Anda di halaman 1dari 1

Teknik Pengelolaan Sampah Menurut UU No.

18 Tahun 2008
Terkait dengan ketentuan dalam UU NO. 18 Tahun 2008 dinyatakan, bahwa setiap orang
mempunyai hak dan kewajiban dalam pengelolaan sampah. Dalam hal pengelolaan sampah
pasal 12 dinyatakan, setiap orang wajib mengurangi dan menangani sampah dengan cara
berwawasan lingkungan. Masyarakat juga dinyatakan berhak berpartisipasi dalam proses
pengambilan keputusan, pengelolaan dan pengawasan di bidang pengelolaan sampah.
Berdasarkan pasal 3 dinyatakan bahwa pengelolaan sampah diselenggarakan berdasarkan
asas tanggung jawab, asas berkelanjutan, asas manfaat, asas keadilan, asas kesadaran, asas
kebersamaan, asas keselamatan, asas keamanan, dan asas nilai ekonomi.
Dalam rangka menyelenggarakan pengelolaan sampah secara terpadu dan komprehensif,
pemenuhan hak dan kewajiban masyarakat, serta tugas dan wewenang Pemerintah dan
pemerintahan daerah untuk melaksanakan pelayanan publik, diperlukan payung hukum dalam
bentuk undang-undang. Pengaturan hukum pengelolaan sampah dalam Undang-Undang ini
berdasarkan asas tanggung jawab, asas berkelanjutan, asas manfaat, asas keadilan, asas
kesadaran, asas kebersamaan, asas keselamatan, asas keamanan, dan asas nilai ekonomi.
Pengelolaan sampah dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif dari hulu, sejak
sebelum dihasilkan suatu produk yang berpotensi menjadi sampah, sampai ke hilir, yaitu pada
fase produk sudah digunakan sehingga menjadi sampah, yang kemudian dikembalikan ke
media lingkungan secara aman. Sampah yang dikelola berdasarkan Undang-Undang ini
terdiri atas sampah rumah tangga, sampah sejenis sampah rumah tangga dan sampah spesifik.
Berdasarkan pasal 19 dinyatakan bahwa Pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah
sejenis sampah rumah tangga terdiri atas pengurangan sampah dan penanganan sampah.
Berdasarkan pasal 20, Pengurangan sampah meliputi kegiatan pembatasan, penggunaan
kembali, dan pendauran ulang, sedangkan berdasarkan pasal 22, kegiatan penanganan
sampah meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan
akhir. Pengelolaan sampah spesifik seperti bahan berbahaya dan beracun, pengelolaannya
merupakan tanggung jawab pemerintah (pasal 23).
Pada kenyataannya, pengelolaan sampah terlihat tidak berjalan sesuai dengan prosedur.
Hal ini karena masih kurangnya kesadaran pada masnyarakat. Sebagian besar masyarakat
masih memandang sampah sebagai barang sisa yang tidak berguna, bukan sebagai sumber
daya yang perlu dimanfaatkan. Masyarakat dalam mengelola sampah masih bertumpu pada
pendekatan akhir (end-of-pipe), yaitu sampah dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke tempat
pemrosesan akhir sampah. Padahal, timbunan sampah dengan volume yang besar di lokasi
tempat pemrosesan akhir sampah berpotensi melepas gas metan (CH4) yang dapat
meningkatkan emisi gas rumah dan memberikan kontribusi terhadap pemanasan global. Oleh
karena itu, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah sangat penting. Selain itu
adanya upaya dari pemerintah juga diperlukan dalam pegelolaan sampah misalnya
pemerintah memberikan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat
akan pengelolaan sampah. Salah satunya dengan mempraktekkan sistem 3R yang
melibatkan komunitas masyarakat (reduce, reuse dan recycle) yaitu pengurangan,
penggunaan kembali dan daur ulang.