Anda di halaman 1dari 15

LABORATORIUM

PROSEDUR PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG HIDUNG


RS. CERIA
Jl. Jend. Sudirman No. 10
Hamalau
Telp/Fax.(0517) 23865
Kandangan

No. Dokumen

No. Revisi

A.

B.

Tanggal Terbit :

PROSEDUR
TETAP
Pengertian

Tujuan
Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

No. Halaman

1/1
Ditetapkan Oleh,
Direktur Rumah Sakit Ceria

Dr. Silvia Velika


Berbagai tindakan yang dilakukan di dalam Laboratorium baik akibat
spesimen maupun alat alat laboratorium yang dapat menimbulkan bahaya
bagi petugas. Masker hidung adalah alat pelindung diri yang digunakan
untuk menutup hidung dan mulut guna melindungi diri dari masuknya bendabenda kecil, kuman penyakit, maupun gas/bau/asap ke saluran pernafasan.
Untuk mencegah / mengurangi bahaya yang terjadi pada setiap petugas yang
bekerja di laboratorium.
1. Masker hidung selalu dipakai pada saat melaksanakan tugasnya oleh
petugas yang kerjanya berhubungan dengan kemungkinan terhirupnya
benda-benda kecil, kuman, penularan penyakit dari pasien maupun
bau/gas/asap yang terbuang diudara.
2. Rumah Sakit menyediakan masker dalam jumlah cukup.
1.
Masker dipakai tepat menutupi hidung dan mulut petugas dengan
mengikat talinya melilit kepala.
2.
Gunakan cermin untuk menolong pemasangan.
3.
Kedua tali diatas diikatkan melalui atas telinga.
4.
Kedua tali dibawah diikatkan melalui bawah terlinga.
5.
Untuk masker dengan tali karet yang melingkat dengan cara menarik
kedua sisinya untuk dikaitkan pada daun telinga.
6.
Pakailah masker yang bersih, kondisi baik dan disposable.
7.
Masker yang telah dipakai dibuang pada bak sampah.

K3

IGD

Rawat Inap

ICU

IPSRS

Instalasi Farmasi

LABORATORIUM
PROSEDUR PEMAKAIAN PELINDUNG BADAN
RS. CERIA
Jl. Jend. Sudirman No. 10
Hamalau
Telp/Fax.(0517) 23865
Kandangan

No. Dokumen

No. Revisi

A.

B.

Tanggal Terbit :

PROSEDUR
TETAP
Pengertian

Tujuan
Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

No. Halaman

1/1
Ditetapkan Oleh,
Direktur Rumah Sakit Ceria

Dr. Silvia Velika


Berbagai tindakan yang dilakukan di dalam Laboratorium baik akibat
spesimen maupun alat alat laboratorium yang dapat menimbulkan bahaya
bagi petugas. Alat pelindung badan adalah alat pelindung diri yang
digunakan untuk menutupi badan/baju dan celana dari bahan-bahan yang
dapt mencederai atau menularkan penyakit.
Untuk mencegah / mengurangi bahaya yang terjadi pada setiap petugas yang
bekerja di laboratorium.
1. Alat pelindung badan selalu dipakai oleh petugas yang dalam
melaksanakan tugasnya kontak dengan bahan kimia korosif, benda panas
atau dingin, benda tajam, kasar dan bahan yang potensial menularkan
penyakit.
2. Rumah Sakit menyediakan alat pelindung badan sesuai dengan jenis dan
kegunaannya.
1. Pilih pelindung badan/jas praktek yang sesuai dengan ukuran badan dan
jenis bahaya yang ada.
2. Pakailah pelindung badan yang tepat menutupi/melindungi baju lengan
tangan hingga bagian bawah celana.
3. Jas praktek digunakan apabila petugas laboratorium sedang bekerja
dengan bahan dan benda yang tidak menyebabkan korosif.
4. Jas celemek plastik digunakan apabila petugas laboratorium sedang
bekerja dengan bahan dan benda yang menyebabkan korosif dan
menular.
5. Apabila diperlukan tingkat keamanan yang tinggi maka pemakaian jas
dikombinasikan keduanya.
6. Jangan menggunakan alat pelindung yang kotor dan bekas tumpahan
reagensia yang belum dibersihkan atau dicuci.

K3

IGD

Rawat Inap

Rawat Jalan

ICU

IPSRS

Instalasi Farmasi

LABORATORIUM
PROSEDUR PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG KAKI
RS. CERIA
Jl. Jend. Sudirman No. 10
Hamalau
Telp/Fax.(0517) 23865
Kandangan

No. Dokumen

No. Revisi

A.

B.

Tanggal Terbit :

PROSEDUR
TETAP
Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

No. Halaman

1/1
Ditetapkan Oleh,
Direktur Rumah Sakit Ceria

Dr. Silvia Velika


Berbagai tindakan yang dilakukan di dalam Laboratorium baik akibat
spesimen maupun alat alat laboratorium yang dapat menimbulkan bahaya
bagi petugas. Alat pelindung kaki adalah alat pelindung diri yang digunakan
untuk menutup kaki dari bahan-bahan yang dapat mencederai/masuknya
kuman penyakit atau parasit.
Untuk mencegah / mengurangi bahaya yang terjadi pada setiap petugas yang
bekerja di laboratorium. Alat pelindung kaki untuk melindungi kaki dari
bahaya kejatuhan benda berat, percikan larutan asam-basa korosif, cairan
panas, benda tajam dan sengatan listrik.
1. Alat pelindung kaki selalu dipakai oleh karyawan yang dalam
melaksanakan tugasnya mempunyai potensi untuk terkena bahaya
kejatuhan benda berat, percikan larutan asam dan basa korosif, cairan
panas, benda tajam, sengatan listrik dan masuknya kuman penyakit
melalui kaki
2. Rumah Sakit menyediakan alat pelindung kaki yang sesuai dengan
bidang pekerjaan.
1. Setiap petugas memakai alas kaki yang sesuai dengan bidang
pekerjaannya.
2. Pakailah sepatu yang tepat dan aman.
3. Pilihlah sepatu yang sesuai dengan ukuran kaki.
4. Pemakaian sandal hanya untuk petugas yang tidak bekerja mempunyai
potensi untuk terkena bahaya kejatuhan benda berat, percikan larutan
asam dan basa korosif, cairan panas.
5. Jangan memakai sepatu yang sudah rusak atau cacat.

K3

IGD

Rawat Inap

ICU

IPSRS

LABORATORIUM
PROSEDUR PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG TANGAN
RS. CERIA
Jl. Jend. Sudirman No. 10
Hamalau
Telp/Fax.(0517) 23865
Kandangan

No. Dokumen

No. Revisi

A.

B.

Tanggal Terbit :

PROSEDUR
TETAP
Pengertian

Tujuan
Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

No. Halaman

1/1
Ditetapkan Oleh,
Direktur Rumah Sakit Ceria

Dr. Silvia Velika


Berbagai tindakan yang dilakukan di dalam Laboratorium baik akibat
spesimen maupun alat alat laboratorium yang dapat menimbulkan bahaya
bagi petugas. Alat pelindung tangan adalah alat pelindung diri yang
digunakan untuk menutupi tangan guna melindungi tangan dari bahan-bahan
yang dapt mencederai atau menularkan penyakit.
Untuk mencegah / mengurangi bahaya yang terjadi pada setiap petugas yang
bekerja di laboratorium.
1. Alat pelindung tangan selalu dipakai oleh petugas yang dalam
melaksanakan tugasnya kontak dengan bahan kimia korosif, benda panas
atau dingin, benda tajam, kasar dan bahan yang potensial menularkan
penyakit.
2. Rumah Sakit menyediakan alat pelindung tangan sesuai dengan jenis dan
kegunaannya.
1. Pilih sarung tangan yang sesuai dengan ukuran tangan dan jenis bahaya
yang ada.
2. Pakailah sarung tangan yang tepat menutupi/melindungi jari-jari tangan
dengan lengan tangan.
3. Beberapa sarung tangan menurut jenis bahaya yang dicegah :
a.
Bahaya listrik : sarung tangan karet tebal
b.
Benda tajam : sarung tangan kulit
c.
Tindakan laboratorium : sarung tangan karet tipis
d.
Mencuci peralatan gelas : sarung tangan karet tebal.

K3

IGD

Rawat Inap

Rawat Jalan

ICU

IPSRS

Instalasi Farmasi

LABORATORIUM
PROSEDUR PENCEGAHAN BAHAYA / KECELAKAAN FISIK
KIMIA DAN BIOLOGIS
RS. CERIA
Jl. Jend. Sudirman No. 10
Hamalau
Telp/Fax.(0517) 23865
Kandangan

No. Dokumen

No. Revisi

A.

B.

Tanggal Terbit :

PROSEDUR
TETAP
Pengertian
Tujuan
Kebijakan

Prosedur

No. Halaman

1/1
Ditetapkan Oleh,
Direktur Rumah Sakit Ceria

Dr. Silvia Velika


Berbagai tindakan yang dilakukan di dalam Laboratorium baik akibat
spesimen maupun alat alat laboratorium yang dapat menimbulkan bahaya
bagi petugas.
Untuk mencegah / mengurangi bahaya yang terjadi pada setiap petugas yang
bekerja di laboratorium.
Mengacu kepada buku Pedoman Keamanan Laboratorium Mikrobiologi dan
Biomedis.
Mengacu pada Pedoman Praktek Laboratorium yang Benar, Good
Laboratory Practise (GLP), Pusat Laboratorium Kesehatan, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia Jakarta, 1999
1. Cara mencegah penyebab bahan infeksi
a.
Lingkaran sengkelit ose harus penuh dan panjang tangkai
maksimal 6 cm.
b.
Gunakan alat insinerasi mikro untuk membakar sengkelit. Hal ini
untuk mencegah timbulnya percikan bahan infeksi jika membakar
sengkelit di atas pembakar Bunsen atau api spritus.
c.
Jangan lakukan tes katalasa di atas gelas objek. Sebaiknya
gunakan tabung atau gelas objek yang memakai tutup. Cara lain
adalah dengan menyentuh permukaan koloni mikro organisme
dengan tabung kapiler hematokrit yang berisi hydrogen peraksida.
d.
Tempatkan sisa spesimen dan media biakan yang akan di
sterilisasi dalam wadah yang tahan bocor
e.
Dekontaminasi permukaan meja kerja dengan desinfektan yang
sesuai setiap kali habis bekerja.
2. Cara mencegah tertelan dan terkenanya kulit serta mata oleh bahan
infeksi selama bekerja, partikel dan droplet (diameter >5 um) akan
terlepas ke udara dan menempel pada permukaan meja tangan petugas
laboratorium, untuk di anjurkan untuk mengikuti hal-hal di bawah ini :
a.
Cuci tangan sesering mungkin dengan sabun/disinfektan.
Jangan menyentuh mulut dan mata selama bekerja
b.
Jangan makan, minum, merokok, mengunyah permen atau
menyimpan makanan/minuman dalam laboratorium
c.
Jangan membubuhkan kosmetik dalam laboratorium
d.
Gunakan alat pellindung mata/muka jika terdapat resiko

percikan bahan infeksi saat kerja


3. Cara mencegah tertusuk bahan infeksi
Jarum suntik, pipet Pasteur dan pecahan kaca dapat menyebabkan luka
tusuk. Untuk menghindarinya dapat di lakukan :
a.
Bekerja dengan hati-hati
b.
Mempergunakan jarum suntik sejarang mungkin
c.
Gunakan semprit dengan kanula tumpul sebagai pengganti.
d.
Pilih pipet Pasteur yang terbuat dari plastik.
4. Cara menggunakan pipet dan alat bantu pipet
a.
Jangan memipet dengan mulut, gunakan alat bantu pipet
b.
Jangan meniupkan udara maupun campuran bahan terinfeksi
dengan cara menghisap dan meniup cairan lewat pipet
c.
Jangan keluarkan cairan dari dalam pipet dengan paksa
d.
Sediakan kapas yang di basahi disinfektan pada meja kerja
untuk membersihkan meja kerja jika terkena cairan/bahan infeksi
dari pipet kapas diotoklaf setelah selesai di gunakan
e.
Gunakan pipet ukur karena cairan tidak perlu di keluarkan
sampai tetes terakhir
f.
Rendam pipet habis pakai dalam wadah berisi desinfektan.
Biarkan selama 18-24 jam sebelum disterilisasi
g.
Di samping kabinet keamanan biologis harus di sediakan
wadah untuk membuang pipet.
h.
Jangan gunakan semprit dengan atau tanpa jarum suntuk
untuk memipet
5. Cara menggunakan sentrifus/ alat pemusing
a.
Lakukan santrifusi sesuai intruksi pabrik
b.
Sentrifus harus di letakkan pada ketinggian tertentu sehinga
petugas laboratorium dapat melihat ke dalam alat dan menempatkan
tabung sentrifus dengan mudah.
c.
Periksa rotor sentrifus dan selongsong (bucket) sebelum di
pakai atau secara berkala untuk melihat tanda korosi dan keratakan
d.
Kerongsong berisi tabung sentrifus harus seimbang.
e.
Gunakan air untuk menyeimbangkan selongsong. Jangan
gunakan larutan NaCl atau hipoklorit karena bersifat korosit
f.
Setelah di pakai, simpan selongsong dalam posisi terbalik
agar cairan penyeimbang dapat mengalir keluar.
g.
Lakukan sentrifugasi dengan cara yang benar. Tabung yang
tertutup rapat dan selongsong yang terkunci dapat melindungi
petugas laboratorium terhadap aerosol dan sebaran partikel dari
mikroorganisme
6. Cara menggunakan alat homogenisasi, alat pengguncang dan alat
sonikasi
a.
Jangan gunakan alat homogenisasi yang di pakai dalam
rumah tanggga, karena dapat bocor dan menimbulkan aerosol.
Gunakan blender khusus untuk laboratorium
b.
Mangkuk, botol dan tutupnya dalam keadaan baik dan tidak
cacat. Tutub botol harus pas
c.
Aerosol yang mengandung bahan infeksi dapat keluar dari
celah antara tutup dan tabung alat homogenisasi, alat pengguncang
(sheker) dan alat sonikasi
d.
Gunakan tabung yang terbuat dari politetrafluoretilen
(PTFE) karena tabung gelas dapat pecah
e.
Setelah di gunakan,buka alat dalam cabinet keamanan
biologis

f.
Gunakan alat pelindung telinga saat melakukan sonikasi
7. Cara menggunakan lemari pendingin dan lemari pembeku
a.
Lemari pendingin (refrigerator), lemari pembeku (freezer),
dan tabung es kering (dry-ice) harus di bersihkan dan esnya di
cairkan (defrost) secara teratur
b.
Buang ampul, tabung, botol, dan wadah yang lain yang
pecah selama di simpan. Gunakan alat pelindung muka dan sarung
tangan karet tebal saat bekerja. Setelah di bersihkan, permukaan
dalam lemari pendingin dan lemari pembeku harus didisinfeksi
dengan disinfektan yang tidak korosif.
c.
Semua wadah yang di simpan harus di beri label dan bahan
yang sudah kadaluarsa harus di otoklaf
d.
Cairan yang sudah terbakar tidak boleh di simpan dalam
lemari pendingin
8. Cara membuka ampul berisi bahan infeksi yang diliofiliasi
Ampul berisi bahan infeksi yang di simpan dalam bentuk liofilisat di
buka dengan hati-hati. Bahan di dalam ampul berada dalam tekanan yang
rendah, sehingga bila ampul di buka dengan tiba-tiba, maka sebagian
isinya dapat menyebar ke udara
Ampul harus selalu di buka dalam kabinet keamanan biologis.
Dianjurkan untuk mengikuti petunjuk di bawah ini saat membuka ampul:
a.
Dekontaminasi permukaan luar ampul
b.
Beri tanda bagian ampul dekat sumbat kapas atau selulose.
c.
Pegang ampul dalam keadaan terbungkus kapas
d.
Tempelkan batang yang membara pada dinding ampul yang
telah diberi tanda agar ampul mudah di patahkan
e.
Lepaskan bagian atas ampul dengan perlahan dan
perlakukan sebagai bahan yang terkontaminasi
f.
Jika sumbat masih ada di atas bahan, lepaskan dengan
forsepster
g.
Tambahkan cairan perlahan-lahan untuk melarutkan kembali
bahan dalam ampul dan mencegah timbulnya busa/gelembung
cairan.
h.
Menyimpan ampul yang berisi bahan infeksi ampul berisi
bahan infeksi jangan di rendam dalam nitrogen cair karena ampul
yang retak atau tidak tertutup rapat dapat pecah atau meledak saat di
keluarkan. Jika membutuhkan suhu rendah, simpan ampul dalam
fase gas di atas nitrogen cair atau simpan dalam lemari pendingun
atau dalam es kering. Gunakan pelindung tangan dan mata saat
memindahkan ampuldari lemari pembeku
9. Tindakan khusus terhadap darah dan cairan tubuh
Tindakan di bawah ini khusus di buat untuk melindungi petugas
laboratorium terhadap infeksi yang di tularkan melalui darah seperti
Hepatitis B, HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan lain-lain
a.

Mengambil, memberi, meleber, dan membawa spesimen :


Gunakan sarung tangan.
Hanya petugas laboratorium yang boleh melakukan
pengambilan darah
3)
Setelah pengambilan darah, lepaskan jarum dari
sempritnya dengan alat khusus yang sekaligus merupakan wadah
penyimpan jarum habis pakai. Pindahkan darah ke dalam tabung
spesimen dengan hati-hati dan tutup rapat mulut tabung
spesimen. Jarum suntuk habis pakai sebaiknya di baker dalam
insinerasi. Jika fasilitas insinerasi tidak tersedia, jarum suntik
1)
2)

dan sempritnya di otoklaf dalam kantong yang terpisah


Tabung spesimen dan formulir harus di beri label
BAHAYA INFEKSI.
5)
Masukan tabung ke dalam kantong plestik untuk
dibawa ke laboratorium. Formulir permintaan dibawa terpisah
Membuka tabung spesimen dan mengambil sampel
1)
Buka tabung spesimen dalam kabinet keamanan
biologis kelas I dan kelas II
2)
Gunakan sarung tangan
3)
Untuk mencegah percikan, buka sumbat tabung setelah
di bungkus kain kasa
Kaca dan benda tajam
1)
Jika mungkin, gunakan alat dari plastik sebagai
pengganti kaca/gelas
2)
Bahan kaca/gelas dapat di pakai jika terbuat dari
borosilikat
3)
Sedapat mungkin hindari menggunakan alat suntik
untuk mengambil darah.
Sedangkan darah pada gelas objek
Pegang gelas objek dengan forsep
Peralatan otomatis
1)
Sebainya gunakan alat yang menggunakan tututp
(enclosed type)
2)
Cairan yang keluar dari alat/effuent harus di kumpulkan
dalam tabung/wadah tertutup atau dibuang ke dalam sistem
pembuangan limbah.
3)
Jika memungkinkan, alirkan larutan hipoklorit atau
glutaraldehid ke dalam alat setiap habis di pakai. Air dapat
digunakan sebagai pengganti disinfektan hanya dalam keadaan
tertentu.
Melakukan sentrifugasi
1)
Gunakan tabung sentrifus yang mempunyai tutup.
2)
Gunakan selonsong/rotoer yang di lengkapi penutup.
K3
IGD
Rawat Inap
4)

b.

c.

d.
e.

f.

Unit Terkait

LABORATORIUM
PEMELIHARAAN KESEHATAN PETUGAS LABORATORIUM
RS. CERIA
Jl. Jend. Sudirman No. 10
Hamalau
Telp/Fax.(0517) 23865
Kandangan

No. Dokumen

No. Revisi

A.

B.

Tanggal Terbit :

PROSEDUR
TETAP
Pengertian
Tujuan
Kebijakan
Prosedur

No. Halaman

1/1
Ditetapkan Oleh,
Direktur Rumah Sakit Ceria

Dr. Silvia Velika


Pencegahan terinfeksi kuman / bahan infeksius dan pemeriksaan kesehatan
petugas laboratorium rutin.
Untuk memelihara kesehatan petugas laboratorium.
Mengacu kepada buku Pedoman Keamanan Laboratorium Mikrobiologi dan
Biomedis.
A.
Persyaratan Kesehatan
- Pemeriksaan kesehatan lengkap termasuk Foto Torax dengan Sinar X
harus diterapkan pada calon petugas.
- Keadaan kesehatan petugas laboratorium harus memenuhi standar
yang ditentukan di laboratorium
B.
Pencegahan Tuberkulosis.
- Petugas laboratorium yang bekerja dengan bahan yang diduga
mengandung bakteri tuberkolusis harus diperiksa Foti Torax dengan
Sinar X setiap tahun.
- Bagi petugas lainnya Foto Torax dengan Sinar X dilakukan setiap
tiga tahun.
C.
Imunisasai Patugas Laboratorium
- Setiap laboratorium harus mempunyai program imunisasi. Petugas
laboratorium dianjurkan untuk di Vaksinasi terutama bila bekerja di
laboratorium tingkat keamanan biologis 2, 3, 4.
- Semua petugas laboratorium dianjurkan untuk Vaksinasi Hepatitis B.
- Petugas wanita usia reprudoksi dianjurkan vaksinasi Rubella.
- Wanita hamil dilarang bekerja dengan TORCH ( Toxoplasma
Rubella, Cytomegalovirus dan Herpesvirus )
D.
Perlindungan Petugas Yang Bekerja Dibawah Sinar
Ultra Violet.
- Pada keadaan tertentu misalnya dalam proses pembuatan vaksin
petugas laboratorium harus bekerja di bawah sinar ultra violet.

Saat bekerja petugas diwajibkan mengenakan pakaian pelindung


khusus dan alat pelindung mata.
- Bila ruangan tertutup jam kerja harus sering digilir, untuk
menghindari kelemasan.
E.
Pemantauan Kesehatan
Kartu kesehatan harus dimiliki oleh setiap petugas laboratorium.

Unit Terkait

Khusus petugas laboratorium tingkat keamanan biologis 3 dan 4,


- pemeriksaan serum petugas terhadap bahaya infeksi laboratorium
harus dlakukan secara berkala.
- Kartu kesehatan harus dibawa setiap saat dan diperlihatkan kepada
dokter bila petugas laboratorium sakit.
- Jika petugas laboratorium sakit lebih dari 3 hari tanpa keterangan
yang jelas tentang penyakitnya, maka petugas keamanan kerja
laboratorium harus melapor kepada kepala laboratorium tentang
kemungkinan infeksi dari laboratorium.
- Jilk dicurigai adanya infeksi laboratorium maka petugas keamanan
kerja laboratorium harus menyelidiki dan melaporkannya kepada
kepala laboratorium.
- Laboratorium harus memiliki buku laporan / catatan mengenai
kesehatan dan kecelakaan yan g disebabkan oleh pekerjaan.

K3

Instalasi Radiologi

IGD

Rawat Jalan

Rawat Inap

LABORATORIUM
TINDAKAN TINDAKAN YANG HARUS DILAKUKAN BILA
TERJADI KECELAKAAN DI LABORATORIUM
RS. CERIA
Jl. Jend. Sudirman No. 10
Hamalau
Telp/Fax.(0517) 23865
Kandangan

No. Dokumen

No. Revisi

A.

B.

Tanggal Terbit :

PROSEDUR
TETAP
Pengertian
Tujuan
Kebijakan
Prosedur

No. Halaman

1/1
Ditetapkan Oleh,
Direktur Rumah Sakit Ceria

Dr. Silvia Velika


Semua tindakan tindakan yang harus dilakukan bila terjadi kecelakaan di
laboratorium.
Untuk mengurangi bahaya akibat kecelakaan yang terjadi pada setiap petugas
laboratorium.
Mengacu kepada buku Pedoman Keamanan Laboratorium Mikrobiologi dan
Biomedis.
A.
Darurat Umum Untuk Membatasi Kerusakan Akibat
Kecelakaan
- Memberikan pertolongan pertama pada orang yang terkena musibah,
orang tersebut dipindahkan ke tempat lain, kecuali jika pemindahan
dapat menyebabkan keadaan yang lebih Buruk.
- Pemutusan Aliran listrik bila diperlukan pada kejadian akibat
sengatan listrik.
- Memberikan peringatan pada orang yang berada disekitar lokasi
kejadian.
- Pada kasus kebakaran yang diperkirakan tidak dapat diatasi dengan
pemadam kebakaran yang ada di laboratorium, hubungi segera
pemadam kebakaran kota / wilayah / swasta.
- Jika terdapat biakan yang tumpah, maka tumpahan dan wadahnya
segera ditutupi dengan kain yang dibasahi disinfektan dan diamankan
sebagaimana mestinya sesuai dengan pedoman keamanan. Jika
wadah terbuat dari logam, disinfektan yang bersifat korosif jangan
digunakan.
- Pada ancaman bahaya besar karena aerosol, daerah yang terkena
harus segera dikosongkan.
- Pada bahaya tumpahan radioaktif, harus diingat bahwa prinsif

Unit Terkait

penanganannya sama seperti terhadap bahan infeksius dengan


beberapa tambahan terhadap bahan radio aktif. Harus pula diingat
bahwa hypoclorit dapat menyebabkan zat yudiom radioaktif mudah
menyebar.
Jika terjadi banjir / gempa bumi, hanya orang yang terlatih untuk
keadaan tersebut yang boleh memasuki ruangan.

B.
Tindakan Yang Harus Dilakukan Jika terdapat
Tumpahan Bahan Kimia Berbahaya.
- Beritahu petugas keamanan kerja laboratorium dan jauhkan petugas
yang tidak berkepentingan dari lokasi tumpahan.
- Upayakan pertolongan bagi petugas laboratorium yang cidera.
- Jika bahan kimia yang tumpah adalah bahan mudah terbakar , segera
matikan semua api , gas dalam ruangan tersebut dan ruangan yang
berdekatan. Matikan peralatan listrik yang mungkin mengeluarkan
bunga api.
- Jangan menghirup bau dari bahan yang tertumpah.
- Nyalakan kipas angin penghisap ( Exhaust fan ) jika aman untuk
dilakukan.
C.
Hal hal Yang Harus Ada Untuk Menghadapi
Keadaan Darurat.
- Sistem tanda bahaya.
- Sistem evakuasi.
- Perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan ( P3K ).
- Alat komunikasi darurat baik di dalam atau keluar laboratorium.
- Sistem informasi darurat.
- Pelatihan khusus berkala tentang penanganan keadaan darurat.
- Alat pemadam kebakaran, masker, pasir, dan sumber air terletak pada
lokasi yang mudah dicapai.
- Alat seperti kampak, palu, obeng, tangga, dan tali.
- Alat pengukur kekuatan radioaktif.
- Nomor telepon ambulan, pemadam kebakaran dan polisi di setiap
ruang laboratorium
K3
Instalasi Radiologi
IGD
Rawat Jalan
Rawat Inap

LABORATORIUM
PEMELIHARAAN KESEHATAN PETUGAS LABORATORIUM
RS. CERIA
Jl. Jend. Sudirman No. 10
Hamalau
Telp/Fax.(0517) 23865
Kandangan

No. Dokumen

No. Revisi

A.

B.

Tanggal Terbit :

PROSEDUR
TETAP
Pengertian

Tujuan
Kebijakan
Prosedur

No. Halaman

1/1
Ditetapkan Oleh,
Direktur Rumah Sakit Ceria

Dr. Silvia Velika


Berbagai tindakan yang dilakukan di dalam Laboratorium baik akibat
spesimen maupun alat alat laboratorium yang dapat menimbulkan bahaya
bagi petugas. Mengangkat benda berat dengan tangan yang kurang benar
dapat membawa resiko kecelakaan.
Untuk mencegah / mengurangi bahaya yang terjadi pada setiap petugas yang
bekerja di laboratorium.
Mengangkat benda yang berat dengan sebatas kemampuan dan kekuatan
masing-masing demi keselamatan diri dan menghindari kecelakaan.
8.
Posisi Badan
a.
Usahakan agar badan kita sedekat mungkin dengan benda
yang akan diangkat.
b.
Berjongkoklah disamping benda yang akan diangkat.
c.
Usahakan paha pada sebelah dalam sedekat mungkin dengan
benda tersebut.
d.
Usahakan agar punggung tetap lurus pada waktu akan
mengangkat benda tersebut, lalu berdiri dengan mudah dan ringan.
9.
Pengaman Yang benar
e.
Pegangan yang salahm dapat memungkinkan benda jatuh
kena jari kaki dan mengakibatkan luka.
f.
Akibat dari memegang dengan ujung jari lengan akan
membengkak.
g.
Pegangan tangan yang sempurna akan terasa stabil. Posisi
tangan lurus akan membagi berat badan ke seluruh badan merata.
10.
Lengan Didekatkan Pada Badan
e.
Usahakan lengan mendekatkan pada badan pada waktu
mengangkat atau membawa benda.

f.

Unit Terkait

Bila benda didukung dengan tangan dimuka, sedapat


mungkin tangan harus lurus dan dekat dengan badan.
11.
Bila Punggung Membungkuk
i.
Pekerja akan kehilangan keseimbangan ke depan.
j.
Penambahan gangguan lain akan menambah kemungkinan
untuk jatuh.
k.
Tulang punggung kemungkinan terasa sakit.

K3

IGD

Rawat Inap

LABORATORIUM
PROSEDUR PEMBUATAN DAN PEMASANGAN TANDATANDA KHUSUS K3
RS. CERIA
Jl. Jend. Sudirman No. 10
Hamalau
Telp/Fax.(0517) 23865
Kandangan

No. Dokumen

No. Revisi

A.

B.

Tanggal Terbit :

PROSEDUR
TETAP
Pengertian
Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

No. Halaman

1/1
Ditetapkan Oleh,
Direktur Rumah Sakit Ceria

Dr. Silvia Velika


Tanda-tanda khusus K3 adalah gambar/simbol yang berkaitan dengan K3,
seperti sifat bahan berbahaya, potensi bahaya yang ada dan lainnya.
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk membuat dan memasang
tanda-tanda khusus K3 secara seragam sehingga membantu mencegah
terjadinya kecelakaan/kebakaran/bencana di laboratorium, khususnya untuk
bahan berbahaya.
3. Daerah berbahaya/beresiko diberi tanda-tanda bahaya yang sesuai.
4. Tanda-tanda bahaya dipasang ditempat yang mudah dilihat.
5. Tanda-tanda bahaya dibuat dari bahan yang tahan lama dan dengan
ukuran yang sesuai.
12.
Buat tanda /simbol yang dimaksud dengan bahan yang berkualitas
baik.
13.
Tanda atau simbolnya adalah :
a. Simbol MUDAH TERBAKAR
b. Simbol MUDAH MELEDAK
c. Simbol IRITASI
d. Simbol KOROSIF
e. Simbol INFEKSIUS
f. Simbol OKSIDATOR
g. Simbol BERACUN

Laboratorium

Farmasi

Rawat Inap

Rawat Jalan

K3
IPSRS