Anda di halaman 1dari 7

TUGAS MANDIRI

Skenario 1 Blok Panca Indera : Mata Merah


LI I Memahami dan Menjelaskan Anatomi Mata
1.1 Makroskopis Anatomi Mata

1.2 Mikroskopis Anatomi Mata


MEDIA REFRAKSI
Merupakan media kesemua bangunan transparan yang harus dilalui berkas cahaya untuk
mencapai retina. Media refraksi terdiri dari:
Kornea
Kornea jernih dan tembus cahaya dengan permukaan yang licin tetapi tidak melengkung
secara uniform/seragam. Bagian tengah (zona optikal) mempunyai radius kelengkungan yang lebih
kecil dibandingkan bagian tepi, dan permukaan posterior lebih melengkung daripada anterior,
karenanya kornea lebih tipis di bagian tengah daripada tepinya.
Daya refraksi kornea, yang merupakan hasil indeks refraksi radius lengkung kornea lebih
besar daripada daya refraksi lensa. Secara anatomis kornea mempunyai dua bagian:
Kornea asli
Secara histologi, terdiri dari lima lapisan
1. Epitel
Pada permukaan luar terdapat epitel, yaitu suatu epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk,
dengan 5 hingga 6 lapisan sel. Lapisan basal silindris rendah, kemudian 3 atau 4 lapisan sel
polihedral dan 1 atau 2 lapisan sel permukaan yang gepeng. Epitel ini sangat sensitif dengan
banyak akhir saraf bebas, dan mempunyai daya regenerasi istimewa/sangat baik, mitosis hanya
terjadi dalam lapisan basal.
2. Membran Bowman

Dibawah epitel, tak berbentuk dan tak mengandung sel, dibentuk oleh perpadatan antar sel
dengan serabut kolagen halus yang tersebar tak beraturan. Membran ini berakhir dengan tegas/
mendadak pada limbus.
3. Substansia propria
Membentuk massa kornea (90% ketebalannya), bersifat tembus cahaya, dan terdiri dari lamel
kolagen dengan sel. Lamel merupakan serat lebar, seperti pita, serabut dalam setiap lamel sejajar,
dengan lamel pada sudut-sudut yang berbeda. Lamel saling melekat karena adanya pertukaran
serabut antara lamel yang berdampingan. Diameter serabut seragam menunjukkan periodisitas
yang khas, dan terbenam dalam substansia antarsel yang kaya akan polisakarida bersulfat.
Fibroblas berbentuk bintang, gepeng dengan cabang yang ramping, terletak antar lamel.
4. Membran descement
Tampak homogen, terletak sebelah dalam substansia propria. Merupakan membrana basalis
dari endotel. Secara kimiawi materinya adalah kolagen.
5. Endotel
Merupakan satu lapis sel kuboid yang melapisi permukaan dalam kornea. Sel menunjukkan
kompleks tautan, permukaan antar sel yang tak teratur, dan sejumlah besar vesikula pinositotik.
Vesikula ini mentransportasikan cairan dan larutan.
Kornea bersifat avaskular, mendapatkan nutrisi dari difusi pembuluh perifer dalam limbus dan
dari humor akueus di bagian tengah.

Limbus kornea
Merupakan zona peralihan atau zona pertemuan antara kornea dengan sklera. Disini epitel
kornea menebal smapai 10 lapisan dan melanjutkan diri dengan konjungtiva, membrana bowman
berhenti dengan tiba-tiba, membran descement menipis dan memecah dan melanjutkan diri menjadi
trabekula ligamneti pektinata, dan stroma kornea menjadi kurang teratur dan secara bertahap
susunannya berubah dari susunan lamelar yang khas menjadi kurang teratur seperti yang ditemukan
pada sklera. Limbus memiliki vaskularisasi yang baik.
Camera occuli anterior dan camera occuli posterior
Camera occuli anterior (COA)
Merupakan suatu ruangan yang dibatasi oleh:

Anterior oleh permukaan posterior kornea


Posterior oleh lensa, iris, dan permukaan anterior badan siliaris
Lateral oleh sudut iris atau limbus yang ditempati oleh jaringan-jaringan trabekular
yang merupakan tempat penyaliran humor akueus schlemm.

Camera occuli posterior (COP)


Merupakan suatu ruangan yang dibatasi oleh:
Anterior oleh iris
Posterior oleh permukaan anterior lensa dan zonula
Perifer oleh prosesus silia.
Kedua ruangan mengandung humor akueus, suatu cairan encer yang disekresi sebagian oleh
epitel siliar dan oleh difusi dari kapiler dalam prosesus siliaris. Humor akueus mengandung materi
yang dapat berdifusi dari plasma darah, tetapi mengandung kadar protein yang rendah dibandingkan
serum. Cairan ini disekresi secara kontinyu ke dalam COP, mengalir keruang anterior melalui pupil,
dan disalurkan melalui jaringan trabekular ke dalam kanal schlemm.
Lensa
Lensa kristalina bentuknya bikonveks, permukaan posterior lebih melengkung daripada
anterior. Di bagian tengah pada kedua permukaannya terdapat kutup anterior dan kutup posterior.
Garis yang menghubungkan keduanya adalah aksis dan batas kelilingnya adalah ekuator.
Secara struktural, terdapat 3 komponen:
1. Kapsul lensa
Kapsul lensa meliputi lensa. Kapsul ini homogen, agaknya merupakan membran yang tak
berbentuk, bersifat elastik, dan mengandung glikoprotein dan kolagen tipe IV. Padanya melekat
serat zonula, yang berjalan ke badan siliar sebagai ligamentum suspensorium/penyokong.
2. Endotel subkapsularis
Hanya pada permukaan anterior, di bawah kapsula, terdapat epitel subkapsular, merupakan
satu lapisan sel kuboid. Bagian dasar sel ini terletak di luar dalam hubungan dengan kapsula.
Apeksnya terletak di dalam dan membentuk kompleks jungsional dengan serat lensa. Ke arah
ekuator sel ini bertambah tinggi dan beralih menjadi serat lensa.
3. Substansia lensa
Terdiri dari serat lensa, yang masing-masing berbentuk prisma heksagonal. Sebagian besar
serat tersusun secara konsentris dan sejajar permukaan lensa. Di permukaan, pada korteks serat
yang lebih muda mengandung inti dan beberapa organel. Di bagian tengah, dalma ini lensa, serat
yang lebih tua telah kehilangan inti dan tampak homogen.
Lensa sama sekali tanpa pembuluh darah, karenanya mendapat nutrisi dari humor akueus dan
badan vitreus. Lensa bersifat tembus cahaya, dan membran plasma serat lensanya sangat tidak
permeabel.
Lensa dipertahankan pada tempatnya oleh ligamen suspensorium, disebut zonula yang terdiri
dari lembaran terdiri dari materi fibrilar yang berjalan dari badan siliar ke ekuator lensa, sehingga
meliputi lensa.

Badan vitreus
Merupakan suatu agar-agar yang jernih dan tembus cahaya yang memenuhi ruang antara retina
dan lensa. Oleh karenanya bentuknya sferoid/bundar dengan lekukan pada bagian anterior untuk
menyesuaikan dengan lensa. Badan vitreus juga memlihara bentuk dan kekenyalan bola mata.

RETINA
Merupakan lapisan paling dalam bola mata dan terdiri dari bagian anterior yang tak peka dan
bagian posterior yaitu bagian yang fungsional, yang merupakan organ fotoreseptor atau alat penerima
cahaya.
Retina berkembang sebagai penonjolan ke luar otak depan yang disebut vesikel optik. Vesikel
optik mempertahankan hubungannya dengan otak mellaui tangkai optik. Vesikel optik akan berubah
menjadi cangkir optik yang berlapis dua. Lapisan luar membentuk epitel pigmen, dan lapisan dalam
menjadi retina saraf atau retina yang sebenarnya.
Suatu ruang potensial menetap antara kedua lapisan tersebut dan hanya dilalui oleh penonjolan
sel pigmen. Lapisan luar, lapisan pigmen melekat erat pada koroid, tetapi lapisan dalam mudah
terlepas pada proses pembuatan sajian histologi juga dalam kehidupan sesudah terjadi trauma.
Retina optikal atau neural melapisis koroid mulai dari papila saraf optik di bagian posterior
hingga ora serrata di anterior, dan menunjukkan suatu cekungan yang dangkal yang disebut fovea
sentralis. Sekeliling fovea terdapat suatu daerah yang dikenal sebagai bintik kuning, atau makula
lutea. Fovea merupakan daerah untuk penglihatan terjelas. Tak terdapat fotoreseptor di atas papila
optik, sehingga daerah ini disebut juga bintik buta.
Lapisan retina terdiri dari:
1. Epitel pigmen
2. Lapisan batang dan kerucut
3. Membran limitans eksterna
4. Lapisan inti luar
5. Lapisan pleksiform luar
6. Lapisan inti dalam
7. Lapisan pleksiform dalam
8. Lapisan sel ganglion
9. Lapisan serat saraf
10. Membran limitans interna

Terdapat empat kelompok sel:


1. Fotoreseptor (batang dan kerucut)
Baik batang maupun kerucut merupakan bentuk modifikasi neuron. Sel ini
menunjukkan segmen dalam dan luar yang terletak di luar membran limitans eksterna.
Batang merupakan sel khusus yang ramping dengan segmen luar berbentuk silindris
mengandung fotopigmen rhodopsin (ungu visual) dan suatu segmen dalma yang sedikit
lebih panjang.
Kerucut menunjukkan segmen luar yang mengecil dan membesar ke arah segmen
dalam, sehingga berbentuk seperti botol.
2. Neuron konduksi langsung (sel bipolar dan sel ganglion)
Sel bipolar badan sel bipolar sebagian besar terletak pada bagian sentral aerah inti
dalam. Terbagi dalam suatu kelompok utama:
Bipolar difusa berhubungan dengan beberapa fotoreseptor
Bipolar monosinaptik/kerdil yang berhubungan dengan satu sel.
Sel ganglion terletak dalam retina dalam dengan dendritnya dalam lapisan pleksiform
dalma dan aksonnya membentuk serat saraf optik. Aksonnta tak pernah bercabang.
3. Neuron asosiasi dan lainnya (sel horisontal, makrin, dan sel bipolar sentrifugal)
4. Unsur penyokong (serat Muller dan neuroglia).
(Roland, buku ajar histologi)
LI II Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Mata
2.1 Fisiologi Penglihatan
Mekanisme penglihatan
Cahaya masuk ke bagian mata yg bernama pupil. Ukuran pupil disesuakan dengan kontraksi
dari iris yaitu m.konstriktor pupilae yg menyebabkan pupil mengecil dan dipengaruhi oleh saraf
parasimpatis dan m.dilator pupilae yg menyebabkan pupil membesar dan dipersarafi oleh simpatis.
Lalu cahaya dibiaskan melalu media refraksi yang terdiri dari kornea dan lensa, bentuk
kornea itu sendiri berbentuk konveks (cembung) berfungsi agar cahaya dapat di belokkan pada titik
focus, setelah melewati kornea cahaya lalu diteruskan oleh lensa. Yg juga berbentuk konveks
sehingga cahaya dapat jatuh pada titik focus di retina. Lensa sendiri diatur oleh m.ciliaris yg
disambungkan oleh zonula zinii. Bila m.ciliaris berkontraksi maka pupil maka zonula zinii melemas
sehingga membuat lensa semakin cembung dan berfungsi untuk melihat dari jarak dekat (akomodasi).
Sebaliknya bila m.ciliaris melemas maka zonula zinii akan menarik lensa sehingga lensa menjadi
semakin pipih dan berfungsi untuk melihat jarak jauh. Semua otot tersebut masing masing dipersarafi
oleh parasimpatis dan simpatis.
Setelah cahaya di refraksikan maka cahaya akan mencapai retina yg terdapat sel sel
fotoreseptor yaitu sel batang dan sel kerucut.
Sifat dari sel sel ini ialah bila sel batang maka sel ini peka terhadap gelap, kepekaan tinggi
dan ketajaman rendah. Bila sel kerucut peka terhadap sinar dan warna , ketajaman penglihatan tinggi,
digunakan pada saat siang hari.

Terjadi beberapa proses pada saat otak mengekspresikan gelap atau terang yaitu

gelap

Jaras

penglihatan
Berkas-berkas
cahaya
dari separuh kiri
konsentrasi GMP-siklik tinggi
lapangan pandang
jatuh di
separuh
kanan
retina
kedua
mata.
kosentrasi Na tinggi
Demikian
sebaliknya, berkasberkas
cahaya
dari
depolarisasi membrane
separuh
kanan
lapangan
pandang jatuh di
separuh
kiri retina kedua
pengeluaran
zat
inhibitor
mata.
Tiap-tiap
saraf
optikus
keluar dari retina
membawa
neuron bipolar dihambat
informasi
dari
kedua
belahan retina yang
dipersarafi.
tidak adanya eksitasi ke korteks penglihatan di otak
Informasi
ini
dipisahkan sewaktu
kedua
saraf
optikus
tidak ada ekspresi melihat
tersebut bertemu di
kiasma
optikus. Di dalam
kiasma optikus, serat-serat dari separuh
medial
kedua
retina
bersilangan
ke
sisi
yang berlawanan,
cahaya/terang
tetapi serat-serat yang dari separuh lateral tetap di sisi yang sama. Berkas-berkas serat yang telah
direorganisasi dan meninggalkan kiasma optikus dikenal sebagai traktus optikus. Tiap-tiap traktus
optikus membawa
informasi dari
separuh
lateraldari
salah
satu retina
dan separuh medial retina yang lain.
fotopigmen
terjadi
disosiasi
retinen
dan opsin
Dengan demikian, persilangan parsial ini menyatukan serat-serat dari kedua mata yang yang
membawa informasi dari separuh lapangan pandang yang sama. Tiap-tiap traktus optikus
menyampaikan ke belahan otak di sisi yang sama informasi mengenai separuh lapangan pandang dari
kosentrasi Na tinggi
sisi yang berlawanan. Perhentian pertama di otak untuk informasi dalam jalur penglihatan adalah
nukleus genikulatus lateralis di thalamus. Di korpus atau nucleus genikulatum, serat-serat dari
bagian nasal retina dan temporal retina yang lain bersinaps di sel-sel yang axonnya membentuk
penurunan
GMP-siklik
traktus genikulokalkarina. Traktus
ini menuju
ke lobus oksipitalis korteks serebrum (area
Brodmann 17).

penutupan canal Na
menutupnya canal Ca
2.2 Fisiologi Lakrimasi

pengeluaran zat inhibitorik dihambat


LI III Memahami dan Menjelaskan Infeksi Konjungtiva
3.1 Definisi

terjadi eksitasi neuron bipolar

3.2 Epidemiologi
3.3 Etiologi

perambatan potensial aksi ke korteks penglihatan di otak

3.4 Klasifikasi

3.5 Manifestasi Klinik

adanya ekspresi melihat

3.6 Patofisiologi
3.7 Diagnosis dan Diagnosis Banding
3.8 Tatalaksana
3.9 Komplikasi
3.10 Prognosis
3.11 Pencegahan
LI IV Memahami dan Menjelaskan Menjaga Kesehatan Mata dan Menjaga Kesehatan Mata
dalam Sudut pandang Islam