Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS KADAR KAFEIN DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI

ULTRAVIOLET (SPEKTROFOTOMETRI UV)


Wilda Sholihaturrabiah
260110130159
Laboratorium Analisis Fisikokimia Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran e-mail:
wildawildas11@gmail.com
Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Kampus Jatinangor 45363

ABSTRAK
Kafein dengan rumus kimia C8H10N4O2 adalah alkaloid xanthine berbentuk kristal
putih dan pahit rasanya, yang berfungsi sebagai obat stimulan. Untuk mengetahui
cara penetapan kadar suatu senyawa menggunakan instrumen spektrofotometri.
Metode yang dipakai dalam praktikum kali ini adalah metode spektrofotometri UV.
Pada metode spektrofotometri UV pengukuran absorbansi kelima larutan dengan
konsentrasi berbeda memberikan data sebagai berikut, untuk konsentrasi 1 ppm
=0,012767 ; 2 ppm = 0,0377 ; 2.5 ppm = 0,020833; 5ppm = 0,1663;10 ppm =
0,165967; 20 ppm = 0,6122 ; 25 ppm = 0,560433. Dari data tersebut dibuat kurva
kalibrasi sehingga didapat persamaan garis y = 0,025771x-0,01622 dengan r2= 0,932
dan konsentrasi atau kadar sampel (kafein) dapat diketahui.Didapat kadar kafeinnya
dari persamaan garis yaitu sebesar 7,663 ppm.
Kata kunci : Kafein, Penetapan kadar, Spektrofotometri UV.

PENDAHULUAN

Spektrofotometri Ultraviolet. Prinsip

cahaya

dinamakan gugus

kromofor,

kerjanya berdasarkan penyerapan cahaya

contohnya antara lain: C = C, C = O, N =

atau energi radiasi oleh suatu larutan.

N,

Jumlah cahaya atau energi radiasi yang

Molekulmolekul

diserap

pengukuran

mengandung satu gugus kromofor dapat

jumlah zat penyerap dalam larutan

mengalami perubahan pada panjang

secara kuantitatif. Energi radiasi terdiri

gelombang. Molekul yang mengandung

dari

dua gugus kromofor atau lebih akan

memungkinkan

sejumlah

elektromagnetik

besar

gelombang

dengan

panjang

mengabsorpsi

O,

dan

sebagainya.

yang

cahaya

hanya

pada

panjang

gelombang yang berbeda beda. Bagian

gelombang yang hampir sama dengan

bagian suatu radiasi dapat dipisah

molekul yang hanya mempunyai satu

pisahkan

spectrum

gugus kromofor tertentu, tetapi intensitas

elektromagnetik (Pecsok et al. 1976;

absorpsinya adalah sebanding dengan

Skoog & West 1971).

jumlah kromofor yang ada. Interaksi

menjadi

Spektrofotometer adalah alat untuk

antara dua kromofor tidak akan terjadi,

mengukur transmitan atau absorban

kecuali

suatu sampel sebagai fungsi panjang

kromofor itu ada kaitannya. Walaupun

gelombang.

demikian, suatu kombinasi tertentu dari

Sedangkan

menggunakan

pengukuran

spektrofotometer

ini,

kalau

memang

antara

dua

gugus fungsi akan menghasilkan suatu

metoda yang digunakan sering disebut

sistim

dengan spektrofotometri (Basset, 1994).

menimbulkan pita-pita absorpsi yang

Metode Spektrofotometri Ultraviolet


telah banyak diterapkan untuk penetapan
senyawa

senyawa

umumnya

organik

dipergunakan

dapat

dapat

karakteristik (Skoog, 1971).


Pemakaian

Spektrofotometer

Ultraviolet dan Sinar Tampak dalam

untuk

analisis kuantitatif mempunyai beberapa

sangat kecil. Dalam suatu larutan gugus


yang

yang

yang

penentuan senyawa dalam jumlah yang


molekul

kromoforik

mengabsorpsi

keuntungan:

Dapat
banyak

dipergunakan
zat

organik

untuk
dan

anorganik. Beberapa zat harus

kafein dipengaruhi oleh berat kopi bubuk

diubah

yang digunakan. Tingginya kafein yang

menjadi

senyawa

berwarna sebelum dianalisa.

dihasilkan dari penelitian disebabkan

Selektif

oleh

Pada pemilihan kondisi yang

karbonat pada saat pemisahan antara

tepat

kafein dengan senyawa lain, sehingga

dapat

gelombang

dicari
untuk

panjang
zat

yang

dicari.

Mempunyai
sebesar

ketelitian

1%

3%,

tetapi

Dapat dilakukan dengan cepat

METODE PENELITIAN Alat dan


Bahan

Kesalahan interpretasi spektrum UV


dapat

terjadi

apabila

terjadi

perubahan bentuk spektrum UV analit


akibat perlakuan selama analisis, seperti
pengaruh berbagai reagen pada saat
analit

dari

matrik

pembawanya, pengaruh pH fase gerak


pada saat analit dipisahkan dengan KLT,
perbedaan waktu dan suhu selama
pengeringan pelarut pengeluen setelah
plat dielusi (Wirasuta dkk, 2012).
hasil

penelitian

ini

yang digunakan yaitu seperangkat Gelas


ukur 10 ml, pipet tetes, beaker glass,

dan tepat (Triyati, 1985).

Dari

kafein yang dihasilkan dalam basa bebas

Pada praktikum kali ini alat-alat

lagi.

eksktraksi

kalsium

yang

kesalahan ini dapat diperkecil

analit

penambahan

semakin banyak (Maramis dkk, 2013).

tinggi, dengan kesalahan relatif

adanya

dapat

digambarkan bahwa peningkatan kadar

Spektofotometer Ultra Violet, labu ukur,


pipet volume 1 ml dan 2 ml, dan
timbangan analitik.
Adapun bahan yang digunakan
seperti kafein anhidrat sebagai standard,
kafein anhidrat sebagai sampel dan
etanol sebagai pelarut.
Penimbangan
Timbang dengan akurat 50 mg
kafein baku, dimasukkan ke dalam labu
tentukur 100 mL, ditambah etanol
hingga 100 mL (500 bpj).

Penentuan Panjang Gelombang

Pembuatan Kurva Standar

Sebanyak 1 mL dipipet ke dalam

Sebanyak 1 mL dipipet ke dalam

labu tentukur 10 mL, ditambah etanol

labu tentukur 10 mL, ditambah etanol

hingga 10 mL (50 ppm).

Deteksi

hingga 10 mL (50 ppm), lalu dipipet

absorbansi larutan baku pada rentang

sebanyak 1 mL dan diencerkan hingga

panjang gelombang 250-300 nm dengan

10 mL (5 ppm), dipipet 1 mL dan

Spektrofotometer UV.

diencerkan kembali hingga 10 mL (0,5


ppm). Kemudian, sebanyak 2 mL larutan
baku dipipet ke dalam labu tentukur 100
mL, ditambah etanol hingga 100 mL (10
ppm), lalu dipipet sebanyak 1 mL dan
diencerkan hingga 10 mL (1 ppm).
Selanjutnya dibuat serial larutan baku
1,5 ppm, 2 ppm dan 2,5 ppm. Absorbansi
larutan

baku

diukur

gelombang

pada

maksimum

panjang
dengan

spektrofotometer UV. Kemudian dibuat


kurva

standarnya.

persamaan

garis

determinasi (r2).

Dan

tentukan

dan

koefisien

Penentuan Kadar

Sampel
Timbang

sampel

dengan

seksama, dimasukkan ke dalam labu


tentukur 100 mL dan ditambah etanol
hingga 100 mL. Dari larutan tersebut
dipipet 1 mL ke dalam labu tentukur 10
mL, ditambah etanol hingga 10 mL,
kemudian dipipet sebanyak 1 mL dan

diencerkan hingga 10 mL. Serapan

mengandung elektron phi terkonjugasi

sampel diukur pada panjang gelombang

dan

maksimum kafein.

electron-n, meyebabkan transisi elektron

atau

yang

mengandung

di orbital terluarnya dari tingkat energi

HASIL DAN PEMBAHASAN

electron

Pada praktikum kali ini yaitu

dasar

radiasi

metode

banyaknya

Ultra

Violet.

ke

tingkat

energi

tereksitasi lebih tinggi. Besarnya serapan

dilakukan analisis kadar kafein dengan


Sepektometri

atom

tersebut

sebanding

molekul

dengan

analit

yang

Tujuan dari praktikum kali ini yaitu

mengabsorbsi sehingga dapat digunakan

untuk mengetahui kadar kafein dengan

untuk analisis kuantitatif (Setiadarma,

analilsis Spektrofotometri UV. Analisis

2004).
Sampel yang digunakan adalah

dengan metode Sepektrometer UV yaitu


berdasarkan

larutan

perbandingan

kafein

anhidrat.

Dapat

dilihat

dari

konsentasi yang tidak diketahui, dengan

struktur di bawah ini, kafein mempunyai

larutan standar yaitu larutan kafein yang

gugus kromofor. Salah satu gugus

diketahui konsentrasinya.

kromofor

Tetapi pada

praktikum kali ini, sampel adalah larutan


kafein

yang

telah

yaitu

gugus

aromatik

terkonjugasi.

diketahui

konsentrasinya, dan tujuan pengujian ini


adalah untuk membandingkan apakah
konsentrasi yang didapat dari analisis
menggunakan

spektrofotometer

UV

sesuai dengan konsentrasi sebenernya


atau tidak.
metode

Radiasi ultraviolet akan diabsorbsi

Spektrofotometer UV ini adalah radiasi

oleh molekul organik aromatik, molekul

ultaviolet

yang

Prinsip

organik

dasar
diabsorbsi

aromatik,

dari
oleh
molekul

molekul
yang

mengandung

elektron

terkonjugasi seperti pada struktur kafein

yang

mempunyai

terkonjugasi.

Gugus

gugus

aromatik

fungsi

yang

Selanjutnya
gelombang

melihat

maksimum

panjang

dengan

cara

menyerap radiasi di daerah ultraviolet

mengukur absorbansi larutan standar

dekat disebut kromofor dan hampir

diukur pada

kromofor mempunyai ikatan tak jenuh.

digunakan dalam analisis kadar kafein

Jadi, kafein ini bias dideteksi oleh

anhidrat.

spektrofotometer

karena

absorbansi dilakukan pada suatu panjang

mempunyai gugus aromatic terkonjugasi

gelombang yang sesuai dengan serapan

dan gugus kromofor.

maksimum karena konsentrasi besar

UV,

250-300 nm yang

Pengukuran

serapan

atau

Hal pertama yang dilakukan adalah

terletak pada titik ini, artinya serapan

dengan pembuatan larutan standar dari

larutan encer masih terdeteksi. Panjang

kafein anhidrat yang dilarutkan pada

gelombang yang maksimum memiliki

etanol 96% yang dibuat pada variasi

kepekaan

konsentrasi 1 ppm; 2 ppm; dan 2,5 ppm;

perubahan absorbansi yang paling besar

5 ppm; 10 ppm; 15 ppm; 20 ppm dan 25

serta

ppm. Variasi

digunakan

maksimum bentuk kurva absorbansi

untuk membuat kurva standar. Kelarutan

memenuhi hukum LambertBeer. Panjang

dari kafein sendiri yaitu sedikit larut

gelombang maksimum pada pengukuran

dalam etanol, sehingga 50 mg kafein

nilai absorbansi ini adalah 274 nm.

akan dilarutkan dalam 100 mL etanol.

Panjang gelombang maksimum untuk

konsentrasi

Selain itu dibuat juga larutan

maksimal

pada

menyerap

karena

panjang

absorbansi

terjadi

gelombang

maksimum

blanko yang berisi etanol 96%. Larutan

terdapat pada panjang gelombang 273

blanko dibuat dengan tujuan untuk

-274 nm.

mengoreksi serapan yang disebabkan

Hasil pengukuran absorbansi dari

pelarut pereaksi, sel ataupun pengaturan

larutan standar besi tercantum dalam

alat dan mengukur serapan pereaksi yang

Tabel 1.

digunakan untuk analisis kadar kafein


anhidrat.

Konsentrasi (ppm)
1

Absorbansi Rata-rata
0,012767

0,0377 2.5

0,020833

0,1663 10

0,165967

0,6122 konsentrasi dari kafein sehingga


0,560433 terbentuk kurva kalibrasi dan persamaan

20
25

Tabel 1. Hasil Pengukuran Absorbansi

linear.

Berikut

merupakan

kurva

Larutan Standard dengan Berbagai

kalibrasi larutan kafein anhidrat standar.

Konsentrasi pada 274 nm.


Gambar 1. Kurva Kalibrasi Larutan
Standar Kafein Anhidrat.
Berdasarkan kurva yang didapat
dari data abrosrbansi, hal ini sesuai
dengan hukum Lambert Beer, A = b c,
dimana absorbansi berbanding lurus

Kurva Baku Kafein

dengan konsentrasi artinya semakin


besar nilai konsentrasi larutan maka
semakin

tinggi

konsentrasi

larutan

kafein anhidrat maka semakin besar pula


nilai absorbansinya.
y = 0,025771x-0,01622

1.0000
Absorbansi
0.7500
Konsentrasi
0.5000

R =

Selanjutnya

0,932

yaitu

dilakukan

pengukuran untuk sampel larutan kafein


anhidrat

yang

belum

diketahui

0.2500

konsentarsinya yang telah ditambahkan

0.0000

dengan

-0.5000

25

etanol

dilakukan

dengan

spektrofotometer
Setelah
absorbansi

mendapatkan
dari

berbagai

data
variasi

konsentrasi kemudian diplotkan terhadap


konsentrasi sumbu y merupakan serapan

gelombang

96%.
UV

maksimum

Pengukuran
menggunakan
pada
yang

panjang
telah

ditentukan sebelumnya, yaitu 274 nm.


Hasil absorbansi yang diperoleh dapat
dilihat pada Tabel 2.

atau absorbansi sumbu x merupakan

Absorbansi interpretasi spektrum UV analit dapat


Rata-rata terjadi apabila terjadi perubahan bentuk
0,1814
spektrum UV analit akibat perlakuan

Konsentras
i
15 ppm

10

Tabel 2. Hasil Pengukuran Absorbansi

selama

Larutan Sampel pada 274 nm.

berbagai reagen pada saat analisis,

Kadar kafein dalam sampel dapat


dihitung

dengan

menggunakan

analisis,

seperti

pengaruh

pengukuran konsentrasi yang kurang


akurat karena menggunakan pipet tetes

persamaan garis regresi dari kurva

bukan

standar

kontaminan pada kuvet karena pada saat

dimana: x : Konsentrasi kafein anhidrat


pada sampel

bahwa, kadar sampel larutan kafein

a : 0,025771x b : 0,01622

anhidrat

r2= 0,932
Dari persamaan tersebut didapatkan
nilai r2= 0,932. Untuk hasil yang akurat
seharusnya nilai r2 mendekati satu atau
Kurva

tidak

linier

disebabkan kadar sampel saat mebuat


baku

berdasarkan

tidak

sesuai.

perhitungan,

Dan

diperoleh

kadar kafein anhidrat dalam sampel


adalah

KESIMPULAN
Dari penelitian ini dapat disimpulkan

y : Absorbansi rata-rata

larutan

terdapat

yang didapat tidak terlalu bagus.

y= ax+b; x=

0,9999.

volume,

pengambilan kurva reference, kurva

y = 0,025771x-0,01622

sekitar

pipet

7,663 ppm yag

dapat

menggunakan
dengan

ditentukan

dengan

spektrofotometer

menggunakan

UV

panjang

gelombang maksimum 274 nm. Dari


persamaan garis regresi linear kurva
kalibrasi larutan standar y = 0,025771x0,01622, dengan r2= 0,932 dan didapat
kadar sampel kafein anhidrat sebesar
7,663 ppm.

seharusnya

konsentrasi atau kadar kafein yang


dianalisis adalah 15 ppm. Kesalahan

10

DAFTAR PUSTAKA
Basset,

J.

Analisis. Edisi Pertama Cetakan

1994. Kimia

Kuantitatif

Analisis

Anorganik.

Jakarta:

EGC.
Maramis, R.K. 2013. Analisis Kafein
Dalam Kopi Bubuk Di Kota
Manado

Menggunakan

Spektrofotometri Uv-Vis. Jurnal

Pertama. Surabaya: Airlangga


University Press.
Skoog, D.A. And D.M. West 1971. PrinCiples Of

Instrumental

Analysis. Holt, Rinehart And


Winston, Inc., New York.
Triyati, E. 1985. Spektrofotometer

Ilmiah Farmasi UNSRAT Vol. 2

Ultra-Violet Dan Sinar Tampak

No. 04 ISSN 2302 2493. Unsrat

Serta

Manado.

Oseanologi. Oseana, Volume X,

Pecsok, R.L.; L.D. Shileds; T. Cairns;


And

I.G.

Mcwilliam

Dalam

Nomor 1 : 39 - 47, ISSN


02161877.
Wirasuta, I.M. A. G, dkk. 2012. Studi

1976.
Modern Me-Thods Of Chemical
nd

Analysis. 2 Ed. John Wiley &


Sons, Inc., New York.
Satiadarma,

Aplikasinya

K.

2004. Azas

Pengembangan Prosedur

Geseran Spektrum UV Senyawa


Asam Barbiturat Pada Plat AlTLC
Si G 60 F254 Akibat Pengaruh
Perbedaan pH Pengeluen Untuk
Keperluan

Uji

Konfirmasi.

Indonesian Journal of Legal and


Forensic Science 2012; 2(1): 1-4.

11