Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam bertukar kepentingan, umat manusia mengenal berbagai metode, diantaranya dengan sewa-menyewa, sebagai solusi lain bagi terpenuhinya kepentingan kedua belah pihak dengan konsekuensi yang lebih ringan bila dibanding akad jual beli. Pemilik barang tidak harus kehilangan barangnya, sebagaimana penyewa cukup mengeluarkan biaya yang jauh lebih ringan bila dibandingkan dengan biaya pada jual beli. Akad sewa-menyewa merupakan salah satu bentuk kegiatan muamalah yang banyak dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. dalam banyak kesempatan menjadi solusi tepat bagi mereka yang ingin memiliki suatu barang tanpa harus membelinya, baik sebagai pemilik barang atau sebagai pemilik barang atau sebagai penyewa. Yang demikian itu dikarenakan risiko akad ini dalam banyak kesempatan ringan dan tidak berkepanjangan. Dengan demikian, kedua belah pihak diuntungkan karena dapat memenuhi kebutuhannya dengan risiko minimal. Pada dasarnya prinsip ijarah sama-halnya dengan prinsip jual beli, tapi perbedaannya terletak pada objek transaksinya. Pada jual beli objek transaksinya barang, pada ijarah objek transaksinya adalah barang (ijarah ala a’yan) maupun jasa (Ijarah ala ‘amal), sedangkan pembayaran atas pemanfaatan barang atau jasa tersebut disebut Ujrah (fee). Pranata ijarah telah ada sejak zaman pra-Islam, bukti dari itu Nabi Muhammad s.a.w. telah dibesarkan oleh ibu susunya Halimah al-Sa‘diyyah dan baginda juga bekerja mengambil upah memelihara kambing orang Mekah semasa

remaja. Setelah datangnya Islam Ijarah menjadi bagian cabang mu’amalat yang penting dalam membangun kehidupan berekonomi, seiring perkembangannya akad ijarah mulai dimodifikasi mengikuti perkembangan zaman dan tempat, hingga kini ia dianggap sebagai salah satu jalan alternatif untuk memenuhi kebutuhan dan keperluan. Menurut kepentingannya sebagai pemindahan hak

1

guna, ijarah tidak hanya dipraktekan oleh personality, namun juga oleh lembaga- lembaga keuangan. Pada prakteknya di lembaga keuangan, akad ijarah mengalami transformasi, ia tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk memperoleh manfaat suatu barang atau jasa, namun juga menjadi salah satu alternatif untuk dapat memiliki barang. Dalam konteks yang sama pada sektor industri, manusia sebagai pemilik jasa, dalam pandangan ekonomi konvensional tidak lebih hanya sekedar barang modal, sehingga dalam penetapan upah (ujrah) sering kali mengabaikan sisi kemanusiaannya, yang dinilai hanya dari sisi manfaatnya saja sebagai faktor produksi. Dalam ekonomi Islam masalah ijarah dan ujrah bukan hanya sekedar sarana untuk bertukar kepentingan, didalamnya terkandung nilai-nilai moral dan etika yang harus diperhatikan. Berangkat dari latar belakang masalah inilah penulis mengangkat tema ijarah dan ujrah dari aspek moral dan etika. Rumusan Masalah Sehubungan itu, persoalan yang bakal dijawab melalui tulisan yang sedikit ini bolehlah diringkaskan seperti berikut:

1. Sejauh manakah penanaman nilai-nilai moral dan etika dalam kegiatan Ijarah dan Ujrah?

2. Apakah teras moral dan etika dalam praktek Ijarah dan Ujrah?

B.

Tujuan Makalah

1.

Untuk mengetahui urgensi penanaman nilai dan moral Ijarah dan Ujrah.

2.

Untuk mengetahui bagaimana seharusnya etika dan moral Ijarah dan Ujrah dalam prakteknya.

C.

Metode Makalah Tulisan yang merupakan penelitian sederhana ini adalah penelitian studi pustaka atau studi literatur dengan menggunakan data-data sekunder berupa buku referensi, artikel-artikel dan karya ilmiah lain. Tulisan ilmiah berupa paper ini pun mencoba menggunakan metode penelitian yang bersifat

2

deskriptif di mana penulis bermaksud mendeskripsikan secara umum setting sosial yang berlaku dalam praktek Ijarah dan Ujrah.

3

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Ijarah dan Ujrah

Salah satu bentuk kegiatan manusia dalam muamalah adalah ijarah atau sewa- menyewa, kontrak, menjual jasa, upah-mengupah dan lain-lain. Secara bahasa ijarah terambil dari kata (رجلأا) yang berarti “imbalan terhadap suatu pekerjaan”

(لمعلا ىلع ءازجلا) dan “pahala” (باوثلا). Asal katanya adalah:- ةراجإو ارجأ رجأي رجأ dan jamaknya adalah (روجأ). 1 Wahbah al-Zuhaily mendefinisikan ijarah sebagai jual beli manfaat (ةعفنملا عيب). Dalam definisinya beliau menjelaskan akad Ijarah (sewa menyewa) sama halnya seperti akad Bai’ (jual beli). Perbedaannya akad jual beli tidak bersifat temporari, sedangkan akad ijarah hak guna manfaat dibatasi dengan waktu. 2 Adapun dari sudut pandang berbagai mazhab ulama fiqih terdapat beberapa definisi mengenai Ijarah: 3

a. Mazhab hanafi mendefinisikan Ijarah:

ضوعب ةعفنملا ىلع دقع

yaitu, akad atau transaksi manfaat dengan imbalan.

b. Menurut Mazhab Syafi’I Ijarah adalah:

مولعم ضوعب ةحابلإاو لذبلل ةلباق ةمولعم ةدوصقم ةعفنم ىلع دقع Akad terhadap manfaat yang dikehendaki secara jelas harta yang bersifat mubah dan dapat dipertukarkan dengan imbalan yang diketahui.

c. Ijarah menurut Mazhab Maliki dan Hambali:

ضوعب ةمولعم ةدم ةحابم ءيش عفانم كيلمت Pemilikan manfaat suatu harta benda yang bersifat mubah selama periode waktu tertentu dengan suatu imbalan.

d. Lebih detail lagi sebagian Mazhab Hambali mendifisikan Ijarah, yaitu: 4

1 Muhammad bin Mukarram ibn Mandzur, “Lisan Al-Arab,” vol. 1 (Beirut: Dar Sader, n.d.), 24.

2 Wahbah Zuhaili, “Fiqhul Islam Wa Adillatuhu,” II., vol. 4 (Damaskus: Dar al-fikr, 1985), 729.

3 Ibid., 732.

4

ضوعب مولعم لمع وأ ةمذلا يف ةفوصوم وأ ةنيعم نيع نم ةمولعم ةدم ةمولعم ةحابم ةعفنم ىلع دقع .مولعم Akad atas suatu manfaat yang dibolehkan oleh syari’at, selama periode waktu tertentu dari suatu barang (‘ayn) tertentu dalam tanggungan liabilitas, atau manfaat dari suatu pekerjaan dengan imbalan. Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, definisi terakhir oleh sebagian mazhab hambali lebih jelas, lengkap dan sesuai menurut perkembangan prakteknya dibanding dari definisi yang lain, karena definisi ini meliputi manfaat suatu jasa. Namun pada intinya dari semua definisi di atas Ijarah adalah jual beli manfaat atau pemindahan hak guna dalam waktu tertentu dengan imbalan tertentu. Akan tetapi pada tataran aplikasi transaksi ijarah diikuti perpindahan hak kepemilikan atas barang itu sendiri (financial lease with purchase option) atau sebagai bentuk pembiayaan, lalu bagaimana Islam memandang praktek-praktek akad Ijarah ini dari aspek moral dan etika. Hal ini yang menjadi perhatian penulis pada pembahasan selanjutnya. Senada dengan pengertian di atas, Rahmat Syafe’i mendefinisikan ijarah secara etimologi sebagai menjual manfaat sedangkan jumhur ulama fiqih berpendapat bahwa ijarah adalah menjual manfaat dan yang boleh disewakan adalah manfaatnya bukan bendanya. Selain itu juga ada yang menerjemahkan bahwa ijarah sebagai jual-beli jasa (upah-mengupah), yakni mengambil manfaat tenaga manusia, dan ada pula yang menerjemahkan sewa-menyewa, yakni mengambil manfaat dari barang. Jadi dalam hal ini, ijarah dibagi menjadi dua bagian, yaitu ijarah atas jasa dan ijarah atas benda. 5 Berbicara masalah Ijarah pada dasarnya tidak terlepas dari masalah Ujrah mengingat keterkaitannya antara satu dengan yang lain. Dari sudut pandang sejarah manusia dan kemanusiaan, terutama dari sisi pandang sejarah kenabian, urusan upah-mengupah terkait dengan dunia ketenaga-kerjaan baik berbentuk material maupun jasa, tampak sudah sedemikian lama waktunya. Paling tidak

sejak zaman Nabi Musa ‘alaihis-salam sebagaimana yang akan disinggung pada waktunya nanti. Di antara indikator analisisnya ialah keberadaan kisah-kisah ketenagakerjaan dan terutama ihwal upah-mengupah yang diabadikan Al-Qur’an ke dalam beberapa surat dan ayat yang ada di dalamnya. Sebut saja misalnya ayat- ayat 26 dan 27 surat al-qashsah yang dijadikan ayat induk di dalam pembahasan upah-mengupah di samping beberapa ayat pendukung atau ayat-ayat terkait dengan persoalan upah-mengupah khususnya dan ayat-ayat ketenaga-kerjaan pada umumnya. Ujrah sebutan bagi sesuatu yang merujuk kepada imbalan atas suatu pekerjaan/jasa, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Kata al-tsawab, yang sinonim dengan al-ajru biasa diartikan dengan pahala keakhiratan juga berasal- usul dari kata ini. Kata al-ajru dan al-ujrah kemudian digunakan untuk sebutan bagi semua dan setiap sesuatu yang terbit atas adanya akad, dengan kata lain Ujrah adalah hasil dari praktek akad Ijarah. Merujuk kepada definisinya Ujrah adalah pendapatan dari transaksi akad Ijarah, pada definisi Ijarah terdapat kalimat ’iwadh yang berarti imbalan atau upah (ujrah) diantara para fuqaha memaknainya

6 هنم اهذخأي يتلا ةعفنملا ةلباقم يف رجؤملل رجأتسملا هعفدي يذلا ضوعلا Maksudnya: Imbalan (upah) yang dibayar oleh pihak yang menyewa kepada pihak yang menyewakan barang/jasa atas manfaat yang diperoleh darinya. Adapun dasar hukum tentang Ijarah dan Ujrah dalam al-Quran terdapat dalam beberapa ayat diantaranya firman Allah antara lain:

B. Dasar Hukum Ujrah dan Ijarah

Al-ijarah dalam bentuk sewa menyewa maupun dalam bentuk upah mengupah merupakan muamalah yang telah disyariatkan dalam Islam. Hukum asalnya menurut Jumhur Ulama adalah mubah atau boleh bila dilaksanakan sesuai

6 Muhammad bin Ahmad bin ’Arafat Ad-Dasuqi, Hasyiah Ad-Dusuqi ’Ala Syarh Al-Kabir, vol. 4 (Beirut: Dar al-fikr, n.d.), 2.

6

dengan ketentuan yang ditetapkan oleh syara’ berdasarkan ayat al-Qur’an, hadist-

hadist Nabi dan ketetapan Ijma Ulama.

Adapun dasar hukum tentang kebolehan al-ijarah dalam al-Quran terdapat

dalam beberapa ayat diantaranya firman Allah antara lain:

1. Surat at-Thalaq ayat 6:

  

Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak) mu untukmu Maka berikanlah

kepada mereka upahnya.

2. Surat al-Qashash ayat 26:

  

"Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena

Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita)

ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya".

Adapun dasar hukum dari hadits Nabi diantaranya adalah:

1. Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw.

bersabda: 7

ىراخبلا هاور( .هِ طِ عْ ُي م ل ا

ْ

ً

َ

َ

َ

ما ر ح نَ اكَ

و

ْ

َ

ل

َ

و :

ُ

لاَق

او

.

هرجْ

َ

أ ماج

ْ

لا ى

ح

َ

طعْ َ أ

َ

َ

ل

جَتحْ ِا م ل س و هِ يْ

َ

َ

َ

و م

َ

َ

َ

ع

َ

للّا

ل

َ

بنلا ن َ أ

ِ

)ملسمو

ى

ص ي

“Rasulullah saw berbekam, kemudian beliau memberikan upah kepada tukang

tukang itu”

2. Riwayat Ibnu Maajah, Rasulullah bersabda: 8

)هجام نبا هاور( .ُه ُ ق رعَ

َ

ف جَي نْ َ أ لَ بَْق ،ُه رجْ َ أ ري ج َ لأا طعْ َ أ

َ

َ

ِ

ِ

7 Ahmad Syihabuddin, Ibanah Al-Ahkam Syarh Bulugh Al-Maram (Beirut: Dar al-fikr, 2004), 181.

8 Ibid., 185.

7

”Berikanlah upah atau jasa kepada orang yang diupah sebelum kering keringatnya” Adapun dasar hukum ijarah berdasarkan ijma’ ialah semua umat sepakat, tidak ada seorang ulama pun membantah kesepakatan (ijma’) ini, sekalipun ada beberapa orang diantara mereka yang berbeda pendapat, tetapi hal itu tidak dianggap. 9 Umat Islam pada masa sahabat telah berijma’ bahwa ijarah dibolehkan sebab bermanfaat bagi manusia. 10

C. Konsep Ijarah dan Ujrah Dalam Prakteknya di Indonesia

Di dalam kitab fiqih, konsep ijarah hanya berkisar pada persoalan sewa menyewa. Konsep sewa menyewa dalam hal ini ditekankan adanya asas manfaat. Maka dari itu, transaksi ijarah yang tidak terdapat asas manfaat hukumnya haram. Ghufron. A. Mas’adi mengatakan dalam bukunya Fiqh Muamalah Kontekstual, bahwa ijarah sesungguhnya merupakan sebuah transaksi atas suatu manfaat. 11 Dari sini konsep ijarah dapat dibedakan menjadi dua macam. Pertama, ijarah yang memanfaatkan harta benda yang lazim disebut persewaan, misalnya rumah, pertokoan, kendaraan dan lain sebagainya. Kedua, ijarah yang mentransaksikan manfaat SDM yang lazim disebut perburuhan.

1. Ijarah yang berhubungan dengan sewa aset dan properti.

Dalam prakteknya Ijarah bentuk pertama biasa dipakai sebagai bentuk investasi, baik perorangan ataupun sebuah lembaga keuangan, di lembaga keuagan akad Ijarah diterapkan sebagai pembiayaan di perbankan syari’ah.

a) Ijarah Muntahia Bi al-Tamlik

Al-Ba’i wa al-ijarah muntahia bi al-tamlik merupakan rangkaian dua buah akad, yakni akad al-ba’i dan akad al-ijarah muntahia bi al-tamlik. Al-ba’i

9 Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), 117.

10 Syafe’i, Fiqih Muamalah, 124.

11 Ghufron A. Mas’adi, Fiqih Muamalah Kontekstual (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2002), 183.

8

merupakan akad jual beli, sedangkan al-ijarah muntahia bi al-tamlik merupakan kombinasi sewa menyewa (ijarah) dan jual beli atau hibah di akhir masa sewa. 12 Ijarah muntahia bi al-tamlik adalah transaksi sewa dengan perjanjian untuk menjual atau menghibahkan objek sewa di akhir periode sehingga transaksi ini diakhiri dengan kepemilikan objek sewa. 13 Dalam ijarah muntahia bi al-tamlik, pemindahan hak milik barang terjadi dengan salah satu dari dua cara berikut ini:

a. Pihak yang menyewakan berjanji akan menjual barang yang disewakan tersebut pada akhir masa sewa.

b. Pihak yang menyewakan berjanji akan menghibahkan barang yang

disewaakan tersebut pada akhir masa sewa. Adapun bentuk alih kepemilikan ijarah muntahia bi al-tamlik antara lain :

a.

Hibah di akhir periode, yaitu ketika pada akhir periode sewa aset dihibahkan kepada penyewa.

b.

Harga yang berlaku pada akhir periode, yaitu ketika pada akhir periode sewa aset dibeli oleh penyewa dengan harga yang berlaku pada saat itu.

c.

Harga ekuivalent dalam periode sewa, yaitu ketika membeli aset dalam periode sewa sebelum kontrak sewa berakhir dengan harga ekuivalen.

d.

Bertahap selama periode sewa, yaitu ketika alih kepemilikan dilakukan bertahap dengan pembayaran cicilan selama periode sewa

b)

Ijarah dan Leasing

Ijarah adalah akad yang mengatur pemanfaatan hak guna tanpa terjadi pemindahan kepemilikan, sehingga banyak yang menyamakan ijarah dengan leasing. Hal ini terjadi karena kedua istilah itu sama-sama mengacu hal ihwal sewa menyewa. Akan tetapi walaupun ada persamaan antara ijarah dengan leasing, terdapat beberapa karakteristik yang membedakannya, antara lain :

a. Objek

12 Adiwarman Azwar Karim, Bank Islam Analisis Fiqh Dan Keuangan (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, n.d.), 149.

13 Ascarya, Akad Dan Produk Bak Syariah (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), 103.

9

Objek yang disewakan dalam leasing hanya berlaku untuk sewa menyewa barang saja, terbatas pada manfaat barang saja, tidak berlaku untuk manfaat tenaga kerja. Sedangkan objek yang disewakan dalam ijarah bisa berupa barang dan jasa/tenaga kerja. Ijarah bila diterapkan untuk mendapatkan manfaat barang disebut sewa menyewa dan untuk mendapatkan manfaat tenaga kerja/jasa disebut upah mengupah. Objek yang disewakan dalam ijarah adalah manfaat barang dan manfaat tenaga kerja. Dengan demikian, bila dilihat dari segi objeknya, ijarah mempunyai cakupan yang lebih luas dari pada leasing.

b. Metode Pembayaran

Dari segi metode pembayaran, leasing hanya memiliki satu metode pembayaran yaitu yang bersifat not contingent to formance artinya pembayaran tidak tergantung pada kinerja objek yang disewa. Pembayaran ijarah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu ijarah yang pembayarannya tergantung pada kinerja objek yang disewa (contingent to formance) dan ijarah yang pembayarannya tidak tergantung pada kinerja objek yang disewa (not contingent to formance). Ijarah yang pembayarannya tergantung pada kinerja objek yang disewa disebut ijarah, gaji, sewa. Sedangkan ijarah yang pembayarannya tidak tergantung pada kinerja objek yang disewa disebut jualah atau success fee 14

c. Pemindahan Kepemilikan (Transfer of Title)

Dari aspek perpindahan kepemilikan dalam leassing dikenal dua jenis yaitu operating lease dimana tidak terjadi pemindahan kepemilikan baik di awal maupun di akhir periode sewa dan financial lease. Ijarah sama seperti operating lease yakni tidak ada transfer of title baik di awal maupun di akhir periode, namun pada akhir sewa dapat dijual barang yang disewakan kepada nasabah yang dalam perbankan syariah dikenal dengan ijarah muntahia bi al-tamlik. Harga sewa dan harga jual disepakati pada awal perjanjian

14 Karim, Bank Islam Analisis Fiqh Dan Keuangan, 141.

10

2. Ijarah yang berhubungan dengan sewa jasa

Ijarah yang berhubungan dengan sewa jasa, yaitu mempekerjakan jasa seseorang dengan upah sebagai imbalan jasa yang disewa. Pihak yang mempekerjakan disebut mustajir, pihak pekerja disebut ajir dan upah yang dibayarkan disebut ujrah. Pada prakteknya bentuk Ijarah ini dapat dijumpai dalam pelayanan jasa perbankan syari’ah, kontrak kerja, atau segala jasa yang memanfaatkan SDM, yang lazim disebut perburuhan. Ujrah dapat dibagi menjadi dua macam menurut kesepakatan orang yang berakad, yang pertama, Ujrah Musamma. Yaitu, Upah yang telah disepakati atau disebutkan di awal aqad. Yang kedua Ujrah al-Mitsl. Yaitu, Upah yang wajar serta sesuai dengan jenis pekerjaannya. Apabila terjadi perselisihan mengenai upah dalam aqad Ijarah, yang tidak disebutkan besarannya, maka Ujrah al-Mitsl dapat dijadikan acuan sebagai besaran upah. Dalam kontek keIndonesiaan, permasalahan Ujrah (fee) sering kali dikaitkan dengan kelayakan upah buruh, permasalahan upah buruh di Indonesia seakan tidak menemukan titik temu antara kepentingan musta’jir dan ajir. Maka yang dijadikan acuan sebagai penentuan upah adalah ujrah al-mitsl. Di Indonesia ujrah al-mitsl ini lebih dikenal dengan UMR/UMP. Masalah upah tenaga kerja menjadi sangat rentan dibicarakan jika dikaitkan dengan kesejahteraan. Apalagi bahasan tersebut menyangkut pengupahan buruh di Indonesia. Hal ini dikarenakan upah buruh di Indonesia masih sangat rendah dan tidak bisa mencukupi kebutuhan pokok yang semakin melambung. Dari sekitar 46 juta buruh, 85% atau sekitar 39 juta buruh belum mendapatkan upah yang layak. Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) menilai porsi upah buruh di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan keseluruhan biaya produksi. Porsi itu juga masih jauh jika dibandingkan dengan margin yang diperoleh pengusaha. Selama ini upah buruh masih sekitar 20% dari keseluruhan biaya produksi. Sementara total margin yang diperoleh pengusaha dari hasil penjualan mereka bisa mencapai berlipat-lipat dari upah buruh per barang yang dijual.

11

D. Nilai Moral dan Etika Islam Pada Praktek Ijarah dan Ujrah

Setiap kegiatan ekonomi dalam Islam berlandaskan Al-qur’an dan Sunnah,

yang kemudian prakteknya dirumuskan dalam ilmu fiqih, segala aturan, syarat dan

ketentuan diatur untuk tujuan kemaslahatan. Kegagalan dalam memenuhi syarat-

syarat dan mentaati aturan ini dianggap sebagai kegagalan moral baik dari pihak

musta’jir maupun mu’ajir dan ini mesti dipertanggung jawabkan kepada Allah.

Bahwa secara normatif, etika menurut pandangan Islam memperlihatkan

adanya suatu struktur yang berdiri sendiri dan terpisah dari struktur lainnya. Hal

itu disebabkan bahwa dalam ilmu akhlak (moral), struktur etika dalam agama

Islam lebih banyak menjelaskan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran baik pada

tataran niat atau ide hingga perilaku dan perangai. Nilai moral tersebut tercakup

dalam empat sifat, yaitu shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah. Diantara nilai-

nilai moral dan etika dalam praktek sewa menyewa (Ijarah) dan upah mengupah

(Ujrah) antara lain:

a. Besaran dan jenis upah harus jelas

Para ulama fiqih sepakat bahwa upah haruslah jelas baik dari besarannya dan jenis

upahnya, apakah dalam bentuk naqd (uang tunai) atau ‘ayn (barang) atau manfaat.

Hal itu berdasarkan hadits Rasulullah s.a.w: 15

ً

هرجأ هملعيلف اريجأ رجأتسا نم

Barang siapa yang mengerjakan seseorang, maka hendaklah ia memberitahukan

kadar upahnya.

هرجأ هل نيبي ىتح ريجلأا راجئتسا نع ملسو هيلع الله ىلص الله لوسر ىهن

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam melarang seseorang mengerkajakan

seorang pekerja sehimgga ia menjelaskan jumlah upahnya.

15 Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, vol. 6 (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1992), 120.

12

Dalam

hadits

ini

ditanamkan

nilai-nilai

kejujuran

dan

sifat

tabligh

dalam

bertransaki

akad

ijarah,

hendaknya

memberitahukan

kadar

upah

serta

jenis

pembayarannya.

b. Menyegerakan dalam pembayaran upah

Mempercepat pembayaran sewa atau kompensasi. Atau sesuai kesepakatan kedua belah pihak sesuai dalam hal penangguhan pembayaran, sebagaimana yang dijelaskan pada hadits riwayat ibnu majah sebelumnya. “Berikanlah upah pekerja

sebelum keringatnya kering”. Hadits riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Umar ini merupakan dalil lain diperbolehkannya akad ijarah. Menurut Ibnu Hajar, kedudukan hadits ini adalah lemah. Hadits ini memerintahkan kepada penyewa untuk memberikan upah orang yang disewa sebelum kering keringatnya. 16 Hadits ini memberikan sebuah etika dalam melakukan akad ijarah, yakni memberikan pembayaran upah secepat mungkin. Relevansinya dengan praktik kontrak ijarah pada saat sekarang adalah adanya keharusan untuk melakukan pembayaran uang sewa sesuai dengan kesepakatan/ batas waktu yang telah ditentukan, seyogyanya kita tidak menunda-nunda pemberian upah dari jadwal/ tenggat waktu yang telah disepakati.

c. Prinsip ‘antaradhin dan transparansi dalam bertransaksi Nilai-nilai moral dan etika ini tergambar dalam Surat al-Qashash (28): 26 27. Gambaran ayat tersebut terkait erat dengan kisah “kontrak kerja” antara nabi Syu’aib atau Yatsru di satu pihak, 17 dengan Musa di pihak lain. Dari ayat ini sesungguhnya dapat dipetik sejumlah pelajaran berharga. Salah satunya yang terpenting dan relevan adalah Akad (transaksi) yang dilakukan Syu’aib/Yatsru dengan Musa di atas, tampak benar-benar mencerminkan proses (negosiasi tawar- menawar) yang mencerminkan transparansi, kesetaraan dan dibangun atas dasar kerelaan (‘an taradhin) para pihak yang berakad sesuai dengan nilai dan norma

16 Zuhaili, “Fiqhul Islam Wa Adillatuhu,” 730.

17 Pembahasan lebih lanjut tentang ayat ini, baca antara lain: Muhammad Amin Suma, Menggali Akar - Menggali Serat Ekonomi Dan Keuangan Islam (Tangerang: Kholam Publishing, 2008), 8687.

13

dasar akad yang diwahyukan Allah tentunya sebagaimana yang kemudian diabadikan Alqur’an dan Al-hadist.

d. Kelayakan Upah

Prof. Mubyarto dalam makalahnya Penerapan Ajaran Ekonomi Islam di Indonesia mengatakan:”Etika bisnis Islam menjunjung tinggi semangat saling percaya, kejujuran, dan keadilan, sedangkan antara pemilik perusahaan dan karyawan berkembang semangat kekeluargaan (brotherhood).” 18 Dari ungkapan tersebut tersirat makna bahwa perusahaan juga harus memperlakukan pekerja seperti mereka memperlakukan dirinya sendiri. Realitas ini, nantinya akan mewujudkan adanya kelayakan yang seharusnya diterima karyawan. Kehidupan layak yang diperoleh oleh pengusaha hendaknya juga diperoleh oleh karyawan selaku keluarga yang ada dibawah asuhannya (pengusaha) meski takarannya tidak sama, namun pemenuhan kehidupan yang layak merupakan kewajiban yang harus dipenuhi. Kelayakan hampir sama dengan moralitas, karena kelayakan lebih luas pemahamannya dibanding dengan moralitas. Kelayakan mencakup di segala aspek, baik aspek individu atau personal sampai aspek keluarga. Selain itu, kelayakan juga melihat dari aspek norma-norma yang berlaku.

E. PENUTUP

Sistem ekonomi Islam yang dijiwai ajaran-ajaran agama Islam memang dapat diamati berjalan dalam masyarakat-masyarakat kecil di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun dalam perekonomian yang sudah mengglobal dengan persaingan terbuka, bisnis Islam sering terpaksa

menerapkan praktek-praktek bisnis non Islam.

Ajaran agama Islam dalam perilaku ekonomi manusia dan bisnis Indonesia makin mendesak penerapannya bukan saja karena mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam, tetapi karena makin jelas ajaran moral ini sangat sering tidak dipatuhi. Dengan perkataan lain penyimpangan demi penyimpangan dalam Islam

18 Mubyarto, “Penerapan Ajaran Ekonomi Islam Di Indonesia” (2002).

14

jelas merupakan sumber berbagai permasalahan ekonomi nasional. Manusia

dalam hubungannya dengan bisnis dalam rangka menjalankan suatu usaha adalah

satu hal yang sangat penting ialah etika. Di mana etika ini memegang peranan

yang sangat penting dalam mencapai tujuan usaha yang lebih besar.

Kegagalan sistem ekonomi yang dianut oleh Negara berkembang di dunia.

Maka ekonomi Islam mulai berkembang sebagai harapan untuk meningkatkan

kesejahteraan bagi manusia. Ekonomi Islam adalah suatu sistem ekonomi yang

tujuan utamanya adalah mewujudkan keadilan dan kesejahteraan secara merata.

Islam mewajibkan setiap Muslim bekerja yang didasarkan iman, etika kerja dan

akhlak Islam 19

Dalam Islam setiap kegiatan muamalah tidak terlepas dari prinsip-prinsip, nilai-nilai moral dan etika yang bermuara pada al-Qur’an dan Sunnah. Misalnya pada praktek Ijarah dan Ujrah, Tidak membebani pekerja melebihi kemampuannya. Upah dianjurkan untuk mempercepat pembayarannya dan jangan menunda-nunda pembayaran upah tersebut. Salah satu Norma ditentukan Islam adalah memenuhi hak-hak musta’jir. Islam tidak membenarkan jika seorang pekerja mencurahkan jerih payah dan keringatnya sementara upah tidak di dapatkan, dikurangi dan ditunda-tunda. 20

Islam sangat memperhatikan kepentingan dua belah pihak, baik dari pihak musta’jir (penyewa) ataupun mu’ajir (yang menyewakan), pada prinsipnya Islam sangat menekankan akad terjalin atas dasar prinsip keadilan dan kekeluargaan. Dalam konteks sewa yang berkaitan dengan jasa, prinsip kekeluargaan dapat diartikan kemitraan. Untuk memelihara kepentingan keduanya Islam sangat menganjurkan kejelasan akad (kontrak) yang tertulis di atas hitam dan putih, sehingga manakala terjadi kelalaian ataupun wanprestasi ketika proses pemenuhan akad, kedua belah pihak mempunyai tanggung jawab masing-masing dalam menyelesaikan perkara.

19 Yan Orgianus, Moralitas Islam Dalam Ekonomi Dan Bisnis (Bandung: Penerbit Marja, 2012),

136.

20 yusuf al-Qardhawi, Daur Al-Qiyam Wa Al-Akhlaq Fi Al-Iqtishad Al-Islami, I. (Cairo: Al-Maktabah al-wahbah, 1995), 373.

15

DAFTAR PUSTAKA

Ad-Dasuqi, Muhammad bin Ahmad bin ’Arafat. Hasyiah Ad-Dusuqi ’Ala Syarh Al-Kabir. Vol. 4. Beirut: Dar al-fikr, n.d.

Al-Baihaqi. As-Sunan Al-Kubra. Vol. 6. Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1992.

An-Najr, Taqiyuddin al-Futuhi al-Hambali ibn. “Muntaha Al-Iradat.” Vol. 3. Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1999.

Ascarya. Akad Dan Produk Bak Syariah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,

2007.

Karim, Adiwarman Azwar. Bank Islam Analisis Fiqh Dan Keuangan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, n.d.

Mandzur, Muhammad bin Mukarram ibn. “Lisan Al-Arab.” Vol. 1. Beirut: Dar Sader, n.d.

Mas’adi, Ghufron A. Fiqih Muamalah Kontekstual. Jakarta: PT Raja Grafindo,

2002.

Mubyarto. “Penerapan Ajaran Ekonomi Islam Di Indonesia” (2002).

Orgianus, Yan. Moralitas Islam Dalam Ekonomi Dan Bisnis. Bandung: Penerbit Marja, 2012.

Suhendi, Hendi. Fiqih Muamalah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007.

Suma,

Muhammad

Amin.

Menggali

Akar

Menggali

- Keuangan Islam. Tangerang: Kholam Publishing, 2008.

Serat

Ekonomi

Dan

Syafe’i, Rahmat. Fiqih Muamalah. Bandung: Pustaka Setia, 2001.

Syihabuddin, Ahmad. Ibanah Al-Ahkam Syarh Bulugh Al-Maram. Beirut: Dar al- fikr, 2004.

yusuf al-Qardhawi. Daur Al-Qiyam Wa Al-Akhlaq Fi Al-Iqtishad Al-Islami. I. Cairo: Al-Maktabah al-wahbah, 1995.

Zuhaili, Wahbah. “Fiqhul Islam Wa Adillatuhu.” Vol. 4. II. Damaskus: Dar al- fikr, 1985.

16

NILAI MORAL DAN ETIKA DALAM IJARAH DAN UJRAH

MAKALAH

Makalah Ini Dibuat Untuk Tugas Mata Kuliah Etika Ekonomi Islam pada Program Pasca Sarjana Program Studi Ekonomi Syari’ah Tahun Akademik 2014-2015

Oleh:

Muhammad Noor Sayuti (22142010)

Akademik 2014-2015 Oleh: Muhammad Noor Sayuti (22142010) PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

17