Anda di halaman 1dari 3

Biaya peluang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa

Biaya peluang atau biaya kesempatan (bahasa Inggris: Opportunity Cost) adalah biaya yang
dikeluarkan ketika memilih suatu kegiatan. Berbeda dengan biaya sehari-hari, biaya peluang muncul
dari kegiatan alternatif yang tidak bisa kita lakukan. Sebagai contoh, misalkan seseorang memiliki
uang Rp 10.000.000. Dengan uang sebesar itu, ia memiliki kesempatan untuk bertamasya ke Bali
atau membeli sebuah TV. Jika ia memilih untuk membeli TV, ia akan kehilangan kesempatan untuk
menikmati keindahan Bali; begitu pula sebaliknya, apabila ia memilih untuk bertamasya ke Bali, ia
akan kehilangan kesempatan untuk menonton TV. "Kesempatan yang hilang" itulah yang disebut
sebagai biaya peluang...
Artikel bertopik ekonomi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia
dengan mengembangkannya.
Pilihan ekonomi adalah keputusan sadar untuk menggunakan sumber daya yang langka dengan
cara tertentu. Kita harus memutuskan untuk memilih dan menentukan berapa banyak barang yang
akan dibeli. Untuk membuat pilihan, kita perlu menyeimbangkan manfaat yang kita peroleh jika kita
memiliki sesuatu dan biaya yang harus kita keluarkan jika kita harus mengorbankan sesuatu. Biaya
ini disebut biaya peluang

ETERSEDIAAN BARANG DAN JASA atau kelangkaan


Sebelumnya telah saya postkan, bahwa kebutuhan manusia banyak , beraneka ragam sampai manusia
menghembuskan nafas terakhir. sepangjang hidupnya manusia akan selalu berusaha memenuhi berbagai
kebutuhannya yang tak terbatas . namun , tentu saja tak semua terpenuhi , manusia harus menentukan
pilihan alternatif yang menguntungkan.
MENGAPA MEMILIH PILIHAN?
karna jenis dan jumlah pemuas kebutuhan ( barang atau jasa) terbatas sedangkan jumlah yang
dibutuhkan untuk memuaskan kebutuhan manusia tidak terbatas. inilah menjadi masalah inti ekonomi.

B.

KETERSEDIAAN BARANG DAN JASA


Kebutuhan manusia begitu banyak, beragam, dan terus berkembang. Sepanjang
hidupnya, manusia akan selalu berusaha memenuhi berbagai kebutuhannya yang tak
terbatas tersebut.
Manusia harus melakukan pilihan di antara alternatif yang paling menguntungkannya.
Mengapa kita harus melakukan pilihan? Sebab jenis dan jumlah benda pemuas
kebutuhan yang tersedia terbatas (langka), sementara jumlah dan jenis yang
dibutuhkan tidak terbatas.
Mengapa terjadi kelangkaan? Kelangkaan timbul sebagai akibat beberapa hal berikut
ini.

1.

Keterbatasan jumlah benda pemuas kebutuhan yang ada di alam

Di alam telah tersedia banyak benda yang dapat digunakan untuk memenuhi
kebutuhan manusia. Akan tetapi, karena tidak semua benda tersebut dapat segera
diperbarui, maka jumlahnya pun terbatas.

2.

Kerusakan sumber daya alam akibat ulah manusia.

Penebangan hutan yang tidak terencana dengan baik mengakibatkan hutan


tersebut menjadi cepat rusak dan gundul. Hal ini tentu memerlukan waktu lama untuk
memperbaikinya.
3.

Keterbatasan kemampuan manusia untuk mengolah sumber daya yang ada.

Keterbatasan kemampuan untuk mengolah terjadi karena kekurangan ilmu


pengetahuan dan teknologi. Akan tetapi juga karena kekurangan modal dan faktorfaktor lain.
4.

Peningkatan kebutuhan manusia yang lebih cepat dibandingkan dengan


kemampuan penyediaan sarana kebutuhan.

Terbatasnya benda pemuas kebutuhan yang tersedia sedangkan jumlah dan jenis
yang dibutuhkan tidak terbatas.
Inti masalah ekonomi adalah bagaimana manusia memenuhi kebutuhannya yang tak
terbatas dengan alat atau benda pemuas kebutuhan yang terbatas.
Keterbatasan sumber daya dan keharusan melakukan pilihan dapat kita lihat dari
contoh dibawah ini.
Misal: Kamu ingin nonton film di bioskop, membeli minuman, dan membeli
makanan ringan. Sementara itu, uang yang kamu miliki hanya Rp 25.000,- dan harus
kamu alokasikan untuk memenuhi ketiga keinginan tersebut. Jika harga tiket adalah Rp
20.000,- makanan ringan Rp 4.000,- dan minuman Rp 2.000,- maka yang bisa kamu
peroleh adalah kombinasi antara tiket bioskop dan makanan ringan saja (total Rp
24.000,-), atau tiket bioskop dan minuman (total Rp 22.000,-), atau makanan ringan dan
minuman (total Rp 6.000,-). Jelas bahwa kamu harus melakukan pilihan untuk
memenuhi semua kebutuhan kamu berdasarkan kemampuan atau sumber daya yang
tersedia.
C.

BIAYA PELUANG
Setiap pilihan yang kita ambil berarti pengorbanan atas pilihan lain, yang
menyebabkan timbulnya biaya untuk melakukan hal lain tersebut atau sering disebut
biaya peluang.
Biaya peluang (opportunity cost) adalah biaya implisit akan nilai barang atau jasa
yang dikeluarkan karena melakukan suatu kegiatan dan memilih/ mengorbankan
kegiatan lain.

Biaya eksplisit (pengeluaran tunai) adalah biaya yang benar-benar dikeluarkan.


Baik biaya eksplisit dan biaya implisit harus diperhitungkan dalam melakukan
keputusan-keputusan ekonomi. Kedua biaya ini disebut dengan biaya sesungguhnya
(genuine cost).
Sebagai gambaran, dapat dilihat pada contoh kasus dibawah ini.
Misalnya adalah biaya kuliah di perguruan tinggi. Jika kamu telah lulus SMK dan
memutuskan untuk kuliah di perguruan tinggi, kamu mungkin menghitung biaya kuliah
(antara lain uang semester, uang kos, buku pelajaran, uang praktikum, dan uang
pembangunan) berjumlah total Rp 10.000.000,- setahun. Apakah jumlah tersebut
adalah biaya peluang untuk kuliah di perguruan tinggi selama setahun? Jawabnya
adalah bukan. Kamu juga harus memperhitungkan biaya peluang waktu yang
dihabiskan karena kuliah.
Jika setelah lulus SMK kamu tidak memilih kuliah, melainkan bekerja di sebuah
pabrik, selama setahun kamu bisa mendapatkan gaji total Rp 12.000.000,-. Dengan
demikian, jika kita menambahkan biaya yang benar-benar dikeluarkan untuk kuliah dan
pendapatan yang terpaksa kita korbankan karena tidak bekerja, kita akan mendapatkan
biaya peluang kuliah sebesar Rp 22.000.000,- (sama dengan Rp 10.000.000,- + Rp
12.000.000,-).
Konsep biaya peluang ini adalah bahasan sentral dalam ilmu ekonomi. Ilmu
ekonomi selalu mempertimbangkan biaya peluang dari setiap keputusan dalam
memenuhi kebutuhan atau melakukan kegiatan ekonomi.
Laba akuntansi adalah pendapatan atau penerimaan dikurangi biaya eksplisit.
Laba ekonomi adalah pendapatan dikurangi biaya eksplisit dan implisit.
Perusahaan baru dikatakan memperoleh laba secara ekonomi jika laba tersebut
lebih besar daripada biaya peluang atau opportunity cost.
Ilustrasinya sebagai berikut:
Peter bekerja sebagai supervisor di suatu perusahaan terkenal di Jakarta. Peter
mendapatkan gaji per bulan Rp 12.000.000,-. Karena ingin mengembangkan diri, ia
berhenti bekerja dan membuka usaha sendiri bernama Laundry Segar. Usahanya
menempati rumah yang dahulu disewakan olehnya sebesar Rp 5.000.000,- per bulan.
Modal kerjanya berasal dari kredit bank sebesar Rp 500.000.000,- dengan bunga
sebesar Rp 3.000.000,- per bulan.