Anda di halaman 1dari 24

METODE PERHITUNGAN CADANGAN MINYAK

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
Pengertian dan Klasifikasi Cadangan ( Reserve )

A. Pengertian Cadangan (Reserve)


Cadangan (reserves) adalah perkiraan volume minyak , kondensat , gas alam , natural
gas liquids dan substansi lain yang berkaitan secara komersial dapat diambil dari jumlah yang
terakumulasi di reservoir dengan metode operasi yanga ada dengan dengan kondisi ekonomi dan
atas dasar regulasi pemerintah saat itu. Perkiraan cadangan didasarkan atas interpertasi data
geologi dan atau engineering yang tersedia pada saat itu.
Cadangan biasanya direvisi begitu reservoir diproduksikan seiring bertambahnya data
geologi dan atau engineeringyang diperoleh atau karena perubahan kondisi ekonomi.
Perhitungan cadangan melibatkan ketidakpastian yang tingkatannya sangat tergantung pada
tersedianya jumlah data geologi dan engineering yang dapat dipercaya. Atas dasar ketersediaan
data tersebut maka cadangan digolongkan ,menjadi dua , yaitu proved reserve dan unproved
reserve. Unproved reserve memiliki tingkat ketidakpastian yang lebih besar dari proved reserves
dan digolongkan menjadi probable dan possible.

B. Proved Reserve
Proved reserve dapat diperkirakan dengan cukup teliti untuk dapat diambil atas dasar
kondisi ekonomi saat itu (current economic conditions). Kondisi ekonomi tersebut harga dan
biaya pada saat dilakukan perkiraan (perhitungan) reserve. Proved reserve digolongkan menjadi
developed atau undeveloped. Pada umumnya reserve disebut proved jika kemampuan produksi
reservoir secara komersial didukung oleh uji produksi (production test) atau uji lapisan
produktifitas sumur atau reservoir semata. Pada kasus-kasus tertentu , proved reserves mungkin

dapat dihitung berdasarkan analisa data log atau data core yang menunjukkan bahwa kandungan
reservoir adalah hidrokarbon dan memiliki kesamaan dengan reservoir didaerah yang sama yang
sedang diproduksi , atau telah dibuktikan dapat diproduksi saat dilakukan uji lapisan (formation
test).

C. Unproved Reserve
Unproved reserve didasarkan pada data geologi dan atau engineering seperti halnya yang
digunakan untuk menentukan proved reserve , tetapi ketidakpastiannya secara teknik , ekonomi ,
kontrak , dan regulasi lebih besar. Perhitungan unproved reserve dapat dibuat untuk perencanaan
internal atau evaluasi khusus. Unproved reserve tidak bisa ditambahkan dalam proved reserve.
Unproved reserve dibagi lagi menjadi dua , yaitu :

1. Probable Reserve
Probable reserves meliputi :
a. Reserve yang diperkirakan menjadi proved jika dilakukan pemboran dimana data subsurface
belum cukup untuk menyatakannya sebagai proved.
b. Reserve dalam formasi yang produktif berdasarkan data log tetapi tidak memiliki data core atau
tes lain yang definitive (seperti uji produksi atau uji lapisan) dan tidak serupa dengan reservoir
c.

yang proved atau berproduksi dalam daerah tersebut.


Penambahan reserve (incremental reserve) karena adanya infill drilling tetapi saat itu beluum

disetujui tentang well spacing yang lebih kecil.


d. Reserve akibat metode improved recovery yang telah dibuktikan dengan serangkaian tes yang
berhasil selama perencanaan dan persiapan pilot project atau program tersebut, tetapi belum
beroperasi sementara sifat batuan , fluida dan karakteristik reservoir mendukung keberhasilan
aplikasi metode improved recovery secara komersial.
e. Reserve dalam daerah suatu formsi yang telah terbukti produktif didaerah lain pada lapangan
yang sama tetapi daerah tersebut dipisahkan oleh padatan dan interpretasi geologi menunjukkan
bahwa daerah itu lebih tinggi dari daerah yang terbukti produktif.
f. Reserve karena adanya workover , treatment , perubahan peralatan atau prosedur mekanik
lainnya dimana prosedur tersebut belum terbukti berhasil pada sumur-sumur yang memiliki sifat
dan kelakuan yang sama direservoir yang sama.
g. Penambahan reserve di proved producing reservoir dimana alternatif interpretasi tentang kinerja
dan data volumetrik mengisyaratkan reserve yang lebih besar dari reserve yang telah
digolongkan sebagai proved.

2. Possible Reserve
Possible reserve meliputi :
a. Reserve yang dibuat dengan ekstrapolasi struktur atau statigrafi diluar dari daerah yang telah
digolongkan sebagai probable , berdasarkan interpretasi geologi dan geofisik.
b. Reserve dalam formasi yang berproduktif berdasarkan pada data log atau core tetapi produksinya
c.

dibawah produksi yang komersial.


Penambahan reserve (incremental reserve) karena adanya infill drilling berdasarkan data yang

secara teknik memiliki tingkat ketidakpastian tinggi.


d. Reserve akibat metode improved recovery yang telah dibuktikan dengan serangkaian tes yang
berhasil selama perencanaan dan persiapan pilot project atau program tersebut , tetapi belum
beroperasi sementara sifat batuan , fluida dan karakteristik reservoir meragukan aplikasi metode
improved recovery komersial.
e. Reserve dalam daerah suatu formasi yang telah terbukti produktif didaerah lain pada lapangan
yang sama tetapi daerah tersebut dipisahkan oleh patahan dan interpretasi geologi menunjukkan
bahwa daerah itu lebih rendah dari daerah yang terbukti produktif.

1.2

TUJUAN
Membuat perkiraan cadangan minyak

1.3

RUMUSAN MASALAH

1. Jelaskan masing-masing metode perhiyungan cadangan minyak ?


2. Tuliskan perbandingan metode perhitungan metode cadangan !

BAB II
Metode Perhitungan Cadangan

2.1.

MACAM-MACAM METODE PERHITUNGAN CADANGAN


Ada beberapa metode perhitungan cadangan yang dapat di pilih berdasarkan pada
seberapa banyak data, waktu, serta dana yang kita miliki. Metode metode tersebut adalah:

a. Metode analogi
b. Metode volumetric

c. Metode decline curves


d. Metode material balance
e. Metode simulasi reservoir

A. Metode analogi
Analogi /statistic metode biasa nya di gunakan untuk prospek belum dibor, dan untuk
melengkapi metode volumetric dalam bidang atau tahap awal reservoir dari pengembangan dan
produksi. Selain itu, metode yaqng dapat di gunakan untuk memperkirakan cadangan traktat
belum dibor di bidang sebagian di kembangkan atau reservoir.
Metode volumetric mencoba untuk menentukan jumlah minyak di tempat dengan
menggunakan ukuran reservoir serta sifat batuan dan cairan. Kemudian di tempat dengan
menggunakan ukuran reservoir serta sifat batuan dan cairan. Kemudian faktor pemulihan di
asumsikan, dengan mengguanakan asumsi dari bidang dengan karakteristik serupa. OIP
dikalikan dengan factor pemulihan untuk sampai pada nomor cadangan.
Metodologi ini di dasari pada asumsi bahwa bidang analog, reservoir, atau baik adalah
sebanding dengan field perihal, reservoir, atau baik, tentang aspek-aspek yang recovery control
utama minyak atau gas. Kelemahan metode ini adalah bahwa validitas asumsi ini tidak dapat di
tentukan sampai bidang subjek atau reservoir telah dio produksi berkelanjutan.
Analogi

dilakukan

apabila

data

minim(misalnya sebelum eksplorasi). Perlu di ingat bahwa seminimum apapun datanya, pembuat
keputusan memerlukan angka cadangan dan

keekonomian yang dapat di tentukan dengan

mengguanakan barrels per acre foot (BAF).


Ket

: porositas rata-rata

(%)

Swi : Saturasi awal rata-rata

(%)

Boi

: Faktor formasi volume minyak awal

( RB / STB )

RF

: Recovery Factor

(%)

B. Metode volumetric
Pada metode ini perhitungan didasarkan pada persamaan volume, data-data yang
menunjang dalam perhitungan cadangan ini adalah porositas dan saturasi hidrokarbon.
Persamaan yang di gunakan dalam metode volumetric adalah IGIP (initial gas in place) atau
IOIP(initial oil in place). Yang di gunakan dalam perhitungan ini adalah data dari peta isopach.
Peta isopach yaitu: salah satu peta geology yang menampilakan ketebalan lapisan suatu
daerah (reservoir). Peta ini juga di susun berdasarkan peta kombinasi iso-struktur, sehingga
ketebalan lapisan di bawah permukaan dapat di hitung.

IGIP
Ket

:A

: Luas pengeringan

(Acres)

: Ketebalan rata-rata formasi (foot)

: Porositas rata-rata

(%)

Swi

: Saurasi awal

(%)

Bgi

: Faktor formasi volume gas ( cuft/SCF )

RF

: Recovery Factor

(%)

IOIP
Ket

:A
h

: Luas pengeringan

(Acres)

: Ketebalan rata-rata formasi

(foot)

: Porositas rata-rata

(%)

Swi

: Saurasi awal

(%)

Boi

: Faktor formasi volume minyak awal

( RB/STB )

RF

: Recovery Factor

(%)

C. Metode decline curves


Kurva penurunan di gunakan ketika reservoir telah diproduksi untuk beberapa waktu dan
telah menunjukkan kecendrungan yang di amati ( penurunan ) maju dalam tingkat produksi.
Teknik ini adalah untuk membangun sebuah grafik laju produksi terhadap waktu pada
skala semi- log ( di mana tingkat produksi dalam skala log dan waktu pada skala normal) dan
kemudian meramalkan tren diamati (penurunan) maju dalam waktu.
Metode ini di dasakan pada konsep keseimbangan massa. Sederhananya, massa apapun di
wadah sama dengan massa awalnya dalam wadah, kurang apa yang telah di bawa keluar, di
tambah apa yang telah di tambah ini cara lain berfikir tentang ini adalah jika anda memiliki
sebuah wadah besar dengan tetap.

D. Metode material balance

a.
ket

Metode straight line material balance ( havlene and odeh )


: Gp

: produksi kumulatif gas

: cadangan gas awal

Bg

: faktor volume formasi gas

( cuft/SCF )

Bgi

: faktor volume formasi gas awal

(cuft/SCF )

b. Metode P/Z Vs Gp
Initial Gas in place dan cadngan gas dapat di tentukan tanpa harus mengetahui harga A, h,
Q, dan S w. jika data kumulatif produksi dan tekanan reservoir cukup tersedia, yaitu dengan
membuat kesetimbangan massa atau mol dari gas.

Mol produksi = mol awal di tempat - mol tersisa

Untuk menerapkan metode ini, di butuh kan pengetahuan tentang teknik reservoir.
Material balance dapat digunakan untuk berbagai m,acam tujuan antara lain:
-

Memperkirakan isi hidrokarbon awal di tempat

Memperkirakan kinerja reservoir di massa datang

Memperkirakan jumlah air yang merembes daaquifer

Menentukan ukuran dari tudung gas(gas cap)

E.

Metode Simulasi Reservoir


Metode ini terdiri dari membuat atau memilih model, mengumpulkan dan memasukkan

data ke model, history matching dan peramalan. Untuk melakukannya di butuhkan pengetahuan
teknik reservoir dan teknik computer.
Simulasi reservoir merupakan aplikasi konsep dan teknik pembuatan model matematis
dari suatu system reservoir dengan tujuan agar mendapatkan hidrokarbon (minyak) secara

optimal dan ekonomis, model matematis ini terdiri dari persamaan - persamaan yang mengatur
aliran dengan metode solusi algorithma, sedangkan simulator adalah suatu kumpulan program
computer yang mengaplikasikan model matematik ke dalam computer, dan untuk mencapai
tujuan yang di harapkan maka membutuhkan skripsi reservoir, metodologi perhitungan
hidrokarbon dan distribusi tekanan sebagai fungsi waktu dan jarak yang tepat.
Simulasi Reservoir merupakan salah satu cara yang digunakan untuk:
a.

Memperkirakan isi minyak gas awal dalam reservoir.

b. Indentifikasi besar dan pengaruh aquifer (cadangan air).


c.

Identifikasi pengaruh patahan dalam reservoir.

d. Memperkirakan distribusi fluida.


e.

Identifikasi adaya hubungan antar layer secara vertikal.

f.

Peramalan produksi untuk masa yang akan datang.

g. Peramalan produksi dengan memasukkan alternatif pengembangan :


Jumlah penambahan sumur produksi
Jenis/cara menambah produksi
Jumlah penambahan sumur injeksi
Sistem/bentuk/luas pattern
h. Membuat bebarpa kasus untuk optimalisasi produksi minyak
Peralatan yang digunakan pada metode simulasi reservoir antara lain :
Perangkat keras (komputer)
Perangkat lunak (simulator)
Reservoir sebagai model
Langkah-langkah yang dilakukan untuk menggunakan metode simulasi reservoir adalah :
Persiapan data
Inisialisasi
Penyelarasan
Peramalan
Keekonomian

2.2

PERBANDINGAN METODE PERHITUNGAN CADANGAN

Metode

Data yang Dibutuhkan


Kelebihan

Kekurangan

Analogi

Data sumur atau

- Cepat dan murah,Kurang telliti

lapangan sekitarnya

- Bisa dilakukan
sebelum pemboran

Volumetrik

- Data log dan core

Informasi

Perkiraan

- Perkiraan luas

minimal,cepat

kurang tepat

- RF dan

dapatdilakukan di

- Sifat fluida

awal produksi

Material
- Data tekanan

Tidak perlu perkiraan

Dibutuhkan

balance- Data Produksi

luas, RF dan ketebalan banyak informasi

- Fluida dan
- batuan
DeclineData Produksi

Cepat dan murah

Curve
Simulasi
Reservoir

Dibutuhkan
kondisi konstan

- Data material
balanceuntuk tiap sel
- Data sumur dan

Lebih mampu

Mahal dan butuh

menjelaskan secara

waktu lebih lama

rinci

- Data geologi

BAB III
Penutup
3.1. KESIMPULAN
Cadangan (Reserves) adalah perkiraan volume minyak, kondensat, gas alam, natural gas
liquids dan substansi lain yang berkaitan yang secara komersial dapat diambil dari jumlah yang
terakumulasi di reservoir dengan metode operasi yang ada dengan kondisi ekonomi dan atsa
dasar regulasi pemerintah saat itu. Perkiraan cadangan didasarkan atas interpretasi data geologi
dan/atau engineering yang tersedia pada saat itu.

Cadangan biasanya direvisi begitu reservoir diproduksikan seiring bertambahnya data


geologi dan/atau engineering yang diperoleh atau karna perubahan kondisi ekonomi. Perhitungan
cadangan melibatkan ketidakpastian yang tingkatnya sangat tergantung pada tersedianya jumlah
data geologi dan engineering yang dapat dipercaya. Atas dasar ketersediaan data tersebut maka
cadangan digolongkan menjadi dua, yaitu proved reserves dan unproved reserves. Unproved
reserves memiliki tingkat ketidakpastiaan yang lebih besar dari proved reserves dan digolongkan
menjadi probable dan possible.

3.2 KRITIK DAN SARAN


Dalam makalah ini penulis mengharapkan apa yang bermanfaat dalam makalah ini
hendaknya pembaca bisa mengambil ilmu sebagai penambahan wawasan tentang metode
perhitungan cadangan.

DAFTAR PUSTAKA
http://bellampuspita.blogspot.com/2012/03/metode-perhitungan-cadangan-minyak.html

Cadangan Minyak
1. Pengertian Cadangan (Reserves)
Cadangan (reserves) adalah perkiraan volume minyak, kondensat, gas alam, natural gas liquids
dan substansi lain yang berkaitan yang secara komersial dapat diambil dari jumlah yang
terakumulasi di reservoir dengan metode operasi yang ada dengan kondisi ekonomi dan atas
dasar regulasi pemerintah saat itu. Perkiraan cadangan didasarkan atas interpretasi data geologi
dan/atau engineering yang tersedia pada saat itu.
Cadangan biasanya direvisi begitu reservoir diproduksikan seiring bertambahnya data geologi
dan/atau engineering yang diperoleh atau karena perubahan kondisi ekonomi.
Perhitungan cadangan melibatkan ketidakpastian yang tingkatnya sangat tergantung pada
tersedianya jumlah data geologi dan engineering yang dapat dipercaya. Atas dasar ketersediaan
data tersebut maka cadangan digolongkan menjadi dua, yaitu proved reserves dan unproved
reserves. Unproved reserves memiliki tingkat ketidakpastian yang lebih besar dari proved
reserves dan digolongkan menjadi probable atau possible.

2 Klasifikasi Cadangan
2.1 Proved Reserves
Proved reserves dapat diperkirakan dengan cukup teliti untuk dapat diambil atas dasar kondisi
ekonomi saat itu (current economic conditions). Kondisi ekonomi tersebut termasuk harga dan
biaya pada saat dilakukan perkiraan (perhitungan) reserves. Proved reserves digolongkan
menjadi developed atau undeveloped.
Pada umumnya reserves disebut proved jika kemampuan produksi reservoir secara komersial
didukung oleh uji produksi (production test) atau uji lapisan (formation test). Terminology
proved menunjukan pada volume reserves dan tidak pada produktifitas sumur atau reservoir
semata. Pada kasus-kasus tertentu, proved reserves mungkin dapat dihitung berdasarkan analisa
data log dan/atau data core yang menunjukan bahwa kandungan reservoir adalah hidrokarbon
dan memiliki kesamaan dengan reservoir di daerah yang sama yang sedang diproduksi, atau telah
dibuktikan dapat diproduksi saat dilakukan uji lapisan (formation test).
Luas reservoir yang dapat dikatakan proved meliputi :
1. Daerah yang dibatasi sumur delineasi dan dibatasi oleh garis kontak fluida (fluida contacts),
jika ada
2. Daerah yang belum dibor yang diyakini produktif secara komersial atas dasar data geologi dan
engineering yang tersedia
Jika tidak ada fuida contacts, batas dari proved reserves adalah struktur yang telah diketahui
mengandung hidrokarbon terkecuali jika ada data engineering dan kinerja reservoir yang cukup
definitive.
Dikatakan proved reserves jika memiliki fasilitas untuk melakukan proses dan transportasi
hidrokarbon pada saat perkiraan cadangan, atau ada komitmen untuk memasang fasilitas tersebut
nantinya.
Proved undeveloped reserves merujuk pada lokasi yang belum dibor dan memenuhi criteria
berikut :
1. Lokasinya adalah offset dari sumur yang telah terbukti dapat berproduksi secara komersial
pada formasi yang sama,
2. Lokasinya di dalam batas-batas zona produktif yang telah dinyatakan sebagai proved,
3. Lokasinya sesuai dengan regulasi saat ini tentang penetapan well spacing, jika ada, dan
4. Perlu dipastikan bahwa lokasi tersebut akan dikembangkan (diproduksikan).
Di luar empat kriteria tersebut, lokasi yang belum dibor digolongkan proved undeveloped jika
berasarkan interpretasi data sumur-sumur yang ada menunjukan bahwa formasi tersebut kontinyu
secara lateral dan mengandung hidrokarbon yang dapat diambil secara komersial.
Reserves yang dapat diproduksikan dengan menggunakan metode atau teknik improved recovery
digolongkan sebagai proved apabila :
1. Ditunjukan oleh keberhasilan testing dari proyek percontohan (pilot project) atau dari produksi
atau dari respon tekanan dari metode tersebut yang dilakukan pada reservoir itu, atau di reservoir
yang berdekatan dengan sifat-sifat batuan dan fluida yang serupa mendukung analisa
engineering, dan
2. Proyek improved recovery tersebut pasti akan dilakukan
Reserves yang akan diambil dengan improved recovery methods yang perlu melalui keberhasilan
serangkaian tes digolongkan sebagai proved hanya Setelah produksi yang cukup baik dari

reservoir itu, baik dari pencontohan (representative pilot) maupun dari yang sudah terpasang
(installed program), dan proyek improved recovery tersebut pasti akan dilakukan.
http://riahani.blogspot.com/2011/05/cadangan-minyak.html

DECLINE CURVE
DECLINE CURVE
Metode untuk mengestimasi cadangan suatu reservoir dapat dikategorikan dalam
dua bagian, yaitu; berdasarkan karakteristik reservoir dan berdasarkan prilaku
produksi reservoir (reservoir production performance). Estimasi cadangan reservoir
berdasarkan karakteristik reservoir misalnya dengan metode volumetrik, sedangkan
estimasi cadangan reservoir berdasarkan prilaku produksi reservoir dengan
menggunakan metode decline curve.
Estimasi cadangan dengan decline dapat dilakukan hanya dengan terlebih dahulu
melakukan peramalan produksi sampai batas ekonomi limitnya. Peramalan produksi
sampai batas ekonomi limitnya didasarakan hubungan antara laju alir untuk setiap
waktu (qt vs t, Gambar 3.1) dan hubungan antara laju alir setiap waktu dengan
kumulatif produksinya (qt vs Npt, Gambar 3.2).
Gambar 3.1.
Grafik Laju Produksi Vs Waktu2)
Gambar 3.2.
Grafik Laju Produksi Vs Produksi Kumulatif2)
Pada umumnya sumur produksi akan ditinggalkan pada saat biaya untuk
memproduksikan lebih besar dari keuntungan yang diperoleh. Prinsip ini adalah
prinsip ekonomi limit; biaya produksi harus sama dengan pendapatan yang
diterima. Kerugian secara ekonomi akan terjadi jika tetap melanjutkan produksi
diluar statemen ini. Dasar estimasi cadangan dengan decline curve terletak pada
besarnya ekonomi limitnya. Besarnya ekonomi limit ini juga menentukan umur
produksi dan jumlah cadangan minyak yang akan diproduksikan.
3.1. Pengertian OOIP dan Cadangan Reservoir
Pada mulanya hidrokarbon terbentuk dari bahan organik pada batuan induk (source
rock). Karena proses penekanan maka hidrokarbon pada batuan induk tersebut
berpindah ke batuan waduk (reservoir rock) yang selanjutnya akan bermigrasi
melalui jalur migrasi (carrier rock) ke suatu perangkap (trap). Pada lapisan atas
perangkap reservoir ini terdapat batuan penyekat (cap rock), sehingga dapat
dikatakan dengan kondisi tersebut diatas maka hidrokarbon tersebut tidak dapat
lagi berpindah kecuali ada energi luar yang melakukannya.

Gambar 3.3
Akumulasi Minyak dan Gas Bumi pada Perangkap Antiklin dan Proses Migrasi dari
Minyak dan Gas Bumi3)
3.1.1. Estimasi Jumlah Minyak Mula-mula di Reservoir (Estimated Original Oil in
Place OOIP)
Estimated Original Oil in Place (Ni) adalah estimasi jumlah total hidrokarbon mulamula yang terperangkap dalam reservoir, baik yang bisa diproduksikan maupun
yang tidak dapat diproduksikan (Gambar 3.3).
3.1.2. Estimasi Jumlah Cadangan Minyak yang Bisa Diproduksikan (Estimated
Ultimate Recovery -EUR)
Estimated Ultimate Recovery (EUR) adalah estimasi jumlah cadangan minyak yang
bisa diproduksikan sesuai dengan teknologi, kondisi ekonomi dan peraturanperaturan yang ada pada saat itu dan diproduksikan sampai batas ekonominya.
Definisi ini dengan memperhitungkan pemikiran-pemikiran berikut:
Pertama, untuk menyatakan bahwa banyaknya minyak dan gas bumi sebagai
cadangan maka minyak dan gas bumi itu haruslah diproduksikan.
Kedua, minyak dan gas bumi harus secara ekonomis menguntungkan untuk
diproduksikan dengan teknologi yang ada pada saat diproduksikan.
Ketiga, dikarenakan minyak dan gas bumi belum diproduksikan dan tidak
memungkinkan untuk dilihat atau diukur kedalam reservoir minyak dan gas bumi
maka satu-satunya cara hanyalah melakukan estimasi atau perkiraan.
Keempat, dikarenakan cadangan yang ada adalah cadangan sisa, maka akan ada
ukuran waktu produksi yang berhubungan setiap cadangan yang diperkirakan.
3.1.3. Estimasi Cadangan Sisa (Estimated Remaining Reserve -ERR)
Dalam penulisan ini, yang dimaksud dengan Estimated Remaining Reserve (ERR)
adalah estimasi cadangan yang masih tertinggal di reservoir yang dapat
diproduksikan dengan teknologi yang ada. Ditinjau dari konsep decline curve ,
estimated remaining reserve adalah equivalen dengan estimasi produksi kumulatif
sampai ekonomi limitnya tercapai (Npta).
Salah satu konsep dasar dari peramalan metode decline curve adalah tidak ada
perubahan metode produksi, jadi jumlah total estimasi produksi kumulatif sampai
ekonomi limitnya tercapai bukanlah nilai akhir yang bisa diproduksikan dari sumur
produksi karena jika metode produksinya dirubah (misalnya dengan metode EOR),
maka akan ada cadangan sisa lagi yang akan bisa diproduksikan, dimana besarnya
tergantung dari jumlah minyak mula-mula (Ni) yang ada didalam reservoir dan
teknologi yang digunakan.
3.1.4. Produksi Kumulatif (Cumulative Production)
Produksi kumulatif atau Actual Cumulative Production (Npt) adalah jumlah
hidrokarbon yang telah diproduksikan sampai waktu t.

3.1.3. Recovery Factor (RF)


Recovery Factor (RF) adalah perbandingan antara estimated ultimate recovery
(EUR) dengan estimated original oil in place (Ni).
(3-1)
Perhitungan estimasi jumlah cadangan minyak yang bisa diproduksikan (EUR) dapat
dilakukan dengan membuat persamaan matematis yaitu:
EUR = Cum + ERR (3-2)
Gambar 3.4.
Grafik Profil Kumulatif Produksi Vs Laju Alir
Dimana:
EUR = Estimated Ultimate Recovery
Cum = Actual Cumulative Recovery
ERR = Estimated Remaining Reserved
dalam konteks decline curve, EUR adalah Npa, Cum adalah Npt, ERR adalah Npta,
maka :
EUR = Npt + Npta (3-3)
Dimana harga Npt didapat dari data produksi dan Npta dari hasil plot antara laju
produksi pada setiap waktu t (qt) dengan kumulatif produksi setiap waktu t (Npt).
3.2. Peramalan Produksi Dengan Decline Curve
Estimasi cadangan reservoir dan peramalan produksi yang akan datang adalah
bagian penting daripada proses evaluasi pada industri minyak dan gas bumi, tapi
pekerjaan tersebut bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan dan membutuhkan
suatu ketelitian. Kedua masalah tersebut kemungkinan dapat diselesaikan dengan
metode-metode perhitungan yang ada (misalnya: Material Balance, decline curve
dan Simulasi Reservoir). Metode material balance dan simulasi resevoir
kemungkinan tidak dapat dilakukan dikarenakan beberapa data yang dibutuhkan
tidak tersedia, perhitungan dibatasi oleh waktu yang ada atau adanya kebutuhan
yang mendesak terhadap informasi yang diinginkan. Untuk itu dibutuhkan suatu
metode yang dapat digunakan dengan cepat tanpa mengabaikan keakuratan atau
kualitas dari output yang dihasilkan, dimana metode tersebut adalah Decline Curve.
Decline Curve (analisa kurva penurunan produksi) adalah salah satu metode untuk
melakukan peramalan produksi yang akan datang dimana konsep dasarnya adalah
trend atau pola produksi dimasa lampu diperkirakan akan terjadi juga dimasa yang
akan datang. Decline curve adalah metode yang paling umum digunakan dalam
peramalan produksi karena mempunyai beberapa kelebihan-kelebihan disamping
beberapa kelemahannya. Kemudahan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan,
kemudahan untuk memplot data, hasilnya berbasiskan waktu dan kemudahan
untuk melakukan analisa adalah kelebihan-kelebihan dari decline curve. Adapun
kelemahannya adalah dibutuhkan paling sedikitnya enam bulan data sejarah
produksi (lebih baik minimal 2 tahun), dan tidak dapat digunakan untuk perubahan

metode produksi.
Decline curve, seperti yang digunakan saat ini adalah plot laju produksi vs waktu
dan plot laju produksi vs kumulatif produksi pada semilog, log-log maupun pada
kertas spesial dengan skala yang sudah pasti tapi yang paling umum adalah pada
semilog.
3.2.1. Ekonomi Limit
Suatu keputusan untuk meninggalkan suatu sumur produksi seharusnya
berdasarkan suatu hubungan yang relevan antara pendapatan (revenue) dan
pengeluaran (expenses or cost). Persamaan berikut ini dapat digunakan untuk
menghitung laju produksi yang dapat digambarkan sebagai pendapatan (revenue)
didalam US Dollar adalah sama dengan pengeluaran (cost). Kondisi ini disebut
sebagai ekonomi limit (the economic limit).
(3-4)
Dimana:
= economic limit, bbl/day
OPC = monthly operating cost, $/month
SP = sales price (harga jual), $/bbl
3.2.2. Nominal dan Effective Decline
Effective decline rate per unit waktu adalah laju penurunan produksi dari qi
menjadi qt selama selang waktu tertentu (1 bulan atau 1 tahun) dibagi dengan laju
produksi mula-mula, atau secara matematis bisa dituliskan sebagai berikut:
(3-5)
Dimana:
qi = laju produksi mula-mula
q = laju produksi pada waktu t
De = effective decline rate
Nominal (atau continuous) decline rate adalah negative slope dari kurva yang
ditunjukkan hasil plot antara laju produksi (q) vs waktu (t), seperti yang ditunjukkan
Persamaan 3-6, berikut:
(3-6)
Dimana:
D = Nominal decline rate, 1/waktu (selalu positif)
dq/dt = perubahan laju produksi akibat bertambahnya waktu
Nominal decline rate selalu berubah dengan bertambahnya waktu kecuali pada tipe
constant percentage decline dimana harga D adalah konstan. Hubungan antara
effective decline rate dengan nominal decline rate akan dibahas pada masingmasing tipe kurva penurunan produksi.
3.2.3. Jenis Decline Curve
Pada saat ini persamaan kurva penurunan produksi ada tiga tipe yaitu; exponential

decline curve, hyperbolic decline curve dan harmonic decline curve.


3.2.3.1. Exponential Decline Curve
Biasanya suatu garis lurus akan dihasilkan jika laju produksi (q) diplot dengan waktu
(t) pada kertas semilog tapi hasil plot antara laju produksi (q) dan kumulatif
produksi (Np) akan menghasilkan garis cembung seperti terlihat pada Gambar 3.5.
Keadaan ini sering disebut sebagai sebagai exponential decline. Exponential decline
biasa juga disebut sebagai constant percentage decline karena terminologi ini telah
digunakan sejak awal tahun 1900 an dimana baik exponential decline maupun
constant percentage decline akan menunjukkan suatu garis lurus pada kertas
semilog jika harga laju alir (q) di plot dengan waktu (t).

Gambar 3.5.
A. Bentuk Exponential Decline, Laju produksi (q) Vs Waktu (t)
B. Bentuk Exponential Decline, Laju produksi (q) Vs Kumulatif Produksi (Np)
Persamaan exponential decline pada kertas semilog dapat dituliskan sebagai
berikut:
(3-7)
dan nominal exponential decline rate-nya adalah:
(3-8)
Jika ekonomi limitnya diketahui ( ) maka dapat diketahui umur produksi hingga
batas perolehan akhir (ultimate recovery reserve) yaitu:
(3-9)
Dimana:
= laju produksi pada waktu t, vol/unit time
= laju produksi pada mula-mula, vol/unit time
= laju produksi abandonment, vol/unit time
D = nominal exponential decline rate, 1/time
t = waktu (time)
ta = umur produksi (time)
e = bilangan logaritma natural, (2,71828)
Apapun unit yang digunakan tidak masalah selama unit q dan unit qi adalah sama
demikian juga D dan t haruslah sama.
1. Hubungan Laju Produksi dengan Nominal dan Effective Decline
Persamaan 3-8, memperkenalkan nominal decline rate (D). Jika berbicara mengenai
data produksi, secara tak langsung akan berpikir tentang effective decline rate,
dimana effective decline rate didefinisikan sebagai berikut:
(3-10)
Dari Persamaan 3-7, dan Persamaan 3-10, maka akan dapat dicari hubungan antara
nominal dan effective decline sebagai berikut:

Untuk t = 1 periode ( 1 tahun atau 1 bulan), misalnya 1 bulan


(3-11)
(3-12)
Nominal decline sebagai fungsi dari effective decline ditunjukkan dengan
Persamaan 3-13, berikut:
(3-13)
atau effective decline sebagai fungsi dari nominal decline ditunjukkan dengan
Persamaan 3-14, berikut:
(3-14)
Pada dasarnya untuk menghitung laju produksi pada waktu t, baik dengan metode
nominal decline maupun dengan effective decline akan memberikan hasil
perhitungan yang sama. Contoh berikut akan memberikan gambaran tentang hal
tersebut:
Dari data produksi diketahui sumur x telah mengalami penurunan produksi dari
500 bopd menjadi 450 bopd selama 1 bulan. Dari data produksi tersebut hitung laju
produksinya setelah 11 bulan kemudian, dengan menggunakan nominal exponential
decline maupun dengan effective decline sebagai berikut:
Perhitungan dengan Nominal Decline:
qi = 500 bopd
q = 450 bopd
t = 1 mo
D=
D = 0,10536/month
laju produksi pada saat akhir 1 tahun

141,2 bopd
Perhitungan dengan Effective Decline:
=
De dikonversikan ke tahun:
1 - Dey = (1-Dem)12
1 - Dey = (1-0,1)12
Dey = 0,7176/year
laju produksi pada saat akhir 1 tahun
141,2 bopd
2. Produksi Kumulatif
Evalusi tentang produksi minyak akan lebih menarik jika berbicara tentang berapa
jumlah minyak yang terproduksi setiap tahunnya daripada laju produksi setiap hari
ataupun setiap bulannya. Produksi kumulatif untuk setiap waktu t dapat dilakukan
dengan menggabungkan Persamaan 3-7, untuk setiap perubahan waktu (dt) yaitu:

(3-15)
q pada Persamaan 3-15, digantikan dengan q pada Persamaan 3-7, maka:
(3-16)
Jika diintegralkan:
(3-17)
(3-18)
(3-19)
dimana merupakan q pada Persamaan 3-7, sehingga Persamaan 3-19, berubah
menjadi:
(3-20)
Perhitungan dibawah ini akan membantu memudahkan pemahaman dari
Persamaan 3-20, yaitu:
Dari data produksi diketahui sumur x telah mengalami penurunan produksi dari
500 bopd menjadi 450 bopd selama 1 bulan. Dari data produksi tersebut hitung
kumulatif produksi untuk 1 tahun.
qi = 500 bopd
q = 450 bopd
D=
D = 0,10536/month
D = 0,10536
D = 1,26/year
Maka:
0,145 MMSTB
Harap diingat bahwa perhitungan kumulatif produksi adalah dengan faktor
pembaginya adalah nominal decline (D) bukan effective decline (De) karena akan
memberikan hasil yang berbeda dan salah.
3.2.3.2. Hyperbolic Decline
Pada hyperbolic decline, jika data produksi dan waktu diplot pada skala semilog
akan memberikan garis yang melengkung tapi jika data produksi diplot dengan
kumulatif produksi akan menghasilkan bentuk yang cembung (Gambar 3.6).
Persamaan hyperbolic yang sering digunakan untuk decline curve adalah:
(3-21)
Dan nominal decline rate adalah:
(3-22)
Jika ekonomi limitnya diketahui ( ) maka dapat diketahui umur produksi hingga
batas perolehan akhir (ultimate recovery reserve) yaitu:
(3-23)
Dimana:
q = laju produksi pada waktu t, vol/unit waktu
qi = laju produksi awal pada waktu t = 0, vol/unit waktu
Di = laju decline mula-mula (t = 0), 1/waktu

b = hyperbolic exponent
t = waktu
ta = t abandonment
Harga b pada Persamaan 3-22, adalah angka yang menunjukkan type dari decline
curve, dimana jika b = 0, maka tipe kurvanya adalah exponential decline,
sedangkan jika b = 1, maka tipe kurvanya adalah harmonic decline, dan jika b > 0
atau b 1, maka type kurvanya adalah hyperbolic decline.

Gambar 3.6.
A. Bentuk Hyperbolic Decline, Laju produksi (q) Vs Waktu (t)
B. Bentuk Hyperbolic Decline, Laju produksi (q) Vs Kumulatif Produksi (Np)

1. Hubungan Laju Produksi dengan Nominal dan Effective Decline


Pada hyperbolic decline, nilai Di pada Persamaan 3-22, adalah nominal decline rate
pada waktu t = 0. Dikarenakan decline rate akan berubah dengan bertambahnya
waktu maka nilai D yang konstan pada exponential decline akan berubah menjadi
hyperbolic decline.
Untuk menghitung effective decline rate maka gunakan Persamaan 3-5 dimana
harga qi dan q dipisahkan dalam satu periode waktu (misalnya: 1 tahun).
(3-24)
Dan nominal decline rate-nya adalah:
(3-25)
2. Produksi Kumulatif
Sama halnya pada exponential decline, produksi kumulatif pada hyperbolic decline
juga dapat ditentukan dengan menggabungkan Persamaan 3-21, untuk setiap
perubahan waktu (dt) yaitu:
(3-26)
Subtitusikan harga q pada Persamaan 3-21, maka:
(3-27)
Integralkan Persamaan 3-27 untuk b>0 dan b 1, maka:
(3-28)
Persamaan 3-28, disederhanakan:
(3-29)
Masukkan harga batas atas = t dan batas bawah = 0, maka:
(3-30)
Dari aturan pangkat logaritma , gantikan harga qi dengan , maka:
(3-31)
Pindahkan harga kedalam tanda kurung, maka:
(3-32)
Dari persamaan matematika dan , maka:
(3-33)

Dari Persamaan 3-21, , maka:


(3-34)
Kalikan dengan angka dan kalikan juga dengan angka , akan didapat hasil akhir,
yaitu:
(3-35)
Persamaan 3-35, dapat digunakan untuk setiap harga b, termasuk harga b = 0
(exponential decline) kecuali untuk b =1.
3.2.3.3. Harmonic Decline Curve
Pada harmonic decline, jika data produksi dan waktu diplot pada skala semilog akan
memberikan garis yang melengkung, hampir sama dengan hyperbolic decline tapi
hasil plot antara laju produksi dengan kumulatif produksi akan memberikan garis
lurus.
Gambar 3.7.
A. Bentuk Harmonic Decline, Laju produksi (q) Vs Waktu (t)
B. Bentuk Harmonic Decline, Laju produksi (q) Vs Kumulatif Produksi (Np)
Persamaan harmonic yang sering digunakan untuk decline curve adalah:
(3-36)
Dan nominal harmonic decline rate adalah:
(3-37)
Jika ekonomi limitnya diketahui ( ) maka dapat diketahui umur produksi hingga
batas perolehan akhir (ultimate recovery reserve) yaitu:
(3-38)
Dimana:
q = laju produksi pada waktu t, vol/unit waktu
qi = laju produksi awal pada waktu t = 0, vol/unit waktu
Di = laju decline mula-mula (t = 0), 1/waktu
b = harmonic exponent = 1
t = waktu
ta = t abandonment
1. Hubungan Laju Produksi dengan Nominal dan Effective Decline
Untuk menghitung effective decline rate maka gunakan Persamaan 3-5 dimana
harga qi dan q dipisahkan dalam satu periode waktu (misalnya: 1 tahun).
(3-39)
Dan nominal decline rate adalah:
(3-40)
2. Produksi Kumulatif
Sama halnya pada exponential decline, produksi kumulatif pada hyperbolic decline
juga dapat ditentukan dengan menggabungkan Persamaan 3-36, untuk setiap
perubahan waktu (dt) yaitu:
(3-41)

Subtitusikan harga q pada Persamaan 3-36, untuk b = 1, maka:


(3-42)
Misalkan :
(3-43)
(3-44)
(3-45)
(3-46)
(3-47)
Dari rumus integral , maka:
(3-48)
Atau:
(3-49)
3.2.4. Tahapan Menentukan Tipe Decline Curve Dengan Metode Ekstrapolasi Kurva
Fit
Untuk melakukan peramalan produksi dengan decline curve haruslah terlebih
dahulu mengekstrapolasikan trend perubahan suatu sumur produksi sampai batas
ekonominya dimana sebelum melakukan ekstrapolasi harus terlebih dahulu
menentukan jenis curvaturenya untuk menentukan apakah dalam melakukan
peramalan menggunakan type eksponential, harmonic atau hyperbolic.
Metode Ekstrapolasi Kurva Fit adalah satu dari beberapa metode untuk menentukan
jenis dari decline curve, dimana prinsip dari metode ini adalah dengan
mengasumsikan harga b dari 0 sampai dengan 1. Langkah-langkah untuk
menentukan jenis decline curve dengan metode ekstrapolasi kurva fit ini adalah
sebagai berikut:
1. Buat tabulasi bentuk spreadsheet harga laju produksi (q) dan waktu (t)
2. Ambil dua titik pada kurva dekat daerah ekstrim (misalnya: t1, q1 dan t2, q2)
3. Tentukan harga Di, dimana :
Exponential Hyperbolic Harmonic
4. Berdasarkan harga Di tentukan harga q pada waktu t, dimana:
Exponential Hyperbolic Harmonic
5. Tentukan jenis kurva dengan menggunakan chi-square test, suatu test untuk
mengetahui perbedaan data perkiraan terhadap data aktual, dimana persamaan
chi-square test tersebut adalah:
(3-50)
6. Harga X2 yang paling kecil menunjukkan derajat kesalahan yang paling kecil dari
aktualnya.
7. Pilih harga poin 6 ini sebagai tipe decline curve-nya.
3.2.5. Peramalan Produksi Dengan Decline Curve Dari Commingle Production
Dengan Metode Kapasitas Aliran (KH)

Pada dasarnya lapisan reservoir yang berlapis (multi layer reservoir) dapat
diproduksikan secara bersama-sama. Pola produksi ini dikenal dengan sebutan
commingle production. Perhitungan produksi dengan decline curve dari suatu
sumur berlapis haruslah dengan terlebih dahulu melakukan alokasi produksi dari
masing-masing lapisan yang ada pada reservoir. Salah satu metode pengalokasian
produksi adalah dengan metode kapasitas aliran (kh).
Metode kapasitas aliran (kh) didasarkan atas besarnya kapasits aliran (kh), dimana
besarnya kontribusi masing-masing lapisan ditentukan berdasarkan besarnya
permeabilitas dan ketebalan masing-masing lapisan. Perhitungan besarnya
kontribusi aliran dari masing-masing lapisan didasarkan pada asumsi-asumsi
berikut:
Alirannya radial dengan jari-jari pengurasan (re) yang sama
Draw down pressure (Pe Pwf) pada tiap lapisan adalah sama
Faktor volume formasi dari minyak (Bo) dan viscositas minyak ( ) adalah sama
Skin faktor (S) diabaikan
Dengan asumsi-asumsi tersebut maka persamaan Darcy untuk sistem aliran radial
dapat digunakan sebagai dasar perhitungan alokasi aliran dengan metode kapasitas
aliran (kh) sebagai berikut:
(3-51)
Dimana:
qo = Laju alir minyak, STB/day
ko = Permeabilitas efektif minyak, md
Pe = Tekanan pada saat r = re
Pwf = Tekanan alir dasar sumur pda saat r = rw
re = Jari-jari pengurasan sumur, ft
rw = Jari-jari lubang bor, ft
= Viscositas minyak, cp
Bo = Faktor volume formasi minyak, bbl/stb
Metode produksi dengan commingle production hanya mencatat satu nilai laju alir
dari beberapa lapisan, jika diasumsikan ada 3 lapisan dari satu sumur maka
perhitungan laju alir dari masing-masing lapisan dapat ditulis dengan persamaanpersamaan berikut:
(3-52)
Dari Persamaan 3-51, maka dapat dilakukan penjumlahan kedalam Persamaan 3-52,
sebagai berikut:
(3-53)
(3-54)

Berdasarkan Persamaan 3-54, dapat dibuat persamaan kontribusi aliran sebagai


berikut:

(3-55)
Jadi, untuk menghitung kontribusi aliran untuk lapisan 1 dapat dilakukan dengan
persamaan berikut:
(3-56)
Dimana:
FC = Kontribusi aliran, fraksi
3.3. Tahap-Tahapan Pengerjaan
Tahap-tahapan dalam melakukan peramalan produksi dan perhitungan cadangan
dengan decline curve adalah sebagai berikut:
1. Pengolahan data lapangan
2. Perhitungan alokasi produksi untuk sumur dengan metode produksi commingle.
(Sub bab 3.2.5., dan Persamaan 3-56)
3. Analisa data
Plot laju produksi (qo) Vs waktu (t) pada grafik semilog
Pemilihan Periode (Trend) Produksi untuk analisa dengan dasar pemilihan periode
analisa sebagai berikut:
- Tidak ada penutupan sumur dalam waktu yang lama
- Tidak ada penggantian metode produksi
- Adanya grafik penurunan produksi
- Jumlah sumur produksi sebaiknya tidak bertambah dan tidak berkurang
Penentuan Type Decline Curve Dengan Ekstrapolasi Kurva Fit
- Penentuan Harga Nominal Decline (Di) dan Expected Value (Fi)
- Pengujian Fi dengan Metode Chi-Square test
4. Peramalan produksi
Penentuan ekonomi limit
Peramalan laju produksi (qo vs t)
Peramalan Kumulatif Produksi (qo vs Np)
5. Penentuan umur produksi
Umur produksi sampai batas ekonomi limitnya dapat dicari dengan Persamaan 3-9,
Persamaan 3-23, dan Persamaan 3-38 masing-masing untuk tipe exponential,
hyperbolic, dan harmonic.
6. Perhitungan cadangan
ERR, Persamaan 3-20, Persamaan 3-35, dan Persamaan 3-49 masing-masing
untuk tipe exponential, hyperbolic, dan harmonic.
EUR (Persamaan 3-2 atau Persamaan 3-3)
Diagram alir tahap-tahapan dalam melakukan peramalan produksi dan perhitungan
cadangan dengan decline curve dapat dilihat pada Gambar 3.8.
Gambar 3.8.
Diagram Alir Peramalan Produksi Dengan Metode Decline Curve dan Estimasi Jumlah
Cadangan Minyak Pada Blok Q22 Lapisan S Lapangan Limau.
http://gede-siddiarta.blogspot.com/2011/10/decline-curve.html

Anda mungkin juga menyukai