prestise, harga diri, kemampuan diri dan dianggap ahli.
(5) Kebutuhan Aktualisasi Diri, tingkat kebutuhan yang paling tinggi, kebutuhan
akan self fulfilment berkembang dan menggunakan kemampuannya.
2. DOUGLAS MC. GREGOR
Dikenal dengan teori X dan teori Y-nya.
Teori X berasumsi bahwa Karyawan Teori Y berasumsi bahwa Karyawan
Tidak suka bekerja Suka bekerja
Tidak membuat ambisi Mampu mengendalikan diri

Tidak bertanggung jawab Menyukai tanggung jawab


Enggan untuk berubah Penuh imajinasi dan kreasi
Lebih suka dipimpin dari pada memimpin Mampu mengarahkan dirinya sendiri
3.FREDRICK HEZBERG
Menguraikan teori motivasi higienis atau teori dua faktor.
4. ROBERT BLAKE & JANE MOUTON
Membahas lima Gaya Kepemimpinan dengan kisi-kisi manajerial (managerial
grid).
5. RENSIS LINKERT
Mengidentifikasi dan melakukan penelitian secara intensif mengenai empat
sistem : 1. exploatif-otoritatif sampai, 4. partisipatif kelompok.
6. FRED FIEDLER
Menyarankan pendekatan kontingensi pada studi kepemimpinan
7. CHRIS ARGYRIS
Memandang organisasi sebagai sistem sosial atau sistem antar hubungan
budaya.
8. EDGAR SCHIEN
Banyak meneliti dinamika kelompok dalam organisasi dan lain nya.
Prinsip Dasar Perilaku Organisasi :
(1) Manajemen tidak dapat dipandang sebagai suatu proses teknik secara ketat
(peranan, prosedur dan prinsip).
(2) Manajemen harus sistematik dan pendekatan yang digunakan harus dengan
pertimbangan secara hati-hati.
(3) Organisasi sebagai suatu keseluruhan dan pendekatan manajer individual
untuk pengawasan harus sesuai dengan situasi.
(4) Pendekatan motivasional yang menghasilkan komitmen pekerja terhadap
tujuan organisasi sangat dibutuhkan.
Beberapa gagasan yang lebih khusus dari berbagai riset perilaku :
(1) Unsur manusia adalah faktor kunci penentu sukses atau kegagal an
pencapaian tujuan organisasi.
(2) Manajer masa kini harus diberi latihan dalam pemahaman prinsip-prinsip dan
konsep-konsep manajemen.
(3) Organisasi harus menyediakan iklim yang mendatangkan kesempatan bagi
karyawan untuk memuaskan seluruh kebutuh an mereka.
(4) Komitmen dapat dikembangkan melalui partisipasi dan keterlibat an para
karyawan.
(5) Pekerjaan setiap karyawan harus disusun yang memungkinkan mereka
mencapai kepuasan diri dari pekerjaan tersebut.
(6) Pola-pola pengawasan dan manajemen pengawasan harus dibangun atas
dasar pengertian positif yang menyeluruh mengenai karyawan dan reaksi

mereka terhadap pekerjaan.


TEORI KUANTITATIF (Riset Operasi & Ilmu Manajemen)
Aliran kuantitatif untuk manajemen mulai berkembang sejak Perang Dunia II.
Pada waktu itu Inggris ingin memecahkan beberapa persoalan yang sangat
kompleks dalam perang. Inggris kemudian membentuk Team Riset Operasi
(Reserch Operation), dipimpin oleh P.M.S Blackett. Team ini terdiri dari ahli
matematika, fisika, dan ilmuwan lainnya. Inggris berhasil menemukan terobosanterobosan penting dari team tersebut. Amerika Serikat kemudian meniru,
membentuk team riset operasi seperti yang dibentuk Inggris. Komputer
digunakan untuk menghitung model-modek matematika yang dikembangkan.
Ketika perang selesai, model-model dari riset operasi tersebut kemudian
diaplikasikan ke Industri. Industri juga mengalami per-kembangan pesat dengan
persoalan-persoalan yang semakin kompleks. Persoalan tersebut tidak dapat lagi
dipecahkan dengan metode-metode konvensional. Model riset operasi diperlukan
dalam hal ini. Beberapa model riset operasi : CPM (Critical Path Method) yang
digunakan untuk merencanakan proyek, teori antrian untuk memecahkan
persoalan antrian.
Manajemen operasi merupakan variasi lain dari pendekatan kuantitatif.
Pendekatan ini lebih sederhana dan dapat diaplikasikan langsung pada situasi
manajemen. Beberapa contoh model manajemen operasi adalah : pengendalian
persediaan seperti EOQ (Economic Order Quantity), simulasi, analisis break-even,
programasi lenier (linear programming). Manajemen operasi sering dianggap
sebagai aplikasi dari riset operasi.
Sumbangan Teori Kuantitatif (Riset Operasi/Manajemen Sains)
Pendekatan kuantitatif memberikan sumbangan penting terutama dalam
perencanaan dan pengendalian. Model-model yang dikembangkan sangat sesuai
untuk fungsi tersebut. Sebagai contoh, model CPM bermanfaat untuk
perencanaan dan pengen dalian proyek. Pendekatan tersebut juga membantu
memahami persoalan manajemen yang kompleks. Dengan menggunakan model
matematika, persoalan yang kompleks dapat disederhana kan menjadi model
matematika. Meskipun nampaknya model matematika dengan formula-formula
yang sulit dimengerti sangat kompleks, tetapi model tersebut bermaksud
menyederhanakan dunia nyata yang sangat kompleks. Dengan model
matematika, faktor-faktor yang penting dapat dilihat dan diberi perhatian ekstra.
Keterbatasan Aliran Kuantitatif (Riset Operasi/Manajemen Sains)
Sayangnya model kuantitatif banyak menggunakan model atau simbol yang sulit
dimengerti oleh kebanyakan orang, termasuk manajer. Pendekatan kuantitatif
juga tidak melihat persoalan peri laku dan psikologi manusia dalam organisasi.
Meskipun demikian potensi model kuantitatif belum dikembangkan sepenuhnya.
Apabila dapat dikembangkan lebih lanjut pendekatan kuantitatif akan
memberikan sumbangan yang lebih berarti.
EVOLUSI TEORI
MANAJEMEN SEJARAH PEMIKIRAN TENTANG MANAJEMEN

Pembahasan dan pemahaman perkembangan teori-teori manajemen sangat


diperlukan guna memberikan landasan dalam pemahaman perkembangan teori
manajemen selanjutnya. Setiap pandangan dalam teori manajemen akan
membantu manajer untuk membuat keputusan-keputusan yang lebih efektif
pada berbagai masalah yang berbeda dalam organisasi yang terus mengalami
perubahan. Tiga pandangan utama tentang manajemen dapat dikelompokkan
berdasarkan pendekatan-pendekatan sebagai berikut :
Pendekatan klasik (the classical approaches), yang dikenal sebagai aliran
manajemen ilmiah (scientific management) dan teori organisasi klasik/prinsipprinsip administrative (administrative principles) serta organisasi birokrasi
(bureaucratic organization) yaitu pendekatan pada studi manajemen dengan
prinsip-prinsip universal untuk berbagai situasi manajemen.
Pendekatan sumber daya manusia (the human resources approaches), yang
dikenal juga sebagai aliran perilaku, yaitu pendekatan pada studi manajemen
tentang kebutuhan manusia, kerja kelompok serta peranan faktor-faktor social di
tempat kerja.
Pendekatan kauntitatif atau pendekatan ilmu manajemen (the quantitative or
management science approaches), yaitu pendekatan pada studi manajemen
dengan menggunakan teknik-teknik matematis dalam memecahkan masalah
manajemen dalam sebuah organisasi.
Pendekatan modern (modern approaches), yaitu pendekatan pada studi
manajemen dengan pandangan system dan pemikiran kontingensi berdasarkan
komitmen terhadap mutu dan kinerja yang tinggi

Manajemen dan Lingkungan eksternal


Definisi lingkungan
Lingkungan hidup dapat didefinisikan sebagai:
1. Daerah di mana sesuatu mahluk hidup berada.
2. Keadaan/kondisi yang melingkupi suatu mahluk hidup.
3. Keseluruhan keadaan yang meliputi suatu mahluk hidup atau sekumpulan
mahluk hidup, terutama:
1. Kombinasi dari berbagai kondisi fisik di luar mahluk hidup yang mempengaruhi
pertumbuhan, perkembangan dan kemampuan mahluk hidup untuk bertahan
hidup.
2. Gabungan dari kondisi sosial and budaya yang berpengaruh pada keadaan
suatu individu mahluk hidup atau suatu perkumpulan/komunitas mahluk hidup.

Istilah lingkungan dan lingkungan hidup atau lingkungan hidup manusia


seringkali digunakan silih berganti dalam pengertian yang sama.
Definisi Lingkungan Hidup Indonesia
Menurut Undang Undang No. 23 Tahun 1997[1], lingkungan hidup adalah
kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup,
termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan
perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Sedangkan
ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang, tempat Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang berWawasan Nusantara dalam melaksanakan
kedaulatan, hak berdaulat, dan yurisdiksinya.
Dalam lingkungan hidup terdapat ekosistem, yaitu tatanan unsur lingkungan
hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi
dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.
Merujuk pada definisi di atas, maka lingkungan hidup Indonesia tidak lain
merupakan Wawasan Nusantara, yang menempati posisi silang antara dua
benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang
memberikan kondisi alamiah dan kedudukan dengan peranan strategis yang
tinggi nilainya, tempat bangsa Indonesia menyelenggarakan kehidupan
bernegara dalam segala aspeknya.
Secara hukum maka wawasan dalam menyelenggarakan penegakan hukum
pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia adalah Wawasan Nusantara.
Al-Quran dan As-Sunnah Tentang Lingkungan Hidup
Pendahuluan
Pendidikan yang baru dan termasuk paling penting pada masa sekarang ialah
pendidikan lingkungan. Pendidikan tersebut berkaitan dengan pengetahuan
lingkungan di sekitar manusia dan menjaga berbagai unsurnya yang dapat
mendatangkan ancaman kehancuran, pencemaran, atau perusakan.
Pendidikan lingkungan telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para
sahabatnya. Abu Darda ra. pernah menjelaskan bahwa di tempat belajar yang
diasuh oleh Rasulullah SAW telah diajarkan tentang pentingnya bercocok tanam
dan menanam pepohonan serta pentingnya usaha mengubah tanah yang tandus
menjadi kebun yang subur. Perbuatan tersebut akan mendatangkan pahala yang
besar di sisi Allah SWT dan bekerja untuk memakmurkan bumi adalah termasuk
ibadah kepada Allah SWT.[1]
Pendidikan lingkungan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW berdasarkan wahyu,
sehingga banyak kita jumpai ayat-ayat ilmiah Al-Quran dan As Sunnah yang
membahas tentang lingkungan. Pesan-pesan Al-Quran mengenai lingkungan
sangat jelas dan prospektif. Ada beberapa tentang lingkungan dalam Al-Quran,
antara lain : lingkungan sebagai suatu sistem, tanggung jawab manusia untuk
memelihara lingkungan hidup, larangan merusak lingkungan, sumber daya vital
dan problematikanya, peringatan mengenai kerusakan lingkungan hidup yang
terjadi karena ulah tangan manusia dan pengelolaan yang mengabaikan
petunjuk Allah serta solusi pengelolaan lingkungan[2].
Adapun As-Sunnah lebih banyak menjelaskan lingkungan hidup secara rinci dan
detail. Karena Al-Quran hanya meletakkan dasar dan prinsipnya secara global,
sedangkan As-Sunnah berfungsi menerangkan dan menjelaskannya dalam
bentuk hukum-hukum, pengarahan pada hal-hal tertentu dan berbagai

penjelasan yang lebih rinci.


Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gununggunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan
Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami
menciptakannya pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi
rezeki kepadanya. (QS. 15 : 19-20)
Lingkungan hidup, sering disebut sebagai lingkungan, adalah istilah yang dapat
mencakup segala makhluk hidup dan tak hidup di alam yang ada di Bumi atau
bagian dari Bumi, yang berfungsi secara alami tanpa campur tangan manusia
yang berlebihan.
Lawan dari lingkungan hidup adalah lingkungan buatan, yang mencakup wilayah
dan komponen-komponennya yang banyak dipengaruhi oleh manusia
Faktor-faktor Lingkungan Eksternal Makro dan Mikro
Lingkungan Eksternal makro perusahaan meliputi :
1. Teknologi
Dalam setiap masyarakat atau industri , tingkat kemajuan memainkan peranan
yang berarti . Sebagai contoh kemajuan teknologi akan menurunkan permintaan
akan manajer- manajer menengah dan lini pertama, Banyak perusahaan
sekarang menggunakan komputer untuk meramalkan operasi-operasi dan
schedulin produksinya , dimana pada waktu yang lalu dilakukan oleh fungsi
fungsi manajemen menengah. Inovasi teknologi dapat juga menimbulkan posisi
persaingan baru dalam industri industri yang berbeda.
Ini semua menuntut manajer perusahaan bersikap tanggap terhadap tantangan
tantangan dan mampu memanfaatkan kesempatan yang ada. Manajer perlu
senantiasa menaksir arah perkembangan teknologi dan memperkirakan
perngaruhnya pada organisasi atau melakukan peramalan teknologi.
2. Ekonomi
Para manajer akan selalu terlibat dengan masalah-masalah biaya sumber daya
sumber daya yang dibutuhkan dalam organisasi. Biaya ini berubah-berubah
setiap waktu karena pengaruh faktor faktor ekonomi. Sehingga manajer
senantiasa perlu menganalisa dan mendiagnosa faktor faktor ekonomi, seperti
kecenderungan inflasi atau deflasi harga-harga barang dan jasa, kebijaksanaan
moneter, dan kebijaksanaan fisikal dll, jadi manajer perusahaan harus
mencurahkan waktu dan sumber daya untuk melakukan peramalan ekonomi dan
antisipasi perubahan harga.
3.Lingkungan sosial kebudayaan
Merupakan pedoman hidup yang menentukan bagaimana hampir seluruh
organisasi dan manajer harus beroperasi . Lingkungan ini mencakup
kepercayaan , nilai-nilai, sikap-sikap, pandangan serta pola kehidupan yang
dibentuk oleh tradisi , pendidikan, kelompok , ethnis, teknologi , demografi,
geografis, serta agama dan kepercayaan dari sekelompok atau seluruh
masyarakat tertentu. Pengaruh dari pedoman hidup ini dapat sangat luas atau
felatif sempit . Misal, batasan bagi pekerja wanita mungkin hanya berlaku
disuatu daerah, tetapi dapat juga berlaku secara nasional
4. Dimensi Internasional

Komponen Internasional dalam lingkungan eksternal juga menyajikan


kesempatan-kesempatan dan tantangan-tantangan serta mempunyai potensi
menjadi faktor yang berpengaruh langsung pada operasi perusahaan. Kekuatankekuatan internasional ini berpengaruh melalui perkembangan politik dunia,
ketergantungan ekonom transfer teknologi. Lebih sempit lagi, kekuatan ini
berwujud misalnya keterrgantungan sumberdaya impor, keadaan resesi,
persaingan dengan perusahaan perusahaan multinasional, tingkat pertukaran
mata uang asing dsb. Maka hendaknya manajer mampu menanalisa dan
mengantisipasi untuk kemudian meletakkan dasar yang kuat dalam menghadapi
perkembangan dunia internasional.
Lingkungan eksternal mikro perusahaan meliputi :
1. Para pesaing
Lingkungan persaingan perusahaan tercemin dari tipe , jumlah dan norma
norma perilaku organisasi pesaing. Dengan pemahaman akan lingkungan
persaingan yang dihadapinya , organisasi dapat mengetahui posisi
persaingannya sehingga lebih mampu mengoptimalkan operasi operasinya.
2. Langganan
Strategi kebijaksanaan dan taktik pemasaran perusahaan sangat tergantung
situasi pasar dan langganan. Analisa langganan berguna untuk mengantisipasi
perubahan perilaku pasar atau langganan dan mengarahkan pengolakasian
sumberdayanya sesuai kebutuhan dan keinginan langganan.
3. Pasar tenaga kerja
Organisasi memerlukan sejumlah karyawan dengan berbagai bermacam
macam ketrampilan , kemampuan , dan pengalaman/ Kemampuan menarik dan
mempertahankan karyawan yang cakap merupakan kebutuhan prasyarat bagi
perusahaan yang sukses .
Ada tiga faktor yang paling berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan
karyawan perusahaan, yaitu reputasi perusahaan di mata angkatan kerja, tingkat
pertumbuhan angkatan kerja dan tersedianya tenaga kerja yang dibutuhkan.
4. Lembaga keuangan
Organisasi tergantung pada bermacam-macam lembaga keuangaan untuk
memperluas kegiatan-kegiatannya . Kebutuhan akan dana dari lembaga-lembaga
keuangan tersebut dapat jangka pendek untuk membelanjai operasi-operasinya
atau jangka panjang untuk membangun fasilitas baru dan membeli peralatan
baru.
5. Para penyedia
Setap organisasi sangat tergantung pada sumber-sumber dari sumber daya
untuk memenuhi kebutuhan baku (mentah) , bahan pembantu, pelayanan energi
, dan peralatan yang digunakan untuk memproduksi keluaran.
6. Perwakilan pemerintah
Hubungan organisasi dengan perwakilan-perwakilan pemerintah berkembang
semakin komples. disamping merupakan atau menjadi para penyedia dan
kreditur bagi perusahaan, juga menetapkan peraturan-peraturan yang harus
dipatuhi organisasi , prosedur-prosedur perijinan dll.
Tanggung Jawab Sosial Manajer
Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility

(selanjutnya dalam artikel akan disingkat CSR) adalah suatu konsep bahwa
organisasi, khususnya (namun bukan hanya) perusahaan adalah memiliki suatu
tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas
dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan.
CSR berhubungan erat dengan "pembangunan berkelanjutan", di mana ada
argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya harus
mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan faktor keuangan,
misalnya keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan
konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang.
Analisis dan pengembangan
Hari ini yang menjadi perhatian terbesar dari peran perusahaan dalam
masyarakat telah ditingkatkan yaitu dengan peningkatan kepekaan dan
kepedulian terhadap lingkungan dan masalah etika. Masalah seperti perusakan
lingkungan, perlakuan tidak layak terhadap karyawan, dan cacat produksi yang
mengakibatkan ketidak nyamanan ataupun bahaya bagi konsumen adalah
menjadi berita utama surat kabar. Peraturan pemerintah pada beberapa negara
mengenai lingkungan hidup dan permasalahan sosial semakin tegas, juga
standar dan hukum seringkali dibuat hingga melampaui batas kewenangan
negara pembuat peraturan (misalnya peraturan yang dibuat oleh Uni Eropa.
Beberapa investor dan perusahaam manajemen investasi telah mulai
memperhatikan kebijakan CSR dari suatu perusahaan dalam membuat
keputusan investasi mereka, sebuah praktek yang dikenal sebagai "Investasi
bertanggung jawab sosial" (socially responsible investing).
Banyak pendukung CSR yang memisahkan CSR dari sumbangan sosial dan
"perbuatan baik" (atau kedermawanan seperti misalnya yang dilakukan oleh
Habitat for Humanity atau Ronald McDonald House), namun sesungguhnya
sumbangan sosial merupakan bagian kecil saja dari CSR. Perusahaan di masa
lampau seringkali mengeluarkan uang untuk proyek-proyek komunitas,
pemberian bea siswa dan pendirian yayasan sosial. Mereka juga seringkali
menganjurkan dan mendorong para pekerjanya untuk sukarelawan (volunteer)
dalam mengambil bagian pada proyek komunitas sehingga menciptakan suatu
itikad baik dimata komunitas tersebut yang secara langsung akan meningkatkan
reputasi perusahaan serta memperkuat merek perusahaan. Dengan diterimanya
konsep CSR, terutama triple bottom line, perusahaan mendapatkan kerangka
baru dalam menempatkan berbagai kegiatan sosial di atas.
Kepedulian kepada masyarakat sekitar/relasi komunitas dapat diartikan sangat
luas, namun secara singkat dapat dimengerti sebagai peningkatan partisipasi
dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya
kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas. CSR adalah bukan hanya
sekedar kegiatan amal, di mana CSR mengharuskan suatu perusahaan dalam
pengambilan keputusannya agar dengan sungguh-sungguh memperhitungkan
akibat terhadap seluruh pemangku kepentingan(stakeholder) perusahaan,

termasuk lingkungan hidup. Hal ini mengharuskan perusahaan untuk membuat


keseimbangan antara kepentingan beragam pemangku kepentingan eksternal
dengan kepentingan pemegang saham, yang merupakan salah satu pemangku
kepentingan internal.
"dunia bisnis, selama setengah abad terakhir, telah menjelma menjadi institusi
paling berkuasa diatas planet ini. Institusi yang dominan di masyarakat manapun
harus mengambil tanggung jawab untuk kepentingan bersama.setiap
keputusan yang dibuat, setiap tindakan yang diambil haruslah dilihat dalam
kerangka tanggung jawab tersebut [1]
Sebuah definisi yang luas oleh World Business Council for Sustainable
Development (WBCSD) yaitu suatu suatu asosiasi global yang terdiri dari sekitar
200 perusahaan yang secara khusus bergerak dibidang "pembangunan
berkelanjutan" (sustainable development) yang menyatakan bahwa:
" CSR adalah merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk
bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari
komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan
taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya".[2].
Pelaporan dan pemeriksaan
Untuk menunjukkan bahwa perusahaan adalah warga dunia bisnis yang baik
maka perusahaan dapat membuat pelaporan atas dilaksanakannya beberapa
standar CSR termasuk dalam hal:
* Akuntabilitas atas standar AA1000 berdasarkan laporan sesuai standar John
Elkington yaitu laporan yang menggunakan dasar triple bottom line (3BL)
* Global Reporting Initiative, yang mungkin merupakan acuan laporan
berkelanjutan yang paling banyak digunakan sebagai standar saat ini.
* Verite, acuan pemantauan
* Laporan berdasarkan standar akuntabilitas sosial internasional SA8000
* Standar manajemen lingkungan berdasarkan ISO 14000
Di beberapa negara dibutuhkan laporan pelaksanaan CSR, walaupun sulit
diperoleh kesepakatan atas ukuran yang digunakan untuk mengukur kinerja
perusahaan dalam aspek sosial. Smentara aspek lingkungan--apalagi aspek
ekonomi--memang jauh lebih mudah diukur. Banyak perusahaan sekarang
menggunakan audit eksternal guna memastikan kebenaran laporan tahunan
perseroan yang mencakup kontribusi perusahaan dalam pembangunan
berkelanjutan, biasanya diberi nama laporan CSR atau laporan keberlanjutan.
Akan tetapi laporan tersebut sangat luas formatnya, gayanya dan metodologi
evaluasi yang digunakan (walaupun dalam suatu industri yang sejenis). Banyak
kritik mengatakan bahwa laporan ini hanyalah sekedar "pemanis bibir" (suatu
basa-basi), misalnya saja pada kasus laporan tahunan CSR dari perusahaan
Enron dan juga perusahaan-perusahaan rokok. Namun, dengan semakin

berkembangnya konsep CSR dan metode verifikasi laporannya, kecenderungan


yang sekarang terjadi adalah peningkatan kebenaran isi laporan. Bagaimanapun,
laporan CSR atau laporan keberlanjutan merupakan upaya untuk meningkatkan
akuntabilitas perusahaan di mata para pemangku kepentingannya.
Kasus bisnis dari CSR
Skala dan sifat keuntungan dari CSR untuk suatu organisasi dapat berbeda-beda
tergantung dari sifat perusahaan tersebut dan amat sulit untuk mengukur
walaupun banyak sekali literatur yang memuat tentang cara mengukur seperti
misalnya metode "Empat belas poin balanced scorecard oleh Deming. Orlizty,
Schmidt, dan Rynes[3] menemukan suatu korelasi antara social / performa
lingkungan hidup dan performa keuangan . Namun bisnis nampaknya tidak
menguntungkan apabila diharuskan melaksanakan strategi CSR.
Hasil Survey "The Millenium Poll on CSR" (1999) yang dilakukan oleh Environics
International (Toronto), Conference Board (New York) dan Prince of Wales
Business Leader Forum (London) diantara 25.000 responden di 23 negara
menunjukkan bahwa dalam membentuk opini tentang perusahaan, 60%
mengatakan bahwa etika bisnis, praktek terhadap karyawan, dampak terhadap
lingkungan, tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) akan paling berperan,
sedangkan bagi 40% citra perusahaan & brand image yang akan paling
mempengaruhi kesan mereka. Hanya 1/3 yang mendasari opininya atas faktorfaktor bisnis fundamental seperti faktor finansial, ukuran perusahaan,strategi
perusahaan, atau manajemen.
Lebih lanjut, sikap konsumen terhadap perusahaan yang dinilai tidak melakukan
CSR adalah ingin "menghukum" (40%) dan 50% tidak akan membeli produk dari
perusahaan yang bersangkutan dan/atau bicara kepada orang lain tentang
kekurangan perusahaan tersebut.[4]
Kasus bisnis pada CSR diantara perusahaan-perusahaan biasanya berkisar satu
ataupun lebih dari argumentasi dibawah ini :
Sumber daya manusia
Program CSR dapat dilihat sebagai suatu pertolongan dalam bentuk rekrutmen
tenaga kerja dan memperjakan masyarakat sekitar [5], terutama sekali dengan
adanya persaingan kerja diantara para lulusan sekolah. Akan terjadi peningkatan
kemungkinan untuk ditanyakannya kebijakan CSR perusahaan pada rekrutmen
tenaga kerja yang berpotesi maka dengan memiliki suatu kebijakan
komprehensif akan menjadi suatu nilai tambah perusahaan. CSR dapat juga
digunakan untuk membentuk suatu atmosfir kerja yang nyaman diantara para
staf, terutama apabila mereka dapat dilibatkan dalam "penyisihan gaji" dan
aktivitas "penggalangan dana" atapun suka relawan.
Manajemen risiko

Manajemen risiko merupakan inti dari strategi perusahaan. Reputasi yang


dibentuk dengan susah payah selama bertahun-tahun dapat musnah dalam
sekejap melalui insiden seperti skandal korupsi atau skandal lingkungan hidup.
Kejadian ini dapat menarik perhatian yang tidak diinginkan dari penguasa,
pengadilan, pemerintah dan media massa. Membentuk suatu budaya dari
"mengerjakan sesuatu dengan benar" pada perusahaan dapat mengurangi risiko
ini.[6].
Membedakan merek
Di tengah hiruk pikuknya pasar maka perusahaan berupaya keras untuk
membuat suatu cara penjualan yang unik sehingga dapat membedakan
produknya dari para pesaingnya di benak konsumen. CSR dapat berperan untuk
menciptakan loyalitas konsumen atas dasar nilai khusus dari etika perusahaan..
Ijin usaha
Perusahaan selalu berupaya agar menghindari gangguan dalam usahanya
melalui perpajakan atau peraturan. Dengan melakukan sesuatu 'kebenaran"
secara sukarela maka mereka akan dapat meyakinkan pemerintah dan
masyarakat luas bahwa mereka sangat serius dalam memperhatikan masalah
kesehatan dan keselamatan, diskriminasi atau lingkungan hidup maka dengan
demikian mereka dapat menghindari intervensi. Perusahaan yang membuka
usaha diluar negara asalnya dapat memastikan bahwa mereka diterima dengan
baik selaku warga perusahaan yang baik dengan memperhatikan kesejahteraan
tenaga kerja dan akibat terhadap lingkungan hidup, sehingga dengan demikian
keuntungan yang menyolok dan gaji dewan direksinya yang sangat tinggi tidak
dipersoalkan.
Motif perselisihan bisnis
Kritik atas CSR akan menyebabkan suatu alasan dimana akhirnya bisnis
perusahaan dipersalahkan. Contohnya, ada kepercayaan bahwa program CSR
seringkali dilakukan sebagai suatu upaya untuk mengalihkan perhatian
masyarakat atas masalah etika dari bisnis utama perseroan.