Anda di halaman 1dari 39

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI..................................................................................................1
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................2
A. Latar Belakang............................................................................2
B. Tujuan.........................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................6
A. Pemilihan Pemakaian Bahan Semen.........................................9
B. Persyaratan Semen..................................................................10
C. Propertis Semen Portland.........................................................12
D. Tipe-tipe Semen Portland.........................................................18
E. Pengikatan serta Pengerasan Semen Portland.......................21
F. Cara Pengangkutan dan Penimbunan Semen.........................26
BAB III METODE ANALISIS......................................................................28
A. Pembuatan Larutan Induk II.....................................................28
B. Penetapan Kadar Al2O3 Secara Kompleksometri.....................28
C. Penetapan Kadar MgO Secara Kompleksometri......................30
D. Penetapan Kadar CaO Secara Kompleksometri......................31
E. Penetapan Kadar CaO Secara Permanganatometri................32
BAB IV PEMBAHASAN.............................................................................34
BAB V SIMPULAN....................................................................................38
BAB VI DAFTAR PUSTAKA.......................................................................39

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Semen berasal dari bahasa latin caementrum yang berarti perekat.
Semen

digunakan

untuk

setiap

bahan

pengikat

yang

mampu

mempersatukan atau mengikat bahan-bahan padat menjadi satu kesatuan


yang kokoh atau suatu produk dimana fungsinya sebagai bahan perekat
antara dua atau lebih sehingga menjadi satu bahan yang saling mengikat.
Jenisnya banyak sekali,tetapi yang kebanyakan dibuat adalah jenis
Portland.
Semen adalah suatu campuran kimia hidrolisis yang dicampurkan
dengan air dalam jumlah tertentu akan mengikat bahan-bahan lain
menjadi satu-satuan massa yang dapat mengeras. Semen merupakan
campuran oksida logam yang dibakar pada suhu tinggi dan menghasilkan
kerak (klinker) dan akhirnya digiling halus, sehingga dengan penambahan
air akan berbentuk seperti lumpur, yang akan mengeras setelah airnya
menguap. Semen yang sudah mengeras bersifat tahan air dan cuaca juga
tahan terhadap garam.
Bahan baku pembuatan semen dapat dibagi menjadi 3, yaitu :
1. Bahan baku utama. Bahan baku utama adalah bahan yang
mengandung CaCO3 , oksida silica, alumina.
2. Bahan baku korektif, mengandung oksida silica, alumina, besi yang
dapat diperoleh dari pasir silica, tanah liat, dan pasir besi.
3. Bahan baku tambahan, yaitu gypsum.
Manfaat semen yang utama yaitu sebagai bahan baku bangunan
selain itu untuk pembuatan asbes, genteng asbes, dll.
Komposisi kimia semen yang dapat mempengaruhi sifat semen adalah :

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 2

a. Trikalsium silikat (3 CaO.SiO2) disingkat C3S


Memiliki sifat yang hampir sama dengan semen, yaitu akan mengeras
bila ditambahkan air. C3S menunjang penyusunan kekuatan awal
semen tinggi dan menimbulkan panas hidrasi kurang lebih 500
joule/gram. Kandungan C3S pada Semen Portland bervariasi antara
20 - 60%.
b. Dikalsium silikat (2 CaO.SiO2) disingkat C2S
Penambahan

air

akan

menimbulkan

panas

menyebabkan

sebesar

250

C2S

joule/gram.

mengeras

dan

Perkembangan

kekuatan pasta yang mengeras stabil dan lambat. Setelah beberapa


minggu C2S akan mencapai kekuatan tekan akhir hampir sama
dengan C3S. Kandungan C2S pada Semen Portland bervariasi antara
20-60%.
c. Trikalsium aluminat (3 CaO.Al2O3) disingkat C3A
Ketika bereaksi dengan air, menimbulkan panas hidrasi yang tinggi
yaitu 850 joule/gram. Perkembangan kekuatan cepat yaitu terjadi
pada satu sampai dua hari, tetapi sangat rapuh. Kandungan C3A
bervariasi antara 0-16%.
d. Tetra kalsium alumino Ferrit (4 CaO.Al 2O3.Fe2O3) disingkat C4AF
Dengan air bereaksi dengan cepat dan pasta terbentuk dalam
beberapa menit, menimbulkan panas hidrasi 420 joule/gram.
Kandungan C4AF pada Semen Portland bervariasi antara 1-16 %. Ini
mempengaruhi warna abuabu dari semen.
e. Magnesium oksida (MgO)
f. Kalsium oksida (CaO)
g. Gypsum (CaSO4.2 H2O)

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 3

Pada proses pembuatan semen terjadi beberapa reaksi yaitu reaksi


kalsinasi pada preheater dan rotary kiln, seperti pada tabel berikut :
Tabel 1.Reaksi yang Terjadi Pada Preheater

Suhu
500 600 C
600 800 C

Tahap Proses
Pelepasan air kristal hidrat
pada bahan.
Kalsinasi sampai 91%
CaCO3 CaO + CO2
MgCO3 MgO + CO2

Tabel 2. Reaksi Pembentukan Clinker yang Terjadi pada Rotary Kiln

Suhu

Reaksi
Kalsinasi lanjutan :

900-1000C

CaCO3 CaO + CO2


Awal Pembentukan dicalsium silikat (C2S)
2CaO + SiO2 2CaO.SiO2
Awal pembentukan tricalsium
alumina (C3A)
3CaO + Al2O3 3CaO.Al2O3
Awal pembentukan tetracalsium
alumina ferrit (C4AF)

10001250C

4CaO + Al2O3 + Fe2O3


4CaO.Al2O3.Fe2O3
Awal pembentukan tricalsium silika (C3S)
2CaO + CaO.SiO2 3CaO.SiO2

12501450C

Analisis pada semen dilakukan untuk mengetahui mutu atau kualitas


semen tersebut. Beberapa parameter uji yang akan dibahas dalam
makalah ini meliputi :
1. Preparasi larutan induk II
2. Penetapan kadar Al2O3 metode kompleksometri
3. Penetapan kadar MgO metode kompleksometri
4. Penetapan kadar CaO metode kompleksometri

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 4

5. Penetapan kadar CaO metode permanganatometri

B. Tujuan
1. Menganalisis kadar Al2O3, MgO, dan CaO sesuai dengan metode
yang baik dan benar.
2. Mengetahui cara preparasi sampel semen untuk dianalisis
(pembuatan larutan induk II)
3. Melatih dan mempersiapkan diri sebagai sumber daya manusia
yang berkualitas dan terampil.

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Salah satu contoh yaitu dalam pembahasan semen untuk bahan
beton dan persyaratannya tidak bisa lepas dari standar-standar yang
sering digunakan di Indonesia, misalnya Standar Industri Indonesia (SII),
American Society for Testing Material (ASTM) dan British Standard (BS)
serta Standar SK SNI S-04-1989-F. Didalam standar-standar tersebut
dijelaskan bagaimana mengenai pengujian dan syarat-syarat bahan yang
dapat dipakai untuk beton. Standar Bangunan Bagian A, SK SNI S-041989-F, Bab I Standar-standar dan syarat-syarat yang diterbitkan oleh
Departemen Pekerjaan Umum melalui Yayasan LPMB, Bandung.
Dalam pelaksanaannya menurut Standar SK SNI S-04-1989-F,
rekaman lengkap dari hasil uji bahan semen dan beton harus disimpan
dengan baik oleh pengawas ahli dan selalu tersedia untuk keperluan
pemeriksaan selama pekerjaan dan selama 2 tahun sesudah proyek
bangunan tersebut dilaksanakan.
Dari definisi Semen Portland (PC) dapat dilihat bahwa semen portland
dibuat dari Cacareous seperti batu kapur (limestone atau chalk) dan bahan
silika atau aluminium yang terdapat pada tanah liat (clay atau shale). Batu
kapur mengandung komponen CaO, lempung mengandung komponen
SiO2 dan Al2O3 (oksida alumina) dan FeO3 (oksida besi).
Pada dasarnya proses pembuatan semen portland terdiri dari
penggilingan,

pencampuran

menurut

suatu

proses

tertentu

dan

pengawasan harus ketat. Dengan penggilingan dari klinker bulat yang


berputar disertai pemanasan mencapai material akan menjadi klinker.
Klinker ini dipindahkan dan digiling sampai halus (fine powder), disertai
penambahan 3-5% gips (gypsum) untuk mengendalikan setting time akan
menghasilkan semen portland yang siap untuk digunakan sebagai bahan
pengikat dari campuran beton. C1450.
Semen portland ini dapat langsung dimasukkan kantong-kantong atau
mobil container dan silo tempat penyimpanan dari semen.

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 6

Secara jelas proses pembuatan semen dapat dilihat pada gambar II.1
dan gambar II.2. Bahan semen yang digiling dalam kondisi basah dan
kondisi kering masing-masing disebut proses basah dan proses kering.
Diameter kilen berkisar 5-7 meter dan panjang kilen dapat mencapai 230
meter.

Gambar. 1 Sketsa Pembuatan Semen Portland

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 7

Gambar. 2 Sketsa kondisi dan reaksi dalam tipical rotary kilen (proses kering)

Secara diagram pembentukan komponen karakteristik dari hidrasi


dari portland semen dapat digambarkan seperti Gambar II.3.

Gambar. 3 Pembentukan komponen karakteristik dan hidratasi dari portland


semen

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 8

Mengenai hasil hidratasi semen yaitu Calsium Silikat Hidrat,


Tricalsium Alumina Hidrat.
2 C3S + 6 H C3S2H3 + 3 CH
2 C2S + 4 H C3S2H3 + CH
C3A + CSH2 + 10 H C4ASH12
C3A + CH + 12 H C4AH13
C4AF + 2 CH + 2 CSH2 + 18 H C8AFS2H24
C4AF + 4 CH + 22 H. C8AFH26
dimana,
S = SO3 ; H = H2O ; CH = Ca(OH)2

A. Pemilihan Pemakaian Bahan Semen


a. Semen untuk membuat campuran beton harus memenuhi salah
satu dari ketentuan berikut :
1. SNI 15 - 2049 1994 Semen Portland ( ASTM C 150 )
2. Spesifikasi Semen Blended Hidrolis ( ASTM C 595 ), kecuali
type S dan type SA yang tidak diperuntukkan sebagai unsur
pengikat utama struktur beton.
3. Spesifikasi Semen Hidrolis Ekspansif ( ASTM C 845 )
b. Semen yang digunakan pada pekerjaan konstruksi harus sesuai
dengan semen yang digunakan pada perhitungan porporsi
campuran

beton,

yang

berkaitan

dengan

kekuatan

dan

karakteristik yang harus diperhatikan.


Hal ini berarti bahwa semen yang dipakai untuk satu jenis
pekerjaan harus berasal dari sebuah produsen semen yang telah
menetapkan

standar

pengujian

terhadap

bahan

semen

yang

diproduksi

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 9

Pada dasarnya semen yang dipergunakan dalam pembuatan


beton ialah semen portland dan semen portland pozolan. Didalam SII
0132-81 dinyatakan semen tersebut harus memenuhi syarat-syarat :
-

Klasifikasi semen portland (ada 5 jenis)


Syarat mutu yang terdiri dari :
Syarat kimia
Syarat fisika
Untuk semen portland pozolan harus memenuhi syarat-syarat

yang ada dalam SII 0132-75 atau ASTM C595 Spesification for
Blended Hidraulic Cement, dan ASTM C595.
Dalam spesifikasi SII 0132-75 dinyatakan bahwa semua portland
pozolan harus memenuhi :
-

Golongan semen portland pozolan jenis SPP 400 dan SPP 200
Syarat mutu
Syarat kimia
Syarat fisika

B. Persyaratan Semen
a. Yang disebut semen hidrolik adalah suatu bahan pengikat yang
mengeras jika bereaksi dengan air serta menghasilkan produk
yang tahan air. Contoh-contoh semen hidrolik adalah semen
portland, semen alumina, semen putih dll. Gips, bukan merupakan
semen hidrolik, karena setelah mengeras bereaksi dengan air,
produk ini larut dengan air.
Kapur yang telah mengeras adalah tahan air tetapi mengerasnya
kapur setelah bereaksi dengan karbon dioksida, bukan dengan air.

b. Komponen utama dari semen portland adalah :

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 10

Batu kapur yang mengandung komponen CaO (kapur,lime)


Lempung yang mengandung komponen SiO 2 (silika), Al2O3
(oksida alumina), Fe2O3 (oksida besi)

Bahan-bahan ini dengan pengawasan yang ketat, digiling dan


dicampur menurut suatu proses tertentu. Campuran ini dipanaskan
dalam oven pada suhu sampai menjadi klinker. Klinker ini
dipindahkan, digiling sampai halus disertai penambahan 3-5 % gips
untuk mengendalikan waktu pengikatan semen supaya tidak
berlangsung terlalu cepat. C1450
Reaksi-reaksi yang terjadi waktu proses pembuatan semen adalah
sebagai berikut :
1) Batu kapur : CaO + CO2
Kapur karbon dioksida
Lempung

: SiO2 + Al2O3 + Fe2O3 + H2O


Silica alumina oksida besi air

2) 3CaO + SiO2

3 CaOSiO2
Trikalsiumsilikat (C3S)

2CaO + SiO2

CaOSiO2
Dikalsiumsilikat (C2S)

3CaO + Al2O3

3 CaO.Al2O3
TrikalsiumAluminat (C3A)

4CaO + Al2O3 + Fe2O3

CaO.Al2O3.Fe2O3
Tetrakalsium Aluminoferit (C4AF)

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 11

Bahan-bahan tersebut merupakan klinker semen.


Trikalsium
Tetrakalsium

silikat

(C3S),

Trikalsium

Aluminat

dan

Tetrakalsium

Aluminat

(C3A)

Aluminoferit

dan

(C 4AF)

merupakan komponen karakteristik dari semen portland.

C. Propertis Semen Portland


Sifat-sifat Teknis Semen Portland
Sifat-sifat semen portland bergantung kepada :
-

Susunan kimia
Kadar gips
Kehalusan butirannya
a. Apabila dilakukan analisis kimia mengenai semen
portland,

maka

dapat

diketahui

komposisisnya.

Sebagai contoh dibawah ini tercantum hasil analisa


suatu jenis semen tertentu.
Komponen

Prosentase (%)

Lain-lain

CaO

64.0

SR =2.6

SiO2

19.0

AR = 1.6

Al2O3

5.5

LSF = 1.01

Fe2O3

3.5
1.4

MgO
SO3
K2O + Na2

1.9

C3S = 59.4

1.1

C2S = 10.0

2.1

Ignitionloss
Bahan-bahan sisa
Balace

0.6
0.9

C3A = 8.7
C4AF = 10.3

(Mn. Ti dsb.)
100 %

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 12

Jumlah

Dari hasil analisa diatas jelas tampak bahwa kapur


merupakan komponen yang jumlahnya terbanyak, disusul oleh
silika, alumina dan oksida besi. Oksida-oksida itu merupakan
ke-4 oxida utama dalam semen portland. Disamping itu
terdapat

juga

komponen

lainnya,

jumlah

oksida-oksida

tersebut berkisar antara :


Kapur (CaO) 60 66 %
Silica (SiO2) 19 25 %
Alumina (Al2O3) 3 8 %
Oksida besi (Fe2O3) 1 5 %
Oksida magnesium (MgO) dibatasi sampai dengan 4 %.
b. Komposisi mineral dalam prosen berat menurut BOGUE dapat
ditentukan dari hasil analisa kimia sebagai berikut :
Trikalsium Silikat :
C3S = 3CaO. SiO2 = 4O7CaO ( 7.6SiO2 + 6.72Al2O3 +
1.43Fe2O3 + 2.85SO3 )
Dikalsium Silikat :
C2S = 2 CaOSiO2 = 2.87 SiO2 0.754 C3S

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 13

Trikalsium Aluminat :
C3A = 3 CaO.Al2O3 = 2.65 Al2O3 1.69 C3S
Tetrakalsium Alumino Ferit
C4AF = 4 CaO.Al2O3.Fe2O3
c. Tipe-tipe semen portland bisa diperoleh dengan mengadakan
variasi-variasi dalam proporsi-proporsi relatif dari komponenkomponen

karakteristiknya

serta

derajat

kehalusan

penggilingan bahan klinkernya, misalnya :


o Untuk bangunan-bangunan beton yang akan mendapat
serangan sulfat, harus digunakan semen dengan kadar
C4A dan C4AF yang rendah.
o Untuk pembetonan sebuah atau pembetonan bangunan
luas

lainnya

harus

digunakan

jenis

semen

yang

mengeluarkan panas hidrasi rendah.


d. Komposisi kimia semen portland dapat dinilai dengan
menentukan perbandingan Silika SR (Silika Ratio) dan
perbandingan Alumina AR (Alumina Ratio).

Nilai SR menunjukkan apakah semen itu kaya akan Silika atau


tidak. Pada umumnya 1.6 < SR < 3.5 dengan nilai rata-rata
2.0 2.5

Nilai-nilai AR yang lebih rendah dijumpai pada jenis


semen yang tahan terhadap sulfat, sedangkan harga-harga
AR yang lebih tinggi dijumpai pada semen putih. Akan tetapi
biasanya nilai AR yang dikehendaki adalah nilai AR yang
serendah mungkin. Faktor kejenuhan kapur atau lime

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 14

saturation factor LSF, adalah perbandingan jumlah kapur


dalam prosen berat semen terhadap ke 3 jumlah komponenkomponen utama pembuat klinker,

Apabila nilai LSF terlalu rendah, maka semen kekurangan


komponen C3S. Jika harga LSF lebih besar dari 1.0, maka
semua Silika menjadi Calsium Silikat sehingga dalam semen
terdapat Kapur bebas. Bilamana nilai C 3S terlalu rendah,
maka mutu semen jelek. Kapur bebas dalam semen akan
menyebabkan

semen

yang

terhidrasi

itu

tidak

stabil

volumenya.
Jadi secara umum 0.66 < LSF < 1.02. LSF lebih besar dari
1.02 (LSF>1.02) mutu semen jelek karena terdapat kapur
bebas dalam semen.
LSF = 1.00 semua Silika yang terdapat dalam bentuk C 3S.
LSF < 1.00 Silika yang terdapat dalam bentuk campuran C 2S
dan C3S.
LSF < 0.66 terdapat terlalu banyak C2S.
e. Disamping

komponen-komponen

utama,

dalam

semen

terdapat pula bahan-bahan lain dalam jumlah kecil, akan


tetapi

mempengaruhi

sifat-sifatnya. Adapun

baha-bahan

tersebut adalah :
1) Magnesia, MgO
Seperti pada saat mencampur kapur (CaO) dengan air,
bilamana Oxida Magnesium tercampur dengan air, maka hal
ini akan diikuti oleh penambahan volume.

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 15

Dengan sendirinya penambahan volume itu akan dialami


oleh beton yang menggunakan bahan tersebut disertai
dengan retak-retak. Kadar MgO dibatasi sampai 5%.
2) Sulphuric Anhydrate (sisa asam sulfit), SO3
SO3 merupakan bahan yang sangat penting dalam semen
portland, karena berfungsi sebagai pengatur waktu pengikatan
semen. SO3 terdapat dalam gips Ca SO4. Apabila kadar gips
terlalu tinggi, maka selam berlangsungnya proses pengerasan
akan timbul pengembangan gips. Oleh karena itu kadar SO 3
biasanya dibatasi sampai dengan 2.5 3.0 %.
3) Alkali, Na2O dan K2O
Na2O dan K2O selalu dijumpai dalam bahan-bahan baku
untuk semen. Apabila bahan agregat yang akan digunakan
untuk campuran beton mengandung Silikat reaktif, maka akan
timbul reaksi kimia yang merugikan beton.
Hidroksida-hidroksida Alkali terjadi dari alkali-alkali yang
terdapat

pada

semen

yang

sedang

mengeras,

akan

menyerang butir-butiran agregat yang mengandung silika


reaktif itu. Sebagai hasil reksi kimia itu akan terjadi gel-gel
alkali dari jenis yang dapat mengembang tak terbatas. Gelgel

ini

akan

menyerap

air,

kemudian

mengembang

sedemikian sehingga dapat menyebabkan tegangan-tegangan


intern

yang

menjalar

dan

kemudian

menimbulkan

pengembangan menyeluruh.
Pengembangan yang meluas ini akan menimbulkan retakretak serta pecah-pecah dalam beton, dan akhirnya merusak
seluruhnya. Bahan-bahan reaktif seperti opal, tridymite,
opaline silika, chalcodony, bila keadaan memaksa dapat

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 16

dipergunakan asalkan memakai jenis semen portland dengan


kadar alkali rendah yaitu kurang atau sama dengan 0.6 % ( <
0.6% ).
4) Kehilangan berat akibat pemanasan (Ignitionloss)
Substansi yang terbuang dari semen akibat pemanasan
adalah air dan karbon dioksida. Kehilangan berat akibat
pemanasan menunjukkan bahwa semen yang bersangkutan
mempunyai kadar air tinggi. Kadar air yang tinggi dalam
semen dapat menyebabkan waktu pengerasan yang lama.
Berdasarkan pengurangan berat yang diijinkan adalah 5%
pada suhu 1000C. Oleh karena semen merupakan bahan
yang higroskopis maka selama penyimpanannya di gudang
harus diusahakan agar supaya tidak dapat menghisap air
akibat udara lingkungan yang lembab, harus diusahakan pula
agar supaya semen disimpan di tempat-tempat kering serta
bebas dari aliran udara.
5) Kehalusan Butiran
Kehalusan butiran-butiran semen mempengaruhi waktu
pengerasan pasta semen. Lebih luas permukaan yang dapat
dihidrasi, lebih banyak gel semen dapat terbentuk pada umur
muda, maka lebih tinggi kekuatan tekan awal yang dapat
dicapai oleh semen. Akan tetapi gel semen yang terbentuk itu
memperlambat waktu hidrasi akibat suatu aksi gel-gel sendiri
yang mencegah terbentuknya gel-gel lain lebih cepat, jika
telah terbentuk gel-gel semen dalam jumlah besar.
Oleh karenanya, penggilingan extra halus butiran-butiran
semen itu, efisien dalam penambahan kekuatan tekan hanya
sampai pada umur 7 hari.
Sifat-sifat yang berhubungan dengan kehalusan butiranbutiran semen adalah :

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 17

Kekuatan awal tinggi


Cepat mundurnya mutu semen jika dipengaruhi cuaca
Reaksi kuat dengan bahan agregat reaktif
Retak-retak
Daya penyusutan tinggi
Pengikatan yang cepat
Kebutuhan air yang banyak
Mengurangi bleeding
Semen portland biasa mempunyai luas permukaan

minimum 2250 cm2 per gram, sedangkan semen yang cepat


mengeras 3200 cm2 per gram.

D. Tipe-tipe Semen Portland


Tipe I :
Dipakai untuk keperluan konstruksi yang tidak memerlukan
persyaratan khusus terhadap panas hidrasi dan kekuatan tekan awal.
Cocok dipakai pada tanah dan air yang mengandung sulfat antara 0,0
- 0,10 % dan dapat digunakan untuk bangunan rumah pemukiman,
gedung-gedung bertingkat dan lain-lain.
Tipe II
Dipakai untuk konstruksi bangunan dari beton massa yang
memerlukan ketahanan sulfat (pada lokasi tanah dan air yang
mengandung sulfat antara 0,10 0,20 %) dan panas hidrasi sedang,
misalnya bangunan dipinggir laut, bangunan dibekas tanah rawa,
saluran irigasi, beton massa untuk dam-dam dan landasan jembatan .
Dengan memperhatikan rumus untuk menghitung panas hidrasi
jelaslah bahwa C3A dan C3S menghidrasi sangat cepat, sedangkan
C2S dan C4AF menghidrasi lambat, dengan menimbulkan panas
hidrasi lebih rendah. Dengan menambah prosentase C 2S dari semen

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 18

portlad tipe I dan mengurangi prosentase C 3A dan C3S diperoleh


semen yang mengeluarkan panas hidrasi lebih rendah; disamping itu
semen jenis II ini lebih tahan terhadap serangan sulfat daripada tipe I.
Semen tipe II disebut juga modified portland cement

dan

penggunaannya sama seperti untuk tipe I ditambah dua keuntungan


yang disebut diatas.
Tipe III
Dipakai untuk konstruksi bangunan yang memerlukan kekuatan
tekan awal tinggi pada fase pemulaan setelah pengikatan terjadi,
misalnya untuk pembuatan jalan beton, bangunan tingkat tinggi,
bangunan dalam air yang tidak memerlukan ketahanan terhadap
serangan sulfat.
Semen tipe III disebut juga semen dengan kekuatan awal tinggi.
Jenis ini digunakan bilamana kekuatan harus dicapai dalam waktu
singkat, walaupun harganya sedikit lebih mahal. Biasanya dipakai
pada pembuatan jalan yang harus cepat dibuka untuk lalu-lintas; juga
apabila acuan itu harus bisa dibuka dalam waktu singkat. Panas
hidrasi 50% lebih tinggi dari pada yang ditimbulkan semen tipe I.
Tipe IV
Dipakai untuk kebutuhan pengecoran yang tidak menimbulkan
panas, pengecoran dengan penyemprotan (setting time lama) yang
dalam penggunaannya memerlukan panas hidrasi yang rendah.
Semen portland tipe IV ini menimbulkan panas hidrasi rendah
dengan prosentase maksimum untuk C3S sebesar 35 %, untuk C3A
sebesar 7 % dan untuk C 2S prosentase minimum sebesar 40 %. Tipe
IV ini tidak lagi diproduksi dalam jumlah besar seperti pada waktu
pembuatan Hoover Dam, akan tetapi telah diganti dengan tipe II yang
disebut modified portland cement.
Tipe V

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 19

Dipakai

untuk

konstruksi

bangunan

pada

tanah/air

yang

mengandung sulfat melebihi 0,20 % dan sangat cocok untuk instalasi


pengolahan limbah pabrik, konstrksi dalam air, jembatan, terowongan,
pelabuhan dan pembangkit tenaga nuklir.
Semen portland tipe V ini tahan terhadap serangan sulfat serta
mengeluarkan panas. Reaksi antara C3A dan CaSO4 menyebabkan
terjadinya Calcium Sulfoaluminate.
Dengan cara yang sama, dalam semen yang telah mengeras,
hidrat dari C3A dapat bereaksi dengan garam-garam sulfat dari luar,
kemudian membentuk Calcium Sulfoaluminate di dalam struktur pasta
yang telah terhidrasi tersebut.
Penambahan volume pada fase padat, jika terbentuk Calcium
Sulfoaluminate dalam jumlah besar yaitu 227%, sehingga akibat
reaksi-reaksi sulfat ini akan terjadi disintegrasi dari beton.
Reaksi-reaksi lain yang mungkin terjadi antara lain : Ca(OH) 2
dengan

garam-garam

sulfat

dari

luar

yang

hasilnya

adalah

terbentuknya gips yang diikuti dengan penambahan volume pada fase


padat sebesar 124%.
Reaksi-reaksi tersebut diatas dikenal sebagai serangan-serangan
sulfat, yang paling aktif menyerang ialah garam-garam MgSO 4 dan
Na2SO4. Serangan-serangan ini akan dipercepat apabila disertai
dengan silih bergantinya keadaan basah dan kering. Terutama di
daerah-daerah yang terkena pengaruh pasang surut pada bangunanbangunan beton dilaut menderita serangan-serangan sulfat ini.
Gunakanlah semen tipe V ini untuk menahan serangan-serangan ini.
Semen tipe V ini mengandung kurang dari 5% C 3A dan sejumlah
terbatas C4AF dan Mg. Kadar C3S dibatasi sampai dengan 50% oleh

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 20

karena

C 3S

melepaskan

sejumlah

banyak

Ca(OH)2

selama

berlangsungnya hidrasi, sehingga akan mengurangi ketahanan semen


terhadap serangan kimia.
Oil Well Cement
Semen ini digunakan untuk penyemenan sumuran minyak yang
didalamnya dapat mencapai beberapa ribu feet.
Adukan semen harus tahan terhadap tekanan sampai dengan
1000 atmosfir dan suhu sampai 247 F tanpa menunjukkan gejala
pengikatan sebelum waktunya.
Dalam semen jenis ini komponen C3A yang cepat menghidrasi
tidak digunakan, disamping itu dibubuhkan bahan-bahan serbuk
khusus penghambat waktu pengikatan semen.
Semen-semen dengan kadar Alkali rendah
Jenis ini digunakan di negara-negara penghasil agregat yang reaktif
reaktif terhadap iklim. Jenis semen ini tidak menggunakan Alkali
dalam komposisinya.
Semen Putih
Jenis semen ini dibuat dari batu kapur yang bebas besi, quarts,
pasir dan kaolin. Semen putih menunjukkan suatu produk dari
teknologi tertinggi yang dapat dicapai oleh industri semen. Sesuai
syarat-syarat untuk semen portland dapat dipenuhinya.
Oleh karena penggilingan serbuknya mahal, demikian juga bahan
bakunya, maka semen putih termasuk jenis semen portland yang
mahal.

E. Pengikatan serta Pengerasan Semen Portland

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 21

a. Hal penting yang harus mendapat perhatian kita pada semen


portland adalah pengikatan dan pengerasannya.
Semen portland dalam keadaan kering mempunyai energi latent
yang besar, energi ini mulai aktif setelah semen itu dibubuhi air.
Masa ini kemudian menjadi plastis sehingga dapat dikerjakan
dengan mudah. Semen portland merupakan bahan pengikat
hidrolis, yang berarti bahwa pengerasannya melulu tergantung
pada reaksi kimia yang disebabkan oleh air dan semen, oleh
karenanya semen portland dapat mengeras meskipun didalam air.
Patut diketahui apabila pada saat berlangsungnya proses
pengerasan pemberian air itu kita hentikan maka reaksi kimia
antara air dan semen berhenti. Nilai dari semen portland sebagai
bahan pengerasan ditentukan oleh kelangsungan terjadinya
reaksi kimia antara semen dengan air secara baik. Pada
umumnya dibutuhkan sebanyak kira-kira 20% air dari berat semen
yang dipakai agar semen itu dapat mengeras.
b. Pada reaksi antara semen dan air kita bedakan menjadi 2 (dua)
periode yang berlainan : periode pengikatan dan periode
pengerasan. Pengikatan adalah peralihan dari keadaan plastis
kedalam

keadaan

keras,

sedangkan

pengerasan

adalah

penembahan kekuatan setelah pengikatan itu selesai.


c. Yang harus kita perhatikan adalah awal pengikatan, yaitu pada
saat mulainya semen menjadi kaku, saat ini ditentukan dalam jam
dan menit setelah semen itu kita aduk dengan air.
d. Selanjutnya kita perhatikan waktu pengikatan, yaitu periode yang
berlangsung antara permulaan semen menjadi kaku dan saat
semen itu beralih kedalam keadaan keras/padat. Keadaan ini
dapat diartikan bahwa pasta semen telah menjadi keras, akan
tetapi belum cukup kuat. Setelah ini pengerasan berlangsung
terus mula-mula secara cepat, kemudian lebih lambat untuk
jangka waktu yang lama.
e. Pengikatan harus terus berlangsung dengan lambat, sebab jika
tidak demikian adukan beton akan sukar dikerjakan. Oleh karena

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 22

itu spesifikasi-spesifikasi untuk semen mensyaratkan bahwa awal


pengikatan dari pasta semen tidak boleh terjadi kurang dari satu
jam (1 jam) setelah kita membubuhkan air pada semen. Pada
umumnya waktu ini adukan beton berlangsung lebih lama kira-kira
3-5 jam. Namun demikian teknologi beton menghendaki bahwa
semen itu cepat mengeras, karena dengan ini dapat dicapai
keuntungan-keuntungan teknis maupun finansial seperti : waktu
pembongkaran acuan yang dapat dilaksanakan tanpa harus
menunggu lama.
f. Dengan memperhatikan hal-hal yang telah diuraikan di atas
jelaslah bahwa :
1) Terutama pada saat-saat permulaan, waktu beton sedang
mencapai kekuatannya, harus dijaga agar supaya beton tidak
menjadi

kering.

pembasahan

Hal

dengan

ini
air,

dapat

dilaksanakan

sehingga

dapat

dengan

mencegah

penguapan air dari massa beton.


2) Penusukan dan/atau penggetaran adukan beton dapat
dilakukan tanpa membahayakan, selama belum terjadi
pengikatan. Apabila penusukan dan/atau penggetaran adukan
beton dilakukan setelah terjadinya pengikatan, maka kesatuan
yang telah terjadi antara bahan-bahan campuran beton akan
terganggu sehingga tidak akan tercapai kekuatan yang
dikehendaki karena semen yang telah mulai mengikat itu tidak
akan mampu mempersatukan kembali butir-butir pasir dan
kerikil.
3) Harus diberikan waktu yang cukup pada beton supaya dapat
mengeras serta harus diusahakan agar supaya reaksi kimia
antarase dan air dapat berlangsung memuaskan tanpa
kekurangan air.
g. Adapun beberapa aktor yang dapat mempengaruhi waktu
pengikatan awal dari semen.
1) Umur Semen
Selama semen itu disimpan untuk jangka waktu yang lama,
maka semen itu akan menghisap air dan zat asam arang dari

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 23

udara, sehingga terjadi pra-hidrasi. Sebagai akibatnya, semen


itu akan menunjukkan proses pengikatan yang lambat.
Disamping itu akan dicapai kekuatan tekan lebih rendah.
2) Suhu
Kecepatan suatu reaksi kimia tergantung pada suhu dari masa
yang bereaksi serta suhu lingkungannya. Reaksi antara
semen dan air berlangsung lebih cepat pada suhu yang tinggi
(perawatan dengan uap misalnya), akan tetapi untuk proses
pengikatan suhu yang paling tepat kira-kira 23 C

3) Jumlah air yang Dibutuhkan


Agar reaksi kimia antara semen dan air berlangsung dengan
memuaskan, dibutuhkan air sebanyak kira-kira 20% dari
berat semen.
Dalam adukan beton yang memerlukan lebih banyak air,
panas hidrasi akan timbul disebarkan dengan lebih meluas
pada bahan-bahan agregat yang lainnya, sehingga suhu pada
saat terjadinya pengikatan akan jauh lebih rendah dari pada
suhu

waktu

terjadi

pengikatan

hanya

antara

air dan

semen,sehingga waktu pengikatan pada adukan beton akan


berlangsung lebih lama.
h. Sebagai gambaran tentang pengaruh umur semen terhadap
kemunduran mutunya, dapat dilihat pada hasil penelitian di bawah
ini yang berhubungan dengan hal tersebut.
Tabel 3.Pengaruh umur semen terhadap mutu beton

Waktu

Pengurangan Kekuatan
Tekan (%)

Setelah 1 bulan

5 10

Setelah 2 bulan

10 20

Setelah 6 bulan

20 30

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 24

Setelah 12 bulan

30 - 40

i. Dibawah ini tertera hasil-hasil penelitian mengenai perbedaanperbedaan kekuatan tekan beton dengan menggunakan semensemen tipe lain dibandingkan dengan kekuatan tekan beton yang
menggunakan semen portland biasa tipe I.

Tabel 4. Kekuatan tekan beton dengan menggunakan berbagai macam tipe


semen

Tipe semen
portland

Kekuatan tekan % dari kekuatan tekan semen


portland
Umur

Umur

Umur

3 hari

28 hari

3 bulan

100

100

100

80

85

100

190

130

115

Tipe I
Biasa,
penggunaan
umum
Tipe II
Modified
panas
hidrasi,
ketahanan
terhadap
sulfat
sedang
Tipe III
Cepat
mengeras
Kekuatan
awal tinggi

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 25

Tipe IV
Panas
hidrasi
rendah

50

65

90

65

65

85

Tipe V
Tahan
terhadap
sulfat

F. Cara Pengangkutan dan Penimbunan Semen


Pengangkutan Semen
Di dalam pabrik semen, untuk pengangkutan produk-produk semen
dapat berbentuk kantong empat lapis dengan isi 40 kg - 50 kg. Atau
dengan bulk yang pengisiannya sudah dilengkapi dengan skala
timbangan berapa yang diisikan. Baik kantong maupun bulk ini dapat
diangkut dengan truk atau KA khusus untuk semen.
Cara mengatur kantong-kantong semen dalam truk dan KA dapat
langsung di bawah belt conveyor, ditumpuk dengan tenaga manusia
sampai sejumlah 200 kantong tipa truk dan 750 kantong tiap
gerbong KA.
Kalau diangkut dengan bulk langsung dibawah silo tergantung
kapasitasnya, pengisiannya biasanya antar 10-12 ton.
Khusus untuk kapal, pengangkutannya harus diketahui :
a.
b.
c.
d.

syarat kapal (certificate, trayek)


kelas kapal (jenis, tahun, ukuran)
kegiatan pemuatan (jumlah pecah, susut, rusak, hilang)
kegiatan pembongkaran (sistem bongkar muat, canvas sling,
kecepatan, hasil pembongkaran)

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 26

Setelah

diadakan

perjanjian

terperinci

baru

dilaksanakan

pemuatannya lewat pelabuhan semen, dikirim antar-pulau, maupun


untuk eksport.
Penimbunan Semen
Disimpan dalam gudang, sedapat mungkin yang tidak lembab
udara, dan tidak dapat kemasukan air baik dari hujan maupun air
tanah yang merembes atau tembus kedalam gudang.

Kalau persyaratan ini sudah dipenuhi cara menimbun adalah sbb. :


a.
b.
c.
d.
e.
f.

maximum tinggi tumpukan = 18 kantong


dari dinding gudang berjarak 0,5 m
dari lantai diberi udara/angin-angin berjarak 10 cm
sebagai alasnya sebaiknya dari kayu kering
umur semen dalam gudang maksimum 3 bulan
selebihnya 3 bulan berakibat mutu semen akan turun

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 27

BAB III METODE ANALISIS


A. Pembuatan Larutan Induk II
Cara kerja
1 Dipipet 50 ml larutan induk I,dimasukkan kedalam piala gelas
400mL, ditambahkan 1ml H2 O3 3% dan dipanaskan 5menit
mendidih (kuning)
2 Ditambahkan indikator MM (Merah Metil), dinetralkan dengan
NH4OH 1:1 hingga larutan kuning.
3 Endapan yang terbentuk dilarutkan dengan HCl 25%
4 Dipanaskan 70-80oC (termometer), lalu diendapkan dengan
NH4OH 10% (uji endapan sempurna)
5 Didihkan untuk menghilangkan bau NH3, diuji bebas NH3
dengan lakmus merah
6 Larutan dimasukkan ke labu ukur 100 mL beserta endapannya
7 Dihimpitkan dan dihomogenkan. Hasil preparasi ini disebut
larutan induk II dan endapan R(OH)3.

B. Penetapan Kadar Al 2O3 Secara Kompleksometri


Prinsip Penetapan
Al(OH)3 dilarutkan dengan NaOH membentuk Na-aluminat.
Pada pH 5, Al3+ bereaksi dengan EDTA yang ditambahkan berlebih
terukur. Kelebihan EDTA dititar dengan ZnSO4 menggunakan
indikator xylenol orange hingga TA berwarna merah. Dilakukan
blanko untuk mengetahui banyaknya EDTA yang bereaksi dengan
Al3+ dari sampel.

Reaksi

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 28

Al3+ + 3NH4OH Al(OH)3 + 3NH4+

Al(OH)3 + 3NaOH Na3AlO3 + 3H2O


Na3AlO3 + 6HCl AlCl3 + 3NaCl + 3H2O
Al3+ + H2Y2-(berlebih terukur) AlY- + 2H+
H2Y-(sisa) + ZnSO4 ZnY2- + H2SO4
HIn- (sindur) + Zn2+ ZnIn-(merah) + H+

Cara Kerja
1. Residu larutan induk II disaring menggunakan kertas saring no.
41
2. Dicuci dengan NH4NO3 2% hingga bebas basa, cek dengan
lakmus merah
3. Ditambahkan 1 mL NaOH 1 N untuk melarutkan Al(OH) 3,
dimasukkan ke labu ukur 100 mL.
4. Dicuci dengan air panas hingga bebas basa.
5. Larutan dalam
labu ukur 100 mL dihimpitkan

dan

dihomogenkan.
6. Dipipet 25 mL larutan ke dalam erlenmeyer
7. Ditambahkan HCl 4 N hingga pH netral
8. Ditambahkan 10 mL EDTA 0,02 M berlebih terukur
9. Ditambahkan 10 mL CH3COONa 10 %
10. Ditambahkan CH3COOH glasial hingga pH 5 (di ruang asam)
11. Ditambahkan 10 tetes indikator xylenol orange
12. Dtitar dengan ZnSO4 0,02 M hingga TA merah
13. Dilakukan blanko.

Perhitungan

Al 2 O3=

( VbVp ) M ZnS O4 Mr Al 2 O3 fp
x 100
mg contoh

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 29

C. Penetapan Kadar MgO Secara Kompleksometri


Prinsip Penetapan
Pada pH 8-10, Mg2+ dapat bereaksi dengan ligan membentuk
senyawa kompleks dengan EDTA. Agar ion Ca2+ tidak mengganggu,
terlebih dahulu diendapkan dengan amonium oksalat. Mg2+ akan
bereaksi dengan indikator menjadi Mg-EBT, yaitu senyawa rangkai
berwarna merah anggur, selanjutnya pada saat penitaran dengan
EDTA akan menghasilkan titik akhir warna larutan menjadi biru.
Reaksi

Ca2+ + (NH4)2C2O4 CaC2O4 (putih) + 2NH4+

Mg2+ + H2In- MgIn-(Merah anggur) + H+


MgIn- + H2Y2- MgY2- + H2In2- (biru)

Cara Kerja
1.
2.
3.
4.

Dipipet 10 ml filtrat larutan induk II kedalam erlenmeyer


Ditambahkan NH4OH 1:10 sampai pH 9
Dipanaskan 40-90 oC
Diendapkan dengan (NH4)2C2O4 hingga Ca2+ mengendap

sempurna
5. Endapan diperam beberapa saat dan uji pengendapan
6.
7.
8.
9.

sempurna
Ditambahkan 5 ml buffer pH 10
Ditambahkan seujung sudip indicator EBT
Dititar dengan EDTA 0,02M hingga TA biru
Dilakukan blanko.

Perhitungan
MgO=

( VpVb ) x M EDTA x Mr MgO x fp


x 100
mgcontoh

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 30

D. Penetapan Kadar CaO Secara Kompleksometri


Dasar
Pada pH 7-12 Ca2+ dapat membentuk kompleks dengan EDTA
membentuk CaY2- sedangkan Mg2+ diendapkan pada pH 11-12
dengan NH4OH membentuk Mg(OH)2, sehingga hanya Ca2+ yang
terkomplekskan. Dengan indikator murexid yang bekerja di pH 11-12
hingga diperoleh TA berwarna lembayung.
Reaksi

Mg2+ + 2OH- Mg(OH)2

Ca2+ + H2In- CaIn-(merah) + H+


CaIn- + H2Y2- CaY2- + H2In-(Lembayung) + H+

Cara Kerja
1. Dipipet 10ml filtrate larutan induk II kedalam Erlenmeyer
2. Ditambahkan NH4OH 1:1 hingga pH 11
3. Ditambahkan 1ml KCN dan ujung spatula indicator
Mureksid(merah)
4. Dititar dengan EDTA 0,02M hingga Titik akhir lembayung
5. Dilakukan blanko

Perhitungan

CaO=

( VpVb ) x M EDTA x Mr CaO x fp


x 100
mg contoh

E. Penetapan Kadar CaO Secara Permanganatometri


Dasar
Pada pH 8 Ca2+ dapat diendapkan dengan (NH 4)2C2O4 menjadi
CaC2O4 yang direaksikan dengan H 2SO4 menjadi H2C2O4 dan

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 31

endapan CaSO4. Dalam suasana asam panas (40 oC) H2C2O4 yang
bersifat reduktor kemudian dioksidasikan dengan KMnO 4 hingga titik
akhir merah muda seulas tanpa penambahan indikator.

Reaksi
Ca2+ + (NH4)2C2O4 CaC2O4 (putih) + 2NH4+
CaC2O4 + H2SO4 H2C2O4 + CaSO4 (putih)
2H2C2O4 + 3H2SO4 + 2KMnO4 K2SO4 + 2MnSO4 + 8H2O + 10CO2

Cara Kerja
1.
2.
3.
4.

Dipipet 25mL larutan induk II kedalam Erlenmeyer


Ditambahkan NH4OH encer hinggga pH 8
Dipanaskan 40o-90oC
Ditambahkan (NH4)2C2O4 10% hingga ion Ca2+ mengendap

sempurna
5. Diperam beberapa saat
6. Endapan disaring dengan kertas saring No.41
7. Filtrat dibubuhi H2SO4 4N 15 mL sambil dimasukkan ke labu
ukur 100mL
8. Dicuci dengan air hingga bebas asam (di lakukan pengujian
dengan menggunakan lakmus biru)
9. Dihimpitkan dan dihomogenkan
10. Dipipet 10mL dimasukkan kedalam Erlenmeyer
11. Dipanaskan 40 oC
12. Dititar dengan KMnO4 0,1N hingga titik akhir merah muda
seulas
Perhitungan

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 32

CaO=

( VpVb ) x N KMnO 4 x bst CaO x fp


x 100
mg contoh

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 33

BAB IV PEMBAHASAN
A. Pembuatan larutan induk II
Larutan induk I yang mengandung ion-ion seperti Al 3+, Ca

2+

, dan

Mg2+ diproses kembali dengan cara pengendapan menggunakan basa


NH4OH untuk proses selanjutnya. Filtrat larutan induk I dioksidasikan oleh
H2O2 agar kation yang bervalensi rendah menjadi valensi tingginya karena
lebih stabil, khususnya untuk logam Fe (Fe 2+ menjadi Fe3+). Setelah itu
dilakukan pemanasan untuk menghilangkan sisa H2O2, karena H2O2 dapat
merusak indikator MM yang digunakan pada proses pengendapan.
Suasana pH pada saat pengendapan harus diperhatikan. Jika pH >8
maka akan ada endapan Al(OH)3 yang larut, karena Al(OH)3 bersifat
amfoter (dapat larut kembali pada lingkungan basa berlebih). Oleh karena
itu, digunakanlah MM sebagai indikator karena rangenya yang sesuai,
yaitu antara 4,4-6,3. Penambahan MM maksimal 2 tetes.

Jika terlalu

banyak maka akan terjadi double indicator yang mempengaruhi titik


akhir.
Penambahan NH4OH 1 : 1 bertujuan untuk menetralkan kondisi
asam dari pelarut aqua regia. Saat penetralan, akan terbentuk endapan
Fe(OH)3 karena Fe3+ akan mengendap sekitar pH 4. Akan tetapi endapan
yang diperoleh sangat halus karena pembentukkan inti endapan cepat
dan banyak yang disebabkan oleh pereaksi yang pekat. Oleh karena itu
endapan yang terbentuk dilarutkan kembali dengan HCl 25% hingga
larutan jernih. Kemudian diendapkan kembali dengan NH 4OH 10% pada
suhu

70-80

C,

ditunggu

hingga

mengenap,

lalu

dilakukan

uji

pengendapan sempurna. Lalu dipanaskan kembali untuk menghilangkan


kelebihan NH4OH yang mengurai menjadi NH 3 dan H2O. Hal ini bertujuan
agar Al(OH)3 tidak akan larut kembali karena suasana larutan yang basa.
Jika hal ini terjadi maka akan mengakibatkan kesalahan negatif pada
kadar Al3+. Hasil preparasi ini disebut larutan induk II dan endapan R(OH) 3.

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 34

B. Penetapan Kadar Al2O3 Secara Kompleksometri


Al bersifat amfoter sehingga endapan Al(OH) 3 akan larut pada pH > 8
menjadi senyawa aluminat. Endapan Al(OH) 3 yang terdapat di kertas
saring direaksikan dengan basa kuat (NaOH) membentuk senyawa
rangkai aluminat Na3AlO3 sehingga dapat lolos dari kertas saring.
Kemudian filtrat ditampung di labu ukur. Setelah dilarutkan dengan NaOH
menggunakan pipet tetes, kertas saring dicuci dengan NH 4NO3 hingga
bebas basa untuk meyakinkan bahwa semua Na 3AlO3 masuk ke dalam
labu ukur. Digunakan NH4NO3 sebagai pencuci untuk menghindari
peptisasi Al(OH)3 menjadi koloid. Filtrat dalam labu ukur diencerkan
kemudian dihimpitkan. HCl digunakan untuk mengubah ion aluminat
menjadi Al3+ karena EDTA tidak bisa bereaksi dengan Na3AlO3.
Kadar Al3+ ditetapkan dengan titrasi kompleksometri menggunakan
metode back titration. Hal ini karena bila logam Al 3+ langsung bereaksi
dengan indicator logam akan membentuk kompleks yang stabil sehingga
warna pada titik akhir tidak dapat diamati dengan jelas karena logam akan
sulit melepaskan indikator. EDTA ditambahkan berlebih terukur sehingga
EDTA akan bereaksi dengan seluruh Al3+ yang terdapat dalam larutan.
Kemudian sisa EDTA dititar oleh ZnSO 4. Indikator yang digunakan adalah
xylenol orange yang dapat bekerja dengan baik pada pH 3-5, sehingga pH
larutan diturunkan hingga pH 5 dengan menggunakan asam asetat glasial.
Digunakan pula larutan CH3COONa sebagai buffer. Kelebihan 1 tetes
ZnSO4 akan membentuk warna merah saat bereaksi dengan indikator.
Perubahan warna ini menjadi patokan untuk titik akhir titrasi.

C. Penetapan Kadar MgO Secara Kompleksometri


Untuk menetapkan kadar MgO, ion Ca 2+ yang juga terdapat dalam
larutan induk II diendapkan terlebih dahulu dengan ammonium oksalat

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 35

pada suhu 40-90oC agar ion Ca2+ tidak ikut bereaksi dengan EDTA. Jika
ion Ca2+
Setelah

ikut bereaksi maka akan menyebabkan kesalahan positif.


proses

pengendapan

didiamkan

agar

pengendapannya

berlangsung sempurna. Tetapi pemeramannya tidak boleh terlalu lama


karena nanti akan terjadi pengendapan susulan (Mg 2+ ikut mengendap)
sehingga akan menjadi kesalahan negatif. Ion Ca 2+ diendapkan dalam
suasana sedikit basa dan panas. Suasana pada saat titrasi dipertahankan
pada pH 9-10 dengan penambahan buffer pH 10, karena Mg 2+ akan
mengendap menjadi Mg(OH)2 pada pH > 10. Indikator yang digunakan
adalah EBT dan membentuk kompleks dengan Mg 2+ yang berwarna
merah anggur. Kemudian larutan dititrasi dengan EDTA hingga TA biru.
Blanko dilakukan sebagai faktor koreksi karena dikhawatirkan air yang
digunakan mengandung ion Mg 2+ sehinga ada kemungkinan terjadi
kesalahan positif.

D. Penetapan Kadar CaO


Kalsium oksida (CaO) merupakan komponen terbesar dalam semen
yang berfungsi sebagai senyawa pembentuk mineral potensial penyusun
kekuatan semen. Penetapan kadar CaO dapat dilakukan dengan
beberapa cara, antara lain dengan titrasi kompleksometri maupun
permanganatometri. Kedua metode ini menggunakan larutan induk II
sebagai titratnya.
Dalam penetapan CaO secara kompleksometri, ion Mg 2+ diendapkan
terlebih dahulu dengan penambahan NH 4OH 1:1 hingga pH 11 karena
Mg2+ mulai mengendap pada pH > 10. Hal ini dilakukan agar Mg 2+ tidak
ikut bereaksi dengan penitar (EDTA). Penambahan KCN berfungsi
sebagai masking agent. Ion CN - yang bersifat ligan akan membentuk
senyawa rangkai dengan logam-logam lain selain golongan alkali tanah
yang mungkin ada dalam larutan agar tidak ikut bereaksi dengan EDTA.
Indikator yang digunakan adalah murexid hablur yang bekerja dengan
baik pada pH 11-12. Kompleks Ca-indikator yang berwarna merah dititar

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 36

dengan EDTA hingga diperoleh titik akhir berwarna lembayung. Blanko


dilakukan sebagai faktor koreksi karena dikhawatirkan air yang digunakan
mengandung ion Ca2+ sehinga ada kemungkinan terjadi kesalahan positif.
Pada penetapan kadar CaO dengan metode permanganatometri,
prinsipnya adalah reaksi redoks. Pertama-tama, ion Ca 2+ direaksikan
dengan amonium oksalat dalam suasana panas dan sedikit basa
membentuk endapan CaC2O4. Endapan tersebut kemudian disaring dan
dilarutkan kembali dengan H2SO4 encer membentuk asam oksalat
(H2C2O4). Asam oksalat yang bersifat pereduksi dititrasi dalam suasana
asam dan hangat. Jumlah asam oksalat yang dihasilkan setara dengan
ion Ca2+ sehingga kadar CaO dalam sampel dapat dihitung.
Kalsium oksida (CaO) yang terkandung merupakan kadar CaO yang
terikat dalam semen. CaO merupakan komponen terbesar dalam semen
yang berfungsi sebagai senyawa pembentuk mineral potensial penyusun
kekuatan semen. Persenyawaan ini merupakan komponen-komponen
kimia dalam semen yang mempunyai fungsi masing-masing dalam
menentukan kualitas semen. Komposisi persenyawaan tersebut adalah tri
kalsium silikat (3CaO. SiO2) disingkat C3S, berfungsi sebagai kekuatan
awal semen, dikalsium silikat (2CaO.SiO2) disingkat C2S, berfungsi
sebagai kekuatan akhir, tri kalsium aluminat (3CaO.Al 2O3) disingkat C3A,
dan tetra kalsium alumina ferrit (4CaO. Al 2O3. Fe2O3) disingkat C4AF,
berfungsi sebagai penurun suhu, pemberi ketahanan terhadap asam
sulfat, dan dapat mempengaruhi warna semen

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 37

BAB V SIMPULAN
Semen merupakan hasil dari pembakaran berbagai bahan mineral
yang digiling halus yang apabila ditambahkan air akan menjadi bahan
seperti lumpur dan apabila air yang ditambahkan sudah menguap akan
mengeras dan menjadi tahan air dan garam. Analisis total semen ini
dilakukan untuk mengetahui komposisi dan mutu semen yang dianalisis
karena

komposisi

bahan-bahan

yang

terdapat

didalamnya

akan

mempengaruhi sifat semen yang dibuat dan mempengaruhi mutunya.


Tahapan analisis yang dibahas dalam makalah ini yaitu preparasi larutan
induk II, penetapan kadar Al 2O3 metode kompleksometri, penetapan kadar
MgO metode kompleksometri, dan penetapan kadar CaO metode
kompleksometri dan permanganatometri.

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 38

BAB VI DAFTAR PUSTAKA


Riandari, Dwika., Kusmawati, Rini . 2014. Analisis Proksimat. Bogor:
SMK-SMAK Bogor.
R.A , Day J.R, Al. Underwood . 2002 . Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta :
Erlangga.

ASTM C 150-02a, Standard Specification for Portland


Cement
Anonim. 1999. Semen Portland Pozoland. SNI No. 15-0302-1995-1999.
Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.
Anonim. 2004. Semen Portland. SNI No. 15-2049-2004. Jakarta:
Badan Standarisasi Nasional.
Anonim. 2016. Materi 2 Semen. Surabaya: Institut Teknologi 10 Nopember

MAKALAH ANALISIS TOTAL SEMEN 2 | XII-5 | -2 | 39