Anda di halaman 1dari 7

UJI IMVIC

Kontrol

Enterobacter aerogenes (Litelatur)


Enterobacter aerogenes (Hasil)

Indole

Methyl
Red

Voges
Proskaue
r
+
+

Citrat

+
-

Uji IMVIC merupakan singkatan dari uji Indol, Metil Red, Voges
Proskauer, dan Citrate (BPOM RI, 2008). Pada umumnya Uji IMViC dilakukan
pada makanan atau minuman terhadap adanya bakteri E. Coli. Karena bakteri ini
sering terdapat dalam berbagai jenis makanan ataupun minuman hidup metropolit
tersebar di lingkungan.
E. coli adalah suatu bakteri gram negative berbentuk batang, bersifat
anaerobic fakultatif, dan mempunyai flagella peritrikat. E. coli dibedakan atas
sifat serologinya berdasarkan antigen o (somatic), K (kapsul) dan H (flagella)
(Fardiaz,1992)
Uji-uji biokimia yang dilakukan terhadap E. coli menggunakan uji IMViC,
Uji-uji biokimia ditujukan untuk menunjukkan E.coli dan bakteri-bakteri lainnya
yang mempunyai sifat-sifat hampir sama, yaitu Klebsiella dan Enterobacter
(Fardiaz,1992).
Bakteri yang tergolong dalam grup fekal dapat memecah asam amino
triptofan dan menghasilkan suatu senyawa berbau busuk yang disebut indol.
Bakteri yang telah ditumbuhkan dalam medium yang mengandung triptofan,
kemudian diberi 3-5 tetes pereaksi Kovacs yang mengandung amil alkohol atau
diberi kristal asam oksalat. Adanya indol akan menyebabkan amil alkohol berubah
warnanya menjadi merah tua atau warna kristal asam oksalat menjadi merah
muda. Uji yang menggunakan penunjuk amil alkohol disebut metode Kovacs
(Widiyanto, 2007).
Untuk menguji keberadaan bakteri Escherichia coli, dapat digunakan
serangkaian uji, yang biasanya disebut uji IMVIC. Setiap huruf mempunyai arti
sifat atau produk yang dapat digunakan untuk menciri Escherichia coli. Media
yang digunakan dan penafsirannya adalah I merupakan uji Indol, medium pepton
yang kaya akan asam amino triptofan diinokulasi dan dibiarkan tumbuh selama 24

jam. Maka bakteri Escherichia coli akan membuat enzim triptofanase yang akan
membentuk indol. Terbentuknya indol tersebut menunjukkan adanya bakteri
Escherichia coli. M adalah metil merah adalah indikator asam-basa yang berubah
menjadi merah dalam medium yang sedikit asam. Jadi, jika metil merah
ditambahkan pada medium biakan yang mengandung glukosa yang di dalamnya
organisme telah tumbuh selama 18 sampai 24 jam, warna merah menunjukkan
bahwa asam organik telah terbentuk sebagai akibat fermentasi glukosa.
Escherichia coli membentuk banyak asam dan adalah positif terhadap metil
merah. V adalah uji Voges-Proskauer mendeteksi adanya asetoin (juga disebut
asetil-metil-karbinol), jadi kehadirannya menunjukkan adanya fermentasi 2,3
butilen glikol yang negatif untuk Escherichia coli. C merupakan huruf terakhir
dalam uji IMVIC yang berarti sitrat. Uji ini hanya menentukan apakah organisme
yang dimasalahkan dapat tumbuh dengan menggunakan sitrat sebagai satusatunya
sumber karbon. Walaupun Escherichia coli memiliki enzim yang diperlukan untuk
metabolisme sitrat, tetapi Escherichia coli tidak dapat menggunakan sitrat sebagai
sumber karbon, karena sitrat tidak dapat memasuki sel Escherichia coli. Berikut
adalah pemaparan tentang uji IMVIC yang telah dilakukan.

1. Uji Indol
Uji Indol bertujuan untuk mengukur kemampuan mikroorganisme untuk
mendegradasi triptofan menjadi indol, ammonia, dan asam piruvat. Prinsip uji
Indol adalah kemampuan mikroorganisme untuk memproduksi indol dari asam
amino triptofan menggunakan enzim triptofanase. Reagen yang digunakan adalah
reagen Ehrlich atau Kovac. Reagen Ehrlich terdiri atas 19 gram pdimethylaminobenzaldehyde, 95 mL alkohol absolut, dan 20 mL HCl 37 %. Indol
akan bereaksi dengan aldehid yang terdapat pada reagen dan membentuk cincin
berwarna merah pada bagian atas medium. Pembentukan cincin merah tersebut
merupakan uji positif produksi indol. Reaksi yang terjadi adalah :
Triptofan
ase

Triptofan

H2O

Indol + asam piruvat + NH3

P-dimetil aminobenzen-aldehid + Indol

Cincin indol merah

(Berestecky 2008: 3--4).


Hasil pengamatan setelah penetesan reagen kovac menunjukkan tidak
terdapat cincin indol pada medium. Hasil tersebut sesuai dengan literatur, karena
disebutkan bahwa Enterobacter aerogenes (Bakteri Non fekal) tidak memiliki
kemampuan menghidrolisis triptofan menjadi senyawa indol, sehingga tidak
terbentuk cincin indol (Shimeld 1999: 100).
2. Uji Methyl Red
Uji methyl red digunakan untuk menentukan adanya fermentasi asam
campuran. Beberapa bakteri memfermentasikan glukosa dan menghasilkan
berbagai produk yang bersifat asam sehingga akan menurunkan pH media
pertumbuhannya menjadi 5.0 atau lebih rendah. Penambahan indikator pH
methyl red dapat menunjukkan adanya perubahan pH menjadi asam. Methyl
Red berwarna merah pada lingkungan dengan pH 4.4 dan berwarna kuning dalam
lingkungan dengan pH 6.2. Uji methyl red bertujuan untuk mengetahui
kemampuan bakteri membentuk asam dari hidrolisis glukosa. Medium yang
digunakan pada uji methyl red adalah medium Methyl Red (MR) yang memiliki
komposisi pepton, K2HPO4, glukosa, dan akuades. Medium tersebut memberikan
buffer secukupnya dengan potassium phospat dan pepton memberikan batas
konsentrasi ion hidrogen pada pH sekitar 5,0 ketika diinokulasikan biakkan
bakteri. Konsentrasi akhir ion hidrogen akan lebih tinggi bila diberikan
mikroorganisme enterik (Gandjar dkk. 1992 : 55--78).
Methyl Red ditambahkan pada medium yang mengandung glukosa yang di
dalamnya terdapat mikroorganisme yang telah tumbuh selama 18--24 jam, akan
terbentuk warna merah yang menunjukkan asam organik telah terbentuk sebagai
akibat dari fermentasi gula. Methyl red yang digunakan pada percobaan akan
menjadi merah bila diinokulasi E.coli (Fekal) dan menjadi kuning bila diberikan
Enterobacter aerogenes (Non Fekal) (Salle 1991: 559).
Berdasarkan hasil pengamatan setelah penetesan reagen methyl red
sebanyak 8 tetes menunjukkan hasil reaksi berwarna kuning hal tersebut sesuai
dengan litelatur, yang menyebutkan reagen methyl red akan berwarna kuning

karena Enterobacter areogenes tidak menggunakan glukosa dan menghasilkan


asam (Salle 1991: 562).
Enzim yang digunakan oleh mikroorganisme pada uji Methyl Red adalah
enzim karbohidrase. Karbohidrase mengkatalis hidrolisis karbohidrat untuk
membentuk gula yang lebih sederhana dan lebih dapat larut. Hidrolisa dari pati
pada mulanya akan menghasilkan polimer rantai pendek yang disebut dekstrin,
kemudian disakarida maltosa dan terakhir menghasilkan glukosa. Enzim yang
paling berguna dalam sakarifikasi pati adalah -amilase, -amilase, glukoamilase,
glukosa isomerase, pululanase dan isomilase.-amilase adalah enzim ekstraselular
yang menghidrolisis ikatan -1,4 glikosida (Crueger & Crueger 1999: 163--164).
3. Uji Voges Proskauer
Uji Voges-Proskauer (VP) bertujuan unutk mengetahui kemampuan
bakteri menghasilkan senyawa asetil karbonil atau 2,3 butanediol. Medium yang
digunakan pada uji Voges-Proskauer adalah medium Voges-Proskauer. Medium
Voges-Proskauer memiliki komposisi pepton, K2HPO4, glukosa dan akuades
(Gandjar dkk. 1992: 82). Uji Voges-Proskauer menggunakan reagen Barritt
modification

yang

berfungsi

sebagai

indikator

dari

keberadaan

asetil-

metilkarbinol. Reagen Barrit terdiri atas -naftol 5 % dan larutan KOH 40 %.


Warna merah yang diproduksi merupakan uji positif adanya asetil karbinol Asetilmetilkarbonil yang terdapat dalam medium akan bereaksi dengan -naftol dan
potassium hidroksida sehingga membentuk senyawa berwarna merah. Reaksi
yang terjadi:
Glukosa
Acetoin

KOH

Acetoin
Diasetil + H2O

O atmosfer
2

Diasetil + komponen guanidine dari pepton

alfa naftol

warna merah jambu

(Rao 2006: 12).


Hasil pengamatan uji Voges-Proskauer setelah penetesan reagen -naftol 5
% sebanyak 5 tetes dan larutan KOH 40 % sebanyak 12 tetes menunjukkan bahwa

medium berubah warna menjadi warna merah hal tersebut sesuai dengan litelatur.
Bakteri non fekal akan menghasilkan warna merah (Rao 2006: 1--2).
4. Uji Citrate
Uji

Sitrat digunakan untuk melihat kemampuan mikroorganisme

menggunakan sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon dan energi. Untuk uji ini
dapat digunakan medium sitrat Simmon yang berupa medium padat. Simmons
citrate agar merupakan medium sintetik dengan Na sitrat sebagai satu-satunya
sumber karbon, NH4+sebagai sumber N dan brom thymol blue sebagai indikator
pH, Bila mikroorganisme mampu menggunakan sitrat, maka asam akan
dihilangkan dari medium biakan, sehingga menyebabkan peningkatan pH dan
mengubah warna medium dari hijau menjadi biru. Perubahan warna dari hijau
menjadi biru menunjukan bahwa mikroorganisme mampu menggunakan sitrat
sebagai satu-satunya sumber karbon (Widyawati, 2012).
Beberapa macam bakteri mampu menggunakan senyawa sitrat sebagai
sumber karbon (C) untuk pertumbuhannya, contohnya bakteri-bakteri enterik.
Kemampuan tersebut merupakan sifat yang perlu diamati dalam identifikasi
bakteri (Gandjar dkk. 1992: 5455). Oleh karena tidak adanya glukosa atau
laktosa yang dapat di fermentasi, beberapa mikroorganisme dapat menggunakan
sitrat sebagai sumber karbon untuk energinya. Kemampuan tersebut tergantung
pada keberadaan sitrat permease yang memfasilitasi transport sitrat ke dalam sel.
Sitrat adalah intermediet terbesar pada siklus Krebs dan dihasilkan dari
kondensasi asetil aktif dengan asam oksaloasetat. Sitrat bekerja berdasarkan
enzim sitrase, yang mampu menghasilkan asam oksaloasetat dan asetat. Enzim
tersebut termasuk ke dalam famili enzim liase, lebih spesifik lagi oxo-acid-lyase,
sehingga enzim tersebut memutuskan ikatan antara karbon-karbon. Produk
tersebut kemudian diubah secara enzimatis menjadi asam piruvat dan
karbondioksida. Selama reaksi, medium menjadi bersifat alkali, karena
karbondioksida bergabung dengan sodium dan air membentuk sodium karbonat
yang merupakan suatu produk alkali. Adanya sodium karbonat mengubah
indikator bromthymol blue pada medium, dari warna hijau menjadi biru
(Cappucino & Sherman 1996: 162).

Berdasarkan hasil pengamatan, didapatkan tabung yang negatif. Dimana


pada sampel tetap hijau, seharusnya bakteri non fekal yaitu Enterobacter
areogenes dapat menggunakan citrat sebagai sumber karbonnya. Ketidaksesuaian
tersebut dapat disebabkan oleh kesalahan praktikan dalam penginokulasian dan
bekerja yang kurang aseptik (Salle 1991: 562).

DAFTAR PUSTAKA
Berestecky, J.M. 2008. Lecture notes on TSI, IMViC, selective and differential
media, Enterobacteria, MIO, LIA, oxidase test. 26 Juni: 6 hlm.
http://www2.hawaii.edu/~johnb/micro/m140/syllabus/week/handouts/m140.1
1.3.html, (Diakses : 15 December 2015)
BPOM RI. InfoPOM Badan Pengawas Obat dan Makanan. Jakarta: Badan POM
RI. Vol. 9, No. 2, Maret 2008. ISSN 1829-9334, 2008.
Cappuccino, J.G. & N. Sherman. 1996. Microbiology:Alaboratorymanual.ddisonWesley Publishing, Reading: xiii + 466 hlm.
Crueger, W. & A. Crueger. 1999. Biotechnology: A textbook of industrial
microbiology. Brock, D.T. (Ed.). Science Tech. Inc., Madison: x+ 308 hlm.
Fardiaz, Srikandi. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. PT Gramedia:
Jakarta
Gandjar, I., Isworo R. K., Wibowo M. & Lanita S. 1992.Pedoman praktikum
mikrobiologi dasar.Jurusan Biologi FMIPA-UI, Depok: vii + 87 hlm.
Rao, S. 2006. IMViC reaction. Dept. of Microbiology JJMMC, Davangere: 2 hlm.
Salle, A.J. 1991. Fundamentalprinciplesofbacteriology. 4th ed. McGraw Hill
Book Co., New York: xvi + 815 him.
Shimeld, L.A. 1999. Essentials of diagnostic microbiology. Delmar Publisher,
USA: 681 hlm.
Widyawati, Rodiah.2012. IMVIC = Indol-Metil red - Voges proskauer Citrat.
http://rodiahmikrobiologi.blogspot.co.id/2012/01/uji-imvic.html. (Diakses : 15
December 2015)
Widiyanto. Analisis Kualitatif Bakteri. Bandung: IPB. 2007.