Anda di halaman 1dari 21

DEFISIENSI VITAMIN A PADA MATA

Pembimbing :
dr. Bambang Riyadi, Sp. M
Disusun oleh :
Justhesya Fitriani Fauziah Putri
030.07.128

PENDAHULUAN

Defisiensi vitamin A merupakan masalah kesehatan masyarakat utama


yang terdapat di 60-78 negara berkembang, dan diperkirakan 78-253 juta
anak usia presekolah dipengaruhi oleh defisiensi vitamin A. 1

Defisiensi vitamin A merupakan penyebab kebutaan yang paling sering


ditemukan pada anak-anak. Lebih kurang 150 juta anak lainnya
menghadapi resiko yang meningkat untuk meninggal dalam usia anakanak karena penyakit infeksi yang disebabkan oleh defisiensi vitamin A.

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam buku panduan pemberian suplemen vitamin A, kurang vitamin A


adalah suatu kondisi dimana simpanan Vitamin A dalam tubuh berkurang.
Keadaan ini ditunjukan dengan kadar serum retinol dalam darah kurang
dari 20g/dl.

Defisiensi vitamin A adalah suatu keadaan, ditandai rendahnya kadar


Vitamin A dalam jaringan penyimpanan (hati) dan melemahnya
kemampuan adaptasi terhadap gelap dan sangat rendahnya konsumsi atau
masukan karotin dari Vitamin A.14,20

Kebutuhan vitamin A tergantung golongan umur, jenis kelamin dan


kondisi tertentu.13,17

Tabel 1. Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Vitamin A

Gambar 1. Skema metabolisme vitamin A4

Etiologi

Ada banyak faktor yang berkontribusi terhadap defisiensi vitamin


A8 :

Asupan makanan kaya vitamin A yang kurang memadai,


Infeksi berulang, khususnya campak, diare, dan infeksi pernapasan akut
Pemberian ASI yang tidak memadai dalam jangka lama
Pemberian makanan pelengkap yang tidak sesuai waktunya (seperti
pengenalan makanan padat yang rendah nilai gizinya)
Tingkat pendidikan keluarga yang rendah
Kurangnya kewaspadaan dan pengetahuan tentang peran penting vitamin A
terhadap kesehatan anak

Faktor Resiko
Beberapa kelompok lebih rentan untuk menderita defisiensi vitamin A
dibanding yang lainnya. Kelompok ini terdiri dari8 :
Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan bayi prematur
Bayi dan anak dengan infeksi berulang
Bayi dan anak dengan malnutrisi

Patofisiologi

Vitamin

A memiliki dua peran di metabolisme okuler. Pertama di retina, vitamin A tersedia sebagai
prekursor terhadap pigmen visual fotosensitif yang berpartisipasi dalam inisiasi impuls saraf dari
fotoreseptor. Kedua, vitamin A dibutuhkan untuk sintesis RNA dan glikoprotein sel epitel
konjungtiva, yang membantu memelihara stroma kornea, dan mukosa konjungtiva. 3
Pada retina terdapat 2 sistem fotoreseptor yang berbeda, sel kerucut dan sel batang. Sel batang
bertanggung jawab terhadap penglihatan dalam situasi cahaya yang redup atau rendah, sedangkan
sel kerucut bertanggung jawab penglihatan berwarna dan situasi cahaya yang terang. Vitamin A
merupakan kekuatan utama dari pigmen visual kedua macam sel ini. Perbedaannya terletak pada
jenis protein yang terikat pada retinol. Pada sel batang, bentuk aldehid dari vitamin A (retinol) dan
protein opson bergabung membentuk rhodopsin yang merupakan pigmen fotosensitif. 3
Defisiensi vitamin A menekan imunitas humoral dan imunitas cell-mediated. Efek utama dari
inadekuatnya vitamin A pada fungsi imun bisa jadi karena konsekuensi dari terganggunya
pertumbuhan dan diferensiasi jaringan myeloid. Vitamin A secara khusus sangat penting untuk
menjaga integritas epitel dan pemeliharaan sekresi di mukosa, yang mana, jika terganggu, bisa
meningkatkan paparan terhadap mikroorganisme dan risiko infeksi. 3
Pada manusia, berbagai penelitian menunjukkan bahwa level vitamin A yang rendah di sirkulasi
berhubungan dengan meningkatnya risiko kerusakan epitel di mata. Rusaknya integritas epitel dan
barier mukosa akan memfasilitasi translokasi mikroorganisme dan berkontribusi terhadap
meningkatnya derajat infeksi.3

Manifestasi Klinis
Xeroftalmia merupakan manifestasi klinis defisiensi vitamin A yang paling
spesifik dan mudah dikenali, dan dipakai secara pasti untuk menilai status
vitamin A. Penurunan penyimpanan vitamin A secara bertahap dan tanpa
komplikasi dapat, mengakibatkan peningkatan kehebatan xeroftalmia,
bermanifestasi sebagai rabun senja, xerosis konjungtiva, dan bercak Bitot,
xerosis kornea, dan ulserisasi kornea/keratomalasia. 3
XN
X1A
X1B
X2
X3A
X3B
XS

Rabun Senja
Xerosis Konjungtiva
Bercak Bitot
Xerosis Kornea
Ulserasi Kornea/ keratomalasia < 1/3 permukaan
kornea
Ulserasi Kornea/ keratomalasia > 1/3 permukaan
kornea
Jaringan parut kornea

Gambar: 2. Diagram yang menunjukkan daerah


yang dirusak oleh xeroftalmia

Gambar
Xeroftalmia4

3.

diafragmatik

lesi

Gambar 4. X1A Xerosis Konjungtiva4

Gambar 6. X1B Bercak Bitot (kiju)4

Gambar 5. X1B Bercak Bitot (busa)4

Gambar 7,8 : X2 Xerosis


Konjungtiva4

Gambar 9,10. X3A Ulserasi kornea 4

Gambar 11,12. X3B Ulserasi kornea 4

Gambar 13, 14. Jaringan Parut kornea4

Gambar 15. Fundus Xeroftalmik

Diagnosis

Defisiensi vitamin A dapat dicurigai dengan karakteristik manifestasi klinis dan


dikonfirmasi dengan pemeriksaan kadar vitamin A serum yang kurang dari
200ug/L dan karotennoid kurang dari 500ug/L.

Xerosis konjungtiva dapat dideteksi dengan pemeriksaan mikroskopik.


Pemeriksaan apusan mata direkomendasikan untuk diagnostik. Vitamin A dan
serum retinol diperiksa menggunakan High Performance Liquid
Cromatography (HPLC).9

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan retinol serum dapat dilakukan menggunakan kinerja tinggi


kromatografi cair. Sebuah nilai kurang dari 0,7 mg / L pada anak-anak muda
dari 12 tahun dianggap rendah 10.

Pemeriksaan Radiologi

Pada anak-anak, film radiografi tulang panjang mungkin berguna saat


evaluasi sedang dibuat untuk pertumbuhan tulang dan untuk deposisi
berlebihan tulang periosteal.

Penatalaksanaan

Tatalaksana pada tabel dibawah dapat digunakan kepada individu dengan


semua stadium xeroftalmia, seperti rabun senja, xerosis konjungtiva
dengan bintik bitot, xerosis kornea, ulkus kornea, dan keratomalasia.
Dosis awal dapat dimulai segera setelah didiagnosis ditegakkan. Setelah
itu individu dengan lesi kornea akut segera dirujuk ke rumah sakit untuk
dilakukan tatalaksana emergensi.7
Waktu Pemberian

Dosis Vitamin A

Segera setelah diagnosis:


Usia < 6 bulan
Usia 6-12 bulan
Usia > 12 bulan
Hari berikutnya
Minimal 2 minggu berikutnya

50 000 IU
100 000 IU
200 000 IU
Sama sesuai dosis diatas
Sama sesuai dosis diatas

Antibiotik topikal seperti tetrasiklin atau


kloramfenikol dapat diberikan untuk
mengatasi atau mencegah infeksi
bakteri sekunder. Salap mata yang
mengandung steroid jangan diberikan
dalam keadaan ini.4
mengganti perban sebaiknya dilakukan
seperlunya, dan mata harus dilindungi.4

Pencegahan

Meningkatkan asupan makanan yang mengandung vitamin A


Suplementasi Vitamin A

DAFTAR PUSTAKA
1.

2.

3.
4.

Semba, RD, MW Bloem. The anemia of vitamin A deficiency: epidemiology and pathogenesis. European Journal of
Clinical Nutrition: 2002.
Joaquin, Miguel San, A Malcolm E Molyneux. Malaria and vitamin A deficiency in African children: a vicious
circle?.Malaria Journal. 2009.
Annstas, George. Vitamin A Deficiency. 2012. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/126004-overview
Sommer, Alfred. Vitamin A deficiency and Its Consequences A Field Guide To Detection and Control.1995. Penerbit:
WHO

5.

Gibney, J Michael, et al. Gizi Kesehatan Masyarakat. 2009. Penerbit : EGC.

6.

West. Clivt E.Vitamin A and Measles. Nutrition Reviews, Vol.58. diunduh dari http://www.measlesrubellainitiative.org.

7.

WHO, UNICEF, VACG Task Force. Vitamin A Supplements: A Guide to Their Use in Treatment and Prevention of
Vitamin A deficiency and Xeroftalmia. 1997. Diunduh dari http://www.who.int

8.

Azrimaidalida. Vitamin A, Imunitas dan Kaitannya Dengan Penyakit Infeksi . Jurnal Kesehatan Masyarakat.2007.

9.

Nutrition Information Centre University of Stellenbosch. Vitamin A. Diunduh dari http://www.sun.ac.za/nicus.

10.

Ragunatha, S, V jaganath Kumar, SB Murugesh. A clinical study of 125 patients with phrynoderma. Indian Journal of
Dermatology. 2011.

11.
12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.
20.

Thappa, Devinder Mohan. Clinical Pediatric Dermatology. India: Elsevier.2009.


Aguayo, V.M, et al Vitamin A Deficiency and Child Mortality in Cameroon: The Challenge Ahead
http://www.hki.org/research/ VitA Def Child Mortality_Cameroon-1.pdf .
Zainal Arifin Nang Agus . 1995. Pengaruh Kurang Vitamin A Terhadap Status Kesehatan : Suatu Tinjauan Biokimia
http://i-lib.ugm.ac.id/ jurnal/ download.php?dataId=6384
Joko, HT . 2002. Cakupan Program Pemberian Kapsul Vitamin A Studi Kasus Di Puskesmas Kampung Sawah Kota
Bandar Lampung http:// repository.ui.ac.id/contents/koleksi/16/d51293c87753abf90dd18bc2195f990769fba599.pdf
Sudirman H.. 2008. Tantangan Litbang Lintas Disiplin Dalam Penanggulangan MasalahKemiskinan, Kelaparan Dan
Gizi Kurang Di Indonesia http://www.litbang.depkes.go.id/update/orasi/OrasiHerman.pdf
Depkes RI . 2003. Deteksi Dan Tatalaksana Kasus Xeroftalmia http://gizi.depkes.go.id /pedomangizi/download/xeroftalmia.pdf
Rinaningsih . 2007. Hubungan Kadar Retinol Serum Dengan Thyroid Stimulating Hormone(Tsh) Pada Anak Balita Di
Daerah Kekurangan Yodium http://eprints.undip.ac.id/15824/1/Rinaningsih.pdf
Rolf D.W. Klemm, et al. 2011. Newborn Vitamin A Supplementation Reduced Infant Mortalityin Rural Bangladesh.
http://pediatrics. aappublications.org/ content/122/1/e242.full.html.
Murni,S.. Kekurangan Vitamin A (KVA). http: //i-lib.ugm.ac.id/jurnal/download. php? dataId=6384.pdf
Buku Panduan Pemberian Suplemen Vitamin A. Depertemen Kesehatan Republk Indonesia Riset Kesehatan Dasar
Indonesia Tahun 2010