Anda di halaman 1dari 9

PATOFISIOLOGI

Kejang Demam

Disusun oleh :
Rebekka Martina
1161050257

Pembimbing
dr. Mas Wishnuwardhana, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


PERIODE 5 Oktober 12 Desember 2015
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BEKASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN
INDONESIA

I. DEFINISI
Kejang demam atau disebut juga febrile Convulsion adalah bangkitan
kejang yang terjadi karena kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 38 oC) yang
disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium1,3. Definisi ini menyingkirkan kejang
yang disebabkan penyakit saraf seperti meningitis, ensefalitis dan ensefalopati.
Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures, kejang demam adalah
suatu kejadian pada bayi atau anak, biasanya terjadi antara umur antara umur 3
bulan dan 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak terbukti adanya
infeksi intrakranial atau penyebab tertentu.1,2
II.

PATOFISIOLOGI

Sel dan organ otak memerlukan suatu energi yang didapat dari
metabolisme untuk mempertahankan hidupnya. Bahan baku terpenting untuk
metabolisme otak adalah glukosa. Sumber energi otak adalah glukosa yang

melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sifat proses ini adalah
oksidasi dimana oksigen disediakan dengan perantaraan fungsi paru-paru dan
diteruskan ke otak melalui sistem kardiovaskuler.2
Sel memiliki suatu membran dengan dua permukaan yaitu permukaan
dalam dan permukaan luar oleh ion kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion
natrium (Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali ion Klorida (Cl-). Akibatnya
konsentrasi Kalium dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi natrium rendah,
sedangkan diluar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis
dan konsentrasi ion di dalam dan luar sel, maka terdapat perbedaan potensial yang
disebut potensial membrane dari sel neuron. Untuk menjaga keseimbangan
potensial membran ini diperlukan energy dan bahan enzim Na-K-ATPase yang
terdapat pada permukaan sel.2
Keseimbangan potensial membran ini dapat dirubah oleh adanya: 2
1. Perubahan konsentrasi ion diruang ekstraseluler.
2. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi, atau
aliran listrik dari sekitarnya.
3. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau
keturunan.
Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari
seluruh tubuh, dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Dan pada
kondisi demam kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolism
basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Jadi pada kenaikan
suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel
neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion
Natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik.
Lepas muatanlistrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel
maupun ke membran sel tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut
neurotransmitter dan terjadilah kejang.2

Tiap anak memiliki ambang kejang yang berbeda, ini tergantung dari
tinggi rendahnya ambang kejang seorang anak menderita kejang pada kenaikan
suhu tubuh tertentu. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, dapat terjadi
kejang pada suhu 38C, sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi
kejang baru terjadi pada suhu 40 C atau lebih. Dari kenyataan ini dapatlah
disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang
kejang yang rendah; sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada
tingkat suhu berapa penderita kejang. 2
Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya
dan tidak meninggalkan gejala sisa. Namun pada kejang demam yang berlangsung
lama (> 15 menit) biasanya terjadi apnea (henti nafas), meningkatnya kebutuhan
oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia,
hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anerobik, hipotensi
arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin
meningkat disebabkan meningkatnya aktivitas otot dan selanjutnya menyebabkan
metabolime otak meningkat. Rangkaian kejadian di atas merupakan faktor
penyebab sehingga terjadi kerusakan neuron otak selama belangsungnya kejang
lama. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan
hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler lalu timbul edema otak
sehingga terjadi kerusakan sel neuron otak. 2
Kerusakan di daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan
kejang yang berlangsung lama; dapat menjadi "matang" dikemudian hari sehingga
terjadi serangan epilepsi yang spontan. Jadi, jelaslah bahwa kejang demam yang
berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak sehingga terjadi
epilepsi. 2
III. DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya kejang pada seorang anak yang
mengalami demam dan sebelumnya tidak ada riwayat epilepsi. Suhu tubuh yang
diukur dengan cara memasukkan termometer ke dalam lubang dubur,
menunjukkan angka lebih besar dari 38,5o Celsius. Dari anamnesa biasanya

didapatkan riwayat kejang demam pada anggota keluarga lainnya (ayah, ibu, atau
saudara kandung). Sedangkan dari pemeriksaan fisik neurologis tidak didapatkan
adanya kelainan.(1,2)
Manifestasi Klinis:
kejang demam sederhana :
Kejang bersifat umum,Lamanya kejang berlangsung singkat (kurang dari
15 menit), Pemeriksaan EEG normal, Kejang berlangsung singkat < 15
menit, Kejang umum tonik dan atau klonik, Akan berhenti sendiri
kejang demam kompleks:
Kejang demam yang tidak memenuhi kriteria di atas digolongkan sebagai
kejang demam kompleks, Kejang lama > 15 menit, Kejang fokal atau
parsial 1 sisi (kejang umum didahului kejang parsial),Berulang atau lebih
dari 1 kali dalam 24 jam.
Pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang dilakukan pada kasus kejang demam
lebih ditujukan untuk mencari penyebab terjadinya demam, antara lain: (1,2)
1. Pemeriksaan Laboratorium
dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam.
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan misalnya darah perifer,
elektrolit dan gula darah.
2. Pungsi Lumbal
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau
menyingkirkan kemungkinan meningitis. Pada bayi kecil sering kali sulit
untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis meningitis karena
manifestasi klinisnya tidak jelas. Maka tindakan pungsi lumbal dikerjakan
dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Bayi kurang dari 12, diharuskan
b. Bayi antara 12-18 bulan, dianjurkan
c. Bayi > 18 bulan, tidak rutin kecuali bila ada tanda-tanda meningitis.
3. Elektroensefalografi
4. Pencitraan
Foto X-ray kepala, Computed tomography scan (CT-Scan) atau magnetic
resonance imaging (MRI) hanya atas indikasi, seperti:
a. Kelainan neurologi fokal yang menetap (hemiparesis)
b. Paresis nervus VI
c. Papiledema

IV. PENGELOLAAN DAN TATALAKSANA


a.
Antipiretik dan Antibiotik
Antipiretik: paracetamol dengan dosis untuk anak yang dianjurkan 10-15
mg/kgBB/hari tiap 4-6 jam atau ibuprofen 5-10 mg/kgBB/hari tiap 4-6 jam.
Antibiotik untuk mengatasi infeksi yang menjadi etiologi dasar demam yang
b.

terjadi.
Penanganan Kejang pada Neonatus
Hal pertama yang harus diperhatikan adalah tersumbat atau tidaknya jalan
napas. Selanjutnya dilakukan pemberian oksigen, dan menghentikan kejang
dengan cara:
KEJANG
30 menit

Luminal IM 20 mg/kg/BB dalam 5


menit
KEJANG (+)
Ulangi luminal IM 10 mg/kg/BB.
Dapat diulangi lagi jarak 30 menit
bila masih kejang.
KEJANG (+)
Fenitoin bolus IV 20 mg/kgBB
dalam 15 ml NaCl, berikan dalam 30
menit (kecepatan 0.5-1
mg/kgBB/menit)
KEJANG (-)

Bila kejang berulang dalam 2 hari, berikan luminal 5 mg/kg/hari per oral
sampai bebas kejang 7 hari. Bila kejang berulang setelah bebas kejang 2 hari,
c.

ulangi pemberian luminal dari awal.


Penanganan Kejang pada Anak
Hal pertama yang harus diperhatikan adalah tersumbat atau tidaknya jalan
napas. Selanjutnya dilakukan pemberian oksigen, dan menghentikan kejang
dengan cara:
5 menit

KEJANG
Diazepam rectal 0.5 mg/kgBB atau:
Berat badan 10 kg: 5 mg
Berat badan > 10 kg: 10 mg

KEJANG (+)
Ulangi diazepam rektal sepertisebelumnya.
DI RS
Cari akses vena
Periksa laboratorium (darah tepi, Na, Ca, Mg, Ureum, Kreatinin)

KEJANG (+)
Diazepam IV dosis 0.3-0.5 mg/kgBB
(kecepatan 0.5-1 mg/menit)

KEJANG (-)

KEJANG (+)
Fenitoin bolus IV 10-20
mg/kgBB (dengan kecepatan 0.51 mg/menit)

Berikan terapi rumatan bila penyebab


kejang diperkirakan infeksi
intrakranial. Berikan fenobarbital 810 mg/kgBB/hari, dibagi 2 dosis.
Selama 2 hari selanjutnya 4-5
mg/kgBB/hari sampai resiko kejang
tidak ada.

KEJANG (+)

KEJANG (-)

Transfer ke ICU

d.

Rumatan fenitoin IV 5-7


mg/kgBB/hari 12 jam
kemudian

Edukasi pada orang tua(1,2)

Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis


baik,

Memberitahukan

cara

penanganan

kejang,

Memberikan

informasi mengenai kemungkinan kejang kembali, Pemberian obat


untuk pencegahan rekurensi memang efektif tetapi harus diingat
adanya efek samping obat.

Dalam penanganan kejang demam, orang tua harus mengupayakan


diri setenang mungkin dalam mengobservasi anak. Beberapa hal yang
harus diperhatikan adalah sebagai berikut: (1,2)

Anak harus dibaringkan di tempat yang datar dengan posisi


menyamping, bukan terlentang, untuk menghindari bahaya tersedak,
Jangan meletakkan benda apapun dalam mulut si anak seperti sendok
atau penggaris, karena justru benda tersebut dapat menyumbat jalan
napas.

Jangan memegangi anak untuk melawan kejang, Sebagian besar


kejang berlangsung singkat dan tidak memerlukan penanganan khusus,
Jika kejang terus berlanjut selama 10 menit, anak harus segera dibawa
ke fasilitas kesehatan terdekat. Sumber lain menganjurkan anak untuk
dibawa ke fasilitas kesehatan jika kejang masih berlanjut setelah 5
menit. Ada pula sumber yang menyatakan bahwa penanganan lebih
baik dilakukan secepat mungkin tanpa menyatakan batasan menit.3

Setelah kejang berakhir (jika < 10 menit), anak perlu dibawa menemui
dokter untuk meneliti sumber demam, terutama jika ada kekakuan
leher, muntah-muntah yang berat, atau anak terus tampak lemas.

DAFTAR PUSTAKA
1. S, Soetomenggolo; Taslim; Ismail,S. Buku Ajar Neurologis Anak. Cetakan
Kedua. BP. IDAI. Jakarta: 2000; hal 244-51.
2. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. Buku Kuliah 2. Ilmu Kesehatan
Anak. Bagian IKA FK UI. Jakarta: 1985; hal 847-55.
3. Mansjoer, A; Suprohaita; Wardhan, W.I; Setiowulan, W. Kapita Selekta
Kedokteran. Jilid 2. Edisi Ketiga. Media Aesculapius. FK UI. Jakarta:
2000; hal 434-7.
4. Rauf, Syarifuddin, dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak.
Makassar : Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNHAS : 2009. Hal. 103-9.
5. Haslam Robert H.A Sistem Saraf, dalam ilmu kesehatan anak Nelson,
Vol.3, Edisi 15. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta 2000.
6. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Ilmu Kesehatan Anak. Bagian
Kesehatan Anak FKUI Jakarta. 1985.
7. Askep Anak dengan Kejang Demam. FK Unair Surabaya. Available from :
http://www.perfspot.com/docs/doc.asp?id=18605