Anda di halaman 1dari 75

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah kesehatan ibu merupakan masalah nasional yang perlu mendapat
prioritas utama, karena sangat menentukan kuaitas sumber daya manusia
mendatang. Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI), serta lambatnya penurunan
angka kematian ibu menunjukkan bahwa pelayanan KIA sangat mendesak untuk
ditingkatkan baik dari segi jangkauan maupun kualitas pelayanan (Manuaba, 2010).
Angka Kematian Ibu di Indonesia masih cukup tinggi bahkan tertinggi di
Association of South East Asia Nations (ASEAN) yakni 335 kematian per 100.000
kelahiran hidup. AKI di Filipina 170 kematian per 100.000 kelahiran hidup, di
Thailand 44 kematian per 100.000 kelahiran hidup, Brunai 39,0 kematian per
100.000 kelahiran hidup dan di Singapura 6 kematian per 100.000 kelahiran hidup.
Berdasarkan profil kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara bahwa pada tahun
2012 angka kematian ibu sebesar 184,7 per 100.000 kelahiran. Hal ini masih di
bawah angka kematian ibu secara Nasional (Riskesdas Sultra, 2012).
Penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan (25%), eklampsia (13%)
dan sepsis (15%), hipertensi dalam kehamilan (12%), partus macet (8%),
komplikasi abortus tidak aman (13%), dan sebab-sebab lain (8%). Penyebab tidak
langsung kematian ibu merupakan akibat dari penyakit yang sudah ada atau
penyakit yang timbul sewaktu kehamilan yang berpengaruh terhadap kehamilan

misalnya malaria, anemia, Human Immunodefisiensin Virus/Acquired Immune


Deficiency Syndrome (HIV/AIDS), dan penyakit kardiovaskuler (Sarwono, 2009).
Perdarahan merupakan penyebab kematian ibu terbanyak. Perdarahan dapat
terjadi pada setiap usia kehamilan, dan pada kehamilan muda sering dikaitkan
dengan kejadian abortus (Sarwono, 2009).
Diwilayah

Asia

Tenggara,

World

Health

Organization

(WHO)

memperkirakan 4,2 juta abortus dilakukan setiap tahunnya diantaranya 750.000


sampai 1,5 juta terjadi di Indonesia. Risiko kematian akibat abortus tidak aman di
wilayah Asia Tenggara di perkirakan antara satu sampai 250, Negara maju hanya
satu dari 3700. Angka tersebut memberikan gambaran bahwa masalah abortus di
Indonesia masih cukup tinggi (Lusa, 2012).
Abortus inkomplit (keguguran tidak lengkap) merupakan sebagian tetapi
tidak seluruhnya hasil konsepsi keluar dari uterus sebelum usia 12 minggu hasil
konsepsi cendrung tertahan (Meiliya, 2010). Penanganan yang terpenting dalam
menangani masalah abortus adalah bidan mampu mengetahui gejala-gejala dari
abortus agar dalam mendiagnosa sesuatu masalah dengan tepat dan sebaiknya dalam
hal ini bidan melakukan kolaborasi dengan dokter dan ditunjang oleh fasilitas yang
memadai.
Oleh karena itu bidan sebagai pemberi pelayanan yang berhubungan
langsung dengan ibu hamil diharapkan mempunyai dasar ilmu pengetahuan dan
keterampilan yang baik. Karena penatalaksanaan yang benar akan memberikan
kontribusi keberhasilan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan abortus inkomplit
(Sofyan, 2011).
2

Data yang diperoleh dari RSUD Abunawas Kota Kendari, jumlah ibu yang
memeriksakan kehamilannya 2680 orang dan kasus abortus 454 (16,9%) orang pada
tahun 2013, terdiri dari abortus komplit 55 (2,05%) orang, abortus inkomplit 253
(9,4%) orang, missed abortion 1 (0,03%) orang, abortus iminens 113 (4,2%) orang,
abortus provokatus 11 (0,4%) orang, abortus incipiens 21 (0,7%) orang. Masih
tingginya angkah kejadian abortus yang menyebabkan perdarahan, memberikan
motivasi pada penulis untuk melaksanakan asuhan kebidanan pada kasus abortus
inkomplit (rekam medik RSUD Abunawas Kota Kendari, 2013).
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran penalaksanaan identifikasi data dasar klien dengan kasus
abortus inkomplit di RSUD Abunawas Kota Kendari.
2. Bagaimana gambaran penalaksanaan perumusan diagnosa atau masalah aktual
pada kasus abortus inkomplit di RSUD Abunawas Kota Kendari.
3. Bagaimana gambaran penalaksanaan perumusan diagnosa aktual atau masalah
potensial pada kasus abortus inkomplit di RSUD Abunawas Kota Kendari.
4. Bagaimana gambaran penalaksanaan tindakan segera dan kolaborasi pada kasus
abortus inkomplit di RSUD Abunawas Kota Kendari.
5. Bagaimana gambaran penalaksanaan rencana tindakan asuhan kebidanan pada
kasus abortus inkomplit di RSUD Abunawas Kota Kendari.
6. Bagaimana gambaran penalaksanaan implementasi secara langsung dari
rencana tindakan asuhan kebidanan yang telah disusun pada kasus abortus
inkomplit di RSUD Abunawas Kota Kendari.
3

7. Bagaimana gambaran penalaksanaan evaluasi pada kasus abortus inkomplit di


RSUD Abunawas Kota Kendari.
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Dapat memperoleh gambaran nyata tentang pelaksanaan asuhan
kebidanan pada ibu nifas dengan abortus inkomplit di Rumah Sakit dengan
pendekatan manajemen kebidanan.
1. Tujuan Khusus
1.1 Dapat melaksanakan pengkajian pada klien dengan kasus abortus inkomplit di
RSUD Abunawas Kota Kendari.
1.2 Dapat menganalisa dan mempresentasikan data untuk menentukan diagnosa
masalah aktual pada kasus abortus inkomplit di RSUD Abunawas Kota Kendari.
1.3 Dapat mengantisipasi kemungkinan timbulnya diagnosa aktual atau masalah
potensial pada kasus abortus inkomplit di RSUD Abunawas Kota Kendari.
1.4 Dapat melaksanakan tindakan segera dan kolaborasi pada kasus abortus
inkomplit di RSUD Abunawas Kota Kendari.
1.5 Dapat melaksanakan rencanakan tindakan asuhan kebidanan pada kasus abortus
inkomplit di RSUD Abunawas Kota Kendari.
1.6 Dapat melaksanakan implementasi secara langsung dari rencana tindakan asuhan
kebidanan yang telah disusun pada kasus abortus inkomplit di RSUD Abunawas
Kota Kendari.
1.7 Dapat mengevaluasi tentang efektifitas tindakan yang telah dilakukan pada kasus
abortus inkomplit di RSUD Abunawas Kota Kendari.
4

D. Manfaat Penulisan
1. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Pendidikan Diploma III
Kebidanan Stikes Avicenna Kendari.
2. Bagi Rumah Sakit Abunawas
Hasil asuhan yang telah diberikan diharapkan dapat menjadi sumber
informasi untuk RS.
3. Bagi Penulis
Merupakan pengalaman paling berharga bagi penulis, sehingga dapat
meningkatkan pengetahuan dan menambah wawasan khususnya dalam
memberikan asuhan kebidanan pada ibu post partum dengan abortus inkomplit.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Kehamilan


1. Pengertian Kehamilan
Ada beberapa pengertian kehamilan dari berbagai sumber, diantaranya
Prawirohardjo (2009) mendefinisikan kehamilan adalah masa kehamilan dimulai
dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40
minggu atau 9 bulan 7 hari ) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Selain itu
Hanifah (2008) mendefinisikan kehamilan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari
spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi.
5

Pertumbuhan dan perkembangan janin intra uterine mulai sejak konsepsi dan
berakhir sampai permulaan persalinan. Selanjutnya Prawiroharjo (2009),
menyatakan bahwa masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin.
Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung
dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan, yaitu
triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari
bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ke-7 sampai 9 bulan.
2. Kebutuhan Nutrisi Ibu Hamil
2.1 Trimester I
Dalam masa kehamilan trimester pertama terjadi pertumbuhan dan
perkembangan pada sel telur yang telah dibuahi dan terbagi dalam 3 fase yaitu
fase ovum, fase embrio dan fase janin. Fase ovum sejak proses pembuahan
sampai proses implamasi pada dinding uterus, fase ini ditandai dengan proses
pembelahan sel yang kemudian disebut dengan zigot. Fase ovum memerlukan
waktu 10 14 hari setelah proses pembuahan.
Fase embrio ditandai dengan pembentukan organ organ utama,Fase ini
berlangsung 2 sampai 8 minggu. Fase janin berlangsung dari 8 minggu sampai
tibanya waktu kelahiran, pada fase ini tidak ada lagi pembentukan melainkan
proses pertumbuhan dan perkembangan. Pemeriksaan dokter atau bidan secara
rutin pada periode kehamilan trimester II bertujuan untuk mengetahui riwayat
kesehatan ibu yang sedang hamil, sehingga memungkinkan kehamilannya dapat
diteruskan atau tidak.

Pada umur kehamilan 1-3 bulan kemungkinan terjadi berat badan


menurun. Hal ini disebabkan adanya gangguan pusing, mual, muntah. Untuk itu
ibu dianjurkan porsi makan kecil tapi sering. Kebutuhan energi pada trimester I
meningkat secara minimal. WHO menganjurkan penambahan energi 10 Kkal
untuk trimester I (Kristiyanasari, 2010).
Menurut Fairus, Prasetyowati (2010) kebutuhan gizi ibu hamil trimester 1
diantaranya:
2.1.1

Kalori
Kalori dibutuhkan untuk perubahan dalam tubuh ibu hamil, meliputi
pembekuan sel-sel baru, pengaliran makanan dari pembuluh darah ibu ke
pembuluh darah janin melalui plasenta dan pembentukan enzim serta hormon
yang mengatur pertumbuhan janin. Selama trimester pertama, wanita hamil
perlu tambahan berat badan sebanyak 1-2 kg. Berdasarkan Angka Kecukupan
Gizi rata-rata yang dianjurkan (Widya Pangan dan Gizi VI,1998 dalam fairus,
prasetyowati 2010), ibu hamil perlu tambahan 285 Kkal setiap hari (tidak
termasuk penambahan akibat perubahan temperatur, kegiatan fisik dan
pertumbuhan) atau sama dengan 2485 kkal perhari.

2.1.2

Protein
Protein dibutuhkan untuk membangun sel-sel baru janin, termasuk sel
darah, kulit, rambut, kuku dan jaringan otot. Protein juga diperlukan plasenta
untuk membawa makanan ke janin dan juga pengaturan hormon sang ibu dan
janin. Kebutuhan wanita hamil akan protein meningkat sampai 68% dari
7

sebelum hamil. Jumlah protein yang harus tersedia sampai akhir kehamilan
diperkirakan sebanyak 925 g yang tertimbun dalam jaringan ibu, plasenta,
serta janin. Di indonesia melalui Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI
tahun1998 dalam fairus Prasetyowati (2010), menganjurkan penambahan
protein 12g/ hari selama kehamilan. Dengan demikian dalam satu hari asupan
protein dapat mencapai 75-100 g (12% dari jumlah total kalori), atau sekitar
1,3g/kg berat badan/ hari untuk gravida matur.
2.1.3

Vitamin dan mineral


Vitamin A dalam jumlah optimal diperlukan untuk pertumbuhan janin.
Vitamin A dalaam bentuk rational berkontribusi terhadap kualitas penglihatan
anak. Vitamin BI dan B2 niasin diperlukan dalam proses metabolisme tubuh.
Sedangkan vitamin B6 dan B12 berguna untuk mengatur penggunaan protein
oleh tubuh. Vitamin C penting untuk membantu penyerapan zat besi selama
hamil untuk mencegah anemia.
Untuk pembentukan tulang serta persendian janin diperlukan vitamin
D yang membantu penyerapan kalsium. Kalsium diperlukan untuk
pertumbuhan tulang dan gigi janin.
Magnesium juga perlu diperhatikan kecukupannya. Kekurangan
megnesium biasanya dialami 5-30% bumil dengan ditandai adanya keluhan
kram (nocturnal systremma). Suplementasi secara oral dari mikronutrien ini
terbukti akan mengurangi keluhan kram pada ibu yang sedang mengandung.
Vitamin E diperlukan untuk pembentukan sel-sel darah merah serta
melindungi lemak dari kerusakan. Asam folat dibutuhkan diawal masa

kehamilan. Kekurangan asam folat biasanya akan dikaitkan dengan tingginya


risiko bayi mengalami BBLR dan bayi lahir prematur.
Kadar kalsium dalam darah wanita hamil menurun sampai 5% dari
pada wanita yang tidak hamil, meskipun mekanisme terjadinya belum
sepenuhnya dipahami. Asupan kalsium yang dianjurkan kira-kira 1200
mg/hari bagi wanita hamil.
Selama hamil volume darah ibu akan meningkat 30%. Ini berarti
kebutuhan Fe atau zat besi juga meningkat. Jumlah Fe pada abortus inkomplit
300 mg dan jumlah yang diperlukan volume darah adalah 500 mg. Selama
kehamilan ibu hamil menyimpan zat besi kurang lebih 1000 mg untuk
keperluan janin, plasenta dan hemoglobin ibu sendiri. Berdasarkan widya
karya nasional pangan dan gizi tahun 1998, seorang ibu hamil perlu tambahan
zat besi rata-rata 20mg perhari. Sedangkan kebutuhan sebelum hamil atau
pada kondisi normal rata-rata 26 mg
2.2 Kehamilan Trimester II
Kehamilan trimester kedua merupakan waktu kehamilan pada minggu ke
13 sampai dengan 28 atau waktu kehamilan menginjak umur 4 bulan hingga 6
bulan. Memasuki bulan keempat, perkembangan janin akan memasuki trimester
kedua. Janin akan mulai bergerak yaitu pada bulan keempat tepatnya sekitar
mingu ketiga belas. Hal ini terjadi karena hormone pada bayi mulai aktif
sehingga mereka sudah mulai berinteraksi dengan situasi di dalam kandungan.
Berat janin mencapai 45 gram tapi akan meningkat drastic yaitu sampai
160 gram dan panjang sekitar 12 inci. Begitu pula dengan panca indera yang
lainnya seperti mata, hidung, telinga ataupun mulut. Wajah mulai terbentuk pada
9

janin. Yang paling penting, pada umur lima bulan bayi akan memiliki lapisan
putih yang melapisi tubuh serta kulitnya yang kemudian kita kenal dengan ariari.
Kebutuhan zat gizi pada trimester kedua dan ketiga perlu diperhatikan
karena terkait erat dengan perkembangan intelegensi janin. Pada usia kehamilan
15-20 minggu, otak janin mengalami pertumbuhan pesat sekali. bahkan
memasuki minggu ke 30 sampai bayi berusia18 bulan, otak mengalami fase
pertumbuhan pesat kedua. Memasuki trimester kedua dan ketiga ibu hamil
membutuhkan zat besi.
Tambahan kalori pada trimester kedua 285 kalori setiap hari dibandingkan
sebelum hamil. Konsumsi makanan yang ini setidaknya menghasilkan
pertambahan bobot sekitar 8-15 kg sampai akhir trimester ketiga. Sejak trimester
kedua ini diusahakan untuk menanbah bobot 0,5 kg setiap minggu. Di akhir
bulan kehamilan konsumsi karbohidrat (50-60% dari total kalori) diperlukan
dalam takaran yang cukup untuk persiapan tenaga ibu dalam masa persalinan.
Protein penting untuk pertumbuhan janin dan plasenta, juga untuk
memenuhi kebutuhan suplai darah merah.
2.3 Trimester III
Menurut Novaria dan Budi (2009) trimester III merupakan masa
kehamilan yang dimulai dari usia kehamilan 7 bulan atau 28 minggu sampai 9
bulan atau 40 minggu. Dalam kurun waktu tersebut terjadi beberapa
pertumbuhan janin yang meliputi :
2.3.1

Minggu ke 28 sampai 31 Minggu

10

Pada minggu ini tejadi perkembangan janin sebagai berikut janin


masih leluasa berputar di dalam rahim, berat janin mencapai 1000 gram,
janin dapat menghisap jari, kulit tipis merah yang ditutupi lemak disebut
vernik, pertumbuhan kepala mulai lambat, ukurannya sebanding ukuran
tubuh, organ dalam sudah lengkap dan panjang janin mencapai 35 cm.
2.3.2

Minggu 32 sampai 33 Minggu


Janin mulai memasuki posisi siap lahir yaitu bokong diatas dan
kepala di bawah, janin masih mempunyai cukup ruang berenang bebas
menendang dan jungkir balik dalam air ketuban, kulit janin merah dan
keriput, panjang janin 40-45 cm.

2.3.3

Minggu 34 sampai 35 Minggu


Perkembangan pada saat ini adalah tersaringnya cahaya yang akan
masuk ke dalam rongga rahim. Mata berkembang sepenuhnya dan janin
lebih banyak bergerak.

2.3.4

Minggu 36 sampai 37 Minggu


Merupakan bayi premature, menghilangnya kerutan diwajah karena
lemak menutupi wajah dan kulit di sekeliling bayi, turunnya kepala kerongga
panggul, panjang janin sekitar 46 cm, berat badan bayi mencapai 2500 gram.

2.3.5

Minggu 38 sampai 39 Minggu


Pada minggu ini kepala janin masuk dalam rongga panggul disertai
dengan berkurangnya tendangan keras janin

2.3.6

Minggu ke 40 dan seterusnya

11

Merupakan periode siap lahir, perkembangan janin telah sempurna,


kondisi siap siaga untuk persalinan karena tanggal kelahiran sudah dekat,
varniks masih ada sampai bayi lahir namun secara umum sebagian lanugo
sudah hilang, panjang bayi mencapai 48-50 cm, berat badan bayi sekitar
2750-3000 gram.
Pada saat memasuki tahap kelahiran biasanya didahului dengan rasa sakit.
Rasa sakit disebabkan karena kontraksi rahim yang membuka serviks untuk jalan
bayi, plasenta dan membranus.
Pada trimester ke tiga tubuh membutuhkan vitamin B6 dalam jumlah
banyak dibandingkan sebelum hamil. Vitamin ini dibutuhkan untuk membentuk
protein, asam amino, darah merah, saraf otak dan otototot tubuh. Bila protein
tercukupi, maka kebutuhan vitamin B6 akan tercukupi pula. Makanan yang
banyak mengandung vitamin B6 ini antara lain ikan. Selain itu konsumsi juga
bahan makanan yang mengandung omega 3 yang banyak terkandung dalam
daging ikan tuna dan almon. Omega 3 juga berperan pada perkembangan otak
dan retina janin.
Zink dibutuhkan bagi sistem imunologi (kekebalan) tubuh. Konsumsi
zing juga dapat menghindari lahirnya janin prematur dan berperan dalam
perkembangan otak janin, terutama trimester terakhir. Diduga kekurangan zink
menyebabkan bibi sumbing. Makanan yang kaya zink antara lain daging sapi dan
ikan.
Kalsium dibutuhkan pada trimester pertama hingga trimester ketiga,
karena merupakan zat gizi penting selama kehmilan. Kebutuhan zat besi
meningkat terutama pada awal trimester kedua kehamilan. Faktanya hampir 70%
12

ibu hamil di Indonesia menderita anemia. Sebab itu suplemen zat besi di
upayakan untuk diberikan selama kehamilan guna memenuhi kebutuhan zat besi.
Bila setiap ibu hamil memperhatikan serta berusaha memenuhi zat gizi yang
berguna bagi pertumbuhan janin dalma kendungannya, bayi yang kan dilahirkan
sehat.

3. Perubahan fisik ibu hamil


Adaptasi fisik yang terjadi pada kehamilan adalah sebagai berikut:
3.1 Perubahan yang terjadi pada Sistem Reproduksi
3.1.1

Uterus
Rahim yang semula besarnya sejempol atau beratnya 30 gram
mengalami hipertrofi dan hyperplasia, sehingga menjadi seberat 1.000 gram
saat kehamilan. Perubahan pada isthmus uteri menjadi lebih panjang dan
lunak, sehingga pada pemeriksaan dalam seolah-olah kedua jari dapat saling
sentuh. Perlunakan isthmus disebut tanda Hegar.

3.1.2

Serviks
Terjadi perubahan warna dan konsistensi.

3.1.3

Vagina dan vulva


Organ vagina dan vulva mengalami peningkatan sirkulasi darah karean
pengaruh esterogen, sehingga tampak makin merah dan kebiru-biruan (tanda
Chadwiks).

3.1.4

Ovarium

13

Terjadi kehamilan indung telur yang mengandung korpus luteum


gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuk plasenta yang
sempurna pada usia 16 minggu.
3.1.5

Payudara
Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai
persiapan memberikan ASI pada saat laktasi. Perkembangan payudara
dipengaruhi oleh hormone esterogen, progesterone, somatomammotropin.
Pembentukan payudara akan terasa lebih lembut, kenyal dan berisi, serta jalurjalur pembuluh darah di sekitar wilayah dada akan lebih terlihat jelas dari
biasanya, hal ini untuk persiapan saat menyusui. Berikut ini fungsi-fungsi
hormone pada payudara:

3.2 Hormon Esterogen


3.2.1

Menimbulkan hipertrofi sistem saluran payudara.

3.2.2

Menimbulkan pertumbuhan lemak dan air serta garam, sehingga payudara


tampak makin besar.

3.3 Hormone Progesteron


3.3.1

Mempersiapkan asinus sehingga dapat berfungsi.

3.3.2

Menambah jumlah sel asinus.

3.4 Hormon Somatomammotropin


3.4.1

Mempengaruhi sel asinus untuk membuat kasein, laktabumin, dan


laktoglobulin.

3.4.2

Penimbunan lemak sekitar alveolus payudara.

3.5 Perubahan Sistem Sirkulasi


14

Peredaran darah ibu dipengaruhi beberapa faktor berikut ini.


3.5.1

Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah, sehingga dapat memenuhi


kebutuhan perkembangan janin dalam rahim.

3.5.2

Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi


retroplasenter.

3.5.3

Pengaruh hormone esterogen dan progesterone.


Akibat dari faktor tersebut dijumpai beberapa perubahan peredaran

darah, antara lain sebagai berikut.


3.6 Volume darah
Volume darah semakin meningkat, dimana jumlah serum darah lebih
besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi semacam pengenceran darah
(hemodilusi) dengan puncaknya pada usia kehamilan 32 minggu. Curah jantung
akan bertambah sekitar 30% bertambahnya hemodilusi darah mulai tampak
sekitar umjur kehamilan 16 minggu. Oleh karena itu, pengidap penyakit jantung
harus berhati-hati untuk hamil beberapa kali.
3.6.1

Sel darah
Sel darah merah meningkat jumlahnya untuk mengimbangi
pertumbuhan janin dalam rahim. Anemia atau kurang darah terjadi karena
kebutuhan darah pada saat kehamilan adalah lebih besar sekitar dua atau tiga
kali lipat dari biasanya.

3.7 Perubahan Sistem Respirasi


Selama periode kehamilan, sistem respirasi berubah, hal ini terjadi
karena kebutuhan O2 semakin meningkat. Disamping itu terjadi pula desakan
15

diafragma karena dorongan rahim. Ibu hamil bernapas lebih dalam sekitar 2025% dari biasanya. Ibu hamil dapat merasa lelah karena kerja jantung dan paruparu menjadi lebih berat.

3.8 Perubahan Sistem Pencernaan


Kebutuhan nutrisi pada ibu hamil makin tinggi untuk pertumbuhan janin
dan persiapan pemberian ASI. Perubahan metabolisme pada kehamilan antara
lain:
3.8.1

Keseimbangan asam basa mengalami penurunan dari 155 mEq/liter menjadi


145 mEq/liter karena hemodilusi darah dan kebutuhan mineral yang
diperlukan janin.

3.8.2

Kebutuhan protein meningkat untuk pertumbuhan dan perkembangan janin,


perkembangan organ kehamilan, serta persiapan laktasi.

3.8.3

Kebutuhan kalori bisa didapatkan dari karbohidrat, lemak, dan protein.

3.8.4

Kebutuhan zat mineral (kalsium, fosfor, zat besi, dan air).

3.8.5

Berat badan ibu hamil bertambah.

3.9 Perubahan Integrumen


3.9.1

Perubahan

deposit

pigmen

dan

hiperpigmentasi

karena

pengaruh

melanophore stimulating hormone (MHS), pengaruh lobus hipofisis anterior,


dan pengaruh kelenjar suprsrenalis.

16

3.9.2

Perubahan kondidi kulit yang berubah terbalik dari keadaan semula, yang
biasanya (pada saat belum hamil) kulit kering, maka kini akan menjadi
berminyak, begitu pula sebaliknya.

3.9.3

Rambut menjadi lebih kering atau berminyak karena adanya perubahan


hormon.

B. Tinjauan Tentang Perdarahan Pada Kehamilan Muda


1. Pengertian
Perdarahan pada kehamilan muda adalah perdarahan pervaginam pada
kehamilan kurang dari 22 minggu (Maryunani, 2009).
Dikenal beberapa batasan tentang peristiwa yang ditandai dengan
perdarahan pada kehamilan muda.
1.1 Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik adalah implantasi dan pertumbuhan hasil konsepsi
diluar endometrium kavum uteri (Sujiyatini, 2009).
1.1.1

Gejala kehamilan ektopik :

1.1.1.1 Amenorhe : lamanya amenore bervariasi dari bebebrapa hari sampai


beberapa bulan.
1.1.1.2 Terjadi nyeri abdomen : nyeri abdomen disebabkan kehamilan tuba yang
pecah. Rasa nyeri dapat menjalar keseluruh abdomen tergantung dari
perdarahan didalamnya.

17

1.1.1.3 Perdarahan : terjadi abortus atau ruptur kehamilan tuba terdapat perdarahan
kedalam cavum abdomen dalam jumlah yang bervariasi yang menyebebkan
nadi meningkat, tekanan darah menurun, sampai jatuh kedalam keadaan
syok (Maryunani, 2009).
1.1.2

Penanganan Kehamilan Ektopik


Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparatomi.
Pada laparatomi perdarahan selekas mungkin dihentikan dengan menjepit
bagian dari adneksa yang menjadi sumber perdarahan.

1.1.2.1 Keadaan umum penderita terus di perbaiki dan darah dalam rongga perut
sebanyak mungkin dikeluarkan.
1.1.2.2 Dilakukan pemantauan kadar Human Chorionic Gonadotropin (HCG) yang
berlangsung terus menerus menandakan masih adanya jaringan ektopik yang
belum terangkat.
1.1.2.3 Dapat pula dengan transfusi darah, infus, oksigen, atau kalau dicurigai ada
infeksi diberikan juga antibiotik dan anti inflamasi dan harus dirawat inap di
rumah sakit (Sujiyatini, 2009)
1.2 Mola Hidatidosa
Kehamilan mola merupakan suatu tumor plasenta yang terjadi saat
perkembangan embrionik berasal dari sel trofoblas yang berkembang dalam
plasenta (Geri Morgan, 2009).
1.2.1

Gambaran klinis
Gambaran klinis yang biasa timbul pada kehamilan molahidatidosa

1.2.1.1 Amenore dan tanda-tanda kehamilan


18

1.2.1.2 Perdarahan pervaginam berulang


1.2.1.3 Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan
1.2.1.4 Tidak teraba bagian janin dan tidak terdengarnya Denyut Jantung Janin (DJJ)
1.2.1.5 Preeklamsi dan eklampsia yang terjadi sebelum usia kehamilan 24 minggu.

1.2.2

Penanganan

1.2.2.1 Perbaiki keadaan umum pada pasien mola hidatidosa : koreksi dehidrasi,
transfusi darah bila ada anemia dan bila ada gejala pre eklamsi dan
hiperemesis gravidarum.
1.2.2.2 Kuretase
a. Histerektomi dengan syarat umur ibu 35 tahun atau lebih dan sudah
memiliki anak hidup 3 orang atau lebih
b. Pemeriksaan tindakan lanjut meliputi : lama pengawasan 1-2 tahun,
pasien dianjurkan memakai alat kontrasepsi, pemeriksaan Human
Chorionic Gonadotropin (HCG), setelah 1 tahun kadar HCG normal
maka pasien tersebut dapat menghentikan kontrasepsidan dapat hamil
kembali, dan bila kadar HCG tetap atau miningkat maka pesien harus
dievaluasi dan dimulai pemberian kemoterapi (Sajiyatini, 2009).
1.3 Abortus
Keguguran atau abortus adalah dikeluarkannya hasil konsepsi sebelum
mampu hidup diluar kandungan dengan berat badan kurang dari 1000 gram
19

atau kehamilan kurang dari 28 minggu. Berdasarkan kejadiannya abortus bagi


dibagi menjadi dua yaitu:
1.3.1

Abortus spontan terjadi tanpa ada unsur tindakan dari luar dan dengan
kekuatan sendiri

1.3.2

Abortus buatan sengaja dilakukan sehingga kehamilan dapat diakhiri. Upaya


menghilangkan hasil konsepsi dapat dilakukan berdasarkan:

1.3.2.1 Indikasi medis menghilangkan kehamilan atas indikasi ibu, untuk dapat
menyelamatkan jiwanya. Indikasi medis tersebut diantaranya, penyakit
jantung, ginjal atau hati yang berat, ganguan jiwa ibu, dijumpai kelainan
bawaan berat dengan pemeriksaan ultrasonografi, gangguan pertumbuhan
dan perkembangan dalam rahim.
1.3.2.2 Indikasi sosial pengguran kandungan dilakukan atas dasar aspek sosil
menginginkan jenis kelamin tertentu, tidak ingin punya anak, jarak
kehamilan terlalu pendek, belum siap untuk hamil, kehamilan yang tidak
diinginkan (Manuaba, 2010).
C. Tinjauan Tentang Abortus Inkomplit
1. Pengertian
Abortus adalah kegagalan kehamilan sebelum umur 28 minggu atau berat
janin kurang dari 1000 gram (Manuaba, 2010).
Abortus adalah keluarnya hasil konsepsi sebelum mampu hidup diluar
kandungan dengan berat kurang dari 1000 gram atau usia kehamilan kurang
dari 28 minggu (Chandranita, 2010). Sedangkan menurut Sajiyatini, (2009)

20

bahwa Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi yang usia kehamilanya kurang
dari 20 minggu (Syafrudin, 2009).
Menurut Wong & Ferry, abortus adalah terminasi dari kehamilan sebelum
viabilitas fetus tercapai (20-40 minggu) dengan berat fetus 500 gram (Maryunani,
2009).
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum bapat
hidup diluar kandungan (Sarwono, 2009).
Abortus inkomplit adalah perdarahan pada kehamilan muda dimana
sebagaian dari hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri melalui kanalis
servikal yang tertinggal pada desidua atau plasenta (Yeyeh, 2010).
Berdasarkan pengertian diatas maka kesimpulan yang dapat ditarik bahwa
abortus adalah keluarnya hasil konsepsi dari dalam rahim sebelum kehamilan
mencapai 20 minggu dan berat kurang dari 500 gram.
2. Klasifikasi Abortus
2.1 Abortus Spontan
Abortus spontan yang terjadi dengan tidak diketahui faktor-faktor
mekanis ataupun medisinalis, semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor
alamiah atau terjadi tanpa unsur tindakan diluar dan dengan kekuatan sendiri.
Dimana abortus spontan dapat dibagi atas:

21

2.1.1

Abortus kompletus (keguguran lengkap) adalah pengeluaran semua hasil


konsepsi dengan umur kehamilan > 20 minggu kehamilan lengkap (Martin,
2009).

2.1.2

Abortus insipiens adalah perdarahan intra uterin sebelum kehamilan lengkap


20 minggu dengan dilatasi serviks berlanjut tetapi tanpa pengeluaran hasil
konsepsi atau terjadi pengeluaran sebagian atau seluruhnya (Martin, 2009).

2.1.3

Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian tetapi tidak semua hasil


konsepsi pada umur > 20 minggu kehamilan lengkap (Martin, 2009).

2.1.4

Abortus imminens adalah perdarahan intrauteri pada umur < 20 minggu


kehamilan lengkap dengan atau tanpa kontraksi uterus, tanpa dilatasi serviks
dan tanpa pengeluaran hasil konsepsi. Hasil kehamilan yang belum viabel
berada dalam bahaya tetapi kehamilannya terus berlanjut (Martin, 2009).

2.1.5

Missed abortion (keguguran tertunda) adalah kematian embrio atau janin


berumur < 20 minggu kehamilan lengkap tetapi hasil konsepsi tertahan
dalam rahim selama 8 minggu (Martin, 2009).

2.1.6

Abortus habitualis adalah kehilangan 3 atau lebih hasil kehamilan secara


spontan yang belum viabel secara berturut-turut (Martin, 2009).

2.1.7

Abortus infeksiosus adalah abortus yang disertai infeksi genetalia interna


sedangkan abortus sepsis adalah abortus terinfeksi dengan penyebaran
bakteri melalui sirkulasi ibu ( Martin, 2009).

2.2 Abortus Provocatus

22

Abortus provocatus adalah tindakan abortus yang disengaja dilakukan


untuk menghilangkan kehamilan sebelum umur 28 minggu atau berat janin 500
gram, abortus ini dibagi lagi menjadi sebagai berikut:
2.2.1

Abortus medisinalis adalah abortus yang dilakukan atas dasar indikasi vital
ibu hamil jika diteruskan kehamilannya akan lebih membahayakan jiwa
sehingga terpaksa dilakukan abortus buatan. Tindakan itu harus disetujui
oleh paling sedikit tiga orang dokter (Manuaba, 2010).

2.2.2

Abortus kriminalis adalah abortus yang dilakukan pada kehamilan yang


tidak diinginkan, diantaranya akibat perbuatan yang tidak bertanggung
jawab, sebagian besar dilakukan oleh tenaga yang tidak terlatih sehingga
menimbulkan komplikasi (Manuaba, 2010).

3. Etiologi Abortus
Penyebab keguguran sebagian besar tidak diketahui secara pasti, tetapi
terdapat beberapa faktor sebagai berikut:
3.1 Kelainan Pertumbuhan Hasil Konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin
dan cacat bawaan yang menyebabkan hasil konsepsi dikeluarkan. Gangguan
pertumbuhan hasil konsepsi dapat terjadi karena :
3.1.1

Faktor kromosom, gangguan terjadi sejak semula pertemuan kromosom,


termasuk kromosom seks.

3.1.2

Faktor lingkungan endometrium

3.1.2.1 Endometrium

yang

belum

siap

konsepsi.
23

untuk

menerima

implantasi

hasil

3.1.2.2 Gizi ibu kurang karena anemia atau jarak kehamilan terlalu pendek
3.2 Pengaruh luar
3.2.1

Infeksi endometrium, endometrium tidak siap menerima hasil konsepsi

3.2.2

Hasil konsepsi terpengaruh oleh obat dan radiasi menyebabkan pertumbuhan


hasil konsepsi terganggu.

3.3 Kelainan Pada Plasenta


3.3.1

Infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab, sehingga plasenta tidak dapat
berfungsi.

3.3.2

Gangguan pada pembuluh darah plasenta yang diantaranya pada penderita


diabetes mellitus

3.3.3

Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah plasenta sehingga


menimbulkan keguguran.

3.4 Penyakit Ibu


Penyakit mendadak seperti pneumonia, tifus abdominalis, malaria, sifilis,
anemia dan penyakit menahun ibu seperti hipertensi, penyakit ginjal, penyakit
hati dan penyakit diabetes mellitus.
3.5 Kelainan yang terdapat dalam rahim.
Rahim merupakan tempat tumbuh kembangnya janin dijumpai keadaan
abnormal dalam bentuk mioma uteri, uterus arkuatus, uterus septus, retro fleksia
uteri, serviks inkompeten, bekas operasi pada serviks (kolonisasi, amputasi
serviks), robekan serviks postpartum (Manuaba, 2010).
4. Tanda dan Gejala Abortus Inkomplit

24

Abortus inkomplit ditandai dengan dikeluarkannya sebagian hasil


konsepsi dari uterus, sehingga sisanya memberikan gejala klinis sebagai berikut:
4.1.1

Perdarahan memanjang, sampai terjadi keadaan anemis

4.1.2

Perdarahan mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat

4.1.3

Terjadi infeksi dengan ditandai suhu tinggi

4.1.4

Dapat terjadi degenerasi ganas/koriokarsinoma (Manuaba, 2010).

Gejala lain dari abortus inkomplit antara lain:


2.4.1

Perdarahan biasa sedikit/banyak dan biasa terdapat bekuan darah .

2.4.2

Rasa mules (kontraksi) tambah hebat.

2.4.3

Ostium uteri eksternum atau serviks terbuka.

2.4.4

Pada pemeriksaan vaginal, jaringan dapat diraba dalam cavum uteri atau
kadang-kadang sudah

menonjol dari eksternum atau sebagian

jaringan

keluar.
2.4.5

Perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa janin dikeluarkan dapat


menyebabkan syok (Maryunani, 2009).

5. Komplikasi Abortus
Komplikasi yang berbahaya pada abortus ialah perdarahan, perforasi,
infeksi dan syok.
5.1 Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil
konsepsi dan jika perlu pemberian transfuse darah. Kematian karena perdarahan
dapat terjadi apabila petolongan tidak diberikan pada waktunya.
5.2 Perforasi
25

Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus


dalam posisi hiperrentrofleksi.
5.3 Infeksi
Infeksi dalam uterus dan adneksa dapat terjadi dalam setiap abortus tetapi
biasanya didapatkan pada abortus inkomplit yang berkaitan erat dengan suatu
abortus yang tidak aman.
5.4 Syok
Syok pada abortus bias terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan
karena infeksi berat (Sujiyatini, 2009).
6. Diagnosa Abortus
Diagnosa abortus diperlukan beberapa kriteria sebagai berikut:
6.1 Terdapat keterlambatan datang bulan
6.2 Terjadi perdarahan
6.3 Disertai sakit perut
6.4 Dapat diikuti oleh pengeluaran hasil konsepsi
6.5 Pemeriksaan hasil tes hamil dapat masih positif atau sudah negatif
Hasil pemeriksaan fisik terhadap penderita bervariasi:
6.5.1

Pemeriksaan fisik bervariasi tergantung jumlah perdarahan.

6.5.2

Pemeriksaan fundus uteri

6.5.2.1 Tinggi dan besarnya tetap dan sesuai umur kehamilan


6.5.2.2 Tinggi dan besarnya sudah mengecil
6.5.2.3 Fundus uteri tidak teraba diatas sympisis
6.5.3

Pemeriksaan dalam
26

6.5.3.1 Serviks uteri masih tertutup


6.5.3.2 Serviks sudah terbuka dan dapat teraba ketubandan hasil konsepsi dalam
kavum uteri pada kanalis servikalis
6.5.3.3 Besarnya rahim (uterus) telah mengecil
6.5.3.4 Konsistensinya lunak (Sujiyatini, 2009).
6.5.3.5 Pikirkan kemungkinan kehamilan ektopik pada wanita anemia, penyakit
radang

panggul, gejala abortus atau

keluhan

nyeri

tidak biasanya

(Saifuddin, 2010).

7. Patofisiologi Abortus
Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis, diikuti
nekrosis jaringan yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda
asing dalam uterus. Sehingga menyebabkan uterus berkontraksi untuk
mengeluarkan benda asing tersebut.
Apabila pada kehamilan kurang dari 8 minggu, nilai khorialis belum
menembus desidua serta mendalam sehingga hasil konsepsi dapat keluar
seluruhnya. Apabila kehamilan 8-14 minggu villi khoriasli sudah menembus
terlalu dalam hingga plasenta tidak dapat dilepaskan sempurna dan menimbulkan
banyak perdarahan dari pada plasenta.
Apabila mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu singkat,
maka dia dapat diliputi oleh lapisan bekuan darah. Pada janin yang telah
meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses modifikasi janin mengering

27

dan karena cairan amion menjadi kurang oleh sebab diserap. Ia menjadi agak
gepeng. Dalam tingkat lebih lanjut ia menjadi tipis.
Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak lekas dikeluarkan ialah
terjadinya maserasi, kulit terkelupas, tengkorak menjadi lembek, perut membesar
karena terasa cairan dan seluruh janin bewarna kemerah-merahan (Yeyeh, 2010).
8. Gambaran Klinis dan Penanganan Abortus Inkomplit
8.1 Gambaran klinis abortus inkomplit
Pada pemeriksaan dapat dijumpai gambaran sebagai berikut:
8.1.1

Kanalis servikalis terbuka

8.1.2

Dapat diraba jaringan dalam rahim atau kanalis servikalis

8.1.3

Dengan pemeriksaan inspekulum perdarahan bertambah

8.1.4

Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu

8.1.5

Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun,


tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan
kecil, suhu badan normal atau meningkat

8.1.6

Rasa mulas atau kram perut, didaerah atas simfisis, sering nyeri pingang
akibat kontraksi uterus (Hanafa, 2010).

8.2 Penanganan Umum abortus


8.2.1

Lakukan penilaian secara cepat mengenai keadaan umum pasien, termasuk


tanda-tanda vital

8.2.2

Periksa tanda-tanda syok (pucat, berkeringat banyak, pingsan, tekanan


sistolik kurang 90 mmHg, nadi lebih 112 kali per menit).

28

8.2.3

Jika dicurigai terjadi syok, segera lakukan penanganan syok. Jika tidak
terlihat tanda-tanda syok, tetap pikirkan kemungkinan tersebut saat penolong
melakukan evaluasi mengenai kondisi wanita karena kondisinya dapat
memburuk dengan cepat. Jika terjadi syok, sangat penting untuk memulai
penanganan syok dengan segera.

8.2.4

Jika pasien dalam keadaan syok, pikirkaan kemungkinan kehamilan ektopik


terganggu.

8.2.5

Pasang infus dengan jarum infus nomor 16 atau 18, berikan larutan garam
fisiologik atau ringer laktat dengan tetesan cepat 500 cc dalam 2 jam
pertama (Syaifuddin, 2010).

8.3 Penanganan Abortus Inkomplit


8.3.1

Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan < 16
minggu, evakuasi sisa hasil konsepsi dengan:

8.3.1.1 Aspirasi Vacum Manual merupakan metode evakuasi yang terpilih. Evakuasi
dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika AVM tidak tersedia.
8.3.1.2 Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera, beri ergometrium 0,2 mg im
(diulangi setelah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral
(dapat diulangi setelah 4 jam jika perlu).
8.3.1.3 Jika kehamilan > 16 mingguan)
a. Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan IV (garam fisiologis
arau RL) dengan kecepatan 40 tetes / menit sampai terjadi ekspulsi
konsepsi.
29

b. Jika perlu berikan misoprostol 200 mg pervaginam setiap 4 jam sampai


terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 80 mg)
c. Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus
d. Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan
(Syaifuddin, 2010).
8.3.2

Terapi abortus dengan kuretase


Prosedur kerja kuretase adalah suatu rangkaian proses pelepasan
jaringan yang melekat pada dinding cavum uteri dengan melakukan invasi
dan memanipulasi instrument (sendok kuret). Sendok kuret akan melepas
jaringan tersebut dengan tehnik pengerokan secara sistematis (Syaifuddin,
2010).

8.3.2.1 Prosedur kerja kuretase terdiri atas :


a. Persetujuan tindakan medik (informat counsent)
b. Persiapan pasien :
1) Pasien dibaringkan dengan posisi litotomi
2) Cairan dan slang infus sudah terpasang, perut bagian bawah dan
lipatan paha sudah dibersihkan dengan air dan sabun.
3) Uji fungsi kelengkapan peralatan resusitasi kardiopulmuner
4) Siapkan kain alas bokong, sarung kaki dan penutup perut bawah
5) Medikamentosa :
a) Analgetika (pethidin 1-2 mg/kg BB, ketamin HCL 0,5 mg/kg
BB, tramadol 1-2 mg/kg BB).
b) Sedativa (diazepam 10 mg)
30

c) Atropiny sulfas 0,25 0,50 mg/ml


d) Oksitoksin 1 amp dan ergometrin 1 amp
6) Larutan bethadine
7) Oksigen dengan regulator
8) Instrument :
a) Speculum sims 2 buah
b) Cunam tampong 1 buah
c) Cunam peluru atau tenakulum 1 buah
d) Sonde uterus 1 buah
e) Dilatator 1 set
f) Kuret tajam 1 buah dan kuret tumpul 1 buah
g) Klem ovum (penster) 1 buah lurus dan lengkung 1 buah
h) Sendok kuret 1 set
i) Kateter karet 1 buah
j) Spoit 3 cc sekali pakai 2 buah
k) Kain kasa dan kapas steril
l) Doek steril 2 buah
m) Mangkok logam 2 buah
n) Ember penampung darah dan jaringan 1 buah
o) Ember yang berisikan larutan klorin 0,5 %
p) Lampu sorot 1 buah
c. Penolong (operator dan asisten)
1) Baju kamar tindakan, apron, masker dan kacamata pelindung.
31

2) Sarung tangan DTT/steril 2 pasang


3) Alas kaki (sepatu/bot karet) 2 pasang
8.3.2.2 Tindakan :
a. Instruksikan asisten untuk memberikan sedatif dan analgetik (dokter
Obgyn)
b. Lakukan kateterisasi kandung kemih
c. Lakukan pemeriksaan bimanual ulangan untuk menentukan serviks,
besar, arah dan konsistensi uterus.
d. Bersihkan lakukan dekontaminasi sarung tangan dengan larutan klorin
0,5 %.
e. Pakai sarung tagan DTT / steril yang baru
f. Satu tangan masukkan speculum sims / L secara vertikal kedalam
vagina setelah itu putar kebawah sehingga posisi bilah menjadi
transversal.
g. Minta asisten untuk menahan spekulum bawah pada posisinya.
h. Dengan sedikit menarik spekulum bawah hingga (lumen vagina tampak
jelas) masukkan bilah speculum secara vertikal kemudian putar dan tarik
keatas hingga jelas terlihat serviks.
i. Minta asisten untuk memegang spekulum atas pada posisinya.
j. Bersihkan jaringan dan darah dalam vagina (dengan kapas antiseptik
yang dijepit dengan cunam tampon). Tentukan bagian serviks yang akan
dijepit (jam 11.00 dan 13.00).
k. Jepit serviks dengan tenakulum pada tempat yang telah ditentukan.
32

l. Setelah penjepitan terpasang dengan baik, keluarkan spekulum atas.


m. Lakukan pemeriksaan kedalaman dan lengkung uterus dengan sonde
uterus. Pegang gagang tenakulum, masukkan klem ovum yang sesuai
dengan pembukaan serviks hingga mengentuh fundus.
n. Pegang gagang sendok kuret dengan ibu jari dan telunjuk, masukkan
ujung sendok kuret melalui kanalis servikalis kedalam uterus hingga
menyentuh fundus uteri.
o. Lakukan kerokan dinding uterus secara sistematis dan searah jarum jam
hingga bersih.
p. Keluarkan semua jaringan dan bersihkan darah yang menggenangi
lumen vagina bagian belakang.
q. Lepaskan jepitan tenakulum pada serviks.
r. Lepaskan spekulum bagian bawah.
s. Kumpulkan jaringan untuk dikirim ke laboratorium patologi
t. Beritahukan kepada pasien dan keluarganya bahwa tindakan telah
selesai dilakukan.
8.3.2.3 Pasca tindakan :
a. Periksa kembali tanda-tanda vital pasien segera lakukan tindikan apabila
terjadi kelainan/ komplikasi
b. Catat kondisi pasien dan buat laporan tindakan (dokter) didalam kolom
yang tersedia.
c. Lanjutkan pengobatan dan pemantapan kondisi pasien.
D. Tinjauan Tentang Manajemen Asuhan Kebidanan
33

1. Pengertian manajemen asuhan kebidanan


Manajemen kebidanan adalah suatu metode pendekatan pemecahan
masalah yang digunakan oleh bidan dalam pemberian asuhan kebidanan.
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan oleh
bidan serta merupakan metode yang terorganisasi melalui tindakan yang logical
dalam pemberian pelayanan.
Manajemen kebidanan adalah alat yang mendasari seorang bidan untuk
memecahkan masalah klien dalam berbagai situasi dan kondisi yaitu dengan
teknik antara lain observasi, wawancara, anamnesa dan pemeriksaan
Asuhan kebidanan adalah penetapan dan fungsi kegiatan yang menjadi
tanggung jawab bidan dalam memberikan pelayanan klien yang mempunyai
kebutuhan atas masalah dalam bidang kesehatan masa ibu hamil, masa ibu
bersalin dan masa nifas.
2. Tahapan manajemen kebidanan
Proses manajemen adalah suatu proses pemecahan masalah dimulai
dalam bidang keperawatan kebidanan pada awal tahun 1970-an. Hal ini
Merupakan suatu metode pengorganisasian rangkaian pemikiran dan tindakan
dalam ukuran logis bagi kedua pihak yaitu pasien dan pelaksana pelayanan
kesehatan. Proses ini menggambarkan ketentuan atau syarat-syarat prilaku yang
diharapkan dan si pemberi jasa pelayanan klinik.
Hal

tersebut

di

atas

menyatakan

dengan

jelas

tidak

hanya

menyangkut proses pikir dan bertindak akan tetapi juga tingkat perilaku yang

34

diharapkan untuk dicapai dan setiap langkah dalam penemuan dan pengambilan
keputusan demi menyediakan pelayanan kebidanan yang aman dan menyeluruh.
3. Metode 7 Langkah asuhan kebidanan
Proses manajemen terdiri dari 7 rangkaian (langkah) yang pada waktuwaktu tertentu dapat diperhalus/diperbaharui. Hal ini dimulai dengan
pengumpulan data dasar dan diakhiri dengan evaluasi. Ke 7 langkah terdiri dari
keseluruhan kerangka kerja yang dapat dipakai dalam segala situasi. Setiap
langkah bagaimanapun juga dapat sebagai batas tugas dan kewajiban, dan ini
sangat bervariasi dengan bagaimana kondisi klien saat itu.
Hal hal yang perlu dari setiap proses manajemen :

3.1 Langkah I : Identifikasi data dasar


Adapun pengumpulan data yang komplit untuk menilai klien. Data ini
termasuk riwayat, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan panggul atas indikasi
review dari keadaan sekarang dan catatan RS terdahulu, review dan data
laboratorium serta laporan singkat dan keterangan tambahan. Semua informasi
saling terkait dan semua sumber adalah berhubungan dengan kondisi klien.
Bidan mengumpulkan data dasar secara komplit walaupun pasien
mengalami komplikasi yang membutuhkan penyampaian kepada dokter
untuk konsultasi atau kolaborasi. Pada saat seperti ini langkah I mungkin overlap
dengan langkah V atau VI (atau merupakan bagian dari rangkaian yang

35

berkelanjutan)

sesuai

data

yang

dikumpulkan

dari

hasil

pemeriksaan

laboratorium dan hasil pemeriksaan diagnostic lain.


Dalam mengumpulkan data subjektif dan data objektif yang perlu dikaji
yaitu:
3.1.1

Data Subjektif

3.1.1.1 Identitas ibu dan suami yang perlu dikaji adalah nama, umur, agama,
suku/bangsa,

pendidikan,

pekerjaan

dan

alamat.

Bertujuan

untuk

menetapkan identitas pasien karena mungkin memiliki nama yang sama


dengan alamat dan nomor telepon yang berbeda serta untuk mengetahui
faktor resiko yang mungkin terjadi.
3.1.1.2 Keluhan utama, merupakan alasan utama klien untuk datang ke pelayanan
kesehatan. Kemungkinan yang ditemui pada kasus abortus inkomplit ini
adalah ibu mengeluhkan bahwa keluar darah yang banyak dari kemaluannya,
darah bergumpal dan berwarna merah segar yang disertai nyeri hebat pada
perut bagian bawah.
3.1.1.3 Riwayat menstruasi yang dikaji adalah menarche, siklus haid, lamanya,
banyaknya dan adanya dismenorrhoe saat haid yang bertujuan untuk
membantu menegakkan diagnosis apakah ibu benar-benar hamil.
3.1.1.4 Riwayat kehamilan sekarang yang dikaji yaitu Hari Pertama Haid Terakhir
untuk mengetahui, taksiran persalinan dan resiko yang akan terjadi dari
adanya riwayat pada kehamilan.
3.1.1.5 Riwayat penyakit dahulu yang dikaji adalah apakah ibu ada mengalami
keguguran sebelumnya, menderita penyakit jantung, Diabetes Mellitus,
36

hipertensi, ginjal, asma, TBC, epilepsi dan Penyakit Menular Seksual serta
ada tidaknya ibu alergi baik terhadap obat-obatan, makanan dan riwayat
operasi.
3.1.1.6 Riwayat penyakit keluarga yaitu ada tidaknya keluarga ibu maupun suami
yang menderita penyakit jantung, Diabetes Mellitus, hipertensi, ginjal, dan
asma.
3.1.1.7 Riwayat perkawinan yang dikaji yaitu umur berapa ibu kawin dan lamanya
ibu baru hamil setelah kawin, yang bertujuan untuk mengetahui apakah ibu
memiliki faktor resiko.
3.1.2

Data Objektif

3.1.2.1 Pemeriksaan umum


Secara umum ditemukan gambaran kesadaran umum, dimana
kesadaran pasien sangat penting dinilai dengan melakukan anamnesa. Selain
itu pasien sadar akan menunjukkan tidak adanya kelainan psikologis dan
kesadaran umum baik.
3.1.2.2 Pemeriksaan khusus
a. Inspeksi
Periksa pandang yang terpenting adalah mata (konjungtiva dan
sklera) untuk menentukan apakah ibu anemia atau tidak, muka (edema),
leher apakah terdapat pembesaran kelenjar baik kelenjar tiroid maupun
limfe sedangkan untuk dada bagaimana keadaan putting susu, ada
tidaknya teraba massa atau tumor, tanda-tanda kehamilan (cloasma
gravidarum, aerola mamae, calostrum), serta dilihat pembesaran perut
37

yang sesuai dengan usia kehamilan, luka bekas operasi, dan inspeksi
genitalia bagian luar serta pengeluaran darah pervaginam dan
ekstremitas atas maupun bawah serta HIS.
b. Perkusi
Pemeriksaan reflek patella kiri dan kanan yang berkaitan dengan
kekurangan vitamin B atau penyakit saraf, intoksikasi magnesium sulfat.
3.1.2.3 Pemeriksaan Dalam
Pada pemeriksaan dalam (VT) untuk abortus yang baru terjadi
didapati serviks terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa- sisa jaringan
dalam kanalis servikalis atau kavum uteri, serta uterus yang berukuran lebih
kecil dari seharusnya.

3.1.2.4 Pemeriksaan Penunjang


a. Darah yaitu kadar Haemoglobin, dimana Hb normal pada ibu hamil
adalah 11 gr, leukosit, trombosit, CT, BT.
b. Urine yaitu pemeriksaan plano test menggunakan urine untuk
mengetahui apakah terjadi kehamilan atau tidak.
c. Ultrasonografi
Untuk mengetahui apakah masih terdapat jaringan dalam rahim.
d. Dalam hal ini untuk pengumpulan data pada kasus abortus inkomplit
yaitu melihat adanya perdarahan memanjang, perdarahan mendadak
banyak, terjadi infeksi, dapat terjadi degenerasi ganas (koriokarsinoma),
38

terjadi amenorea, sakit perut, mulas-mulas, keluarnya fetus atau


jaringan, dan pemariksaan penunjang.
3.2 Langkah II : Merumuskan diagnosa / Masalah aktual
Langkah ini dikembangkan dari interpretasi data ke dalam identifikasi yang
spesifik mengenai masalah atau diagnosa. Kata masalah atau diagnosa digunakan
keduanya. Betapa masalah tidak dapat didefinisikan sebagai suatu diagnosa, akan
tetapi membutuhkan suatu pertimbangan dalam pengembangan suatu rencana
yang komprehensif untuk pasien.
Masalah lebih sering berhubungan dengan apa yang dialami oleh pasien
dan diagnosa yang telah ditetapkan dan lebih sering diidentifikasi oleh bidan
dengan berfokus pada apa yang dikemukakan oleh klien secara individual.
Di dalam interprestasi data, terdapat tiga komponen penting di dalamnya
yaitu:
3.2.1

Diagnosa
Diagnosa setiap kala persalinan berbeda dan diagnosa ditetapkan
bertujuan untuk mengetahui apakah ada penyimpangan. Untuk abortus
inkomplit diagnosa tergantung pada jumlah perdarahan, tinggi fundus uteri,
pemeriksaan dalam dan kemungkinan kehamilan ektopik.

3.2.2

Masalah
Dapat berupa keluhan utama atau keadaan psikologis ibu, keadaan
janin yang memburuk karena sudah keluarnya sebagian sisa jaringan.

3.2.3

Kebutuhan
Di sesuaikan dengan adanya masalah, seperti :
39

3.2.3.1 Berikan informasi dan konseling untuk mengatasi kecemasan ibu.


3.2.3.2 Berikan ibu dukungan psikologis.
3.2.3.3 Kolaborasi dengan dokter untuk tindakan kuretase.
Dalam hal ini untuk pengumpulan data pada kasus abortus inkomplit
yaitu terdapat keterlambatan datang bulan, terjadi perdarahan disertai sakit
perut diikuti oleh pengeluaran hasil konsepsi, pemeriksaan hasil tes hamil
dapat masih positif atau sudah negatif. pemeriksaan fisik antara lain
pemeriksaan fundus uteri, pemeriksaan dalam.
3.3 Langkah III : Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial
Identifikasi adanya diagnosa atau masalah potensial lain dan diagnosa atau
masalah saat sekarang adalah merupakan urusan antisipasi, pencegahan jika
memungkinkan, menunggu dan waspada dalam persiapan untuk segala sesuatu
yang dapat terjadi. Pada langkah ini sangat vital untuk perawatan yang aman.
Dalam hal ini untuk pengumpulan data pada kasus abortus inkomplit yaitu
antisipasi terhadap masalah potensial terjadi perdarahan, perforasi, infeksi dan
syok.
3.4 Langkah IV : Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang
memerlukan penanganan segera.
Menggambarkan sifat proses manajemen secara terus menerus tidak hanya
pada pemberian pelayanan dasar pada kunjungan antenatal secara periodic akan
tetapi juga pada saat bidan bersama klien.
Data yang baru tetap diperoleh dan dievaluasi, beberapa data mmberi
indikasi adanya situasi emergensi dimana bidan harus bertindak segera dalam
40

rangka menyelamatkan nyawa ibu atau janin. Beberapa jenis data dapat
menunjukkan adanya situasi yang memerlukan tindakan segera sambil menunggu
tindakan dokter. Pada situasi lain yang tidak dalam keadaan emergensi akan
tetapi tetap membutuhkan konsultasi atau kolaborasi dokter.
Dalam hal ini untuk pengumpulan data pada kasus abortus inkomplit yaitu
perlu dilakukan kolaborasi dengan dokter untuk mencegah masalah potensial
seperti terjadi perdarahan yang hebat, perforasi, infeksi dan syok.
3.5 Langkah V : Merencanakan asuhan yang komprehensif/menyeluruh
Pengembangan suatu rencana tindakan yang komprehensif yang ditentukan
berdasarkan langkah sebelumnya, sebagai hasil perkembangan dan tanda-tanda
khas sekarang ini dan antisipasi diagnosa dan masalah, juga meliputi
pengumpulan data dasar atas informasi tambahan yang diperlukan.
Pada suatu tindakan yang komprehensif tidak hanya termasuk indikasi
apa yang timbul berdasarkan kondisi klien dan masalah yang berhubungan
dengan kondisi tersebut, tetapi juga bimbingan yang diberikan lebih dahulu
kepada ibu terhadap apa yang diharapkan pasien selanjutnya, pendidikan
kesehatan dan kepercayaan/agama, keluarga / budaya atau masalahmasalah psikologis, atau dengan kata lain apapun yang menyinggung setiap
aspek yang termasuk dalam perawatan yang diterima.
Agar efektif suatu rencana seharusnya disetujui bersama oleh bidan serta
pasien, sebab pada akhirnya si ibulah yang akan atau tidak akan
mengimplementasikan rencana tersebut. Oleh karena itu, tugas pada langkah ini

41

termasuk diskusi dan penyusunan rencana tindakan bersama dengan pasien


sebagai suatu konfirmasi atau persetujuan.
Seluruh keputusan yang dibuat untuk pengembangan suatu rencana
tidakan

seharusnya

menggambarkan

rasional

yang

tepat

berdasarkan

pengetahuan yang relevan dan sesuai teori terbaru (up to date) dan asumsi yang
tepat tentang kelakuan pasien (apa yang akan atau tidak akan dilakukan oleh
pasien).
Rasional berdasarkan pengetahuan teoritis yang keliru atau kurang atau
data yang tidak komplit dan tidak tepat akan memberi hasil perawatan yang
tidak sempurna dan mungkin tidak aman.
Dalam hal ini untuk pengumpulan data pada kasus abortus inkomplit
yaitu merencanakan asuhan yang menyeluruh, ditentukan oleh langkah-langkah
sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah
atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi, pada langkah ini
informasi/data yang tidak lengkap dapat dilengkapi.
Adapun intervensi yang diberikan adalah: Jelaskan pada ibu dan keluarga
bahwa kehamilannya tidak bisa dipertahankan, beri support mental pada ibu,
lakukan informent konsent untuk tindakan yang akan dilakukan, observasi
tanda-tanda vital dan perdarahan, lakukan persiapan untuk tindakan kuretase:
pasien dipuasakan selama 6 jam, siapkan peralatan, lakukan kalaborasi untuk
tindakan kuretase.
3.6 Langkah VI : Melaksanakan Rencana Asuhan

42

Langkah ini adalah pelaksanaan rencana tindakan. Hal ini mungkin dapat
dikerjakan seluruhnya oleh bidan atau sebagian dilaksanakan oleh ibu
sendiri, bidan atau tim kesehatan lain. Jika seorang bidan tidak melaksanakan
tindakan sendiri maka ia menerima tanggung jawab mengurus pelaksanaannya
(mengamati pasien adalah memastikan bahwa tindakan tersebut memang
tindakan yang benar terlaksana).
Dalam situasi dimana bidan melakukan tindakan kolaborasi dengan
Seorang dokter, dan masih tetap terlibat dalam penatalaksanaan perawatan klien
yang mengalami komplikasi, maka seorang bidan yang memikul tanggung
jawab untuk pelaksanaan tindakan kolaborasi dan perawatan secara menyeluruh
bagi pasien. Implementasi yang efektif dapat mengurangi biaya perawatan dan
meningkatnya kualitas pelayanan kepada pasien.
Dalam hal ini untuk pengumpulan data pada kasus abortus inkomplit
yaitu melaksanakan asuhan sesuai rencana : menjelaskan pada ibu dan keluarga
bahwa kehamilannya tidak bisa dipertahankan, memberi support mental pada
ibu bahwa tindakan yang dilakukan hanya sebentar dan berdoa agar prosesnya
lancar, melakukan informent konsent untuk tindakan yang akan dilakukan,
mengobservasi Tanda-tanda vital dan perdarahan, melakukan persiapan untuk
tindakan kuretase.
3.7 Langkah VII : Evaluasi
Evaluasi pada kenyataannya adalah cara untuk mengecek apakah
rencana yang telah dilaksanakan benar memenuhi kebutuhan pasien, yaitu
kebutuhan yang diidentifikasi pada tahap penentuan diagnosa dan masalah.
43

Rencana yang dianggap efektif bila dilaksanakan dan tidak efektif, sementara
pada bagian lain dikatakan tidak efektif. Dalam hal ini untuk pengumpulan data
pada kasus abortus inkomplit yaitu dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan
yang telah diberikan (Yeyeh, 2009).
Pendokumentasian proses manajemen kebidanan dalam asuhan kebidanan
Manajemen kebidanan merupakan suatu metode atau bentuk pendekatan yang
digunakan oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan.
Langkah-langkah dalam kebidanan menggambarkan alur pola pikir dan
bertindak bidan dalam pengambilan keputusan klinis untuk mengatasi masalah.
Asuhan yang telah dilakukan harus dicatat secara benar, jelas, logis dalam suatu
metode pendokumentasian.
Pendokumentasian yang benar adalah pendokumentasian yang dapat
mengkomunikasikan kepada orang lain mengenai aturan yang telah dilakukan
dan yang akan dilakukan pada seorang klien, yang di dalamnya tersirat
proses berfikir secara sistematis. Seorang bidan dalam menghadapi seorang
klien sesuai langkah-langkah dalam proses manajemen kebidanan.
Menurut Helen Varneis, alur berfikir bidan saat menghadapi klien
meliputi 7 langkah. Untuk orang lain mengetahui apa yang telah dilakukanoleh
seorang bidan melalui proses berfikir sistematis, didokumentasikan dalam
bentuk SOAP yaitu:
3.7.1

Subjektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien,
anamnesis pada pasien atau keluarga pasien merupakan langkah satu varney.
44

3.7.2

Objektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien,hasil
laboratorium dan test diagnostik lalu yang dirumuskan dalam data fokus
untuk mendukung assesment sebagai langkah 1 varney.

3.7.3

Assesment
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan intrepretasi data
subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi.

3.7.3.1 Diagnosa / masalah.


3.7.3.2 Antisipasi diagnosa / masalah potensial.
3.7.3.3 Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi/kolaborasi atau
rujukan, sebagai langkah 2, 3, dan 4 Varney.
3.7.4

Planning
Menggambarkan pendokumentasian dari tindakan dan evaluasi
berdasarkan Assesment, sebagai langkah 5,6 dan 7 Varney (Yeyeh, 2009).

E. Kerangka Konsep
1. Dasar Pemikiran
Asuhan kebidanan merupakan bagian integral dari kesehatan yang
dilaksanakan sesuai standar. Dengan demikian pemahaman dan keterampilan
dalam menerapkan standar dengan baik merupakan suatu hal yang mutlak bagi
setiap tenaga kebidanan agar mampu membuat asuhan kebidanan yang secara
baik dan benar.
Asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan abortus inkomplit berdasarkan
konsep varney terdiri dari 7 langkah yaitu pengkajian, perumusan diagnosa

45

masalah kebidanan aktual, perumusan diagnosa masalah kebidanan potensial,


identifikasi

kebutuhan

tindakan

segera/kolaborasi,

perencanaan

asuhan

kebidanan, implementasi dan evaluasi

2. Skema Kerangka Pikir Penelitian

Pengkajian
Perumusan diagnosa
masalah kebidanan aktual
Perumusan diagnosa
masalah kebidanan potensial
Asuhan Kebidanan
Abortus Inkomplit

Identifikasi kebutuhan
tindakan segera/kolaborasi
Perencanaan asuhan
kebidanan
Implementasi

Evaluasi

46

Keterangan

:
: Variabel yang diteliti
: Penghubung variabel yang diteliti

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskritif dengan
pendekatan

survey

dan

observasi,

dimana

desain

ini

digunakan

untuk

mendeskripsikan atau menguraikan suatu keadaan didalam suatu komunitas atau


masyarakat (Natoatmodjo, 2010).Dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran
penatalaksanaan asuhan kebidanan abortus inkomplit pada ibu hamil.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat
Penelitian ini akan dilaksanakan di Ruang Kebidanan RSUD Abunawas
Kota Kendari.
2. Waktu

47

Waktu studi kasus merupakan kapan pelaksanaan pengambilan studi


kasus akan dilaksanakan (Notoatmodjo, 2011). Studi kasus akan dilaksanakan
pada bulan November tahun 2014 atau setelah proposal dinyatakan layak.
C. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua bidan di Ruang Teratai RSUD
Abunawas Kota Kendari tahun 2014 sebanyak 33 orang.

D. Pengambilan Sampel
Sampel penelitian adalah bidan yang menangani kasus abortus inkomplit
yang bertugas di RSUD Abunawas Kota Kendari. Penarikan sampel dilakukan
secara total sampling berjumlah 33 orang bidan.
E. Definisi Operasional
1. Asuhan kebidanan abortus inkomplit dalam penelitian ini adalah standar asuhan
kebidanan yang telah ditetapkan oleh intansi Puskesmas yang dijadikan sebagai
pedoman dalam menegakan asuhan kebidanan khususnya asuhan kebidanan
abortus inkomplit.
2. Penatalaksanaan pengkajian yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu
proses pengumpulan data yang dilakukan bidan pada ibu hamil yang menderita
abortus inkomplit mengenai status kesehatan pasien secara sistematis baik
subjektif maupun objektif. Skala ini akan di berikan pembobotan 1 untuk
jawaban ya dan 0 untuk jawaban tidak dengan kriteria objektif :
Baik
: Bila skor jawaban responden 80%
48

Kurang : Bila skor jawaban responden <80% (Notoatmodjo, 2010).


3. Perumusan diagnosa identifikasi masalah aktual yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan
interpretasi yang akurat atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang
telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosa dan
masalah yang spesifik. Skala ini akan di berikan pembobotan 1 untuk jawaban
ya dan 0 untuk jawaban tidak dengan kriteria objektif :
Baik
: Bila skor jawaban responden 80%
Kurang : Bila skor jawaban responden <80% (Notoatmodjo, 2010).
4. Perumusan diagnosa identifikasi masalah potensial yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah menganalisis data hasil pengkajian dalam menentukan
diagnosa masalah pada penderita abortus inkomplit dan identifikasi masalah
yang potensial yang terjadi pada penderita abortus inkomplit. Skala ini akan di
berikan pembobotan 1 untuk jawaban ya dan 0 untuk jawaban tidak dengan
kriteria objektif :
Baik
: Bila skor jawaban responden 80%
Kurang : Bila skor jawaban responden <80% (Notoatmodjo, 2010).
5. Identifikasi kebutuhan yang memerlukan penanganan segera / kolaborasi dan
emergency yaitu mengidentifikasi masalah dan analisis hasil pengkajian apabila
memerlukan

penanganan

segera

yang

bersifat

emergency

dengan

mengkolaborasikan tindakan yang sesuai dan diperlukan. Skala ini akan di


berikan pembobotan 1 untuk jawaban ya dan 0 untuk jawaban tidak dengan
kriteria objektif :
Baik
: Bila skor jawaban responden 80%
Kurang : Bila skor jawaban responden <80% (Notoatmodjo, 2010).
6. Perencanaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mengembangkan
rencana asuhan kebidanan pada penderita abortus inkomplit yang memberikan
intervensi sesuai dengan yang diharapkan. Skala ini akan di berikan
49

pembobotan 1 untuk jawaban ya dan 0 untuk jawaban tidak dengan kriteria


objektif :
Baik
: Bila skor jawaban responden 80%
Kurang : Bila skor jawaban responden <80% (Notoatmodjo, 2010).
7. Implementasi atau pelaksanaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
suatu proses penatalaksanaan tindakan kebidanan yang telah direncanakan
dalam penelitian ini yaitu pada penderita abortus inkomplit. Skala ini akan di
berikan pembobotan 1 untuk jawaban ya dan 0 untuk jawaban tidak dengan
kriteria objektif :
Baik
: Bila skor jawaban responden 80%
Kurang : Bila skor jawaban responden <80% (Notoatmodjo, 2010).
8. Evaluasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah peninjauan kembali
tindakan yang telah dilakukan. Skala ini akan diberikan pembobotan 1 untuk
jawaban ya dan 0 untuk jawaban tidak dengan kriteria objektif :
Baik
: Bila skor jawaban responden 80%
Kurang : Bila skor jawaban responden <80% (Notoatmodjo, 2010).
F. Sumber Data
Prosedur pengumpulan data pada klien adalah dengan cara mengambil data
primer dan data sekunder.
1. Data primer
Diperoleh dengan wawancara dan observasi langsung dengan responden
menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah tersedia.
2. Data skunder
Data skunder yaitu data yang diambil dari RSUD Abunawas Kota
Kendari yang berhubungan dengan objek penelitian ini.
G. Prosedur Pengumpulan Data

50

1. Pengolahan Data
Setelah data dikumpulkan maka akan dilakukan pengolahan data secara
manual dengan menggunakan kalkulator dimana disajikan dalam bentuk naskah
yang dikelompokan sesuai dengan tujuan penelitian
1.1 Editing
Editing atau penyuntingan data dilakukan pada saat penelitian yakni
memeriksa semua lembaran observasi yang telah diisi dan memeriksa
keseragaman data.
1.2 Koding
Koding atau pengkodean pada lembaran observasi, pada tahap ini kegiatan
yang dilakukan ialah mengisi daftar kode yang di sediakan pada lembaran
obsevasi, sesuai dengan hasil pengamatan yang di lakukan.
1.3 Skoring
Setelah melakukan pengkodean maka dilanjutkan dengan tahap pemberian
skor pada lembaran obsevasi dalam bentuk angka angka.
1.4 Tabulasi
Setelah selesai pembuatan kode selanjutnya dilakukan pengolahan data
kedalam satu tabel menurut sifat sifat yang dimiliki yang mana sesuai
dengan tujuan penelitian ini. Tabel yang di gunakan yaitu tabel yang
sederhana atau tabel silang.
H. Analisa Data

51

Analisis data di lakukan secara manual dengan menggunakan kalkulator,


kemudian hasilnya disajikan dalam bentuk tabel frekuensi disertai penjelasan
penjelasan
Sedangkan dalam pengolahan data maka digunakan rumus :

f
Keterangan :
P
=
-----------x 100
% dicari presentasenya
F
= Frekuensi yang
sedang
N
= NumberNOf Cases ( jumlah frekuensi /banyaknya individu )
P
= Angka presentase (Suyanto, 2011).

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Letak geografis
RSUD. Abunawas terletak di Kota

Kendari, tepatnya di Kelurahan

Kambu Kecamatan Kambu dengan luas lahan 3.527 M2 dan luas bangunan

52

1.800 M2. RSUD Abunawas Kota Kendari memiliki batas-batas wilayah


sebagai berikut:
Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Kambu
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Kambu
Sebelah Timur berbatasan dengan Jalan ZA. Sugianto
Sebelah Barat berbatasan dengan Empang masyarakat
2. Sarana Gedung
Dilokasi baru RSUD Abunawas saat ini memiliki sarana gedung sebagai
berikut: Gedung Anthurium (Kantor), Gedung Bougenville (Poliklinik),
Gedung (IGD), Gedung Matahari (Radiologi), Gedung

Crysant

(Kamar

Operasi), Gedung Asoka (ICU), Gedung Teratai (Ponek), Gedung Lavender


(Rawat inap penyakit dalam), Gedung Mawar (Rawat Inap Anak), Gedung
Teratai (Rawat Inap Bedah), Gedung Anggrek (Rawat Inap VIP, Kls I dan Kls
II), Gedung Instalasi Gizi, Gedung Loundry, Gedung Laboratorium, Gedung
Kamar Jenazah.
Dalam menunjang pelaksanaan kegiatan, RSUD. Abunawas Kota Kendari
dilengkapi dengan 2 unit mobil ambulance, 1 buah mobil direktur, 9 buah mobil
operasional dokter spesialis dan 10 buah sepeda motor.
3. Ketenagaan
Jumlah tenaga kerja yang ada di RSUD. Abunawas Kota Kendari pada
tahun 2012 sebanyak 237 (134 PNS dan 103 Non PNS), yang terdiri dari dari :
Tenaga medis, Tenaga paramedis Perawatan, Tenaga paramedis non perawatan,
Tenaga administrasi Dll.
53

Secara terperinci tenaga yang ada di RSUD Abunawas tahun 2013


dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel 4.1 Ketenagaan di RSUD Abunawas Kota Kendari Tahun 2013
NO
I.

II.

JENIS TENAGA
Tenaga Dokter :
1. Dokter Sp.Anak
2. Dokter Sp.Bedah
3. Dokter Sp.Interna
4. Dokter Sp. Obgyn
5. Dokter Sp.THT
6. Dokter Sub Sp Bedah
Tulang
7. Dokter Sp.Saraf
8. Dokter Sp.Gigi Anak
9. Dokter Umum
10. Dokter Gigi
Tenaga Paramedis :
1. S1 Keperawatan
2. D3 Perawat
3. D4 / D3 Kebidanan
4. Bidan
5. SPK

Tenaga Paramedis Non


Perawatan
1. Apoteker
2. Kesehatan Masyarakat
3. Akademi Gizi
4. Akademi Radiologi
5. Akademi Fisioterapi
6. Akademi Analis
Kesehatan
7. Asisten Apoteker
Sumber: Data Sekunder, 2013

PNS

NON
PNS

JUMLAH

1
2
2
2
1
1
1
1
7
3

1
1
5
-

2
2
2
2
1
1
1
1
12
3

6
25
17
6

6
91
8
-

12
106
25
6

4
6
1
2
2
6

2
2
1

4
8
3
2
2
7

III.

54

Berdasarkan data di atas, diperoleh informasi bahwa masih banyak


tenaga kesehatan di RSUD Abunawas Kota Kendari berstatus honorer atau
tenaga harian lepas.
4. Visi dan Misi
Dalam menjalankan Tugas dan fungsinya RSUD Abunawas Kota
Kendari mempunyai Visi dan Misi :
4.1 Visi
Rumah Sakit Pilihan Masyarakat
4.2 Misi
4.2.1

Meningkatkan pelayanan kesehatan dengan menciptakan pelayanan yang


bermutu, cepat, tepat serta terjangkau oleh masyarakat.

4.2.2

Mendorong masyarakat untuk memanfaatkan RS. Abunawas menjadi RS


mitra keluarga.

4.2.3

Meningkatkan SDM, sarana dan prasarana medis serta non medis serta
penunjang medis, agar tercipta kondisi yang aman dan nyaman bagi petugas,
pasien dan keluarganya serta masyarakat pada umumnya.

B. Hasil Penelitian
1. Karakteristik responden
Analisis data umum adalah suatu analisis yang mendeskripsikan
karakteristik responden. Masing-masing karakteristik dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kelompok Umur

55

Adapun

karakteristik

responden

berdasarkan

kelompok

umur,

sebagaimana diuraikan pada tabel 4.2 di bawah ini:


Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur Di Ruang Teratai
RSUD Abunawas Kota Kendari Tahun 2014
No
1
2
3

Umur
22-26
27-31
32-36
Total
Sumber: data primer 2014

Frekuensi
19
10
4
33

%
57,6
30,3
12,1
100

Tabel 4.2 menunjukan bahwa dari 33 responden dengan kelompok umur


yang paling banyak adalah yang berumur 22-26 tahun yaitu 19 orang (57,6%)
dan yang paling sedikit adalah responden dengan umur 32-36 tahun yaitu
sebanyak 4 orang (12,1%).
1.2 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Adapun

karakteristik

responden

berdasarkan

tingkat

pendidikan,

sebagaimana diuraikan pada tabel 4.3 di bawah ini.

Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Ruang


Teratai RSUD Abunawas Kota Kendari Tahun 2014
No
1

Tingkat Pendidikan
D-III

S1
Total
Sumber: data primer 2014

56

Frekuensi
31

Persentase (%)
93,9

2
33

6,1
100

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa dari 33 responden yang paling tinggi


adalah berpendidikan D-III sebanyak 31 orang (93,9%) dan yang paling sedikit
adalah Sarjana (DIV) sebanyak 2 orang (6,1%).
2. Analisis Univariat
2.1 Pengkajian Kebidanan
Hasil pengolahan data tentang distribusi penatalaksanaan Asuhan
Kebidanan berdasarkan pengkajian kebidanan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Pengkajian Kebidanan Di
Ruang Teratai RSUD Abunawas Kota Kendari Tahun 2014
No
1
2

Pengkajian
Baik
Kurang

Total
Sumber: data primer 2014

Frekuensi

Persentase (%)

14
19
33

42,4
57,6
100

Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang


melakukan pengkajian baik sebanyak 14 bidan (42,4%) dan yang melakukan
pengkajian kurang sebanyak 19 Bidan (57,6%).

2.2 Diagnosa aktual


Hasil pengolahan data tentang distribusi penatalaksanaan Asuhan
Kebidanan berdasarkan diagnosa aktual adalah sebagai berikut:
Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Diagnosa Aktual Di Ruang
Teratai RSUD Abunawas Kota Kendari Tahun 2014
No

Diagnosa Aktual

Frekuensi

57

Persentase (%)

1
2

Baik
Kurang

11
22
33

Total
Sumber: data primer 2014

33,3
66,7
100

Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang


melakukan penetapan diagnosa actual baik sebanyak 11 bidan (33,3%) dan
yang melakukan penetapan diagnosa aktual kurang sebanyak 22 Bidan
(66,7%).
2.3 Diagnosa potensial
Hasil pengolahan data tentang distribusi penatalaksanaan Asuhan
Kebidanan berdasarkan diagnosa potensial adalah sebagai berikut:
Tabel 4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Diagnosa Potensial Di Ruang
Teratai RSUD Abunawas Kota Kendari Tahun 2014
No

Diagnosa Potensial

1
2

Baik
Kurang

Total
Sumber: data primer 2014

Frekuensi

Persentase (%)

11
22
33

33,3
66,7
100

Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang


melakukan penetapan diagnosa potensial baik sebanyak 11 bidan (33,3%)
dan yang melakukan penetapan diagnosa potensial kurang sebanyak 22
Bidan (66,7%).
2.4 Tindakan segera dan kolaborasi
Hasil pengolahan data tentang distribusi penatalaksanaan Asuhan
Kebidanan berdasarkan tindakan segera dan kolaborasi adalah sebagai
berikut:

58

Tabel 4.7 Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Segera dan


Kolaborasi Di Ruang Teratai RSUD Abunawas Kota Kendari
Tahun 2014
No

Tindakan Segera dan


Kolaborasi
1
Baik
2
Kurang
Total
Sumber: data primer 2014

Frekuensi

Persentase (%)

14
19
33

42,4
57,6
100

Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang


melakukan tindakan segera dan kolaborasi baik sebanyak 14 bidan (42,4%)
dan yang melakukan tindakan segera dan kolaborasi kurang sebanyak 19
Bidan (57,6%).
2.5 Rencana asuhan
Hasil pengolahan data tentang distribusi penatalaksanaan Asuhan
Kebidanan berdasarkan rencana asuhan dalah sebagai berikut:

Tabel 4.8 Distribusi Responden Berdasarkan Rencana Asuhan Di Ruang


Teratai RSUD Abunawas Kota Kendari Tahun 2014
No
1
2

Rencana Asuhan
Baik
Kurang

Total
Sumber: data primer 2014

59

Frekuensi

Persentase (%)

13
20
33

39,4
60,6
100

Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang


melakukan rencana asuhan baik sebanyak 13 bidan (39,4%) dan yang
melakukan rencana asuhan kurang sebanyak 20 bidan (60,6%).
2.6 Implementasi
Hasil pengolahan data tentang distribusi penatalaksanaan Asuhan
Kebidanan berdasarkan implementasi adalah sebagai berikut:
Tabel 4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Implementasi Di Ruang Teratai
RSUD Abunawas Kota Kendari Tahun 2014
No
1
2

Implementasi
Baik
Kurang

Total
Sumber: data primer 2014

Frekuensi

Persentase (%)

11
19
33

33,3
66,7
100

Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang


melakukan implementasi baik sebanyak 11 bidan (33,3%) dan yang
melakukan implementasi kurang sebanyak 19 bidan (66,7%).
2.7 Evaluasi
Hasil pengolahan data tentang distribusi penatalaksanaan Asuhan
Kebidanan berdasarkan evaluasi adalah sebagai berikut:
Tabel 4.10 Distribusi Responden Berdasarkan Evaluasi Di Ruang Teratai
RSUD Abunawas Kota Kendari Tahun 2014
No
1
2

Evaluasi
Baik
Kurang

Total
Sumber: data primer 2014

60

Frekuensi

Persentase (%)

12
21
33

36,4
63,6
100

Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang


melakukan evaluasi baik sebanyak 12 bidan (36,4%) dan yang melakukan
evaluasi kurang sebanyak 21 bidan (63,6%).
C. Pembahasan
Pada pembahasan ini peneliti akan menjelaskan tantang kesenjangan yang
terjadi antara praktek dan teori yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah
Abunawas Kota Kendari dengan teori yang ada. Di sini peneliti akan menjelaskan
kesenjangan tersebut menurut langkah-langkah dalam manajemen kebidanan
menurut Varney yang meliputi tujuh langkah. Pembahasan ini dimaksudkan agar
dapat diambil suatu kesempatan dan pemecahan masalah dari kesenjangankesenjangan yang terjadi sehingga dapat digunakan sebagai tindak lanjut dalam
penerapan asuhan kebidanan yang meliputi:
1. Identifikasi data dasar
Menurut Manuaba (2010), tanda dan gejala abortus inkomplit pada ibu
adalah perdarahan memanjang, sampai terjadi keadaan anemis, perdarahan
mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat, terjadi infeksi dengan ditandai
suhu tinggi, dapat terjadi degenerasi ganas/koriokarsinoma. Sedangkan menurut
Maryunani, (2009), tanda dan gejala abortus inkomplit adalah perdarahan biasa
sedikit/banyak dan biasa terdapat bekuan darah, rasa mules (kontraksi) tambah
hebat, ostium uteri eksternum atau serviks terbuka, pada pemeriksaan vaginal,
jaringan dapat diraba dalam cavum uteri atau kadang-kadang sudah menonjol
dari eksternum atau sebagian jaringan keluar, dan syok.

61

Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang


melakukan pengkajian baik sebanyak 14 bidan (42,4%) dan yang melakukan
pengkajian kurang sebanyak 19 Bidan (57,6%).
Berdasarkan hal tersebut, artinya bidan sudah melakukan pengkajian pada
abortus inkomplit dengan baik tetapi, masih ada juga bidan dalam beberapa
point pertanyaan mereka tidak melakukan pengkajian lain. Pentingnya
pengkajian berkaitan tersebut akan sangat berperan penting terhadap abortus
inkomplit karena dengan mengkaji hal-hal tersebut bidan dapat mendeteksi dini
adanya komplikasi pada abortus inkomplit.
Data hasil pengkajian pada Ny.D adalah sebagai berikut : G x PVII AII,
HPHT tanggal 14-04-2014, Ibu mengatakan terlambat datang bulan 3 bulan
lamanya, ibu tidak pernah tes kehamilan, ibu belum pernah memeriksakan ke
hamilannya, ibu tidak pernah ke dukun dan tidak pernah minum obat-obatan
dan jamu, tanggal 27-07-2014 jam 10.00 wita ibu terjatuh dari motor, dan posisi
pada saat jatuh terlempar ke dalam got. dirasakan nyeri perut bagian bawah,
keluar darah dari jalan lahir sedikit-sedikit dialami 4 hari lamanya. Tanggal
01-08-2014 keluar jaringan menyerupai janin disertai pengeluaran darah yg
banyak. kurang lebih dua sarung berwarna merah kehitaman. Tanggal 03-082014 jam 16.35 pasien masuk rumah sakit dengan keluhan panas tinggi.
Keluhan nyeri masih dirasakan, pengeluaran darah masih ada seperti darah haid,
usaha ibu untuk mengatasi keluhan dengan istirahat baring, ibu khawatir dengan
keadaanya sekarang.

62

Hal ini tidak sesuai dengan teori bahwa mengkaji adalah sebuah proses
kegiatan dalam asuhan kebidanan yang dimulai bidan menerapkan pengetahuan
ilmiah dan disiplin kebidanan untuk menggali dan menemukan keunikan klien
dan masalah kebidanan untuk kesehatan klien. Pengkajian adalah tahap awal
dari preses kebidanan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam
pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan
mengidentifikasi status kesehatan klien, dimana tahapan pengkajian ini
merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan kebidanan dalam kebutuhan
individu (Sarwono, 2009).
Pengkajian kebidanan merupakan data dasar yang komprehensif yang
berisikan mengenai status kesehatan pasien, kemampuan pasien untuk
mengelola kesehatan terhadap dirinya sendiri. Pengkajian merupakan tahap
pengumpulan data yang sistematis untuk menentukan status kesehatan pasien
dan untuk mengidentifikasi semua masalah kesehatan yang aktual dan potensial
(Raito, 2011).
Sudah baiknya pengkajian yang dilakukan oleh bidan disebabkan oleh
pendidikan bidan yang rata-rata adalah DIII Kebidanan sehingga pengetahuan
yang dimiliki bidan pun sudah cukup baik. Meskipun demikian sebagian dari
bidan masih memiliki pengetahuan yang kurang tentang perawatan abortus
inkomplit.
2. Merumuskan diagnosa/masalah aktual
Diagnosa kebidanan adalah pemeriksaan bidan terhadap masalah
kesehatan aktual dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, dia
63

mampu dan mempunyai kewenangan untuk memberikan tindakan kebidanan.


Kewenangan tersebut didasarkan pada standar praktek kebidanan dan etika
kebidanan yang berlaku di Indonesia (Saminem, 2010).
Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang
melakukan penetapan diagnosa aktual baik sebanyak 11 bidan (33,3%) dan yang
melakukan penetapan diagnosa aktual kurang sebanyak 22 Bidan (66,7%).
Berdasarkan hal tersebut, artinya bidan yang merumuskan pemeriksaan
kebidanan berdasarkan masalah aktual secara umum sudah baik karena 11 orang
(33,3%), tetapi terdapat beberapa masalah yang meskipun tidak berpengaruh
besar terhadap diagnosa tetapi bila diukur belumlah optimal karena masih ada
beberapa yang persentasenya atau ada bidan yang belum memahami semua
proses diagnosa masalah aktual pada abortus inkomplit. Masalah tersebut yaitu
yang berkaitan langsung dengan kondisi pasien saat diperiksa awal, berdasarkan
penyebab

dan

masalah

yang

terjadi

dan

memberitahukan

pada

pasien/keluarganya keadaan yang dialami dari 33 bidan berjumlah 22 bidan


(66,7%). Hal ini disebabkan tidak semua bidan pernah menangani abortus
inkomplit

yang

mengalami

komplikasi,

sehingga

pemahaman

dan

keterampilannya berbeda-beda.
Interpretasi data terdiri dari diagnosa kebidanan menentukan masalah dan
kebutuhan ibu melahirkan dengan persalinan lama. Pada kasus ini peneliti
mendapatkan diagnosa kebidanan Gx PVII AII Gestasi 15 minggu enam hari,
abortus inkomplit dengan masalah nyeri pada perut bagian bawah dan febris.

64

Dalam menentukan diagnosa kebidanan tersebut didasari dengan adanya


data subyektif dan data obyektif. Penegakan diagnosis pada kasus abortus
inkomplit sangat mudah dilakukan setelah peneliti mengumpulkan data (Varney,
2009).
Perumusan diagnosa aktual seperti Gx PVII AII Gestasi 15 minggu enam
hari ditegakkan dengan data penunjang ibu mengatakan HPHT pada tanggal 1404-2014. Hasil analisis dan interpretasi : Dari HPHT tanggal 14-04-2014 sampai
tanggal 03-08-2014 amenorhoe 111 hari atau 15 minggu enam hari. Pada masa
kehamilan korpus luteum memproduksi hormon progesteron dalam jumlah yang
besar yang berfungsi menekan hipotalamus anterior mengeluarkan FSH sehingga
tidak terjadi ovulasi pada waktu hamil yang berarti tidak ada menstruasi
Pada penegakkan diagnosa abortus inkomplit dengan data menunjang
seperti ibu mengatakan pada tanggal 01-08-2014 jam 10.00 wita merasakan
keluarnya darah dari jalan lahir sedikit-sedikit kemudian banyak bergumpal
berwarna merah kehitaman 2 sarung. Hasil analisis dan interpretasi data:
Terjadi perdarahan dalam desidua basalis diikuti oleh nekrosis jaringan
disekitarnya yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebahagian atau
seluruhnya, yang merupakan benda asing dalam uterus sehingga uterus
berkontraksi untuk mengeluarkan isinya
Kemudian diagnosa nyeri perut bagian bawah ditunjang oleh data ibu
mengeluh nyeri pada perut bagian bawah, keluhan yang dirasakan sangat
mengganggu aktivitasnya, tampak ekspresi wajah ibu meringis, dan nyeri tekan

65

pada daerah diatas simphisis. Hasil analisis dan interpretasi data: Akibat
kontraksi uterus dalam usaha mengeluarkan isi uterus sehingga terjadi nyeri pada
perut bagian bawah. Mula-mula nyeri cenderung ringan, tetapi secara bertahap
menjadi lebih hebat
Dianosa keempat adalah febris, dengan data menunjang seperti ibu
mengatakan badannya terasa panas, ibu sering menanyakan tentang keadaan
dirinya, tampak ekspresi wajah ibu sendu, Suhu badan: 38,5c. hasil analisis dan
interpretasi data: Demam adalah peningkatan suhu tubuh di atas normal (36,4C
37,2C ) yang diatur di hipotalamus sebagai respon terhadap pyrogen( zat yang
menginduksi demam).
Kebutuhan yang dibutuhkan ibu dalam kasus ini adalah dengan
memberikan informasi tentang tanda dan gejala tentang persalinan lama, serta
memberikan dukungan moril pada ibu agar tabah dalam menghadapi persalinan.
3. Merumuskan diagnosa/masalah potensial
Masalah potensial adalah suatu pernyataan yang timbul berdasarkan
masalah yang sudah identifikasi. Langkah ini dibutuhkan antisipasi dan bila
memungkinkan dilakukan pencegahan. Dengan mengidentifikasi masalah
potensial atau diagnosa potensial yang akan terjadi berdasarkan diagnosa/
masalah yang sudah ada dan merumuskan tindakan apa yang perlu diberikan
untuk mencegah atau menghindari masalah/ diagnosa potensial yang akan terjadi.
Diagnosa potensial pada pasien dengan abortus inkomplit adalah syok
(Prawirohardjo, 2009).

66

Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang


melakukan tindakan segera dan kolaborasi baik sebanyak 14 bidan (42,4%) dan
yang melakukan tindakan segera dan kolaborasi kurang sebanyak 19 Bidan
(57,6%).
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa masih banyaknya bidan
dalam kriteria kurang dalam antisipasi masalah potensial dikarenakan bidan
menganggap kondisi pasien dapat dipertahankan dan tidak terjadi sesuatu
sehingga kebiasaan yang terjadi para bidan menyampingkan dalam penyusunan
rencana untuk langkah ketiga ini.
Hasil dari jawaban kuesioner menunjukan bahwa 42,4% bidan telah
memahami dan mengaplikasikan pengetahuan dan pengalamannya. Hasil
pengisian kuesioner menyatakan bahwa semua item pertanyaan sudah dilakukan
dengan baik semua. Pada langkah ini mengidentifikasi masalah potensial atau
diagnosa potensial berdasarkan diagnosa/masalah yang sudah diidentifikasi.
Langkah

ini

membutuhkan

antisipasi,

bila

memungkinkan

dilakukan

pencegahan.
Dalam kasus ini, tidak ada data yang mendukung terjadinya masalah
potensial. Dalam kasus ini peneliti tidak menemukan kesenjangan antara teori
dan praktek dalam mengidentifikasikan diagnosa atau masalah potensial.

4. Antisipasi tindakan segera dan kolaborasi

67

Antisipasi mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen


kebidanan, didalam teori antisipasi yaitu mengidentifikasikan situasi yang gawat
dimana bidan harus bertindak segera untuk kepentingan dan keselamatan jiwa.
Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang
melakukan tindakan segera dan kolaborasi baik sebanyak 14 bidan (42,4%) dan
yang melakukan tindakan segera dan kolaborasi kurang sebanyak 19 Bidan
(57,6%).
Antisipasi tindakan segera yang harus dilakukan pada kasus abortus
inkomplit adalah dengan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan infus
ringer laktat 500 ml dengan tetesan 28 tetes /menit,pemberian antibiotika
parenteral cefotaksim 500mg/ 12 jam, dan pemberian antipiuretik paracetamol 3x
500 mg. Dalam kasus ini, tidak dilakukan tindakan segera berupa kolaborasi
dengan dokter spesialis obstetri dan bagian laboratorium karena tidak ada data
mendukung.
5. Perencanaan
Perencanaan disusun berdasarkan diagnosa kebidanan, merencanakan
asuhan yang menyeluruh ditentukan dengan langkah-langkah sebelumnya.
Keputusan yang dikembangkan dalam asuhan menyeluruh harus rasional dan
benar-benar tepat berdasarkan pengetahuandan teori yang up to date dan setiap
rencana harus disetujui oleh pihak bidan dan pasien.
Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang
melakukan rencana asuhan baik sebanyak 13 bidan (39,4%) dan yang melakukan
rencana asuhan kurang sebanyak 20 bidan (60,6%).
68

Dari penelitian ini membuktikan bahwa bidan dalam melakukan asuhan


kebidanan pada tahap perencanaan masih kurang. Berdasarkan jawaban pada
kuesioner, beberapa hal yang masih rendah persentasinya dan menjadi masalah
yaitu masih adanya bidan yang tidak menjelaskan kepada keluarga tentang
kebutuhan yang diperlukan selama proses pelayanan kebidanan agar berjalan
dengan baik. Hal ini dapat berdampak pada proses asuhan yang kurang
maksimal.
Menurut Sarwono (2010), rencana asuhan komprehensif pada kasus
abortus inkomplit antara lain: observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital
serta perdarahan, stabilisasi kondisi pasien, kaji tingkat nyeri, berikan penjelasan
tentang penyebab nyeri pada perut bagian bawah dan anjurkan teknik relaksasi
bila timbul rasa nyeri, bantu ibu mengatur posisi yang nyaman sesuai dengan
kebutuhan ibu, beri informasi pada ibu tentang penyebab perdarahan,
sarankan/libatkan orang terdekat dengan ibu selama perawatan, beri dorongan
spiritual, jelaskan pada ibu dan keluarganya tentang pentingnya dilakukan kuret,
informed consent, siapkan kuret, jam kuret 16.30 wita, kolaborasikan dokter
tentang pemberian obat-obatan
6. Pelaksanaan atau implementasi
Pada langkah pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan
abortus inkomplit merupakan pelaksanaan dari rencana tindakan asuhan
menyeluruh (Varney, 2009). Pada langkah pelaksanaan ini telah dilakukan dan
dikerjakan sesuai dengan rencana asuhan yang telah dibuat.

69

Bidan melaksanakan asuhan kebidanan secara komprehensif, efekif,


efisien dan aman berdasarkan evidence based kepada klien/pasien dalam bentuk
upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara
mandiri, kolaborasi dan rujukan.
Berbagai macam tanggung jawab bidan yang cukup kompleks menjadikan
proses kebidanan cukup rumit sehingga beberapa bidan yang terampil dan senior
memahami tentang tanggung jawab dan pelaksanaan kebidanan yang mandiri.
Tindakan yang mandiri adalah aktifitas bidan yang didasarkan pada kesimpulan
dan bukan merupakan petunjuk atau perintah dari petugas kesehatan lain
(Bahiyatum, 2009).
Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian
dilakukan oleh bidan atau sebagian lagi dilakukan oleh klien, atau anggota tim
kesehatan lainnya. Jika bidan tidak melakukannya sendiri, ia tetap memikul
tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya (memastikan langkah
tersebut benar-benar terlaksana). Dalam situasi dimana bidan berkolaborasi
dengan dokter dan keterlibatannya dalam manajemen asuhan bagi pasien yang
mengalami komplikasi, bidan juga bertanggung jawab terhadap terlaksananya
rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Manajemen yang efektif
akan menyingkat waktu, biaya, dan meningkatkan mutu asuhan (Hidayat dkk,
2010).
Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang
melakukan implementasi baik sebanyak 11 bidan (33,3%) dan yang melakukan
implementasi kurang sebanyak 19 bidan (66,7%).
70

Implementasi kebidanan adalah kategori dari prilaku kebidanan dimana


tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari
asuhan kebidanan dilakukan dan diselesaikan. Responden yang implementasinya
tidak lengkap dapat disebabkan pada saat observasi bidan tidak melaksanakan
perumusan rencana kebidanan yang telah dibuat guna meningkatkan status
kesehatan klien, hal ini dapat disebabkan bidan tidak merasa klien sedang atau
perlu dilakukan, tindakan bidan hanya memberikan obat atau datang jika
dipanggil oleh keluarga klien. Faktor lain yang menyebabkan kurangnya
pelaksanaan implementasi kebidanan juga didukung oleh masa kerja bidan yang
kebanyakan hanya 1-4 tahun sehingga pengalaman dalam mengimplementasi
kepada pasien sangatlah kurang. Hal ini tidak sesuai dengan teori
implementasikebidanan yaitu implementasi kebidanan merupakan tindakan yang
dilakukan oleh untuk membantu klien beralih dari status kesehatan saat ini ke
status kesehatan yang diuaraikan dalam hasil yang diharapkan (Sarwono, 2009).
7. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir untuk menilai keefektifan dari
rencana asuhan yang diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan apakah benarbenar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan dalam masalah dan diagnosa
(Varney, 2009). Hasil evaluasi dari kasus ini setelah dilakukan perawatan 2 hari
dengan hasil ibu bersedia dilakukan tindakan kuretage serta suami sudah
menandatangani persetujuan kuret, jaringan dapat dikeluarkan seluruhnya atau
uterus kosong, TFU 2 jari atas symphisis kontraksi uterus baik, perdarahan

71

sedikit pada pembalut, nyeri dirasakan ibu berkurang pada perut bagian bawah,
ekspresi wajah ibu tenang dan tidak meringis lagi dan tanda vital normal.
Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang
melakukan evaluasi baik sebanyak 12 bidan (36,4%) dan yang melakukan
evaluasi kurang sebanyak 21 bidan (63,6%). Berdasarkan hal tersebut, artinya
bidan masih kurang dalam melakukan evaluasi pada abortus inkomplit. Hal ini
disebabkan bidan sebagian besar tidak memberikan konseling atau sosialisasi
mengenai pentingnya kunjungan ulang, untuk mengetahui perkembangan dan
kesehatan ibu.
Berdasarkan penelitian menunjukan bahwa evaluasi pelayanan kebidanan
masih berjalan dengan kurang baik karena penelitian terhadap hasil pada
pelaksanaan implementasi dianggap belum sesuai dengan rencana tindakan atau
tidak menentukan keberhasilan dari manajemen proses pelayanan kebidanan.
Pada tahap ini manajemen akan memberikan nilai seberapa jauh staf mampu
melaksanakan tugasnya dan mengidentifikasi tugasnya faktor-faktor yang
menghambat dan mendukung dalam pelaksanaan (Sarwono, 2009).
Responden yang dalam melakukan evaluasi tidak lengkap dapat
disebabkan pada saat observasi bidan tidak melaksanakan evaluasi berdasarkan
hasil intervensi ini dapat disebabkan bidan tidak merasa klien sedang atau perlu
dilakukan tindakan, hal ini tidak sesuai teori evaluasi adalah tindakan intelektualintelektual untuk melengkapi proses kebidanan yang menandakan seberapa jauh
diagnosa kebidanan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil
dicapai, melalui evaluasi memungkinkan bidan untuk memonitor ke delapan
72

dimensi yang terjadi selama pengkajian, analisis, perencanaan, dan pelaksanaan


tindakan (Liana, 2011).

BAB V
PENUTUP
73

A. Kesimpulan
Berdasarkan apa yang penulis dapatkan dalam studi kasus dan pembahasan
pada asuhan kebidanan pada Ny. D dengan abortus inkopmlit di Rumah Sakit
Umum Daerah Abunawas Kota Kendari, maka penulis mampu mengambil
kesimpulan yaitu:
1. Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang
melakukan pengkajian baik sebanyak 14 bidan (42,4%) dan yang melakukan
pengkajian kurang sebanyak 19 Bidan (57,6%).
2. Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang
melakukan penetapan diagnosa actual baik sebanyak 11 bidan (33,3%) dan
yang melakukan penetapan diagnosa aktual kurang sebanyak 22 Bidan
(66,7%).
3. Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang
melakukan penetapan diagnosa potensial baik sebanyak 11 bidan (33,3%) dan
yang melakukan penetapan diagnosa potensial kurang sebanyak 22 Bidan
(66,7%).
4. Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang
melakukan tindakan segera dan kolaborasi baik sebanyak 14 bidan (42,4%)
dan yang melakukan tindakan segera dan kolaborasi kurang sebanyak 19
Bidan (57,6%).

74

5. Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang


melakukan rencana asuhan baik sebanyak 13 bidan (39,4%) dan yang
melakukan rencana asuhan kurang sebanyak 20 bidan (60,6%).
6. Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang
melakukan implementasi baik sebanyak 11 bidan (33,3%) dan yang
melakukan implementasi kurang sebanyak 19 bidan (66,7%).
7. Dari data hasil penelitian didapatkan bahwa dari 33 responden yang
melakukan evaluasi baik sebanyak 12 bidan (36,4%) dan yang melakukan
evaluasi kurang sebanyak 21 bidan (63,6%).
B. Saran
1.

Bagi Tempat Pelayanan Kesehatan


Agar memperbanyak bidan jaga, dan dokter ahli kandungan stand by
agar setiap saat dapat dihubungi.

2.

Bagi Tenaga Kesehatan


Tenaga kesehatan sebaiknya dalam memberikan pelayanan berpegang
pada teori yang ada agar kualitas tetap terjaga serta mendapatkan hasil yang
maksimal.

3.

Bagi Pasien
Pasien diharapkan lebih hati-hati untuk kehamilan berikutnya, sebab
abortus inkomplit merupakan penyebab terbesar kematian ibu dan bayi selama
kehamilan jika tidak mendapatkan penanganan yang baik dan benar.

75