Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam bertukar kepentingan, umat manusia mengenal berbagai metode,
diantaranya dengan sewa-menyewa, sebagai solusi lain bagi terpenuhinya
kepentingan kedua belah pihak dengan konsekuensi yang lebih ringan bila
dibanding akad jual beli. Pemilik barang tidak harus kehilangan barangnya,
sebagaimana penyewa cukup mengeluarkan biaya yang jauh lebih ringan bila
dibandingkan dengan biaya pada jual beli.
Akad sewa-menyewa merupakan salah satu bentuk kegiatan muamalah
yang banyak dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. dalam
banyak kesempatan menjadi solusi tepat bagi mereka yang ingin memiliki suatu
barang tanpa harus membelinya, baik sebagai pemilik barang atau sebagai pemilik
barang atau sebagai penyewa. Yang demikian itu dikarenakan risiko akad ini
dalam banyak kesempatan ringan dan tidak berkepanjangan. Dengan demikian,
kedua belah pihak diuntungkan karena dapat memenuhi kebutuhannya dengan
risiko minimal.
Pada dasarnya prinsip ijarah sama-halnya dengan prinsip jual beli, tapi
perbedaannya terletak pada objek transaksinya. Pada jual beli objek transaksinya
barang, pada ijarah objek transaksinya adalah barang (ijarah ala ayan) maupun
jasa (Ijarah ala amal), sedangkan pembayaran atas pemanfaatan barang atau jasa
tersebut disebut Ujrah (fee).
Pranata ijarah telah ada sejak zaman pra-Islam, bukti dari itu Nabi
Muhammad s.a.w. telah dibesarkan oleh ibu susunya Halimah al-Sadiyyah dan
baginda juga bekerja mengambil upah memelihara kambing orang Mekah semasa
remaja. Setelah datangnya Islam Ijarah menjadi bagian cabang muamalat yang
penting dalam membangun kehidupan berekonomi, seiring perkembangannya
akad ijarah mulai dimodifikasi mengikuti perkembangan zaman dan tempat,
hingga kini ia dianggap sebagai salah satu jalan alternatif untuk memenuhi
kebutuhan dan keperluan. Menurut kepentingannya sebagai pemindahan hak

guna, ijarah tidak hanya dipraktekan oleh personality, namun juga oleh lembagalembaga keuangan.
Pada prakteknya di lembaga keuangan, akad ijarah mengalami
transformasi, ia tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk memperoleh manfaat
suatu barang atau jasa, namun juga menjadi salah satu alternatif untuk dapat
memiliki barang. Dalam konteks yang sama pada sektor industri, manusia sebagai
pemilik jasa, dalam pandangan ekonomi konvensional tidak lebih hanya sekedar
barang modal, sehingga dalam penetapan upah (ujrah) sering kali mengabaikan
sisi kemanusiaannya, yang dinilai hanya dari sisi manfaatnya saja sebagai faktor
produksi.
Dalam ekonomi Islam masalah ijarah dan ujrah bukan hanya sekedar
sarana untuk bertukar kepentingan, didalamnya terkandung nilai-nilai moral dan
etika yang harus diperhatikan. Berangkat dari latar belakang masalah inilah
penulis mengangkat tema ijarah dan ujrah dari aspek moral dan etika.
Rumusan Masalah
Sehubungan itu, persoalan yang bakal dijawab melalui tulisan yang sedikit ini
bolehlah diringkaskan seperti berikut:
1. Sejauh manakah penanaman nilai-nilai moral dan etika dalam kegiatan
Ijarah dan Ujrah?
2. Apakah teras moral dan etika dalam praktek Ijarah dan Ujrah?
B. Tujuan Makalah
1. Untuk mengetahui urgensi penanaman nilai dan moral Ijarah dan Ujrah.
2. Untuk mengetahui bagaimana seharusnya etika dan moral Ijarah dan Ujrah
dalam prakteknya.

C. Metode Makalah
Tulisan yang merupakan penelitian sederhana ini adalah penelitian studi
pustaka atau studi literatur dengan menggunakan data-data sekunder berupa
buku referensi, artikel-artikel dan karya ilmiah lain. Tulisan ilmiah berupa
paper ini pun mencoba menggunakan metode penelitian yang bersifat

deskriptif di mana penulis bermaksud mendeskripsikan secara umum setting


sosial yang berlaku dalam praktek Ijarah dan Ujrah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ijarah dan Ujrah


Salah satu bentuk kegiatan manusia dalam muamalah adalah ijarah atau sewamenyewa, kontrak, menjual jasa, upah-mengupah dan lain-lain. Secara bahasa
ijarah terambil dari kata ( )yang berarti imbalan terhadap suatu pekerjaan
( ) dan pahala (). Asal katanya adalah:- dan
jamaknya adalah ().1 Wahbah al-Zuhaily mendefinisikan ijarah sebagai jual
beli manfaat () . Dalam definisinya beliau menjelaskan akad Ijarah (sewa
menyewa) sama halnya seperti akad Bai (jual beli). Perbedaannya akad jual beli
tidak bersifat temporari, sedangkan akad ijarah hak guna manfaat dibatasi dengan
waktu.2
Adapun dari sudut pandang berbagai mazhab ulama fiqih terdapat
beberapa definisi mengenai Ijarah:3
a. Mazhab hanafi mendefinisikan Ijarah:

yaitu, akad atau transaksi manfaat dengan imbalan.
b. Menurut Mazhab SyafiI Ijarah adalah:

Akad terhadap manfaat yang dikehendaki secara jelas harta yang bersifat mubah
dan dapat dipertukarkan dengan imbalan yang diketahui.
c. Ijarah menurut Mazhab Maliki dan Hambali:

Pemilikan manfaat suatu harta benda yang bersifat mubah selama periode waktu
tertentu dengan suatu imbalan.
d. Lebih detail lagi sebagian Mazhab Hambali mendifisikan Ijarah, yaitu: 4

Muhammad bin Mukarram ibn Mandzur, Lisan Al-Arab, vol. 1 (Beirut: Dar Sader, n.d.), 24.
Wahbah Zuhaili, Fiqhul Islam Wa Adillatuhu, II., vol. 4 (Damaskus: Dar al-fikr, 1985), 729.
3
Ibid., 732.
2


.
Akad atas suatu manfaat yang dibolehkan oleh syariat, selama periode waktu
tertentu dari suatu barang (ayn) tertentu dalam tanggungan liabilitas, atau
manfaat dari suatu pekerjaan dengan imbalan.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, definisi terakhir oleh
sebagian mazhab hambali lebih jelas, lengkap dan sesuai menurut perkembangan
prakteknya dibanding dari definisi yang lain, karena definisi ini meliputi manfaat
suatu jasa. Namun pada intinya dari semua definisi di atas Ijarah adalah jual beli
manfaat atau pemindahan hak guna dalam waktu tertentu dengan imbalan tertentu.
Akan tetapi pada tataran aplikasi transaksi ijarah diikuti perpindahan hak
kepemilikan atas barang itu sendiri (financial lease with purchase option) atau
sebagai bentuk pembiayaan, lalu bagaimana Islam memandang praktek-praktek
akad Ijarah ini dari aspek moral dan etika. Hal ini yang menjadi perhatian penulis
pada pembahasan selanjutnya.
Senada dengan pengertian di atas, Rahmat Syafei mendefinisikan ijarah
secara etimologi sebagai menjual manfaat sedangkan jumhur ulama fiqih
berpendapat bahwa ijarah adalah menjual manfaat dan yang boleh disewakan
adalah manfaatnya bukan bendanya. Selain itu juga ada yang menerjemahkan
bahwa ijarah sebagai jual-beli jasa (upah-mengupah), yakni mengambil manfaat
tenaga manusia, dan ada pula yang menerjemahkan sewa-menyewa, yakni
mengambil manfaat dari barang. Jadi dalam hal ini, ijarah dibagi menjadi dua
bagian, yaitu ijarah atas jasa dan ijarah atas benda.5
Berbicara masalah Ijarah pada dasarnya tidak terlepas dari masalah Ujrah
mengingat keterkaitannya antara satu dengan yang lain. Dari sudut pandang
sejarah manusia dan kemanusiaan, terutama dari sisi pandang sejarah kenabian,
urusan upah-mengupah terkait dengan dunia ketenaga-kerjaan baik berbentuk
material maupun jasa, tampak sudah sedemikian lama waktunya. Paling tidak

Taqiyuddin al-Futuhi al-Hambali ibn An-Najr, Muntaha Al-Iradat, vol. 3 (Beirut: Muassasah alRisalah, 1999), 64.
5
Rahmat Syafei, Fiqih Muamalah (Bandung: Pustaka Setia, 2001), 121122.

sejak zaman Nabi Musa alaihis-salam sebagaimana yang akan disinggung pada
waktunya nanti.
Di

antara

indikator

analisisnya

ialah

keberadaan

kisah-kisah

ketenagakerjaan dan terutama ihwal upah-mengupah yang diabadikan Al-Quran


ke dalam beberapa surat dan ayat yang ada di dalamnya. Sebut saja misalnya ayatayat 26 dan 27 surat al-qashsah yang dijadikan ayat induk di dalam pembahasan
upah-mengupah di samping beberapa ayat pendukung atau ayat-ayat terkait
dengan persoalan upah-mengupah khususnya dan ayat-ayat ketenaga-kerjaan pada
umumnya.
Ujrah sebutan bagi sesuatu yang merujuk kepada imbalan atas suatu
pekerjaan/jasa, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Kata al-tsawab, yang
sinonim dengan al-ajru biasa diartikan dengan pahala keakhiratan juga berasalusul dari kata ini. Kata al-ajru dan al-ujrah kemudian digunakan untuk sebutan
bagi semua dan setiap sesuatu yang terbit atas adanya akad, dengan kata lain
Ujrah adalah hasil dari praktek akad Ijarah.
Merujuk kepada definisinya Ujrah adalah pendapatan dari transaksi akad
Ijarah, pada definisi Ijarah terdapat kalimat iwadh yang berarti imbalan atau upah
(ujrah) diantara para fuqaha memaknainya
6

Maksudnya: Imbalan (upah) yang dibayar oleh pihak yang menyewa kepada pihak
yang menyewakan barang/jasa atas manfaat yang diperoleh darinya.
Adapun dasar hukum tentang Ijarah dan Ujrah dalam al-Quran terdapat
dalam beberapa ayat diantaranya firman Allah antara lain:
B. Dasar Hukum Ujrah dan Ijarah
Al-ijarah dalam bentuk sewa menyewa maupun dalam bentuk upah
mengupah merupakan muamalah yang telah disyariatkan dalam Islam. Hukum
asalnya menurut Jumhur Ulama adalah mubah atau boleh bila dilaksanakan sesuai

Muhammad bin Ahmad bin Arafat Ad-Dasuqi, Hasyiah Ad-Dusuqi Ala Syarh Al-Kabir, vol. 4
(Beirut: Dar al-fikr, n.d.), 2.

dengan ketentuan yang ditetapkan oleh syara berdasarkan ayat al-Quran, hadisthadist Nabi dan ketetapan Ijma Ulama.
Adapun dasar hukum tentang kebolehan al-ijarah dalam al-Quran terdapat
dalam beberapa ayat diantaranya firman Allah antara lain:
1. Surat at-Thalaq ayat 6:


Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak) mu untukmu Maka berikanlah
kepada mereka upahnya.
2. Surat al-Qashash ayat 26:


"Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena
Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita)
ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya".
Adapun dasar hukum dari hadits Nabi diantaranya adalah:
1. Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw.
bersabda:7

( . : .


)
Rasulullah saw berbekam, kemudian beliau memberikan upah kepada tukang
tukang itu
2. Riwayat Ibnu Maajah, Rasulullah bersabda:8
) ( .

7
8

Ahmad Syihabuddin, Ibanah Al-Ahkam Syarh Bulugh Al-Maram (Beirut: Dar al-fikr, 2004), 181.
Ibid., 185.

Berikanlah upah atau jasa kepada orang yang diupah sebelum kering
keringatnya
Adapun dasar hukum ijarah berdasarkan ijma ialah semua umat sepakat,
tidak ada seorang ulama pun membantah kesepakatan (ijma) ini, sekalipun ada
beberapa orang diantara mereka yang berbeda pendapat, tetapi hal itu tidak
dianggap.9 Umat Islam pada masa sahabat telah berijma bahwa ijarah dibolehkan
sebab bermanfaat bagi manusia.10
C. Konsep Ijarah dan Ujrah Dalam Prakteknya di Indonesia
Di dalam kitab fiqih, konsep ijarah hanya berkisar pada persoalan sewa
menyewa. Konsep sewa menyewa dalam hal ini ditekankan adanya asas manfaat.
Maka dari itu, transaksi ijarah yang tidak terdapat asas manfaat hukumnya haram.
Ghufron. A. Masadi mengatakan dalam bukunya Fiqh Muamalah Kontekstual,
bahwa ijarah sesungguhnya merupakan sebuah transaksi atas suatu manfaat.11
Dari sini konsep ijarah dapat dibedakan menjadi dua macam. Pertama, ijarah
yang memanfaatkan harta benda yang lazim disebut persewaan, misalnya rumah,
pertokoan, kendaraan dan lain sebagainya. Kedua, ijarah yang mentransaksikan
manfaat SDM yang lazim disebut perburuhan.

1. Ijarah yang berhubungan dengan sewa aset dan properti.


Dalam prakteknya Ijarah bentuk pertama biasa dipakai sebagai bentuk investasi,
baik perorangan ataupun sebuah lembaga keuangan, di lembaga keuagan akad
Ijarah diterapkan sebagai pembiayaan di perbankan syariah.
a)

Ijarah Muntahia Bi al-Tamlik


Al-Bai wa al-ijarah muntahia bi al-tamlik merupakan rangkaian dua buah

akad, yakni akad al-bai dan akad al-ijarah muntahia bi al-tamlik. Al-bai

Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), 117.
Syafei, Fiqih Muamalah, 124.
11
Ghufron A. Masadi, Fiqih Muamalah Kontekstual (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2002), 183.
10

merupakan akad jual beli, sedangkan al-ijarah muntahia bi al-tamlik merupakan


kombinasi sewa menyewa (ijarah) dan jual beli atau hibah di akhir masa sewa.12
Ijarah muntahia bi al-tamlik adalah transaksi sewa dengan perjanjian untuk
menjual atau menghibahkan objek sewa di akhir periode sehingga transaksi ini
diakhiri dengan kepemilikan objek sewa.13
Dalam ijarah muntahia bi al-tamlik, pemindahan hak milik barang terjadi
dengan salah satu dari dua cara berikut ini:
a. Pihak yang menyewakan berjanji akan menjual barang yang disewakan
tersebut pada akhir masa sewa.
b. Pihak yang menyewakan berjanji akan menghibahkan barang yang
disewaakan tersebut pada akhir masa sewa.
Adapun bentuk alih kepemilikan ijarah muntahia bi al-tamlik antara lain :
a. Hibah di akhir periode, yaitu ketika pada akhir periode sewa aset
dihibahkan kepada penyewa.
b. Harga yang berlaku pada akhir periode, yaitu ketika pada akhir periode
sewa aset dibeli oleh penyewa dengan harga yang berlaku pada saat itu.
c. Harga ekuivalent dalam periode sewa, yaitu ketika membeli aset dalam
periode sewa sebelum kontrak sewa berakhir dengan harga ekuivalen.
d. Bertahap selama periode sewa, yaitu ketika alih kepemilikan dilakukan
bertahap dengan pembayaran cicilan selama periode sewa

b)

Ijarah dan Leasing


Ijarah adalah akad yang mengatur pemanfaatan hak guna tanpa terjadi

pemindahan kepemilikan, sehingga banyak yang menyamakan ijarah dengan


leasing. Hal ini terjadi karena kedua istilah itu sama-sama mengacu hal ihwal
sewa menyewa. Akan tetapi walaupun ada persamaan antara ijarah dengan
leasing, terdapat beberapa karakteristik yang membedakannya, antara lain :
a. Objek
12

Adiwarman Azwar Karim, Bank Islam Analisis Fiqh Dan Keuangan (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, n.d.), 149.
13
Ascarya, Akad Dan Produk Bak Syariah (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), 103.

Objek yang disewakan dalam leasing hanya berlaku untuk sewa menyewa barang
saja, terbatas pada manfaat barang saja, tidak berlaku untuk manfaat tenaga kerja.
Sedangkan objek yang disewakan dalam ijarah bisa berupa barang dan jasa/tenaga
kerja. Ijarah bila diterapkan untuk mendapatkan manfaat barang disebut sewa
menyewa dan untuk mendapatkan manfaat tenaga kerja/jasa disebut upah
mengupah. Objek yang disewakan dalam ijarah adalah manfaat barang dan
manfaat tenaga kerja.
Dengan demikian, bila dilihat dari segi objeknya, ijarah mempunyai cakupan yang
lebih luas dari pada leasing.

b. Metode Pembayaran
Dari segi metode pembayaran, leasing hanya memiliki satu metode
pembayaran yaitu yang bersifat not contingent to formance artinya pembayaran
tidak tergantung pada kinerja objek yang disewa.
Pembayaran ijarah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu ijarah yang
pembayarannya tergantung pada kinerja objek yang disewa (contingent to
formance) dan ijarah yang pembayarannya tidak tergantung pada kinerja objek
yang disewa (not contingent to formance). Ijarah yang pembayarannya tergantung
pada kinerja objek yang disewa disebut ijarah, gaji, sewa. Sedangkan ijarah yang
pembayarannya tidak tergantung pada kinerja objek yang disewa disebut jualah
atau success fee14

c. Pemindahan Kepemilikan (Transfer of Title)


Dari aspek perpindahan kepemilikan dalam leassing dikenal dua jenis yaitu
operating lease dimana tidak terjadi pemindahan kepemilikan baik di awal
maupun di akhir periode sewa dan financial lease. Ijarah sama seperti operating
lease yakni tidak ada transfer of title baik di awal maupun di akhir periode, namun
pada akhir sewa dapat dijual barang yang disewakan kepada nasabah yang dalam
perbankan syariah dikenal dengan ijarah muntahia bi al-tamlik. Harga sewa dan
harga jual disepakati pada awal perjanjian
14

Karim, Bank Islam Analisis Fiqh Dan Keuangan, 141.

10

2. Ijarah yang berhubungan dengan sewa jasa


Ijarah yang berhubungan dengan sewa jasa, yaitu mempekerjakan jasa
seseorang dengan upah sebagai imbalan jasa yang disewa. Pihak yang
mempekerjakan disebut mustajir, pihak pekerja disebut ajir dan upah yang
dibayarkan disebut ujrah. Pada prakteknya bentuk Ijarah ini dapat dijumpai
dalam pelayanan jasa perbankan syariah, kontrak kerja, atau segala jasa yang
memanfaatkan SDM, yang lazim disebut perburuhan.
Ujrah dapat dibagi menjadi dua macam menurut kesepakatan orang yang
berakad, yang pertama, Ujrah Musamma. Yaitu, Upah yang telah disepakati atau
disebutkan di awal aqad. Yang kedua Ujrah al-Mitsl. Yaitu, Upah yang wajar
serta sesuai dengan jenis pekerjaannya. Apabila terjadi perselisihan mengenai
upah dalam aqad Ijarah, yang tidak disebutkan besarannya, maka Ujrah al-Mitsl
dapat dijadikan acuan sebagai besaran upah.
Dalam kontek keIndonesiaan, permasalahan Ujrah (fee) sering kali
dikaitkan dengan kelayakan upah buruh, permasalahan upah buruh di Indonesia
seakan tidak menemukan titik temu antara kepentingan mustajir dan ajir. Maka
yang dijadikan acuan sebagai penentuan upah adalah ujrah al-mitsl. Di Indonesia
ujrah al-mitsl ini lebih dikenal dengan UMR/UMP. Masalah upah tenaga kerja
menjadi sangat rentan dibicarakan jika dikaitkan dengan kesejahteraan. Apalagi
bahasan tersebut menyangkut pengupahan buruh di Indonesia. Hal ini dikarenakan
upah buruh di Indonesia masih sangat rendah dan tidak bisa mencukupi kebutuhan
pokok yang semakin melambung. Dari sekitar 46 juta buruh, 85% atau sekitar 39
juta buruh belum mendapatkan upah yang layak. Selain itu, Badan Pusat Statistik
(BPS) menilai porsi upah buruh di Indonesia masih sangat rendah jika
dibandingkan dengan keseluruhan biaya produksi. Porsi itu juga masih jauh jika
dibandingkan dengan margin yang diperoleh pengusaha. Selama ini upah buruh
masih sekitar 20% dari keseluruhan biaya produksi. Sementara total margin yang
diperoleh pengusaha dari hasil penjualan mereka bisa mencapai berlipat-lipat dari
upah buruh per barang yang dijual.

11

D. Nilai Moral dan Etika Islam Pada Praktek Ijarah dan Ujrah
Setiap kegiatan ekonomi dalam Islam berlandaskan Al-quran dan Sunnah,
yang kemudian prakteknya dirumuskan dalam ilmu fiqih, segala aturan, syarat dan
ketentuan diatur untuk tujuan kemaslahatan. Kegagalan dalam memenuhi syaratsyarat dan mentaati aturan ini dianggap sebagai kegagalan moral baik dari pihak
mustajir maupun muajir dan ini mesti dipertanggung jawabkan kepada Allah.
Bahwa secara normatif, etika menurut pandangan Islam memperlihatkan
adanya suatu struktur yang berdiri sendiri dan terpisah dari struktur lainnya. Hal
itu disebabkan bahwa dalam ilmu akhlak (moral), struktur etika dalam agama
Islam lebih banyak menjelaskan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran baik pada
tataran niat atau ide hingga perilaku dan perangai. Nilai moral tersebut tercakup
dalam empat sifat, yaitu shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah. Diantara nilainilai moral dan etika dalam praktek sewa menyewa (Ijarah) dan upah mengupah
(Ujrah) antara lain:
a. Besaran dan jenis upah harus jelas
Para ulama fiqih sepakat bahwa upah haruslah jelas baik dari besarannya dan jenis
upahnya, apakah dalam bentuk naqd (uang tunai) atau ayn (barang) atau manfaat.
Hal itu berdasarkan hadits Rasulullah s.a.w:15

Barang siapa yang mengerjakan seseorang, maka hendaklah ia memberitahukan
kadar upahnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam melarang seseorang mengerkajakan
seorang pekerja sehimgga ia menjelaskan jumlah upahnya.

15

Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, vol. 6 (Beirut: Dar al-Marifah, 1992), 120.

12

Dalam hadits ini ditanamkan nilai-nilai kejujuran dan sifat tabligh dalam
bertransaki akad ijarah, hendaknya memberitahukan kadar upah serta jenis
pembayarannya.
b. Menyegerakan dalam pembayaran upah
Mempercepat pembayaran sewa atau kompensasi. Atau sesuai kesepakatan
kedua belah pihak sesuai dalam hal penangguhan pembayaran, sebagaimana yang
dijelaskan pada hadits riwayat ibnu majah sebelumnya. Berikanlah upah pekerja
sebelum keringatnya kering. Hadits riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Umar ini
merupakan dalil lain diperbolehkannya akad ijarah. Menurut Ibnu Hajar,
kedudukan hadits ini adalah lemah. Hadits ini memerintahkan kepada penyewa
untuk memberikan upah orang yang disewa sebelum kering keringatnya.16
Hadits ini memberikan sebuah etika dalam melakukan akad ijarah, yakni
memberikan pembayaran upah secepat mungkin. Relevansinya dengan praktik
kontrak ijarah pada saat sekarang adalah adanya keharusan untuk melakukan
pembayaran uang sewa sesuai dengan kesepakatan/ batas waktu yang telah
ditentukan, seyogyanya kita tidak menunda-nunda pemberian upah dari jadwal/
tenggat waktu yang telah disepakati.
c. Prinsip antaradhin dan transparansi dalam bertransaksi
Nilai-nilai moral dan etika ini tergambar dalam Surat al-Qashash (28): 26
27. Gambaran ayat tersebut terkait erat dengan kisah kontrak kerja antara nabi
Syuaib atau Yatsru di satu pihak,17 dengan Musa di pihak lain. Dari ayat ini
sesungguhnya dapat dipetik sejumlah pelajaran berharga. Salah satunya yang
terpenting dan relevan adalah Akad (transaksi) yang dilakukan Syuaib/Yatsru
dengan Musa di atas, tampak benar-benar mencerminkan proses (negosiasi tawarmenawar) yang mencerminkan transparansi, kesetaraan dan dibangun atas dasar
kerelaan (an taradhin) para pihak yang berakad sesuai dengan nilai dan norma

16

Zuhaili, Fiqhul Islam Wa Adillatuhu, 730.

17

Pembahasan lebih lanjut tentang ayat ini, baca antara lain: Muhammad Amin Suma, Menggali Akar Menggali Serat Ekonomi Dan Keuangan Islam (Tangerang: Kholam Publishing, 2008), 8687.

13

dasar akad yang diwahyukan Allah tentunya sebagaimana yang kemudian


diabadikan Alquran dan Al-hadist.
d. Kelayakan Upah
Prof. Mubyarto dalam makalahnya Penerapan Ajaran Ekonomi Islam di
Indonesia mengatakan:Etika bisnis Islam menjunjung tinggi semangat saling
percaya, kejujuran, dan keadilan, sedangkan antara pemilik perusahaan dan
karyawan berkembang semangat kekeluargaan (brotherhood).18 Dari ungkapan
tersebut tersirat makna bahwa perusahaan juga harus memperlakukan pekerja
seperti mereka memperlakukan dirinya sendiri. Realitas ini, nantinya akan
mewujudkan adanya kelayakan yang seharusnya diterima karyawan.
Kehidupan layak yang diperoleh oleh pengusaha hendaknya juga diperoleh
oleh karyawan selaku keluarga yang ada dibawah asuhannya (pengusaha) meski
takarannya tidak sama, namun pemenuhan kehidupan yang layak merupakan
kewajiban yang harus dipenuhi.
Kelayakan hampir sama dengan moralitas, karena kelayakan lebih luas
pemahamannya dibanding dengan moralitas. Kelayakan mencakup di segala
aspek, baik aspek individu atau personal sampai aspek keluarga. Selain itu,
kelayakan juga melihat dari aspek norma-norma yang berlaku.
E. PENUTUP
Sistem ekonomi Islam yang dijiwai ajaran-ajaran agama Islam memang
dapat diamati berjalan dalam masyarakat-masyarakat kecil di negara-negara yang
mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun dalam perekonomian yang
sudah mengglobal dengan persaingan terbuka, bisnis Islam sering terpaksa
menerapkan praktek-praktek bisnis non Islam.
Ajaran agama Islam dalam perilaku ekonomi manusia dan bisnis Indonesia
makin mendesak penerapannya bukan saja karena mayoritas bangsa Indonesia
beragama Islam, tetapi karena makin jelas ajaran moral ini sangat sering tidak
dipatuhi. Dengan perkataan lain penyimpangan demi penyimpangan dalam Islam
18

Mubyarto, Penerapan Ajaran Ekonomi Islam Di Indonesia (2002).

14

jelas merupakan sumber berbagai permasalahan ekonomi nasional. Manusia


dalam hubungannya dengan bisnis dalam rangka menjalankan suatu usaha adalah
satu hal yang sangat penting ialah etika. Di mana etika ini memegang peranan
yang sangat penting dalam mencapai tujuan usaha yang lebih besar.
Kegagalan sistem ekonomi yang dianut oleh Negara berkembang di dunia.
Maka ekonomi Islam mulai berkembang sebagai harapan untuk meningkatkan
kesejahteraan bagi manusia. Ekonomi Islam adalah suatu sistem ekonomi yang
tujuan utamanya adalah mewujudkan keadilan dan kesejahteraan secara merata.
Islam mewajibkan setiap Muslim bekerja yang didasarkan iman, etika kerja dan
akhlak Islam19
Dalam Islam setiap kegiatan muamalah tidak terlepas dari prinsip-prinsip,
nilai-nilai moral dan etika yang bermuara pada al-Quran dan Sunnah. Misalnya
pada praktek Ijarah dan Ujrah, Tidak membebani pekerja melebihi
kemampuannya. Upah dianjurkan untuk mempercepat pembayarannya dan jangan
menunda-nunda pembayaran upah tersebut. Salah satu Norma ditentukan Islam
adalah memenuhi hak-hak mustajir. Islam tidak membenarkan jika seorang
pekerja mencurahkan jerih payah dan keringatnya sementara upah tidak di
dapatkan, dikurangi dan ditunda-tunda.20
Islam sangat memperhatikan kepentingan dua belah pihak, baik dari pihak
mustajir (penyewa) ataupun muajir (yang menyewakan), pada prinsipnya Islam
sangat menekankan akad terjalin atas dasar prinsip keadilan dan kekeluargaan.
Dalam konteks sewa yang berkaitan dengan jasa, prinsip kekeluargaan dapat
diartikan kemitraan. Untuk memelihara kepentingan keduanya Islam sangat
menganjurkan kejelasan akad (kontrak) yang tertulis di atas hitam dan putih,
sehingga manakala terjadi kelalaian ataupun wanprestasi ketika proses pemenuhan
akad, kedua belah pihak mempunyai tanggung jawab masing-masing dalam
menyelesaikan perkara.

19

Yan Orgianus, Moralitas Islam Dalam Ekonomi Dan Bisnis (Bandung: Penerbit Marja, 2012),
136.
20
yusuf al-Qardhawi, Daur Al-Qiyam Wa Al-Akhlaq Fi Al-Iqtishad Al-Islami, I. (Cairo: Al-Maktabah
al-wahbah, 1995), 373.

15

DAFTAR PUSTAKA
Ad-Dasuqi, Muhammad bin Ahmad bin Arafat. Hasyiah Ad-Dusuqi Ala Syarh
Al-Kabir. Vol. 4. Beirut: Dar al-fikr, n.d.
Al-Baihaqi. As-Sunan Al-Kubra. Vol. 6. Beirut: Dar al-Marifah, 1992.
An-Najr, Taqiyuddin al-Futuhi al-Hambali ibn. Muntaha Al-Iradat. Vol. 3.
Beirut: Muassasah al-Risalah, 1999.
Ascarya. Akad Dan Produk Bak Syariah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2007.
Karim, Adiwarman Azwar. Bank Islam Analisis Fiqh Dan Keuangan. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, n.d.
Mandzur, Muhammad bin Mukarram ibn. Lisan Al-Arab. Vol. 1. Beirut: Dar
Sader, n.d.
Masadi, Ghufron A. Fiqih Muamalah Kontekstual. Jakarta: PT Raja Grafindo,
2002.
Mubyarto. Penerapan Ajaran Ekonomi Islam Di Indonesia (2002).
Orgianus, Yan. Moralitas Islam Dalam Ekonomi Dan Bisnis. Bandung: Penerbit
Marja, 2012.
Suhendi, Hendi. Fiqih Muamalah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007.
Suma, Muhammad Amin. Menggali Akar - Menggali Serat Ekonomi Dan
Keuangan Islam. Tangerang: Kholam Publishing, 2008.
Syafei, Rahmat. Fiqih Muamalah. Bandung: Pustaka Setia, 2001.
Syihabuddin, Ahmad. Ibanah Al-Ahkam Syarh Bulugh Al-Maram. Beirut: Dar alfikr, 2004.
yusuf al-Qardhawi. Daur Al-Qiyam Wa Al-Akhlaq Fi Al-Iqtishad Al-Islami. I.
Cairo: Al-Maktabah al-wahbah, 1995.
Zuhaili, Wahbah. Fiqhul Islam Wa Adillatuhu. Vol. 4. II. Damaskus: Dar alfikr, 1985.

16

NILAI MORAL DAN ETIKA DALAM IJARAH DAN UJRAH

MAKALAH

Makalah Ini Dibuat Untuk Tugas Mata Kuliah Etika Ekonomi Islam
pada Program Pasca Sarjana Program Studi Ekonomi Syariah
Tahun Akademik 2014-2015

Oleh:
Muhammad Noor Sayuti (22142010)

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG

17