Anda di halaman 1dari 3

LAPORAN CASE STUDY 4BLOK AESTHETIC DENTISTRY 2

Septyan Dwi W. (G1G009047)


SKENARIO KASUS
Denta (7 tahun) datang ke
RSGMP UNSOED ditemani kedua
orang tuanya dengan maksud ingin
dilakukan penambalan ulang karena
tambalan pertamanya lepas. Setelah
dilakukan pemeriksaan oleh dokter gigi
jaga, ternyata gigi belakang kanan atas
tersebut sudah pernah dirawat saluran
akarnya oleh dokter gigi yang lain, hal
ini sesuai dengan pengakuan kedua
orang tuanya. Gigi tersebut sudah
pernah ditambal tiga bulan yang lalu,
tapi sejak seminggu yang lalu lepas.
Dari hasil pemeriksaan objektif terlihat
ada sementasi pada kavitas gigi
tersebut. Perkusi (-), palpasi (-), tidak
terlihat jaringan abnormal disekitarnya.
ANALISIS KASUS
A. Pemeriksaan Subjektif
1. Keluhan Utama (CC): ingin
dilakukan penambalan ulang
karena tambalan pertamanya
lepas.
2. Keadaan Sakit Sekarang (PI):
ingin dilakukan penambalan
ulang
karena
tambalan
pertamanya lepas.
3. Riwayat Dental Sebelumnya
(PDH): pernah dirawat saluran
akar dan penambalan 3 bulan
yang lalu.
4. Riwayat Medis Sebelumnya
(PMH): tidak diketahui.
5. Riwayat Sosial (SH): tidak
diketahui.
6. Riwayat Keluarga (FH): tidak
diketahui.
B. Pemeriksaan Objektif

Hasil pemeriksaan objektif


intra
oral
menunjukan
gigi
belakang kanan atas terlihat ada
sementasi pada kavitas gigi
tersebut. Perkusi (-), palpasi (-),
tidak terlihat jaringan abnormal
disekitar gigi 55.
C. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan
radiograf
berupa periapikal dapat sebagai
pilihan dengan tujuan untuk
mengetahui kelainan dari mahkota,
akar, jaringan sekitar dari gigi 55
serta benih dari gigi permanen.
D. Diagnosis
Diagnosis
dari
kasus
tersebut adalah pulpitis irreversible
gigi 55.
E. Rencana Perawatan
Rencana perawatan yang
diberikan
yaitu
pembuatan
stainless steel crown (SSC) gigi 55.
PROSEDUR PERAWATAN
Prosedur pembuatan stainless
steel crown (SSC) yaitu:
A. Pengukuran Gigi
Sebelum gigi dipreparasi
jarak mesio distal diukur dengan
kaliper. Pengukuran ini bertujuan
untuk memilih besarnya SSC
(Shade Guide) yang akan dipakai,
sesuai dengan besarnya gigi. 2,3
B. Preparasi Gigi
1. Proksimal
Sebelum
melakukan
preparasi,
gigi
tetangga
dilindungi dengan prositektor
atau matrik band. Preparasi
dilakukan
dengan
tapered
diamond
bur,
gerakan
bukolingual mengikuti kontur

PENUGASAN BLOK AESTHETIC DENTISTRY 2 TA. 2012/2013 | 1

LAPORAN CASE STUDY 4BLOK AESTHETIC DENTISTRY 2


Septyan Dwi W. (G1G009047)
proksimal gigi. Pengurangan
dilakukan hingga sonde dapat
dilewatkan
melalui
daerah
2,3
kontak.

2. Bukal dan Lingual


Dengan tapered diamond
bur permukaan bukal dan lingual
dikurangi sedikit mungkin sampai
ke gingival margin karena
merupakan retensi. Sudutsudut
antara
ke-2
permukaan
2,3
dibulatkan.

3. Oklusal
Preparasi
disesuaikan
dengan kehilangan struktur gigi
yang telah terjadi sehingga
menghasilkan preparasi dengan
kedalaman 1-1,5 mm dari
permukaan
oklusal
gigi.
Preparasi menggunakan tapered
diamond bur. 2,3

C. Pemilihan Mahkota
Pertimbangan utama dalam

memilih SSC yang tepat adalah


diameter mesiodistal yang tepat,
ketinggian oklusal yang tepat, dan
resistensi yang ringan saat
penempatan
mahkota.2,3
Pertimbangan pemilihan mahkota
1,2,3
:
1. Diameter mesio distal yang
cukup memadai tinggi oklusal
tepat.
2. Mahkota harus lebih besar
daripada gigi, terutama bila
bagian
gingival
mahkota
dipotong dan ditekuk.
3. Mahkota yang terlalu besar
akan berputar pada preparasi
gigi. Bagian yang dipaskan
terlebih dahulu yaitu bagian
proksimal. Jika sudah pas,
bagian bukal dan lingual
mengikuti. Mahkota jangan
sampai menekan gingiva.
D. Adaptasi Mahkota
Mahkota yang telah dipilih
diuji coba pada gigi. Mahkota
harus sedikit longgar dengan
kelebihan 2 hingga 3 mm pada
daerah
gingival.
Kemudian
dengan scaler, dibuat goresan
sekeliling
margin
gingival
mahkota. Garis goresan ini
menunjukkan garis gingival dan
kontur
gingival.
Lepaskan
mahkota dari gigi yang telah
dipreparasi. Mahkota dipotong 1
mm di bawah garis goresan
dengan menggunakan gunting
crown and bridge (Gambar A).
Mahkota diuji coba kembali
sebelum sementasi. Penting untuk
diperhatikan bahwa tepi mahkota
harus berada tidak lebih dari 1 mm
subgingival. Jika terdapat daerah

PENUGASAN BLOK AESTHETIC DENTISTRY 2 TA. 2012/2013 | 2

LAPORAN CASE STUDY 4BLOK AESTHETIC DENTISTRY 2


Septyan Dwi W. (G1G009047)
pucat pada gingival akibat tekanan
tepi
mahkota,
maka
harus
dilakukan pengurangan kembali.
Dengan crimping plier tepi
SSC dibengkokkan sedikit ke
dalam sekeliling tepi mahkota.
(Gambar B dan C). Mahkota
dipasang kembali pada gigi.
Adaptasi dapat diperiksa dengan
menggunakan sonde pada semua
tepi mahkota. Jika terdapat daerah
tepi yang terbuka, maka daerah
tersebut harus dibentuk kembali
dengan plier (Gambar 3 D). 1,2,3

E. Penyelesaian Mahkota dan insersi


Penyelesaian
terakhir
dilakukan dengan menghaluskan
tepi SSC dengan batu putih dan
dipoles dengan rubber wheel.
Selanjutnya
insersi
dengan
sementasi SSC dengan semen
ionomer kaca (GIC tipe Luting),
semen
seng-fosfat,
atau
polikarboksilat.
Pemasangan
mahkota biasanya dimulai dari sisi
lingual lalu dilanjutkan dengan sisi
bukal.1

diet lunak selama 1 hari pasca


pemasangan dan pembersihan
interdental dengan dental floss
dibantu oleh orang tua pasien.1
KESIMPULAN
Pasien bernama Denta (7
tahun) datang dengan keluhan
utama ingin dilakukan penambalan
ulang karena tambalan pertamanya
lepas. Hasil pemeriksaan intra oral
menunjukan gigi belakang kanan
atas terlihat ada sementasi pada
kavitas gigi tersebut. Perkusi (-),
palpasi (-), tidak terlihat jaringan
abnormal disekitar gigi 55.
Diagnosis yang didapat yaitu
pulpitis irreversible gigi 55.
Rencana perawatan yang diberikan
yaitu pembuatan stainless steel
crown (SSC) gigi 55.
DAFTAR PUSTAKA
1. Andlaw, R. J., Rock, W. P., 1992, A
Manual of Paedodontics, Jakarta:
Widya Medika.
2. Drummond, B., Dental Caries and
restorative Paediatric Dentistry.
Dalam: Handbook of Pediatric
Dentistry. Editor Cameron, AC.
Sydney : Mosby. 2003. hal 51, 59
60.
3. Mathewson,
R.J.,
1995,
Fundamentals of Pediatric Dentistry.
Edisi ke-3. Missouri : Quintessence
Publishing Co, Inc. hal 233 256.

F. Edukasi pasien
Instruksikan pasien untuk

PENUGASAN BLOK AESTHETIC DENTISTRY 2 TA. 2012/2013 | 3